In Photography Land

Fun Time Kriyuuk

Seperti biasa, kalau bertemu cewek-cewek ini bawaannya selalu fun, sadar kamera, colorful. Tau deh yang basic-nya (pernah) kerja di majalah fashion remaja. Here we are...
Hi, Zee, Dee, Redha. Satunya fashion stylist, satunya wardrobe assistant, satunya graphic desaigner, lalu saya (mantan) fashion journalist. Lengkap sudah kan hidup ini diwarnai dengan shot all the time....

!










lokasi :   Kota Kasablanka Mall
4 April 2013

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Abroad Land Journey Land

Catatan Tercecer dari Swiss (Part 3)

Sungai Rhine... membawa anganku hingga Paris dan Berlin.



Ada satu sungai besar dan panjang yang membelah kota Basel, Swiss. Sungai ini membentang memisahkan Basel Besar dan Basel Kecil (itu sebutan orang Basel untuk memisahkan wilayah pemukiman berdasarkan tingkatan ekonomi). Setiap kali tram yang kunaiki melewati jembatan yang lebar ini, aku terkagum dengan aliran air yang tenang tapi tampak mengalir pasti. Sungai Rhine, memabukkan anganku saat menatapnya hingga kesekian kali.

Aku tak begitu tau berapa lebar sungai itu, tapi kapal pesiar lalu lalang melaju di bawah kami. Ada taman yang disediakan di pinggir sungai, pas sekali untuk melihat pemandangan sungai itu. Saat matahari tampak menyeruak setelah berhari-hari bersembunyi di balik kabut winter, orang-orang Basel kelihatan menikmati waktu berjemur di pinggiran sungai sana. Meskipun cuaca masih terasa dingin menusuk, mereka seperti tak segan duduk berlama-lama sembari membawa anjing-anjing mereka berjalan-jalan.

Aku terpukau dengan sungai ini. Usut diusut, sungai Rhine termasuk sungai terpanjang yang ada di Eropa. Sungai ini membelah Swiss, melewati Jerman hingga Prancis. Ini menjadi salah satu jalur transportasi orang yang ingin bertamasya sepanjang sungai.

Airnya biru. Aku tak melihat setitik pun sampah atau limbah mengotorinya. Kulihat burung-burung dara terbang sambil menyentuhkan kaki mereka di permukaan air, lalu terbang lagi yang tinggi. Aku tidak begitu tau kedalamannya. Tapi mungkin ada beberapa orang yang melakukan percobaan bunuh diri mengingat tingginya jarak jembatan dengan permukaan air. Siapa yang tidak gamang?

Sungai Rhine ini sangat meneduhkan. Di tengah negara Swiss yang tidak punya laut, sungai ini menggantikannya. Anginnya yang meniup pelan hingga kencang, airnya yang sesekali bergelombang kecil, serta kapal yang melintasinya pada waktu-waktu tertentu, cukup membuat pelancong di Basel itu puas. Aku pun juga puas dengan kebersihan yang sangat dijunjung tinggi negeri Swiss itu.


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Abroad Land Journey Land

Catatan Tercecer dari Swiss (Part 2)

Swiss adalah negeri coklat... dan keju.

Swiss itu sangat dingin. Apalagi dengan bentangan pegunungan Alpen yang melingkupinya. Di saat winter seperti itu, paling enak makan coklat. Benar kata orang, coklat tu menghangatkan. Coklat itu menstimulus otak untuk perasaan tenang. Itulah swiss. Negeri yang tidak terlalu hingar bingar karena warganya memakan coklat. *loh, apa hubungannya?*

Aku tidak terlalu berlebihan bila menilai Swiss sebagai negeri yang senyap. Bukan berarti semua orang berbicara berbisik, atau tidak ada panggung konser yang memekakkan telinga. Tapi yang kulihat justru pertemanan dan perbincangan hanya dilakukan seperlunya. Mereka sepertinya tidak mengenal basa-basi. Jarang pula kulihat ada anak-anak muda yang cekikikan sepulang sekolah atau seraya menunggu kereta.

Betapa sepinya kota ini


Suatu hari aku berkesempatan berjalan-jalan ke pasar tradisional di Basel. Pasar itu terletak di depan gedung pemerintahan Basel. Sebut saja namanya Balai Kota. Jangan harap kamu akan mendapati pasar yang ramai, celoteh kencang pedagang, gosip para pembelanja, dan sebagainya. Pasar ini benar-benr jauh dari hiruk pikuk Dan jangan pula bayangkan pasar yang kotor dan becek. HEy, ini Eropa. Semuanya bersih. Konon katanya, Swiss adalah negeri terbersih di tanah Eropa sana. yaa itu kan konon, aku percaya saja mengingat belum menginjak negara yang lain. Negara terakhir yang bersihnya keterlaluan yang pernah kukunjungi adalah Singapura. Konon pula katanya Singapura itu memang disebut Swiis-nya Asia. Oke catat, aku bahkan baru tau lho istilah itu dari sebuah buku The Geography of Bliss karangan Eric Weiner.

Lanjut lagi mengenai pasar tradisional tadi. Apa saja yang dijual? mayoritas adalah coklat dan keju segar, murni, asli. Bayangkan melihat keju-kejuu batangan mulai dari porsi kecil sampai besar dihampar begitu saja. Para pencinta keju akan ngiler abis-abisan. Aku beruntung tidak termasuk kaum itu. namun aku kagum jajaran keju yang ada di sana. Di Indonesia aku mengenal keju dalam kemasan dengan komposisi gizi lengkap di kemasannya. Saat itu aku justru melihat balok-balok keju berwarna kuning pucat dijajakan di pinggir jalan terbuka, dengan udarayang super dingin. tidak perlu takut akan meleleh karena winter itu kulkas alam

Tapi jangan langsung kalap menyerbu pasar ini, karena harganya lebih mahal daripada harga coklat dan keju di toko, swalayan maupun supermarket.  KAta pemanduku dari KBRI, barang yang dijual di sini adalah hasil ladang mereka. Petani di sini makmur dan sejahtera. Mereka menjual hasil ladang itu dengan harga tinggi di pasar tradisional. sementara di toko-toko relatif lebih murah. Tetapi kenapa tetap ramai? Karena barangnya masih segar dan murni. Oke, kuurungkan untuk berbelanja di pasar sini. Kalau beli yang murni-murni untuk oleh-oleh, barangkali saat pesawatku meninggalkan Zurich, semua coklat akan lumer dan keju akan berbau menyengat karena tidak berada pada suhu seharusnya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Abroad Land Journey Land

Catatan Tercecer dari Swiss (Part 1)


Swiss, negara yang beroperasi dengan aturan dan kepercayaan.


Tepatnya tanggal 27 Februari 2013 lalu, aku menginjakkan kaki di sebuah negara paling tidak pernah berpihak di seluruh dunia, Switzerland atau bahasa kampungnya sama dengan Swiss.

Selama 6 hari di sana rasanya tak cukup apalagi tujuanku ke sana bukanlah untuk traveling. Aku hanya mendampingi ibuku yang ikut festival kebudayaan dunia MUBA di Basel. Tapi aku punya beberapa cerita yang bisa kubagi di sini. Yah, mungkin sebagian orang sudah tau, tapi gak ada salahnya berbagi kembali.

Pesawatku saat itu mendarat di Zurich dengan suhu udara 0 derajat celcius tepat pukul 6 pagi, beda 7 jam dengan waktu Indonesia. Saat itu aku tahu bahwa orang Swiss memiliki perhitungan waktu yang sangat akurat. Setelah pengecekan imigrasi dan bagasi, kami berjalan ke pintu kedatangan. Udara di dalam ruangan hangat, tapi begitu keluar pintu, jangan harap anda bisa menahan terpaan udara pagi musim dingin dengan tetes salju masih menyisa di aspal. Dingin seperti bermalam di kulkas (walaupun belum pernah berdiam diri di  dalam kulkas, tapi setidaknya rasanya seperti itu), seperti memegang batu es sekitar 5 menit. Dingin yang ngilu. Aku langsung mengalungkan syal dan memakai sarung tangan, meski sedikit hangat, tapi lumayan membekukan ujung-ujung saraf.

Kami telah ditunggu beberapa utusan dari KBRI. Kami punya waktu sekitar 10 menit untuk mengemasi bagasi karena katanya pukul 7 teng, bus sewaan KBRI akan sampai di lobi dan mereka tidak bisa menunggu barang 5 menit pun. Sistem di sana memang telah diatur seperti itu. Bus yang disews pukul 7, maka tepat jam segitu bus itu datang dan sopirnya tidak bisa menunggu. Di sini serba sigap karena setiap orang yang bekerja di negara itu dibayar per jam. Mereka tidak mau merelakan waktu barang 1 menit saja untuk sebuah kelalaian.

Aku pun bergegas saat busnya datang. Sang sopir dengan ramah menyapa kami dengan berbahasa Inggris. Bahkan sopir pun sangat berpendidikan. Bus itu akan melaju mengantarkan kami ke kota Basel dalam 1 setengah jam. Jadi pukul 08.30 kami sudah di hotel. KBRI telah menyusunkan jadwal kami dengan rapi.




Kulihat Basel adalah kota yang tak terlalu besar. Jalanannya dipenuhi garis-garis yang merupakan jalur jalur tram, jalur khusus sepeda, jalur untuk parkir, jalur untuk orang buta, kursi roda, anak-anak, bus, dll. Aku jatuh cinta dengan kota ini. Semua diatur sedemikian sempurna. Semua pun berjalan dengan semestinya.

Kami dibagikan sebuah kartu, katanya itu kartu pass untuk naik kereta selama berada di Basel. Tadinya kupikir kartu itu ditunjukkan ke petugas stasiun atau petugas kereta setiap naik kereta. Ternyata tidak demikian adanya. Kartu itu hanya disimpan, buat berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada pemeriksaan.



Nah, yang jadi pertanyaan, kapan pemeriksaan itu dilakukan? Selama aku berada di sana, sama sekali kartu kami tidak diperiksa, begitu juga dengan orang-orang bule itu yang kesehariannya naik kereta. Mereka mengisi voucher tiket di sebuah mesin mirip mesin ATM yang ada di halte. Mereka mengisi voucher, tapi tidak pernah ada yang memeriksa. Lantas bisa saja dong ada orang yang menyelinap tanpa bayar? Anyway, di Basel ini ada kereta besar yang menghubungkan antar kota dan negara, serta kereta kecil atau tram yang menghubungkan setiap wilayah di kota Basel. Kartu yang diberikan Orang KBRI pada kami adalah kartu tiket untuk naik tram.

Akhirnya aku tau jawabannya. Negara itu menjunjung tinggi kepercayaan. Transportasi di Basel beroperasi dengan sistem kepercayaan itu dan takjubnya semua orang menaatinya. Kebayang kan kalau di Indonesia diterapkan sistem seperti itu? Orang kita masih termasuk barbar untuk diberikan kepercayaan semacam itu. Sementara di Swiss, denda bukanlah hukuman, melainkan rasa malu karena mendapat penghinaan publik serasa seperti hukuman mati.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments