Penunggu Puncak Ancala Hadir Versi eBook

Setelah lebih kurang 2 tahun, Penunggu Puncak Ancala ada di toko buku, kini buku horor dalam pendakian ini hadir dalam versi eBook.

Unduh Penunggu Puncak Ancala di Playstore

Karena nggak mau ketinggalan tren baca buku dalam smartphone atau tablet, Bukune menghadirkan inovasi ini untuk para pencinta baca. Versi eBook ini akan membuat buku itu abadi dalam digital karena versi cetaknya sungguh terbatas. Nah, jadi tidak ada alasan kalau kamu kehabisan di toko buku, kita bisa menemukan Penunggu Puncak Ancala di Google Book. Yap, tinggal search judul buku ini di Playstore dan unduh langsung. Harganya relatif lebih murah dari versi cetak.

Membaca eBook itu sungguh simple dan nggak perlu takut kelupaan halaman. Google akan merekam pergerakan baca kita sehingga begitu kita lanjut baca di Play Books, akan langsung terbuka halaman yang terakhir kita baca. Nggak repot, kan. Yang lebih yahud lagi, tidak ada yang kurang dari desain layout Penunggu Puncak Ancala versi cetak. Semua sama. Ilustrasinya tetap bikin kita meringis seram lengkap dengan halaman berwarna putih dan hitam.

Cover Penunggu Puncak Ancala
Ilustrasi dalam.
Halaman berwarna hitam.
Halaman berwarna putih.
Ilustrasi dalam.
Tetap ada cover belakangnya, lho.

Tapi ada kabar gembira nih. Dari tanggal 16-30 Juni ini Penunggu Puncak Ancala dapat diunduh GRATIS di Playstore. Jadi manfaatkan promo ini, ya. Lumayan kan ada bacaan peneman buka puasa. Horor dikit, tapi dapat mengalihkan perhatian dari rasa haus dan lapar dalam berpuasa. Nggak ngebatalin puasa kok.

Kalau udah selesai baca, ada notifikasi seperti ini. Keren, kan?!

Setelah diunduh dan dibaca, jangan lupa beri rate, ya.

Selamat membaca.

Salam Ancala!

Salam Ancala!
Sejumput Quote Penunggu Puncak Ancala.

0 komentar:

Takabonerate Trip: Geliat dan Gelutan Bayi Hiu di Pantai Pulau Tinabo

Waktu membaca itinerary perjalanan ke Kepulauan Takabonerate, aku menggarisbawahi kalimat "bermain dengan babyshark".
What? Are you crazy? Kalau ada baby hiu di pantai, berarti induknya tidak jauh dari sana. Ini liburan atau uji nyali???

Ternyata temanku tidak bercanda.


Anak-anak hiu itu beneran ada di pantai Pulau Tinabo. Nggak perlu dipancing pakai darah, kok. Mereka akan selalu nongkrong di pantai di depan homestay kami yang menghadap ke barat. Ternyata mereka sedang lapar, menanti kami memberi makan ikan-ikan kecil.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan bayi hiu di pantai. Di Pulau Gusung Kepulauan Derawan juga ada bayi hiu nongol, tapi nggak sebanyak ini. Ini sih bayi hiu lagi demo namanya.

Pagi pertama kami di Pulau Tinabo kami habiskan dengan bermain di pantai bersama anak hiu. Guide kami sudah siap dengan sepiring ikan kecil mentah yang dipotong-potong. Kami segera menghampirinya dan berdiri di dalam air. Saat kami mencelupkan satu potongan ikan, para hiu mungil itu mendekat. Mereka berkumpul mengelilingi kaki kami. Bayi hiu yang mengitari pantai di Pulau Tinabo ini termasuk spesies blacktip shark alias hiu bersirip hitam. Induknya ada di sekitar sana, kok. Lebih tepatnya di laut yang menghadap ke timur. Tapi, ya mereka nggak bisa memasuki pantai karena tubuh mereka sudah lebih dari dua meter.






Jadi, sejarahnya, anak-anak hiu ini bermain di dermaga Tinabo, beberapa meter dari garis pantai. Namun, saat para penjaga pulau sering membersihkan ikan di pantai, si bayi hiu mencium aroma sedap darah segar. Dan, akhirnya mereka terbiasa untuk mampir buat sarapan di pantai. Untung saja induknya nggak ikut-ikutan. Biasanya saat bayi hiu tumbuh besar, dia akan menjauh dari Tinabo dan berenang ke perairan terluar Kepulauan Takabonerate karena di situlah populasi mereka bersama ikan-ikan besar yang lain termasuk lumba-lumba.

Bermain dengan hiu itu rasanya ngeri-ngeri sedap. Sebenarnya saat masih bayi begini, mereka masih ramah dan manja. Mereka memutari kaki kami dan dengan sengaja menyundul pelan. Deg deg ser. Ah, tapi jangan takut. Giginya belum tumbuh. Bahkan saat bermain dengan mereka, sekilas aku melihatnya seperti ikan lele dalam ukuran yang agak lebih besar. Bagian mulutnya bundar seperti lele. Yang membedakan hanya sirip segitiga yang menonjol di punggung.

Selama masih bayi, gelutan dan geliatnya di dalam air begitu menggelikan. Tapi lihat jika tubuh mereka membesar. Mereka akan lupa dengan siapa mereka pernah bermain di pantai sebelumnya.



0 komentar:

Takabonerate Trip: Bersantai sambil Menatap Pantai di Pulau Tinabo

Pernahkah kamu tinggal di pulau yang tak berpenghuni? Kalau belum, coba ambil ransel dan berliburlah ke Kepulauan Takabonerate, destinasi antimainstream karena lokasinya yang superjauh dari peradaban kota. Temukan Pulau Tinabo di peta destinasimu.



Liburan seru di Pulau Tinabo, Takabonerate.

Pulau Tinabo Besar

Pose di depan tugu Tinabo Island


Di Takabonerate, Pulau Tinabo terbagi dua: Tinabo Besar dan Tinabo Kecil. Nah, yang kami tempati adalah Tinabo Besar. Pulau Tinabo kecil tidak berpenghuni dan letaknya tepat di seberang barat Pulau Tinabo Besar. (Penjelasan tentang Tinabo kecil ada di sini)

Pulau Tinabo jadi satu-satunya pulau yang dijadikan tempat menginap para penjelajah Kepulauan Takabonerate. Sebenarnya ada perkampungan Bajo di Pulau Latondu yang bisa menjadi alternatif penginapan buat yang ingin merasakan hidup bersama penghuni laut Sulawesi. Tapi Tinabo yang kosong ini tentu punya pesona tersendiri. Apalagi cuma ada tujuh penginapan berupa satu homestay besar dan beberapa losmen. Menjadikan pulau ini tenang.

Penginapan di Pulau Tinabo.

Kenapa aku bilang pulau ini sangat jauh dari peradaban kota? Untuk mencapai Pulau Tinabo yang menjadi primadona pulau di Kepulauan Takabonerate, butuh stamina ekstra kuat dan jiwa backpacker yang rela naik kapal motor kecil selama minimal 6 jam. Jika di Indonesia, Pulau Tinabo ini belum banyak dikenal, ternyata orang-orang Barat telah lebih dulu familiar. Seorang guide bercerita kepada kami bahwa ada pasangan dari Belanda yang mengabdikan hidupnya untuk traveling, suatu hari berlayar ke Pulau Tinabo naik kapal pesiar pribadi. Mereka membawa peta sendiri dan tergambar jelas Pulau Tinabo di antara pulau-pulau yang menjadi penunggu taman bawah laut lain di Indonesia. Mereka datang bukan dari Sulawesi. Mereka dari Raja Ampat dan mampir ke Tinabo untuk diving. Setelah itu mereka akan lanjut ke Flores. Penjelajah sejati memang. Dan, saat guide kami bercerita, aku merasa malu bahwa kenapa orang bule berani sampai ke Tinabo, sementara kita bahkan belum familiar dengan nama Tinabo.


Pantai Tinabo yang menghadap ke barat.


Untuk saat-saat ini pengunjung Kepulauan Takabonerate masih dibatasi. Kebetulan sekali pada saat kami ke sana, rombonganku menjadi satu-satunya penghuni Pulau Tinabo, bersama tim guide dan penjaga pulau. Serasa private island, bukan? Pantai milik kami sepenuhnya. Kita bebas untuk teriak, berjumpalitan, lari keliling pulau. Free. Asal jangan buang sampah sembarangan aja.

Nongkrong di jembatan dermaga di depan Pulau Tinabo.

Jumpalitan bersama teman.
Pulau Tinabo ini tidak terlalu besar sehingga sangat memungkinkan kami untuk berkeliling di atas pasir pantai yang putih dan bersih. Bahkan pasir yang putih itu masih terlihat di balik kebeningan air laut yang menyentuh kaki kami.

Saat menyusuri sisi pantai yang menghadap ke timur, ada daratan pasir yang menjorok ke laut dan melengkung. Nah, di daratan itu partikel pasirnya lebih kasar karena berasal dari pecahan karang yang sudah melebur dengan pasir. Meski pecahan karang, wujudnya tak seperti sampah. Karang itu telah terbawa ombak dan terdampar di Pulau Tinabo dalam bentuk serpih-serpih kecil sebesar merica. Sekilas tak terperhatikan, tapi saat diinjak, terdengar suara berderuk. Butirannya lebih kasar daripada pasir. Pantas saja, kalau bertelanjang kaki, lumayan, nih, buat refleksi pagi-pagi.
Keistimewaan lain di Pulau Tinabo adalah kita bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam di satu titik dengan hanya tinggal membalik badan. Pulau ini memberikan momen twilight itu terasa sempurna. Saat matahari terbit, semburat-semburat keemasan menyentuh gumpalan awan di langit.

Sisi pantai yang menghadap ke timur.

Sunrise dengan gumpalan awan.

Bersantai di atas pasir pagi-pagi pas untuk relaksasi.

Menatap bias jingga.

Para pencinta matahari terbit.

Kegiatan pagi hari di Tinabo adalah menunggu bayi hiu mampir ke pantai. Sebenarnya tak cuma hiu yang ada di pantai ini. Ikan pari juga ada tapi dia lebih suka bersembunyi di balik karang di bawah dermaga. Setelah membagi-bagikan sarapan ke bayi-bayi hiu itu, saatnya kami yang sarapan. Di antara penginapan, terdapat ruang makan sederhana tapi nyaman. Menu sarapan kami sudah tersedia di sana. Ini bagian dari kenyamanan penginapan yang ditawarkan oleh Tinabo. Karena lingkungan pulaunya yang sunyi, kami lebih leluasa menetap di sana.

Kenyamanan yang ditawarkan Tinabo sebagai resort tentu saja menjadi nilai plus yang membuat kami betah berlibur. Selain pantainya yang tenang dan bersih, ada dermaga yang panjang. Kapal motor kami biasanya diparkir di ujung dermaga. Kedua, homestay yang kami tempati berupa rumah panggung dengan atap khas rumah Bugis. Di rumah panggung ini terdapat teras lebar yang memungkinkan kami bersantai sambil menatap pantai.

Berada di antara pantai dan dermaga.

Homestay yang kami tempati.
Dive centre di Pulau Tinabo.

Sarapan bersama di pondok makan dive centre Tinabo.

Keindahan Pulau Tinabo tak cukup dirasakan saat siang hari. Malamnya kami menikmati angin darat yang tenang, laut tak berombak, dan bintang yang berserak begitu saja di langit. Udara malam sangat tenang. Bahkan, tiduran di teras rumah pun bisa jadi alternatif beristirahat tanpa takut masuk angin. Rasanya malam sungguh bersahabat, temaram, dan damai. Ombak pun hanya serasa menggelitiki kaki. Yang luar biasa memang lukisan bintang yang bisa dipandangi sepuasnya. Tak ada malam yang senyaman malam di Tinabo jika liburan pulau begini.

Malam hari di homestay.
Kata orang, rengkuhlah duniamu, rasakan kelembutan pasir putih terhampar dan panasnya matahari membakar kulitmu. Kamu akan melihat kenikmatan dan kepedihan itu menyatu. Lalu rasakan rindu malam memagut tubuhmu hingga lukisan langit mampu menjadi pengantar mimpi hingga pagi hari. Kita akan tahu bahwa saat pulang, kita akan merindukannya.

Berjemur di dermaga Tinabo.

Pose di dermaga Tinabo.

10 komentar:

Sensasi Perjalanan ke Takabonerate, Sulawesi Selatan

Ada pesona tersembunyi lain yang terletak di laut Indonesia: Taman Nasional Bawah Laut Takabonerate. Di sinilah surga karang aneka rupa terbentang di bawah laut kita. Tentu banyak yang belum tahu. Untungnya aku anak yang kadang-kadang antimainstream. Di saat semua orang ke Wakatobi, aku malah milih ke Takabonerate. Di manakah itu?

Pulau Tinabo, salah satu pulau di Takabonerate

Jangan ditanya! Yang namanya surga, pasti sulit ditempuh. Harus rela bersusah-susah dalam perjalanan. Kamu tahu Laut Flores, kan? Nah, Kepulauan Takabonerate ada di Laut Flores bagian utara. Butuh 18 jam perjalanan dari Kota Makassar untuk sampai ke sana. Buatku, ini adalah petualangan panjang mengarungi laut. Kalau mabuk laut, mending siapkan mental, ya. Buat yang phobia laut, mungkin perjalanan ini sangat tidak disarankan.

Kami berangkat dari Makassar pukul 3 dini hari menuju Tanjung Bira, Bulukumba. Jalur darat ini kami tempuh selama 5 jam. Lumayan, bisa tidur di mobil buat menghemat tenaga. Kami sempat mampir di Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng untuk meluruskan kaki sekaligus menikmati pagi. Memang tak lama. Kami harus mengejar kapal yang berangkat dari Bira ke Pulau Selayar pukul 9 pagi. Yes. Di sinilah perjalanan laut tak berujung dimulai.




Pagi di Pantai Seruni
Kapal dari Tanjung Bira ke Selayar cuma 2 jam. Tapi menunggu kapalnya datang juga PR banget karena panas pagi begitu menyengat di sana. Untung saja, begitu kapal datang, kami langsung menyerbu masuk dan menemukan ruang VIP. Kami butuh suhu rendah untuk menghapus keringat. Dan, lagi-lagi, dalam 2 jam di kapal, kami tidur (lagi) hingga kapal merapat di Pelabuhan Pamamata, Selayar. Bangun-bangun, kapal sudah merapat di Pelabuhan Pamamata. Yeay. Saatnya perjalanan dilanjut melalui jalur darat ke Kota Benteng tempat kami makan siang, 30 menit dari pelabuhan.

Pelabuhan Tanjung Bira

Di kapal menuju Selayar
Tengah hari di Kota Benteng menjadi awal mula kegosongan kulit. Matahari terik sekali. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Patumbukan dalam 2 jam jalur darat. Harus joget disko di dalam mobil karena jalan yang tidak rata dan berliku-liku. Kalau di peta, kami menelusuri Pulau Selayar dari ujung utara ke ujung selatan. Di pelabuhan kecil Patumbukan ini, perahu kayu yang kami sewa sudah menunggu.
Kami siap berlayar ke Kepulauan Takabonerate!



Pelabuhan Patumbukan, Selayar


Memulai perjalanan di perahu kayu
Perahu motor siap berlayar.
6 jam perjalanan laut, sudah biasa buatku. Tapi 6 jam berada di perahu kayu? Ini pengalaman baru, bahkan bagi semua teman-teman trip-ku. Mulanya kami antusias. Jepret sana, jepret sini, padahal panas sore cukup menyengat di perahu tak beratap itu. Kami bisa melihat banyak ikan terbang (sampai saat ini aku tidak tahu nama spesiesnya apa). Lalu kami juga berjumpa dengan beberapa lumba-lumba yang melompat berlawanan arah dengan perahu kami. Coba searah, mungkin mereka akan menunjukkan atraksi sore hari di lautan mengiringi perahu. Sayang sekali.


Semangat menurun setelah lebih dari satu jam perjalanan. Kami pun selonjoran dan tidur dengan life vest sebagai bantal. Angin mulai terasa agak kencang dan ombak menjadi tinggi. Tidak membahayakan, kok. Kami tidur karena mati gaya. Berniat bangun saat sunset. Tapi yang ditunggu tak kelihatan karena tertutup awan. Yasudah, kami lanjut tidur hingga langit gelap.

Malam tak lantas memberikan kegelapan. Begitu membuka mata, bintang bertaburan. Serasa berada di Planetarium. Banyak sekali gugusan bintang membentang. Ini gugusan bintang paling rimbun yang pernah kulihat. Beberapa kali kulihat bintangnya bergerak. Apa itu yang dinamakan bintang jatuh? Kurasa iya. Sangat indah. Saking indahnya, memudarkan kebosanan kami berada di perahu itu.

Kami sampai bertanya-tanya, bagaimana nahkodanya menentukan arah, ya? Mereka tidak menggunakan kompas. Hanya bermodal senter, satu orang berdiri di ujung perahu bagian depan untuk menunjukkan jalan. Sungguh hebat pengetahuan mereka tentang laut. Ilmu pengetahuan yang kita dapat di sekolah tak cukup untuk mengetahui sampai ke tingkatan ini.

Satu jam terakhir sebelum sampai di Pulau Tinabo, perahu melambat. Kami sudah memasuki wilayah banyak karang. Perahu harus pintar mencari celah di antara karang agar tidak karam.

FYI, Takabonerate sendiri berasal dari Taka yang artinya batu (karang), Bone artinya pasir, Rate artinya di atas. Jadi Takabonerate itu batu atau karang di atas pasir. Puitis banget, ya. Batu di atas pasir ini dimaksudkan pada kepulauan yang terdiri dari pulau karang. Itulah sebabnya Takabonerate itu disebut atol yang terbesar nomor tiga di dunia setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Sounds good, yeah?!

Karena kapal mulai melambat, berarti inilah perairan Takabonerate yang penuh jebakan karanng. Pulau Tinabo sudah dekat. Homestay sudah memanggil. Aku butuh kasur. 18 jam perjalanan itu sungguh melelahkan.

Homestay di Pulau Tinabo


Eits, tapi jangan berekspektasi lebih selama di sini. Tidak ada air tawar, yang ada payau (menurutku ini asin). Listrik cuma menyala 6 jam dari pukul 6 sore hingga 12 malam. Pas kami sampai di sana sudah pukul 9 malam. Artinya kami punya waktu 3 jam untuk makan malam dan bebersih diri di pulau yang sunyi ini.

Beginilah sensasi perjalanan dari Makassar ke Takabonerate. Liburan baru saja dimulai. Cheers!

25 komentar: