In Journey Land

Hutan Mangrove Pantai Indah Kapuk, Hiburan Sekejap Mata Manusia Jakarta


Sebenarnya, hidup di Jakarta, tuh, gini-gini aja. Apa yang membuat Jakarta itu bergairah? Ya, cuma pergerakan manusianya yang berangkat subuh dan pulang sebelum tengah malam dalam 5 hari setiap minggu. Hidup supergemerlap, dengan malam yang tak pernah padam, kurasa Jakarta pantas disebut kota yang tak pernah mati. Nah, kemudian, apakah ini berdampak pada emosi manusia penghuninya? Ya, tentu saja. Kejenuhan. Kalau ada orang dari luar Jakarta rela datang jauh-jauh untuk liburan ke kota ini, sepertinya salah besar. Kenapa? Tak ada alam alami di sini. Orang Jakarta saja berduyun-duyun mencari jadwal dan destinasi liburan ke luar kota, bahkan negara demi mengobati kejenuhan.

Karena Jakarta sudah begini adanya, para developer berbondong-bondong membuat arena hiburan untuk manusianya. Seperti yang kita lihat, Taman Impian Jaya Ancol masih juaranya ladang hiburan rakyat Jakarta sampai saat ini. Selain itu, mall-mall besar juga cukup menjadi wadah penghangat jiwa, pendingin dahaga. Nah, next, apa lagi?

Seakan tak habis-habisnya menggali, ide untuk memanfaatkan hutan bakau yang terbengkalai pun menjadi ide brilian. Jauh di wiliyah elit Jakarta, Pantai Indah Kapuk yang dulu sebagian besar wilayahnya adalah hutan bakau tapi telah ditimbun demi kepentingan real-estate, kini kembali diindahkan. Area hutan bakau yang masih asri dipercantik. Entah kapan area tersebut mulai dibuka untuk wisata umum. Yang pasti, berkat social media dan kejenuhan orang Jakarta yang butuh alternatif liburan singkat dan dekat, ya hutan bakau ini cepat tersosialisasi. Foto-foto orang di depan sebuah pondokan segitiga, jembatan bambu, dan perahu kayu kecil cepat beredar. Bikin penasaran, kan. Termasuk juga aku. Inilah lokasi liburan kekinian manusia Jakarta, Taman Eko Wisata Hutan Mangrove, Pantai Indah Kapuk.

Mengingat lokasinya di Pantai Indah Kapuk, kesannya hutan bakau ini tentu menjadi lokasi liburan mahal keluarga. Apalagi akses untuk ke sana dipastikan lumayan ribet. Aku tidak mau ambil pusing. Kalau ada kendaraan ke sana, ayo kita ke sana. Kalau tidak ada mobil, rasanya malas untuk menggerakkan hati berangkat ke PIK. Nah, kebetulan, ada mobil nganggur. Berangkatlah aku dan Junisatya beserta segenap teman-teman kami yang datang dari Padang. Iya, dari Padang. Mereka ada proyek selama di Jakarta dan sebelum pulang ke Padang, kami menyempatkan diri untuk jalan bersama.

Akses ke PIK menggunakan mobil cukup mudah lewat tol dan keluar di pintu tol Kapuk. Dari titik ini, welcome to the elite world. Sekarang saatnya mencari jalan menuju hutan bakau yang dituju. Setelah nanya petugas jalan sana-sini, kami diarahkan ke suatu area hutan bakau. Dengan bahagia, mobil kami meluncur ke area tersebut. Dan, gapura selamat datang di Hutan Wisata Mangrove pun menggoda. Kami masuk.

Satpam meminta tarif Rp1000 per orang. Awalnya aku terkejut. Kok, cuma seribu? Bukannya sombong. Tapi sebelum ke PIK, aku sudah browsing tarif masuk taman wisata ini. Mestinya, kan, 25 ribu. Tanpa pikir panjang, aku bayarkan saja seharga yang diminta. Lalu berjalanlah kami memasuki wilayah hutan. Perjalanannya cukup sepi. Jalan setapak ramping yang kami lewati begitu panjang, seperti tanpa akhir. Kiri-kanan kami memang dipenuhi hutan bakau. Lalu, jauh di sebelah kiri tampak perairan yang dipenuhi oleh orang-orang yang memancing. Aku mencari sesuatu. Pondokan kayu berbentuk segitiga itu. Di mana, ya? Sepertinya tidak ada tanda-tanda. Jalan setapak itu berubah menjadi jalan setapak tanah yang melebar. Lalu kami disambut segerombolan monyet liar. Yah, aku ragu, ini adalah lokasi yang dimaksud kekinian itu.




Makin jauh, area hutannya makin tak terawat. Hutannya pun kering. Tak ada genangan air. Kami menemukan sebuah jembatan dari beton berpagar hijau. Harapan itu hidup lagi. Siapa tau memang harus berjalan jauh dulu. Lagi-lagi, kami dikecewakan saat jembatan berujung di pintu masuk kembali. Untuk mengobati hati, kami pun berfoto-foto asyik aja.






Setelah bertanya pada petugas, ternyata kami memang salah alamat. Melihat pengunjung yang berdatangan sore itu, aku langsung berpikir, pasti mereka juga salah alamat. Tapi petugas sana sengaja tidak memberi tahu karena mereka juga butuh pengunjung. Hmm, baiklah, katanya lokasi yang kami tuju tak jauh dari sana. Dengan cepat, mobil kami pun meluncur.

Akhirnya sampai. Ini dia Kawasan Ekowisata Mangrove. Lokasinya berdekatan dengan Yayasan Buddha Tzu Chi. Dari pintu masuk saja kita bisa melihat nuansa taman wisata keluarga yang terawat. Setelah membayar tiket Rp25.000 per orang, kami pun masuk. Ternyata untuk masuk kawasan ini, kamera DSLR, kamera pocket, bahkan go pro tidak boleh dibawa. Jadi kami harus menitipkan benda-benda itu di tempat penitipan. Kami hanya diperbolehkan mengambil gambar melalui kamera ponsel. Entah apa alasannya. Apakah lensa akan merusak hutan ini? Ya, sudahlah, ya, kita nurut aja.

Voila!




Taman ekowisata ini cukup luas. Ada arena outbond untuk anak-anak, restoran yang dekorasinya adem, ada taman kelinci, pondok-pondok istirahat, dan bangunan resort yang unik. Waktu kunjung paling asyik tentunya pagi hari atau sore hari sekalian. Kalau siang, bisa dipastikan panas menyengat.

Kami menelusuri jalan menuju resort dan danau bakau. Penemuan kami berujung pada jembatan kayu yang disusun acak. Nuansanya tenang dan menenangkan. Hijaunya pohon-pohon bakau sangat baik untuk me-refresh mata dan otak. Ternyata danau ini menjadi tempat konservasi dan program tanam 1000 pohon. Banyak label-label dari berbagai perusahaan yang menyumbangkan bibit-bibit bakau untuk melestarikan alam Jakarta. Overall, lokasi hutan mangrove ini instagramable. Sayang sekali kami tidak boleh menjepret menggunakan kamera dan go pro. Harus puas dengan hasil jepretan kamera ponsel saja.
















Beginilah tempat hiburan manusia Jakarta yang hanya sekejap mata. Setidaknya, masih ada usaha untuk melestarikan taman menjadi objek wisata. Selamat menikmati hutan mangrove yang jadi area resort dan tempat liburan singkat.


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment