In Movie Land

Tomorrowland Movie: Finding the New Hope

Imagination is more important than knowledge. 

Satu kalimat itu menjelaskan hal yang tak masuk akal di film Tommorowland. Dan, aku menikmatinya.

Saat menonton trailer film ini pertama kali, aku sempat ragu untuk menonton. Apalagi film yang disutradarai Brad Bird ini adalah produksi Walt Disney Studios. Sekilas, aku menangkap bahwa film ini nggak jauh beda dari film-film Hollywood yang mengangkat tema kehancuran negeri, lengkap dengan action sana-sini. Yang aku ragu justru kebesaran nama Disney yang menggarap sebuah film action, apa nggak jadi serba tanggung?! 

Tomorrowland Walt Disney (Gambar diambil dari sini)
Ternyata aku salah. Film Tomorrowland jadi salah satu film bertema science-fiction yang khas Disney. Kenapa kubilang khas Disney? Ya, film ini menjual mimpi karena tak lepas dari kesan imajinatif, bertolak dari anak-anak, dan sangat punya misi dalam pencarian harapan. Penyajiannya kali ini dalam bentuk live action, setengah sains ringan tentang robotik serta dunianya yang ajaib.

Dunia masa depan (Gambar diambil dari sini)
Tommorowland (Gambar di-capture dari sini)

Tommorowland menceritakan dunia masa depan yang sedang dirancang oleh pihak tak bertuan. Nah, mereka membutuhkan orang-orang imajinatif dan penuh harapan untuk bisa melihat dunia hari esok itu. Athena (Raffey Cassidy) bertugas mencari orang-orang istimewa itu. Yang pertama ia ajak adalah Frank Walker (George Clooney), anak kecil jenius yang berhasil membuat roket mini. Puluhan tahun kemudian, Athena menemukan Casey Newton (Britt Robertson), si remaja enerjetik dan optimis untuk diajak memecahkan sebuah misi bersama Frank. Sebenarnya apa yang terjadi di bumi? Siapa si anak kecil Athena yang serba bisa ini dan tak pernah menua?

Usut diusut, Athena adalah manusia robot, sahabat karib Frank sewaktu kecil. Meski ia robot, ia adalah robot yang punya naluri dan punya ide untuk memperbaiki apa yang telah dikembangkan si pembuatnya. Ia merasa ada yang salah di Tomorrowland itu karena menganggap bumi masih lebih baik. Hanya butuh orang-orang yang optimis dan percaya akan harapan untuk memperbaikinya.

Lewat sebuah pin yang ditinggalkan Athena di helm motor Casey, petualangan imajinatif Casey dimulai. Saat ia menyentuh pin itu, penglihatannya berubah menjadi padang ilalang yang ranum dengan bayangan bangunan futuristik di hadapannya. Awalnya ia tidak yakin dengan penglihatannya, apakah cuma mimpi atau nyata. Casey akhirnya berhasil masuk ke dunia yang serba modern itu, ya si Tomorrowland. Namun, waktunya habis. Pin itu mati. Rasa penasaran mengantar Casey untuk mencari tahu ilusi apa yang ia alami. Dengan kegilaan yang ia miliki, Casey bertekad menemukan Tomorrowland itu yang entah di mana. Di sinilah ia bertemu dengan Frank.

Frank akhirnya bertemu dengan Casey di saat ia sudah putus asa dengan segala penemuannya. Ia hanya bisa menunggu dalam 59 hari lagi bahwa bumi akan benar-benar kacau dan perlahan akan hancur. Setelah bertahun-tahun Athena memilih anak-anak optimis, usaha mereka untuk memperbaiki kekacauan di bumi tak pernah berhasil. Namun, Casey adalah jawaban semua penantian Frank dan Athena.

Frank, Casey, dan Athena sedang menjalankan misi. (Gambar diambil dari sini)

Tomorrowland bagaikan Hogwarts yang hanya bisa ditemukan oleh orang-orang terpilih. Hogwarts hanya ditujukan oleh penyihir atau calon penyihir di peron stasiun King Cross di London. Sementara Tomorrowland dapat ditemukan oleh orang-orang yang optimis dan punya harapan dengan Menara Eiffel sebagai gerbangnya. Keduanya sama-sama menembus dimensi lain dari bumi dan akhirnya bisa masuk ke dunia serba ajaib.

Formasi film ini adalah 3 orang dari generasi berbeda. Saat Casey dan Frank berdiri berjajar, kita bisa melihat dua sosok beda generasi. Yang satu generasi yang punya energi meluap-luap dan yang satu adalah generasi yang sudah lelah mencari tapi tak menemukan apa-apa. Antara Casey dan Frank, berdiri Athena, seseorang yang tak pernah menjadi besar. Athena menjadi penghubung mereka berdua. Dan, memang, anak-anak adalah pilihan yang tepat untuk memberi benang merah antara remaja dan dewasa, karena anak-anak adalah sosok paling netral sebelum dikotori oleh kata 'keputusasaan'.

Overall, Tomorrowland mengajak penontonnya untuk selalu menemukan harapan baru dalam hidup. Kita selalu punya pilihan, mau mundur atau maju? Dan, pada titik tertentu kita akan tau bahwa kehidupan itu akan bergulir berdasarkan pilihan-pilihan dan harapan-harapan kita. Ketika manusia kehilangan harapan, bumi takkan tertolong.

Tomorrowland menjadi film yang seru dan inspiratif, penuh imajinasi dan ilusi tentang dunia masa depan.

Related Articles

1 komentar: