Film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2): Perihal Cinta Rasa Habibie

Film Rudy Habibie mengulang kesuksesan Habibie&Ainun. (sumber foto)

Ada dua hal menarik di prekuel Habibie dan Ainun. Pertama, Rudy Habibie muda aktif berorganisasi. Kedua, Rudy Habibie punya kisah cinta yang lain, sebelum hatinya terpaut pada Ainun (nonton Habibie dan Ainun, 2012). Faktanya, Rudy Habibie juga manusia biasa. Masalahnya, sejak muda, ia punya cinta yang besar pada Indonesia. Solusinya, nonton saja film Rudy Habibie. Kapan? Mulai edar di bioskop tanggal 30 Juni 2016. Beruntungnya, aku nonton lebih dulu, ya, di press screening film di CGV Blitz Grand Indonesia, 24 Juni 2016.

Rudy Habibie alias Habibie & Ainun 2, menjadi satu-satunya mahasiswa asal Indonesia di Aachen, Jerman yang memiliki paspor hijau. Artinya, ia bukan mahasiswa beasiswa kiriman dari Indonesia. Ini menjadi pancingan masalah di awal plot. Sementara teman-temannya menggunakan paspor biru, yang berarti mahasiswa yang memiliki ikatan dinas. Seketika, Rudy menjadi sasaran bully dari geng mahasiswa yang menamakan dirinya Laskar Pelajar yang memiliki pengaruh dalam organisasi mahasiswa asal Indonesia di seluruh Eropa. Kasus bully ini menjadi fakta terbalik jika dilihat dari kacamata kekinian, yang mana anak beasiswa justru yang menjadi korban bullying. Rudy mengalami hal yang sebaliknya.

Press Screening film Rudy Habibie.

Rudy Habibie masa muda (sumber foto)
Namun, Rudy Habibie tidak mengambil pusing bully-an itu. Ia masih punya sekelompok teman yang mendukungnya. Prestasinya di kampus sungguh menarik perhatian. Kecerdasannya tidak diragukan. Akhirnya Rudy terpilih menjadi ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) masa itu, melengserkan ketenaran geng Laskar Pelajar. Di sinilah, cekcok mulai beredar, tidak hanya dari pihak lawan, tetapi juga dari pihak sahabatnya sendiri.

Untung bagi Rudy, ia tidak sendiri. Rudy jatuh cinta pada gadis Jerman keturunan Polandia, Ilona (Chelsea Islan). Uniknya, ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Itulah yang membuat Ilona dengan mudah mulai memahami Rudy. "Aku yang selama ini percaya akan cita-citamu. Itu fakta...dan masalahnya," kata Ilona.

Rudy dan Ilona membahas segala hal dengan penjabaran fakta, masalah, dan lalu solusi. Tiga hal ini yang menjadi 'kacamata' Rudy, juga Ilona.
Faktanya ...
Masalahnya ...
Solusinya ...


Ilona Ianovska, cinta muda Habibie (sumber foto).
Lalu bagaimana solusi akhir di film ini?

Perjalanan Rudy Habibie dari kecil, hingga bisa kuliah di Jerman adalah sebuah pencapaian besar dan dasar seorang Habibie dapat berdiri dan dikenal hingga sekarang. Jika di film pertama, Habibie dan Ainun lebih menonjolkan kisah cinta sejati dan bagaimana rekam jejak Habibie membangun negara, film Rudy Habibie memberikan rasa berbeda. Nuansanya lebih muda, lebih renyah, dan memotret kehidupan mahasiswa rantau sewajarnya. Pergolakan yang terjadi antara Rudy dan organisasi mahasiswa Indonesia di seluruh Eropa sangat khas rasa mahasiswa. Semangat yang menggebu-gebu, pertikaian yang menyulut emosi seolah menjadi masalah paling rumit, cekcok antarteman, hingga perasaan homesick sangat dekat dengan perjalanan kuliah Rudy.

Sosok ibu Rudy (diperankan oleh Dian Nitami) sangat berpengaruh di sepanjang plot. Kisah haru biru keluarga Rudy tentu juga mencuri perhatian. Rudy Habibie bisa menjadi sekarang yang kita kenal tentu berkat didikan ayah (diperankan oleh Dony Damara) dan ibunya. Kisah itu mendasar dan menguat hingga akhir film, yaitu perjuangan rumit tentang impian-impian Rudy yang sudah ia pupuk dari kecil, membuat (industri) pesawat terbang untuk Indonesia.

Film berdurasi sekitar 2,5 jam ini membuatku tak bergeming di bangku bioskop. Selain alur cerita yang kuat, film Rudy Habibie didukung oleh scoring yang megah, selaras dengan perkembangan cerita. Dengar-dengar (langsung dari Manoj Punjabi), khusus untuk scoring, MD Pictures melibatkan sound designer asal Amerika Serikat, Chris David yang biasa mengisi sound film-film Hollywood. Pengisi OST seperti telah disiapkan dengan rapi dan matang, Cakra Khan dengan lagu "Mencari Cinta Sejati" dan CJR dengan "Mata Air". Kolaborasi pembuat film yang tampak sangat apik.

Press Conference film Rudy Habibie.


Dan, hasilnya, aku rasa tidak mengecewakan. Rudy Habibie pantas ditonton, apalagi anak muda. Semangat  Rudy Habibie, kerja kerasnya, jatuh bangunnya, hingga kekuatan cintanya layak menjadi inspirasi. Latar Jerman tak sekadar tempelan. Kita melihat kota Aachen, Jerman dari sudut yang berbeda. Bukan kemegahan negeri Eropa, melainkan bagaimana Jerman itu meresap dari diri Rudy Habibie, menyikut fisiknya yang sempat melemah, keteguhan hatinya yang mengendur, bahkan keyakinannya tanpa menyentuh diskriminasi SARA. Aku suka film ini.

Kita boleh puas dengan kisah cinta Habibie dan Ainun sebagai wujud cinta sejati. Namun, Habibie dan Ilona memberi rasa cinta yang lain.

Movie Quote 
Kalau Tuhan lebih besar dari agama, apa mungkin manusia lebih besar dari negaranya?
Mata air selalu muncul di tanah yang bergolak.
Percuma merdeka jika tidak ada integritas


Ilona : "Faktanya kamu cinta Indonesia. Masalahnya kamu cinta Indonesia. Solusinya--".
Rudy : "Solusinya saya cinta Indonesia."
Ilona : "Saya yang selama ini percaya dengan mimpi-mimpimu. Itu adalah fakta dan masalahnya."

18 komentar:

Di Balik Batu Pantai Tanjung Tinggi

Pagi yang pas untuk pemandangan yang tepat. Pantai berbatu besar menjadi pesona utamanya. Bukan sembarang batu. Batu ini jenis batu granit yang berukuran raksasa. Ya, Pantai Tanjung Tinggi. Mestinya, pantai ini sudah tidak asing karena kita dibuai oleh keceriaan Ikal dan teman-temannya berlarian sore hari di pantai ini. Siapa Ikal? Silakan tonton lagi film Laskar Pelangi.

Aku senang sekali akhirnya dapat mengunjungi langsung pantai ini. Keinginan itu bermula saat Laskar Pelangi mengudara dan jadi film Indonesia terlaris hingga kini. Penyuka pantai tentu tidak akan melewatkan Pantai Tanjung Tinggi dalam list-nya. Dan, ternyata memang aku tidak menyesal.

Pagi di Belitung berbeda dengan pagi di Jakarta. Karena aku dan Junisatya, my travel buddy, menginap di pusat kota Tanjung Pandan, kami harus terjaga lebih pagi agar bisa menikmati kesejukan pantai Tanjung Tinggi. Jaraknya sekitar 10 km dari Tanjung Pandan. Kami membutuhkan waktu hampir 1 jam untuk sampai di pantai itu.

Lokasinya tidak sulit ditemui. Jalanan beraspal masih sangat sepi pagi itu. Marka jalan mempermudah kami menemukan lokasi pantai. Jalanan menyempit, sementara ilalang melebar. Beberapa resort dan penginapan kecil kami lewati. Banyak pula cottage minimalis di sekitar sana. Pantai Tanjung Tinggi tak jauh lagi.

Seketika pagi itu, mataku tertumbuk pada batu yang menutupi pantai yang tenang. Ada pepohonan rindang saat kami memarkir kendaraan. Ada beberapa warung kecil yang menjaja camilan dan sarapan. Kami tinggal berjalan masuk lewat celah mana saja di antara jajaran batu-batu yang mengapit pasir. Inilah batu yang jadi landmark Pulau Belitung, sekaligus landmark yang diperkenalkan oleh film Laskar Pelangi.

Ada banyak celah gang senggol di antara batu-batu besar itu. Jangan ragu untuk melepas alas kaki biar bisa merasakan kelembutan pasir pantai. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sekitar pantai Tanjung Tinggi. Bisa bermain petak umpet, berlarian, atau acting seolah kita berada di istana batu dengan pilar-pilar tinggi yang membentuk lorong panjang. Begitu kita melewati lorong itu, kita akan menemukan tepian air yang bersih dan tenang. Siapa yang menolak jika diajak berenang di sini, tepian seperti kolam kecil yang dilindungi bebatuan dengan dasar pasir, tanpa karang.

Pantai Tanjung Tinggi yang diidamkan orang

Monumen Laskar Pelangi di Pantai Tanjung Tinggi 

Gang senggol

Pilar-pilar batu hingga tepian laut.

Kastil batu di Tanjung Tinggi.
Berada di pantai berbatu besar ini serasa dipeluk angkasa. Kita kecil, sementara angkasa itu luas. Batu granit ini hanya sebagian kecil darinya. Ya, kita pun jadi sangat kecil.

Gugusan batu ini tersebar di beberapa lokasi di perairan Pulau Belitung, dengan berbagai rupa dan ukuran. Tentu kita pernah mendengar legenda bahwa batu-batu ini adalah batu sisa meteor jatuh. Ada pula yang mengatakan bahwa batu ini pendatang rezeki. Batu ini berasal dari angkasa. Kita jadi percaya, terlepas kisah legenda itu benar atau tidak, bahwa angkasa itu memang ada. Bumi itu tak seberapa. Kita tahu, bahwa batu-batu ini ada yang punya, yaitu Yang Maha Kuasa.

Batu untuk suatu pertapaan sunyi.
Berlarian di antara batu beralaskan pasir pantai. 

Mencoba mencapai titik tertinggi dari Tanjung Tinggi



0 komentar: