Bunga Penutup Abad, Bermalam dengan Pramoedya

Sebagai pembaca karya Pramoedya Ananta Toer, tentu tidak akan melewatkan pementasan teater adaptasi dari 2 novel sekaligus, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Ketika hingar-bingar penjualan tiket teater Bunga Penutup Abad mulai terasa, aku pun tak ketinggalan. Namun, malang, tiket sudah habis terjual saat hari pertama penjualan tiket dibuka. Bahkan, tak tanggung-tanggung, jadwal pementasan ditambah 1 hari lagi. Tampaknya pesona Reza Rahadian dan Chelsea Islan sungguh menjadi magnet dalam pementasan ini.

Semula pasrah, tak bisa menonton, hanya berharap ada penjualan DVD pementasan. Lalu, pada hari H tiba, saat sore datang, ada yang menawari satu kursi kosong hari kedua pementasan Bunga Penutup Abad. Tanpa pikir panjang, beranjaklah aku dari kantor menuju Gedung Kesenian Jakarta dengan terburu-buru demi bertemu Minke, Annelis, Nyai Ontosoroh, dan Jean Marais.

Teater Bunga Penutup Abad (sumber foto dari Instagram @teaterbungapenutupabad)



Pementasan dibuka dengan narasi Minke membacakan surat-surat perjalanan Annelis ke Belanda kepada Nyai Ontosoroh. Pencahayaan remang-remang memberikan nuansa getir. Seketika, benakku meraba-raba berawal dan berjalan seperti apa kisah kehidupan mereka? Ya, Bunga Penutup Abad memberi ingatan-ingatan keberadaan Annelis hingga ia harus dibawa ke Belanda dengan paksa oleh Pengadilan Putih. Masa Kolonial dan dunia per-Nyai-an menjadi sangat kental dan berkonflik di setiap dialognya.

Teater berdurasi 2,5 jam ini dengan lihai memberikan kita gambaran sosok Nyai yang mempertahankan harga diri keluarganya demi kebahagiaan Annelis. Hidupnya adalah untuk Annelis. Getir dan tragedi sangat berdekatan dengan kehidupan Nyai Ontosoroh. Bunga Penutup Abad berpola kilasan-kilasan masa lalu ingatan Minke dan Nyai Ontosoroh. Kesedihan mereka memunculkan adegan-adegan berlainan tentang sosok Annelis. Ingatan-ingatan itu mengantarkan mereka hingga Annelis sendiri dipaksa berangkat ke Belanda dalam keadaan sakit dan akhirnya meninggal di sana. Jean Marais sebagai tokoh teramat netral di tengah kericuhan masalah per-Nyai-an malah memberikan sumbangsih terbesar bagi Minke. Lukisan wajah Annelis yang detail menjadi penanda bahwa Annelis pernah ada bersama mereka. Lukisan itu lantas dibawa oleh Minke sebagai satu-satunya kenangannya bersama Annelis, sebagai Bunga Penutup Abad.

Teater yang digawangi oleh Titimangsa Foundation memang mengangkat pentas teater mengenang 10 tahun kepergian Pramoedya Ananta Toer. Sosok Nyai Ontosoroh dimainkan piawai oleh Happy Salma. Dari gesture-nya, Happy Salma berhasil memperlihatkan kegetiran hidup Nyai Ontosoroh. Lalu Jean Marais menjadi penghibur dunia tragedi itu dengan ucapan-ucapan logat Prancisnya. Reza Rahadian yang menjadi Minke sangat cerdas menutupi beberapa kesalahan. Sebagai pemain karakter, Reza sudah terbiasa memberikan perubahan antara Minke di pelajar muda, hingga Minke si suami Annelis. Dan, tentu saja pesona Chelsea Islan tetap menyala di panggung itu. Sangat Annelis sekali. Rasanya kalimat demi kalimat yang mengalir di novel Pram telah menjelma dan menari-nari.

