Film Hangout, Premis Menarik dalam Pembaruan Film Indonesia

Seperti biasa, akhir tahun penuh dengan film-film Indonesia. Pada Desember 2016, ada beberapa film yang tayang di bioskop. Dari sederetan film Indonesia maupun film luar yang nongol, aku memilih menonton film Hangout karena dalam rangka menemani adik ipar yang sedang liburan di Jakarta. Jika diajak nonton Star Wars, dia tidak akan mengerti karena permasalahan bahasa. Adikku ini masih umur 11 tahun, jadi harus cari film yang cocok untuknya. Dia memilih sendiri film Hangout. Oke, baiklah. Sekalian aku memang penasaran dengan film besutan Raditya Dika ini.

Promo film Hangout produksi Rapi Films terbilang gencar. Bagi yang mengikuti Youtube channel Raditya Dika, tentu tidak asing dengan judul film baru ini. Raditya Dika membagi behind the production film Hangout beberapa episode dalam vlog-nya. Lalu, yang membuat aku tertarik adalah ide ceritanya, sebuah komedi-thriller.

Film Hangout. (sumber foto dari sini)

Undangan Hangout (sumber foto dari sini)
Film Hangout dimulai dengan premis awal sekumpulan public figure mendapat undangan untuk program Hangout di pulau terpencil selama beberapa hari, tapi ternyata mereka meninggal satu per satu. Sebuah premis menarik, bukan? Pertanyaannya, bagaimana menyelipkan komedi di tengah film bunuh-bunuhan itu? Semua itu terjawab dalam film ini.

9 orang public figure dari berbagai bidang seni mendapat undangan Hangout bernilai nominal puluhan juta. Secara serempak, kesembilan artis ini bertemu saat menyeberang ke pulau yang dimaksud. 9 di antaranya adalah Raditya Dika, Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Surya Saputra, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Mathias Mucus, Titi Kamal, dan Bayu Skak. Mereka memerankan nama masing-masing dengan karakter yang sedikit di-touch up. Antara realitas dan fiksi diadu sehingga mampi memberi guyonan menertawakan kehidupan selebriti itu sendiri. Mereka akan menginap di sebuah vila selama 3 hari. Lalu, suasana mendadak mencekam saat makan malam, ketika Mathias Mucus meninggal keracunan. Secara bergantian, yang lain pun meninggal. Sebuah pembunuhan berencana ini didalangi satu orang di antara mereka. Bayu Skak yang pertama kali menyadari tetapi tak sempat mengungkap misteri itu karena ia pun ditikam beberapa menit berikutnya.

Akhirnya penonton sampai pada sebuah tebak-tebakkan, siapa pembunuhnya? Mereka yang tersisa saling menuduh dengan mengungkap berbagai sebab-akibat persaingan di dunia selebriti dan tantangan pekerjaan sebagai public figure. Setiap karakter saling melempar tuduhan terhadap realitas yang dibengkokkan dalam cerita. Misalnya, Gading Marten menuduh Soleh Solihun sebagai Stand Up Comedy yang menggeser popularitas host dan aktor. Lalu Gading Marten juga diteriaki, "Roy Marten lebih terkenal daripada elu!" Raditya Dika juga ditertawai oleh Surya Saputra sebagai aktor yang tidak punya ekspresi dan membosankan, yang selalu mengeluh "Gue bego. Gue jomblo." Sosok Surya Saputra dibuat super higienis dan bertolak belakang dengan Dinda Kanya Dewi yang super jorok. Karakter itu dilekatkan ke masing-masing lalu menjadi bahan lelucon sepanjang film. Sementara itu Prilly Latuconsina dan Titi Kamal saling menyanjung kecantikan satu sama lain hingga mereka berantam sendiri tiada ujung. Hingga Prilly Latuconsina sendiri tidak luput dari celotehan bahwa kehidupan percintaannya tidak lepas dari settingan dan palsu. Bayu Skak yang berprofesi sebagai youtuber pun menjadi bulan-bulanan karakter lain lantaran ia selalu membawa kamera dan nge-vlog, lalu disebut narsis. Sementara itu Mathias Mucus sebagai aktor senior menangkap dan mengamati itu semua sebagai fenomena. Ia sempat menirukan gaya berbicara ABG masa kini dengan logat gue-elo kekinian. Fakta-fakta dunia selebriti itu yang lantas dibengkokkan dari realitasnya sendiri menjadi suatu benang merah untuk mengetahui siapa pembunuh di Hangout.

Adegan di film Hangout. (sumber foto dari sini)

Dari adegan demi adegan, konyol maupun tegang, penonton pun ikut menebak-nebak. Jelas sekali, setiap guyonan tidak memihak pada siapa pun. Alur mampu menghapus jejak pembunuh hingga kita sampai pada twist. Aku sempat geregetan menebak si pelaku sampai 4 kali dan semua salah.

Selipan-selipan banyolan, celotehan, dan humor di setiap kejadian menjadikan film ini tidak melulu seram karena darah. Sekilas kita melihat, tampaknya nyawa tak berarti apa-apa. Tapi namanya juga film thriller yang berlatar komedi. Meski tak terlalu seram, scoring film ini memicu adrenalin dan ketegangan. Sisanya aku tertawa dengan beberapa humor renyah. Beberapa banyolan agak sedikit 'receh' cenderung jorok, dan memang 'nggak Radit banget". Namun, di antara 'humor jorok' itu, Raditya Dika membuatnya hanya untuk menertawakan diri sendiri. Jadi masih sah-sah saja.

Selebihnya, seperti layaknya film komedi, kita akan berfokus pada tawa dan tebak-tebakkan. Risiko membuat plot dengan banyak tokoh adalah kamera semakin bingung mau menonjolkan karakter yang mana. Raditya Dika rupanya lihai membuat alur cerita agar setiap karakter mendapat porsi yang sesuai. Ada karakter yang muncul, lalu disimpan hingga akhir. Ada juga karakter yang memang sudah menarik perhatian, lalu langsung dibuat meninggal di beberapa plot awal. Pemilihan pemain dari senior hingga junior (baru di dunia peran layar lebar) tak membuat mereka tarik-menarik dan tumpang tindih.

Satu kecacatan yang membuatku agak gemas. Premis menarik tidak diiringi dengan twist yang memuaskan. Di bagian akhir, kita akan tahu siapa pembunuh sebenarnya berupa twist itu. Namun, alasan si pembunuh membuat alur panjang pembunuhan dengan sekian banyak jebakan tak membuat si pembunuh ini benar-benar keji. Hanya alasan remehlah semacam sakit hati biasa karena teman-temannya sesama artis tak memberikan simpati terhadap ayah si pembunuh yang mendadak masuk rumah sakit. Dia pun ingin balas dendam. Alasan yang kurang kuat untuk merancang pembunuhan berantai dengan mengundang sekawanan selebriti itu ke sebuah pulau terpencil. Dia pun berani membayar uang muka ke manajer masing-masing sebagai kontrak awal. Andai twist itu dilatari kisah sebab-akibat yang mendasar, tentu film ini akan hebat.

Overall, di balik kecacatan tersebut, semua usaha filmmaker tentu patut dibanggakan. Hasilnya pun sangat baik. Dari data penonton terbaru di website filmindonesia.or.id tercatat bahwa Hangout meraih peringkat ke-4 untuk film Indonesia terlaris tahun 2016 dengan perolehan 2.452.901 penonton (per tanggal blogpost ini diluncurkan). Baru di film Hangout ini aku menemukan film thriller-komedi versi Indonesia. Dan, mungkin akan ada film-film selanjutnya yang akan mengikuti. Sekali lagi, Raditya Dika memang jago membuat premis menarik yang sederhana saja dan punya jalan cerita yang sulit ditebak. Ini menjadi sebuah pembaruan dalam khasanah film Indonesia. 

Gathering ke-9 pemain film Hangout. (sumber dari sini)

6 comments:

  1. Replies
    1. Nonton, gih. Mumpung masih tayang. Menghibur banget ko filmnya 😄

      Delete
  2. Replies
    1. Ah engga ko. Aku kan ga cerita bagian akhirnya. Hehehehe. Thanks sudah mampir.

      Delete
  3. Akhirnya indonesia berani juga ngangkat thriler

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan selanjutnya perfilman Indonesia makin keren.

      Delete