In Movie Land

Sagarmatha: Kurang Segar Mata

Sagarmatha (sumber gambar dari sini)
Sagarmatha menjadi film yang diminati pendaki gunung. Dari judulnya saja, yang terbayang adalah sebuah puncak tertinggi, Mount Everest. Cover dengan 2 cewek tentunya makin memberikan daya pikat tersendiri. Konon, proses pembuatan film ini memakan waktu 3 tahun lebih dengan mengambil lokasi di Everest dan Merapi.

Film yang disutradarai oleh Emil Heradi ini bercerita tentang 2 gadis yang sedang berlibur di India. Mereka punya hobi yang berbeda. Yang satu hobi fotografi. Yang satu lagi hobi menulis. Mereka liburan untuk mencari objek dan inspirasi dari hobi masing-masing sekaligus merenungi tujuan hidup masing-masing. Namun, mereka salah. Kalkota bukan tempat yang pas. Serba kumuh dan berantakan. Hingga suatu saat Kirana menemukan majalah yang di dalamnya terdapat landscape Mount Everest. Itulah impian mereka berdua yang tertunda.

Tanpa pikir panjang, 2 gadis itu  bertolak ke Nepal dan mengurus perizinan pendakian. Hanya berdua, dengan berani mereka pun mulai mendaki. Hingga di tengah jalan, satu sama lain berselisih dan berpisah. Hati-hati, ada twist yang menjadikan 5 menit terakhir film ini berharga.

Tapi, tak semegah judulnya dan tak seindah covernya, Sagarmatha masih serba nanggung dengan apa yang ingin disampaikannya.

Mulanya India. Kalkota menjadi objek fotografi si Kirana (Ranggani Puspandya). Lalu kamar sempit tempat Shila (Nadine Chandrawinata) berusaha keras mencari inspirasi menulis. Kesan pertama adalah artikulasi Kirana dalam berbicara masih terlalu menggebu-gebu sehingga tak terdengar jelas. Lalu, apa yang dibicarakan menjadi seakan disengaja seperti natural padahal tak berisi. Esensi film ini menjadi kabur hanya dilihat pada sekuen awal. Sebenarnya ini film yang bergaya dokumenter atau film cerita biasa? Kesannya dokumenter, tapi dialognya disengaja memajang dialog keseharian sehingga tak memberikan makna apa-apa di awal cerita.

 Lalu Nepal. Nepal menjadi kota yang sangat berantakan. Film ini mengambil set apa adanya, tapi kurang mempertimbangkan kepentingannya masuk ke dalam cerita. Soul dari Nepal sebagai negara yang kuat nilai budaya dan historisnya jadi kurang terasa. Sepanjang tiga perempat durasi, penggambaran Nepal mengambil porsi cerita lebih, tapi hanya sekadar setting. Sagarmatha menjadi film tentang Nepal, menurut saya.
Namun, kemurungan yang dihadirkan cerita memang menjadi pas dengan lokasi Nepal yang panas dan sibuk. Saya berpikir mengapa tidak sekalian saja film ini bicara tentang Nepal.

Kemudian, bagaimana dengan Himalaya? Ya, kembali ke fokus Sagarmatha. Pendakian Mount Everest menjadi adegan yang paling ditunggu. Perjalanan ke Nepal menjadi perjalanan batin Shila dan Kirana. Mereka traveling berdua, tapi berjalan sendiri. Begitu juga saat pendakian. Keindahan pegunungan Himalaya tidak mampu menghilangkan kemurungan yang diciptakan 2 tokoh ini. Kita tidak akan disuguhkan unjuk semangat pendakian seperti film 5 Cm, tapi justru bagaimana keduanya menaklukkan diri untuk terus mendaki.

Pendakian Shila dan Kirana bercabang dua. Seperempat sekuen terakhir film ini mulai menarik. Penonton juga diajak berpindah lokasi ke Gunung Merapi dengan gambar yang berganti serba cepat. Lalu di mana Sagarmatha? Ya, kita tidak akan melihat landscape Sagarmatha yang sebenarnya di frame. Sebelum mencapai teras langit dalam bahasa Nepal itu, kedua tokoh berselisih dan menciptakan twist.

Judul Sagarmatha masih terlalu muluk untuk film ini. Sesungguhnya yang ditonjolkan adalah perjalanan hidup yang disajikan dengan gaya dokumenter yang kurang konsisten. Saya baru bisa benar-benar menikmati film ini pada 5 menit terakhir. Dan memang begitulah, eksplorasi cerita pada bagian awal terasa bertele-tele.

Magic quote

"Semua manusia pada akhirnya akan sendiri


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment