Buaian Eropa dalam Laskar Pelangi 2: Edensor

Desember 2013 bisa dibilang pesta film nasional. Berturut-turut dan tumpang tindih, film Indonesia rilis. Desember bagaikan musim panasnya Hollywood, banyak film yang dianggap bagus muncul, lalu semua orang merayakannya di bioskop.

Laskar Pelangi 2 (Gambar diambil dari sini)
Laskar Pelangi 2: Edensor merupakan film ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi. Setelah dua film sebelumnya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi sukses mengambil perhatian penonton dengan eksplorasi Belitong yang mendalam, Edensor pun akhirnya rilis. Jika kita meneropong ke 2 tahun silam. Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi benar-benar film yang "kaya". Masih teringat ucapan sepupu saya setelah nonton Laskar Pelangi, "Selama ini aku nonton film pasti isinya nanggung. Baru kali ini nonton film puas karena semua kontennya dapat. Cerita bagus, gambar keren, musiknya mendukung, isinya matang, esensinya dapat." Nah, begitu juga dengan Sang Pemimpi. Nuansanya lebih riang tapi tidak mengurangi nilai eksotisme alam, sudut kamera yang matang, tanpa memiliki maksud yang muluk. Ya, itu karena dua film pertama digarap oleh sutradara Riri Riza. Lalu bagaimana dengan yang ketiga?

Sutradara berubah, nuansa film juga berubah. Tanpa berniat membanding-bandingkan, tapi memang terlihat ada sisi yang 'nanggung' dari film Laskar Pelangi 2: Edensor garapan Benni Setiawan. Edensor bercerita tentang Ikal dan Arai yang berkuliah di Universitas Sorbonne. Mulanya ekspektasi saya sangat tinggi terhadap film ini. Tentunya para pembaca serial Laskar Pelangi menyambut senang rilisnya film ini.

Edensor mengambil 2 sisi lokasi, Eropa dan Belitong. Film ini sangat menghibur. Latar musik Melayu menjadi juara di sepanjang film ini. Saya terkesima. Lalu, gambar-gambar tentang kota Paris di Eropa benar-benar membuai. Dialog-dialog inspiratif  serta humor yang terselip di sepanjang film menjadikannya segar. Namun, setelah film ini habis, saya merasa ada yang kurang. Apa, ya? Yap, akhirnya saya tahu. Film garapan Benni ini tidak mengambil sesuatu yang esensial dari novel Edensor.

Ikan dan Arai. (Gambar diambil dari sini)
Mengapa saya bilang begitu? Eropa hanya menjadi buaian semu ternyata. Penonton sama sekali tidak mendapat jawaban mengenai arti kata Edensor bagi Ikal dan mengapa Ikal bisa sampai di daratan Eropa itu. Benar, jika itu adalah bagian dari mimpi Ikal, seorang anak Belitong. Lalu apa? Ada sekian banyak eksplorasi tentang Eropa yang diangkat di novel tapi tak tertuang di film. Saya menyadari keterbatasan layar untuk menampung ribuan kata. Namun, semua ini salah bidik. Mengapa Edensor? Hanya disinggung sekilas. Lalu mengapa Sorbonne? Tak diperlihatkan nuansa kampus inspiratif itu. Apa mimpi Ikal sesungguhnya? Ada apa di negeri Eropa? Lalu bagaimana ikatan batin Ikal dan Arai dengan negeri Belitong? Semua itu hanya disinggung sekilas. Pertanyaan itu tak terjawab sampai film itu tutup layar. Yang tertuang hanya kisah cinta yang untungnya tidak cengeng antara Ikal dan si gadis Jerman, lalu brotherhood antara Ikal dan Arai. Memang dibutuhkan ilmu sastra untuk dapat memilah plot mana yang menjadi esensi di dalam narasi. Dan Benni tak selihai Riri Riza mengeksplorasi setting lokasi.

Nilai plus yang akhirnya menyelamatkan film ini adalah kesuksesan akting pemainnya. Lukman Sardi sebagai Ikal dan Abimana Aryasatya sebagai Arai menjadi paduan chemistry yang mampu menarik perhatian. Kekuatannya adalah konsistensi logat, nilai humor, dan kata-kata. Semua itu semakin apik dengan balutan musik Melayu. Sayang sekali, karena kisah yang dangkal, film ini pun tak mampu menjadi idola di hati kita selain hanya sekadar tawaran hiburan saja. Bahkan mungkin terasa sebagai film perjalanan saja, membuai kita dengan keindahan tata kota Paris.


Magic Quote
Dulu aku cuma anak kampung yang punya mimpi. Laskar Pelangi dari Belitong bermimpi menjelajahi dunia.
Hidup itu sebuah perjalanan, perjalanan cerita yang kita tidak akan pernah tahu ke mana arahnya, tapi perjalanannya selalu mengikuti arah kaki kita melangkah.
Mimpi yang membawa kita semua menikmati indahnya hidup. Mimpi itu awal dari cita-cita. Mimpi terus, sampai Tuhan memeluk mimpi kita.

4 comments:

  1. Replies
    1. Nontonlah. Lumayan ngeces liat yurop. Over all bagus kok, tapi ya esensinya kurang dapet aja.

      Delete
    2. Buaian Eropa memang menjadi tema khusus di penghujung tahun 2013. Eropa bagaikan tempat yang memanjakan bagi siapapun yang melihatnya, tak terkecuali kita :)

      Delete
    3. Yup betuull... pengen Yurop lagiii

      Delete