Bunga Penutup Abad, Bermalam dengan Pramoedya

Sebagai pembaca karya Pramoedya Ananta Toer, tentu tidak akan melewatkan pementasan teater adaptasi dari 2 novel sekaligus, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ketika hingar-bingar penjualan tiket teater Bunga Penutup Abad mulai terasa, aku pun tak ketinggalan. Namun, malang, tiket sudah habis terjual saat hari pertama penjualan tiket dibuka. Bahkan, tak tanggung-tanggung, jadwal pementasan ditambah 1 hari lagi. Tampaknya pesona Reza Rahadian dan Chelsea Islan sungguh menjadi magnet dalam pementasan ini.

Semula pasrah, tak bisa menonton, hanya berharap ada penjualan DVD pementasan. Lalu, pada hari H tiba, saat sore datang, ada yang menawari satu kursi kosong hari kedua pementasan Bunga Penutup Abad. Tanpa pikir panjang, beranjaklah aku dari kantor menuju Gedung Kesenian Jakarta dengan terburu-buru demi bertemu Minke, Annelis, Nyai Ontosoroh, dan Jean Marais.

Teater Bunga Penutup Abad (sumber foto dari Instagram @teaterbungapenutupabad)



Pementasan dibuka dengan narasi Minke membacakan surat-surat perjalanan Annelis ke Belanda kepada Nyai Ontosoroh. Pencahayaan remang-remang memberikan nuansa getir. Seketika, benakku meraba-raba berawal dan berjalan seperti apa kisah kehidupan mereka? Ya, Bunga Penutup Abad memberi ingatan-ingatan keberadaan Annelis hingga ia harus dibawa ke Belanda dengan paksa oleh Pengadilan Putih. Masa Kolonial dan dunia per-Nyai-an menjadi sangat kental dan berkonflik di setiap dialognya.

Teater berdurasi 2,5 jam ini dengan lihai memberikan kita gambaran sosok Nyai yang mempertahankan harga diri keluarganya demi kebahagiaan Annelis. Hidupnya adalah untuk Annelis. Getir dan tragedi sangat berdekatan dengan kehidupan Nyai Ontosoroh. Bunga Penutup Abad berpola kilasan-kilasan masa lalu ingatan Minke dan Nyai Ontosoroh. Kesedihan mereka memunculkan adegan-adegan berlainan tentang sosok Annelis. Ingatan-ingatan itu mengantarkan mereka hingga Annelis sendiri dipaksa berangkat ke Belanda dalam keadaan sakit dan akhirnya meninggal di sana. Jean Marais sebagai tokoh teramat netral di tengah kericuhan masalah per-Nyai-an malah memberikan sumbangsih terbesar bagi Minke. Lukisan wajah Annelis yang detail menjadi penanda bahwa Annelis pernah ada bersama mereka. Lukisan itu lantas dibawa oleh Minke sebagai satu-satunya kenangannya bersama Annelis, sebagai Bunga Penutup Abad.

Teater yang digawangi oleh Titimangsa Foundation memang mengangkat pentas teater mengenang 10 tahun kepergian Pramoedya Ananta Toer. Sosok Nyai Ontosoroh dimainkan piawai oleh Happy Salma. Dari gesture-nya, Happy Salma berhasil memperlihatkan kegetiran hidup Nyai Ontosoroh. Lalu Jean Marais menjadi penghibur dunia tragedi itu dengan ucapan-ucapan logat Prancisnya. Reza Rahadian yang menjadi Minke sangat cerdas menutupi beberapa kesalahan. Sebagai pemain karakter, Reza sudah terbiasa memberikan perubahan antara Minke di pelajar muda, hingga Minke si suami Annelis. Dan, tentu saja pesona Chelsea Islan tetap menyala di panggung itu. Sangat Annelis sekali. Rasanya kalimat demi kalimat yang mengalir di novel Pram telah menjelma dan menari-nari.

Hanya satu yang disayangkan, pentas teater sepopuler ini seakan sayang ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta yang hanya berkapasitas kecil. Seandainya dapat dicari panggung dan podium yang lebih besar, Pramoedya Ananta Toer hidup di kalangan muda-mudi kita. Ini mengingat Reza dan Chelsea menggunakan clip on untuk menopang suara mereka. Tak ada salahnya, sekalian saya mereka tampil dalam panggung lebih besar lagi.

Bunga Penutup Abad menjadi peraduan dua dunia, dunia sastrawi Pramoedya Ananta Toer dengan dunia populer anak muda. Peraduan ini dapat dilihat dari pemain yang populer kini dan membawakan karya sastra legendaris yang aku sendiri berani bertaruh tak banyak anak muda yang mengenal Pramoedya Ananta Toer saat ini, apalagi dengan kisah-kisah berat pada masanya.  Pramoedya Ananta Toer tak membuat karyanya menjadi sederhana. Padahal jika disederhanakan, pementasan ini tak lebih dari cerita cinta, harta, dan keluarga. Latar hidup Pram yang pelik, dimensi zaman yang tak memihak pribumi, serta ruang gerak sempit dalam per-Nyai-an menjadi sorotan kisah per kisah dewa sastra ini. Lantas, semua itu diadu dalam pentas Bunga Penutup Abad, karyanya menari, dirampingkan dalam hanya 4 tokoh besar dengan durasi yang tak panjang. Sungguh sebuah apresiasi besar kepada para pekerja seni yang mewujudkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang rumit ke atas panggung.

Minke dan sahabatnya, Jean Marais. (sumber foto Instagram @teaterbungapenutupabad)

Jelang kepergian Annelis ke Belanda (sumber foto Instagram @teaterbungapenutupabad)
Akhirnya, aku bisa bermalam dalam kerinduan puitis Pramoedya Ananta Toer. Berdrama dengan peraduan panggung populer dan sastra. Bunga Penutup Abad untuk Nyai Ontosoroh, ketidakadilan Annelis, dan kegamangan Minke. Pram akan tersenyum. Dunia sastra pun menjadi teramat penting untuk urusan memotret zaman masa silam.

0 komentar: