Saat Singkat di Benesse

Selama beberapa bulan terakhir, aku terdampar di Benesse, sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pendidikan. Aku disodorkan proyek editan buku pelajaran Matematika SD. What? Terakhir menyentuh matematika itu kan SMA. Nah, sekarang harus mengabdi pada nusa dan bangsa menggarap buku pelajarannya yang super serius. Oke, mari hajar.

Batik Days


Fase awal bekerja masih jaim. Mulanya kupikir, bekerja di perusahaan Jepang itu kaku, tidak boleh berisik, semua ada waktunya. Namun, seriring berjalannya waktu, suasana menjadi cair, terlepas dari peraturan, kedisiplinan dan etos kerja (*ini berat banget bahasa gue). Bos-bos Jepangnya asyik juga. Ada Ueda san yang ngehits dengan kata-kata "So...so...so..." serta kipas batik yang selalu eksis di tangan. Lalu Suzuki san yang selalu tampak sumringah di tengah kepanikan tim editor dan tim layout, serta selalu sedia kamera untuk mengabadikan beberapa momen. Ada pula Editor in Chief yang suka tiba-tiba galau sendiri, panik sendiri, rungsing sendiri, Triana San. Tapi Mba Triana tipikal yang harus semedi dulu untuk memecahkan masalah yang nongol seiring editan berjalan. At least, seru yah bekerja sama dengan mereka ini. Kru lainnya juga tak kalah menyenangkan dan suka hura-hura. Saat stres datang, kami bisa jalan-jalan bareng, nonton bareng, karaokean bareng, dan makan-makan bareng.

Buka Puasa Benesse di Bushido restaurant.

Kru Benesse yang ceria

4 bulan di sana sangat tak terasa. Padahal dalam waktu yang singkat itu, ada masa-masa paceklik, alias panik dengan deadline, malas-malasan saat jenuh datang, lapar melanda perut saat bulan puasa, dan banyak lagi. Waktu jadi berjalan sangat lambat. Kantor juga sempat berpindah dari Gedung UOB dengan rest area (baca: toilet) yang sungguh nyaman ke Gedung Tamara Centre dengan kloset yang mendadak jadi closed serta tindakan toilet bullying dari tetangga sebelah. Maklum biliknya cuma 2 dan jumlah kami banyak. (Kenapa tiba-tiba jadi membahas toilet?) Yeah, itu karena toilet jadi kebutuhan primer mendesak di hari-hari kerja serta pelarian sejenak jika mau menghindar dari kerjaan. (*ups)





Untuk kerjaanku sendiri, aku punya partner in crime yang selalu saling menjaga kestabilan emosi selama proyek editing berjalan. Shinkenzemi berjumlah 6 kelas dikali 10 buku masing-masing kelas, totalnya 60 buku (jadi jago menghitung 'lulus' dari Benesse). Lalu ditambah pula Worksheet yang membuat otak meragang karena jumlahnya ribuan halaman dan hanya berupa lembaran putih tanpa warna. Riak muka berubah-ubah melihat layar monitor setiap hari. Muka serius mengerjakan dengan telinga disumbat headset, muka putus asa, muka lelah, bahkan muka sakit. Eh, ada juga yang tiba-tiba cekikikan sendiri melihat tumpukan kerjaan di atas meja. Kegilaan kerja ini cuma kami dan Tuhan yang tahu sepertinya. Pada akhir hariku di sana, kebetulan sekali kantor sedang kosong. Aku bersama partner in crime yang tersisa (karena yang lain sudah lebih dulu selesai kontraknya) malah menonton film Thailand bersama via Youtube di sisa sore yang sepi. Entah ide siapa, yang pasti ini rahasia (yang akhirnya diumbar di sini).

Lembur eksis ini namanya.


Bukan berarti tidak ada yang menarik. Kisah senang adalah saat makanan tersedia melimpah ruah di pantry Benesse. Jika selesai meeting, Ueda San dan Suzuki San suka membawakan oleh-oleh camilan cantik, mulai dari keripik, permen, cokelat, hingga es krim. Apalagi kalau mereka pulang kampung ke Jepang. Balik ke Indonesia selalu bawa buah tangan. Tak jarang colong-mencolong terjadi. Tak jarang pula rebutan makanan lantaran kelaparan. Lumayan membuat mata melek. Ini kisah memalukan sebenarnya, tapi sengaja dituturkan apa adanya di sini, biar semua orang mengira kerja itu tidak selamanya melelahkan, melulu kerja. Ada kehebohan di dalamnya.






Kini proyeknya kelar. Shinkenzemi nyaris rampung. Aku harus kembali ke sekolah kelas S2. Sayang sekali kami tidak jadi liburan bareng. Sempat merencanakan liburan ke Pulau Pari, eh tapi malah batal. Lalu beralih ke Dufan, tapi entahlah. Anyway, senang pernah berada di tengah-tengah mereka. Kalau ada acara makan-makan dan jalan-jalan di lain waktu, jangan lupa count me in, ya.

Salam Shinkenzemi, salam senyum Shimajiroo.




2 comments:

  1. wow.. keren.. ini based on true story... hahaha...
    tapi, lo dn ratna emg editor hebat dan tahan banting. gak pernah stress meskipun tekanan dan serangan datang bertubi-tubi (lebay). thanks udh kerja bareng, ketawa bareng, curcol bareng, dan gila bareng.
    goodLuck buat sekolah S2 nya..
    Bisa kaleee kerja bareng lagi kapan-kapan.. Yakalee.. :D

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komennya. Terima kasih juga sudah menjadi patner in crime selama beberapa bulan. Keren dan kece deh kita (*sambil pasang kacamata hitam).
    Yuk, kalo ada job, bagi bagi ya. Cheers...

    ReplyDelete