Potret 'Life is Waiting' di Changi Airport

MRT yang kutumpangi berhenti. Malam itu aku dan temanku menginap di Changi Airport lantaran kami harus melakukan penerbangan pagi untuk balik ke Jakarta. Daripada telat, lebih baik menginap. Lagipula Changi sudah cukup ramah dengan survevor, traveler, backpacker macam kami ini.
Saat aku iseng mengambil Changi Airport Guide Book, aku sempat tertawa. Bahkan bandara saja ada guide book-nya. Namun, belum lepas mataku melihat-lihat guide book itu, aku tak sengaja melihat cover belakangnya yang menampilkan beberapa gambar kecil menarik seperti taman kupu-kupu, taman anggrek, dan taman koi.



Hah? Di bandara? Ini bukan promosi tour travel, kan?

Setelah kuamati, benar, fasilitas itu ada di bandara itu. Semangatku terpicu lagi. Kami tidak sabar menunggu jam check in dibuka sehingga kami bisa masuk ke area transit Changi Airpot. Padahal sejujurnya kami sudah sangat lelah berjalan-jalan dua hari penuh mengarungi wisata Singapura. Tapi melihat guide book yang sangat menarik itu, kami membuat trip kecil dadakan dalam bandara berisi tiga terminal itu. Mulai dari mana, ya? Hmm... Let getting lost in airport.

1. Koi Pond



Yang pertama kukunjungi adalah Koi Pond. Saat itu kebetulan aku sedang berada di terminal 3. Letak kolam ikan koi agak tersuruk. Airnya begitu jernih dan puluhan koi yang buntal-buntal berenang dengan bebas di kolam ikan yang lumayan panjang itu. Ada jembatan kecil di tengahnya. Di pinggir kolam, terdapat sofa-sofa seperti kafe sebagai tempat nongkrong, mengobrol, atau sekadar mengisi baterai ponsel. Suara gemericik air membuat kita serasa berada di taman terbuka.

2. Butterfly Garden






Tak jauh dari Koi Pond, kami beranjak ke Butterfly Garden. Kupikir kupu-kupu bohongan, ternyata beneran. Aneka rupa kupu-kupu beterbangan di sebuah taman mini tertutup yang rindang. Ada puluhan spesies kupu-kupu yang beterbangan di taman ini. Aku sempat menjepret 2 jenis di antaranya dengan motif sayap yang berbeda-beda. Berada di dalamnya mengingatkanku dengan taman nasional kupu-kupu di Bantimurung, Sulawesi Selatan. Tamannya berlantai dua dengan air terjun mini di salah satu sudutnya. Kurasa yang menjadikan kupu-kupu ini betah berada di dalam taman mungil ini adalah aromanya. Bunga-bunga yang dibudidayakan di sini menguarkan aroma khas yang bercampur dengan bau daun dan tanah. Wangi alam. Aku aja betah di sini, apalagi kupu-kupu.


3. Movie Theatre



Masih di terminal 3, aku masuk ke bioskop mini dengan wallpaper paduan kuning dan jingga. Movie Theatre ini menayangkan film sesuai jadwal yang tertera di layar depan dekat pintu masuknya. Tayangannya 24 jam nonstop. Aku sempat menonton The Secret Life of Walter Mitty. 
Menyenangkan bukan, nonton film tentang perjalanan di sebuah perjalananmu? Rasanya perjalanan yang kulakukan makin terasa maknanya, bahwa ke mana pun kita berjalan akan ada tempat singgah. Persinggahan akan selalu jadi tempat yang sangat menarik karena singgah tak hanya sekadar mampir. Di sanalah kita memutuskan akan membawa kisah apa saat pulang nanti.


4. Enchanted Garden






Enchanted Garden adalah arena lain lagi di bandara ini. Bunga warna-warni tumbuh dalam wadah seperti buket yang ukurannya besar. Kita seperti disuguhi buket bunga raksas oleh Singapura. Beginilah Singapura menjamu tamunya, sekalipun itu sebatas di bandara. Dan buket itu bukan buket bunga biasa. Buket itu disusun dari ribuan mozaik keramik yang memantulkan cahaya. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapaknya juga memperkuat suasana khidmat kita di hadapan para bunga. Rasanya tidak ingin pergi dari sana. Paduan mozaik dan sensasi saat berdiri di bawah 3 kelopak buket keramik itu, cahaya yang berpendar itu, dan wangi yang menenangkan saraf itu menjadikan taman ini keren. Apalagi di salah satu sudut, kolam koi memperkuat nuansa segar taman ajaib itu.

5. Xperience Zone



Saat kaki mulai pegal mengelilingi bandara ini, aku melihat jajaran bangku sofa di sebuah sudut terminal 2. Ada tulisan Xperience Zone, arena serba digital. Apa lagi ya yang ditawarkan Changi Airport ini? Tanpa pikir panjang, aku duduk di salah satu bangku di depan layar monitor besar. Monitor itu menayangkan acara sepakbola. How come? Andai sedang demam Piala Dunia, bisa kupastikan tempat ini akan sangat ramai. Bayangkan semua pengunjung entah dari belahan negara mana berkumpul dalam satu tempat seperti ini meneriaki kata "Gol! Gol! Gol!". Xperience Zone akan jadi tempat pemersatu pencinta bola. Tak cuma itu, bergeser sedikit dari lahan pencinta bola, aku melihat lahan para gamers. Apalagi kalau bukan layar monitor dan bangku yang nyaman sebagai tempat duduknya. Bangku-bangkunya membuatku tertarik karena bentuknya lebih panjang dan sandarannya juga lebih tinggi. Meski bukan gamers, bolehlah kami menumpang duduk dan bersandar sejenak. Oiya, di sini juga bisa mendesain postcard sendiri, ditambahkan landmark Singapura, lalu dikirim ke rekanan kita via email, memberitahu bahwa kita sedang singgah di sebuah bandara di Singapura. Seru, bukan?






Kami sampai di Orchid Garden. Sepertinya taman ini jadi tempat favoritku. Aku pencinta taman. Dan aku takjub dengan rimbunan anggrek  tropis yang beragam warna dapat tumbuh di tengah-tengah bandara ini; anggrek ungu, putih, kuning, jingga, dan sebagainya. Anggrek melambangkan kecantikan yang sempurna dan awet. Menunggu bisa membuat kita tua di jalan. Tapi dengan adanya anggrek ini kita kembali berpikir bahwa anggrek saja butuh waktu lama untuk menampakkan keelokannya, kenapa kita tidak mampu menjadi orang yang sabar? Hmm, nice place to get reflection.


6. TV Longues

Yuk, kembali beristirahat di TV Longues. Aku tidak bosan berkeliling bandara lalu kembali duduk di sofa-sofa TV Longues ini. Meski serial yang ditayangkan tidak kumengerti karena serba random, duduk untuk berselonjor kaki cukup membuat tenaga kembali pulih. Menonton TV sendiri sebenarnya adalah pilihan. Andai punya waktu lebih lama, tentu aku akan mengutak-atik tayangan dari TV tersebut dan bisa menikmati salah satunya tayangannya.


7. Kinetic Rein






Saat mendekati waktu keberangkatan, aku melewati Kinetic Rain. Keajaiban apalagi yang ditawarkan Changi Airport? Permainan tetesan hujan menjerat mataku. Polanya yang berjatuhan menyerupai air hujan tidak serta merta runtuh dan jatuh ke lantai. Kinetic Rain ini adalah area tempat kita bisa melihat hujan sedang menari dan pamer pada kita. Kinetic rain memperlihatkan rinai hujan yang melepas kerinduan. Saat kita menunggu, seperti di film-film dan sinetron, melihat hujan di balik jendela menjadi pose fovorit para sineas. Kekeluan, kepiluan, kesepian, kerinduan rasanya ingin dilarutkan dalam tetesan hujan, apalagi tetes yang menempel di kaca. Kinetic Rain ini justru membaurkan kebosanan kita akan penantian. Dan memang tak terasa, pesawatku sudah memanggil. Aku berpamitan pada Kinetic Rain. Kapan-kapan aku akan kembali lagi, Changi Airport.

4 komentar:

Hal Tercecer dan Tercermati di Papandayan

Hal yang membuatku ternganga di Papandayan...

Weekend 21-22 Maret 2015, lihat apa yang kutemukan saat hiking ke Gunung Papandayan!

 Saat awal pendakian, kami mendapati puluhan bahkan ratusan pendaki di terminal Guntur. Dan, ternyata semenjak subuh, sudah ada sekitar 30 pick up yang mengantar pendaki ke Camp David, lokasi pendakian dimulai. Berarti ada ratusan pendaki yang naik hari itu. How come? Gunung sudah bukan lagi spot untuk menyepi ternyata.



Lihat, kan? Begitu banyak pendaki Sabtu pagi itu.

  • Begitu sampai lokasi camp di Pondok Salada, tenda warna-warni sudah berdiri dan ramai pendaki. Inilah alasan mengapa gunung ini ditutup tiga bulan terakhir. Terlalu banyak pendaki dalam satu waktu bisa merusak ekosistem alam. Dan gunung butuh bernapas untuk meregenerasi ekosistem makhluk hidup di sini. Pondok Salada ini sudah menjadi padang lapang berlapis tanah. Padahal dulunya, kata temanku yang rutin menjenguk Papandayan tiga bulan sekali, Salada itu penuh rumput diselingi beberapa rimbunan edelweis. Lha, yang sekarang kulihat, Pondok Salada tak lebih seperti lokasi camp macam Bumi Perkemahan Cibubur.

Bumi perkemahan
Persami


  • Ada toilet umum serta warung kecil yang melengkapi kebutuhan manusiawi kami. Itu artinya, sampah akan ada di mana-mana. Deterjen akan menggenangi tanah di Pondok Salada ini. Aku khawatir, dalam beberapa tahun ke depan, Gunung Papandayan akan jadi objek wisata keluarga. Astaga!
Antrean toilet

Dipungut biaya untuk yang mengambil air di pancuran dan buang air di toilet

Ada pancuran air yang langsung dialirkan dari sungai, memudahkan kita menyetok air minum dan mencuci piring (with detergen)

0 komentar:

Papandayan, Beradu Cerita yang Tak Pernah Habis

Menghabiskan weekend di gunung bisa menjadi cerita menarik. Kenapa? Karena kelelahan, kelaparan, kedinginan bisa jadi topik tak pernah habis bersama rekan seperjuangan pendakian. Kekonyolan berpayung di dalam tenda karena bocor, kebodohan menyembunyikan stok snack, dan tidur sempit-sempitan di tenda akan berakhir pada kisah yang selalu dibahas saat kita sampai di peradaban kota kembali. Itulah yang terjadi pada kami, segenap Klub Horor Bukune yang mengadu nasib selama 2 hari di Gunung Papandayan (20-22 Maret 2015).

Menatap lembah di Papandayan
Kami bukan pendaki handal. Kami hanya sekumpulan anak-anak iseng yang hobi jalan lalu membersitkan ide untuk naik gunung. Ini pertama kalinya aku ke Papandayan setelah vakum naik gunung beberapa tahun terakhir. Perjalanan ini tak berarti apa-apa jika editor kami, Ry Azzura tidak mencetuskan rangkaian program Klub Horor Bukune "Takut Itu Nyata" yang mulai dikampanyekan awal tahun 2015. Ya, naik gunung adalah salah satu acaranya. Ini adalah uji nyali. Ets, tapi bukan uji nyali ketakutan, melainkan uji nyali fisik selama pendakian. Apalagi salah satu buku horor yang kami tulis adalah tentang horor pendakian (Penunggu Puncak Ancala), belum afdhol rasanya jika pendakian ini tidak masuk list Klub Horor Bukune.

Setelah woro-woro di social media dan beberapa kali rapat dinas para penulis yang sengaja dikumpulkan editor Bukune, terangkumlah 10 orang yang berangkat naik gunung. Empat penulis, dua editor, dan empat pembaca terpilih. Fix, weekend lalu aku habiskan di gunung bersama mereka. Tos ransel! Rasanya menemukan dunia baru saat berjalan bersama mereka. Kamu tahu, berjalan bersama kaum peminat horor, tema obrolan memang sedikit agak creepy.


Trek kasar penuh batu di Papandayan


Kami berangkat!

Walaupun tagline kami adalah "Takut Itu Nyata", bukan berarti pendakian Papandayan ini adalah perjalanan tur horor. Tidak. Tidak sama sekali. Dalam kegiatan ini, yang jadi hal paling mutlak adalah bagaimana rasa takut itu mengikat kebersamaan kami, apalagi dalam pendakian yang jauh dari kota, toilet, kasur yang serba nyaman.


Perjalanan dimulai dari Terminal Kampung Rambutan pada malam Sabtu (hampir tengah malam). Dan, kala itu, hujan mengguyur Jakarta. Tapi tak sedikit pun kami mengurungkan niat untuk berangkat. Sempat panik dan khawatir, tapi saat kamu berjalan bersama peminat horor, hujan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Percayalah, banyak hal yang lebih horor dari sekadar air yang jatuh dari langit.

