Nonton Konser Jessie J “Who You Are” World Tour


Konser Jessie J (dokumen pribadi)
Seru sekali Jessie J menghibur Jakarta (18/3) abis-abisan di Hall D JIExpo Kemayoran. Gokil, crazy, awesome dan semua pujian lain yang layak dilontarkan buat penyanyi yang lagi happening ini.


Fun Parts
  • Jessie J muncul membawakan lagu “Who's Laughing Now” dengan dress biru panjang. Lucunya, Jessie malah nyeletuk, “Apa aku terlihat seperti Putri Yasmin?” Penonton jadi ketawa.
  • Penyanyi asal Inggris ini interaktif sekali lho. Saat nyanyi “Stand Up”, Jessie mengajak para penggemarnya buat menyorakkan lirik, “Love, love, love”. Asyik deh Jess.
  • Jessie juga kerap menggoda band pengiring. Entah itu gitaris, bassist, keyboardist, atau penyanyi latarnya. Pastinya khas dengan gayanya yang gokil.
  • Tau gak, setelah nyanyi “Nobody's Perfect”, Jessie lari-lari sendiri muterin panggungnya. Dia juga lompat-lompat kegirangan. Ulahnya yang tiba-tiba itu bikin gedung dipenuhi gelak tawa. Aduh, Jessie, ada-ada aja kamu. Hahaha.
  • Jessie bilang, “Jakarta is so amazing. How lucky I feel.” Trus abis itu suasana jadi haru deh. Soalnya Jessie bersenandung panjang untuk Jakarta diiringi akustik.
  • Lagu “Who You Are” versi akustik dipersembahkan Jessie khusus buat kita semua di Indonesia. Cool banget Jessie...
  • Jessie nyanyi sambil duduk ngeleseh gitu, “Mamma Knows Best”. Ekspresi Jessie jadi genit dan manja. Gimana penonton gak ketar-ketir ya ngeliatnya.
  • Konser Jessie J (dokumen pribadi)
    Di akhir konser, Jessie yang mengenakan setelan one piece biru, menghentak JIExpo dengan lagu “Price Tag”. Kali itu Jessie ditemani penggemar yang ditarik ke panggung secara acak. Mereka duet sambil ngedance bareng. Oh nooo, Jessie is so crazy yaah.
  • Lagu paling ditunggu, “Domino” membuat penggemarnya histeris. Serbuan tepuk tangan langsung ditujukan ke Nona Cleopatra itu sambil terus melompat seiring dentum drum. Apalagi dengan gaya Jessie yang atraktif banget, bikin penonton makin gemes. 

    ***Tulisan ini telah diterbitkan terlebih dahulu di majalah Teen 2012 dan teen.co.id


0 komentar:

Long Weekend = Liburan = Trip to West Java (II)



Liburan Long Weekend Kedua
Seakan belum puas, long weekend berikutnya, tepatnya 2 minggu berselang, aku dan Junisatya ke Bandung. Kali ini berganti teman, lebih minimalis, cuma 6 orang. Liburan kali ini lebih matang. Tujuan utama adalah Ciwidey.

Kami memilih berangkat malam Jumat sekitar pukul 23.30. Tapi sepertinya salah berangkat jam segitu , karena Jakarta sedang macet-macetnya dan di jalan tol pun kami diapit oleh truk-truk. Kami pun memilih berhenti di rest area km 19 untuk istirahat, buang air, makan, sekaligus menunggu jalanan agak kosong. Pukul 2 pagi, kami lanjut perjalanan.

Junisatya sudah ada yang menggantikannya dalam mengawal kemudi. Syukurlah, jadinya dia gak capek nyetir sendirian. Bisa gantian.

Lagi-lagi dengan bermodal GPS di hape, kami mencari pintu keluar tol Cipularang yang akses langsung ke Ciwidey. Karena jalanan tol termasuk rame sepanjang dini hari itu, sampai di Ciwidey pun tepat pada jam sholat subuh. Berhenti di sebuah pop bensin, kami sholat. Gak ada satu pun yang berani mandi karena ternyata hawa di sana dingin. Tololnya gak ada yang bawa jaket tebal.

Tak mau lama-lama berdiam diri, perjalanan pun dilanjutkan sambil menikmati sunrise di mobil di sepanjang jalan mendaki ke Kawah Putih. Suasana pagi di sana begitu indah, asyik dipandang. Hamparan bukit dan kebun strawberry membuat mata fresh. Apalagi udaranya yang dingin tapi segar, dada terasa lapang.

Begitu sampai di gerbang kawah putih, masih pukul 06.00. Kawah putih belum buka (diam-diam tertawa). Tanpa aba-aba, kami membelokkan mobil masuk ke gerbang eMTe Highland Resort. Niatnya cuma parkir mobil aja, tapi gak taunya di dalam suasana gak kalah keren. Mumpung gak ada penjaga di gerbang, kami kira bisa memarkir seenaknya di dalam. Ada danau, pondokan, kolam air hangat, dan kebun strawberry. Apalagi terlihat sayup-sayup cahaya matahari menembus pepohonan.



Begitu turun mobil, ternyata dinginnya menusuk. Jemari kaki dan tangan membeku. Tapi puas foto-foto di sana. Ada kebun strawberry yang bisa dipetik sepuasnya. Lalu bisa merasakan kolam air panas, lumayan untuk menghangatkan kaki yang kebas karena dingin. Bahkan para cowok langsung terjun untuk berenang.

Kami benar-benar menikmati suasana pagi di resort itu. Sarapan dan sempat istirahat karena kurang tidur. Sekitar pukul 10, kami naik ontang-anting, sejenis angkot yang mengangkut wisatawan ke Kawah Putih. Ya, sampailah aku dan teman-teman di Kawah Putih. Masih terasa udara dingin, tapi sebanding dengan matahari yang kian panas.




Air Kawah Putih berwarna hijau tosca. Enak dipandang. Berfoto, sekadar penyegar mata, menikmati wisata alam Ciwidey yang satu itu. Awan di atasnya begitu biru jernih. Bukit yang mengelilinginya ditumbuhi lumut dan ranting yang meranggas.






Puas di Kawah Putih, kami turun kembali ke resort. Oke, saatnya melanjutkan trip berikutnya. Niatnya ke Lembang, tapi ada hasrat ingin makan di restoran Sunda. Pilihan tertuju pada Warung Sunda Bancakan, Bandung.

Perjalanan ke Bandung cukup banyak memakan waktu karena macet. Mobil berplat B berseliweran. Kami mencari restoran Bancakan yang katanya enak itu, tak jauh dari Gedung Sate.

Begitu sampai di sana, omaigat, antriannya panjang, mirip antrian nasi kalong. Tapi menunya di sana bisa diambil sepuasnya, lalu ada jajanan tradisional juga. Yang penting kenyang.

Dari Bancakan, kami langsung nekad ke Lembang. Tampaknya macet dan kami pun sempat mengurungkan niat untuk ke sana. Tapi nekad juga akhirnya. Tujuan berikutnya adalah De'Ranch Lembang, wisata kuda ala cowboy. Perjalanan ke Lembang termasuk cepat, karena yang macet cuma di Bandung kota. Jalan Lembang lancar jaya.

Sesampai di De'Ranch, sayangnya udah mau tutup. Namun, kami sempat foto-foto di sana sambil berharap lain kali akan ke sana lebih pagi. Suasana arena pacuan kudanya itu lho, hamparan hijau yang lapang. Asyik kali ya kalau berkuda di sana.Catat untuk kesempatan liburan berikutnya.


Tujuan akhir adalah Pabrik Tahu Susu Lembang. Sudah malam. Kami mengunjungi pabriknya dan melihat langsung proses pembuatan tahu susu. Sehat, tanpa bahan pengawet dan masih menggunakan tangan manusia alias manual. Alhasil, oleh-oleh = tahu susu.

Di perjalanan pulang, kami mampir untuk mencicipi Surabi Imoet Bandung. Tapi rame dan penuh kafenya. Kami pindah ke kafe sebelah yang juga menyediakan menu Surabi. Ini namanya baru kuliner. Setelah itu kami pun berburu kue Kartika Sari khas Bandung. Selanjutnya bersiap pulang ke Jakarta yang saat itu pukul 23.00. 24 jam sudah kami di Bandung.

Eits, lagi-lagi rest area km 97 menjadi tempat istirahat. Tidur di mesjidnya sejenak. Rebahkan badan. Biar sekalian subuh pulangnya, gak enak dilihat tetangga kalau kami pulang dini hari.

Bandung, thanks for the journey.

Kisah ini untuk Junisatya, Ola, Dayat, Ageng, dan Nufus.

0 komentar:

Long Weekend = Liburan = Trip 24 hours to West Java (I)


What a day?! Kalender begitu baik. Kalender begitu mengerti. Tanggal merah di hari Jumat, artinyaaa... libuuuuuuuuuurrr...........

Saat tanggal merah menyapa mendekati Weekend, aku pun merencanakan berlibur menghilangkan jenuh dari segala aktivitas. Beruntung Junisatya mengajak liburan ke luar kota. Beberapa waktu lalu, ada 2 kali longweekend dalam kurun 2 minggu. 2 kali longweekend, 2 kali pula aku berlibur ke daerah yang sama dengan lokasi berbeda. Meski uang kepepet, tapi semangat berlibur tak pudar, berangkatlah aku ke tanah Paris van Java, negeri distro dan bumi penuh industri kreatif. Tentu saja bersama Junisatya dan beberapa orang teman.

Liburan Long Weekend pertama
Niat berangkat hari Kamis malam, sempat tertunda. Kami bertolak dari Jakarta pukul 4 pagi hari Jumat. Dengan rombongan kecil 3 mobil, aku mengintil Junisatya dan teman-temannya ke Lembang, Bandung, Jawa Barat. Ajaib, jalanan tol Cipularang benar-benar kosong. Sempat istirahat di rest area tol untuk sholat subuh.

Sampai di Bandung sekitar pukul 07.00. Mumpung jalanan masih bersahabat, kami langsung mendaki ke arah Lembang. Lokasi tujuan pertama adalah Boscha. Sebelumnya kami sempat mampir di Pabrik Tahu Susu Lembang untuk sarapan. Gak taunya, tempatnya cozy lho, ada arena outbond, jualan souvenir, restoran Sunda, pabrik tahu, dan distro. Cukup lama lah kami nangkring di sana.

Saatnya ke Boscha. Sempat muter-muter arena Lembang, 3 kali nyasar mencari alamat. Pas ketemu Boscha, yang ada hanya pagar tinggi bertuliskan “Tutup”. Satpamnya berpesan untuk datang esok harinya. Aku baru nyadar, Boscha itu kan termasuk museum dan observatorium, jadi akan tutup pada hari libur (tanggal merah). Baiklah, tanpa menutupi muka-muka kecewa, kami pun turun lagi.

Sempat terjadi konflik, mau ke tempat wisata mana nih. Dari Boscha, kami pun melanjutkan perjalanan ke Tangkuban Perahu. Karena hari Jumat, kami pun mampir di Mesjid pinggir jalan di jalan raya Tangkuban Perahu. Para lelaki mau sholat Jumat dulu.

Malang melintang lagi. Salah satu mobil rombongan mogok. Kami akhirnya berteduh di pertigaan antara Tangkuban Perahu dan Ciater. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Untung aja banyak jajanan dan pohon-pohonnya rindang. Yang mau tidur, bisa tiduran sampai mobil selesai dibetulkan. Tanpa disadari, 4 jam lebih kami nongkrong di pinggir jalan itu. Membunuh bosan, aku pun foto-foto di hamparan kebun teh dekat sana. Lumayan, walaupun gak ada tempat yang bisa benar-benar dikunjungi, setidaknya masih ada tempat indah untuk dinikmati.

Sore hari, saat mobil sudah sedikit baikan, kami akhirnya kembali ke Pabrik Tahu Susu Lembang. Sepertinya memang kami berjodoh dengan tempat itu. Sholat sekaligus makan malam menu Sunda dan beli oleh-oleh. Di sana lengkap tersedia. Usai makan, kami berebut beli tahu susu yang katanya enak dan lembut. Aku udah nyicip. Meski belum sempat mengintip proses pembuatannya, aku percaya tahu ini sehat.

Hari sudah malam. Rombongan kami dipecah. Aku dan Junisatya masih ada keperluan di Bandung. Yang lain ada yang ingin pulang dan ada yang masih ingin belanja.

Aku pun ke Bandung. Ya Allah, jalanan dari Lembang menuju Bandung tuh gak banget. Macet parah dan semberautan.Yang tadinya mau belanja, jadi batal karena sesampai di jalan Dago, toko-toko sudah tutup. Itu sekitar pukul 11 malam. Junisatya yang sepertinya kelelahan mengemudi, memutuskan untuk istirahat sejenak di Bandung sebelum kembali ke Jakarta. Beruntung ada kawan lama yang memandu.

Perut lapar mengingatkanku akan nasi kalong yang rame di Bandung. Penasaran serame apa dan seenak apa. Begitu sampai di lokasi, aku berdecak, “Baiklah. Gak jadi. Rame banget.” Antriannya panjang sampai ke jalanan. Buat ngantri bisa menghabiskan waktu 1 jam sendiri. FYI, nasi kalong itu adalah warung nasi pinggir jalan yang buka dari pukul 7 malam sampai 3 pagi. Dibuat dari beras merah dengan lauk pauk biasa. Istimewanya adalah karena nasi kalong itu jajanan yang ada pada tengah malam yang sepi. Menu spesialnya buncis. Temanku nyeletuk, "Masa kita antri lama-lama cuma buat buncis malam-malam begini?" Hemm, baiklah.

Daripada menunggu antrian nasi kalong sampai larut malam, mending istirahat di kontrakan teman kami. Karena capek, tidur yang niatnya cuma 2 jam, bablas sampai pukul 03.30. Kami pun bangun dan buru-buru untuk siap-siap pulang mengingat target, pagi ini sudah sampai di Jakarta lagi. Dengan menyalakan GPS, dengan mulus kami dapat menemukan pintu tol Cipularang menuju Jakarta. Tak lupa sholat subuh dulu di mesjid rest area km 97. Dan perjalanan kami pun berakhir. Tema liburan kali ini adalah 24 jam di Bandung  yang terasa panjang.

To be continued.... 

Kisah ini untuk Junisatya dan teman-temannya, Cibono Team :))






3 komentar:

Eva : Masa Depan Kita adalah Robot


Kalau Hugo adalah film tentang robot di masa lalu, Eva adalah film robot di masa depan. Terbayang kan bedanya. Dari dulu sampai sekarang bahkan di masa depan, robot memiliki makna tersendiri dalam hidup manusia. Robot = mesin. Dan mesin mampu menggantikan kerja manusia dengan program dan teknologi.

Eva (gambar diambil dari sini)
Film EVA menggugahku seketika, karena pada akhirnya robot pun telah menggeser posisi manusia. Robot dibuat 'bernyawa' dengan teknologi yang semakin maju. 2041 adalah tahun robot. Seperti Eva.

Berlatar di Spanyol, Eva tumbuh sebagai anak gadis 10 tahun. Sosoknya cerdas, enerjik dan begitu emosional. Gak seperti anak seusianya. Ternyata kehadiran Eva punya kisah tersendiri. Ending film ini bakal bikin terkejut, meski di awal pasti udah sempat menduga.

Film Spanyol ini memanjakan kita dengan gambar-gambar keren di tahun 2041. Teknologi robotik, hologram, dan komputerisasi yang sangat canggih menjadi gambar yang menarik. Tapi kejanggalannya, detail yang lain tidak diperhatikan. Misalnya mobil. Masa di era 2041 masih ada yang menggunak mobil sejenis mercy tahun 90-an. Agak gak berkembangkah teknologi mobil?

FYI, Film Eva ini memenangkan 3 Goya Awards 2011 di Spanyol untuk kategori Best New Director, Best Supporting Actor dan Best Special Effects. Keren yaa.

***Review film ini pernah dimuat di Majalah Teen 2011.

0 komentar:

The Hunger Games: Out of the Box


Akhir bulan Maret, ada lagi film yang menarik perhatianku. The Hunger Games. Melihat trailernya, tampaknya keren. Lalu prestasi yang diraih film itu juga mencengangkan. Sering disebut-sebut menggeser Film Harry Potter 7 part 2 dan The Twilight Saga. (Padahal beda film dan beda masa. Harusnya jangan disamakan. Aku menyebutnya 'disejajarkan')

The Hunger Games, sebuah permulaan. (gambar diambil dari sini)

Yes, The Hunger Games memang pantas disejajarkan dengan 2 jenis film franchise laris manis Box Office itu. Kenapa? Selain ini proyek franchise dari trilogi novel karangan Suzanne Collins, film ini termasuk film remaja yang bisa dibilang out of the box. Ceritanya gak seperti cerita kebanyakan. Film sadis tapi gak mengumbar kesadisan. Ada sisi romance tapi tidak mengeksplor romantika cengeng. Ada pula sisi petualangan dan teknologi 4 dimensi yang dikonsep sedemikian rupa.

Kasarnya, The Hunger Games mengangkat ide reality show dan games hidup dan mati yang menjadi nyata di film ini. Ini merupakan film bunuh-bunuhan yang gak brutal seperti yang diresahkan para orang tua, mengingat pasar film ini adalah remaja. Teknik shaky camera yang bergerak cepat menetralkan adegan berdarah-darah. Adegan pembunuhan antar-tribute juga dibias dengan musiknya yang mendadak soft. Lagu Taylor Swift, “Safe and Sound” yang mengisi film ini dengan nada lembutnya efektif mengaburkan kesan sadis.

Aku gak bisa mungkir bahwa film ini menarik. Sangat menarik. Dengan pemain yang berakting sepenuh hati, sebut saja Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth serta kisah yang tak biasa membuat film ini beda dari yang lain. Segala emosi bisa dimainkan dengan baik oleh para tokohnya.
Mulai dari keceriaan, kasih sayang, takut, sakit, marah, benci, cinta dan berani mampu dihadirkan seiring cerita.


 The Hunger Games adalah film pertama dari triloginya. Sekuelnya Catching Fire dan Mockingjay akan menyusul.

0 komentar:

John Carter: Ala Lord of the Ring


Gambar diambil dari sini.

The Story
John Carter mendapati dirinya terdampar di sebuah daratan tak dikenal. Gak taunya itu adalah daratan Barsoom, alias planet Mars. Bukannya mencari jalan pulang ke bumi, Carter malah terlibat perang antara kaum Helium dengan kaum Zodanga lantaran ia jatuh cinta pada Putri Dejah Thoris dari Helium. Carter mengerahkan pasukan bangsa Tharks, alien bertangan 4 untuk melawan Zodanga.

Udah banyak film serupa yang mengambil setting seperti ini. Jadi jenis film John Carter gak begitu istimewa lagi. Kalo boleh dibilang, film ini bisa jadi Lord of The Ring wannabe

(+) Buat yang mendambakan film kolosal, John Carter adalah pilihan yang tepat. Film peperangan yang dibumbui oleh humor biar krenyes.

(-) Karakter-karakter di film ini begitu dangkal. Karena terlalu banyak tokoh, gak ada karakter yang menonjol, termasuk John Carter dan Putri Dejah. Bahkan chemistry cinta di antara mereka juga kurang dapet.


***Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Teen edisi tahun 2012





0 komentar: