In Journey Land

Semburat Ungu-Oranye di Pantai Kuta Bali

Ini kedua kalinya aku ke Pantai Kuta. Tapi dalam suasana berbeda. Kali pertama aku mengunjungi pantai ini pada pagi hari. Semua tampak cerah, ramai yang berjemur, dan ramai orang berdagang minuman, makanan, pakaian, serta menawarkan jasa pijat, pemasangan tato, penyewaan alat surfing, dan lain-lain. Nah, kali kedua ini, aku ke pantai yang sama pada petang hari.



Saat sore hari, matahari tidak begitu terasa menyengat. Suasana di pantai jadi lebih adem. Kegiatan sore hari bukan lagi berjemur, tapi bersantai, baca buku, ngobrol, dan olahraga. Ada yang jogging, ada yang bermain voli pantai, ada yang bermain futsal, dan ada pula yang surfing di laut. Pedagang yang berjualan pun dipenuhi dengan jagung bakar. Wanginya menggugah selera.

Menempuh Kuta, aku, Junisatya dan beberapa tim Galang mengendarai motor dari Desa Ketewel. Cukup 1 jam perjalanan bermotor ria. Jalanan Bali sungguh mudah dihafal. Meski jalanannya tidak begitu lebar, tapi semua tertata rapi. Tidak sulit mencari alamat Pantai Kuta. Tinggal mengikuti marka jalan arah selatan. Sampailah aku dan tim konvoi motor di pantai itu.








Kami menghabiskan waktu berjalan dan berlarian di pinggiran pantai. Ombaknya tidak terlalu besar sore itu. Kami benar-benar leluasa bergerak. Sesekali melompat-lompat, berkejaran, dan koprol. Bebas. Kamera di tangan Junisatya mengabadikan setiap momen kebersamaan kami, hingga sunset pun tiba. Langit berubah oranye keunguan. Garis pertemuan antara langit dan laut pun tampak memerah seperti membara. Matahari makin mendekati garis itu. Pantai mulai sepi. Kami selonjoran di pasir sambil menikmati jagung bakar. Rasanya nikmat sekali. Pemandangan indah yang memanjakan mata ditambah pula dengan rasa manis, asin, pedas yang memanjakan lidah. Terbenamnya matahari disambut dengan gebyar kembang api. Itu baru momen keren. Aku selalu suka kembang api. Seru sekali sore itu.








Ada yang sungguh ajaib. Kami melihat beberapa ekor anjing juga berkumpul menikmati sunset di Pantai Kuta. Ternyata tidak manusia saja yang senang dengan pantai itu. Anjing-anjing pun riang di sana. Tiduran, guling-gulingan, lari-larian, gelut-gelutan. Saat kali kedua ini, aku baru benar-benar bisa melihat apa yang memikat dari sebuah Pantai Kuta. Ketenangannya dan keramahan yang ditawarkan air laut, awan, langit, matahari, cakrawala, dan pasir. Meski ramai, aku tak melihat gundukan sampah. Itulah pesona Kuta.

Setelah matahari benar-benar tenggelam, aku dan tim Galang berjalan ke Monumen Bom Bali di kawasan Legian. Ini juga kali kedua aku mengunjungi tempat itu. Bedanya adalah, untuk yang kedua ini momennya pas saat peringatan 11 tahun peristiwa Bom Bali. Terlihat karangan bunga di depan pajangan nama-nama korban. Lalu ada bendera Australia dipajang di sebelahnya lengkap dengan foto close up masing-masing korban warga negara Australia yang jumlahnya ratusan ditempel di bendera itu. Rasanya seperti ziarah ke pemakaman. Feel yang khidmat dan syahdu. Tanpa aba-aba, kami pun menekur bersama mengheningkan doa.




Setelah sejenak melihat-lihat monumen, saatnya kami pulang kembali ke wisma Bentara di Desa Ketewel.. Sore yang indah, hati pun puas.

Photos courtesy of Junisatya

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment