In Hospitality Land Journey Land

Ohoiew Island Resort vs Ohoidertawun Bungalow Kepulauan Kei

Keelokan Kepulauan Kei, Maluku Tenggara pasti tidak diragukan lagi. Negerinya memang kecil dan tidak sebanding dengan Taman Nasional Laut atau Atol yang selalu menjadi objek keren. Kepulauan Kei itu ibarat kecil-kecil cabai rawit.

Kami tak mendapat kesulitan memilih penginapan. Ada banyak penginapan murah yang tersedia, tergantung tingkat kenyamanan. Meski fasilitas listrik dan air sangat minim, lokasi-lokasi penginapan ini cukup nyaman dan dikelola langsung oleh penduduk lokal. Jangan berekspektasi lebih untuk fasilitas setempat. Mereka tahu negerinya indah, mereka juga tahu akan banyak orang yang menikmatinya.

Saat berada di Kei, aku sempat melihat-lihat 2 penginapan yang asyik. Mari kita bandingkan kedua tempat itu. Mana yang jadi pilihanmu?

1. Ohoiew Island Country Club



Meski di Kei tidak ada sinyal, tapi jangan salah, ada satu pulau yang tak berpenghuni dan telah disulap jadi sebuah resort. Namanya, Ohoiew Country Club Resort. Seperti resort-resort tepi pantai pada umumnya, Ohoiew Resort ini hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai. Kamar yang disediakan tidak banyak, tapi percayalah, tempat ini sungguh homey.

Ohoiew itu pulau kecil. Seperempat lahannya dimanfaatkan untuk country resort ini. Hanya ada 2 atap dengan beberapa kamar, lalu ruang santai serta beberapa gazebo untuk meneduh di pinggir pantai. Ombak cukup tenang di sini. Pasir-pasirnya sudah dipadatkan sehingga kita lebih leluasa berjalan menggunakan alas kaki.

Tak banyak yang bisa ditemukan di pulau ini. Tak banyak pula yang bisa dilakukan di sekitar sini. Ohoiew hanya pulau kecil. Tetapi kalau kamu mencari tempat tenang, hening, dan jauh dari pusat kota, Ohoiew Resort ini bisa jadi pilihan. Mayoritas tamu penginapan ini adalah pasangan bule. Wisatawan lokal sendiri tidak banyak yang sampai ke sini untuk bermalam. Kebanyakan mereka (termasuk kami) memilih Ohoiew untuk piknik siang hari karena di sisi kiri resort, pohon-pohon rindang memberi keteduhan yang damai. Ada juga yang memilih snorkeling di perairan sekitar Pulau Ohoiew.




2. Ohoidertawun Bungalow

Kami bermalam di Ohoidertawun karena tempatnya tenang, lokasinya di sekitar desa Islam, makanan pun disediakan oleh pemilik penginapan. Enak-enak pula. Pohon kelapa yang rindang membuatku tak bisa berpaling dari tempat ini. Ada banyak pilihan untuk menginap. Meski di kawasan ini, penginapannya masih terbilang sederhana, tapi apa yang bisa dilihat di sekitar sini membuktikan kemewahannya. Kami memilih bungalow di wilayah kampung Islam. Lokasinya paling ujung dan cukup tenang. Selain itu harganya juga relatif paling murah.

Yang menyenangkan dari penginapan di Pantai Ohoidertawun adalah kita bisa berbaur dengan masyarakat sekitar karena penginapan ini langsung dikelola oleh warga setempat. Kita juga bisa request makanan yang dapat disediakan tiga kali sehari. Seperti waktu aku ke sini, ada teman kami yang alergi makanan laut padahal notabene makanan di sini didominasi oleh ikan. Jadi, mereka bisa menyediakan menu ayam goreng sebagai pengganti ikan. Si ibu pemilik penginapan jago masak, lho, dan makanannya pun beragam, lengkap dengan sayur. Ikan goreng, ikan bakar, ikan rica-rica berbagai rasa telah kami coba. Ditambah jenis lauk yang lain disediakan. Makan bersama di tepi pantai memang asyik, apalagi kami juga diberi bekal untuk makan siang saat sedang safari pulau. Tempat ini serasa milik kami sepenuhnya.




Bonus plus plus di Kei, kami menyantap makanan yang berbeda-beda. Aku sudah pernah bilang, kan di jurnal post sebelumnya bahwa orang-orang Tual itu sangat ramah dan gampang tersenyum. Berkat keramahannya, soal perut tak pernah jadi masalah. Lupakan camilan yang kamu bawa dari kota asalmu karena sungguh kamu tidak memerlukannya. Siapkan perut kosong untuk makan makanan buatan orang Tual. Rasakan nikmatnya bersama udara laut yang sangat kental di sini.

Karena aku suka sekali dengan ikan, aku bahagia berada di sini. Berbagai jenis ikan laut segar disuguhkan. Kami sempat melihat gurita berenang-renang di tepian. Namun tak berhasil ditangkap, padahal menyantap gurita bakar malam-malam pasti sedap. Mungkin bukan rezekiku kali itu. Lain kali siapa tau beneran bisa makan sate gurita yang baru saja ditangkap. Segar-segar ciamik.

Ikan bakar.

Ikan goreng jeruk nipis.
Embal.
Makan enak.
Intinya, nikmati saja alamnya, itu sudah lebih dari cukup dibanding fasilitas resort mana pun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Journey Land

Setiap Pantai Punya Cerita di Pulau Weh

Kita semua tahu bahwa pantai itu tempat paling eksotis di daratan. Dari segala sisi, segala kondisi, segala hari, dan segala janji, pantai punya pesonanya sendiri. Banyak orang menyukai pantai karena alasan keindahannya, cantik, manis, dan romantis. Sebagian orang bahkan ada yang membenci pantai karena alasan yang sama dan ingin menghindarinya. Sebagian orang lagi malah membuang rindu di pantai. Apa pun itulah, pantai itu menampung segala rasa rupanya.

Iboih Inn.
Suatu hari, aku berlabuh di Pulau Weh, provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Ya, ini Pulau Weh yang terkenal itu. Pulau Weh yang menjadi titik hitung kilometer 0 negeri ini. Ya, Pulau Weh yang dikenal dengan Kota Sabang-nya. Ada dua asumsi tentang Pulau Weh dan Sabang. Jika mendengar kata Sabang, sebagian orang akan terkoneksi dengan tugu Kilometer 0. Jika mendengar kata Pulau Weh, sebagian orang akan terkoneksi dengan Pantai Iboih yang terkenal itu. Jadi, apa tujuanmu menginjak Kota Sabang dan menjelajahi Pulau Weh? Kalau aku, tentu keduanya.

Dulu sekali, Pulau Weh menjadi satu kesatuan dengan Pulau Sumatera. Namun, entah kapan persisnya (daratan Aceh sendiri memang rawan gempa bumi), daratan di ujung Sumatera itu membelah dan membentuk satu pulau dengan beberapa pulau kecil di sekelilingnya. Itulah Pulau Weh yang dalam bahasa Aceh, 'Weh' artinya 'pindah'. Jadi yang dimaksud Pulau Weh itu adalah pulau yang berpindah. FYI, Pulau Weh ini dulu dilafalkan tanpa penggunaan konsonan 'h'. Penyebutannya hanya 'We' yang dirujuk pada huruf konsonan 'W' karena pulau ini memang berbentuk huruf 'W'. Sejarah penamaan yang mendasar dan masuk akal, bukan?!

Namun, ada yang perlu kamu tahu, bahwa Pulau Weh disebut juga Pulau Emas (Golden Island). Bukan pulau yang menyimpan banyak emas, ya. Tetapi ini berdasarkan catatan para pelaut zaman dulu Ptolomacus (dari Yunani pada masa Sebelum Masehi) dan Sinbad (pada abad ke-12). Dalam peta jalur perdagangan masa lampau, Pulau Weh ditandai sebagai Pulau Emas. Dari dulu daratan Nusantara memang menarik, ya, karena kaya dengan hasil alam.

Kini, Pulau Weh tetap ingin membuktikan bahwa dirinya memang Pulau Emas. Setelah sekian tahun berbenah, Pulau Weh semakin cantik dengan deretan gunung apinya, dengan teluk-teluknya, dan juga dengan pantai-pantainya. Kita bisa mengeksplor seluruh pantai dan seisi daratannya. Apa saja yang dimiliki Pulau Weh? Mari kita lihat-lihat dulu pantai-pantainya.

1. Pantai Iboih

Ini yang paling terkenal dan jadi favoritku. Pantai Iboih (baca: Iboh) ini berlokasi di Desa Iboih yang sebagian wilayahnya adalah kawasan hutan lindung. Ini yang membuat Pantai Iboih begitu populer dan menyimpan keeksotisannya di balik kawanan pepohonan. Penduduk lokal menyebut pantai ini Teupin Layeu.

Pantai Iboih kini bukan pantai yang sepi lagi. Sudah banyak bungalow, toko souvenir, dive centre, dan restoran/cafe. Berada di Pantai Iboih serasa berada di kota mungil dengan segala aktivitas warganya. ada banyak perahu tertambat untuk disewakan. Kita bisa menyeberang ke Pulau Rubiah dan Pulau Seulako dari Iboih. Oleh sebab itu, pantai Iboih menjadi pusat snorkeling dan diving para pencinta alam bawah laut. Perairan pantai Iboih yang diapit oleh Pulau Rubiah menyimpan banyak karang-karang keras yang besar. Jika sebelumnya aku melihat ada banyak spesies karang di laut Indonesia Timur, kawasan Iboih ini berbeda. Karang-karangnya raksasa dan dirimbuni oleh banyak ikan warna-warni.

Yang menarik lagi dari Iboih, angin tenang menghembus Pantai Iboih yang bersembunyi di balik Pulau Rubiah. Pantai Iboih tak pernah terasa begitu terik meskipun titik matahari meninggi. Hutan lindung memberikan kesejukan di balik terik. Inilah yang disebut keelokan Pantai Iboih, selalu tenang dan bersahaja. Posisinya juga menghadap ke timur. Bagi yang menginap di sini, matahari pagi akan menyapa langsung ke balik jendela kamar. Sungguh nuansa yang didamba.

Pantai Iboih yang ramai.

Bungalow di pinggir hutan lindung Iboih.
Dermaga Iboih Inn.

2. Pulau Rubiah

Pulau ini dinamakan Rubiah karena ada seorang perempuan yang menjaga pulau ini dan menua di sini. Nama perempuan itu adalah Ummi Rubiah. Konon Ummi Rubiah ini kabur dari suaminya dan mendiami sebuah pulau yang kini dikenal dengan nama Pulau Rubiah. Ada banyak legenda tentang kisah ini. Konon, di pulau ini, Rubiah mendirikan pondok pengajian yang diisi dengan beberapa santri. Tak heran pada tahun 1920-an, Pulau Rubiah menjadi pusat karantina jamaah haji yang baru pulang dari Mekah. Hingga meninggal, Ummi Rubiah pun dimakamkan di pulau ini. Banyak yang sengaja ke pulau ini untuk berziarah ke makam. Sementara aku dan teman-teman hendak menjenguk bawah laut Pulau Rubiah yang terkenal megah.

Perahu motor menurunkan kami di lepas pantai Pulau Rubiah yang menghadap ke timur. Kami turun dan berenang menuju areal karang cantik yang tak jauh dari bibir pantai. Karang-karang besar menyambut kami. Ikan-ikan kecil berkerumun dan terlihat sangat jinak. Jika menyelam lebih dalam lagi, karang-karang yang lebih halus tersembunyi di sela-sela karang besar. Cantik sekali.

Visibility di kedalaman laut dangkal Pulau Rubiah sangat jernih. Meski karangnya tak berwarna-warni, mereka tetap cantik dihiasi para ikan kecil. Menjenguk taman laut Pulau Rubiah bak bermain dengan ikan-ikan kecil. Jangan lupa membawa butiran roti, nasi, atau pelet ikan, ya, saat snorkeling di perairan Sabang ini.

Pulau Rubiah.







3. Pantai Sumur Tiga

Pantai ini seperti tersembunyi di kawasan Gampong Iemeulee, hanya 15 menit dari pusat Kota Sabang. Jalan masuknya hanya berupa gang kecil yang dikitari oleh rumah-rumah penduduk. Kita akan berjalan sekitar 200 meter dan hasilnya ada tangga menurun dengan pohon-pohon kelapa menjulang tinggi. Inilah Pantai Sumur Tiga. Pasca tsunami, Pantai Sumur Tiga disulap menjadi area resort yang dibangun oleh Freddie, pria berkebangsaan Afrika Selatan yang jatuh cinta pada kelembutan pasir di Pantai Sumur Tiga. Resort itu dinamakan Freddie's Santai Sumur Tiga. Kawasan Sumur Tiga yang terlihat seperti berundak-undak dipenuhi oleh bungalow-bungalow kecil dari kayu. Pada awal dibangun, Freddie's Santai Sumur Tiga hanya dibuka untuk wisatawan mancanegara. Wisatawan lokal tidak dapat menginap di sini karena kebiasaan kita yang cenderung mencemari harmonisasi alam pantai ini. Namun, peraturan itu dihapuskan seiring waktu. Resort milik Freddie ini disebutkan dalam buku Lonely Planet, kitab suci para backpacker. Tak heran, menjambangi Sabang, berarti menjambangi Pantai Sumur Tiga. Berkat Freddie's Santai Sumur Tiga, Sabang jadi terkenal di seantero dunia.

Pantai Sumur Tiga juga dikenal sebagai pantai terpanjang di Sabang di pesisir timur Pulau Weh. Ujung selatan pantai ini berbatasan langsung dengan pantai Anoi Itam. Disebut Pantai Sumur Tiga tentu ada sejarahnya. Dulu ada lima sumur air tawar yang terdapat di pesisir Kota Sabang sebagai sumber mata air. Namanya Sumur Satu di selatan wilayah Iemeulee, Sumur Dua di wilayah pantai yang curam, Sumur Tiga yang kini adalah resort, Sumur Empat yang merupakan bagian dari bunker yang dibangun Jepang saat Perang Dunia II, dan terakhir Sumur Lima yang jadi kawasan Casanemo Resort milik Freddie. Dari kelima sumur, Sumur Tiga adalah yang paling besar. Tak heran akhirnya pantai ini dinamakan Pantai Sumur Tiga dan dipopulerkan oleh Freddie. Katanya Jepang mendirikan beberapa benteng di sekitar pantai ini dulu, tetapi kondisinya sudah tak terawat, jadi aku pun tidak perlu repot-repot menjenguk situs sejarahnya. Mari main pasir di pantai, yuk.

Pantai Sumur Tiga.

Freddie's Santai Sumur Tiga.

Berjalan-jalan di balik karang Sumur Tiga.

4. Pantai Gapang

Pantai Gapang

Pantai Gapang
Ini pantai yang bersisian dengan Pantai Iboih. Tidak banyak perbedaan dengan Iboih selain pantai ini lebih panjang. Banyak pohon gapang terdapat di pantai ini dan karena itulah pantai ini disebut Pantai Gapang. Area pantai ini bisa jadi alternatif untuk beristirahat dengan nyaman jika Pantai Iboih begitu penuh. Pohon-pohon gapang yang besar-besar meneduhkan garis pantai.


5. Gua Sarang

Ini salah satu lokasi tersulit di Pulau Weh. Tersulit tapi menantang. Konon, Gua Sarang ini adalah gua yang terdapat di bawah karang-karang yang menjulang. Total ada lima gua yang menganga di kaki karang. Gua tersebut langsung bersentuhan dengan dasar laut yang membentuk lorong gelap panjang beratus-ratus meter ke tengah laut. Gua itu dihuni oleh burung-burung dan kelelawar.

Saat aku berada di Pulau Weh, Gua Sarang belum sepopuler sekarang. Bahkan aku pun belum sempat menjelajahi mulut-mulut Gua Sarang tersebut. Pasti indah dengan karang-karang menjadi pagarnya. Untuk sampai ke mulut gua, kita harus trekking menembus bukit dan jalan berbatu karang yang terjal. Setiap tempat cantik nan eksotis memang butuh energi ekstra untuk menjamahnya. Mungkin suatu hari nanti, aku akan kembali ke Sabang dan tidak akan melewatkan petualangan menuju Gua Sarang. Untuk saat ini, aku harus puas melihat panoramanya.

Panorama Gua Sarang.

6. Pasir Putih

Pasir Putih.


Bujang-bujang Sabang
Karena pasirnya paling putih dan air lautnya paling bening di Weh, Pasir Putih sungguh ayu. Sebutan pasir bagi orang Aceh artinya pantai. Jadi kita cukup menyebut pantai bening ini dengan Pasir Putih. Pantai ini murni terdiri dari pasir yang membentang. Tak seperti pantai lain yang dihiasi dengan karang, Pasir Putih jadi areal berenang-renang cantik. Tak terlalu banyak pohon yang menaungi pantai ini sehingga panas di sini menyengat apalagi tengah hari. Tapi justru di sana letak keeksotisannya. Gugusan awan yang menggumpal-gumpal di balik cakrawala mempercantik tempat ini. Beberapa perahu nelayan berlayar dari sini. Tak heran kita bertemu anak-anak Sabang bermain di dekat perahu-perahu mereka.


7. Panorama Pulau Klah

Di jurnal post sebelumnya, aku sudah membahas makan rujak sabang di Panorama Pulau Klah. Kenapa? Pulau Klah jadi salah satu pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh. Luasnya tak jauh berbeda dengan Pulau Rubiah di perairan Pantai Iboih. Pulau Klah terdapat di Teluk Sabang dan menghadap ke utara. Karena aku tidak sempat menyeberang ke Pulau Klah dan merasakan sensasi taman bawah laut di perairan pulau ini, aku bersama yang lainnya memilih duduk-duduk di puncak bukit untuk menikmati panorama Teluk Sabang. Pulau Klah tampak kecil dari atas sana dan dirimbuni oleh hutan hijau.

Panorama Pulau Klah.

Weh Island is truly The Golden Island. Siapa yang tak ingin ke sana. Kamu harus menemukan nilai emasmu di sini.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Advertorial Land Hospitality Land

Menginap Rasa Rumah di Mountain View Villa Bandung

Time to take a rest for a while.
More Choice, More Space, More Value
Tidak ada yang tidak suka liburan, apalagi perjalanan. Semakin banyak berjalan, semakin banyak pula warna kehidupan yang kita terima. Perjalanan adalah kebutuhan, setidaknya bagiku. Bangun tidur, berangkat kerja (atau sekolah), istirahat makan siang, kerja lagi (atau kursus), pulang, tidur, untuk bangun lagi keesokan harinya dengan rutinitas yang sama. Kami butuh liburan, jerit badan ini sesekali saat pekerjaan semakin banyak dan tidak ada habisnya. Jika memikirkan pekerjaan terus, kita akan tua di kantor. Nah, inilah dia liburanku bersama rekan sekantor.

Merencanakan sebuah perjalanan memang harus dipikirkan sangat matang. Tidak repot, kok. Apalagi segala akses dapat diperoleh hanya di depan monitor PC, laptop, maupun smartphone. Seperti saat aku dan teman-teman kantor berniat liburan bersama kala itu. Setelah diskusi panjang, kami memutuskan untuk berlibur ke Bandung dan Lembang saja. Sulit mengumpulkan rekan-rekan sekantor yang beraneka ragam sifat agar bisa jalan-jalan singkat. Ada yang mau ke pulau, ke pantai, ke gunung, ke museum, dan ke kampung. Kami akhirnya mengambil jalan tengah, kami meluangkan waktu sejenak untuk berlibur di Bandung yang relatif murah meriah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bergabung karena tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Seperti biasa, kami berbagi tugas. Tugasku adalah mencari penginapan. Untuk mencari tempat menginap yang hanya semalam ini pun harus melalui perdebatan panjang lagi.

"Nginap di hotel aja. Nanti gue pakai voucher," kata Mas Arie yang memang hobi me-review hotel.

"Kita cari vila ajalah, ya," sahut Tika yang memang ingin melewatkan waktu bersama dalam satu rumah.

"Yakin, vila? Kan, bisa mahal dan harus survei dulu. Lagian ini, kan, cuma datang untuk tidur, terus pagi jalan lagi," sahutku.

"Cari yang tipe 'bed and breakfast' aja kalau enggak. Kayak hotel tapi bisa buat foto-foto juga," sambar Natan yang tidak bisa ikut tapi sangat ingin menyarankan kami menyewa kamar yang nyaman.

"Kita cari yang bisa bareng-bareng aja, biar malam atau paginya bisa masak bareng. Jadinya, kan, kita nggak perlu berebut kamar, yang satu tidur sekamar sama siapa," usul Yana yang suka masak sayur.

My great co-workers.

Wajah gembira bisa jalan-jalan di luar kantor.
Pusing, kan, kalau ingin liburan dengan banyak kepala? Ada banyak persepsi, banyak spekulasi, banyak ide, dan bisa-bisa acara kami terancam gagal. Yang paling baik adalah berbagai saran kami tampung. Untungnya Bandung itu bukan negeri yang asing lagi. Penginapan pun juga tidak sulit dicari sepenuh apa pun Bandung di akhir minggu. Jadi berangkatlah kami ke Bandung. Aku menyusun trip 2 hari 1 malam ke Bandung bersama teman-teman kantor yang jumlahnya tidak banyak. Ini akan jadi outing yang menyenangkan untuk kami.

