Perahu Kertas Movie Quotes

Masih ada yang tersisa dari film Perahu Kertas, meski kritikan di mana-mana, dialog-dialognya begitu sayang untuk dilupakan. Sederhana tapi menggugah. Paling indah saat kita mampu mengikat maknanya.

Dewi Lestari sebagai penulis skenario untuk film ini memang jago menuliskan kata-kata yang puitis tapi dekat dengan kita. Hanung Bramantyo sudah membaca situasi bahwa tidak ada yang lebih baik dalam menulis skenario adaptasi novel kecuali penulis novel itu sendiri.


Film Perahu Kertas jilid I (gambar diambil di sini)

Jalan kita memang berputar, tapi suatu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan untuk jadi diri kita sendiri.

Sama seperti perahu aku tak tau di mana hati ini akan berlabuh.

Aku ngelepas kamu supaya kamu gak terus-terusan berusaha ngebahagiain aku, karena hati kamu udah gak di sini.
Coba aja ikan disuruh jadi amfibi, ketika di dalam air dia bahagia, tetapi ketika di darat dia sekarat.

Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin.
Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola `harusnya` tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri.
Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati, dengerin aja kata hatimu.
Hidup ini sudah diatur, kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja.
Kamu sudah dewasa. Hatimu sudah ingin pergi ke satu tempat, berlabuh, dan menetap. Tapi perjalanan hati itu bukannya tanpa resiko.
Tidak mudah menjadi bayang-bayang orang lain. Lebih baik, tunggu sampai hatinya sembuh dan memutuskan dalam keadaan jernih.Tanpa bayang-bayang siapa pun.
Ujung ujungnya juga kita tau, mana yang diri kita sebenarnya, dan mana yang bukan diri kita.
Pengkhianat terbesar adalah harapan kosong. Kenyataan terpahit adalah kenyataan yang tak setinggi harapan itu.
Tidak akan ada masa depan bila tidak ada masa lalu.
Menjadi diri sendiri itu memang yang paling enak.
Ada yang nggak pas lagi, Nus. Entah aku yang berubah, atau lingkunganku yang berubah.
Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tau kemana harus berlabuh.
Hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melepaskan itu tergantung hatimu. Hatimu yang tau.
Duniaku berubah. Mungkin memang harus begini. Mungkin memang ini jalannya.
Kamu bikin saya semangat, bikin saya ketawa, bikin saya kepingin melakukan banyak hal, bikin saya nyaman.
Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu.
Sama seperti perahu, aku tak tau di mana hati ini akan berlabuh.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi. Karena bersama kamu, segala sesuatunya menjadi begitu dekat.

Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.

Dear Neptunus..Aku mencintainya. Di depannya aku menjadi diriku sendiri.

Dongeng aja nggak semuanya happy ending. Apalagi realita.

Hai Nus,aku ketemu lagi dengannya,aku tidak tahu akan berakhir seperti apa.

Pada dasarnya, kita tau apa yg kita inginkan, apa yg org lain inginkan dan apa yang pada akhirnya kita pilih.

Ombak itu suara alam paling merdu.

Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lmbar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.

Anggap lukisan ini awan, putih, kosong. tapi begitu awan ini disibak, kita tau dimana letak bintang kita.

Jatuh cintalah pelan-pelan, jangan sekaligus. Berat nanti.

Carilah orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, tanpa kamu harus minta.

Ini bukan dongeng, ini hidup. Harus berani dihadapi.

Ini harta karunku, duniaku, aku mau berbagi duniaku sama kamu.

Nyerah sama realistis itu beda tipis.

Ada saatnya cinta harus dilepas, tidak digenggam begitu erat.
Bahwa ada saatnya kita tidak perlu berlari, tapi berhenti, melihat sekeliling, dan tersenyum.





1 comment:

Instagram @sansadhia