In Movie Land

Stand By Me Doraemon, Perayaan Kenangan 90-an

Banyak yang bilang, di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali serial kartun Doraemon di Minggu pagi. Yep, Doraemon menemani layar TV Indonesia sejak November 1990.

Boleh angkat tangan yang merasa diasuh Doraemon hingga kita tumbuh besar? *ngacung
Hingga kini, tayangan kartun dari Jepang itu tak pernah lengser dari tahtanya pukul 8 pagi setiap hari Minggu.

Siapa yang tidak kenal dengan 5 sosok utama di serial kartun Doraemon? Robot kucing biru, cowok berbaju kuning, celana dongker, cowok bertubuh besar mengenakan kaus oranye, satu lagi cowok yang mukanya agak tengil berbaju biru, serta 1 cewek manis dengan rambut dikepang dan identik dengan nuansa pakaian merah muda. Ya, Nobita, Doraemon, dan teman-temannya.

Doraemon oh Doraemon (Poster diambil dari sini)
14 tahun Doraemon. Tahun ini menjadi selebrasi rupanya. Dari sekian banyak film petualangan Nobita dan Doraemon, tahun ini terasa berbeda. Film Stand by Me Doraemon digadang-gadang sebagai film perpisahan. Wah, benarkah? Trailer yang sudah beredar dari awal tahun serta soundtrack yang sendu, sukses membuat heboh penonton Doraemon sejagad. Benarkah Doraemon akan berpisah dengan Nobita? Lalu apakah impian Nobita menikah dengan Shizuka terwujud?

Dan di Indonesia, rasa penasaran itu terbayar bulan Desember ini, bulan summer-nya box office Indonesia. Stand By Me Doraemon akhirnya tayang di bioskop.

Film ini pada intinya merangkum kisah Doraemon dari awal datang ke hidup Nobita hingga misinya selesai, yaitu membuat Nobita bahagia. Plotnya di bagian awal terasa cepat dengan berbagai keajaiban-keajaiban yang bisa dihadirkan Doraemon untuk Nobita. Kita mengenal karakter Nobita yang ceroboh, malas, bodoh, manja, dan lemah ini lalu akan dilengkapi dengan kehadiran Doraemon, robot yang dibuat oleh cicit Nobita dari abad 22. Penonton tidak akan dijauhkan dari ciri khas baling-baling bambu, pintu ke mana saja, serta laci lorong waktu di meja belajar Nobita. Karakter Giant, Suneo, dan Shizuka termasuk persaingan dan perselisihan di antara mereka selalu jadi bumbu utama. Adegan bullying masih selalu dilakukan oleh Giant terhadap Nobita. Semua terangkum dalam kisah panjang Stand By Me Doraemon di plot awal.


Doraemon kita semua (Gambar diambil dari sini)
Plot tengah hingga akhir mengarah pada kisah cinta Nobita yang akan membuat kita tertawa konyol, sedih, hingga terharu. Ternyata cuma 1 hal yang akan selalu membuat Nobita bahagia, yaitu menikah dengan Shizuka. Nobita tidak mengharapkan yang muluk-muluk seperti kaya, karier bagus, juara kelas, pintar, atau pun hal positif lain yang bertolak belakang dengan dirinya. Dia hanya menginginkan menikah dengan Shizuka. Dan semua itu bukan berkat Doraemon, tapi berkat dirinya sendiri. Doraemon hanya memberi fasilitas saja. Ini yang jadi catatan kita. Doraemon selalu menemani Nobita. Tapi Nobita-lah yang akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Dibalik segala kelemahannya (yang disebutkan Doraemon satu per satu di sebuah taman), Nobita punya kegigihan besar, meski hanya untuk mengabdikan hidupnya untuk Shizuka. Hanya itu dan cuma satu. Lalu Doraemon pun akhirnya belajar kesetiaan itu dari Nobita karena ternyata segala kemauan Nobita yang banyak itu, tetap tujuannya cuma satu, Shizuka. Sementara Doraemon, tujuannya adalah bersama dan menemani Nobita selalu.

Satu kesan setelah menonton ini. Puas.

Mungkin tak banyak yang setuju, tapi bagi orang yang menghabiskan masa kecilnya di tahun 90-an, tentu akan sependapat. Stand By Me Doraemon adalah sebuah kata perpisahan yang tepat untuk generasi 90-an. Kenapa? Karena kita sudah beranjak dewasa. Meski Doraemon masih ada di layar kaca, tentu kita tak bisa menikmatinya seperti dulu. Sekarang saatnya anak-anak yang menikmati kartun itu. Namun, nuansa dan pesan yang didapat mereka (anak zaman sekarang) dengan kita (anak 90-an) berbeda. Bisa jadi karena pengaruh pola hidup, alternatif tontonan, menjamurnya TV kabel, akses video semacam Youtube lebih seru, dan masuknya era digital, tentu rasa kebersamaan dengan Doraemon setiap Minggu pagi tak terlalu berkesan.

Intinya penikmat sempurna dari Stand By Me Doraemon ini memang generasi 90-an. Jika trailer dan OST nya terasa sendu, ya sendu bagi kita karena memang Doraemon itu tentu bahagia melihat kita dewasa dan masih mengenangnya. Tapi lalu kita akan berdecak kagum bahwa Doraemon memang selalu ada sampai hari ini, untuk Nobita, untuk teman-temannya, dan untuk kita.

Nobita jauh dari kesan sempurna. Doraemon hanya pemberi jasa untuk melambungkan impian Nobita. Lalu kita? Film ini terkecap sempurna untuk ditonton bersama sahabat, saudara, teman yang memang dari kecil sudah menjadi penonton setia Doraemon, atau barangkali pembaca komiknya juga.

Stand By Me Doraemon memang layak disebut sebagai sebuah perayaan kenangan. Kita akan diajak tertawa, senyum-senyum, terharu, sedih, dan akhirnya akan lega.

Related Articles

2 komentar:

  1. ehm, baiklah, tolong tenang sebentar, Dekisugi angkat bicara.

    Saya setuju dan mengerti dengan pemikiran saudari bahwa film ini mau tidak mau, mengingat umur, menjadi film perpisahan yang tulus dan halus bagi Doraemon dan generasi epic 90-an, bukan hanya perpisahan dengan Nobita. Mungkin itulah penyebabnya banyak penonton yang ikut juga merasakan perasaan Nobita yang di tinggal Doraemon.

    Satu hal yang saya tidak mengerti adalah, kenapa sampai dengan saya menulis kolom komentar ini, saya belum juga nonton filmya?! MENGAPA?!?! MENGAPAAA!?!?!

    oke cukup.
    Dekisugi undur diri

    ReplyDelete
  2. "Nobita lelaki biasa, tidak memiliki sesuatu yang spesial, tapi dia bisa merasakan kesedihan orang lain." Nice quote dari Bapaknya Shizouka. Ngakak, gubrak, tapi abis itu manggut-manggut. Keren Fujiko F Fujio. :')

    ReplyDelete