Sekian kali aku menginjak Bandung, aku tak pernah bosan. Selalu ada yang baru di kota ini. Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman hanya kemacetan pada akhir minggu. Ini membuat kota ini sangat mirip Jakarta. Kelelahan kami selama di perjalanan, membuat kami ingin cepat-cepat sampai di penginapan. Beruntung akhirnya aku memilih sewa rumah saja agar kami bisa lebih leluasa menikmati liburan dan kebersamaan. Sewa rumah memang paling cocok dibanding harus menginap di hotel dengan memesan beberapa kamar. Ini tidak cocok dengan tema perjalanan kami yang bukan untuk tujuan dinas, melainkan bersenang-senang bersama. Kami tidak akan melewatkan satu pun momen bersama itu hilang meski pada malam hari.

Mountain View Villa jadi pilihan di wilayah Cimenyan. Lokasinya memang bukan di pusat Kota Bandung, tetapi setidaknya kami memiliki ruang yang tenang dan santai setelah seharian berkeliling Kota Bandung dan Lembang. Sebenarnya Mountain View Villa ini adalah rumah biasa yang terletak di sebuah komplek Villa Bukit Mas kawasan Cimenyan. Pemiliknya sengaja menamakan tempat tersebut sebagai Mountain View Villa karena memang berlokasi di perbukitan dengan pemandangan langsung ke arah lereng bukit Moko. Rumah rasa villa. Aroma pegunungan sungguh sangat terasa.

Look at the view!

Lingkungan sekomplek, seru ya lokasinya. Bikin betah.

Ruang keluarga.

Teras samping.

Rumah-rumah di sekitar tempat ini sepertinya memang untuk disewakan. Arsitekturnya menarik dan kekinian. Ada yang bergaya Eropa klasik, ada pula yang minimalis modern. Lingkungannya juga enak, agak jauh dari kegaduhan. Karena berada di lereng bukit, Mountain View Villa ini didesain minimalis untuk ukuran tanah yang tidak terlalu luas. Kami parkir mobil di depan rumah dan harus naik tangga dulu untuk mencapai pintu depan. Pintunya merupakan pintu geser kaca dengan jendela kaca lebar memenuhi hampir seluruh sisi. Ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga dan dapur. Semua sudah dipikirkan oleh pemilik rumah bahwa rumah mereka harus fungsional dan segala desain minimalisnya mengantarkan kami pada suasana nyaman, aman, dan hangat. Sofa lebar menyambut kami sehingga memungkinkan untuk selonjoran bahkan tidur-tiduran di depan TV.

Yang juara dari rumah ini adalah teras yang menghadap ke lereng bukit. Dengan beberapa beanbag berwarna cerah, beranda yang menghadap ke lereng bukit itu jadi ikut meriah. Ukurannya yang lebar memungkinkan kami bisa barbeque di luar sambil menatap bintang. Kebetulan sekali ada personil kami yang membawa bekal rendang dan beberapa makanan. Isi dapurnya juga lengkap. Ada ricecooker, kulkas, dispenser, oven, kompor, serta piring dan gelas. Sudah jelas, kan, acara malam itu adalah masak-masak dan makan-makan. Acara ngumpul bareng terasa homey dan yummy.

Untuk urusan tidur dan kamar mandi memang sudah direncanakan pemilik rumah ini yang berniat menyewakan rumahnya. Kamar mandi ada 3 dan kamar ada 2. Cukuplah untuk kami yang hanya bersembilan. Para lelaki sebagian dapat tidur di sofa saja. Kamar terletak di basement melewati tangga sempit dan lorong menuju kedua kamar. Ada kamar utama yang langsung memiliki akses ke pintu luar yang merupakan teras dan garasi.

Para lelaki tepar di beranda rumah.

Kamar utama.

Kamar kedua, hore dapat extra bed.
Wah, kalau penginapan kami seperti ini, rasanya kami tak akan pergi ke mana-mana. Semua tersedia. Wifi pun ada yang memungkinkan kami mengerjakan sisa kerjaan (ada lho yang masih kerja di saat liburan). Siapa yang tidak betah berada di rumah, bersama teman-teman yang tidak pongah pula. Yang penting bukan destinasi apa saja yang kami datangi, tetapi bagaimana kami menghabiskan perjalanan itu.

