Rammang Rammang : Dusun Tersembunyi di Sudut Sulawesi Selatan

Belum banyak yang tahu tentang tempat ini, Dusun Berua, Desa Rammang Rammang di Maros, Sulawesi Selatan. Ya iyalah, tempatnya sungguh sunyi dan tersuruk dari keramaian kota. Bahkan orang Maros sekalipun tidak mengetahui keberadaan Rammang-Rammang yang jadi salah satu dari 3 taman batu luas di dunia ini. Dua yang lainnya ada di Cina dan Madagaskar.

Rammang Rammang
Sungai Pute Maros.
Belum afdhol rasanya kalau sudah ke Makassar tapi belum menginjak Rammang Rammang. Apa uniknya? Kamu bagaikan menemukan harta karun dunia karena sungguh sulit mencari lokasinya. Rammang Rammang ini adalah taman batu karst (kapur) nomor 2 terbesar setelah taman batu di Cina. Karena penasaran taman batunya seperti apa, maka berangkatlah kami. Dengan bermodal review blog, aku dan teman-teman travelmate-ku mampir ke desa ini saat menjajaki kota Makassar dan sekitarnya. Pencarian lokasi ini sungguh seru. Kami bertolak dari Makassar ke Maros sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan mobil. Saat tiba di Maros, berkali-kali kami turun mobil untuk bertanya pada penduduk setempat lokasi Rammang Rammang. Dan, kamu tahu jawaban mereka apa? Mereka sama sekali tidak pernah mendengar yang namanya Rammang Rammang.

Saat memasuki Maros, kami disambut sawah hijau dan bukit-bukit karst di sekeliling kami. Mestinya tempat sudah dekat. Jalanannya sempit. Butuh mobil yang mungil dan gesit menyusuri jalan panjang kecil itu. Dan, kurasa kendaraan kami sudah tepat. Toyota Agya yang imut dan bersahabat di kondisi jalan seperti itu. 

Setelah bertanya sana-sini, memang tidak ada yang tahu lokasi Rammang Rammang. Akhirnya aku kembali blog walking, mencari patokan terdekat. Dan, kami menemukan jawabannya. Dermaga Rammang Rammang terletak dekat dengan pabrik semen Bosoa. Oke, ke sanalah kami melaju. Pencarian alamat pun menjadi lebih mudah.

Di siang yang terik, kami sampai juga di Dermaga Rammang Rammang. Letaknya di bawah jembatan. Jika berdiri di atas jembatan, kita akan melihat alur Sungai Pute yang tenang dengan air berwarna hijau. Di tengah-tengah sungai banyak bertebaran batu yang tergolong pecahan karst. Jadi kata masyarakat setempat, berabad-abad yang lalu, Maros ini adalah lautan. Bukit-bukit karst itu adalah karang. Entah bagaimana caranya air laut pun surut, menyisakan karang besar yang akhirnya menjadi bukit. Sisa-sisa karst itu terlihat di sepanjang sungai menuju Rammang Rammang ini.

Dermaga Perintis Rammang Rammang
Kami langsung turun dari jembatan. Ada beberapa perahu kayu kecil berjajar. Pemiliknya datang dan kami tawar-menawar harga. Ya, kami harus melalui Sungai Pute ini untuk sampai ke Dusun Rammang Rammang. Akhirnya kami tahu kenapa orang Maros tidak mengenal Rammang Rammang. Letaknya tersuruk di balik bukit karst. Wilayahnya termasuk wilayah Dusun Berua yang mayoritas penduduknya tinggal di pinggir kali. Mereka harus menempuh jalur sungai ini untuk mencapai kota. Wah, petualangan baru saja dimulai.

Tanaman nipah sangat rimbun di sepanjang aliran sungai.

Pemandangan bukit-bukit karst.
Perjalanan menyusuri sungai memakan waktu 20 menit. Perahu ini berlayar sangat pelan. Orang setempat menyebut kapal kecil bermotor ini dengan "katinting". Kami harus duduk tenang karena keseimbangan sangat dibutuhkan untuk menjaga katinting ini tetap stabil. Beberapa kali perahu ini berjalan zigzag untuk menghindari batu karst. 

Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan jajaran bukit karst yang tinggi-tinggi. Sungai ini juga diapit oleh tanaman nipah dan bakau yang tumbuh subur di sungai berair payau ini. Saat Rammang Rammang sudah dekat, Sungai Pute diapit oleh batu Karst besar, sehingga kami seperti memasuki lorong gua. Motifnya yang berlubang-lubang kecil membuatnya mirip dengan sarang tawon. Unik. Waktu 20 menit tak akan terasa lama kalau kita disuguhi pemandangan keren seperti ini.




Karst yang mengapit Sungai Pute
Perahu kami merapat di sebuah dermaga kayu kecil dengan pohon rindang yang menaunginya. Kamu tahu apa yang kami lihat? Pemandangan gugusan bukit berbaris tinggi, lalu sawah terhampar di kakinya. Hijau.

Kami turun dari perahu dan berjalan memasuki surga tersembunyi Rammang Rammang. Bukit karst tinggi menjulang menutupi dusun kecil Berua ini. Di sini kita akan mendapat sensasi menghirup udara segar, bebas polusi. Tanpa menunggu-nunggu, kami langsung menjelajah pematang sawah hingga kami menemukan kolam-kolam dengan rakit di tengahnya.

Pemandangan yang menyambut pendatang yang berkunjung ke Rammang Rammang.

Gugusan bukit karst Rammang Rammang.

Bias cahaya matahari yang memantul ke puncak bukit batu.
Bapak yang mengemudi perahu ternyata adalah kepala dusun Berua. Beliau dengan ramah mempersilakan kami menjelajah wilayah Rammang Rammang yang tak seberapa besar ini. Kami main rakit-rakitan di empang. Seru sekali. Hidup serasa kembali ke alam. Siapa yang menyangka berabad-abad yang lalu, tempat ini adalah dasar laut dan bukit karst itu adalah salah satu rumah ikan. Sekarang semua tampak subur dan ranum untuk dinikmati pemandangannya. 

Mendung mulai datang tapi tak membuat keceriaan kami pudar.

Bermain rakit.
Kami memang tak lama bermain-main di sana. Tapi ada satu pemandangan luar biasa yang diperagakan oleh dusun berbukit itu. Mendung datang dan hujan turun. Kami semua berteduh. Lalu kami melihat tetesan hujan yang jatuh di puncak bukit menyiprati kaki bukit. Gugusan bukit yang berbaris itu tampak menyatu tertutup cipratan air. Bentuknya seperti uap putih berjatuhan ke bumi. Butiran airnya begitu halus sehingga sekilas tampak seperti kibasan air pada baju kita. Sesuai namanya, Rammang Rammang diartikan sebagai kabut. Jadi saat hujan, air hujan yang memecah di puncak bukit batu membentuk kabut samar-samar yang indah. (Tapi sayang, kamera tak dapat mengabadikan air hujan dengan detail). Pemandangan itu sungguh tak tergantikan. Hujan yang sebentar itu seolah hanya untuk memperlihatkan keunikan dari Rammang Rammang agar ada kesan dan cerita yang kami bawa pulang. 

Jalan di pematang sawah.

Belajar mengembala sapi.
Rammang Rammang in love.
Saat berada di Rammang Rammang, aku merasakan dua cuaca sekaligus. Panas dan hujan. Aku tidak bisa memilih mana keadaan yang baik untuk mengunjungi tempat itu. Saat panas, barisan awan di atas memberi kesan warna cerah pada bukit-bukit batu. Namun, saat hujan, bukit batu tertutup kabut dan sensasi air yang menciprat dari puncak bukit manambah keindahannya. Ini artinya, Rammang Rammang ramah dalam segala cuaca.

Pondok tempat kami berteduh. Bisa tidur siang lho di sini.
Karst berbentuk patung manusia abstrak.
Rasanya puas bisa bermain-main beberapa jam di dusun itu. Sepenglihatanku ada 7 rumah khas Bugis bertebaran di sela-sela petak sawah. Itu adalah rumah penduduk dusun yang sudah bertahun tahun menikmati pemandangan keren dan segar ini. Sekarang sudah bisa dijadikan homestay kalau ada yang berminat menginap semalam di dusun. Siapa yang menolak kalau punya kesempatan berlama-lama di sana?! 

Jalur pulang kami melewati sungai yang sama dengan katinting sewaan yang sama. Saat perahu merapat di dermaga Rammang Rammang kembali, kami berpamitan dengan Bapak Kepala Dusun.

Kami kembali melanjutkan perjalanan menjelajahi pesona Sulawesi Selatan yang lain. Mobil Agya menjadi peneman paling simple saat kami bepergian dengan jumlah personil yang cukup ramping saat itu, hanya berempat. Agya mampu menjangkau lokasi-lokasi dengan jalanan yang sempit. Apalagi kami butuh bahan bakar irit saat mencari alamat hingga kami harus berputar-putar. Karena aku memang sudah tidak asing dengan mobil keluaran Toyota, jadi aku percayalah dengan kegesitan Agya ini. Nyaman banget diajak traveling. 


Tulisan ini diikutkan dalam My Agya My Style Blog Competition 2015, challenge yang diadakan oleh Toyota Agya bersama Indonesian Food Blogger (idfb).

3 comments:

  1. Baru tau saya ada tempat seindah ini di rammang-rammang :)
    jadi pengen liburan kesana juga :D

    ReplyDelete

Instagram @sansadhia