Tepat saat subuh, bus yang kami tumpangi merapat di Terminal Guntur Garut. Ngantuk dan pengin mandi rasanya. Tapi apa daya, udara Garut sungguh dingin. Kami lantas hanya bebersih sekadarnya, touch up, semprot wewangian, isi perut, lalu mulai tancap gas naik pick up ke kaki gunung Papandayan. Tanpa jargon khusus, kami siap melakukan pendakian pagi itu.

Berkumpul bersama di Camp David sebelum nanjak

Trek yang terjal dan penuh batu


Kami berjalan beriringan dan mengobrol tentang apa saja yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa lelah. Syukurlah cuaca cerah, jadi napas pun tak menyerah menatap ketinggian di hadapan kami.

Kami berjalan tanpa harus diburu-buru, berhenti saat capai, mencamil stok snack saat lapar, serta foto-foto di setiap titik indah yang kami lihat. Semuanya indah dan semua pula ingin mengabadikan. Ternyata Klub Horor Bukune ini sungguh pencinta selfie dan groufie. Jepret sana, jepret sini. Dan, lihatlah tampang kami, ceria-ceria, bukan? Jarang ada yang meringis padahal kaki mulai rontok.

Klub Horor Bukune di Papandayan

Tujuan pertama kami adalah kawah baru Papandayan, sebuah kawah kecil yang muncul akibat letusan pada tahun 2004. Tak banyak pendaki yang mengetahui lokasi kawah ini. Trek kami memang sedikit berbelok ke kiri saat pendaki lain berjalan lurus ke atas. Meski lokasinya terbilang sulit ditempuh--harus menyeberangi sungai, melewati lembah, dan  mendaki bukit penuh batu--kami sampai di danau kawah baru sebelum tengah hari. Itu baru setengah jalan, lho, tapi kok rasanya sudah ngos-ngosan? Untung saja, pemandangan kawah baru itu sungguh menenangkan. Meski terik, angin menyamarkan keringat kami. Beberapa bungkus mi instan habis dilahap bersama sambil menikmati danau belerang di hadapan kami. Suasananya pas untuk melepas lelah sejenak.


Danau kawah baru Papandayan

Ada yang lagi yoga di pinggir danau kawah :D

Menatap kesunyian


Trek mulai berat menjelang Pondok Salada di dua jam berikutnya. Lebih terjal, bersemak, dan licin. Tanjakan tak ada habisnya. Kami melewati area penuh asap dengan bau belerang yang tajam. Kami juga menyeberangi sungai air panas. Lalu, kapan sampainya? Balada kelaparan juga kembali melanda. Camilan kue kering tak mempan. Kami butuh nasi. Dasar orang Indonesia, belum kenyang kalau belum makan nasi. Tapi yang menggembirakan adalah sebentar lagi kami akan berjumpa lokasi camp dan bisa beristirahat. Itu satu-satunya pemicu kami untuk tidak berhenti.

Tanjakan bekas longsor

Tanjakan yang rasanya tak habis-habis


Sebenarnya agenda setelah makan siang yang terlambat di tenda adalah hiking santai ke Tegal Alun--teras gunung dengan padang rumput penuh edelweis. Tapi hujan mengguyur Pondok Salada hingga malam. Rencana hiking gagal total. Kami hanya bisa mendekam di tenda tanpa bisa membuat api unggun. Yang bisa dilakukan hanya saling melempar lelucon, sharing cerita, menertawai kebodohan sambil menyeduh kopi hangat. Karena tak ada tanda-tanda hujan berhenti, begitu gelap datang, kami memutuskan tidur lebih cepat.

Alhasil pagi pun terasa lama menjemput. Setiap tiga jam sekali, editor kami meng-absen. "Sudah pukul berapa?" Dan, memang, waktu berjalan teramat sangat lambat. Aku sempat mengintip bintang yang bertaburan. Tapi kuurungkan niat untuk keluar tenda. Suhu udara yang rendah membuatku memilih lebih baik meringkuk di dalam sleeping bag saja. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain tidur.

Ritual minggu pagi adalah bermalas-malasan. Eh, tapi, ini kan di gunung. Tentu saja kami harus menyempatkan diri melihat indahnya matahari terbit. Kubuang rasa malas itu. Dengan jari-jari beku, sebagian dari kami berjalan ke titik sunrise di Guberhood. Sisanya, sih, memilih bergelung di dalam tenda. Meski masih tertutup awan mendung, cahaya matahari sayup-sayup muncul. Panorama lembah di bawah kami jadi pemandangan yang cantik. Embun membasahi setiap daun di sela-sela kaki kami berdiri. Setelah hujan semalam, baru ini kehangatan yang kami peroleh. Tenang, tentram, dan syahdu pagi itu. Inilah yang membuatku rindu pada Papandayan. Dan, ini pula keramahan yang ditawarkan pegunungan pada kita.

Kalau kata Ry Azzura, "Pemandangan dari atas adalah obat lelah paling ampuh."
Dan, here we are. Kami benar-benar berada di atas. Rasanya, lelah pendakian belum ada apa-apanya dibanding suguhan pemandangan tanpa cela ini. Sinar mataharinya, segar udaranya, tetesan embun di dedaunan, mengendap dan akhirnya tercerita di sini.


Matahari muncul dibalik dedaunan

Langit biru berpadu ungu

Berjemur


Panorama pagi



Belum lagi taman edelweis yang kami lewati saat perjalanan turun. Tanaman ini tumbuh berkelompok-kelompok. Ini adalah satu-satunya pemandangan yang tak akan pernah kita lihat di dataran rendah. Katanya bunga ini adalah lambang keabadian, tapi buatku bunga ini lambang perjuangan. Untuk melihat keindahannya butuh keringat dan perjuangan.

Sayang, kini taman itu sudah tidak lagi rimbun. Bunga abadi di Papandayan kini mulai terkikis. Seharusnya kita sadar, bunga ini cukup dinikmati keindahannya. Dia hanya akan indah di atas gunung. Tidak untuk dibawa turun lalu ditaruh dalam pot di depan rumah. Tidak. Itu bukan tempatnya. Be smart, hiker.

Taman Edelweis

Edelweis yang mulai terkikis
Selanjutnya kita juga akan menemui hutan mati alias deadforest atau aku menyebutnya darkforest karena penuh kabut. Hutan ini telah menjadi landmark Papandayan. Belum afdhol kalau belum melewati Hutan Mati itu. Berada di hutan mati serasa berada di film-film epik peraih Oscar. Kabut diselingi pohon-pohon tak berdaun dan retakan-retakan tanah yang berwarna kuning. Ada danau lumpur belerang di tengah-tengahnya. Andai tidak hujan, mungkin kami akan mengeksplor hutan mati itu lebih lama. Berkabut dan suram. Cocok sekali sebagai lokasi pembuatan video horor. Ups. Suasananya creepy, senyapnya beda, apalagi ditambah selingan serigala mengaum dari kejauhan. *Hanya saran*

Hutan mati adalah spot terakhir kami dalam agenda susur Gunung Papandayan. PR berikutnya adalah turun gunung bersama hujan. Jangan dikira turun gunung itu gampang. Treknya lebih curam dengan lembah kawah yang siap menampung kita kalau sedikit saja tergelincir. Uji nyali juga, nih. Pelan tapi pasti, kami melangkah beriringan. Kelenturan dengkul dan kekuatan pergelangan kaki menanggung bebas tubuh dan carrier akan lebih teruji saat kita turun, bukan saat naik. Tak ada kata istirahat karena hujan lumayan deras. Kalau berhenti, aku khawatir tubuh ini beku karena kedingingan kena angin gunung.

Hutan Mati Papandayan
Danau lumpur hutan mati

Menembus kabut
Lereng Papadayan

***
 
Pendakian Klub Horor Bukune sukses mendulang perhatian para pendaki lain. Spanduk kami yang suram dengan sayup-sayup bayangan hitam membuat orang-orang penasaran. Ini klub macam apa? Ini perkumpulan apa? Padahal kami cuma sekumpulan penulis dan pembaca terpilih yang didampingi oleh sang editor Bukune. Untuk apa kami melakukan perjalanan sejauh ini? Ya, untuk berkumpul seru. Jarang sekali, kan, ada ajang temu penulis dan pembaca dalam satu minat?!

Sebuah perjalanan akan menambah kedekatan emosi si pejalan. Sebuah pendakian akan menambah kedekatan kita pada emosi yang menstimulus hadirnya cerita. Tanpa cerita, kami tak berarti apa-apa. Tanpa cerita, orang tak akan tahu keseruan mengikuti outdoor activity Klub Horor Bukune. Siapa yang menyangka ini semua jadi nyata? Semacam Takut Itu Nyata. Ya, nyata. Lalu kebersamaan adalah obatnya. Ini baru satu bagian dari cerita kami, Klub Horor Bukune.

Salam,
Takut Itu Nyata.

Salam dari Papandayan
Bersama kami dalam pendakian >> Indra Maulana, Ry Azzura, Dea Sihotang, Retty Tania, Irsyad Zulfahmi, Arie Je, Badru Alwahdi, Junisatya, Novia

8 komentar:

Road to: Tur Papandayan Penulis Horor Bukune

Bermula dari pertemuan kami di sebuah acara Kumpul Penulis Pembaca (KPP) yang diadakan Gagas Media Group Desember 2014 lalu, kami semakin sering berbagi. Sekumpulan penulis horor, mulai dari senior hingga yang masih anak bawang (jangan tanya siapa, karena itu aku), berkumpul bersama. Ini bisa jadi moment epik karena ternyata kami ini berbagai rupa. Beragam cerita selalu mewarnai pertemuan kami. Kenapa aku menyebut diriku anak bawang? Ya, mungkin di antara semuanya, aku yang nggak suka nonton film horor. Ternyata cita rasa horor itu bisa datang dari mana saja: pengalaman, film, Novel, cerita orang, legenda, mitos. Dan dari sanalah ide-ide kami berasal.


Ketika Bukune mengumpulkan penulis horor, tentu kami bahagia karena akhirnya punya wadah diskusi horor sesama penulis. Sejak KPP 2014 lalu, kami jadi sering bertemu dan melakukan proyek bareng.

Lalu, terbersitlah kalimat TAKUT ITU NYATA dari editor kami. Ini adalah bentuk kampanye horor yang ingin dan sedang digaungkan oleh Bukune sepanjang 2015. Dan tentu saja itu dimulai dari kami, Klub Penulis Horor Bukune. Mulanya memang tak serius, tapi kenapa tidak diseriusi? Toh, katanya Bioskop Horor yang pernah jadi segmen khusus kami di KPP 2014 lalu sukses dibicarakan di jejaring sosial. Kenapa tidak mencoba acara serupa? Toh juga, kami ini kan penulis horor yang senang bergembira. Jadi, tak masalah.




Lalu, awal tahun ini kami merancang agenda bulanan Klub Horor Bukune "Takut Itu Nyata". Dan, mulailah bulan Maret ini. Kami akan melakukan kegiatan outdoor. Bukan uji nyali, kok. Bukan pula menakut-nakuti. Kami hanya ingin camping di Gunung Papandayan, tanggal 20-22 Maret 2015.

Ide ini terlontar begitu saja saat hasrat ingin liburan muncul. Setelah berdiskusi dengan editor Ry Azzura, kami merencanakan kegiatan outdoor yang menantang. Sekali lagi bukan menantang nyali, melainkan menantang kekuatan fisik. Kebetulan juga, beberapa penulis horor Bukune mengangkat cerita perjalanan dan memang suka berjalan-jalan, kenapa tidak mencoba naik gunung bersama? Rasanya malu, saat kamu menulis buku tentang perjalanan, lalu kamu sudah tidak lagi melakukan perjalanan itu, bahkan sekadar menghabiskan waktu bersama penulis, kan? Apalagi sejak aku menulis beberapa kisah di Penunggu Puncak Ancala (2013), aku belum melakukan pendakian lagi. Dan, tentu saja aku merasa tertantang ketika ide naik gunung ini muncul. Sudah lama sekali aku tidak hiking ke gunung.


Papandayan menanti kami. Kami mendata siapa saja penulis dari Klub Horor Bukune yang bersedia ikut. Tentunya dua editor Bukune siap menemani langkah ini. Indra Maulana (penulis Penunggu Puncak Ancala) yang suka melancong siap siaga menjadi ketua perjalanan ini tanpa ada pungutan suara. Selebihnya, perjalanan ini dibuka juga buat hanya beberapa pembaca yang terpilih. Lebih dekat dengan  penulis horor Bukune takkan membuatmu ketakutan. Takut memang bukan ilusi, takut itu ada. Dan, lewat tulisan, lewat perjalanan, lewat acara-acara kami, kita akan menyadari bahwaTakut Itu Nyata.


Event Takut Itu Nyata yang pertama ini adalah Tur Misteri Penulis Horor Bukune di Gunung Papandayan. Tak perlu banyak-banyak, bersepuluh, karena kami sebagian besar hanyalah pendaki amatir.

And, we're ready to go.
Tunggu cerita kami setelah kembali dari gunung.


0 komentar: