It's Fun to be Teen (3)









Di sela-sela kesibukan kerja, selalu berpatut pada deadline, kami menyempatkan untuk berfoto bersama. Shoot all the time. Here we are. Majalah Teen harus trendy, smart dan happy together

0 komentar:

Minggu Penuh Arti di Galeri


Artsy sunday

Dari Galeri Nasional ke Berseni Project, Tugu Proklamasi
Dari Lukisan Raden Saleh ke Woosaah!!!

Kali ini adalah kisahku di galeri bulan Juni lalu. Hari Minggu yang kosong tanpa jadwal berarti mendadak menjadi hari penuh seni dan galeri.

Aku, Ella, Bumi adalah 3 orang disorientasi tujuan pada hari itu. Tetiba terbersit ide untuk mengunjungi pameran lukisan yang 'hits banget' di Twitter, Pameran Lukisan Raden Saleh. Kebetulan hari terakhir.

Berangkatlah 3 sekawan sekosan ini ke Galeri Nasional. Minggu siang yang panas tanpa awan. Kami memutuskan naik Commuter Line dari stasiun Tebet ke Gambir. Mulanya semangat menunggu kereta di peron stasiun. Kami begitu ceria dengan kamera SLR milik Bumi. Peron yang panas mencipta kisah 3 manusia dengan 3 profesi: fotografer amatiran, model dadakan, dan reporter beneran di TKP peron Tebet. Berpanas-panaslah rialah kami karena 1 jam menunggu kereta yang tak kunjung datang.






Akhirnya Commuter Line nongol juga. Kami masuk ke gerbong khusus wanita. Tidak kosong tapi tidak penuh juga. Kereta melintasi stasiun demi stasiun. Lalu sampai di Gambir.






Galeri Nasional terletak persis di seberang Stasiun Gambir. Panas matahari masih belum meredup. Setelah adem-ademan di kereta, kami berharap bisa adem-ademan di galeri. Tapi ternyata... antrian kira-kira 10 meter ada di depan mata. Sedikit terkejut dan takjub, galeri nasional jadi ramai begini. Orang rela-rela berpanas-panasan untuk sebuah pameran lukisan. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari pencinta seni, akademisi, bule, kakek, nenek, anak-anak yang tergolong awam ikut mengantri.




Masuk ke dalam gedung pun pakai kloter. 1 kloter 20 orang. Yaak, kami harus rela panas-panasan lagi sekitar 30 menit. Di stasiun sauna, di galeri matang diungkep.



Begitu masuk galeri, kami langsung disambut profil singkat Raden Saleh beserta fotonya. Lalu kami beralih ke sederetan lukisan. Kalau boleh kutaksir, lukisan ini udah berabad umurnya, dan kondisinya masih sangat bagus. Lukisan-lukisan ini murni hasil karya Raden Saleh yang sebagian adalah koleksi pribadinya, sebagian lagi menjadi koleksi istana negara dan beberapa instansi.









Rupa-rupa lukisannya berbeda-beda. Lukisan pemandangan, binatang, dan potret manusia. Dari cat minyak sampai goresan sketsa. Ini adalah hasil karya Raden Saleh selama di Eropa dan Indonesia. Aku menangkap, Raden Saleh lihai dalam melukis landscape alam. Detailnya begitu luar biasa. Tidak salah kalau Raden Saleh begitu menginspirasi perkembangan seni lukis modern di Indonesia.














Puas menikmati lukisan Raden Saleh, kami bertemu kawan sejawat (lebih tepatnya berkenalan) dengan pemilik sebuah galeri di tempat lain, Berseni Project. Kami diajak untuk mampir ke pameran Woosaah!!! di Jalan Proklamasi. Kebetulan ini hari terakhir pamerannya. Dengan senang hati kami pun mampir.










Usai melihat lukisan yang berusia 100-an tahun, di Berseni Project mataku dimanja dengan lukisan abstrak. Beberapa lukisan yang dipajang di sini adalah hasil karya street artist. Suasananya lebih fun dan colorful. Lukisan-lukisan Woosaah!!! lebih ke bentuk potret abstrak, surealis nan menggigit, berikut dengan kritikan yang tersirat di dalamnya.

Hari Minggu di bulan Juni kenyang dengan karya seni. Meminjam kata-kata temanku, Bumi.
It was really an Artsy Sunday.

0 komentar:

Trip to Ujung Genteng (VII) : Traffic Jam, Karaoke, and Ice Cream


 Destination is finally done...


 Setelah bersih-bersih, kami langsung berangkat pulang. Liburan berakhir. Wait, Perjalanan masih panjang. Masih ada sekitar 9 jam lagi yang harus kami tempuh untuk sampai di Jakarta. Prediksi kami adalah perjalanan pulang biasanya lebih cepat. Entah itu sekadar asumsi atau menghibur diri.
Pada menit-menit awal, semua personil tertidur karena kecapean. Kecuali Junisatya yang konsentrasi menyetir. Seakan tersadar karena laju mobil semakin cepat dan jalanan berguncang-guncang, kami pun bangun. Untuk mengusir kantuk, kami menyalakan musik dan karaokean bersama sambil melihat pemandangan bukit. Tentu saja semua jadi melek.

Kami berencana untuk makan siang saat memasuki kota Sukabumi. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami berhenti di pom bensin untuk ke toilet dan sholat. Rencana kuliner makanan Sunda pun tertunda. Perut lapar tapi jalanan mulai macet. Kami mengisi amunisi dengan jajan di Alfamart. Lumayan untuk mengusir lapar sejenak.

Jalanan semakin mandek karena ada perbaikan di sana-sini. Kami juga baru ingat bahwa hari itu adalah hari terakhir liburan sekolah, jadi wajar kalau jalanan ramai dan padat begitu. Semua mobil berplat B dan F. Semua menuju ke arah Bogor dan Jakarta. Sepertinya kami harus lebih bersabar lagi nih di jalan.

Mulut tak berhenti mengunyah dan mengoceh di sepanjang macet. Tak ada yang benar-benar tidur karena mata kami awas menangkap tanda-tanda adanya restoran Sunda. Seakan menyerah, kami pun berhenti di warung ayam bakar di pinggir jalan. Perut sudah tak bisa berkompromi. Dengan lahap, 1 ekor ayam itu pun ludes seketika.

Ciawi sudah dekat. Dan hari mulai gelap. Jalanan semakin padat. Kami berhenti lagi di sebuah pom bensin di Ciawi untuk istirahat sejenak. Es krim menjadi cemilan dingin yang kami lahap berikutnya. Es Krim Wall's Buavita berbagai rasa dicoba. Bahkan dari satu es krim aja bisa muncul perdebatan dan konflik (alias berebutan). Kata orang-orang tua, es krim bisa menenangkan dan meredakan stres. Tapi es krim bisa meluluhkan lelahkah?

Untungnya belum ada yang bosan dengan jalanan malam itu. Semua pasrah jam berapa pun sampai di rumah. Yang penting selamat.

Lagu dan video Westlife pun kami putar di mobil. Lumayan untuk membunuh jenuh. Tol Jagorawi... Tol Cikampek... Kami ke Tambun terlebih dahulu mengantar Ririn. Tapi masih pakai nyasar. Kami kesasar di Cikunir. Lumayan tuh menghabiskan waktu 30 menit sendiri untuk balik arah. Junisatya semakin menggila membawa Avanzano-nya.

Persis pukul setengah 11 malam, kami sampai di rumah Ririn. Disambut sumringah oleh ibunya. Disambut meriah juga dengan nasi goreng di rumahnya. Wah, kebetulan, perut sudah lapar lagi, ditemani kerupuk kulit. Usai makan, kami masih duduk berselonjor, mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk melanjutkan perjalanan. Junisatya, si single fighter mesti dipijit dulu karena Kratingdeng pun sudah tak mempan menambah tenaganya.

1 jam di rumah Ririn, kami paksakan untuk bergerak. Tujuan selanjutnya adalah rumah Lia di Pasar Rebo. Menjelang tengah malam itu, tol Cikampek masih terbilang padat. Tenaga serasa sudah habis, yang tersisa adalah kantuk. Bahkan sang driver juga sudah 'mabuk nyetir' sepertinya. Tapi semua dihajar. Kami masih berusaha untuk konstan bercanda meski kualitasnya menurun drastis.

Sampai juga di rumah Lia. Ageng dan Ail juga ikut turun di sana dan lanjut naik taksi. Ageng sempat trouble karena sebelumnya lupa izin dengan ortunya, sehingga saat ia sampai di rumah, rumah terkunci rapat. Sementara Ail masih terus ke arah Kebun Jeruk, rumahnya. Aku dan Junisatya langsung melintas bebas hambatan ke arah Tebet.

Saat aku turun, yang terlihat di mobil adalah sampah dan sisa-sisa jajanan. Lumayan tuh buat menambah stock makanan.

Dengan begitu, perjalanan selesai. Destination berakhir. Sampai bertemu di liburan selanjutnya, Teman.

0 komentar:

Trip to Ujung Genteng (VI) : Curug Cikaso

Next... little dissapointment

Sebelum memutuskan untuk balik ke Jakarta, kami mampir ke Curug Cikaso, di kabupaten Surade searah jalan pulang. Sekitar setengah jam dari penginapan kami. Curug Cikaso itu curug dengan 3 air terjun. Ini adalah salah satu spot yang tak boleh terlewatkan oleh para wisatawan yang berlibur ke Ujung Genteng.

Karena penasaran, mampir sebentar di sini tak ada salahnya barang 1-2 jam. Begitu sampai di sana, mobil diparkir dan kami berganti pakaian, siap basah dan berenang. Untuk menuju Curug ada 2 alternatif, jalan kaki sekitar 10 menit atau naik perahu sekitar 5 menit. Kami memutuskan untuk naik perahu, biar sekalian foto-foto di atas perahunya.

Curug Cikaso tidak terlalu jauh. Bahkan tak sampai 5 menit, kami sudah berada di dermaga Curug. Namun, tiba-tiba kekecewaan menyelimuti kami (lagi). Tiga air terjun itu kering. Yang ada cuma curug dengan air berwarna hijau keruh. Banyak juga pengunjung lain yang sama kecewanya seperti kami. Karena sudah terlanjur ke sini, tanggung basah, sekalian main basah-basahan aja. Walaupun tak seperti yang diharapkan. Setidaknya kami masih bisa berpuas hati di sini. Puas nanggung.



  
 
Kami kembali ke parkiran mobil dengan perahu yang disewakan tadi. Ada tour guide yang mendampingi kami (yang sebenarnya gak penting tuh si tour guide. Dia cuma mau mengambil keuntungan dari kami, minta tambahan bayaran). Naik perahunya juga tidak terlalu nyaman dengan standar harga sewa yang tinggi. Kali yang kami lewati kotor, tidak terlalu terawat. Kekecewaan kami akan Curug Cikaso menjadi berkali-kali lipat. Penduduk sana tidak mengelola manajemen wisatanya dengan baik. Yang mereka tau, banyak wisatawan sama dengan banyak pemasukan.

So far, kami bahagia. Rasanya lengkap. I'm really excited for our holiday. Setidaknya kami tahu yang mana yang namanya Curug Cikaso meski air terjunnya kering karena musim kemarau.

0 komentar: