In Movie Land

Film 7 Misi Rahasia Sophie: Cinta yang Diolah dalam Lolipop dan Bunny-Bear


7 Misi Rahasia Sophie (Sumber gambar dari sini)


Seperti biasa, bulan Februari menjadi bulan untuk film remaja nasional. Salah satunya film 7 Misi Rahasia Sophie. Film besutan sutradara Billy Christian ini sudah bikin penasaran jagat remaja, khususnya penggemar Stefan William yang berperan sebagai Marko dan Alisia Rininta sebagai Sophie. Saya beberapa kali melihat iklan trailernya dan melihat poster film yang mulai digembar-gemborkan sejak Januari lalu.

Poster kuning (gambar diambil dari sini)

Poster biru (gambar diambil dari sini)

Poster merah muda (Gambar diambil dari sini)
Mulanya poster. Kesan yang saya dapat sejak melihat posternya adalah colorful dan playful. Dengan latar ungu, lalu dengan 3 aktor remaja berproperti bando telinga kelinci, topi beruang, dan 1 lolipop yang mejeng di poster ini, menjadi eyecatching. Sebenarnya ada beberapa jenis poster yang diterbitkan. Semuanya mengambil latar soft dengan warna-warna pastel. Kesannya sama, playful dengan sepeda dan balon. Saya suka dengan poster-posternya. Keempat poster di atas diambil di sini7 Misi Rahasia Sophie memberikan clue bahwa film ini adalah film remaja. Ada kata 'misi' di judulnya, berarti ada permainan dan ada teka-teki yang harus dipecahkan. Tak ayal, anak muda suka sesuatu yang rahasia. Misteri tapi bukan horror. Misi tapi bukan detektif kejahatan apalagi pembunuhan. 3 aktor (Alisia Rininta, Stefan William, dan Pamela Bowie) tapi bukan drama babakan cinta segitiga.

Iseng, saya pun menontonnya.

Sophie (Alisia Rininta) adalah cewek enerjetik, selalu riang, dan berpikir positif. Hobinya adalah mengunggah video di Youtube. Marko (Stefan William, sahabatnya yang tinggal di apartemen yang sama dengan Sophie sering menyebut Sophie sebagai megalomania. Sophie pun menepis sebutan itu dengan melancarkan 7 misi kebaikan untuk sekitar mereka.

Yang menarik dari film ini adalah pengantar kisahnya. Dunia social media sangat dekat dengan remaja. Lalu kisah dibawa dengan gaya memasukkan unsur playful. Sekilas terlihat kekanakan, tapi sebenarnya itulah yang hilang dari remaja sekarang: lingkungan bermain. Sophie dan Marko punya markas di rooftop apartemen. Karena film ini mengambil setting negeri megapolitan, Sophie dan Marko tak kehilangan ruang privasi mereka sebagai anak-anak. Rooftop itu didesain khusus sehingga tampak nyaman. Di sanalah, Sophie dan Marko memonitor misi-misi mereka. Dengan adanya tempat ini, mereka tak kehilangan dunia bermain. Lolipop, topi beruang, bando bunny adalah salah satu bagian dari cara mereka menghidupkan imajinasi masa kecil yang hilang tergerus ketidakpedulian.

Selain itu, dalam melancarkan misi-misinya, hujan lolipop, keceriaan bersepeda, kostum binatang, bermain lempar balon dan cat menjadikan film ini seperti mengangkat sebuah kisah dongeng. Tentu saja dongeng yang nyata di kota besar.

Film ini memang tentang dunia rahasia yang diciptakan Sophie di benaknya. Hidup di tengah kota dan aktif di social media membuat seseorang itu tidak lagi punya rahasia. Semua terbuka. Tapi lewat film ini, rahasia itu sebenarnya bisa tercipta. Sadar atau tidak sadar, saya tertarik dengan cara berkomunikasi Sophie dan Marko di jendela kamar masing-masing. Bukan ponsel, melainkan lampu senter. Mereka saling melemparkan sandi dengan mengedip-ngedipkan cahayanya ke arah jendela kamar mereka yang berseberangan. Artinya apa? Hanya mereka berdua yang tahu. Namanya juga sandi. Saya yakin, anak-anak zaman sekarang tidak akan mengerti keindahan berahasia dan berkomunikasi dengan sandi yang mereka ciptakan sendiri. Itulah potret yang diangkat ke film ini. Di sela-selanya, saya seakan dikejutkan tentang arena bermain yang mulai terpinggirkan. Arena itu tergantikan dengan gadget. Nah, film ini memadukan semuanya, antara gadget, social media, mainan, pernik lainnya tanpa kesan menggurui atau bahkan menyindir. Pesannya adalah bahwa tidak cuma anak-anak yang butuh arena bermain, remaja pun masih membutuhkannya.

Hal menarik lainnya di film 7 Misi Rahasia Sophie adalah ada misi di balik misi. Itulah yang akhirnya terjawab di akhir film. 7 Misi Rahasia Sophie merangkum 1 misi besar yang tentunya akan diketahui jika kita menonton hingga film ini selesai. Ini bukan tentang kisah cinta yang berlarut pada melodrama. Film ini murni tentang sesuatu yang lebih esensial dari percintaan kaum muda, yaitu mencerahkan masa muda. Ada cinta yang diolah berbeda di film remaja tersebut.


Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Journey Land

Bromo Trip: Keteduhan Bukit Hijau Teletubbies

Ini spot terakhir yang wajib disapa jika kita berwisata ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setelah Lautan Pasir yang panas tanpa pohon, bergeser ke balik gunungan pasir itu, kita disapa oleh angin yang dilambaikan oleh kehijauan Bukit Teletubbies. Aku tidak tahu persis nama spot ini apa, tapi orang-orang mengatakannya begitu.


Ada keindahan berbeda yang disuguhi oleh Bromo. Tempat ini seperti lukisan alam. Kita tinggal duduk dan menikmatinya, tanpa bosan. Bahkan panas matahari yang terasa sangat dekat di atas kepala tidak membuat kita mundur. Itulah Mahakarya Yang Kuasa pada alamnya. Dengan langit biru jernih diimbuhi awan tipis, lalu bukit hijau begitu kontras tepar di bawahnya, dan sentuhan terakhir bagian cokelat di kaki bukit itu sebagai tempat berpijak. Di bumi yang entah berapa ketinggiannya ini menerbangkan lamunan jauh dari hiruknya kota besar. Jauh. Sangat jauh.







Jika memandang ke sekeliling, terlihat bukit-bukit yang ditumbuhi rerumputan hijau. Kami memilih satu spot bukit yang landai. Saat itu menjelang tengah hari, tentu saja matahari semakin terasa membakar. Tapi belaian angin menyamarkannya. Dengan penuh semangat, kami mendaki bukit landai itu. Tak henti kagumku melihat landscape bukit hijau dengan langit biru di atasnya. Rasanya ingin berlama-lama berada di sini. Ke mana pun memandang, rasanya teduh.

Kami mengitari barisan rumput liar tapi seakan tertata itu. Salah seorang teman kami menyewa kuda untuk mengelilingi bukit. Kita bisa bersorak sepuasnya di bukit ini, berlari tanpa arah, atau duduk saja bersila. Semua bebas dilakukan. Anggap rumput itu adalah karpet hijau.



Karena semua daratannya dipenuhi rumput liar dan ilalang, kami tak cuma bisa berfoto, berlari, berjalan, berlompatan, tetapi juga bergolek. Kami pun satu per satu terkapar di tengah rerumputan Bukit Teletubbies. Memejamkan mata sejenak di alam terbuka ini dapat melepas lelah setelah sepagian berkeliling di Bromo. Di sini, alam terasa sangat jinak.





Kami tak sempat berlama-lama di Bukit Teletubbies. Seharian di sana pun takkan membuat mata ini bosan. Jika lain kesempatan kami kembali ke sini, sebaiknya membawa makanan dan minuman segar. Kami bisa piknik bersama beralaskan rerumputan. Buat yang senang bermusik, ke Bukit Teletubbies tanpa membawa gitar pasti akan hambar. Atau mungkin menggesek biola juga akan terasa khidmat. Untuk yang suka seni rupa, selembar kanvas dan palet dengan cat minyaknya menjadi barang wajib saat mengunjungi gundukan bukit di atas gunung ini. Ada banyak angle yang dapat ditoreh di atas kanvas. Begitu juga bagi penyuka fotografi. Harus sedia baterai cadangan jika tak ingin melewatkan sesentimeter pun untuk dijepret.


Keelokan alam pegunungan seperti ini memang wajib disyukuri. Lalu mulutku pun tak berhenti menasbihkan nama-Nya.


Photos: courtesy of Upin Ipin, Yozi, Mba Nila.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Journey Land

Bromo Trip: Pesona Lautan Pasir yang Legam dan Lukisan Langit yang Cerah

Kawasan Bromo Tengger Semeru menyimpan keindahan lain. Kini kami menapak di padang pasir yang tak berujung, tak beralur. Hanya mata angin yang mampu mengarahkan kaki ini.

Mobil jeep berdecit meninggalkan jejak ban dan kepulan debu pasir. Kami berhamburan keluar dan bersuka ria menatap langit biru dan padang pasir yang luas berbatas kaki kawah.


Melihat lautan pasir ini serasa hidup tak berbatas. Kami bebas berjumpalitan di tengah padang. Tak ada pohon sehingga terik mengguyur kami dengan sangat leluasa. Hanya angin yang mampu menguapkan keringat.






Panas membuat pasir-pasir ini mengering dan beterbangan seperti debu yang kasar. Kami menghadang angin yang menerpa wajah berjalan menuju salah satu kawah Bromo. Kami dikeliling bukit-bukit hijau memagari seakan kami berada di kuali raksasa mahakarya Maha Esa. Ini yang namanya kaldera, fitur vulkanik. Dalam perjalanan ini, ada dua alternatif: berkuda dan berjalan kaki. Kuda-kuda disewakan untuk mempercepat langkah menuju bukit pasir dengan kawah berasap di puncaknya.

Aku memilih berjalan kaki saja. Menanjaki bukit pasir ada nilai serunya juga. Kami dengan leluasa berpindah, melompat, dan berdiri di antara gundukan pasir yang memadat, melihat guratan-guratan bekas lahar pernah mengalir. Di kejauhan terlihat orang-orang bergerak seperti semut menuju puncak kawah. Kawahnya cukup tinggi. Saat mencapai kakinya saja, bau belerang begitu menyengat hidung. Ada tangga panjang yang sempit yang bisa kami tapaki untuk menuju kawah itu.






Jika berbalik badan, di bawah kami tampak seperti miniatur kaldera. Kecil. Pasir semua dengan orang-orang yang menyemut. Tampak pula sebuah pura di tengah-tengahnya. Semua tampak tak berwarna. Pasir-pasir yang terang karena disinari matahari pagi. Tak ada tempat berteduh sama sekali dan tak ada pula pohon-pohon yang menghiasi. Satu-satunya yang berwarna cerah adalah langit sehingga terlihat kontras tapi indah.




Apalagi pesonanya? Tentu saja belum lengkap kalau belum berdiri di bibir kawah yang mengepulkan asap putih tebal. Kami tidak dapat mengeliling bibir kawah karena tempat berpijaknya hanya setengah lingkaran dari bibirnya itu. Dari puncak ini terlihat puncak-puncak bukit yang lain, gugusan bukit pasir di pinggirannya, dan kepulan asap yang muncul di lubang kawah.





Selebihnya, setelah memanjakan mata dengan pesona lautan pasir dan kawah Bromo, sangat sayang jika tidak ikut merasakan nikmatnya berselonjoran, melompat riang, berekspresi sepuasnya. Karena padang diciptakan sebagai arena dan kita bintangnya.







Photos: courtesy of Upin Ipin, Yozi, dan Ageng Wuri

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Journey Land

Bromo Trip: Rindu yang Terkisah pada Sunrise di Pananjakan Bromo

Entah sejak kapan sunrise begitu diidamkan padahal ia datang setiap pagi. Hanya kita yang melewatkan kehadirannya yang indah, yang menawan. Rindu. Mungkin kata ini lebih tepat untuk mengantarkan kami menuju Pananjakan Bromo pagi itu (8/12/13) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Rindu alam. Rindu menghirup udara segar. Rindu menyentuh awan. Rindu menatap hari memulai paginya. Indah dan dinantikan. Lalu rindu pada ciptaan-Nya yang memang selalu memesona.

Lukisan langit kala subuh di Pananjakan Bromo.
Pukul 3 dini hari, 2 jeep menjemput kami di homestay. Semua siap meskipun dingin merasuk. Dengan baju berlapis, jaket tebal, syal, sarung tangan, dan kaus kaki melekat di badan, kami bersembilan menuju pananjakan pagi-pagi buta. Ternyata di perjalanan, banyak jeep-jeep yang melaju di depan dan di belakang. Ada pula motor-motor ribut berpacu di jalan yang menanjak itu. Semua menuju 1 spot, spot melihat matahari terbit dengan pemandangan yang luar biasa di bawahnya.

Jeep hanya mampu mengantar kami sekitar 1 km dari lokasi tujuan. Sisanya kami harus berjalan kaki menuju pelataran, sebut saja teras Bromo. Aku tidak tahu kami sedang berada di ketinggian berapa mdpl, tapi yang jelas udaranya lebih dingin daripada di kawasan homestay. Yang harus dilakukan adalah bergerak. Kami berjalan dalam gelap. Senter sudah siap sedia. Ada beberapa warung yang kami lewati menjual syal, sarung tangan, kupluk, jaket. Ada pula penyewaan jaket mantel. Meski pagi-pagi buta, jalanan ramai pelancong. Kami harus jalan bergandengan. Kalau terpisah, akan susah mencari orang di tengah keramaian yang gelap seperti itu.

Mulanya jalan beraspal. Lalu kami menaiki anak tangga yang entah berapa jumlahnya dan sampailah di tempat paling padat. Ada sekitar ratusan manusia menumpuk di spot itu. Inilah yang dimaksud dengan Pananjakan Bromo, sebuah teras yang memang sudah disediakan untuk wisatawan yang ingin menikmati matahari terbit. Masih pukul 4 pagi. Langit hitam gelap. Kami mencari spot yang lebih nyaman dengan view point yang dirasa pas.

Matahari terbit dengan gagah.

Mentari mulai menebar cahayanya.

Tak hanya manusia, tumbuhan pun berpesta menyambutnya.

Sekitar pukul 5 kurang, sayup sayup terlihat lukisan oranye di batas cakrawala. Ini semacam atraksi pagi hari. Lalu perlahan guratan-guratan awan terlihat. Kami menunggu hingga cahaya mulai memancar. Lalu terlihatlah pemandangan dengan padang pasir luas di bawah sana, dengan beberapa puncak-puncak Bromo yang mencuat. Kemudian, jauh di sebelah kanan, puncak Semeru berdiri dengan gagah dikelilingi awan tipis. Sungguh mentari yang punya kuasa memperlihatkan pemandangan nyata itu.

Teras langit.

Jauh di sana, Semeru berdiri tegap.
Kini rindu telah terkisah pada lukisan langit pagi itu. Langit dengan luar biasa mengurai kisah itu menjadi asa yang baru. Lalu, semua orang pun bersuka ria memulai harinya. Meski jauh di ujung timur pulau Jawa, kisahku tak akan pernah ada ujungnya, karena puncak-puncak gunung yang mencium langit seakan membisikkan asa yang lain yang terbentuk pagi itu.


***
Sedikit intermezo...

"Pananjakan Bromo sedingin apa, sih?"
"Enggak terlalu dingin, kok. Prepare jaket aja."
"Bawa jaket tebal banget atau biasa aja, nih?"
"Biasa aja."
"Sedingin Puncak atau lebih? Kamu pakai jaket apa?"
"Dingin banget tapi aku cuma pakai sweater."

Oke. Pembicaraan malam sebelum Bromo trip, sambil membayangkan kadar dingin kawasan Gunung Bromo. Dan ternyata... temanku salah, Dinginnya sama sekali tidak santai. Dingin menusuk. Mulanya gemetar, lalu gigi gemeletuk dan tubuh menggigil. Lain kali, kalau ke sini memang harus bawa jaket tebal windproof, waterproof, dan snowproof sekalian. Jangan berdiam diri di tempat. Bergerak itu lebih baik.



After sunrise...


Photos: courtesy of Ipin Upin, Mba Nila, Ageng Wuri

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments