Surabaya Heritage : Taman Bungkul yang Indah Temaram

Surabaya, 1 windu aku tidak menginjaknya. Saat kembali ke sana, rasanya aku baru menyadari bahwa Surabaya adalah kota segudang sejarah. Sejumlah tokoh Indonesia pernah berkeliaran dan menorehkan jejak nama mereka di kota ini. Sebut saja Bung Tomo, Bung Karno, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Setiap langkah kita menjejak di kota ini, selalu ada nilai ceritanya. Kali Mas, Jembatan Merah, Kota Tua, Kampung Arab, Kampung Cina, dan lain-lain. Semula tampak biasa, tapi sungguh mengusik kesan saat aku tahu cerita di balik hal yang biasa itu.

Kami mampir ke Taman Bungkul. Aku hanya penasaran dengan taman itu karena mendapat penghargaan dari PBB sebagai taman terbaik se-Asia Tenggara oleh PBB. Kupikir, taman itu memang sungguh indah. Kami memilih malam hari buat ke sana karena pasti lampu-lampunya cukup gemerlap.


Malam-malam, ketika gerimis datang, kami bertiga (aku, Ageng, dan Kenny) bermain-main di Taman Bungkul. Kupikir taman itu besar, ternyata hanya 900 meter persegi. Taman ini persis seperti Taman Surapati di Jakarta. Taman ini terletak di jantung kota Surabaya, mirip dengan lokasi Bundaran HI yang selalu ada Car Free Day setiap minggu. Ah, aku terlalu menyama-nyamai yaa?





Yasudah, Taman Bungkul itu berlokasi di Jalan Raya Darmo. Kalau malam hari, tanpa kenal weekend, taman ini selalu ramai. Ya, itulah keunggulan Taman Bungkul, taman dengan paduan rerumputan, jogging-track, jalur sepeda, skateboard spot, kumpul spot mirip amphitheatre, bangku-bangku taman unik, taman bermain bocah, dan foodcourt makanan-makanan khas Jawa Timur. Seluruh area taman dilengkapi wifi. Buat para fakir wifi (seperti diriku) tentu senang nongkrong di taman ini.

Taman Bungkul sebenarnya adalah makan seorang ulama, Sunan Bungkul. Jadi ada di bagian pingggir belakang taman ini, dikelilingi tembok untuk lokasi ziarah. Tapi saat aku mau masuk lokasi makam, kulihat semua laki-laki, berpakaian gamis putih, dan bersorban. Oke, masuk ke pemakaman di-skip saja. Aku pun tidak terlalu mengenal Sunan Bungkul.

Hal menarik lain dari Taman Bungkul adalah tanamannya kurasa. Warna-warni. Aku takjub melihat bunga matahari tumbuh di sini. Rasanya sudah lama aku tak melihat tanaman penghasil kuaci ini. Terakhir waktu SD di dekat rumah. Bunga matahari itu besar, berwarna kuning, dan kelopaknya melindungi biji-biji kuaci tumbuh. Wah, rindu sekali melihat tanaman ini.





Ada banyak tanaman lain yang dirawat di sini di antara pilar-pilar tinggi taman, menjadi pagar ayu menyambut pengunjung. Taman Bungkul memang keren kalau dikunjungi malam hari. Harmoni lampu-lampunya yang bilang padaku. Namun, apa benar ini taman paling indah ke-Asia Tenggara?



Photos in this post were taken by Ageng Wuri.

0 komentar: