In Photography Land

It's Fun to be Teen (2)

Gak ada salahnya iseng ikut lomba foto Wall's Buavita dengan hadiah liburan ke private island di Kepulauan Seribu. Tergiur dengan hadiahnya, kami pun memanfaatkan studio kantor untuk photoshoot dengan properti yang tersedia.

Fotografer yang baik hati mau meluangkan waktu buat kami melakukan sesi pemotretan. Ini bukan pemotretan asal-asalan. Ini untuk lomba, jadi dekorasi dan wardrobe pun dibuat sesuai tema. Urusan menyiapkan properti pemotretan adalah keahlian kami. Setiap minggu studio tak pernah sepi. Lagi-lagi bekerja di media remaja membuat kami tahu banyak hal tentang remaja. Fashion menjadi persembahan utama media kami. Nah, untuk pemotretan sebuah brand es krim tentu bukan hal yang sulit lagi.

Bicara es krim, berarti bicara tentang manis, ceria, dan semangat muda. Kami mewujudkannya dalam dekorasi sederhana dengan warna-warna pastel ditambah umbul-umbul warna-warni. Ini bagian dari keceriaan, kan?

Untung saja baju-baju yang kami kenakan di kantor bukan pakaian resmi. Tampilan wardrobe yang cerah dan kontras menambah corak dekorasi. Pas sekali untuk foto-foto cantik sambil makan es krim. Keceriaannya jadi tak perlu dibuat-buat. Karena persyaratan peserta hanya 3 orang, ya akhirnya cuma kami bertigalah yang menjadi modelnya. Ada Zee sebagai Fashion Stylist, Dee dari asisten stylist, dan aku sebagai fashion jurnalist. It's so fun to be teen.












Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Photography Land

It's Fun to be Teen (1)


Bekerja di kantor media sungguh menyenangkan. Berprofesi sebagai jurnalis media remaja juga banyak tantangan. Jurnalis tak melulu serius mencari berita, mengolah lalu menuliskannya. Kadang-kadang menjadi jurnalis itu kita bisa mendapat privilege untuk melakukan hal-hal yang tak biasa. Aku pernah bergabung dengan Majalah Teen (yang dulunya Fantasi, lalu kini menjadi Wonder Teen) yang mengulik segala hal tentang remaja termasuk dunia hiburannya. Karena pembaca majalah ini sebagian besar adalah cewek, tentu gaya hidup remaja cewek tak boleh dihindari. Memberikan halaman tentang fashion adalah wajib.

Majalah Teen punya ikon sendiri saat berbicara tentang fashion, yaitu Teen Icon. Beberapa kali juga kami mengundang artis idola remaja untuk pemotretan di studio kami. Nah, ini dia privilege yang aku maksud. Kami bisa masuk dan keluar studio, membuat tema-tema seru untuk pemotretan dan meminjam wardrobe sesukanya. Saat itu kebetulan tema kami adalah lalu lintas. Properti dan wardrobe sudah disediakan di dalam studio. Pemotretan akan berlangsung sepanjang hari. Agar tidak jenuh, kami pun ikut bergaya ala model dan menjamahi setiap sudut studio demi bersuka ria bersama. Sudah kubilang kan bekerja di kantor media itu menyenangkan. Apalagi media remaja. Kita tak akan pernah tua.





Inilah keceriaan kami memanfaatkan properti di kantor majalah Teen. Senangnya menjadi bagian dari Teen. It's fun to be teen guys.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Movie Land

Snow White and The Huntsman : Dari Dongeng jadi Film Perang


Snow White versi perang. (Gambar diambil dari situs imdb)
Snow White (Kristen Stewart) tumbuh menjadi cewek paling cantik di dunia. Hal ini bikin Ratu Ravenna (Charlize Theron), ibu tiri Snow White ketar-ketir. Soalnya selama puluhan tahun belum ada yang mengalahkan kecantikannya. Dengan kecantikannya itu ia sukses menumbangkan banyak kerajaan besar, termasuk kerajaan Magnus, ayah dari Snow White.
Ratu Ravenna berniat membunuh Snow White dan mengambil jantungnya. Snow White pun kabur dari istana, lalu terdampar di Dark Forest. Dengan sangat marah, Ratu Ravenna mengutus seorang pemburu, The Huntsman (Chris Hemsworth) untuk mengejar sang putri.
Yang mengejutkan saat sang pemburu menemukannya, ia pun berbalik menentang sang Ratu dan mengantar Snow White untuk menemui kerabat ayahnya yang masih hidup, bangsawan Hammond. Snow White ketemu dengan sahabat masa kecilnya, William (Sam Claflin). Bersama The Huntsman dan William beserta rakyat yang memihak padanya, Snow White nekad memimpin pasukan untuk menyerbu istana.

(+)
Film Snow White and The Huntsman menyorot sisi heroik dari seorang Putri. Kisahnya jauh banget lho dari karakter lemah lembut si Putri Salju seperti yang sering kita dengar dalam kisah dongeng. Film ini dibikin kolosal berlatar perang, lebih suram dan menantang. Tapi tetap ada peri, kurcaci, dan cermin ajaib. Gak ketinggalan juga kostum, properti, lokasi, musik dan pengambilan gambarnya diperhitungkan maksimal. Kostum-kostum yang dikenakan Ratu Raveena sungguh keren, serta aksesorisnya. Kostum perang yang dipakai pengawal istana juga gak kalah oke. Snow White sendiri juga punya pakaian putri dan baju besi yang tampak cool dipakai Kristen Stewart. Kapan lagi kan fairy tale diubah menjadi film perang seperti ini? Keren dan seru.


(-)
Di film yang berbudget gede ini, sayang sekali akting Kristen Stewart belum sempurna. Sepertinya dia belum bisa melepas image Bella Swan di film Twilight Saga. Saya gak bisa ngebedain ekspresi emosi Snow White di saat susah, marah, dendam, senang dan sebagainya. Padahal seharusnya sebuah film perang bukankah bintangnya harus ekspresif agar tak tenggelam dengan banyaknya figuran di film itu?


Fun Parts
  • Ada 2 dimensi yang ditampilkan di Snow White and The Huntsman: dimensi perang dan dimensi dongeng.
  • Snow White and the Huntsman mengambil ide kisah putri salju yang mampu terlepas dari nuansa romantika cinta. Penonton gak bakal terjebak dalam indahnya cinta di sini.
  • Snow White and the Huntsman begitu apik menyulap sebuah dongeng menjadi film kolosal perang
  • Snow white and The Huntsman. Bisa banget lho dikaji lewat sisi feminis.
  • Snow White and The Huntsman mengambil sisi tegar dan kuat dari sang putri salju. Bukan kelemahan dari seorang wanita.
  • Layaknya fairy tale, film Snow White and the Huntsman juga menonjolkan kostum dan pilihan gambar yang menarik
  • Mungkin sayangnya, pemerannya kurang mampu memainkan emosi dari karakter yang dia pegang.
  • Harusnya kita mendapatkan sisi manis, lembut, sedih, marah dan dendam sekaligus dari si Snow White. Tapi kali ini begitu flat.
  • Tapi dia cukup menguasai muka tak berdosa dan jiwa keras kepala dari sang putri raja.
  • Kelemahan-kelemahan itu untungnya dapat tertutupi oleh setting lokasi dan kejadian serta musik dan efek yang mendukung.
  •  Saya suka penempatan posisi apel di film ini. Manis, punya kisah sendiri tapi racun pada akhirnya.

***Tulisan ini pernah diterbitkan di majalah Wonder Teen 2012.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Movie Land

Soegija : Sejarah Berpadu Lagu


The Story
Romo Soegijapranata (Nirwan Dewanto) adalah uskup pribumi pertama di Indonesia yang diangkat oleh Vatikan. Masa-masa pengangkatan itu justru di saat situasi perang Asia-Pasifik kisaran tahun 1940-1950. Kalo kamu buka buku tentang sejarah Indonesia, kamu tentunya tahu bahwa itu adalah masa peralihan dari pemerintahan Belanda ke tangan Jepang, dan disambung pendudukan Belanda yang kembali ke Indonesia pasca kemerdekaan.
Belum lama diangkat jadi uskup, Romo Soegijapranata telah menghadapi banyak tantangan. Perang, kekacauan, kemiskinan sampai banyaknya keluarga yang terpisah jadi tugas berat sang Romo. Penjarahan juga terjadi di mana-mana. Mariyem (Anissa Hertami) harus merelakan kakak laki-lakinya buat ikut berperang dan akhirnya tewas. Ling Ling, anak perempuan keturunan Tionghoa sedih banget karena ibunya diculik dan hartanya dirampas.
Sementara itu, para pemimpin negeri, Soekarno, sedang ditawan dan keraton pun tumbang. Mau gak mau Soegija turun tangan dan mengajak pengikutnya mengungsi ke Jogja saat terjadi pemberontakan 5 hari di Semarang.
Film Soegija, sebuah biografi. (Gambar diambil dari situs imdb)
Turn On
Soegija adalah film sejarah dengan selipan lagu, diantaranya “Bengawan Solo” serta beberapa lagu berbahasa Jepang dan Belanda. Alunan musik biola, piano, ukulele. Keren abis, klasik banget dan sweet. Saya juga terkagum-kagum dengan setting film. Kostum dan kehidupan sosial di film itu pas sama latar tahun filmnya. Film ini sangat memperhatikan detail, mulai dari properti dan wardrobe. Kita juga bisa belanja mata ngeliat pengambilan gambar si sutradara, seperti bentuk rumah etnis Cina, bangunan tua Belanda di Semarang, suasana tempo dulu kota Jogja. So vintage.

Turn Off
Buat yang gak suka sejarah dan kurang tertarik sama film epik kolosal, gak disarankan buat nonton ini. Alurnya yang panjang dan konflik cerita yang naik-turun akan terasa lamban dan membosankan.

Did You Know...?
Total pemain figuran yang mendukung film ini kurang lebih 2.775 orang. Buanyaaak banget deh.


Fun Parts
  • Saat teaser film ini beredar di Youtube, banyak banget yang mengecam film ini sebagai bentuk Kristenisasi. Let see, Kristenisasi dari sisi mana? Kalo belum nonton, mending jangan komentar.
  • Satu hal yang menonjol dari film ini adalah kepemimpinan. Menjadi pemimpin di masa peralihan itu gak mudah. Soegija salah satu pemimpin dan pemuka agama yang berjuang tanpa berniat menulari doktrin agamanya.
  • Soegija adalah orang pribumi pertama yang diangkat jadi uskup di indonesia pada era 40-an
  • 1 kalimat nampol dari Romo Soegija, "Seorang pemimpin itu harus kerja untuk rakyat. Jadi beginilah pemimpin, kerja."
  • Di film ini semua tokoh manusiawi. Gak ada tokoh yang jahat bahkan termasuk pemimpin Jepang dan Belanda. Film ini penghantar pluralisme beragama, berbangsa dan berbudaya.
  • Selain sejarah, ada pertukaran nilai budaya Jawa, Belanda dan Jepang. Dan itulah yang membentuk mekanisme berpikir kita khususnya Jawa.
  • Karakter yang diciptakan semua punya nilai rasa meski kejam.
  • Seorang pemimpin Jepang yang menjajah kita pada masa itu adalah seorang ayah yang merindukan anaknya yang sedang berada di Jepang.
  • Pemimpin Belanda pada masa perang gerilya Jenderal Sudirman pun adalah seorang anak yg dikirimi surat dari ibunya di Belanda. Ibunya meminta anaknya pulang.
  • Kenapa film ini dibilang kristenisasi? Apa cuma krn tokoh pahlawan kita kebetulan seorang uskup dari Semarang dan difilmkan? 
  • Pemaparan film ini murni pemaparan biografi dan sejarah Indonesia pada masa perang.
  • Tadinya saya gak tau Soegija itu tokoh apa. Dari film ini saya tau,dia adalah tokoh berpengaruh di semarang saat terjadi krisis kepemimpinan.
  • Pemaparan film Soegija sebenarnya cerdas. Film dibikin tarik tegang ulur merajang dengan plot majunya tetap dlm spot yang fokus pada kepemimpinan.
 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments