Pergantian Tahun, Malam Berbintang Kembang Api

2013 berakhir. 2014 siap dengan segala misterinya. Gembar-gembor ucapan selamat tahun baru datang memberondong. Lalu, hiruk pikuk kembang api mewarnai langit malam hari.

New year eve...

Sekian banyak nama tahun, tahun masehi yang jadi konvensi penghitungan hari. Lalu kita pun memaknai setiap pergantiannya. Sebenarnya tidak ada bedanya hari kemarin, hari ini, besok, lusa, dan tulat. Pergantian bulan lalu tahun mengiringi pertambahan umur. Pergantian hari bahkan sudah tak terlalu diingat karena terlalu biasa.

Apa makna pergantian tahun itu?
Dengan bergantinya angka tahun, kita memiliki alasan untuk merayakannya. Kita menggembar-gemborkannya bagai hari raya. Lalu kita juga punya sejuta alasan untuk membuat resolusi. Pergantian tahun menutup akhir dan membuka awal kembali.

Mengapa harus saat pergantian tahun?
Ya, begitulah cara orang berpikir. Pergantian tahun dari 2013 ke 2014. Angkanya berubah. Cuaca berulang. Musim berganti. Hari-hari besar dimulai lagi. Dengan pergantian tahun itu, kita jadi mengingat apa yang dilakukan tahun sebelumnya dan apa yang akan dilakukan tahun mendatang. Semua pantas bersuka ria menjelang malam tanggal 1 Januari pukul 00.00. Semua orang merayakannya. Tahun baru, tahunnya kita memulai lagi, memperbaiki yang kacau. Karena umur dihitung dalam tahun, malam tahun baru pun serasa mendulang umur menyadarkan kita bahwa waktu tidak akan pernah berhenti.
Pergantian hari dan bulan hanya pola singkat yang terjalani berkat adanya matahari. Tapi tahun terlihat istimewa karena ia waktu langka yang ditandai dengan orbit bumi. Kita pantas memaknai titik awal pergerakan bumi mengitari matahari seperti terlahir kembali.

Dengan sejuta resolusi...
Beribu kembang api...
Beragam warna langit...
Berulah suara letusan bagai berada di negara konflik...
Dan kita ada di tengah hingar bingar suara orang berkumpul.

Karena umur akan berganti, kita pantas memaknai.

Happy new year!
Selamat menjumpai malam berbintang kembang api.


31 Desember akan pergi.
1 Januari akan jadi hening mengalahi Nyepi, karena orang punya alasan pula untuk bangun siang.


0 komentar:

Surabaya Heritage : Taman Bungkul yang Indah Temaram

Surabaya, 1 windu aku tidak menginjaknya. Saat kembali ke sana, rasanya aku baru menyadari bahwa Surabaya adalah kota segudang sejarah. Sejumlah tokoh Indonesia pernah berkeliaran dan menorehkan jejak nama mereka di kota ini. Sebut saja Bung Tomo, Bung Karno, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel. Setiap langkah kita menjejak di kota ini, selalu ada nilai ceritanya. Kali Mas, Jembatan Merah, Kota Tua, Kampung Arab, Kampung Cina, dan lain-lain. Semula tampak biasa, tapi sungguh mengusik kesan saat aku tahu cerita di balik hal yang biasa itu.

Kami mampir ke Taman Bungkul. Aku hanya penasaran dengan taman itu karena mendapat penghargaan dari PBB sebagai taman terbaik se-Asia Tenggara oleh PBB. Kupikir, taman itu memang sungguh indah. Kami memilih malam hari buat ke sana karena pasti lampu-lampunya cukup gemerlap.


Malam-malam, ketika gerimis datang, kami bertiga (aku, Ageng, dan Kenny) bermain-main di Taman Bungkul. Kupikir taman itu besar, ternyata hanya 900 meter persegi. Taman ini persis seperti Taman Surapati di Jakarta. Taman ini terletak di jantung kota Surabaya, mirip dengan lokasi Bundaran HI yang selalu ada Car Free Day setiap minggu. Ah, aku terlalu menyama-nyamai yaa?





Yasudah, Taman Bungkul itu berlokasi di Jalan Raya Darmo. Kalau malam hari, tanpa kenal weekend, taman ini selalu ramai. Ya, itulah keunggulan Taman Bungkul, taman dengan paduan rerumputan, jogging-track, jalur sepeda, skateboard spot, kumpul spot mirip amphitheatre, bangku-bangku taman unik, taman bermain bocah, dan foodcourt makanan-makanan khas Jawa Timur. Seluruh area taman dilengkapi wifi. Buat para fakir wifi (seperti diriku) tentu senang nongkrong di taman ini.

Taman Bungkul sebenarnya adalah makan seorang ulama, Sunan Bungkul. Jadi ada di bagian pingggir belakang taman ini, dikelilingi tembok untuk lokasi ziarah. Tapi saat aku mau masuk lokasi makam, kulihat semua laki-laki, berpakaian gamis putih, dan bersorban. Oke, masuk ke pemakaman di-skip saja. Aku pun tidak terlalu mengenal Sunan Bungkul.

Hal menarik lain dari Taman Bungkul adalah tanamannya kurasa. Warna-warni. Aku takjub melihat bunga matahari tumbuh di sini. Rasanya sudah lama aku tak melihat tanaman penghasil kuaci ini. Terakhir waktu SD di dekat rumah. Bunga matahari itu besar, berwarna kuning, dan kelopaknya melindungi biji-biji kuaci tumbuh. Wah, rindu sekali melihat tanaman ini.





Ada banyak tanaman lain yang dirawat di sini di antara pilar-pilar tinggi taman, menjadi pagar ayu menyambut pengunjung. Taman Bungkul memang keren kalau dikunjungi malam hari. Harmoni lampu-lampunya yang bilang padaku. Namun, apa benar ini taman paling indah ke-Asia Tenggara?



Photos in this post were taken by Ageng Wuri.

0 komentar:

Ngobrol Kisah Horror Nightmare Side Ardan dan Penunggu Puncak Ancala

Yes, Bandung. Setelah Ngobrol Asyik #Ancala di Depok tempo hari (1/12), kini saatnya kami bertandang ke Bandung. Kali ini tim Ancala akan ditemani tim Nightmare Side Ardan (Dimasta dan Rasmus). Kami akan banyak bercerita tentang horror.



Bagaimana jadinya kalau penulis Penunggu Puncak Ancala ngobrol horror bareng penulis Nightmare Side? Bagi yang penasaran, yuk, beramai-ramai datang ke Gramedia Merdeka, tanggal 27 Desember 2013.

Ngobrol horror di pengujung tahun, kenapa enggak. Biar tahun ini ditutup dengan sesuatu yang 'berasa' merindingnya. Sampai ketemu.

Salam Ancala.

0 komentar:

Sunday Meeting Penulis Bukune, Gagas Media, Panda Media

Sejak menerbitkan buku Penunggu Puncak Ancala, aku dan teman-teman penulis Ancala jadi sering diajak ngumpul dan ngobrol bersama redaksi Bukune. Senang berbagi ilmu tentang dunia penulisan dan penerbitan. Sejak terbit buku Ancala ini pula, aku jadi resmi bergabung dengan klub penulis Bukune. Yah, meski baru menerbitkan 1 buku, tapi kami cukup terharu dengan apresiasi ini. Lumayan untuk menggenjot semangat untuk terus produktif menulis.

Aji mumpung juga, Bukune, Gagas Media, dan Panda Media yang bersaudara ini punya inovasi acara untuk mengakrabkan para penulisnya lewat kegiatan Sunday Meeting. Sebenarnya ini acara internal 3 penerbit beradik-kakak. Nilai plusnya adalah kami bisa bertemu dengan penulis-penulis lain yang lebih senior, bisa berbincang, berkenalan, berbagi pengalaman.

Bareng penulis-penulis kece di Sunday Meeting #1


Sunday Meeting rutin diadakan setiap bulan dan formatnya pun tematis. Penulis memang butuh didekatkan. Sampai saat ini, aku sudah hadir dalam 2 kali Sunday Meeting, November dan Desember. Sunday Meeting #1 tanggal 24 November 2013 bertema Self-Editing. Tim Ancala yang bisa hadir ya cuma aku dan Indra. Setidaknya penulis Penunggu Puncak Ancala turut hadir. Yang jadi pembicaranya adalah 3 editor senior Gagas Media dan Bukune. Ini informasi penting kalau kita ingin tetap berada di jalur kepenulisan: menulis dengan baik, berada pada genre yang diminati, mengetahui tata bahasa yang benar, serta mampu mengedit tulisan sendiri. Yap, meski ini bukan info baru buatku (karena sudah khatam berkuliah di Sastra Indonesia plus Ilmu Susastra), tapi seru juga kalau topik ini terus diulang-ulang sehingga aku sendiri bisa lebih peka dengan tulisan sendiri.

Ini dia para penulis asuhan editor Ry Azzura Bukune.

Tim Ancala bersama Bang Raditya Dika

Keceriaan tim penulis asuhan Ry Azzura. Semoga kompak, ya.

Temu Penulis Bukune-GagasMedia-PandaMedia dalam Sunday Meeting #2


Sunday Meeting #2 topiknya lebih seru. 15 Desember 2013 kami berkumpul lagi. Kali ini lebih ramai karena kuota penulisnya ditambah menjadi 40 penulis. Tadinya kan cuma terbatas 15 orang. Tema yang kedua ini adalah Personal Branding for Writers dari Raditya Dika. Siapa yang tidak mengakui keberhasilan personal branding dari penulis plus komedian yang satu ini?

Raditya Dika memberikan tips-tips yang harus dilakukan dalam personal branding yang baik, mulai dari konsep, branding, dan tools. Intinya, kita tidak dapat menciptakan brand, tapi kita mampu mempengaruhi sebuah brand. Dalam hal ini peran social media sungguh penting dalam menciptakan viral. Saat personal branding berhasil dan positif, apa pun buku yang kita terbitkan, orang akan tahu dan baca. Biarkan branding berkembang dengan sendirinya.

Oke, Bang Dika, aku belajar banyak darimu.

Oiya, sedikit spoiler, untuk Sunday Meeting #3 bulan Januari nanti temanya adalah Public Speaking. Wah, semakin menarik, ya.

0 komentar:

Ngobrol #Ancala Depok : Antusias dan Puas


Penunggu Puncak Ancala memang sangat super. Super penulisnya, super bukunya, super editornya, super penerbitnya, super kisahnya, super pula pembacanya. Setelah terbit awal Oktober 2013, akhirnya kami Pancala alias 5 Penulis Ancala (Indra, Acen, Dea, Ageng, dan aku) berkesempatan ngobrol asyik bersama para pembaca dan khalayak umum. TM Bookstore Depok Town Square, 1 Desember 2013 menjadi saksi langkah pertama kami melahirkan jejak Penunggu Puncak Ancala ini. Ya, Penunggu Puncak Ancala telah rilis secara resmi. Dan kami berlima ada di sana siang itu, berbincang dengan pembaca. Penerbit Bukune dengan ciamik menyiapkan spanduk lebar yang digantung di langit-langit TM Bookstore Detos. Beberapa bangku telah berjajar di tengah-tengah diapit oleh rak buku.



Wah, kami sangat antusias sekali hari itu. Antusias pertama karena kami berlima semakin kompak dan semakin sering bertemu lalu tertawa-tawa. Antusias kedua adalah karena kami akan eksis bersama untuk kali pertama. Antusias ketiga adalah penasaran ingin melihat seberapa antusias orang menyambut terbitnya buku kami. Antusias berikutnya tentu saja menunggu makan enak dan puas yang dijanjikan oleh Om Em, si penanggung jawab Ngobrol #Ancala usai acara. Yes!

Ngobrol #Ancala berlangsung selama 2 jam, dari pukul 14.00 hingga pukul 16.00. Lalu.... di luar dugaan ternyata bangku yang tersedia cukup penuh. Dan banyak pula yang memilih berdiri atau mengintip dari balik beberapa rak. Yang pasti, acara Ngobrol #Ancala sukses menarik perhatian pengunjung TM Bookstore Detos siang itu.










30 menit pertama kami masih malu-malu berkenalan dengan pembaca dan menjawab pertanyaan moderator yang notabene adalah editor Penunggu Puncak Ancala, Ry Azzura. Pertanyaannya seputar pengalaman menulis dan pengalaman mendaki gunung plus pengalaman horror. Lalu, obrolan semakin mengalir dan sepertinya cukup membuat penonton antusias. Partisipannya tidak cuma remaja, tetapi ibu-ibu dan bapak-bapak juga yang kebetulan pencinta gunung.

Kami sangat senang melihat atensi pengunjung TM Bookstore yang lumayan ramai sore itu. Interaksi kami tidak cuma sepihak dan tidak cuma sebatas tanya-jawab. Ada sesi curhat, sharing pengalaman, atau malah sekadar memberi selamat. Selain itu, yang bikin orang-orang antusias adalah adanya reward untuk penanya atau penanggap. Ya, sedikit oleh-oleh dari Bukune dan kami berlima. Khususnya Dea yang bagi-bagi souvenir sisa perjalanannya melalang buana ke berbagai negara. Kado dari Dea laris manis.

Seru juga ternyata talkshow seperti ini. Format acaranya dibuat santai. Penulis dan pembaca pun menjadi dekat. Apalagi topik-topik mengenai kisah horror, perjalanan, penjelajahan, khususnya gunung sungguh tema yang menarik. Sepertinya waktu 2 jam tidak cukup untuk ngobrol banyak. Obrolan dari kepenulisan, penerbitan, hingga pengalaman mendaki gunung dan menjelajah alam benar-benar menjadi trending topic hari itu.




Usai berbincang-bincang, yang meski belum semuanya puas, tapi karena waktu membatasi, kami harus lanjut ke sesi book-signing. Pengunjung sampai petugas TM Bookstore ikut bergantian dalamm book-signing ini. Sesekali kami juga sempat diculik untuk foto bareng pembaca. Yang pasti seru dan menyenangkan. Ini baru Ngobrol #Ancala yang pertama, menandakan launching Penunggu Puncak Ancala. Akan ada Ngobrol #Ancala berikutnya di tempat dan kota yang berbeda. Tak sabar bertemu pembaca, karena tanpa mereka kami tak berarti apa-apa.



Selamat membaca, ya.


2 komentar:

Sagarmatha: Kurang Segar Mata

Sagarmatha (sumber gambar dari sini)
Sagarmatha menjadi film yang diminati pendaki gunung. Dari judulnya saja, yang terbayang adalah sebuah puncak tertinggi, Mount Everest. Cover dengan 2 cewek tentunya makin memberikan daya pikat tersendiri. Konon, proses pembuatan film ini memakan waktu 3 tahun lebih dengan mengambil lokasi di Everest dan Merapi.

Film yang disutradarai oleh Emil Heradi ini bercerita tentang 2 gadis yang sedang berlibur di India. Mereka punya hobi yang berbeda. Yang satu hobi fotografi. Yang satu lagi hobi menulis. Mereka liburan untuk mencari objek dan inspirasi dari hobi masing-masing sekaligus merenungi tujuan hidup masing-masing. Namun, mereka salah. Kalkota bukan tempat yang pas. Serba kumuh dan berantakan. Hingga suatu saat Kirana menemukan majalah yang di dalamnya terdapat landscape Mount Everest. Itulah impian mereka berdua yang tertunda.

Tanpa pikir panjang, 2 gadis itu  bertolak ke Nepal dan mengurus perizinan pendakian. Hanya berdua, dengan berani mereka pun mulai mendaki. Hingga di tengah jalan, satu sama lain berselisih dan berpisah. Hati-hati, ada twist yang menjadikan 5 menit terakhir film ini berharga.

Tapi, tak semegah judulnya dan tak seindah covernya, Sagarmatha masih serba nanggung dengan apa yang ingin disampaikannya.

Mulanya India. Kalkota menjadi objek fotografi si Kirana (Ranggani Puspandya). Lalu kamar sempit tempat Shila (Nadine Chandrawinata) berusaha keras mencari inspirasi menulis. Kesan pertama adalah artikulasi Kirana dalam berbicara masih terlalu menggebu-gebu sehingga tak terdengar jelas. Lalu, apa yang dibicarakan menjadi seakan disengaja seperti natural padahal tak berisi. Esensi film ini menjadi kabur hanya dilihat pada sekuen awal. Sebenarnya ini film yang bergaya dokumenter atau film cerita biasa? Kesannya dokumenter, tapi dialognya disengaja memajang dialog keseharian sehingga tak memberikan makna apa-apa di awal cerita.

 Lalu Nepal. Nepal menjadi kota yang sangat berantakan. Film ini mengambil set apa adanya, tapi kurang mempertimbangkan kepentingannya masuk ke dalam cerita. Soul dari Nepal sebagai negara yang kuat nilai budaya dan historisnya jadi kurang terasa. Sepanjang tiga perempat durasi, penggambaran Nepal mengambil porsi cerita lebih, tapi hanya sekadar setting. Sagarmatha menjadi film tentang Nepal, menurut saya.
Namun, kemurungan yang dihadirkan cerita memang menjadi pas dengan lokasi Nepal yang panas dan sibuk. Saya berpikir mengapa tidak sekalian saja film ini bicara tentang Nepal.

Kemudian, bagaimana dengan Himalaya? Ya, kembali ke fokus Sagarmatha. Pendakian Mount Everest menjadi adegan yang paling ditunggu. Perjalanan ke Nepal menjadi perjalanan batin Shila dan Kirana. Mereka traveling berdua, tapi berjalan sendiri. Begitu juga saat pendakian. Keindahan pegunungan Himalaya tidak mampu menghilangkan kemurungan yang diciptakan 2 tokoh ini. Kita tidak akan disuguhkan unjuk semangat pendakian seperti film 5 Cm, tapi justru bagaimana keduanya menaklukkan diri untuk terus mendaki.

Pendakian Shila dan Kirana bercabang dua. Seperempat sekuen terakhir film ini mulai menarik. Penonton juga diajak berpindah lokasi ke Gunung Merapi dengan gambar yang berganti serba cepat. Lalu di mana Sagarmatha? Ya, kita tidak akan melihat landscape Sagarmatha yang sebenarnya di frame. Sebelum mencapai teras langit dalam bahasa Nepal itu, kedua tokoh berselisih dan menciptakan twist.

Judul Sagarmatha masih terlalu muluk untuk film ini. Sesungguhnya yang ditonjolkan adalah perjalanan hidup yang disajikan dengan gaya dokumenter yang kurang konsisten. Saya baru bisa benar-benar menikmati film ini pada 5 menit terakhir. Dan memang begitulah, eksplorasi cerita pada bagian awal terasa bertele-tele.

Magic quote

"Semua manusia pada akhirnya akan sendiri


0 komentar:

Semburat Ungu-Oranye di Pantai Kuta Bali

Ini kedua kalinya aku ke Pantai Kuta. Tapi dalam suasana berbeda. Kali pertama aku mengunjungi pantai ini pada pagi hari. Semua tampak cerah, ramai yang berjemur, dan ramai orang berdagang minuman, makanan, pakaian, serta menawarkan jasa pijat, pemasangan tato, penyewaan alat surfing, dan lain-lain. Nah, kali kedua ini, aku ke pantai yang sama pada petang hari.



Saat sore hari, matahari tidak begitu terasa menyengat. Suasana di pantai jadi lebih adem. Kegiatan sore hari bukan lagi berjemur, tapi bersantai, baca buku, ngobrol, dan olahraga. Ada yang jogging, ada yang bermain voli pantai, ada yang bermain futsal, dan ada pula yang surfing di laut. Pedagang yang berjualan pun dipenuhi dengan jagung bakar. Wanginya menggugah selera.

Menempuh Kuta, aku, Junisatya dan beberapa tim Galang mengendarai motor dari Desa Ketewel. Cukup 1 jam perjalanan bermotor ria. Jalanan Bali sungguh mudah dihafal. Meski jalanannya tidak begitu lebar, tapi semua tertata rapi. Tidak sulit mencari alamat Pantai Kuta. Tinggal mengikuti marka jalan arah selatan. Sampailah aku dan tim konvoi motor di pantai itu.








Kami menghabiskan waktu berjalan dan berlarian di pinggiran pantai. Ombaknya tidak terlalu besar sore itu. Kami benar-benar leluasa bergerak. Sesekali melompat-lompat, berkejaran, dan koprol. Bebas. Kamera di tangan Junisatya mengabadikan setiap momen kebersamaan kami, hingga sunset pun tiba. Langit berubah oranye keunguan. Garis pertemuan antara langit dan laut pun tampak memerah seperti membara. Matahari makin mendekati garis itu. Pantai mulai sepi. Kami selonjoran di pasir sambil menikmati jagung bakar. Rasanya nikmat sekali. Pemandangan indah yang memanjakan mata ditambah pula dengan rasa manis, asin, pedas yang memanjakan lidah. Terbenamnya matahari disambut dengan gebyar kembang api. Itu baru momen keren. Aku selalu suka kembang api. Seru sekali sore itu.








Ada yang sungguh ajaib. Kami melihat beberapa ekor anjing juga berkumpul menikmati sunset di Pantai Kuta. Ternyata tidak manusia saja yang senang dengan pantai itu. Anjing-anjing pun riang di sana. Tiduran, guling-gulingan, lari-larian, gelut-gelutan. Saat kali kedua ini, aku baru benar-benar bisa melihat apa yang memikat dari sebuah Pantai Kuta. Ketenangannya dan keramahan yang ditawarkan air laut, awan, langit, matahari, cakrawala, dan pasir. Meski ramai, aku tak melihat gundukan sampah. Itulah pesona Kuta.

Setelah matahari benar-benar tenggelam, aku dan tim Galang berjalan ke Monumen Bom Bali di kawasan Legian. Ini juga kali kedua aku mengunjungi tempat itu. Bedanya adalah, untuk yang kedua ini momennya pas saat peringatan 11 tahun peristiwa Bom Bali. Terlihat karangan bunga di depan pajangan nama-nama korban. Lalu ada bendera Australia dipajang di sebelahnya lengkap dengan foto close up masing-masing korban warga negara Australia yang jumlahnya ratusan ditempel di bendera itu. Rasanya seperti ziarah ke pemakaman. Feel yang khidmat dan syahdu. Tanpa aba-aba, kami pun menekur bersama mengheningkan doa.




Setelah sejenak melihat-lihat monumen, saatnya kami pulang kembali ke wisma Bentara di Desa Ketewel.. Sore yang indah, hati pun puas.

Photos courtesy of Junisatya

0 komentar:

Sesorean di Tanah Lot Bali Ditemani Susunan Tebing Karang

Menghabiskan sore di Tanah Lot menjadi momen yang juga berkesan saat mengunjungi Bali. Apalagi kalau sempat menikmati suasana sunset di sana. Yang menjadi daya tarik Tanah Lot adalah segunungan karang yang berjajar di bibir laut. Tanah Lot ini berarti Tanah Laut dalam bahasa Bali. Tempat ini berlokasi di Kabupaten Tabanan. Tanah Lot menyimpan mitos orang Bali mengenai tanahnya dan kepercayaan masyarakatnya. Tempat itu juga disebut sebagai Pulau Karang (Rocky Island).







Nuansa Hindu Bali sangat kental saat kita memasuki gapura Tanah Lot. Terdapat karang-karang besar saat ombak dengan semangat menghempas di kakinya. Tim Galang dan aku menghabiskan sisa sore liburan kami di Tanah Lot. Kami berjalan ke pinggiran pantai. Airnya tenang dan bening. Yang terlihat bukan pasir, melainkan kerikil-kerikil halus. Ini seperti sungai yang mengalir jernih. Inilah Tanah Lot. Pantai yang diapit karang.



Tanah Lot Bali menjadi daerah wisata karena ada pura di atas karang, Pura Tanah Lot (Tanah Lot Temple). Lalu di bawahnya terdapat goa kecil tempat air tawar mengucur dengan seekor ular yang dipercaya sebagai utusan Brahmana dari Jawa, Dang Yang Nirartha. Ular itu berwarna hitam berbelang kuning dan berekor pipih seperti ikan.  Banyak wisatawan yang mengantre masuk goa kecil itu untuk cuci muka dan minum. Di tengah air laut yang asin, di bawah pura Tanah Lot itu masih ada air tawar yang mengucur. Aku bertanya pada bapak-bapak yang berjaga di depan pura tentang asal air itu. Mereka menjawab, itu air berkah dari dewa mengucur di bawah pura. AKu manggut-manggut. Mulanya aku tidak mau menyentuh airnya, karena antreannya panjang. Tapi si bapak-bapak penjaga itu mengatakan aku tidak boleh naik ke karang atas kalau tidak bersuci di air itu dulu. Oh, oke, aku akan mencoba.


Sehabis cuci muka di sana, aku dicipratkan air lalu diberi kembang kamboja di telinga dan ditempel beberapa butir beras dijidat. Aku senang, ini bagian dari kebudayaan. Dan aku merasa kaya dengan banyaknya budaya yang kukenal.

Ada tangga untuk mencapai atas karang tempat pura berdiri. Kami yang tidak menganut agama Hindu tidak diizinkan masuk ke pura. Alhasil aku hanya duduk-duduk di pinggir karang dan memuaskan pandangan melihat laut lepas. Masih ada karang-karang kecil di lepas pantai yang 'bertugas' menahan ombak.  Mungkin karang-karang kecil itu pula yang menjaga pura Tanah Lot ini tidak disentuh langsung oleh ombak besar saat air laut pasang.




Sore menjelang dengan cepat. Menjelang magrib itu biasanya akan ada acara kesenian yang dipertunjukkan secara terbuka. Kala itu, mikrofon telah memanggil-manggil pengunjung untuk berkumpul. Tapi kupikir, mending menikmati sunset saja bersama Bundo, Junisatya, dan teman-teman tim Galang. Kalau dapat posisi pas, semburat oranye bercampur biru di langit jadi terlihat keren.







Setelah matahari mulai terbenam, aku berjalan menelusuri jalan menuju tebing karang yang lebih tinggi. Di sana masih ada 1 pura lagi di ujung tebing. Karang yang menjorok ke laut dengan pura di ujungnya itu terlihat megah berdiri, seakan menunjukkan harmoni antara daratan dan laut dan siapa yang berkuasa di atasnya. Lepas pantai terlihat jauh di bawah. Aku juga melihat lubang karang di bagian bawah yang dialiri air laut. Bolongan di bawah itu tampak seperti gapura lengkung yang menyambut ombak kecil dan airnya pun mengalir melewatinya. This is another wonderful of Indonesia.


Courtesy of Junisatya

0 komentar: