In Advertorial Land Hospitality Land

Menginap Rasa Rumah di Mountain View Villa Bandung

Time to take a rest for a while.
More Choice, More Space, More Value
Tidak ada yang tidak suka liburan, apalagi perjalanan. Semakin banyak berjalan, semakin banyak pula warna kehidupan yang kita terima. Perjalanan adalah kebutuhan, setidaknya bagiku. Bangun tidur, berangkat kerja (atau sekolah), istirahat makan siang, kerja lagi (atau kursus), pulang, tidur, untuk bangun lagi keesokan harinya dengan rutinitas yang sama. Kami butuh liburan, jerit badan ini sesekali saat pekerjaan semakin banyak dan tidak ada habisnya. Jika memikirkan pekerjaan terus, kita akan tua di kantor. Nah, inilah dia liburanku bersama rekan sekantor.

Merencanakan sebuah perjalanan memang harus dipikirkan sangat matang. Tidak repot, kok. Apalagi segala akses dapat diperoleh hanya di depan monitor PC, laptop, maupun smartphone. Seperti saat aku dan teman-teman kantor berniat liburan bersama kala itu. Setelah diskusi panjang, kami memutuskan untuk berlibur ke Bandung dan Lembang saja. Sulit mengumpulkan rekan-rekan sekantor yang beraneka ragam sifat agar bisa jalan-jalan singkat. Ada yang mau ke pulau, ke pantai, ke gunung, ke museum, dan ke kampung. Kami akhirnya mengambil jalan tengah, kami meluangkan waktu sejenak untuk berlibur di Bandung yang relatif murah meriah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bergabung karena tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Seperti biasa, kami berbagi tugas. Tugasku adalah mencari penginapan. Untuk mencari tempat menginap yang hanya semalam ini pun harus melalui perdebatan panjang lagi.

"Nginap di hotel aja. Nanti gue pakai voucher," kata Mas Arie yang memang hobi me-review hotel.

"Kita cari vila ajalah, ya," sahut Tika yang memang ingin melewatkan waktu bersama dalam satu rumah.

"Yakin, vila? Kan, bisa mahal dan harus survei dulu. Lagian ini, kan, cuma datang untuk tidur, terus pagi jalan lagi," sahutku.

"Cari yang tipe 'bed and breakfast' aja kalau enggak. Kayak hotel tapi bisa buat foto-foto juga," sambar Natan yang tidak bisa ikut tapi sangat ingin menyarankan kami menyewa kamar yang nyaman.

"Kita cari yang bisa bareng-bareng aja, biar malam atau paginya bisa masak bareng. Jadinya, kan, kita nggak perlu berebut kamar, yang satu tidur sekamar sama siapa," usul Yana yang suka masak sayur.

My great co-workers.

Wajah gembira bisa jalan-jalan di luar kantor.
Pusing, kan, kalau ingin liburan dengan banyak kepala? Ada banyak persepsi, banyak spekulasi, banyak ide, dan bisa-bisa acara kami terancam gagal. Yang paling baik adalah berbagai saran kami tampung. Untungnya Bandung itu bukan negeri yang asing lagi. Penginapan pun juga tidak sulit dicari sepenuh apa pun Bandung di akhir minggu. Jadi berangkatlah kami ke Bandung. Aku menyusun trip 2 hari 1 malam ke Bandung bersama teman-teman kantor yang jumlahnya tidak banyak. Ini akan jadi outing yang menyenangkan untuk kami.

Sekian kali aku menginjak Bandung, aku tak pernah bosan. Selalu ada yang baru di kota ini. Satu-satunya hal yang membuatku tak nyaman hanya kemacetan pada akhir minggu. Ini membuat kota ini sangat mirip Jakarta. Kelelahan kami selama di perjalanan, membuat kami ingin cepat-cepat sampai di penginapan. Beruntung akhirnya aku memilih sewa rumah saja agar kami bisa lebih leluasa menikmati liburan dan kebersamaan. Sewa rumah memang paling cocok dibanding harus menginap di hotel dengan memesan beberapa kamar. Ini tidak cocok dengan tema perjalanan kami yang bukan untuk tujuan dinas, melainkan bersenang-senang bersama. Kami tidak akan melewatkan satu pun momen bersama itu hilang meski pada malam hari.

Mountain View Villa jadi pilihan di wilayah Cimenyan. Lokasinya memang bukan di pusat Kota Bandung, tetapi setidaknya kami memiliki ruang yang tenang dan santai setelah seharian berkeliling Kota Bandung dan Lembang. Sebenarnya Mountain View Villa ini adalah rumah biasa yang terletak di sebuah komplek Villa Bukit Mas kawasan Cimenyan. Pemiliknya sengaja menamakan tempat tersebut sebagai Mountain View Villa karena memang berlokasi di perbukitan dengan pemandangan langsung ke arah lereng bukit Moko. Rumah rasa villa. Aroma pegunungan sungguh sangat terasa.

Look at the view!

Lingkungan sekomplek, seru ya lokasinya. Bikin betah.

Ruang keluarga.

Teras samping.

Rumah-rumah di sekitar tempat ini sepertinya memang untuk disewakan. Arsitekturnya menarik dan kekinian. Ada yang bergaya Eropa klasik, ada pula yang minimalis modern. Lingkungannya juga enak, agak jauh dari kegaduhan. Karena berada di lereng bukit, Mountain View Villa ini didesain minimalis untuk ukuran tanah yang tidak terlalu luas. Kami parkir mobil di depan rumah dan harus naik tangga dulu untuk mencapai pintu depan. Pintunya merupakan pintu geser kaca dengan jendela kaca lebar memenuhi hampir seluruh sisi. Ruang tamu menyatu dengan ruang keluarga dan dapur. Semua sudah dipikirkan oleh pemilik rumah bahwa rumah mereka harus fungsional dan segala desain minimalisnya mengantarkan kami pada suasana nyaman, aman, dan hangat. Sofa lebar menyambut kami sehingga memungkinkan untuk selonjoran bahkan tidur-tiduran di depan TV.

Yang juara dari rumah ini adalah teras yang menghadap ke lereng bukit. Dengan beberapa beanbag berwarna cerah, beranda yang menghadap ke lereng bukit itu jadi ikut meriah. Ukurannya yang lebar memungkinkan kami bisa barbeque di luar sambil menatap bintang. Kebetulan sekali ada personil kami yang membawa bekal rendang dan beberapa makanan. Isi dapurnya juga lengkap. Ada ricecooker, kulkas, dispenser, oven, kompor, serta piring dan gelas. Sudah jelas, kan, acara malam itu adalah masak-masak dan makan-makan. Acara ngumpul bareng terasa homey dan yummy.

Untuk urusan tidur dan kamar mandi memang sudah direncanakan pemilik rumah ini yang berniat menyewakan rumahnya. Kamar mandi ada 3 dan kamar ada 2. Cukuplah untuk kami yang hanya bersembilan. Para lelaki sebagian dapat tidur di sofa saja. Kamar terletak di basement melewati tangga sempit dan lorong menuju kedua kamar. Ada kamar utama yang langsung memiliki akses ke pintu luar yang merupakan teras dan garasi.

Para lelaki tepar di beranda rumah.

Kamar utama.

Kamar kedua, hore dapat extra bed.
Wah, kalau penginapan kami seperti ini, rasanya kami tak akan pergi ke mana-mana. Semua tersedia. Wifi pun ada yang memungkinkan kami mengerjakan sisa kerjaan (ada lho yang masih kerja di saat liburan). Siapa yang tidak betah berada di rumah, bersama teman-teman yang tidak pongah pula. Yang penting bukan destinasi apa saja yang kami datangi, tetapi bagaimana kami menghabiskan perjalanan itu.

Memilih untuk sewa rumah seperti ini adalah keputusan yang sangat tepat. We had so much time to laugh together every single day. Dengan mengambil tempat ini sebagai ruang untuk kami bersama, kami bisa menciptakan quality time, jauh dari topik bisnis dan pekerjaan, hanya ada kami, rumah, dan lingkungan. Kalau kamu ingin menghabiskan banyak waktu dengan teman, pasangan, atau keluarga, menginap di tempat seperti ini menjadi pilihan utama. Bahkan relatif low budget. Kita berpindah tempat, melakukan perjalanan bersama tanpa harus homeless. There are more choice, more space, more value, right?

Ada quote mengatakan,
Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. (Life Traveler--Windy Ariestanty)

Nah, kenapa kita tidak menciptakan rumah di mana pun kita pergi? Apalagi perginya tidak sendiri. Seperti saat aku di Bandung, kami menciptakan rumah bersama walau hanya dalam satu malam. Satu malam itu bermakna dan dibawa pulang ke Jakarta untuk energi pengisi hari-hari penat malam-malam berikutnya.

Tak perlu khawatir dengan biaya yang tinggi. Kini Travelio.com dengan kampanye tagar #TravelioMore seakan membaca situasi para traveler dan para pendamba liburan yang menginginkan akomodasi yang nyaman, mudah dan murah. Kita bisa sewa rumah, villa, dan apartemen untuk ditinggali beberapa saat dalam satu perjalanan. Ada kabar gembira, nih, buat kamu yang penasaran dan ingin mencoba layanan dari Travelio.com. Kebetulan aku punya voucher diskon 40% untuk sewa rumah, villa, atau apartemen. Kamu tinggal masukkan kode voucher di bawah ini pada saat pemesanan di website Travelio.com atau aplikasi Travelio di smartphone.

LIOMORETL6O8CHYU

Kode ini berlaku hingga 15 Desember 2016, ya, dan untuk satu kali pemesanan. Untuk tahu lebih lengkap, bisa cek blog Travelio. Coba dan buatlah rumahmu di mana saja! Wherever you feel peacefulness, you might call it home (Life Traveler--Windy Ariestanty).

 Jalan pagi di Bukit Moko, tak jauh dari rumah penginapan.


Sepertinya Bandung memang wilayah "semua ada", ya. Ada tawa, bahagia, dan cinta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Kuliner Istimewa di Kota Sabang



Ada banyak cerita tentang Sabang. Sebagian orang bilang Sabang itu tertutup karena mayoritas penduduknya adalah muslim, jadi gerak-gerik terbatas. Sebagian orang lagi bilang Sabang itu membosankan dan yang bisa dibanggakan hanya titik Kilometer Nol Indonesia. Kata orang juga, Sabang beruntung dijadikan patokan penghitungan batas wilayah negeri ini. Namun, bagiku itu semua tidak benar. Bahkan, lebih parah lagi ada yang berpendapat bahwa Sabang dan Pulau Weh itu lokasi yang berbeda. Yang benar adalah Sabang itu adalah nama kota kecil di Pulau Weh. Sabang itu, ya, terletak di Pulau Weh.

Sabang dibangun seperti ia ingin dibangun. Sabang pernah berduka saat ombak tsunami memecah belah daratan tahun 2004. Lalu kota ini berdiri lagi, membangun yang baru dan mempercantik diri. Sabang memang bagian dari Aceh, adat dan tradisinya pun begitu, sehingga penduduk Sabang memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan mereka. Sabang menjadi istimewa bukan karena apa yang telah dicapkan padanya, melainkan bagaimana kota ini menerima setiap pendatang dan berbaur dalam masyarakatnya. Sabang sepertinya menerima keberagaman dari pendatang. Itulah yang menjadikan Sabang tuan rumah yang ramah.

Aku sudah bilang kan di postingan sebelumnya kalau Sabang itu istimewa? Termasuk tongkrongan dan makanannya. Aku berada di Sabang selama tiga hari. Dalam waktu yang singkat itu pula, aku punya cerita tentang kuliner Kota Sabang. Cerita tentang pantai, pulau, dan bukit ada di tulisan lain dalam blog ini. Sekarang, mari kita lihat apa yang istimewa dari tempat-tempat nongkrong pemuda Sabang.

1. Makan siang di Murah Raya
Makan murah meriah tentu jadi pilihan para pejalan. Lokasinya tidak istimewa tapi kami bebas memilih menu lauk di sini. Seperti rumah makan padang saja atau seperti warteg yang banyak di Jakarta. Aku memilih makan nasi lauk dan sayuran. Ini adalah awal perjalanan di Sabang dan aku butuh energi untuk menjelajahinya.



2. Rujak di Panorama Pulau Klah
Seperti yang sudah disinggung di postingan tentang Sabang sebelumnya, ada yang istimewa dari rujak khas Sabang ini. Menyantap rujak di area perbukitan, pinggir jalan pula. jika duduk ke arah yang tepat, akan tampak pemandangan manis pulau kecil di tengah teluk, Pulau Klah. Rujak di Sumatera seikit berbeda dengan rujak yang kita kenal di Jakarta. Buah-buah yang masih belum matang itu dipotong kecil dan disiram dengan bumbu kacang manis-pedas. Penampakannya seperti gado-gado. Bumbu kacang ini dibiarkan meresap ke dalam aneka potongan buah.


3. Taman Kuliner Sabang
Sore terakhir di Pulau Weh kami habiskan di Taman Kuliner Sabang yang menghadap ke sebuah teluk arah barat. Taman kuliner ini hanya ramai saat malam minggu. Jadi, saat kami ke sana hari Minggu sore, tempat itu masih kosong. Taman Kuliner Sabang sangat terkenal di kalangan anak muda Pulau Weh. Lokasinya yang enak dijadikan tempat nongkrong karena bersisian dengan samudera lepas, menjadi pusat berkumpulnya anak-anak muda serta pusat keramaian kota Sabang. Jangan bayangkan seperti pasar malam, ya. Tempat ini jauh lebih rapi dan tertata. Apa yang jadi rahasia keindahan di sini? Taman Kuliner Sabang menjadi lokasi favorit memandang matahari terbenam setelah teriknya menggila seharian.

Makanan di sini beragam dan intinya tidak jauh berbeda dengan makanan yang kami temukan di Jakarta. Ada bakso, nasi goreng, ayam goreng, dan aneka makanan lainnya. Tapi, aku selalu suka es jeruk yang disuguhkan orang-orang Sabang. Manisnya beda, semanis pemandangan yang kami lihat sore itu.







4. Ngopi cantik di De Sagoe
Kata guide kami, ini salah satu tempat nongkrong saat malam tiba. Tempatnya tidak sehingar-bingar kafe-kafe di kota besar, tetapi cukup untuk menikmati kopi enak dari Aceh. Oh iya, teh tarik juga enak dan bukan teh tarik kemasan.

Yang menarik saat kami memasuki kafe terbuka ini kebetulan sudah masuk waktu salat isya. Kafe ini berseberangan dengan Masjid Agung Babussalam. Bagi yang muslim, sempatkan salat di masjid ini, ya, karena ini terbesar di Kota Sabang. Lokasinya persis di pusat kota Sabang dan di pinggir jalan. Tepatnya, ya di seberang kafe de Sagoe ini.

Kafe tetap ramai, tetapi pemilik dan pelayan kafe tidak ada di tempat. Mereka semua ke masjid agar tidak ketinggalan salat berjamaah. Kafe dibiarkan begitu saja dengan landasan azas kepercayaan. Kami pun tidak bisa langsung memesan minuman. Kafe baru akan aktif lagi pukul 9 malam, 1 jam usai salat isya. Sambil menunggu, kami menonton bola bersama pengunjung yang lain, sembari bergantian menyeberang ke masjid untuk ikut salat.




5. Sarapan Nasi Lemak di Pantai Iboih
Kebetulan kami menginap di resort di Pantai Iboih, Fina Bungalow. Pantai Iboih sudah jadi kampung sendiri dan sangat banyak penginapan dan jajanan di sekitar sini. Jadi, kalau pagi-pagi tidak perlu jauh-jauh mencari sarapan sebelum mengarungi Pulau Weh. Sarapan sederhana dengan view yang indah pagi-pagi sudah membuat perutku kenyang. Di depan bungalow, persis di pinggir pantai ada warung yang jual nasi lemak (nasi uduk). Rasanya gurih dengan lauk yang macam-macam. Kami duduk di sebuah bangku dan meja kayu dekat dermaga. Belum banyak aktivitas pagi itu, dan pantai Iboih sungguh tenang. Kami makan dengan bergembira, meresapi pagi yang mulai menghangat.


Read More

Share Tweet Pin It +1

5 Comments

In Movie Land

Fantastic Beasts and Where to Find Them : Funny-Magical Adventure Movie


Film Fantastic Beasts tayang lebih dulu di IMAX Indonesia (gambar diambil dari sini)
Ada banyak ekspektasi tentang film Fantastic Beasts and Where to Find Them. Tapi satu yang harus diingat, meski ini masih Harry Potter universe, film Fantastic Beasts bukanlah Harry Potter. Jadi, jauhkan pikiran tentang petualangan di sekolah, remaja, dan pengenalan benda-benda sihir serta dunia yang diciptakan agar Harry Potter menjadi terkenal di kalangan penyihir. Film ini lebih kompleks dari sekadar cerita yang berlokasi di sekolah sihir Hogwarts. Fantastic Beasts and Where to Find Them adalah potret nyata dunia sihir di luar dinding sekolah.

Potterhead tentu tahu pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib di Hogwarts dan sempat diajar oleh Hagrid. Nah, buku wajib mereka adalah Fantastic Beasts and Where to Find Them yang ditulis oleh Newt Scamander (meski saat Hagrid mengajar mereka menggunakan buku Monster tentang Monster). Bukunya dirilis secara umum sebagai pelengkap seri Harry Potter.

Ketika semua seri Harry Potter difilmkan, rasanya aksi di dunia sihir ala JK Rowling ini sayang diakhiri begitu saja. Fantastic Beasts and Where to Find Them pun menarik perhatian untuk difilmkan di samping proyek teater Harry Potter and The Cursed Child yang hanya bisa dinikmati terbatas di London. Well, sebenarnya hal yang menarik dari buku Fantastic Beasts adalah coret-coretan Harry dan Ron yang heboh sekali di dalam buku tersebut (dibuat seolah-olah begitu dan memang Fantastic Beasts itu--seolah-olah--buku pelajaran milik Harry). Setiap halaman selalu ada selipan komentar yang tercetak menyerupai tulisan tangan antara Harry, Ron, dan Hermione sesekali. Aku tidak membaca detail tentang hewan-hewan magis di dalamnya karena memang membosankan seperti membaca buku pengetahuan tentang hewan-hewan langka. Yang kubaca lengkap hanya beberapa hewan yang sempat muncul dalam keseluruhan seri Harry Potter. Sisanya, sengaja kuabaikan. Siapa sangka buku pelajaran tentang hewan dan coretan konyol Harry dan Ron akan dijadikan film, sih?!

Cover buku Fantastic Beasts and Where to Find Them (gambar diambil dari sini)
Tanpa mengubah judul, film Fantastic Beasts and Where to Find Them diangkat ke layar lebar. Kalau kamu buru-buru beli bukunya sekarang dan baca, dijamin tak ada satu pun kata di dalam buku itu yang dapat dijadikan clue untuk kisah filmnya selain klasifikasi jenis binatang magis. Ya, buku Fantastic Beasts ini, kan, mulanya adalah buku pelajaran di sekolah sihir Hogwarts, bukan sejarah, bukan pula cerita dongeng. Jadi, hanya mengungkap jenis-jenis binatang magis (satwa gaib) yang dijelaskan satu per satu. Tampaknya produser tertarik dengan judulnya, andaikan judul buku itu menjadi judul film yang merupakan spin-off Harry Potter. Tak ada yang mempunyai gambaran bagaimana plot film itu kelak.

Cuma satu petunjuk yang sangat jelas terlihat bahwa film Fantastic Beasts ini akan jadi film petualangan Newt Scamander saat menemukan berbagai hewan-hewan magis yang liar sebelum akhirnya tulisannya dibukukan. Nah, dari clue itu, apa yang dapat kita pikirkan selanjutnya? Tentu waktu kejadian yang jauh sebelum Harry Potter bersekolah di Hogwarts. Petualangan Newt Scamander tentu sangat panjang untuk dapat menaklukkan hewan-hewan yang ditulisnya hingga tahu detail tentang mereka. Itu artinya, waktu di dalam semesta film akan ditarik mundur jauh sebelum Harry Potter lahir. Apakah menjadi satu kejadian saat Voldemort bersekolah atau berkuasa? Tidak ada yang tahu mulanya karena nama Newt Scamander sendiri hanya disebutkan di Harry Potter and the Sorcerer's Stone. Kita tidak akan bisa mengorek lebih jauh dari itu, hingga teaser-teaser rilis dan trailer beredar serta hewan-hewan apa saja yang kira-kira akan muncul di film.

Daftar pertanyaan langsung muncul di benakku saat melihat teaser dan trailer film Fantastic Beasts.
1. New York? 
2. Newt Scamander menangkap binatang magis di New York?
3. Apa hubungannya New York dengan Hogwarts?

Lalu muncul pula pertanyaan setelah trailer terakhir muncul.
1. Ada rezim sihir di New York selain di UK. Bedanya apa?
2. No-Maj?
3. Macusa?
4. Ilvermorny?
Rasanya ada struktur dunia sihir baru yang dirancang oleh JK Rowling.

Fantastic Beasts naik ke layar lebar (gambar diambil dari sini)
Penasaran diikuti oleh ketidaksabaran menunggu tanggal 16 November 2016. Lagi-lagi film Hollywood tayang lebih cepat di Indonesia. Akhirnya sampailah kita pada filmnya.

Fantastic Beasts and Where to Find Them berlatar tahun 1926. Kebetulan saat itu penyihir Grindelwald sedang memperluas pengaruhnya di New York dan menggegerkan Macusa (The Magical Congres of the United States of America--Kementerian Sihir versi Amerika Serikat). Eksistensi dunia sihir di Amerika Serikat mulai terbongkar dan kaum No-Maj (non magic people) alias Muggle di Inggris mulai curiga bahwa penyihir itu ada dan harus dibasmi. Sepertinya Grindelwald tidak peduli bahwa akan terjadi perang besar antara penyihir dan no-maj. Ya, memang dia tidak peduli, bukan, demi yang disebut-sebut sebagai The Great Good. 

Di tengah gonjang-ganjing itu, Newt Scamander (Eddie Redmayne), karyawan Ministry of Magic (Kementerian Sihir di London), datang ke New York berbekal satu koper. Dia adalah seorang magizoologist. Koper yang selalu ditentengnya itu bukan koper biasa. Newt menyimpan segudang binatang magis dan memastikan mereka aman di dalam koper hingga nanti dapat dilepas ke alam bebas. Tujuan awalnya datang ke Amerika adalah melepas Thunderbird-nya ke Arizona, habitat asalnya.

Namun, tampaknya dia datang di saat yang kurang tepat. Dia harus mengalami kejadian menyangkut binatang magis di dalam kopernya yang kabur. Misalnya, Niffler menyukai benda-benda yang berkilau. Dia sempat mengacau di sebuah bank nasional di New York dan masuk ke toko berlian. Dengan susah payah, Newt Scamander harus mengamankannya kembali ke dalam koper. Sialnya, kopernya sempat tertukar dengan koper milik pengusaha roti dari kaum No-Maj, Jacob Kowalski (Dan Folger).


Satu hal yang Newt belum tahu bahwa membawa binatang magis masuk New York adalah tindakan ilegal. Ia ditangkap oleh Tina Goldstein, seorang auror dari Macusa. Suatu kebetulan juga bahwa New York sedang dilanda horor akibat salah satu binatang magis berbahaya telah menyebabkan satu kematian dan bukan yang terakhir, Newt sendiri yang memberikan pendapat itu di hadapan sekumpulan auror dan petinggi dunia sihir. Tentu saja semua mata tertuju pada Newt Scamander. Ia dituduh memelihara Obscurus--hewan langka parasit yang hidup dalam tubuh anak kecil penyihir yang depresi--hanya karena ada 1 obscurus di dalam kopernya yang sedikit diasingkan dari binatang lain. Koper Newt disita. Seketika, Newt menjadi tawanan Macusa dan dijatuhkan hukuman mati karena disangka menjadi penyebab tragedi besar di seantero kota New York. Sementara itu, Jacob yang juga sedang berada di waktu dan tempat yang salah bersama Newt harus diberi mantra obliviate untuk menghapus ingatannya tentang pengetahuan sihir yang baru saja ia terima.

Malapetaka sedang melanda New York. Tina Goldstein percaya bahwa Newt dapat menaklukkan Obscurus ini karena tidak ada orang yang percaya bahwa Obscurus itu masih ada. Mereka dibantu oleh Queenie Goldstein, saudara Tina untuk melarikan diri bersama dengan Jacob dari kantor Macusa. Newt Scamander mendapat tugas yang berat untuk menaklukkan Oscurus yang semakin kuat dan menghancurkan segenap kota. Ini membuat eksistensi dunia sihir terekspos besar-besaran, seperti yang diharapkan musuh besar dunia sihir Gillert Grindelwald.

Petualangan Newt Scamander bersama sekumpulan hewan-hewan magisnya menjadi tontonan fantastis di setengah film awal. Film ini memberikan gambar-gambar menakjubkan tentang hewan-hewan ajaib itu dari berbagai habitat. Untuk sementara mereka hidup di dalam koper Newt yang telah diperbesar sesuai kebutuhan. Teringat clutch pesta milik Hermione yang dapat menyimpan segala kebutuhan Harry, Ron, dan dirinya dalam pencarian Horcrux di Harry Potter and The Deathly Hallows. Perbedaannya, kita tidak diberikan visual isi clutch Hermione saat itu yang berisi sekumpulan buku, tenda, berbagai ramuan, bermacam pakaian, dan beberapa benda lain. Nah, dalam Fantastic Beasts, kita dapat masuk ke dunia di dalam koper Newt yang juga penuh magis. Ocehan-ocehan Jacob saat tercengang melihat keajaiban sihir di depan matanya sungguh mengocok perut, ditambah ulah iseng binatang-binatang nyentrik itu dalam serangkaian kejadian. Karakter Newt sebagai pencinta binatang sedikit mengingatkan kita pada Hagrid yang sangat menyukai hewan-hewan magis yang dianggap berbahaya. Mungkin bahkan Hagrid mengidolakannya.

Di sisi lain, masalah serius bergerak dan tumbuh. Perhatian kita tertuju pada Credence (Ezra Miller), anak laki-laki dari keluarga Salem kedua. Tidak ada detail yang menjelaskan tentang The Second Salem ini yang menjadi para pemburu penyihir. Mary Lou, kepala organisasi Salem mengadopsi anak-anak yatim dan fakir. Dari sanalah Mary Lou menghimpun pendukungnya untuk memerangi penyihir. Pada masa itu penyihir diburu. Mary Lou sendiri bukanlah orang baik. Dia no-maj yang menganggap dunia sihir itu harus dihilangkan. Oleh sebab itu, begitu kekacauan menghantam kota, The Second Salem memprovokasi beberapa masyarakat untuk memusuhi penyihir. 

Credence adalah seorang squib (lahir dari keluarga penyihir tapi tidak punya kemampuan sihir) diadopsi oleh mary lou. Ini yang membuat karakter Credence mengganggu kita di sepanjang film, sangat pemalu, aneh, tidak bisa berinteraksi dengan orang lain. Sosoknya menarik perhatian Percival Graves, kepala keamanan sihir Macusa. Graves menjanjikan sesuatu yang tidak pernah ia dapat dari Mary Lou asalkan Credence dapat membongkar misteri Obscurus. Graves curiga pada adik angkat perempuan Credence. Namun, tekanan demi tekanan batin tampaknya membuat Credence semakin stres. Obscurus berhasil membunuh Mary Lou. Lantas, siapakah inang Obscurus? Lalu siapa yang melepaskan Obscurus begitu saja di New York. Satu spoiler yang bisa kusebutkan di sini adalah bahwa Credence diberikan kalung berlogo Deathly Hallows (yang nonton Harry Potter and Deathly Hallows pasti tahu). Pada zaman itu, kalung berlogo Hallows dipakai oleh pengikut fanatik Gillert Grindelwald. Nah, silakan ditebak selanjutnya, ya. Kita diberi penampakan Grindelwald di bagian akhir film.

Usaha JK Rowling membangun dunia sihir baru di wilayah Amerika Serikat patut diacungi jempol mengingat risikonya besar. Potterhead di seluruh dunia akan membandingkannya dengan seri Harry Potter jika konstruksi dunia sihir itu gagal. Namun, tampaknya tidak mengecewakan. Bahkan aku berani bilang, dari sisi visual, Fantastic Beasts lebih unggul. Visualisasi kota New York tahun 1920-an tergambar natural. Visualisasi  kantor Macusa juga tak kalah megah. Jika Kementerian Sihir Inggris dibangun di bawah tanah kota London, Macusa justru diletakkan berdampingan dengan kantor para no-maj di sebuah gedung pencakar langit, Woolworth Building. David Yates yang sepertinya sudah sangat mengenal dunia sihir ciptaan JK Rowling dari 4 film terakhir Harry Potter tentu dengan mudah membangun nuansa magis dalam film ini, bahkan dilengkapi humor renyah dari tokoh-tokoh yang memang jajaran aktor kawakan. 

Ada sedikit hal yang menganggu di dalam film ini. Pondasi cerita yang ditulis langsung oleh JK Rowling sebagai Screenplay di proyek franchise film ini kurang begitu kuat. Setiap kejadian dihubung-hubungkan tanpa ada alasan yang mendasar. Seperti Newt yang tiba-tiba saja dijatuhi hukuman mati setelah introgasi tanpa ada pengadilan. Lalu bagaimana Obscurus menjadi hewan sangat liar dan berbahaya mendadak menjadi musuh utama di film ini. Penghancuran kota divisualisasikan dengan baik tetapi alasannya tidak tepat sasaran. Sepertinya konstruksi Obscurus tidak dilatari kisah yang relevan. Inangnya pun boleh jadi sebuah twist tetapi tidak cukup kuat menopang isi plot yang dibangun di awal. Penampakan hewan-hewan magis mengambil porsi cukup banyak tapi kurang kuat mengantarkan kita pada kisah hewan-hewan magis berbahaya macam Obscurus. Ya, pondasi cerita sebegitu penting saat membangun dunia sihir yang baru di Amerika yang seharusnya membuat karakter Newt Scamander ikonik layaknya karakter Harry Potter. Mungkin ini PR untuk film selanjutnya. Yang aku tahu, di sini karakter Newt sungguh kharismatik. Kelemahan pada pondasi plot yang tidak sekuat seri Harry Potter, ditutupi oleh para pemain karakter yang mampu menginterpretasi peran masing-masing untuk tampil unik. Kita akan puas dengan pencerahan dari berbagai ekspresi yang dipasang oleh Jacob dan chemistry-nya dengan Queenie. Mereka juara. It's really funny-magical adventure movie.

JK Rowling tidak saja mengangkat Fantastic Beasts ke dalam film ini tetapi juga mengimbangi dengan Sejarah Sihir pada masa itu. Tentu saja, jika boleh menebak-nebak, nih, seri Fantastic Beasts yang akan dibuat dalam 5 film akan memuncak dalam perang global dunia sihir saat itu, persahabatan Dumbledore dan Grindelwald yang berujung pada penghancuran salah satu dari keduanya. Newt Scamander bisa jadi berada di antara peperangan itu karena berpengaruh terhadap hewan-hewan magis berbahaya. FYI, Albus Dumbledore-lah yang memberikan kata pengantar untuk buku Fantastic Beasts and Where to Find Them yang ditulis oleh Newt Scamander. Mari kita jadikan benang merah tebak-tebakan untuk kisah-kisah fantastis selanjutnya dalam seri ini.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Journey Land

Cerita tentang Sabang, Pulau Weh dan Kilometer Nol

Apa yang ada di benakmu saat mendengar atau membaca kata Sabang?

Ya, mungkin langsung terngiang lagu wajib nasional "Dari Sabang sampai Merauke" yang dulu sering dinyanyikan saat kita SD. Yang kita tahu dari Sabang itu adalah satu tempat di ujung barat Indonesia yang berkebalikan dengan Merauke. Sabang menjadi batas wilayah terbarat negeri ini. Sebagai orang Sumatera, aku sudah dikenalkan tentang lokasi Sabang ini semenjak sekolah dasar. Siapa sangka, aku benar-benar mengunjunginya saat semester akhir kuliah S2.

Sabang menjadi istimewa karena semua anak Indonesia tak ada yang tak kenal Sabang berkat lagu wajib di atas. Saat menginjakkan kaki di Sabang, ternyata aku tahu, Sabang tak sekadar lagu. Sabang lebih istimewa dari itu.

Ada banyak yang indah-indah di Indonesia bagian timur. Tapi tak sedikit pula hal yang indah di bagian baratnya. Jangan pernah mengabaikan keindahan Sumatera, itu kata nenek moyang kita. Jadi, pada kesempatan ini aku menjambangi Sabang, satu sudut kota kecil di ujung Sumatera.

Aku dengan geng traveling-ku terbang ke Medan, lalu lanjut jalur darat menuju Aceh menembus hutan Bukit Barisan Sumatera. Perjalanan panjang, ya. Tapi seru. Dari Aceh, kami bertolak ke pelabuhan Ulee Lheue untuk naik kapal express ke Pulau Weh. Yes, Sabang itu terletak di Pulau Weh, pulau yang menjadi ujung barat Indonesia.

I was very excited. Kami berada di Pulau Weh, menikmati pulau ini tanpa aku harus merasa asing. Saat sopir menjemput kami di pelabuhan Balohan, si abang guide langsung mengira aku orang Aceh. Dengan muka lonjong, kulit sawo matang, alis tebal, mata kecil dan hitam, berjilbab pula semakin membuatnya yakin kalau aku ini orang Aceh. Bahkan dia bertanya dengan dialek Melayu Aceh yang sudah tak sulit bagiku untuk mengerti bahasanya. Tapi sayang, tebakan abang guide kami itu salah. Ya, sesama berdarah Sumatera, roman wajah kami memang gampang dikenali.

Nah, sekarang pertanyaannya, Sabang itu seperti apa, sih?



Ada banyak sekali tempat yang kudatangi selama di Pulau Weh. Bisa dibilang, mengunjungi Pulau Weh itu adalah sebuah perjalanan paket komplit. Ada lautnya, ada pantai, ada kuliner, ada gunung, ada bukit, ada air terjun, ada tempat-tempat sejarah. Terdengar seperti Bali, ya, segala macam bentuk liburan ada kecuali kafe-kafe gemerlap dan klub malam. Itulah yang membedakannya memang dengan pesona-pesona pulau di Indonesia yang lain. Bisa dibilang pula, Pulau Weh itu sepotong surga.

Tak ada yang tidak jatuh cinta saat melihat Kota Sabang yang tenang dan rindang. Jika merunut pada arti nama, Sabang itu berasal dari bahasa Arab, 'Shabag' yang artinya gunung meletus. Kota Sabang yang berpantai dan berbukit-bukit ini memang terbentuk melandai akibat letusan gunung. Ada dua gunung aktif yang berada di Pulau Weh ini, gunung api Jaboi di daratan dan gunung api Pria Laot yang terletak di perairan Pulau Weh. Dua gunung ini pula yang membuat Sabang jadi kota yang subur dan memiliki bawah laut yang tak kalah dari taman nasional bawah laut di wilayah Indonesia bagian timur. Jadi, Sabang tak boleh diremehkan, ya.

Kota Sabang bukan kota yang besar tapi orang-orangnya bersahaja. Jalanan relatif sepi dan kondisi jalan sangat mulus. Kami juga dengan bebas memilih tempat-tempat pemberhentian yang pemandangannya oke. Jalan serasa milik kami sepenuhnya. Semacam dream city, ya, kota ini. Tenangnya luar biasa. Terlihat sekali orang Sabang sangat menghargai wilayahnya dan menjaga agar kota mereka layak dikunjungi wisatawan.

Dengan senang hati kami menyusuri setiap sudut Kota Sabang. Cuaca yang panas di sebuah pulau ditambah kadar minyak dari angin laut membuat tubuh kami cepat lelah. Tetapi, kota Sabang yang seperti kota baru dibangun ini meluruhkan kepenatan itu. Kami dikenalkan pada kelok 8 yang panoramanya langsung menghadap ke laut. Jalanan kota Sabang memang berliku-liku dan naik-turun bukit. Kelok 8 ini termasuk jalan baru yang sengaja dibuat untuk pengunjung, dan agar jalanan bukit tampak lebih landai.





Satu hal yang tak boleh dilewatkan, makan rujak khas Sabang di jalan Gampong Krueng Raya. Bukan soal rasa rujaknya yang spesial tapi lokasinya yang luar biasa. Kami duduk di sebuah warung rujak di pinggir jalan dan langsung menghadap ke panorama Pulau Klah. Siang-siang, makan rujak khas Sabang di bawah pohon rindang tepi jalan sungguh momen yang jarang terjadi. Pas sekali, apalagi Pulau Klah disebut-sebut sebagai jantungnya Teluk Sabang. Kami yang tak sempat berlayar ke Pulau Klah cukup puas melihat pulau mungil itu dari atas sini. Rasanya ingin menghabiskan hari di bukit itu.

Dulu sekali, dalam pelajaran Geografi di sekolah, kita diberi tahu bahwa Sabang itu batas wilayah paling barat Indonesia. Makanya dibangunlah tugu Titik Kilometer Nol Indonesia. Kami ke sana, ke titik itu yang saat ini sedang direnovasi. Kata orang sana, pemda sedang merancang pembangunan sebuah menara dengan angka nol di bagian puncaknya, melambangkan bahwa Indonesia itu bermula dari sini dan ujungnya tentu ada di Merauke. Tugu tersebut mudah dijangkau tentu dan berada di perbukitan. Kita bisa melihat laut lepas Samudera Hindia dari Titik Kilometer Nol.

Namun, tahukah kamu ada fakta lain tentang perbatasan negeri ini? Pulau Weh bukan batas paling barat. Masih ada Pulau Rondo yang tak jauh dari Pulau Weh itu. Pulau Rondo ini berada di samudera lepas dan tanpa penghuni. Tsunami 2004 pun pernah menerjang pulau Rondo dan pulau itu tetap bertahan. Lebih adil jika titik kilometer nol Indonesia itu dimulai dari Pulau Rondo. Hanya karena pulau itu tidak berpenghuni, titik nol kilometer menjadi anugerah Kota Sabang. Pulau Rondo seakan terlupakan.




Monumen dengan tugu yang belum jadi.
Sejak banyak negara tetangga yang meng-klaim pulau-pulau terluar kita (kalau kata anak Sejarah, pulau terdepan), kini Pulau Rondo tak sendiri. Pulau Rondo menjadi markas militer untuk menjaga perbatasan kita. Nelayan pun tak ada yang boleh ke sana. Pulau Rondo terasing tapi tetap punya kita. Kami sebagai pejalan ini jadi tahu bahwa titik-titik perbatasan itu tidak selalu diukur dari pelajaran Geografi di sekolah. Harus banyak berjalan, harus banyak melihat, dan harus banyak belajar.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Movie Land

Doctor Strange, Permainan Sihir dalam Dunia Superhero

Saat promo Doctor Strange mulai merebak, aku bertanya pada Junisatya.
Aku : Juni, Doctor Strange itu superhero ya?
Juni : Keluaran Marvel, bukan?
Aku : (mengangguk)
Juni : Iya.
Aku : Emang semua film Marvel tentang superhero?
Ini pertanyaan konyol, sih, karena semua pencinta film juga tau kiprah Marvel di Hollywood .
Juni : Iyalah.
Aku : Ooh.

Kenapa aku bertanya seperti ini? Karena memang dari teaser film ini beberapa bulan lalu, Dr. Strange cukup menarik perhatian. Biasanya aku tak terlalu tertarik dengan superhero, ya sekadar nonton saja tampa ketertarikan khusus. Namun, sepertinya ada yang beda dari Doctor Strange. Rasanya ini di luar kisah-kisah Superhero lain yang mengandalkan kekuatan fisik, teknologi, dan sedikit mitos barat. Ya, mungkin aku tak terlalu tau banyak tentang karakter superhero, tapi ayolah, polanya tidak sama dengan Captain America, Deadpool, Ironman, Ant-man, Thor. Doctor Strange mengedepankan pikiran, energi, intuisi, sihir, roh dan dunia multidimensi.

Doctor Strange belajar ilmu sihir. (Gambar diambil dari sini)



Wajar rasanya jika Doctor Strange menjadi begitu ditunggu-tunggu. Tidak seperti Avengers yang selalu menemani kita hampir setiap tahun. Tidak seperti Captain America yang menjadi sorotan. Tidak pula seperti Ironman, si ahli mesin.

And, movie time.

Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) hanya seorang dokter ahli bedah otak. Lalu ia mengalami kecelakaan tragis yang membuat saraf motorik tangannya tidak bekerja efektif. Kekuatan superhero tak serta merta didapat akibat kecelakaan itu. Justru, kelumpuhan tangannya yang mendorongnya mencari dan terus mencari kesembuhan. Kelumpuhan jemarinya membuatnya tak bisa jadi dokter bedah lagi. Ketika semua ahli medis terkemuka tak dapat membantunya, Doctor Strange mulai mencari semacam pengobatan alternatif. Ya, sepertinya kita dapat langsung menebak ke mana arah ceritanya. Rupanya sudah menjadi stereotip bahwa urusan pengobatan alternatif tentu berkiblat pada Asia. Ke sanalah Doctor Strange berangkat, Kamar-Taj di Nepal.

Doctor Strange yang arogan tapi cerdas, selalu mengandalkan logika dan ilmu pengetahuan alam di atas segala-galanya. Setelah perjalanan panjang yang membuatnya bangkrut, ia harus berhadapan pada sebuah cara pengobatan dengan keyakinan jiwa bahwa dalam setiap tubuh terdapat roh, yang bisa menyembuhkan sekaligus melukai. Tentu saja itu sangat bertolak belakang dengan ilmu medis yang ia dalami selama bertahun-tahun. Ia direkrut menjadi murid dalam perguruan The Ancient One, di luar leih terlihat klinik pencerahan jiwa bagi yang membutuhkan sehat jasmani dan rohani. Namun, Strange menemukan hal-hal yang lebih dari sekadar klinik penyembuhan alternatif. Ia menemukan dimensi lain yang merangkum kehidupan dan apa saja yang sedang terjadi di dunia berbagai dimensi itu.

Kita berbicara dimensi, energi, dan lintas waktu tentu saja. Rasanya tak bisa dipercaya, ya, bahwa tema superhero ini lekat dengan dunia sihir dan mistis. Dalam Doctor Strange, kita akan bertemu dengan dunia cermin, dimensi tanpa waktu, pintu-ke-mana-saja dengan kekuatan pikiran, dan pemutarbalik ruang tanpa batas grativasi. Ada pula istilah ragawi dan wujud astral. Istilah-istilah ajaib ini rasanya tidak asing jika kita berbicara tentang Lord of The Ring, Hobbit, Harry Potter, The Chronicle of Narnia, The Golden Compass, dan kisah-kisah sejenis lainnya. Akan berbeda jadinya dengan Doctor Strange.

Poster film Doctor Strange. (Gambar diambil dari sini)

Dimensi cermin tanpa medan-gaya. (Gambar diambil dari sini)
Doctor Strange menjadi suatu perebutan satu halaman dari kitab yang berbahaya yang dicuri Kaecillus (Mads Mikkelsen). Dia juga murid di Kamar-Taj tadinya. Rupanya kekuatan sihir telalu memabukkan baginya dan membuatnya kalap. Keinginnannya untuk hidup abadi bersentuhan dengan Dimensi Gelap. Mulanya ini adalah permusuhan antara The Ancient One (Tilda Swinton) dengan murid. Namun, semua berkembang dan Doctor Stange terlalu pintar untuk tidak mengacuhkan perang yang akan datang. Kepintaran dan usaha keras Strange di perguruan menjadikannya semakin kuat. Kelumpuhan tangan seakan hanya perkara sepele. Strange belajar banyak dan seperti Kaecillus, punya keinginan untuk mengetahui tentang dimensi waktu. Tapi kepentingannya tentu berbeda.

Formula cerita masih mudah ditebak, tetapi visual memberikan banyak hal baru. Kita akan dibawa masuk ke dalam aksi-aksi Doctor Strange dengan efek-efek yang menakjubkan. Dunia multidimensi, serta kerlip warna-warni dalam dunia tanpa waktu menjadi visual yang sungguh menarik. Tentu ini berbeda dengan semesta superhero yang selama ini dipertontonkan oleh Marvel. Lupakan tentang logika dan lupakan tentang dimensi dunia yang penuh medan-gaya. Doctor Strange lebih dari itu. Percampuran sihir dan kekuatan superhero menjadi suatu yang klop di sini. Beyond limit.
Hal yang menarik di film ini adalah bagian Doctor Strange yang sudah sepenuhnya kuat dan jadi penyihir masih harus membawa guru perguruannya yang jatuh dari puncak gedung ke rumah sakit. Lalu saat Strange sekarat setelah pertempuran di Kuil New York membuka pintu dimensi tanpa batas ruang dan menujukannya ke rumah sakit untuk selanjutnya diambil tindakan pembedahan. Rupanya mistis masih harus bersentuhan dengan medis.

Sepertinya, jika Doctor Strange bertemu Iron Man, situasinya akan lebih dari sekadar Civil War. Alih-alih harus menyandingkannya dengan Iron Man, Marvel lebih dulu mempertemukannya dengan Thor (terdapat pada post credit scene) yang dasar-dasarnya adalah mitologi.

Lalu apa yang tersisa setelah menonton Superhero baru ini? Imajinasi yang melayang-layang meski kita tidak banyak disuguhi perubahan dan perkembangan karakter di dalam film. Benedict Cumberbatch sudah menawan kita dalam pesonanya. Yeah, namanya superhero, lupakan tentang diri sendiri. Seperti kata The Ancient One, "Terkadang kita harus memikirkan The Greater Good." Seperti ucapan Dumbledore dalam serial Harry Potter. Mungkin ini yang disebut semesta kisah sihir.

Kalau kata Mordo, tangan kanan The Ancient One dan jadi partner Strange, "Forget Everything you think you know."
Artinya, tonton saja filmnya tanpa harus berkomentar macam-macam.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments