In Journey Land

Takabonerate Trip: Mengulas Pulau Latondu, Mengulik Kampung Penjaga Laut

Pulau Latondu termasuk ke dalam list kunjungan saat kita berada di Kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan. Pulau Latondu ini mewakili pulau yang dihuni oleh orang-orang campuran Suku Bajo, Bugis, dan Flores. Nelayan menjadi profesi utama penghuni kampung ini. Kesederhanaan melingkupi seluruh isi kampung, tapi kekayaan hati mereka sungguh patut ditiru.

Pulau Latondu

Penampakan pantai di Pulau Latondu
Adalah sebuah kehormatan saat aku berkunjung ke sini dan disambut oleh segerombolan anak-anak SD pulang sekolah. Mereka bernyanyi bersama. Dan, yang membuat kami takjub adalah pengetahuan laut mereka sudah top. Mengingat alam laut di perairan Pulau Latondu adalah karang-karang yang patut dilindungi dari para perusak, anak-anak ini mulai belajar berenang dan mengayuh perahu. Wow, keren. Mereka juga tahu ada kima yang sedang diincar dan keberadaannya sangat langka. Itu semua adalah hasil kekayaan Takabonerate. Kesadaran akan itu sudah ditanamkan sedari mereka kecil usia sekolah dasar.

Mereka punya lagu untuk membangkitkan semangat melestarikan laut Indonesia. Hebat, ya, dari kecil mereka sudah dididik untuk menjaga laut. Mereka memang penjaga laut kita. Tinggal fasilitas pendidikan saja yang harus dilengkapi. Aku yakin, mereka ini bibit-bibit cerdas bangsa (bahasanya agak lebay idealis gitu). Yang pasti, aku kagum dengan bocah-bocah Latondu ini. Mungkin Pak Presiden harus ke sini untuk melihat penjaga laut cilik ini.

Tawa mereka menghilangkan lelah dan gerah.

Anak-anak hebat Pulau Latondu.
Sepanjang jalanan kampung, kami disapa dengan baik oleh penduduk lokal. Kami melihat model-model rumah kayu sederhana khas Latondu. tapi, rata-rata rumah itu tanpa kamar mandi. Bagi mereka, buat apa toilet, toh air terbentang luas di bibir pantai. Yah, begitulah. Pasokan air tawar bersih sangat tipis di pulau-pulau seperti ini. Mereka memang harus diberi pencerdasan lebih untuk meningkatkan pengetahuan mengenai air bersih. Pasokan air bersih hanya untuk minum.

Ketika berjalan-jalan keliling kampung, ada yang mengusik perhatian kami. Hampir di depan setiap rumah dipajang sebuah bra. Ya, salah satu pakaian dalam wanita ini diikatkan di dahan pohon. Mau tidak mau, kami semua tertawa melihat kebiasaan warga kampung yang aneh ini. Kata guide lokal kami, itu adalah penanda bahwa di rumah itu ada seorang anak gadis yang siap menikah. Usia menikah mereka memang sangat dini. Umur 13 tahun sudah dinikahkan. Hmm... cepat sekali. Usia lulus SMP itu. Setelah kuperhatikan, kami hanya melihat sekolah SD dan SMP. Sementara aku belum melihat adanya SMA di sini. Apa jangan-jangan mereka masih menganut sistem wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan Soeharto? Waduh, sayang sekali kalau begitu. Semoga saja anggapanku salah.

Berseda gurau bersama.

Keliling kampung.

Salah satu hasil laut sebagai bahan pangan warga di Pulau Latondu.

Keliling kampung Bajo dan Bugis.

Anak-anak Pulau Latondu malu-malu mau.
Oiya, Pulau Latondu juga menjadi pusat penangkaran penyu di Kepulauan Takabonerate. Penyu yang sedang dilestarikan adalah jenis penyu sisik yang habitatnya mulai langka. Kami sempat menjenguk beberapa ekor penyu remaja di pos wisata Pulau Latondu. Saat kami ke sana, penyu-penyu sedang melaut. Aku tidak melihat ada tukik di kolam penangkaran. Mungkin memang belum musim bertelur kali, ya.

Setelah melihat penyu, kami pun duduk bersila di belakang sebuah rumah warga untuk meneguk kelapa muda. Segar sekali. Kami bebas meminum kelapa muda ini dengan menenggaknya langsung dari batok kelapanya. Gratis. Nikmat mana lagi yang kamu ingkari kalau sudah begini. Air laut biru, pantai jernih, kampung yang ramah, dan ladang kelapa terbentang. Semuanya ada di Pulau Latondu.

Main-main sama penyu.

Guide kami yang paling baik sedang membuka kelapa satu per satu.
Aku mendapat oleh-oleh dari pulau ini. Sebuah keong besar diberikan oleh guide lokal kami di pulau itu. Baik sekali orang-orang di sini. Yang pasti aku senang berada di tengah orang-orang ramah. Saat kami pulang, puluhan bocah mengantarkan kami ke dermaga dan memberikan salam perpisahan. Dadaah, Pulau Latondu. Semoga kita bertemu lagi.

Dilepas dengan keceriaan mereka.

Panas tapi tetap ceria.

Area wajib wefie.
Berani matahari.

Istirahat di Pondok Kerja Pulau Latondu.
Melihat bawah laut perairan Pulau Latondu,

Related Articles

8 komentar:

  1. Jalan-jalan mulu dah lu, buset. Mending kerja yang giat. biar punya harta. Jadi junet nggak usah kerja, jalan-jalan aja sama anak bukune. #lah, kebalik.. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok lo lebih mempedulikan Juned dibading gue? :(
      Hahahahahah. Lo gak tau sih ini kapan gue ke sananya :p

      Delete
  2. Mau ke takabonerate~ :| kemarin nggak jadi mau kesini~ hiks~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rencanakanlah ke sana. Kalau bisa rame-rame. Di pulau sunyi kayak gini, asyiknya emang rame-rame :)

      Delete
  3. wah mantap bener t4 nya gan...
    wih mahal kagak gan penginapannya dsna??
    aksesnya susah g??
    mana tau ada rezeki buat kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk penginapan tidak terlalu mahal. Yang juara mahalnya itu ya sewa kapal selama di sana. Kita harus rela naik kapal kayu milik nelayan dari Selayar menuju Takabonerate. Dan itu bisa menghabiskan waktu 6 jam sendiri one way.

      Delete
  4. Huaa. daerah kepulauan emang selalu menarik ya, ya ampun. kok keren sih. Aku g tau kalau ada tenpat kaya gini. Latondu bakal jadi listku berikutnya nih. mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, keren banget. Harus banget ke Taka Bonerate ya. Terima kasih sudah mampir, Mas Hanif :)

      Delete