Weekend Escape: Kawah Putih Ciwidey dalam Landscape Tosca

Saat long weekend tiba, kita semua tentu ingin memanfaatkan waktu dengan jalan-jalan. Sebenarnya tidak ada rencana untuk libur akhir minggu paskah saat itu. Karena dua minggu sebelumnya kami sudah melakukan pendakian ke Papandayan, masa kali itu kami harus ketemu kawah lagi, sih? Sehari sebelum long weekend tiba, entah angin apa yang datang tiba-tiba membuatku mengiyakan ajakan seorang teman untuk bergumul di mobilnya menuju Ciwidey. Ya, Kawah Putih Ciwidey.

Kawah Putih Ciwidey

Ini kali kedua aku ke Ciwidey. Perjalanan dari Jakarta dilakukan pada malam hari sekitar pukul 22.00. Perjalanan relatif sepi saat mobil kami keluar tol Soreang lewat tengah malam. Namun, kami mengurungkan niat untuk menyewa resort. Tanggung, sudah mau subuh. Sementara kami berniat ke Kawah Putih Ciwidey pagi-pagi sekali biar dapat udara segar dan suasana sepi di sana. Alhasil, mendamparkan dirilah kami di sebuah warung kopi tepat di dekat pintu masuk menuju Kawah Putih. Ternyata kami nggak sendirian, banyak mobil-mobil yang terparkir di sana menunggu pagi.

Kami memesan kopi hangat dan bandrek. Pukul 4 dini hari di tempat semacam Ciwidey, sungguh bukan tempat asyik makan es krim, bukan? Dingin sekali. Kalau kata ibu warung, tadi malam sempat hujan sebentar. Biasanya kalau setelah hujan, udara malam akan menghangat. Oke, udara yang semacam itu dibilang hangat, gimana cuaca aslinya kalau tidak ada hujan sama sekali? Napas kami sudah berasap begitu.

We're ready


Jalan menuju Kawah Putih yang masih berkabut
Begitu matahari terbit, kami melaju menuju Kawah Putih. FYI, sekarang jalan ke puncak kawah sudah jauh lebih baik dan lebar sehingga bisa dilalui mobil. Kalau dulu kan kami nggak berani buat nanjak sendiri, mesti naik angkot ontang-anting untuk ke atas. Harga masuk ke Kawah Putih saat ini IDR 18.000 per orang. Kalau pakai kendaraan pribadi, kita harus nambah jadi IDR 150.000. Lumayan mahal ya, tapi setidaknya lebih leluasa bergerak dengan kendaraan pribadi, apalagi kami menemukan spot-spot yang instagramable di penanjakan.

Kawah Putih

Bersama di kawasan Kawah Putih Ciwidey



Kami sampai di gerbang Kawah Putih


Area parkir Kawah Putih

Jalan setapak menuju kawah belerang

Danau Kawah belerang Kawah Putih Ciwidey

Cukup 15-20 menit, kami sampai di parkiran Kawah Putih. Benar saja, sepagi ini, tempat wisata satu ini memang masih sepi. Baru beberapa mobil yang terlihat terparkir di sana. Kami diwajibkan untuk menggunakan masker saat masuk kawasan kawah. Oke, tak masalah. Sebagai pengunjung kita harus menghormati aturan yang sudah ada.

Kami berjalan menuruni undakan batu yang panjang menuju kawah. Udara dingin di Ciwidey pagi itu dikalahkan oleh terik matahari yang baru nongol. Masih pukul 7 pagi tapi di sini sudah seperti jelang tengah hari. Apa kabar kalau kami sampai di Kawah Putih itu pukul 12 siang ya? Aduh, tak terbayang panasnya seperti apa.

Kata penjaganya, pagi itu belerang di kawah sedang aktif. Bau telur busuk sangat menyengat begitu kami memasuki arena danau kawah. Dan, benar saja, asap dari belerang sedang tebal. Tapi untungnya suasana kawah belum ramai, sehingga kami bisa jepret sana-sini sebelum terbatuk-batuk akibat belerang yang semakin terasa menusuk hidung. Di musim liburan seperti saat itu, tentu Kawah Putih jadi favorit keluarga untuk berlibur. Beruntung kami datang pagi-pagi buta. Suasana masih fresh dan langit biru masih terang, serta panas matahari masih brsahabat meski sedikit menyengat.

Berada di Kawah Putih memang tak boleh berlama-lama. Saat ke sini, meski sudah menjadi lokasi wisata keluarga, kawah tetaplah kawah. Baunya tetap nggak enak. Jika badan sedang drop, memang tak dianjurkan mendekati pinggiran kawah. Menghirup belerang yang terlalu banyak bisa menyebabkan keracunan bahkan kematian. Menghirup saja sudah dosa bagi tubuh, apalagi menyentuh dan mengecap. Sejauh ini belum ada, sih, yang nekad mencelupkan jarinya ke kawah itu.

Monumen konservasi Kawah Putih
Kalau dikulik-kulik, Kawah Putih ini ditemukan oleh seorang peneliti Jerman yang mendaki bekas letusan Gunung Patuha. Dulu kawasan Kawah Putih ini dianggap angker karena banyak burung-burung yang mati saat melewati kawasan ini. Namun, saat si orang Jerman ini melihat sebuah kolam kawah belerang berwarna putih, sejak itulah Kawah Putih Ciwidey mulai dicari orang dan ramai hingga sekarang. Wait, kawah berwarna putih?


Yeah, kawah Ciwidey memang berwarna cerah, lebih mendekati warna tosca. Namun, permasalahan warna kan masalah persepsi saja. Warna terang kerap dianggap putih dan warna gelap kerap dianggap hitam. Jadi wajar, kawah berwarna tosca ini memang sangat cerah dan saat disinari matahari, kadar warna tanah di sekitaran kawah sisa letusan berwarna putih. Karena itulah, kawahnya disebuh Kawah Putih. Indah, cerah, dan intagramable, bukan?



Danau belerang masih tenang, bau normal, asapnya juga normal.
Foto ini saat belerang menggelegak dan asapnya menebal

Menatap kawah



2 comments:

  1. tempatnya sekarang lebih tertata ya.. lebih keren

    dan yang bikin nyesek itu adalah, udah pernah kemari tapi g ada fotonya huaa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih bersih sih sekarang. Masa sih pernah ke sini tapi nggak sempet foto Mas?

      Delete

Instagram @sansadhia