Hanya satu yang disayangkan, pentas teater sepopuler ini seakan sayang ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta yang hanya berkapasitas kecil. Seandainya dapat dicari panggung dan podium yang lebih besar, Pramoedya Ananta Toer hidup di kalangan muda-mudi kita. Ini mengingat Reza dan Chelsea menggunakan clip on untuk menopang suara mereka. Tak ada salahnya, sekalian saya mereka tampil dalam panggung lebih besar lagi.

Bunga Penutup Abad menjadi peraduan dua dunia, dunia sastrawi Pramoedya Ananta Toer dengan dunia populer anak muda. Peraduan ini dapat dilihat dari pemain yang populer kini dan membawakan karya sastra legendaris yang aku sendiri berani bertaruh tak banyak anak muda yang mengenal Pramoedya Ananta Toer saat ini, apalagi dengan kisah-kisah berat pada masanya.  Pramoedya Ananta Toer tak membuat karyanya menjadi sederhana. Padahal jika disederhanakan, pementasan ini tak lebih dari cerita cinta, harta, dan keluarga. Latar hidup Pram yang pelik, dimensi zaman yang tak memihak pribumi, serta ruang gerak sempit dalam per-Nyai-an menjadi sorotan kisah per kisah dewa sastra ini. Lantas, semua itu diadu dalam pentas Bunga Penutup Abad, karyanya menari, dirampingkan dalam hanya 4 tokoh besar dengan durasi yang tak panjang. Sungguh sebuah apresiasi besar kepada para pekerja seni yang mewujudkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang rumit ke atas panggung.

Minke dan sahabatnya, Jean Marais. (sumber foto Instagram @teaterbungapenutupabad)

Jelang kepergian Annelis ke Belanda (sumber foto Instagram @teaterbungapenutupabad)
Akhirnya, aku bisa bermalam dalam kerinduan puitis Pramoedya Ananta Toer. Berdrama dengan peraduan panggung populer dan sastra. Bunga Penutup Abad untuk Nyai Ontosoroh, ketidakadilan Annelis, dan kegamangan Minke. Pram akan tersenyum. Dunia sastra pun menjadi teramat penting untuk urusan memotret zaman masa silam.

0 komentar:

Kepulauan Kei, Mutiara Keindahan di Tenggara Maluku

Roda pesawat berdecit. Baling-baling nyaring di kuping. Ah, sampai juga.

Setelah 3 jam perjalanan udara di Jakarta menuju Ambon dan 1 jam transit dari Ambon ke Tual, Pulau Kei Kecil, akhirnya aku bertemu laut di belahan timur Indonesia. Ini kali pertama, aku menginjak tanah timur yang katanya memiliki kadar garam laut yang luar biasa tinggi. Ya, karena jarang terjamah tangan manusia.

Benar kata Bapak Dosen yang sempat berkenalan denganku saat transit di Ambon. Tual itu indah. Pasirnya putih, tapi negerinya panas. Kupikir Tual itu tak bertuan, tetapi ternyata dari bapak dosen di Universitas Hasanuddin ini, aku tahu bahwa banyak marga di Kepulauan Kei. Seperti di Ambon, Kei pun diisi beragam agama yang hidup berdampingan. Ada kampung Islam (ini yang terbesar), ada kampung Kristen, ada kampung Katholik, dan sebagainya.

Bapak Dosen berpesan begini, "Saat kamu pulang ke Jakarta, tulislah yang indah-indah tentang Kei. Kei masih sangat sepi. Baru sedikit orang ke sana. Kei adalah kampung halaman saya."

Sebegitu besar harapan si Bapak Dosen yang baru saja kukenal itu hingga aku tak tega untuk tidak menuliskan perjalanan itu di blog ini. Kei memang sangat indah.

Let's explore!

Di pesawat baling-baling dari Ambon ke Tual.

Mendarat di Bandara Langgur, Tual, Kei Kecil.
Kepulauan Kai atau sering dibaca Kei, berlokasi di sebelah tenggara Maluku. Sebuah sumber yang kubaca tentang geografi Maluku, Kepulauan Kei ini terdapat di dekat Laut Banda dan umumnya terbagi dua, yaitu Kepulauan Kei Besar dan Kepulauan Kei Kecil. Namun, yang sempat aku jelajahi adalah Kepulauan Kei Kecil.

Nama Kai atau Kei sebenarnya nama yang diberikan oleh orang asing jauh sebelum Belanda datang. Penduduk asli menyebut pulau ini Nuhu Evav (Pulau Evav). Nama Kei sendiri ditulis oleh Alfred Wallace di Malay Archipelago dengan Ki, Ke, dan Key. Konon, katanya ada surat yang menuliskan bahwa seorang pemimpin dari Quey meminta para pastur untuk datang ke pulau ini.  Lalu Quey menjadi Kei atau Ki. Mungkin saja, bukan?!

Oke, cukup keterangan tentang asal-usul negeri Kei ini. Mari lanjut ke kisah perjalananku, Junisatya dan beberapa teman lain mengarungi Kepulauan Kei Kecil. Beruntung sekali saat kami ke sana, langit biru dengan gumpalan awan putih menyambut. Cerah.

Dari Bandara Langgur, kami bertolak ke sebuah gua bernuansa agak mistis, Goa Hawang karena sejalur dengan bandara. Goa Hawang menjadi pembuka perjalanan kami di Kei, semacam jamuan pembuka. Bukan pantai, bukan pula bukit. Tapi goa dengan air yang mengalir di dalamnya, sungai bawsah tanah.

'Hawang' dalam istilah lokal sama dengan setan. Jadi gua ini bisa disebut Goa Setan. Tak ada arti apa-apa saat kami ke sana. Dengan jalanan hutan lalu tangga yang melingkar ke bawah, kami menjajaki satu per satu hingga mulut gua yang menganga lebar. Tapi kami tak sendiri, ada banyak warga yang menjadikan Goa Hawang sebagai tempat pemandian. Air yang menggenangi mulut gua sangat jernih dan dingin. Tampaknya segar. Katanya air sungai bawah tanah ini terhubung dengan mata air Evu, mata air warga Kei Kecil. Sayang, kami tak membawa persiapan berenang saat itu. Jetlag perjalanan dari barat ke timur Indonesia masih membayangi kepala kami. Hanya duduk menikmati gemericik air dan relief gua sudah cukup bagi kami. Ada lorong panjang di dalamnya, tapi tak ada seorang pun yang berani berenang jauh ke dalam. Tak ada yang tahu berapa panjang lorong itu dan akan tembus ke mana. Tak apa. Yang kami cari adalah keindahan serta nyanyian air yang membahana di mulut gua.

Goa Hawang
Seperti khas Maluku, Kei penuh nyanyian. Di sela senyum, ada nada yang mengantar. Hati pun bergetar. Begitulah Tual menyambut kami. Usai menikmati musik alam di mulut gua, saatnya kami beralih ke nyanyian laut.

Ngurbloat.

Pantai berpasir paling halus yang pernah kulihat, bahkan mungkin paling halus di Nusantara. Aku tak mengelak, meraba Goa Hawang belum seberapa dibanding mendendang sunyi di Pantai Ngurbloat. Ya, pantai kala itu sangat sepi. Rupanya orang-orang Tual sedang tidak bertamasya. Kami dan hanya ada segelintir orang yang menapaki pasir lembut di Ngurbloat, menanti petang datang.

Ngurbloat artinya pasir yang panjang. Kami ke sana saat air laut sedang surut. Dan terlihatlah bentangan pasir putih teramat lembut sejauh mata memandang. Luas dan panjang. Kami sendiri tak tahu sampai di mana ujung dari pantai ini. Karena sepi, kami puas menari-nari, berlari-lari, dan akhirnya tertawa-tawa di pantai ini, ditemani pisang goreng dibalut embal (singkong yang disangrai, makanan khas orang Tual pengganti nasi). Apalagi yang masih kurang?


Keceriaan kami di pasir putih dan halus.

Mendendang sunyi di Ngurbloat.


Karang di pinggir Ngurbloat.

Ngurbloat sejauh mata memandang.
Omong-omong soal embal, si makanan khas yang sempat kami cicipi, aku punya pengalaman menarik.

Ibu warung : ini namanya embal. Makanan orang sini. Kalian harus coba.
Aku : (ngunyah) ini sagu bu?
Ibu warung : bukan. Itu singkong. Cuma orang Tual yang bisa buat.
Aku : resepnya apa, Bu?
Ibu warung : pengolahannya panjang. Singkong ditumbuk lalu dijemur. Nanti ada proses penyaringan dari kadar racun.
Aku : (menelan ludah) singkong beracun, Bu?
Ibu warung : iya. Ini jenis singkong beracun. Buatnya tidak bisa sembarangan. Hanya orang Tual yang bisa.
Aku : (makin ngeri) Menyebabkan kematian?
Ibu warung : iya kalau prosesnya ada yang kurang. Kami tidak kasih resepnya untuk pengunjung.
Aku : Pernah ada yang jadi korban? (curiga sianida)
Ibu warung : (nada santai) ya. 1 orang mati. Pengunjung yang minta resep dan coba sendiri. Dia tidak makan embal buatan orang Tual.

Percakapan selesai dan aku pun langsung minum air putih sebanyak-banyaknya. Ya, begitulah makanan tradisional dari daerah Tual, Kei Kecil. Berkhasiat, enak, dan telah melewati proses panjang hingga layak dimakan. Jadi pesan moralnya, cukup dinikmati saja, tanpa perlu rewel minta resep. Resep hanya milik si tuan warung makan.

Embal, makanan khas Tual.

Sepotong senja di Ngurbloat. 
Petang di Ngurbloat.


Beginilah kesan sehari berada di Kei. Nyanyian dan laut memang menjadi sonata dari tanah Maluku. Ditemani tekstur kasar makanannya, lengkap sudah hari itu. Jetlag terasa tak berarti apa-apa lagi. Semua terbayar.

Assalamualaikum, Kei.



4 komentar:

My Weekend List: Keseruan PopCon Asia 2016

PopCon Asia 2016
Bagi yang suka dengan dunia komik, kartun, film, game, grafiti, dan ilustrasi pasti akan bahagia ketika memasuki Jakarta Convention Centre tempat PopCon Asia 2016 diadakan. Acara tahunan ini sudah tidak asing lagi bagi penggemar komik dan animasi. Bisa banget dijadikan weekend list tanggal 12-14 Agustus 2016. Ada apa aja di PopCon Asia 2016?

Temanya tahun ini adalah Pop-Revolution. Di sini dunianya para pencinta komik, animasi, multimedia, dan desain komunikasi visual, sekaligus menjejak sejarah seni menggambar yang makin berkembang.

Dari pintu masuk saja, booth-booth menarik telah siap didatangi satu per satu. Ada gelaran lego, robotik, dan video game, serta ruang kreatif dari Be Kraf Indonesia. Ada pula galeri cantik dengan gimmik-gimmik lucu seperti area photobooth, costplay, dan game. Kita juga bisa melihat perkembangan dunia komik lewat beberapa galeri, lalu perbedaan komik Jepang, Korea, bahkan Indonesia. Di sanalah inti dari PopCon Asia diadakan. Komik dan seni ilustrasi di Indonesia berkembang sedemikian rupa, berangkat dari berbagai ragam kultur yang kita punya, lalu di-mix dengan inspirasi komik dari Jepang, Korea, Amerika, dan negara lain.

Peragaan game video, robotik, digital animation dari Be Kraf.

Tae Joon Park bersama para fans di booth Creative Korea.

Galeri Animanix Biennale di PopCon Asia 2016.
Bagi yang tangannya gatal ingin mencoba corat-coret, ada beberapa booth yang menyiapkan ruang kreativitas bagi pengunjung. Tidak cuma melukis di atas kertas, kita juga diajak memainkan lukisan di atas layar alias multimedia.

PopCon Asia 2016 sangat melibatkan pengunjung. Tak sekadar pameran, di panggung utama kita bisa mendengar talkshow seputar animasi. Selain itu disediakan pula beberapa workshop di ruang-ruang kecil yang menjadi bagian Jakarta Convention Centre. Ada acara nonton film bareng dan masterclass digital illustration, graffiti live painting, dan ngomik bareng Taejoon Park si kartunis Korea dari Line Webtoon. PopCon Asia semakin meriah dengan tabletopia, streetart, galeri Animanix Biennale 2015-2016, Combat Ground, dan popup revolution challenge. Masih urung datang ke sini?


Belajar texturing dan coloring di digital illustration ini. 



1 komentar:

My Weekend List: Adventure to the Center of the Earth

Masih ingat dengan film Journey to the Center of the Earth (2008) yang dibintangi oleh Josh Hutcherson cilik? Sudah lama memang. Meski rating film ini di imdb terbilang kurang bagus, setting film itu masih meninggalkan kesan hingga kini. Jalur kereta bawah tanah, gua kristal, gudang harta karun, batu lahar, dan lain-lain. Petualangan di film Journey tak hanya bisa dirasakan sebagai tontonan. Kita bisa langsung masuk ke dunianya walaupun hanya dalam bentuk exhibition hall yang disediakan Summarecon Mall.



Saat Summarecon Mall Bekasi membuka wahana menyusuri perut bumi dalam tajuk Adventure to Center of the Earth: The Lost World, anganku langsung mengacu pada film Journey yang pertama itu. Ini bukan pameran, tapi ruang eksibisi untuk menjelajah mencari jalan keluar dari perut bumi. Tentu aku takkan melewatkan eksibisi ini, begitu juga dengan Junisatya. Berhubung ini temporary exhibition, jadi tidak setiap saat ada. Eksibisi ini dibuka dari tanggal 18 Juli hingga 18 September 2016.



Dengan tiket masuk Rp30.000 saja, aku bisa menjelajah ruang-ruang gelap bagaikan berada di perut bumi. Tapi sebaiknya, pakai pakaian yang simple, sepatu yang nyaman, dan barang bawaan sehemat mungkin (sebaiknya dititipkan di loker yang disediakan). Di dalam perut bumi, kita akan berhadapan dengan beberapa trik wahana yang memaksa kita untuk memanjat, merangkak, menunduk sepanjang jalan, hingga berayun-ayun.

Kami menjelajahi lorong demi lorong tanpa tahu ada apa di ujungnya. Bukaan lorong pertama mengantar kami ke sebuah lubang dengan tangga kayu yang mesti dituruni. Tak ada pilihan lain. Edisi manjat-memanjat dimulai. Ternyata kami sampai di ruang gelap dengan beberapa karung goni dan rel kereta kecil. Ada sebuah bak kereta yang mogok di rel yang buntu. Ada lampu peringatan menyala.
Kami harus menaiki tangga kayu lapuk dan akhirnya sampai di gua stalaktit-stalakmit berupa bongkahan kristal. Dengan cahaya kebiruan, kami memasuki area Crystal Cave. Kami harus berjalan berhati-hati di antara tonjolan runcing setiap kristal yang menghalangi jalur.

Selanjutnya jalanan menyempit. Crystal Cave berlalu dan kami kembali dalam kegelapan. Di ujung lorong berikutnya, kita masuk ke ruang berbatu mengkilat, Rock Climbing. Di bawahnya seolah-olah jurang gelap sehingga kita harus memanjat dan menyeberang tebing dengan jembatan tali. Lalu kami menemukan sebuah lubang yang disebut Mouse Tunnel. Yes, kami harus merangkak ke dalam lubang ini dan berujung pada ruang yang lebih besar. Ada semprotan air dari blower. Ternyata di ruangan ini ada air terjun virtual. Wow, keren. Meski gelap, tapi nuansa alam yang dipampang di monitor dibuat seolah-olah nyata.


Tampaknya petualangan semakin seru. Kami sampai di Escape Room. Di sini, pengunjung diminta memecahkan sendiri jalan keluarnya. Escape room lebih menyerupai ruang kerja, bisa diasumsikan para pekerja tambang bermarkas di sini. Meja kerja lengkap dengan mesin tik, lemari dengan botol-botol minuman, foto-foto tua beberapa tokoh juga terpajang di sini. Tugas pengunjung adalah membaca sebuah petunjuk yang ditinggalkan di beberapa tempat tersembunyi untuk mencari pintu mana yang benar agar selamat dari ruang bawah tanah itu.

Ini jadi lokasi favoritku. Kita benar-benar harus mengikuti segala petunjuk dan membongkar seisi ruangan. Surat demi surat kami baca dan setiap foto yang terpajang di ruangan itu menyimpan banyak pesan. Ada foto Hitler juga.

Ruangan sengaja dibuat gelap dan berisi barang-barang kuno yang berdebu. Ada beberapa lemari yang dapat dibuka dan dilihat isinya agar kita tahu tentang apa escape room itu. Ini memang ruang kerja semacam komandan dalam proyek pertambangan--kalau kutebak--zaman Hitler. Asyik juga,  kita bisa bermain sambil belajar. Cocok untuk anak sekolah.




Namun, belum selesai sampai di situ. Kita akan masuk ke batu terbang seperti di film Journey yang pertama. Hati-hati, salah pilih batu. Nanti bisa jatuh. Ini semacam batu-batu yang berada di perut bumi. Laharnya panas dan berwarna kemerahan. Kalau di filmnya, batu-batu ini dapat menjadi jembatan dan bisa melayang. Mungkin ada pengaruhnya dengan uap panas dan gravitasi. Itu yang menjadi penyeimbang si batu. Rupanya batu-batu melayang ini jadi akhir petualangan dan pintu keluar.

Panjang juga jalur eksibisi ini. Masih ada labirin dan pameran trick art di akhir petualangan. Penasaran mau mencoba, kan? Eksibisi ini sukses membuatku terkejut dan berdecak kagum.




1 komentar:

Ramainya Hopping Island di Belitung

Pagi-pagi sekali, aku dan Junisatya sudah berada di Pantai Tanjung Kelayang. Ternyata kami tidak sendiri. Ada banyak rombongan wisatawan yang juga berada di sekitar kami. Mereka berkelompok menunggu giliran perahu motor sewaan datang. Lantas apa selanjutnya?

Island Hopping.

Ada beberapa aturan main, nih, untuk island hopping di pulau-pulau tertentu, khususnya Belitung.
1. Datang ke dermaga pagi-pagi sekali (kalau bisa pukul 06.00) saat air laut sedang surut
2. Sudah memakai pakaian lengkap siap snorkeling (menghindari kerepotan di tengah keramaian)
3. Pastikan sudah menyewa perahu motor dan perahunya sudah tersedia pada pagi itu juga
4. Simpan semua peralatan tidak tahan air di drybag (air laut itu kejam, bisa mencederai barang elektronik dan benda metal)



Di Belitung, ada beberapa pulau yang dapat dikunjungi dengan perahu motor seharian. Kami memastikan bahwa perahu sudah siap berlayar saat kami tiba di dermaga. Ya, Tanjung Kelayang memang menjadi persinggahan. Perahu mengapung berjajar di lepas pantai. Tinggal pilih, perahu mana yang akan mengangkut kita.

Saat itu aku dan Junisatya termasuk rombongan kesiangan. Pukul 9 menurut pelaut itu adalah kesiangan. Yeah, memang. Dan, cuaca sedang kurang mendukung. Air laut agak pasang dan angin sedikit ribut. Namun, masih aman untuk berlayar. Berangkatlah kami berlayar menuju Pulau Burung.

1. Pulau Burung
Sebenarnya pulau ini hanya berupa batu yang berbentuk kepala burung rajawali. Kalau imajinasimu tinggi, kamu bisa membayangan seekor burung sedang mengapung di tengah laut. Tumpukan batu menyerupai kepala burung ini sangat apik. Kami tak bisa mampir karena bebatuan di sekitar sana sangat dangkal. Jika air sedang surut, mungkin tak hanya kepala yang terlihat, tapi badan burung yang terbentuk dengan sempurna. Itulah Pulau Burung yang dapat dinikmati dari jauh saja.

2. Pulau Lengkuas
Sebelum melabuh di Pulau Lengkuas, kami snorkeling di perairan sekitar pulau ini. Tempat snorkeling di sini agak kurang membuatku nyaman karena banyak perahu motor parkir berbaris dan banyak orang-orang yang telah lebih dulu nyemplung, mulai dari anak kecil hingga orangtuanya. Laut begitu penuh.



Sebagai pencinta laut, tentu ini membuatku agak terusik. Ikan-ikan ramai berkerumun di sekitar kami mengharapkan makanan. Ya, seperti kebun binatang saja, binatangnya tahu kalau manusia-manusia ini datang membawa makanan untuk mereka.

Untung saja karang-karang besar ini masih terjaga. Ikan-ikan juga masih banyak populasinya. Warna-warni dan beragam sekali. Semoga saja pengunjung yang sepanjang tahun memenuhi tempat snorkeling ini tidak merusak seisi lautnya, ya. Kalau tidak, habis sudah kekayaan bahari di perairan Pulau Lengkuas.

Aku dan Junisatya hanya berenang sejenak. Tak bisa berlama-lama karena terlalu ramai. Kami pun memutuskan merapat ke sisi pulau dan menjelajah. Ya, Pulau Lengkuas adalah landmark wisata Belitung dengan mercusuar yang menjulang dan bisa dinaiki pengunjung.

Namun, sayang, pada saat kami ke sana, mercusuar sedang dalam perbaikan sehingga pengunjung tidak dapat naik dan melihat Belitung dari ketinggian. Kami harus senang dan berpuas dari duduk di batu-batu granit besar seperti yang ada di Pantai Tanjung Tinggi, serta bermain pasir putih yang lembut.





3. Pulau Kepayang

Pulau Kepayang ini adalah tempat konservasi penyu. Lokasinya lebih sejuk karena sebagian besar dari pulau ini adalah pohon kelapa. Bisa dibilang pulau ini "Coconut Island". Tidak banyak yang bisa dieksplor di pulau ini kecuali penyu, tukik, dan tempat nongkrong rindang tepi laut. Ibaratnya, setelah berterik-terik ria di Pulau Lengkuas, kami bisa menyejukkan diri sejenak di sini sembari bermain dengan penyu.

Pulau Kepayang juga menyediakan beberapa cottage sederhana yang lokasinya persis di bibir pantai. Cottage kayu ini biasanya dihuni oleh bule-bule yang ingin merasakan kesejukan Pulau Kepayang sembari ikut belajar dalam konservasi penyu dan beberapa binatang yang dilindungi. Ada cottage, ada restoran, ada konservasi hewan laut, ada lokasi snorkeling, dan diving. Kurang apalagi, kan? Angin yang membuai pohon-pohon kelapa benar-benar membuat kita mabuk kepayang.








4. Pulau Batu Belayar

Efek kesiangan yang kuceritakan di atas, kami tak dapat ke Pulau Pasir karena sudah tertutup air. Pulau Batu Belayar adalah pulau terakhir dalam rangkaian island hopping kali ini. Seperti namanya, pulau Batu Belayar terdiri dari komponen batu di atas pasir. Susunan batunya cukup unik. Dari jauh kita akan melihat batu ini seperti layar yang sedang terkembang. Sekilas juga terlihat seperti batu-batu lonjong yang jatuh dari langit dan tertancap di atas pasir dan akan begitu seterusnya.

Yang paling menyenangkan dari pulau batu ini, aku menemukan bintang laut. Selain batu-batu besar, daratan pulau ini terdiri dari pasir putih yang sangat lembut. Butiran-butirannya halus. Ada beberapa bintang laut yang kami temukan sedang mendekap pasir dan sesekali tergenang ombak. Ada ikan-ikan kecil menyapa kami. Ada pula ikan bening menyerupai agar-agar yang tampak terseret ombak. Entah apa namanya. Sekilas seperti ubur-ubur, tapi matanya lebih mirip ikan. Bangkainya banyak terserak di salah satu sisi pantai.





Di antara pulau-pulau yang kami kunjungi dalam island hopping, Pulau Batu Belayar adalah favoritku. Suasananya tenang, ombak-ombak kecil dengan halus menyapa telapak kaki, serta anginnya menerbangkan segala angan. Rasanya lega sekali berada di sini. Titik kepuasan dari sebuah perjalanan. Batu Belayar, semoga kita bertemu lagi.

2 komentar: