In Movie Land

Yang Menarik dari Ada Apa dengan Cinta? 2

Ada Apa dengan Cinta? 2 dalam Reuni Puisi dan Seni


Ada Apa dengan Cinta? 2 tayang juga. Rangga dan Cinta akhirnya bertemu untuk menyelesaikan urusan cinta mereka yang menjadi tanda tanya selama 14 tahun. Ini menjadi perayaan tentunya, perayaan reuni bagi pemain dan kru, perayaan nostalgia bagi penontonnya, serta perayaan kebangkitan film Indonesia dalam lensa budaya pop 15 tahun silam.

Geng Cinta liburan ke Jogja. (Sumber foto: http://aadc2.com/)
Ketika dunia social media sempat digemparkan oleh kisah Ada Apa dengan Cinta? (AADC) versi Line 2014 lalu, permintaan dan harapan tentang sekuel AADC versi layar lebar menjadi terbuka. Ocehan dan komentar itu dilayangkan langsung ke rumah produksi AADC, sutradara, produser, bahkan para pemain. Ya, AADC versi Line telah ditonton satu juta users dalam satu hari penayangan di aplikasi Line dan Youtube. Bukan tidak mungkin, the real sequel diwujudkan.

Tepat 28 April 2016, AADC 2 tayang di bioskop. Pada hari itu juga, kami, para penonton, berbondong-bondong untuk bernostalgia. Kami tumbuh, begitu juga AADC. AADC 2 adalah wujud pertumbuhan pemain dan segala set serta kisah. Rentang waktu yang amat panjang untuk mewujudkan sebuah sekuel. Pertanyaannya, apakah ini menjadi sekadar sekuel atau wajah baru AADC?

Rangga dan Cinta dalam sebuah perjalanan. (Sumber Foto: http://aadc2.com/)
Ya, kisah AADC 2 masih tentang geng Cinta, Cinta, dan Rangga. Mereka tumbuh dan tampil beda dalam 14 tahun rentang waktu di dalam kisah. Lantas apa yang berubah?

AADC 2 dibuka dengan adegan geng Cinta yang kembali berkumpul bersama dengan pasangan masing-masing. Mereka berkumpul di galeri milik Cinta dan merencanakan liburan ke Yogyakarta. Di usia yang sudah sama-sama matang, adegan awal ini memperlihatkan sebuah pertumbuhan yang terjadi dalam setiap karakter. Tidak mungkin dalam 14 tahun mereka masih tetap sama. Begitu pun dengan Rangga yang masih berada di Brooklyn, Amerika Serikat. Kegelisahan besar masih meliputi dirinya, tetapi kematangan berpikir membuatnya semakin realistis. Rangga tak sekadar pujangga kata-kata yang gondrong seperti 14 tahun silam, meski masih pendiam.

Rangga juga sedang berada di Jogja. (Sumber foto: http://aadc2.com/)
"Rangga, yang sudah kamu lakukan ke saya itu... jahat!" Begitulah salah satu dialog Cinta yang mengena. Antara ingin baper atau malah ketawa lantaran dipengaruhi banyak meme dan parodi sebelum film ini tayang.

Yang perlu diingat adalah AADC 2 bukan lagi tentang cinta-cintaan zaman SMA. Semua berubah dan bergerak seperti pergerakan kamera yang mampu memberikan penjelasan tanpa harus banyak kata. Banyak yang membandingkan film ini dengan yang pertama. Tapi, menurutku,  AADC 2 adalah sebuah film baru dengan kisah baru meski tokohnya masih sama. Mengapa?

1.  AADC 2 mengumpulkan kembali Geng Cinta dalam satu kali liburan di Yogyakarta. Gambar menarik tentang Jogja disorot sangat humanis. Ini memang bukan film traveling,  tapi tentu melihat Jogja dari kacamata film AADC 2 akan terasa berbeda. Bukan tentang Malioboro, bukan tentang candi. Melainkan tentang bagaimana mereka menyerap nuansa Jogja dan menyatu di dalamnya.

2.  Ternyata Rangga suka fotografi dan traveling. Cinta menyimpulkan sendiri penjelasan Rangga tentang perbedaan traveling dan holiday.  "Traveling is not about the destination, but it is about the journey. Dan,  inilah cerita perjalanan Cinta tak terduga bersama Rangga di Jogja,  yang bahkan di luar ekspektasi penonton.

Rangga saat di Brooklyn. (Sumber Foto: http://aadc2.com/)

Rap hip hop Jawa ala Geng Cinta. (Sumber Foto: http://aadc2.com/)

3. Ini film berat. Film ini mengemukakan jenis-jenis kesenian yang terpampang di sepanjang plot. Riri Riza selaku sutradara mencoba menangkap bebunyian dari setiap tempat yang dijadikan objek. Penampilan indie jazz di galeri milik Cinta, gemerlapnya acara rap hip hop jawa, Kill the DJ, yang live lagu "Ora Minggir Nabrak" di Jogja, pameran lukisan dan instalasi Eko Nugroho, pertunjukan sandiwara sendu Papermoon Puppet Theatre bertajuk "Secangkir Kopi dari Playa", dan bunyi-bunyian musik jalanan yang mewarnai kota Brooklyn di Amerika Serikat. Menurutku, ini tidak berlebihan. Rangga dan Cinta bertemu dalam cinta sastra yang memikat. Akhirnya pun Cinta mendirikan galeri sendiri sebagai tempat orang yang suka sastra, arts, dan performing arts. Segala jenis karya seni termasuk puisi-puisi Rangga yang menghiasi film semakin menguatkan karakter mereka. Ini agak bertolak belakang dengan Geng Cinta yang lain.  Mereka bukan penikmat seni segila Cinta.  Mereka bisa tergolong perengkuh budaya populer semata tapi tidak memberikan jarak sama sekali terhadap Cinta. Suatu hal yang bertolak belakang tapi mampu memunculkan negosiasi yang menarik sebenarnya.

4. Cinta dihadapkan pada dua pilihan,  antara Trian yang mapan, selalu ada, pengertian, dewasa, dan Rangga yang jauh,  gelisah, punya bisnis kecil-kecilan,  belum tau ke mana harus pulang. Rangga pun dihadapkan pada dua perempuan,  Cinta dan ibunya.

Kenangan masa lalu Cinta dalam sebuah kotak kardus. (Sumber Foto: http://aadc2.com/)

5. Set bandara kini semakin bermakna.  akhir AADC pertama di bandara takkan pernah terlupa di memori kita. Lalu,  di AADC pendek versi Line juga memajang bandara meski harus shooting di bandara Korea. Lalu kali ini, di AADC 2, set epik itu digunakan lagi, tapi kali ini lebih membawa makna, seperti puisi Rangga untuk Cinta, "Bandara dan udara memisahkan antara New York dan Jakarta...  Apa kabar hari ini? Lihat tanda tanya itu. Jurang antara kebodohan dan keinginanku untuk memilikimu sekali lagi."

6. Karena bukan anak sekolah yang pakai baju seragam lagi, di film ini geng Cinta tampil sangat modis. Namanya juga perempuan. AADC 2 seolah jadi peragaan busana, pertalian antara model tradisional dan modern. Wardrobe mereka seakan telah disiapkan dengan baik, berikut make up yang tak mencolok, disesuaikan dengan suasana adegan. Di sini geng Cinta sungguh juara dalam tampilan masing-masing. "Juara!" seperti celetukan Milly yang mencairkan seisi bioskop biar baper hilang.

Geng Cinta 14 tahun kemudian. (Sumber Foto: http://aadc2.com/)
Komponen-komponen ini tidak ada di film pertama. AADC 2 membuktikan pergerakan film dan budaya pop itu sangat cepat. Dengan dialog yang mungkin akan membuat kita menyeletuk,  "Apa sih?" saking absurd dan terlalu sepele justru semakin menguatkan gaya berbicara antara Cinta dan Rangga yang sarat dengan bahasa semiformal menggunakan kata,  "Saya." Menarik, bukan, jika kita melihat tarik-menarik antara pertentangan yang ditampilkan?!

Sedemikian menarik film ini mampu mengundang sekian banyak orang,  bahkan sudah menembus angka satu juta penonton saat aku menulis blogpost ini, AADC 2 terbilang sukses besar dan antimainstream. Jika ada yang masih membandingkan dengan film pertama, film ini cukup sukses memanjakan orang-orang yang ingin reuni dan nostalgia. Bahkan termasuk reuni dengan melodi Melly Goeslow dan Anto Hoed. Mira Lesmana telah merancang reuni ini sedemikian apik dan epik.

Read More

Share Tweet Pin It +1

5 Comments

In Gallery Land Journey Land

Warna Warni Museum Kata Andrea Hirata




Merayakan sesuatu yang sempat fenomenal memang lumrah. Andrea Hirata dengan latar belakangnya sebagai anak Belitong dan baru merambah dunia sastra, ingin memberikan kontribusi untuk kota kelahirannya. Ia membangun sebuah wadah sastra dengan nama Museum Kata Andrea Hirata. Membawa sastra melayu ke kancah nasional, bahkan internasional memang bukan lagi hal baru. Tapi mengantarkan kota kelahiran jadi objek wisata lokal bahkan interlokal hanya dari karya sastra, itu menarik. Dari kata-katalah, Belitung akhirnya dikenal. Dari Laskar Pelangi-lah, orang berbondong-bondong melihat keindahan Belitung. Berkat itu semua, museum kata ini menjadi buah bibir karena jarang sekali objek museum mampu menjadi daya tarik nasional akhir-akhir ini.

Saat aku berkesempatan menginjak tanah Belitong, Museum Kata Andrea Hirata menjadi list wajib kunjung. Ya, selain karena memang rute wisata Belitong pasti berujung ke sana, aku juga seorang pencinta sastra. Sebaik apa museum itu hingga menarik perhatian banyak khalayak, khususnya sastrawan? Ekspektasiku tak muluk-muluk, mengingat kata museum melekat pada hal yang kaku.

Akhirnya aku berdiri di sana. Melihat bentuk Museum Kata Andrea Hirata, membaca sejumlah kata-kata yang disemat di dalamnya, serta menyentuh warna-warni benda yang menginspirasi. Tempat itu jauh dari kata museum yang membosankan. Justru sebaliknya, lokasi ini sangat colorful dan menimbulkan kesan playful. Menarik. Berbagai instalasi yang terpajang di halaman depan Museum Kata menjadi galeri sendiri.





Taman seperti playground menyambut kita di pintu masuk. Ini seperti taman bermain kanak-kanak. But, siapa yang masih melupakan masa kecilnya? Masa kecil yang membentuk struktur berpikir di otak kita? Halaman depan rumah sastra ini mampu menjadi rumahnya siapa pun dari segala usia. Warna-warna cerah sangat mendominasi. Itulah salah satu hidangan museum kata ini.

Dengan dekorasi klasik, hamparan kata-kata terpapar di lantai pintu masuk, dinding, bahkan langit-langit. Ke mana kita memandang, ada banyak kalimat-kalimat mutiara, motivasi, dan petikan karya sastra memenuhi ruang demi ruang di Museum Kata ini. Jadi ini maksudnya museum kata. Tempat ini bagaikan serbuan petikan-petikan bermakna yang ditampilkan bukan di atas kertas, melainkan terpajang begitu saja.

Nuansa Laskar Pelangi tetap melekat di tempat ini. Pajangan koleksi buku, lukisan, dan potret karakter serta binatang yang identik dengan tetralogi novel itu juga digelar. Laskar Pelangi dan Andrea Hirata seolah identik dan memiliki kekuatan yang kuat. Koleksi buku-buku lama ikut memenuhi beberapa rak di sudut ruangan. Buku karya sastra para penulis besar dunia seakan mewakili inspirasi kata-kata yang terpampang di museum tersebut. Ada banyak kata dan ada banyak warna.



Jika terus menelusuri bagian belakang museum kata, kita akan menemukan sebuah warung kopi kecil yang langsung diseduh di depan tungku, Kopi Kuli. Tempat ini menyajikan minuman langsung di dapurnya yang hitam karena arang. Konon, dulu kopi ini disajikan untuk para kuli. Harganya hanya Rp7.000 saja satu gelas. Di sudut lain, terdapat meja dengan kotak Pos Indonesia. Ini bukan replika. Dekorasi kantor pos klasik yang kerap sekali keluar di film Laskar Pelangi saat Ikal mengirim surat dan wesel untuk bapaknya di Gantong. Simbol Pos Indonesia menjadi melekat, apalagi di zaman yang serba digital, tradisi berkirim surat lewat pos sudah mulai ditinggalkan. Namun, di sini, tidak ada salahnya dicoba. Dengan beberapa kartu pos yang dapat dipilih, kita benar-benar bisa menulis di kartu pos dan memasukkannya ke kotak surat. Pos Indonesia akan mengirimkannya ke alamat yang kita tulis di kartu pos itu. Biayanya hanya Rp15.000, tetapi kita bisa berbagi senyum dari balik tembok Museum Kata Andrea Hirata.





Di pelataran belakang persis di balik Kopi Kuli, kita akan menemukan beberapa ruang terbuka, berupa ruang baca dengan meja panjang dan bangku-bangku kecil di sekelilingnya. Lalu ada panggung kecil yang biasa digunakan untuk acara-acara sastra dan pertunjukan kecil. Tembok warna-warni tetap akan kita jumpai dengan beberapa jendela yang dipajang tidak hanya di dinding, tetapi juga di langit-langit. Dekorasi penuh warna inilah yang membuat dunia sastra kecil ini menjadi menarik dan lebih hidup. Rasanya aku memang belum menemukan museum yang semeriah ini di Indonesia. Museum Kata Memang patut diacungi jempol.







Read More

Share Tweet Pin It +1

9 Comments