Cloud Forest Gardens by the Bay, Replika Alam di dalam Dome




Bayangkan sebuah gunung dan air terjun ada di dalam dome!

Apa yang kamu pikirkan?

Mustahil.

Tapi tidak bagi Singapura. Masih di sekitaran Gardens by the Bay, ada satu dome besar lagi yang menarik hati selain Flower Dome. Cloud Forest. Dari namanya saja kita sudah penasaran. Macam masuk ke dalam hutan gelap penuh kabut.




Begitu masuk ke kawasan Cloud Forest, aku dihadang oleh sebuah air terjun dari sebuah dinding tinggi penuh tanaman. Gundukan tanaman yang tumbuh secara vertikal itu memang menyerupai gunung. Hawa dingin langsung merasuk dan percikan air sukses membasahi kami meski tidak kuyup.

Jika diperhatikan, gundukan tanaman ini tidak sekadar tanaman. Dinding tinggi melingkar itu telah padat dengan campuran anggrek, pakis, bromelia warna-warni, dan begonia. Selayaknya gunung, tanaman itu tumbuh melingkar. Di atasnya terdapat semacam skyway yang melingkar. Skyway itu menjadi 'cloud' alias kabut tipis yang mengelilingi gunung. Saat mendongak di depan air terjun, aku hanya bisa berdecak kagum. Suasananya itu persis seperti kita di dalam hutan. Jika Flower Dome dipenuhi pandangan manis dengan bunga warna-warni dan sunyi, di Cloud Forest ini suasananya lebih dingin, lembab,berisik karena air terjunnya, serta rimbun.

Waterfall

Konsep air terjun di Cloud Forest ini bukan sembarang air terjun. Singapura tentu tidak membuat ini sekadar pemanja mata begitu saja. Setelah aku browsing di beberapa website, ternyata Cloud Forest ini mengambil beberapa potret-potret alam di luar sana. Air terjun ini adalah potret air terjun di sebuah pegunungan tropis yang menyerap surah hujan yang berlimpah. Di sepanjang jalan setapak di Cloud Forest ini, kita akan disuguhi berbagai kenyataan-kenyataan alam yang mulai rusak di luar sana. Cloud Forest inilah salah satunya. Untuk itu, Singapura membuat replikanya untuk dapat dikunjungi secara bebas oleh banyak wisatawan sehingga kita dapat belajar untuk mencintai alam.

Yak, sudah renungan alamnya. Ini baru air terjun, lho. Mari tersesat lebih jauh dalam hutan kabut ini.

Cloud Forest

Lost World

Jalanannya sudah tersedia dan aku hanya tinggal mengikutinya. Penerangannya sengaja dibuat remang-remang, tidak terlalu terang karena di dalam hutan kan matahari ditadahi pohon yang rimbun. Pandangan kita jadi adem. Setelah berjalan berputar, kami masuk ke dalam sebuah goa. Ya goa yang ternyata di dalamnya adalah lift. Kami harus naik dulu ke lantai paling atas agar bisa menikmati setiap sentimeter Cloud Forest ini dari atas hingga kembali ke bawah. Ada area tanaman-tenaman yang menjadi replika berbagai hutan.

Ada 9 zona yang akan kita lewati di jalan setapak dalam gunung. Pertama adalah zona Lost World. Karena ceritanya ini puncak gunung (tanpa kawah), tanaman yang diletakkan di sini terlihat berbeda. Ada hamparan pakis dan lumut. Vegetasinya serba vegetasi hutan yang berada di titik 2000 meter di atas permukaan laut. Nuansanya lebih lembab.

Cloud Walk

Tree Top Walk
Setelah itu kita akan melewati Cloud Walk (semacam skyway) memutari gunung. View-nya di sini luar biasa keren. Dari cloud walk ini kita bisa melihat berbagai tanaman yang terpajang di dinding gunung. Lalu kita akan masuk ke sebuah gua besar (The Cavern). Ada tanaman yang hidup seperti benalu alias menumpang hidup dengan tanaman lain. Di dalamnya ada stalaktit-stalakmit buatan. Serasa berada di dalam gua beneran. Area ini juga disebut Crystal Mountain. Tempatnya lebih menyerupai museum. Ada petunjuk-petunjuk khusus dan film tentang ekologi dan geologi. Kita bisa memprediksi umur bumi, bagaimana benua terbentuk, serta pentingnya fosil untuk mempelajari itu semua. Menarik dan tidak membosankan. Tontonan itu lumayan bisa membuat kita duduk sebentar melepas lelah berjalan-jalan mengelilingi Cloud Forest.

Kalau mau lebih jauh, ada Earth Check untuk melihat statistik kondisi bumi hingga tahun 2040. Modelnya seperti blackbox yang berbentuk ruangan hitam gelap lalu ada tayangan tentang kerusakan lingkungan, tumbuh kembang tanaman, dan grafiknya. Ada +5 degrees juga yang membahas suhu planet dalam bentuk virtual. Cocok untuk anak-anak yang sedang belajar sains. Yah, kalau buatku sih untuk seru-seruan dan menambah pengetahuan saja.


Earth Check

+5 degrees area


Setelah melewati berbagai area itu, akhirnya sampai juga di kaki gunung. Ada secret garden di sini (katanya) dan tempatnya memang sedikit tersembunyi. Taman itu semacam surga bumi. Artinya, di tempat itu tanaman langka dibudidayakan, bahkan di luar sana sudah punah. Ada wollemi pane dari Australia, monkey puzzle tree dari Chili, gingers dan heliconias dengan berbagai warna, dan gunnera (yang aku sendiri tidak tau itu tanaman jenis apa). Ini hanya catatan yang aku lihat di sepanjang perjalanan. Jadi maaf jika tak terjelaskan. Ada berbagai tanaman air juga yang sungguh sejuk dipandang.

Masuk Cloud Forest seperti naik gunung dalam waktu singkat, melihat berbagai tumbuhan dan kenyataan-kenyataan ekologi kita yang sempat terlupakan, mengajak kita mencintai lingkungan. Ini kesimpulan yang mulia bukan. Tapi di sisi lain, yah, inilah Singapura. Tak punya hutan, tak punya air terjun, tak punya alam seluas Indonesia. Namun, Singapura mampu mendirikan lingkungan konservasi seperti ini untuk kebutuhan iptek serta tentu saja hiburan. Puas.

Secret Garden


No comments:

Post a Comment

Instagram @sansadhia