In Journey Land

Warkop Modjok vs Happiness Kitchen and Coffee

Sebuah kafe kini punya daya tarik sendiri-sendiri. Pengusaha kafe dan restoran mulai berlomba-lomba memberikan aneka kreasi yang menjadi nilai jual. Ya, kuliner kini tak sekadar rasa, tapi juga bentuk dan situasi. Nuansa, suasana, pelayanan, rasa, dan bentuk sungguh diperhitungkan. Apalagi sekarang zamannya nongkrong cantik dan pamer foto selfie atau wefie.

Mungkin aku bukan pencinta kopi, tetapi aku menyukai lokasi-lokasi yang unik dan terkesan homey. Kebetulan sekali aku mengunjungi kafe yang memiliki dekorasi yang serupa di wilayah berbeda. Yang satu berada di Bandung dan yang satu lagi berada di Jakarta. Aku senang mengunjungi kedua tempat yang sedang hits ini. Warkop Modjok dan Happiness Kitchen and Coffee. Di sini aku tidak membahas rasa, tetapi bagaimana kedua kafe dengan konsep serupa ini mampu menjadi daya tarik.

Warkop Modjok

Beberapa waktu lalu aku jalan-jalan ke Bandung dan menyempatkan mampir ke sebuah warung kopi yang lagi happening di Bandung, Warkop Modjok. Saat itu, aku sedang reuni trip bersama teman-teman kampus. Begitu akan balik ke Jakarta, kami yang tadinya hendak makan di Sapulidi Sawah, malah berpindah ke Warkop Modjok. Ceritanya kami ingin duduk santai sambil ngopi-ngopi. Ya, sudah aku menunjukkan tempat ini yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu tol Pasteur.

Aku sendiri sudah lama hendak kemari, akhirnya baru sempat saat reuni trip ini. Apa yang membuat warkop ini sebegitu menarik? Ini dia Warkop Modjok. Dengan tampilan depan yang memang terlihat menarik karena konsepnya outdoor. Berada jauh dari jalan raya, Warkop Modjok memberikan ketenangan. Yang terdengar adalah aliran air sungai yang sedikit tertutup semak liar di belakang kafe. Warkop Modjok mengambil tema bangunan klasik Eropa, berupa satu bangunan kecil kotak di tengah yang terbuat dari kayu. Lalu dikelilingi oleh taman yang terdiri dari meja-meja dan kursi-kursi yang serba kayu juga. Pernak-pernik vintage bernuansa Inggris terdapat di bagian dalam rumah kayu. Dinding yang didominasi dengan jendela kaca membuat ruang kecil tanpa sekat tersebut terang benderang. Sebagai pengunjung, kita bebas memilih tempat duduk, indoor maupun outdoor.





Karena aku datang bersama rombongan teman, kami memilih memenuhi bangku di sisi kiri Warkop Modjok. Dengan dinaungi payung-payung, kami mendominasi sisi samping kafe itu. Panas, tapi tetap menyenangkan. Overall, lokasi unik ini memang instagramable. Meski tidak terlalu besar, dekorasi yang dibuat acak, kafe ini lebih menyerupai taman bermain bagiku. Banyak spot foto dan pantas saja langsung heboh di social media. Dari sisi mana pun, Warkop Modjok tetap cantik.

Kalau untuk menu makanan, sangat banyak, sampai-sampai aku sendiri bingung harus memesan makanan apa. Soal rasa, sebaiknya kafe ini mengadakan evaluasi. Tentukan menu-menu spesial yang dapat dijadikan sajian khas kafe homey ini. Di sini, rasa tak semenarik rupa. Tapi untuk ngumpul cantik, nongkrong santai, foto-foto ria, kafe ini juara. Kopi-kopian, teh-teh, serta roti bakarnya setia menemani di tempat ini.





Happiness Kitchen and Coffee

Tak terlalu jauh berbeda dengan Warkop Modjok, Happiness Kitchen and Coffee ini juga mengusung tema outdoor cafe. Berlokasi di Jakarta, tentu tempatnya tak seasri kafe di Bandung. Namun, dari sisi dekorasi, Happiness tampak lebih matang, lebih luas, dan memiliki lahan parkir sendiri yang sengaja diperhitungkan.

Aku kebetulan nongkrong di kafe ini pada malam hari. Tak seperti kafe pada umumnya, kafe ini terang-benderang. Lampu-lampu kecil dihias di bagian luar sehingga suasa di luar lebih temaram. Dengan mengusung konsep klasik juga, Happiness lebih hidup dengan warna-warna cerah pada tembok serta pernak-pernik lucu. Baik di indoor maupun outdoor, bangku-bangku disusun senyaman mungkin dan cenderung rapi. Jika dilihat sekilas, tampilan luar Happiness Kitchen ini lebih menyerupai dekorasi garden party pada pernikahan di Eropa. Kesan ceria memang mewarnai kafe ini.

Untuk menu yang ada, tidak banyak pilihan. Sepertinya Happiness tahu benar apa yang bisa disajikan dan apa yang menjadi khas kafe ini. Memang ada beberapa menu yang unik. Dibanding Warkop Modjok, Happiness lebih matang dalam pemilihan menu. Sepertinya kafe ini tidak saja mengusung warna cerah pada dekorasi, tetapi juga menyajikan makanan yang warna-warni.










A photo posted by Sulung Siti Hanum (@sansadhia) on



Jika Warkop Modjok memberikan nuansa yang lebih kalem, Happiness memberikan sesuatu yang dapat membangkitkan mood. Jika Warkop Modjok itu penuh cinta, Happiness itu ceria seperti namanya. Love is all you need and I choose to be happy today.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Journey Land

Pulau Bair, Kawasan Bening Bertebing di Kei, Maluku Tenggara


Gerbang teluk Pulau Bair.
Kei terlalu berkesan. Kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau kecil ini menyimpan banyak keelokan nusantara. Salah satunya adalah Pulau Bair. Ada yang bilang, Pulau Bair ini potret mini dari Misool di Raja Ampat, Papua. Yah, hitung-hitung pengobat hati yang belum pernah ke Raja Ampat. Berada di Kei seperti berada di negeri yang memberikan segala keindahan yang ia punya. Kei tidak pernah membuatku bosan.

Pagi itu, aku dan teman-teman bersiap ke Kampung Dullah melewati Kota Tual, dermaga yang menghubungkan Kei Kecil dengan Pulau Bair. Dengan segenap perlengkapan piknik, kami berlayar sekitar 1 jam menuju resort bebatuan yang mengapit laut bening berwarna tosca. Apa rasanya ya piknik di laut?

Jangkar dilepas dan perahu motor kami melaju. Panas. 1 jam tanpa penadah terik matahari. Perahu kami berlayar anggun memercik permukaan laut yang super asin. FYI, tingkat keasinan laut di Indonesia Timur memang cenderung lebih tinggi dibanding Indonesia bagian barat.

1 jam kemudian, kami memasuki semacam gerbang terbuka Pulau Bair. Air laut tampak berwarna tosca, menjelaskan bahwa tak ada karang di bawah sana. Hanya pasir putih yang menjadikan kebeningan laut tanpa cela. Sebaliknya, di kiri-kanan kami berjajar tebing karang yang pinggirannya ditumbuhi bakau dan beberapa vegetasi tumbuhan liar lainnya. Tebing-tebing itu menjadi semacam pilar yang memberi jalan kepada kami. Itulah kawasan Pulau Bair, sebuah teluk yang memanjang dengan beberapa lorong tebing karst.

Pulau Bair itu pulau dengan 2 teluk.

Huuuwf, panas.
Perahu kami belum mau berhenti. Rupanya guide kami ingin memperlihatkan berbagai sisi dari Pulau Bair ini. Kami memasuki teluk besar, lalu beberapa lorong sempit, kawasan hutan bakau, serta jalan laut yang lebar dengan pondok-pondok terapung di sekitarnya. Beberapa kali benturan terjadi pada perahu saat berkelok memasuki gang sempit. Beberapa kali pula mesin dimatikan untuk menjaga ekosistem yang ada di sekitar pinggiran Pulau Bair.

Kami bergerak terus melihat kebeningan air yang super bersih. Membelai dinding tebing yang kasar, lalu merasakan kesejukan hutan bakau. Ada area tebing yang dapat dipanjat, yang biasa dipakai untuk melihat kawasan keseluruhan Pulau Bair dari atas. Ini spot yang familiar dan menjadikan Pulau Bair instagramable. Orang-orang biasanya rela memanjat tebing itu untuk sampai ke atas. Dari posisi puncak tebing, Pulau Bair dan perairannya dapat terlihat dan diabadikan. Memang ke sinilah tujuan kami, merasakan sensasi berada di puncak tebing Pulau Bair.

Kami mencoba mendekati jalan berbukit yang landai, untuk mempermudah pendakian. Namun, jalan itu telah disegel oleh tim keamanan laut. Mulai saat itu, sudah tidak ada yang boleh ke puncak tebing, baik untuk mengabadikan pemandangan, maupun untuk terjun bebas ke air. Ini demi alasan keamanan. Masih ada beberapa pengunjung yang melanggar, tapi jika terjadi apa-apa pada mereka, tentu tim keamanan laut tidak akan mau bertanggung jawab. Kami sepakat memilih cari aman. Tidak ada gunanya melawan kebijakan baru itu.

Gang senggol

Hanya tebing dan tumbuhan liar menutupi permukauan pulau.



Perairan terbening.




Kami diizinkan untuk menikmati nuansa laut dan tebing dari air saja. Oleh sebab itu, disediakan beberapa gaze terapung untuk berteduh di sebuah teluk lebar. Meski kecewa tidak dapat memanjat, kami harus puas dan menjaga itu semua demi diri sendiri dan lingkungan. Namun, olahraga uji nyali lompat-lompatan ke air tidak begitu saja ditiadakan. Ada tebing rendah yang  bisa kami gunakan untuk landasan. Di sela-sela istirahat makan siang, kami bisa berperahu santai ke tebing rendah itu untuk merasakan sensasi melompat ke laut.

Kami memilih salah satu gazebo terapung yang kosong. Di sinilah kami akan menggelar menu makan siang yang sudah dibawa dari penginapan. Makan siang enak di gazebo kayu tengah laut dengan view hutan bakau serta tebing-tebing karst menjulang. Betapa asyiknya, apalagi ditemani beberapa ikan kecil di sekitar pondok. Kala itu tidak bayi hiu yang mendekat. Biasanya banyak yang berenang-renang di perairan Pulau Bair. Biasanya pagi, sementara kami sampai di sana tengah hari. Acara makan siang pun berjalan. Asalkan jangan sampai membuang sampah ke laut, aktivitas cemal-cemil-nikmat diizinkan oleh tim keamanan laut. Sebagai pengunjung, aku belajar menghargai segala hal keindahan ini. Bayangkan jika limbah kita berceceran di mana-mana di lautan bening ini. Kepulauan Kei tidak lagi menarik, bukan?!



Tebing rendah yang bisa dipanjat.
Anak  pulau siap lompat.
Lalu terjadilah drama singkat tengah hari.

Perahu merapat ke gazebo. Kami pun dituntun melompat satu per satu dari perahu ke gazebo apung. Kamu tau ini sulit? Kami harus saling menjaga keseimbangan antara perahu dan gazebo karena keduanya sama-sama mengapung. Gazebo miring saat kami tidak menginjaknya dengan seimbang. Gazebo itu tidak lebih dari 3x3 meter dengan meja bulat kecil di tengahnya. tidak ada bangku untuk duduk. Jadi kalau mau duduk, ya lesehan saja atau duduk sambil menurunkan kaki ke air dan bermain dengan ikan.

Guide kami menurunkan rantang makanan yang sudah disiapkan oleh orang penginapan. Wah, perut keroncongan sekali. Kami tidak sabar untuk makan siang. Yang pertama dibuka adalah menu sayur kangkung, lalu ayam goreng, bihun, dan 1 tabung besar nasi putih. Lalu, abang guide mengabarkan bahwa piring dan sendok ketinggalan. Kami semua ternganga. Bagaimana cara kami bisa makan tanpa alas?

Aku tidak ambil pusing, tutup rantang kujadikan piring darurat. Nasi diambil dengan raupan tangan yang sudah dicuci pakai air mineral. Sayuran dan lauk semua diambil dengan menggunakan jari-jari. Mulanya yang lain hanya melihatku saja. Akhirnya karena rasa lapar yang mendesak, mereka pun ikutan. Plastik bungkus gorengan pun dijadikan tadahan nasi untuk dimakan beramai-ramai.

Piknik asyik sesiangan di Pulau Bair menoreh canda-tawa sesama teman. Kami makan sambil tertawa-tawa dan mengingat kebodohan hari ini yang sampai lupa membawa piring dan sendok. Kami menjadikan gazebo terapung ini sebagai posko bersenang-senang. Namun itu semua tak mengurangi kenikmatan makan siang di perairan Pulau Bair ini.Diiringi musik dari speaker kecil, siang kami sungguh renyah.


Piknik riang.
Puas bermain di sekitaran Pulau Bair, kami bergerak menuju sunset-spot, Pulau Adranan yang merupakan pulau kecil antara Bair dan Kei Kecil. Di tengah perjalanan, langit menjadi gelap. Kami kehujanan dalam beberapa saat. Perahu yang tanpa atap itu terus melaju agar kami tidak kedinginan, walaupun semakin cepat perahu melaju, kami tak bisa menghindari dinginnya angin. Hujan deras di tengah laut bukan suatu hal yang menyenangkan, teman. Percayalah. Badan yang sudah mulai mengering setelah berenang-renang, basah kembali dan kena angin pula. Ombak pun mulai tak beraturan. Perahu tanpa atap tentu digenangi air seketika. Tidak ada satu pun dari kami yang tidak kuyup, hingga kami sampai di Pulau Adranan 30 menit kemudian.

Hujan sudah berhenti sore itu, tetapi langit masih mendung kelabu. Sepertinya pesona sunset tak akan terlihat. Jadi kami harus puas bermain-main di sekitaran pantai saja. Meski pakaian basah, badan terasa lengket dan kepala lepek, kami tetap bisa bersenang-senang. Siapa yang peduli soal penampilan, sih, saat di pulau?

Menjelajah keindahan Nusantara memang takkan ada habisnya. Kita juga harus siap sedia dalam segala kondisi cuaca. Tidak selamanya negeri yang kita jelajahi itu dalam keadaan cuaca baik. Bisa buruk, bisa sangat buruk. Seperti saat aku berada di perairan Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. Begitu juga dengan Kepulauan Kei ini. Negerinya tidak selamanya terik. Hujan beberapa kali merundungi kami. Seperti saat di tengah laut ini, kami dalam perjalanan kembali ke Kampung Dullah. Hujan, dingin, dan masuk angin. Tentu kesehatan saat traveling harus benar-benar dijaga. Yang penting jangan pernah mengeluh. Hal yang menyenangkan dalam suatu perjalanan, bukan destinasinya, tetapi perjalanan itu itu sendiri.

Apa pun kondisinya, Pulau Bair tetap memesona. Kepulauan Kei adalah juara keindahan Maluku.

Ceria bersama di Pulau Adranan.






Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Pagi Emas di Pantai Ohoidertawun, Kei

Selama di Pulau Kei Kecil, kami menginap di homestay pesisir Ohoidertawun. Kebanyakan wisatawan akan memilih menginap di desa Ngilngof, pantai Ngurbloat. Tapi pantai Ohoidertawun lebih menggoda karena sepi, bukan wilayah umum wisatawan, dan menghadap ke timur. Artinya? Pagi di sini sungguh pagi yang emas.

Pantai Ohoidertawun terkenal dengan pantai yang tenang dan air yang bisa surut hingga bermil-mil jauhnya ke lepas pantai. Menariknya, pasir pantai ini lembab, mengkilat, dan datar. Ombak terdengar jauh di laut sana. Yang kencang terdengar adalah gemerisik dedaunan dari pohon kelapa. Dengan rimbunan nyiur itu, Ohoidertawun ini sangat teduh. Ini yang membuat aku betah berada di sini, menikmati hari-hari santai di Kei.

Pagi yang lebih dulu 2 jam dibanding Jakarta, membuatku terbangun. Aku langsung membuka pintu kamar dan terkejut. Hari belum benar-benar terang, tapi tak gelap juga. Warna langit jingga, sangat jingga. Matahari terbit tak tampak sempurna karena tertutup awan. Namun, biasnya memberi efek menakjubkan, untukku pagi itu. Aku menyeret tubuh keluar dari kamar, melintas di pasir lembut, dan menatap keindahan pagi lebih puas. Rupanya teman-temanku belum bangun karena kelelahan, begadang bermain api unggun hingga lewat tengah malam.

A photo posted by Sulung Siti Hanum (@sansadhia) on


Penginapan kami di Ohoidertawun dikelilingi pohon kelapa.

Pagi-pagi buka pintu kamar, langsung lihat ini.
Aku sendirian, ditemani bayangan yang mulai memanjang. Bias oranye memenuhi langit. Pantulannya pun berkilat di permukaan pasir basah. Aku menunggu senyum matahari.

Matahari naik hingga bias bias jingga pun sirna. Aku berjalan di tepian menikmati pagi yang lengang, tanpa angin, tanpa ombak. Air laut surut sangat jauh, memungkinkanku berjalan ke arah lepas pantai. Beberapa perahu tampak terparkir. Beberapa anak kecil mulai tampak berlarian. Saat yang tepat untuk jogging di tepian.

Pagi cepat menghangat. Badan mulai berkeringat. Aku berteduh dan berayun di atas hammock, sembari menanti sarapan sebentar lagi. Senandung nyiur membangkitkan kantuk. Aku pun tertidur kembali dalam pelukan pantai pagi.





Pagi santai ala Junisatya.
Jika kamu punya waktu lebih di Ohoidertawun, jangan sampai disia-siakan. Jika pagi adalah emas, siangnya sebening kristal. Hari yang cerah membuat semua menjadi indah. Pantai Ohoidertawun memang menawan. Di pantai ini pula kami melihat kehidupan yang damai warga Tual. Desa di sini dibagi-bagi berdasarkan agama. Kebetulan kami tinggal di wilayah kampung Islam. Namun, justru di sana indahnya. Anak-anak pulau Kei bermain tak mempedulikan agama. Mereka berkegiatan semau mereka. Anak-anak Kei adalah anak yang ramah. Mereka juga senang bermain. Alam adalah arena mereka. Jika pantai surut, mereka biasanya bermain bola di pasir atau berlarian. Mereka juga senang dengan api unggun dan sangat lihai menyalakan api. Senang sekali bisa berkenalan dengan anak-anak ini.

Beruntung sekali aku bisa menikmati pantai di Ohoidertawun dari pagi hingga malam. Menginap di sini adalah kesempatan berharga. Aku memang tidak berjalan terlalu jauh menyisiri sisi pantai, tetapi Ohoidertawun dari segala sisi tampak menawan. Rasanya aku tertawan di sini.


Siap berjemur.

Makin siang makin bening.

Saat malam datang, kami membakar api unggun. Udara tidak terlalu dingin, tapi gelapnya sungguh pekat. Api unggun dapat memecah kegelapan itu. Kami duduk bersandar di batang pohon kelapa yang telah dihampar di pasir yang padat. Sambil meneguk minuman hangat, kami menikmati malam sambil bermain kartu, bercerita kebodohan siang hari, dan sesekali menatap bintang yang bertaburan di langit. Kami pun bergantian mengaktifkan ponsel karena sinyal hanya datang untuk 1 provider dan 1 device. Jadi, jika ada yang aktif nongkrong di bawah pohon, lebih baik yang lain mundur. Untuk dapat sinyal harus antre. Namun, tak ada malam sebaik ini di Pulau Kei. Suara ombak masih terdengar halus di lepas pantai.

Api unggun dan sinyal.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments