Film Bila : Tontonan Remaja Berkat Stefan William

Tahun ini rame film Valentine bertema cinta remaja. Salah satunya film Bila.


Cinta pertama itu indah ya, seindah kisah cinta Bila (Shalvynne) dan Dani (Stefan William) di film Bila. Cinta mereka gak mulus. Shosana (Karina Meita), sahabat Bila yang juga menyukai Dani gak rela Dani lebih memilih Bila. Lalu ada lagi ibu Bila yang gak setuju hubungan mereka meminta Dani pindah ke Australia tanpa sepengetahuan Bila. Mereka pun berpisah.








6 tahun berlalu, Bila balik dari kuliah di Singapura, sementara Dani juga pulang dari Australia. Bila pun diundang Shosana ke acara reunian SMA. Gak taunya itu sekaligus ngerayain pertunangan Dani dengan Shosana. Kok bisa ya? Padahal sebenarnya hati Dani tetap buat Bila loh. Begitu pun dengan Bila yang gak pernah ngelupain cinta pertamanya itu.

Film garapan Chiska Doppert ini emang dibikin buat remaja. Tapi sayangnya, film ini kurang mengeksplor kisah romansa. Ada rasa menggantung saat film ini selesai. Kesedihannya kurang, humornya pun terbilang biasa banget. Terlalu banyak adegan yang kebetulan. Jadinya Bila adalah film cinta yang kurang romantis. Plotnya yang cepat dan panjang sebenarnya menarik untuk menaikturunkan emosi penonton, tapi mungkin kurang sempurna aja. Rasa apa, ya, yang kurang? Saya rasa permainan pemainnya yang kurang. Stefan William dan Shalvyne benar-benar melewatkan kesempatan mereka untuk berakting di 3 zaman. Sangat sayang. Mestinya ada perbedaan yang ditonjolkan saat berperan sebagai anak SMA, baru lulus kuliah, dan dunia dewasa. Peran mereka jadi terasa datar sehingga film ini pun menjadi hambar.

Kalo buat remaja, film ini sih terbilang bagus, karena menjual pemeran prianya itu. Stefan William mampu melambungkan film Bila ini menjadi pilihan tontonan remaja. Maklum, sekarang penonton remaja masuk ke dalam perhitungan industri film, sehingga pemainnya pun harus yang benar-benar mewakili remaja. Apalagi tayangnya di bulan penuh cinta. Film ini bisa mengingatkan kita pada cinta pertama dan gimana mempertahankannya. Maxima Pictures dan Unlimited Production memproduksi film ini dengan ringan, apa adanya, dan cocok buat remaja.

Facts:
Pemain utama Film Bila, Stefan William dan Shalvynne susah banget membangun chemistry di antara mereka. Kedua pemeran Dani dan Bila ini butuh reading berkali-kali biar feel-nya dapet. Apalagi saat mereka berdua harus memerankan tokoh dewasa.

0 komentar:

Journey 2: The Mysterious Island -- Saya Terkesima

A Journey to the Centre of the Earth (2008) adalah film petualangan yang lumayan laris. Sekuelnya, Journey 2: The Mysterious Island, sudah nongol di bioskop. Sean Anderson (Josh Hutcherson) sekarang udah kenal cinta. Jadi mau petualangannya di semak belantara sekalipun, kalo ditemani Kailani (Vanessa Hudgens), cewek yang ditaksirnya, pasti semua akan terasa indah. Tapi film ini beneran indah loh. Film ini memperlihatkan sebuah daratan yang tersembunyi di Samudera Pasifik. Pulau Misterius yang dimaksud oleh judulnya berupa surga dunia dengan air terjun, hutan, pegunungan dan pantai yang diteduhi langit yang cerah. Kamu bakalan berdecak “Woow” melihat keindahan yang disorot kamera. Tapi sayang banget ya, gambarnya gak begitu natural. Efek komputernya masih terlihat kasar. Keliatan banget kalo itu semua buatan.

Mysterius Island (Gambar diambil dari sini)
Petualangan Sean Anderson kali ini jauh lebih menantang dan penuh humor. Sean Anderson mencoba memecahkan pesan sandi yang dikirim kakeknya (Michael Caine). Dibantu oleh Hank (Dwayne Johnson), ayah tirinya, Sean akhirnya tau di mana kakeknya berada. Pulau Misterius. Yap, menemukan Pulau Misterius itu adalah impian kakeknya dari dulu. Jadi Sean pun akan menuju ke sana, tentunya ditemani oleh Hank.
Mereka berangkat ke Palau. Mereka menyewa tour guide untuk menemani mereka ke pulau yang dituju di tengah lautan. Gabato (Luiz Guzman) dan anaknya menyiapkan helikopter untuk perjalanan mereka. Malang, di tengah laut, helikopter yang mereka naiki dihadang badai dan masuk ke dalam pusaran angin. Tanpa diduga, mereka terdampar di pulau yang dituju. Itulah Pulau Misterius yang dicari. Pemandangannya benar-benar menyejukkan mata. Sean gak henti-hentinya takjub dengan pulau surga dunia itu sampai dia menemukan kejutan lain. Binatang dan tumbuhan di sana berkebalikan. Gajah yang gede jadi begitu mini, sementara lebah menjadi lebah raksasa.

Sean dkk menjadi mangsa binatang-binatang raksasa itu. Sampai akhirnya diselamatkan oleh kakeknya yang membawa mereka ke pondok di tengah hutan. Kailani merengek pengin pulang, sebaliknya Sean masih ingin tetap menjelajahi daratan itu. Tapi Hank membawa kabar buruk. Dari pengamatannya, Pulau Misterius itu akan tenggelam dalam hitungan hari. Mereka harus mencari cara untuk bisa keluar dari pulau itu.
Ilmu sains menjadi begitu nyata di film ini. Film Journey 2 ini emang bikin mikir. Terkadang mikir itu seru. Gak percaya? Silakan tonton aja filmnya. Kamu akan banyak mendesah, “Oooh…”

Facts
Tadinya film A Journey to the Centre of the Earth yang terinspirasi dari kisah buku Jules Verne (1864) gak bakal punya sekuel. Tapi, ada buku Jules Verne yang lain yang berjudul The Mysterious Island (1874) menarik buat dibikin seri petualangannya. Maka dibikinlah sekuel Journey 2: The Mysterious Island. Syutingnya di Hawaii yang disulap jadi Pulau Misterius.

0 komentar:

Sebuah Ide di Epicentrum Walk

“Kalo mau ngumpul, enaknya di mana ya? Gak harus mall, tapi enak buat ngobrol.”

Kalimat itu selalu memancing konflik ya. Kalo mau ngumpul, repotnya minta ampun. Nah, itu terjadi padaku and the genggong payung. Kami berlima emang punya ritual ngumpul-ngumpul pas ada yang ultah dan ada yang mau dibicarain. Setelah tertunda beberapa hari, seharusnya pas liburan imlek kemaren di Pelangi, tapi karena ada yang gak bisa, jadilah kami ngumpul hari Minggu (5/2) lalu. (Luar biasa banget semua pada bisa padahal perencanaannya dadakan).

Iyaak, sempet konflik lagi tuh mau ketemuan di mana. Depok bosen, rumah Ririn kejauhan, kosan... gak mau ahh, ntar diacak-acak (padahal malemnya mereka puas mengeroyok kamarku seenaknya). Akhirnya, aku cetuskan ide, di Epicentrum aja. Tempatnya enak, bisa nongkrong ngemper pinggir jalan kalo mau, pas buat foto-foto. Kebetulan juga transportnya gampang (itu buat gw sih, gak tau yang lain. Hahaha).


Janjian pukul 11. Tapi gak ada yang nongol. Jam 12. Masih pada pamer makanan via Whatsapp. Jam 13. Teng Tong. Ada yang nongol di kosan 1 orang, yg 1 nya lagi udah nunggu di Pasfest. Baru deh capcus.

Begitu sampai di Epicentrum Walk, mereka malah bingung mau nangkring di mana. Aku kan cuma ngusulin tempat nongkrong, bukan tempat makan. Jadi ya muter-muter di semua lantai Epiwalk sekitar setengah jam. Bingung dan takut kemahalan, nekadlah kami memasuki kafe yang kami anggap paling lucu di sana, Comic Cafe.




Dengan dekor ruangan menarik, dipenuhi gambar-gambar manga Jepang, lucu deh. Duduk di Smoking Area yang ada colokannya biar bisa ngecas hape dan nyalain leppy buat wifi-an. Pesen makan seadanya karena harganya kurang bersahabat. Kentang goreng, nachos, fruit ice cream, mango juice dan minuman freezo. Semuanya disantap keroyokan.


Keasikan makan, malah jadi lupa apa yang mau diomongin. Udah pasang tampang serius, tapi tetep keseriusan itu hanya milik makanan. Semua khusyuk pada santapan yang ada di meja. Salah tempat nih kayanya. Harusnya ngobrol-ngobrol jangan deket makanan.

Setelah makanannya ludes, barulah kami bisa ngobrol serius. Ternyata ada yang pengen berbisnis ria nih. Alasannya karena gak mungkin kita jadi karyawan terus. Saatnya jadi enterpreneur membuka lapangan kerja buat orang. Yap, kalo gak dicoba, kapan bisa buka usaha.

Belum begitu pasti sih mau bisnis apa. Yang penting ide dululah. Karena ide itu mahal, jadi aku belum bisa share di sini ya. Nanti saja di lain hari yang cerah, di kesempatan yang tepat.












Oke baiklah, setelah beberapa menit mengemukakan berbagai inovasi dan membicarakan strategi, kami pun berpindah. Gak enak lama-lama nongkrong di ComiCafe. Selesai sholat Ashar, kami pun jalan keluar Epiwalk. Mulailah galau menentukan arah. Ada yang pengen pulang, ada yang pengen karaokean, ada yang pengen tetap di taman Epiwalk. Yang pasti, foto-foto tetep eksis yah. Sampai ada bule Arab gak jelas SKSD. Mending kalo dia mau bantuin jepretin kami, tapi ini malah langsung pengen jadi objek foto. Mukanya agak mirip Hadah Alwi gitu deh. Tapi sayang, dia gak bisa bahasa Inggris. Jadi maaf ya bang bule Arab, kami gak ngerti apa yang kamu omongin waktu itu. Hihihi.


Nah, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, ada yang pengen pulang nih dengan alasannya rumahnya jauh. Yasudah, aku pun menuju perjalanan pulang. Gak taunya, 1 pulang, 3 lagi malah ngikut ke kosan. Baguuus, mereka berhasil mengacak-ngacak kamarku. Nonton 2 DVD sekaligus, lalu bikin mie goreng, makan kuaci. Sampah di mana-mana. Lalu datang pula Malaikat berkendara Spino, lalu menularkan rasa laparnya kepada kami semua. Jadilah kami berlima makan bebek Ginyo di kosan. Pinter banget ya, kamarku bau bebek kwek kwek kwek.


Genggong payung
Ririen Dias, Ageng Wuri, Kenny, Tuslia

2 komentar:

Kota (Bukan) Wisata

Aku belum pernah ke Kota Wisata di Cibubur. Dalam bayanganku, Kota Wisata itu berupa taman-taman menarik. Pastinya tempat wisata lah. Tapi pas aku ke sana, jeng jeng jeng... Kota Wisata itu ternyata komplek perumahan. Hiyaaaa...Gubraaakkk.... Padahal aku udah jauh-jauh dari Tebet, naik motor, panas-panasan bersama Junisatya, penasaran sama yang namanya Kota WIsata.

Kami pun memasuki wilayah itu. As you know, kalo jalan-jalan ke tempat wisata kan berharapnya ketemu tempat yang asyik buat istirahat, refreshing. Nah, di sini malah komplek perumahan super duper mewah dengan model banngunan gaya Eropa dan sekitarnya. Jadi maksudnya Kota Wisata itu adalah tempat memanjakan mata dengan bangunan-bangunan rumah bergaya Belanda, Prancis, Italia, dsb. Nahlooo,,,tapi itu bukan tempat wisata. Adem sih, banyak pepohonan. Banyak patung juga di sana-sini. Cuma itu aja yang bisa dilihat. Bangunannya unik-unik. Sempat terpikir, andai aku tinggal di sana. Hahahah. tapi gak mungkin ya.

Setelah diubek-ubek, ada China Town juga. Kebetulan masih dalam rangka Imlek, ya di bagian China Town itu rame. Yang jualan juga beragam. Sebenarnya ada yang namanya Fantasy Island dengan bangunan ala fairy tale. Aku gak sempat berkunjung ke sana. Takutnya bayar atau gak bisa masuk. Yasudalah. ALhasil aku cuma bisa mengabadikan gambar di bagian depan Kota Wisata. Ada patung-patung, lorong-lorong, lentera dsb. Cukup menarik kok untuk menghapus kekecewaan kalo Kota Wisata itu bukan tempat Wisata :))








4 komentar:

Safari Mall


Beberapa waktu lalu, aku hangout bareng teman-teman SMA. Perencanaannya gak begitu matang, tapi akhirnya jadilah kami berkumpul bersama. Seperti biasa, kalau ngumpul bersama mereka pastinya kita akan nongkrong di suatu tempat sambil makan. Maka, disepakatilah (secara sepihak) bahwa kami akan berkumpul di GI.

Okeee, aku memutuskan untuk ikut mereka ke GI pada siang hari. Pas pada jam makan siang, kami menghempas pantat di bangku Leko Cafe sembari mencicipi menu di sana. Yeah, harganya jangan ditanya ya. Pasti tau dong standar harga makanan di GI.




Setelah puas makan, ada yang mau nangkring di Magnum Cafe. Sedih amat, Magnum Cafe kan udah tutup. Yang tersisa dari Magnum Cafe justru bangku-bangku di luarnya dan 1 gerobak berlabel Magnum. Ya, lumayanlah buat foto-foto.



Selanjutnya, kebetulan dalam rangka imlek, ada mapping tarian air mancur tepat pukul 3 sore. Jadilah kami melihatnya. Efek air mancur menari itu sungguh pertunjukan keren. Jarang-jarang kan ada kesempatan nonton atraksi itu secara live.

Iyap, usai pertunjukan, kami pun berjalan berkeliling GI. Tiap lantai kami tapaki dengan senang hati. Kalo dihitung-hitung, itu kita jalan udah berapa km ya? AHh, tapi gak berasa kok. Selagi rame-rame, dan di tiap tempat menarik, pasti berhenti buat foto (lagi dan lagi).





Kebetulan lagi, ada banyak instalasi yang dipajang GI. Seni rupa dan dekorasi yang kelihatannya menarik. Yahh, namanya Grand Indonesia Shopping Town. Jadinya yaa banyak jalan, dekorasi, serta instalasi dipajang di sekitarnya.








Iyakk, puas di GI, ternyata matahari masih belum terbenam. Sempat terjadi perdebatan, antara mau nonton (tetap di GI) atau berpindah tempat, main bowling di PI dan karaokean. Tanpa arah yang jelas, kami hanya mengikuti arah kaki melangkah. Kami pun memasuki kawasan Plaza Indonesia. Sebenarnya ini jalur pintas menuju EX. Rencananya mau main bowling bareng di sana. Tapi rame. Daripada makin tidak jelas, kami memutuskan karaokean. Namun mesti jalan lagi ke Sarinah Plaza lantai 13, di Inul Vizta. Ehhmm... baiklah aku pikir pertemuan kali ini adalah Safari Mall. Dari GI, PI, EX, sampai Sarinah. Next Trip mau ngumpul di mana, teman-teman?





Dedikasi untuk beberapa teman Kasma
Ucok, Memed, Cindy, Adi, Windy, Ichi, Rizka, dan Udin

0 komentar: