Ketika Film 99 Cahaya di Langit Eropa Hanya Berbicara tentang Perjalanan

99 Cahaya di Langit Eropa memang lagi happening. Selain buku karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra ini sedang laris manis, kisah tentang perjalanan memang sedang jadi incaran, apalagi Eropa.

Atas dasar itu pula Maxima Pictures mengangkat kisah Hanum dan Rangga selama tinggal di Eropa itu ke layar lebar. Dengan sutradara Guntur Soeharjanto, film 99 Cahaya di Langit Eropa mendulang ribuan penonton. Secara kuantitas, film ini sukses, ya karena kesuksesan bukunya juga.

99 Cahaya di Langit Eropa dimulai dengan kehidupan Hanum (Acha Septriasa) menemani suaminya Rangga (Abimana Aryasatya) kuliah di Austria. Mulanya, Austria tampak menarik di mata Hanum, tetapi lama-kelamaan ia mulai bosan. Kebosanan itu hilang saat ia mengenal Fatma (Raline Shah). Perempuan asal Turki itu mulai mengajak Hanum berkeliling kota Wina, menapak tilas jejak peninggalan Islam. Dari sana, petualangan Hanum pun dimulai. Ia bertekad untuk menelusuri jejak Islam lebih jauh lagi, termasuk saat ikut suaminya konferensi di Paris.

Saya menyukai tuturan sepanjang film ini. Lebih dari itu, lagi-lagi saya terbuai dengan visualisasi keindahan Wina dan Paris. Pantas saja banyak orang rela menonton ulang film ini demi memanjakan mata melihat tata kota Eropa. Sekilas memang tampak keren. Banyak kalimat inspiratif tergaung setelah menontonnya. Namun, apakah hanya itu saja kekuatan film ini

Ya. Hanya itu. Untuk deretan pemain, akting Abimana tidak selugas di film Laskar Pelangi 2: Edensor. Chemistry antara Hanum dan Rangga tenggelam dengan gambar-gambar Eropa. Konflik yang hadir tidak menjadi menonjol lantaran cerita tidak berfokus pada keduanya, padahal ada adegan emosional untuk lebih menonjolkan konflik batin sehingga menjadi tiang kokoh alur film ini. Antara kisah Rangga dan Hanum seperti punya dunia masing-masing. Alurnya menjadi tersekat-sekat antara Hanum dan Fatma, Hanum dan Eropa, Hanum dan Rangga, Rangga dan kampusnya. Baru kali ini saya menonton film yang tidak memiliki konflik yang klimaks. Semua datar. Kehadiran Raline Shah-lah yang menjadi penguat karakter di sepanjang kisah. Sosok Fatma yang masih misteri mampu mencuri emosi penonton dibanding Hanum sendiri.

Ada pula beberapa part yang sebenarnya agak mengganggu. Pertama, kehadiran Fathin yang sedang shooting video musik. Kedua, kehadiran 2 perempuan Turki teman Fatma yang diperankan oleh Dian Pelangi dan Hanum Salsabila. Rasanya adegan tersebut seperti iklan hijab dengan kualitas akting yang sangat rendah, mengingat ini adalah film layar lebar bukan drama televisi.

Terlepas dari itu semua, film ini mampu membawa haru. Musik latar menjadi penguat keharuan nuansa reliji yang terhadirkan.




Wacana tentang Eropa dan kisah perjalanan menjadi penutup tahun 2013. 99 Cahaya di Langit Eropa dan Laskar Pelangi 2: Edensor membawa angan kita sampai ke tahun 2014 dengan spirit berjalan-jalan pula. Benar, kan?!

2 comments:

  1. dan sampai filmnya udh ga ada d bioskop, gw blm ntn jg.. T.T

    ReplyDelete
  2. sama Rin, bahkan :D

    Anyway sansadhia, good review! Keep up your writings until you find interesting things...

    ReplyDelete