Ramainya Hopping Island di Belitung

Pagi-pagi sekali, aku dan Junisatya sudah berada di Pantai Tanjung Kelayang. Ternyata kami tidak sendiri. Ada banyak rombongan wisatawan yang juga berada di sekitar kami. Mereka berkelompok menunggu giliran perahu motor sewaan datang. Lantas apa selanjutnya?

Island Hopping.

Ada beberapa aturan main, nih, untuk island hopping di pulau-pulau tertentu, khususnya Belitung.
1. Datang ke dermaga pagi-pagi sekali (kalau bisa pukul 06.00) saat air laut sedang surut
2. Sudah memakai pakaian lengkap siap snorkeling (menghindari kerepotan di tengah keramaian)
3. Pastikan sudah menyewa perahu motor dan perahunya sudah tersedia pada pagi itu juga
4. Simpan semua peralatan tidak tahan air di drybag (air laut itu kejam, bisa mencederai barang elektronik dan benda metal)



Di Belitung, ada beberapa pulau yang dapat dikunjungi dengan perahu motor seharian. Kami memastikan bahwa perahu sudah siap berlayar saat kami tiba di dermaga. Ya, Tanjung Kelayang memang menjadi persinggahan. Perahu mengapung berjajar di lepas pantai. Tinggal pilih, perahu mana yang akan mengangkut kita.

Saat itu aku dan Junisatya termasuk rombongan kesiangan. Pukul 9 menurut pelaut itu adalah kesiangan. Yeah, memang. Dan, cuaca sedang kurang mendukung. Air laut agak pasang dan angin sedikit ribut. Namun, masih aman untuk berlayar. Berangkatlah kami berlayar menuju Pulau Burung.

1. Pulau Burung
Sebenarnya pulau ini hanya berupa batu yang berbentuk kepala burung rajawali. Kalau imajinasimu tinggi, kamu bisa membayangan seekor burung sedang mengapung di tengah laut. Tumpukan batu menyerupai kepala burung ini sangat apik. Kami tak bisa mampir karena bebatuan di sekitar sana sangat dangkal. Jika air sedang surut, mungkin tak hanya kepala yang terlihat, tapi badan burung yang terbentuk dengan sempurna. Itulah Pulau Burung yang dapat dinikmati dari jauh saja.

2. Pulau Lengkuas
Sebelum melabuh di Pulau Lengkuas, kami snorkeling di perairan sekitar pulau ini. Tempat snorkeling di sini agak kurang membuatku nyaman karena banyak perahu motor parkir berbaris dan banyak orang-orang yang telah lebih dulu nyemplung, mulai dari anak kecil hingga orangtuanya. Laut begitu penuh.



Sebagai pencinta laut, tentu ini membuatku agak terusik. Ikan-ikan ramai berkerumun di sekitar kami mengharapkan makanan. Ya, seperti kebun binatang saja, binatangnya tahu kalau manusia-manusia ini datang membawa makanan untuk mereka.

Untung saja karang-karang besar ini masih terjaga. Ikan-ikan juga masih banyak populasinya. Warna-warni dan beragam sekali. Semoga saja pengunjung yang sepanjang tahun memenuhi tempat snorkeling ini tidak merusak seisi lautnya, ya. Kalau tidak, habis sudah kekayaan bahari di perairan Pulau Lengkuas.

Aku dan Junisatya hanya berenang sejenak. Tak bisa berlama-lama karena terlalu ramai. Kami pun memutuskan merapat ke sisi pulau dan menjelajah. Ya, Pulau Lengkuas adalah landmark wisata Belitung dengan mercusuar yang menjulang dan bisa dinaiki pengunjung.

Namun, sayang, pada saat kami ke sana, mercusuar sedang dalam perbaikan sehingga pengunjung tidak dapat naik dan melihat Belitung dari ketinggian. Kami harus senang dan berpuas dari duduk di batu-batu granit besar seperti yang ada di Pantai Tanjung Tinggi, serta bermain pasir putih yang lembut.





3. Pulau Kepayang

Pulau Kepayang ini adalah tempat konservasi penyu. Lokasinya lebih sejuk karena sebagian besar dari pulau ini adalah pohon kelapa. Bisa dibilang pulau ini "Coconut Island". Tidak banyak yang bisa dieksplor di pulau ini kecuali penyu, tukik, dan tempat nongkrong rindang tepi laut. Ibaratnya, setelah berterik-terik ria di Pulau Lengkuas, kami bisa menyejukkan diri sejenak di sini sembari bermain dengan penyu.

Pulau Kepayang juga menyediakan beberapa cottage sederhana yang lokasinya persis di bibir pantai. Cottage kayu ini biasanya dihuni oleh bule-bule yang ingin merasakan kesejukan Pulau Kepayang sembari ikut belajar dalam konservasi penyu dan beberapa binatang yang dilindungi. Ada cottage, ada restoran, ada konservasi hewan laut, ada lokasi snorkeling, dan diving. Kurang apalagi, kan? Angin yang membuai pohon-pohon kelapa benar-benar membuat kita mabuk kepayang.








4. Pulau Batu Belayar

Efek kesiangan yang kuceritakan di atas, kami tak dapat ke Pulau Pasir karena sudah tertutup air. Pulau Batu Belayar adalah pulau terakhir dalam rangkaian island hopping kali ini. Seperti namanya, pulau Batu Belayar terdiri dari komponen batu di atas pasir. Susunan batunya cukup unik. Dari jauh kita akan melihat batu ini seperti layar yang sedang terkembang. Sekilas juga terlihat seperti batu-batu lonjong yang jatuh dari langit dan tertancap di atas pasir dan akan begitu seterusnya.

Yang paling menyenangkan dari pulau batu ini, aku menemukan bintang laut. Selain batu-batu besar, daratan pulau ini terdiri dari pasir putih yang sangat lembut. Butiran-butirannya halus. Ada beberapa bintang laut yang kami temukan sedang mendekap pasir dan sesekali tergenang ombak. Ada ikan-ikan kecil menyapa kami. Ada pula ikan bening menyerupai agar-agar yang tampak terseret ombak. Entah apa namanya. Sekilas seperti ubur-ubur, tapi matanya lebih mirip ikan. Bangkainya banyak terserak di salah satu sisi pantai.





Di antara pulau-pulau yang kami kunjungi dalam island hopping, Pulau Batu Belayar adalah favoritku. Suasananya tenang, ombak-ombak kecil dengan halus menyapa telapak kaki, serta anginnya menerbangkan segala angan. Rasanya lega sekali berada di sini. Titik kepuasan dari sebuah perjalanan. Batu Belayar, semoga kita bertemu lagi.

2 comments:

  1. Kalo mao hopping island hrus udah booked perahu dlu bbrp hr sblumnya atau lngsung dtg ke sana bisa mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Langsung datang juga bisa kok. Rame di sana, malah bisa share cost sama yang lain. Pesan lebih baik sih buat memastikan kita dapat perahu apalagi kalau peak season

      Delete