Memilih untuk sewa rumah seperti ini adalah keputusan yang sangat tepat. We had so much time to laugh together every single day. Dengan mengambil tempat ini sebagai ruang untuk kami bersama, kami bisa menciptakan quality time, jauh dari topik bisnis dan pekerjaan, hanya ada kami, rumah, dan lingkungan. Kalau kamu ingin menghabiskan banyak waktu dengan teman, pasangan, atau keluarga, menginap di tempat seperti ini menjadi pilihan utama. Bahkan relatif low budget. Kita berpindah tempat, melakukan perjalanan bersama tanpa harus homeless. There are more choice, more space, more value, right?

Ada quote mengatakan,
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. (Life Traveler--Windy Ariestanty)

Nah, kenapa kita tidak menciptakan rumah di mana pun kita pergi? Apalagi perginya tidak sendiri. Seperti saat aku di Bandung, kami menciptakan rumah bersama walau hanya dalam satu malam. Satu malam itu bermakna dan dibawa pulang ke Jakarta untuk energi pengisi hari-hari penat malam-malam berikutnya.

Tak perlu khawatir dengan biaya yang tinggi. Kini Travelio.com dengan kampanye tagar #TravelioMore seakan membaca situasi para traveler dan para pendamba liburan yang menginginkan akomodasi yang nyaman, mudah dan murah. Kita bisa sewa rumah, villa, dan apartemen untuk ditinggali beberapa saat dalam satu perjalanan. Ada kabar gembira, nih, buat kamu yang penasaran dan ingin mencoba layanan dari Travelio.com. Kebetulan aku punya voucher diskon 40% untuk sewa rumah, villa, atau apartemen. Kamu tinggal masukkan kode voucher di bawah ini pada saat pemesanan di website Travelio.com atau aplikasi Travelio di smartphone.

LIOMORETL6O8CHYU

Kode ini berlaku hingga 15 Desember 2016, ya, dan untuk satu kali pemesanan. Untuk tahu lebih lengkap, bisa cek blog Travelio. Coba dan buatlah rumahmu di mana saja! Wherever you feel peacefulness, you might call it home (Life Traveler--Windy Ariestanty).

 Jalan pagi di Bukit Moko, tak jauh dari rumah penginapan.


Sepertinya Bandung memang wilayah "semua ada", ya. Ada tawa, bahagia, dan cinta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Kuliner Istimewa di Kota Sabang



Ada banyak cerita tentang Sabang. Sebagian orang bilang Sabang itu tertutup karena mayoritas penduduknya adalah muslim, jadi gerak-gerik terbatas. Sebagian orang lagi bilang Sabang itu membosankan dan yang bisa dibanggakan hanya titik Kilometer Nol Indonesia. Kata orang juga, Sabang beruntung dijadikan patokan penghitungan batas wilayah negeri ini. Namun, bagiku itu semua tidak benar. Bahkan, lebih parah lagi ada yang berpendapat bahwa Sabang dan Pulau Weh itu lokasi yang berbeda. Yang benar adalah Sabang itu adalah nama kota kecil di Pulau Weh. Sabang itu, ya, terletak di Pulau Weh.

Sabang dibangun seperti ia ingin dibangun. Sabang pernah berduka saat ombak tsunami memecah belah daratan tahun 2004. Lalu kota ini berdiri lagi, membangun yang baru dan mempercantik diri. Sabang memang bagian dari Aceh, adat dan tradisinya pun begitu, sehingga penduduk Sabang memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan mereka. Sabang menjadi istimewa bukan karena apa yang telah dicapkan padanya, melainkan bagaimana kota ini menerima setiap pendatang dan berbaur dalam masyarakatnya. Sabang sepertinya menerima keberagaman dari pendatang. Itulah yang menjadikan Sabang tuan rumah yang ramah.

Aku sudah bilang kan di postingan sebelumnya kalau Sabang itu istimewa? Termasuk tongkrongan dan makanannya. Aku berada di Sabang selama tiga hari. Dalam waktu yang singkat itu pula, aku punya cerita tentang kuliner Kota Sabang. Cerita tentang pantai, pulau, dan bukit ada di tulisan lain dalam blog ini. Sekarang, mari kita lihat apa yang istimewa dari tempat-tempat nongkrong pemuda Sabang.

1. Makan siang di Murah Raya
Makan murah meriah tentu jadi pilihan para pejalan. Lokasinya tidak istimewa tapi kami bebas memilih menu lauk di sini. Seperti rumah makan padang saja atau seperti warteg yang banyak di Jakarta. Aku memilih makan nasi lauk dan sayuran. Ini adalah awal perjalanan di Sabang dan aku butuh energi untuk menjelajahinya.



2. Rujak di Panorama Pulau Klah
Seperti yang sudah disinggung di postingan tentang Sabang sebelumnya, ada yang istimewa dari rujak khas Sabang ini. Menyantap rujak di area perbukitan, pinggir jalan pula. jika duduk ke arah yang tepat, akan tampak pemandangan manis pulau kecil di tengah teluk, Pulau Klah. Rujak di Sumatera seikit berbeda dengan rujak yang kita kenal di Jakarta. Buah-buah yang masih belum matang itu dipotong kecil dan disiram dengan bumbu kacang manis-pedas. Penampakannya seperti gado-gado. Bumbu kacang ini dibiarkan meresap ke dalam aneka potongan buah.


3. Taman Kuliner Sabang
Sore terakhir di Pulau Weh kami habiskan di Taman Kuliner Sabang yang menghadap ke sebuah teluk arah barat. Taman kuliner ini hanya ramai saat malam minggu. Jadi, saat kami ke sana hari Minggu sore, tempat itu masih kosong. Taman Kuliner Sabang sangat terkenal di kalangan anak muda Pulau Weh. Lokasinya yang enak dijadikan tempat nongkrong karena bersisian dengan samudera lepas, menjadi pusat berkumpulnya anak-anak muda serta pusat keramaian kota Sabang. Jangan bayangkan seperti pasar malam, ya. Tempat ini jauh lebih rapi dan tertata. Apa yang jadi rahasia keindahan di sini? Taman Kuliner Sabang menjadi lokasi favorit memandang matahari terbenam setelah teriknya menggila seharian.

Makanan di sini beragam dan intinya tidak jauh berbeda dengan makanan yang kami temukan di Jakarta. Ada bakso, nasi goreng, ayam goreng, dan aneka makanan lainnya. Tapi, aku selalu suka es jeruk yang disuguhkan orang-orang Sabang. Manisnya beda, semanis pemandangan yang kami lihat sore itu.







4. Ngopi cantik di De Sagoe
Kata guide kami, ini salah satu tempat nongkrong saat malam tiba. Tempatnya tidak sehingar-bingar kafe-kafe di kota besar, tetapi cukup untuk menikmati kopi enak dari Aceh. Oh iya, teh tarik juga enak dan bukan teh tarik kemasan.

Yang menarik saat kami memasuki kafe terbuka ini kebetulan sudah masuk waktu salat isya. Kafe ini berseberangan dengan Masjid Agung Babussalam. Bagi yang muslim, sempatkan salat di masjid ini, ya, karena ini terbesar di Kota Sabang. Lokasinya persis di pusat kota Sabang dan di pinggir jalan. Tepatnya, ya di seberang kafe de Sagoe ini.

Kafe tetap ramai, tetapi pemilik dan pelayan kafe tidak ada di tempat. Mereka semua ke masjid agar tidak ketinggalan salat berjamaah. Kafe dibiarkan begitu saja dengan landasan azas kepercayaan. Kami pun tidak bisa langsung memesan minuman. Kafe baru akan aktif lagi pukul 9 malam, 1 jam usai salat isya. Sambil menunggu, kami menonton bola bersama pengunjung yang lain, sembari bergantian menyeberang ke masjid untuk ikut salat.




5. Sarapan Nasi Lemak di Pantai Iboih
Kebetulan kami menginap di resort di Pantai Iboih, Fina Bungalow. Pantai Iboih sudah jadi kampung sendiri dan sangat banyak penginapan dan jajanan di sekitar sini. Jadi, kalau pagi-pagi tidak perlu jauh-jauh mencari sarapan sebelum mengarungi Pulau Weh. Sarapan sederhana dengan view yang indah pagi-pagi sudah membuat perutku kenyang. Di depan bungalow, persis di pinggir pantai ada warung yang jual nasi lemak (nasi uduk). Rasanya gurih dengan lauk yang macam-macam. Kami duduk di sebuah bangku dan meja kayu dekat dermaga. Belum banyak aktivitas pagi itu, dan pantai Iboih sungguh tenang. Kami makan dengan bergembira, meresapi pagi yang mulai menghangat.


Read More

Share Tweet Pin It +1

5 Comments