Piknik Bebatuan : Bertemu Batu Tua di Situs Megalith Gunung Padang

Lagi-lagi ini perjalanan bersama penulis-penulis muda Bukune dan editornya. Mungkin sejak edisi pendakian Gunung Papandayan yang digawangi Klub Horor Bukune, piknik ke alam rupanya menjadi semacam candu yang berakibat masuk ke agenda wajib kami. Mengawali 2016, kami pun berkumpul kembali. Meski tak selengkap perjalanan ke Papandayan tahun lalu, tapi tetap ramai. Ada penambahan personil juga yang merupakan penulis baru Bukune yang lagi hangat-hangatnya branding buku.

Nah, destinasi kami kali ini melewati jalur Puncak, Bogor. Kami mengunjungi situs tua yang konon peninggalan zaman Megalitikum, Gunung Padang di Cianjur.

Melewati jalur Puncak pada Sabtu pagi tentu satu hal yang menuntut kesabaran ekstra. Kami baru sampai Cianjur menjelang sore. Perjalanan yang cukup panjang dan sempat membuat kami pesimis bisa mencapai Gunung Padang hari itu juga. But, here we are.


Situs Gunung Padang yang penuh artefak.
Kami bergembira.


Mencapai Gunung Padang cukup mudah saat kita menginjak Kota Cianjur. Mengandalkan Google Maps, kami pun sampai di persimpangan yang menyempit. Tapi ternyata belum membuat kami bernapas lega. Jalan beraspal sempit yang kami lalui sungguh panjang dan berliku. Namun, pemandangan sepanjang perjalanan sangat memanjakan mata sehingga kami tidak menyesal. Hamparan sawah hijau memenuhi lereng-lereng bukit. Pepohonan berjajar sepanjang jalan. Kalau aku tak salah curiga, sebenarnya jalanan kami menanjak dan berputar. Saat itu aku yakin, bahwa bukit yang sedang kami kelilingi ini adalah bagian dari bukit Gunung Padang itu sendiri. Jadi kami menikmati saja dan berharap cepat sampai. Setelah--mungkin lebih dari--5 km, ada jalur sempit yang menunjukkan situs Gunung Padang sudah dekat. Kami antusias walaupun mendung Cianjur menyambut kami.

Kami parkir di tempat yang disediakan setelah memasuki gapura taman konservasi situs Megalitikum Gunung Padang. Penjaga parkiran yang merupakan penduduk lokal langsung menawarkan angkutan ojeg seharga Rp50.000,00 pulang-pergi. Terang saja kami menolak. Ini seperti saat aku ke Tebing Keraton di Bandung beberapa waktu lalu. Mereka mengatakan jarak situs masih 2,5 km lagi. Jarak itu tak lantas membuat kami bimbang. Lalu, hujan turun.

Kami memilih menunggu hujan reda. Sayangnya di area parkir tidak ada warung-warung yang bisa kami singgahi. Jadilah kami cuma seonggok manusia yang kedinginan. Menunggu.

Penantian kami membuahkan hasil. Ada seorang pengunjung lewat dan menyapa kami dengan ramah. Dia menyarankan untuk jalan kaki ke atas karena jaraknya cukup dekat. YES, itu menjawab semuanya. Jarak yang dibualkan si abang penjaga parkir itu jelas tidak benar. Mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dengan menguasai wilayah sana. Tapi, ya, tarifnya tolong diturunkan.

Selamat datang di Situs Kuno Gunung Padang.
Katanya sih ini tim penulis Bukune.


Gunung Padang dengan segala bentuk batunya.
Jarak menuju gerbang situs tidak sampai 500 meter dan bahkan sedikit pun tidak menanjak. Satu pelajaran yang dapat kami ambil adalah jangan percaya begitu saja dengan penduduk lokal kalau tidak ada bukti pembayaran alias karcis. Tanpa pikir panjang, kami membayar tiket di loket hanya Rp2.000,00 dan langsung menemukan undakan batu curam yang harus dilalui.

Akhirnya aku menanjak lagi. Batu yang basah setelah hujan tidak menyurutkan kami untuk berjalan terus. Badan sedikit kaget dengan perubahan udara yang membuat kepala sedikit pening. Tangga batu ini dipagari sehingga sangat mudah didaki. Udara perbukitan menyapa kami. Dan, inilah dia situs itu, tempat yang konon menjadi lokasi pemujaan kaum manusia prasejarah. Bentuknya punden berundak dengan batu-batu hitam panjang mengelilinginya. Usianya dikabarkan lebih tua dari peradaban Piramida Giza di Mesir dan peradaban Mesopotamia di Irak.

Undakan batu awal pendakian.

Balok-balok batu yang disusun piramida.


Ndup sedang foto endorsment produk.

Lagi Whisper Challenges untuk bahan Vlog Arie di Youtube. Tunggu saja kekonyolan mereka.
Menikmati sore di Gunung Padang.
Situs megalitikum ini berada di puncak Gunung Padang. Saat berada di tengah hamparan batu-batu berbentuk balok ini, kita bisa melihat lembah hijau serta gugusan bukit berlapis-lapis di sekeliling. Sungguh pesona alam yang tidak dapat diabaikan. Aku terduduk di salah satu barisan batu di titik tertinggi situs itu. Terhenyak. Menikmati angin dan panorama. Rasanya sudah lama tak bisa menikmati nuansa alam seperti saat itu. Sembari menunggu beberapa teman yang menyelesaikan misinya--foto buku untuk promo dan shooting untuk bahan vlog di Youtube--, aku cuma duduk, menikmati segalanya. Tentunya sunset akan terlihat keren di sini jika kami mau berlama-lama di sana hingga magic hour itu tiba. Namun, karena tidak ada penerangan di atas sana, kami memilih turun sebelum hari gelap.

Ada kucing penunggu dunia kuno.

Andai kami bisa menunggu sampai langit berwarna jingga.

4 comments:

  1. Aaaaaakkkk~ mau ke situuuuuuuuuuuuuu... HTM-nya murah banget ya untuk situs sejarah.. Ada museum atau tempat yang memuat keterangan ttg benda bersejarah atau situs itu gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya gak ada Rin. Namanya juga artefak Rin. Prasejarah belum ada tulisan. hehehehe. Paling cuma penjelasan warga lokal aja, tapi siapa yang tau keakuratannya.

      Delete
  2. nah bener seperti komen di atas, sepertinya perlu dilengkapi keterangan ttg sejarah di situs tersebut, tapi mungkin penelitiannya sendiri belum selesai kali yak hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penelitian masih dilakukan sampai saat ini. Infonya masih simpang siur. Cuma ada petunjuk singkat tentang kapan ditemukannya situs ini. Semoga ada penjelasan setelah ini ya.

      Delete

Instagram @sansadhia