Trip Sewarna Pantai Sawarna(Part 3): Tanjung Layar




Matahari semakin rendah, sedikit tertutup awan, kami melanjutkan jalan kaki lagi ke Tanjung Layar. Jika dipikir-pikir kami telah berjalan lebih dari 1 km. Tanjung Layar itu berada di ujung Sawarna. Saat sampai ke tanjungnya, mata kami langsung berbinar-binar takjub. Ada 2 tebing tinggi yang menjulang tak jauh dari pantai. Saya tidak tahu nama tebingnya, tapi yang pasti kami antusias untuk berjalan basah-basahan ke arah tebing karang yang berbentuk kerucut itu. Ombak yang lebih besar menghempas di balik tebing itu. Di sinilah kami memutuskan untuk menunggu sore (sebenarnya berharap bisa melihat sunset dari sini, tapi mustahil karena awan sangat tebal).

 Dari mulai datang ke Sawarna, saya mencari-cari apa keistimewaan pantai ini dibanding yang lainnya, yang bikin pantai ini tidak biasa. Di Tanjung Layar ini saya temukan jawabannya. Inilah keindahan itu. Tebing yang mengerucut ke atas itulah keistimewaannya. Tampak megah seperti pilar istana. Di bawahnya pun batuannya melandai dan cenderung datar. Kami bisa berjalan-jalan mengelilingi tebing itu (tentu saja saat air laut sedang surut). Di belakang tebing itu, karang panjang memagari, sehingga ombak tidak bisa seenaknya menubrukkan dirinya ke tebing itu secara langsung.














Pada saat kami sampai di Tanjung Layar, sayangnya ombak lagi gede-gedenya. Karena ngeri, kami memutuskan kembali ke pantainya yang cuma beberapa meter dari tebing. Tapi sepertinya lagi-lagi Tommy dan Kenny tengil berjalan-jalan di dataran kaki tebing. Bahkan Tommy nekad tawaf mengeliling tebing karena mengikuti burung camar terbang. ckckckck. Alhasil, karena menghindari 'serangan' mendadak dari ombak, dua orang ini sempat tergores karang. Seengaknya itu jadi kenang-kenangan-lah bagi mereka.

Setelah cukup puas sesorean di Tanjung Layar, mendung memekat. Kami nongkrong di warung kopi dekat sana. Menghangatkan badan dulu sejenak sebelum balik ke penginapan. Dan ternyata saat itu pula hujan deras. Yeaay, tampaknya sebelum gelap, kami harus nekad hujan-hujanan buat balik ke rumah, karena nggak ada lampu jalan yang menerangi sepanjang jalan setapak. Eiit, tetep ya, harus melewati jembatan goyang itu. Ya ampun, andai ada jalan lain yang lebih 'sehat'.



 Begitu sampai di penginapan, kami bergantian mandi. Sekujur badan basah karena main air plus hujan-hujanan. Lelah udah tak bisa dibendung. Ada yang sampai ketiduran sambil nungguin yang lain mandi. Maklum, ruang penginapan kami cukup nyaman untuk beristirahat. Saking nyamannya, tak ada yang mau beranjak untuk mencari makan.

Hasratnya sih pengen ayam atau ikan bakar. Tapi dalam kondisi hujan begitu, tidak ada yang mau repot-repot untuk membakar sesuatu. Saya dan Juniasatya jalan-jalan mencari makanan yang bisa disantap malam itu. Kami bertanya-tanya, "Masa di kawasan pantai gak ada ikan bakar sih?"

Yak, ternyata ada. Ada warung ikan bakar di dekat pasar. Di sana dijual ikan layur dan ikan Indosiar (begitu Junisatya menyebutnya). Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung saja memesannya. Terbayang bumbu ikan bakar yang akan kami nikmati. Sluuurp. Dan benar saja, begitu dibawa ke penginapan, semua langsung menyerbu. Ikannya habis dalam sekejap.

Usai makan, kami langsung pulas tertidur. Tidak ada satu pun yang bangun saat hingar bingar tahun baru memuncak. Malam tahun baru semua tidur dengan nyenyak.

4 comments:

  1. di luar, semarak tahun baru hingar bingar, di penginapan kita, semua terkapar..hahahaha..

    ReplyDelete
  2. Yoi. Siapa yang peduli dengan hingar bingar kembang api tahun baru jika lelah puas hinggap ke badan? Hahaha

    ReplyDelete
  3. mengulang kejadian tahun lalu, malam tahun baru bukanya merayakan..eh malah molor semua. lha bukannya lu pengen bgt num liat kembang api ??

    ReplyDelete
  4. Yeah berarti kembang api tahun baru belum rejeki gw ken. Hahaha

    ReplyDelete