Surabaya Heritage: Makam Bung Tomo, Kali Mas, dan Monumen Kapal Selam

Hari kedua kami berada di Surabaya (5/12/13). Pagi-pagi, kami berangkat ke Ngagel, berziarah ke makam Ayah Kenny. Kami sama sekali gagap arah. Dengan motor, aku, Kenny, dan Ageng meraba-raba jalanan Surabaya. Ngagel tidak terlalu jauh dari Nginden, tempat saudaraku tinggal. Beberapa menit berkendara motor, sampai juga kami di Taman Pemakaman Umum Ngagel. Begitu masuk gerbang, kami tertegun. Ternyata di pemakaman itu pula, tokoh nasional Sutomo a.k.a. Bung Tomo bersemayam. Kuburannya berada di dekat gerbang masuk TPU, diberi pagar kuning.




Usai berziarah ke makam ayah dan kakek Kenny, kami pun mampir ke makam Bung Tomo. Ini destinasi tak terduga, dapat berziarah memberi salam hormat ke makam tokoh yang besar berkat keberaniannya melawan NICA itu. FYI, Bung Tomo adalah penggerak perlawanan rakyat Surabaya kala itu. Berkat ia pula, 10 November dijadikan sebagai Hari Pahlawan. Surabaya memang kota sejuta sejarah yang mengikat di setiap meter tanahnya.



Kami kembali melihat-lihat peta dan menentukan destinasi selanjutnya. Tujuan kami adalah Kenjeran. Karena kami bersepeda motor, aku mengendarai motor sendirian dan kami pun terpisah. Saat terpisah itu, aku memutari jantung kota Surabaya. Aku melewati Kali Mas dan Monumen Kapal Selam. Dulu aku pernah masuk ke sana. Megah. Kapal selam ini adalah KRI Pasopati 410 buatan Uni Soviet. KRI ini ikut dalam pertempuran Aru Samudera saat merebut Irian Barat dari Belanda. Kalau masuk ke dalamnya, ada media untuk memutar film tentang perang di Aru tersebut.


Berada di dalam kapal selam ini serasa berada di antara mesin-mesin prajurit zaman perang. Pengunjung dapat melihat aneka perlengkapan kapal yang digunakan untuk perang pada masa dulu. Waktu melewati ini, aku tidak mampir (karena kondisinya sedang menyasar). Namun, aku masih ingat pernah masuk ke sana saat mengunjungi kota ini beberapa tahun lalu. Jarang-jarang ada monumen kapal selam yang dibuka untuk umum seperti ini.



Kali Mas juga sebenarnya terlihat indah (hanya saat malam hari). Siang-siang begini, kalau berjalan di sepanjang Kali Mas, yang terlihat hanya air kali yang kekuningan. Kali Mas ini dulu adalah dermaga besar. Sekarang, ya hanya tinggal sejarah. Kali ini begitu penting dikenang karena menjadi pintu gerbang memasuki kerajaan Majapahit. Muaranya ke Selat Madura. Saat VOC berjaya, Kali Mas berubah menjadi tempat merapat perahu-perahu kecil mengangkut komoditi dari pelabuhan Tanjung Perak. Seru, ya. Sungai kecil membelah Surabaya yang memiliki peran besar. Oleh karena itu pula jembatan-jembatan di Kali Mas dijadikan cagar budaya. Kalinya juga tentu adalah cagar budaya. Namun, pengairannya sudah tercemar karena kepadatan penduduk. Bagi warga Surabaya, Kali Mas hanya sungai biasa, kecil, dan kumuh. Tapi coba kulik dulu nilai historisnya. Surabaya akan sangat berterima kasih pada Kali Mas karena pernah menjadi pusat ekonomi kota itu.

3 comments:

  1. eh..setelah baca postingan lo ini, gw jd mikir...jgn2 kalimalang jg punya nilai historis yg tinggi.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. ayo coba dicari tau tentang Kalimalang.. itu kali buatan bukan sih? :p

      Delete
  2. ini baru wisata pendidikan
    di monumen kapal selam yang besar
    makasih infonya

    ReplyDelete