Pesona Pantai Ngurtafur, Kepulauan Kei yang Memanjang dan Meliuk


Pesona Pantai Ngurtafur
Suatu hal yang tak terbantahkan bahwa Kepulauan Kei adalah mutiara dari Tenggara Maluku. Saat menyebut Kepulauan Kei, langsung melayang-layang sederetan pantai yang lebih dari sekadar indah di benak ini. Dan, kami, sederetan anak manusia dari Jakarta mencoba mengulik pantai demi pantai itu, merasakan bagaimana keindahan itu meresap dalam ingatan. Ada Ngurbloat, Ngurtafur, Ohoililir, Ohoidertawun, dan lain-lain. Kami hanya sempat mengarungi Kepulauan Kei Kecil.

Kali ini, aku akan bercerita tentang pantai Ngurtafur atau Ngurtavur. Persoalan huruf, tak jadi soal. Kei saja ada yang menyebut Kai. Yang penting kami tidak salah pelafalan.

Pagi itu, saat matahari mulai merangkak naik, kami berkendara ke Pelabuhan Debut. Musik dengan perlengkapan stereo lengkap di mobil sewaan mewarnai pagi itu. Dendangan Melayu khas Maluku membuka hari yang manis di daratan Kei. Mobil melaju merambah belantara di jalan beraspal yang sempit tapi sudah rapi. Suasananya sedikit gersang karena memang pulau ini sangat kecil. Pantai sangat dekat dengan kehidupan warga Kei. Nyanyian Melayu di mobil memecah kesunyian pagi di jalanan sepi.

Memasuki wilayah Pelabuhan Debut, jalanan melebar dan mulai banyak rumah-rumah warga berjajar di pinggir jalan. Ada sebuah gereja besar berwarna biru yang tampak berdiri megah dengan 2 menara. Di antara rumah-rumah yang kecil, gereja ini tampak mencolok sekali. Gereja menatap lurus menuju pantai dan di sanalah mobil kami berhenti.

Cuaca sedang bagus. Eits, bagus di pantai artinya bisa terik, bisa pula sangat terik dan menyengat. Seperti dalam perjalanan speedboat yang kami tumpangi ini. Tanpa tenda. Perjalanan kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Jauh sekali ya untuk ukuran speedboat tanpa pelindung dari matahari. Belum apa-apa, kami rasanya sudah terbakar.

Kami berlabuh di ujung Ngurtafur

Sepanjang tapak di Ngurtafur hanya gradasi biru yang terlihat.

Pasir putih tanpa pelikan kali ini.
Ada yang mengatakan, untuk mencapai sesuatu yang indah itu memang harus bersakit-sakit dahulu. Ya, inilah yang kami rasakan. Pulau Warbal sudah dekat. Kami mampir untuk meminta izin si 'Tuan Pulau' setempat untuk berkunjung ke salah satu aset terbaik pulaunya, Pantai Ngurtafur yang panjang melintang bagai ular sejauh nyaris 2 kilometer.

Tak sabar.

Dari Pulau Warbal, kami berkendara lagi menuju Ngurtafur. Kami berlabuh di ujung liukan pantai berpasir super-duper putih ini. Saat itu sepi. Pelikan yang kami harap muncul pun tak ada yang mampir.

Ya, pantai Ngurtafur terkenal dengan pantai tempat mampir burung pelikan. Bukan pelikan biasa. Tapi pelikan dari Australia yang menyeberangi Laut Banda hanya untuk merasakan angin Indonesia. Mereka transit di Ngurtafur ini untuk meneruskan perjalanan ke tengah Maluku. Ternyata ada musimnya mereka piknik ke sana. Biasanya ada puluhan pelikan berkerumun di pantai ini untuk beberapa saat dan lalu terbang lagi kembali, entah mengarungi Maluku atau kembali ke benuanya. Sayang, kami tidak datang pada jadwal yang tepat. Mungkin kali lain. Pokoknya kalau ingin melihat langsung kawanan pelikan (bule), bisa datang ke Ngurtafur ini.

Seperti namanya, Ngurtafur menjadi pantai yang memanjang, bagaikan lidah yang menjulur dari Pulau Warbal. Panjangnya bisa 2 kilometer lebih dan lebarnya (jika air laut surut) mencapai 7 meter. Kita akan menemukan Ngurtafur pada pukul 7-11 saja, setelah itu air laut akan menggenangi pasir-pasir ini. Meski masih termasuk pagi, jangan tanya menyengatnya seperti apa. Tidak ada tempat berteduh. Pantulan cahaya matahari membuat air laut di pantai ini sebening kristal, bersinar dan memanggil-manggil.

Air laut memantulkan kebeningan.


Kami menyusuri sejauh mana pantai ini meliuk-liuk. Memang panjang sekali dan rasanya kami mulai terbakar. Sudah hampir pukul 11 saat itu. Pasir putih berpadu air jernih menjadikan pagi itu bening. Matahari menyengat tapi tak mampu menghapus kesegaran Ngurtafur. Bagiku, Ngurtafur adalah sejumput surga. Kadang-kadang kita memang harus melihat yang indah-indah itu. Tak ada apa-apa lagi selain sekawanan burung camar yang hinggap di ujung pantai untuk beristirahat. Sisanya hanya keindahan, putih, terik, meliuk.

Berjalan di Pantai Ngurtafur seperti berjalan di atas catwalk, dengan air laut dan angin sebagai penonton, lalu pasir putih panjang yang meliuk sebagai panggungnya. Burung-burung camar akan bertepuk tangan. Sayangnya sedang tidak ada pelikan waktu itu.

Air laut sedikit demi sedikit menyapu kaki kami, menggelitiki sela-sela jari dengan airnya yang hangat. Sebentar lagi Ngurtafur pasti akan turun panggung. Menunggu esok pagi dengan arah liukan yang berbeda, panjang yang berbeda pula bergantung pada cuaca.

Selalu bersama Junisatya



Teman-teman sepermainan selama di Kei.

6 comments:

  1. Pantainya indah banget. Masya Allah.. :D

    Asik ya nemu pantai bagus yang sepi. Berasa milik sendiri. Hihihi :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren banget. Kebetulan memang belum banyak yang ke pantai ini. Penduduk sekitar cuma main di Pantai Ngurbloat.

      Delete
  2. Meluknya keren banget yah... subhanallaaaaah....

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir. Kapan kapan mampir lagi ya liat alam yang cantik-cantik kayak gini :)

      Delete