In Movie Land

Film 3 Srikandi, Sebuah Biopik Pemanah Nasional Era 80-an

Olahraga panah memang tidak populer kini. Tapi cabang olahraga itu pernah berjaya dan membawa nama harum bangsa tahun 80-an. Ada tiga nama Srikandi kita yang tercatat dalam sejarah olahraga panah: Nurfitriyana, Lilies, dan Kusuma. Mereka meraih medali perak cabang panahan di Olimpiade Seoul tahun 1988. Ini adalah medali pertama yang diraih Indonesia dari olimpiade. Tentu sangat membanggakan. Untuk itulah film 3 Srikandi dirilis, mengenang bagaimana olahraga panahan pernah menjadi sebuah kebanggaan kita.

Film bisa menjadi sumber informasi yang bikin kita tahu banyak tentang sesuatu, tapi tentu dengan tambahan bumbu-bumbu drama di dalamnya. Ya, seperti olahraga panahan yang diangkat dalam film 3 Srikandi ini, sebuah film biopik tentang 3 Srikandi Indonesia berlatar tahun 80-an. Dimainkan oleh Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan, Tara Basro, dan Reza Rahadian, film 3 Srikandi menjadi apik dan epik dalam mengangkat perjalanan panahan Indonesia.

Nurfitriyana (BCL), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardani (Tara Basro) mengikuti seleksi Olimpiade. Mereka akan dilatih langsung oleh Donald Pandiangan (Reza Rahadian) yang kerap disebut Robinhood Indonesia. Namun, Donald atau Bang Pandi punya cara sendiri dalam melatih ketiga calon srikandi. Sebuah rumah kosong di kawasan Sukabumi yang dingin telah disiapkan Bang Pandi untuk mereka, ditemani oleh Ujang (Indra Birowo) yang ikut mengawal latihan.

Berlatih panahan sama dengan berlatih kefokusan. Untuk urusan ini, Bang Pandi agak keras. Tak peduli dengan berbagai masalah yang menimpa atletnya. Didikannya memang sangat disiplin dan tanpa pandang bulu. Karakter keras Yana, kenakalan Lilies, serta sifat pendiam Kusuma tak membuat Bang Pandi mengendurkan urat lehernya. Dia terus berteriak melatih kedisplinan 3 cewek yang tak terbiasa latihan ketat seperti itu. Menu latihan yang sudah ia tetapkan sudah dicap dan harus diikuti. Karantina terus berjalan tanpa jeda, hingga beberapa masalah menimpa ketiga atletnya yang mengendurkan semangat dan kefokusan mereka untuk Olimpiade.

3 Srikandi Indonesia (sumber foto)

Nuansa 80-an. (sumber foto)
Inti dari film ini adalah sebuah nilai kefokusan dan mimpi yang harus dibayar. Ketika Bang Pandi punya sejarah kelam dan gagal berangkat ke Olimpiade di Rusia tahun 1980, ia melampiaskan kekesalannya pada ketiga atlet yang ia latih. Kekesalan itu berwujud penularan semangat dan mimpi. Mimpi yang pernah ia gantung tinggi-tinggi untuk mewakili Indonesia di Olimpiade itu harus dibayar oleh calon srikandi ini, yaitu berangkat ke Seoul dan meraih medali untuk negara.

Pelatihan demi pelatihan dijalani. Masalah demi masalah yang sifatnya pribadi harus dihadapi. Karena olahraga panahan bukan sekadar memanah, melainkan bagaimana kita mengalahkan diri sendiri. Itu kata Bang Pandi sesaat sebelum sesi seleksi pemanah putri dimulai.

Film yang digarap oleh Iman Brotoseno dengan penulis naskah Swastika Nohara ini terbilang cukup rapi dalam mengambil plot. Cerita mengalir dengan sejarah panahan era Donald Pandiangan, lalu lompat ke perjalanan masing-masing atlet Nurfitriyana, Lilies, dan Kusuma dari berbagai wilayah. Tentu ini akan membuat porsi masing-masing tokoh akan menyempit, tapi berkat olahan gambar, lompatan cerita bergerak mulus, meski detail setting agak kurang terperhatikan.

Lantas apa yang kita harapkan dari sebuah film bertema panahan? Bukan sorak-sorak ramai seperti film tentang sepakbola tentunya. Yang dibutuhkan adalah hening, lalu tegang. Ya, untuk ukuran film olahraga dalam misi patriotisme, film ini agak 'hening', tetapi berhasil membuat deg-degan di 30 menit terakhir. Perjalanan ketiga Srikandi dalam berlatih panahan di segala cuaca, kondisi, dan lokasi adalah sebuah alasan mengapa Indonesia pernah menang perak di Olimpiade masa itu. Masalah ketiga gadis itu tak hanya tentang masalah mereka sendiri, tapi masalah menghadapi pelatih yang nyaris tak punya maaf, tanpa sisi humor, dan kaku.

Mimpi mereka untuk Indonesia. (sumber foto)
Apa yang kita dapat dari 3 Srikandi? Bagaimana olahraga begitu dihargai dan jadi nilai kebanggaan suatu bangsa pada saat itu dengan nuansa lagu 80-an yang menggema kembali. Mungkin usaha film-maker boleh diacungi jempol meski hingar bingar patriotisme belum sempurna. Namun, sebuah biopik memang bercerita sesuatu yang pernah ada dan berjaya, lalu untuk dipanuti generasi berpulung tahun kemudian.

Nice film. 3 Srikandi layak masuk list film-wajib-tonton kamu. Chelsea Islan is a light star on it. Dan, akhirnya panah Lilies-lah yang menentukan menang-kalah Indonesia di film ini. Buat yang ingin mendalami dunia panahan harus lihat keteguhan hati dan teknik latihan mereka yang patut dijadikan catatan. Siap-siap tonton 3 Srikandi di bioskop, mulai 4 Agustus 2016, bertepatan dengan sehari sebelum pembukaan Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro. Mari kita berdoa untuk kontingen Indonesia lewat film ini.

Movie Quotes

Busur dan anak panah adalah perpanjangan tangan kalian.
-- Donald Pandiangan

Kita tidak boleh menyerah duluan. Kita harus menembak sampai anak panah terakhir.
-- Nurfitriyana

Musuh seorang pemanah adalah dirinya sendiri.
-- Donald Pandiangan

Lilies Handayani, paling muda, paling tengil, paling banyak jadi sasaran kemarahan Bang Pandi, tapi yang paling kuat karakternya. (sumber foto)

Senang bisa turut hadir dalam premiere film 3 Srikandi.

Bersama Iman Brotoseno, sutradara 3 Srikandi. Selamat Mas Iman!

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment