Menyasar Ramainya Legian di Fourteen Roses Bali

Pulau Bali selalu punya cerita. Di sela-sela kerjaan kantor dan kuliah S2 saat itu, aku diajak liburan ke Bali oleh Junisatya bersama keluarganya. Cuma liburan singkat akhir minggu. Tiket pun sudah dipesan. Tinggal memikirkan bagaimana cara izin dari kantor dan bagaimana bisa mengerjakan tugas kuliah saat di Bali. What? Please-lah, Hanum, masih ingat dengan kuliah saat liburan?

Ya begitulah derita mahasiswa S2. Ada beberapa fakta kegilaan yang telah kulalui saat kuliah S2 yang molor hingga 3 tahun. Mungkin ini terjadi pada sebagian orang di luar sana yang menghadapi kuliah S2 sambil kerja. Konsekuensinya apa? Kita harus pintar bagi waktu. Dan, buat aku, bagi waktu itu adalah hal paling susah selain menaklukkan kuliah. Aku menjalani kuliah S2 di Program Studi Ilmu Susastra UI dan hanya ada kelas reguler. Ini saat-saat dilematis antara memilih kuliah atau kerja. Salah satu harus dikorbankan. Tapi akhirnya aku bisa bernegosiasi dengan pihak kantor dan mendapat privilege menjalani kuliah. Dari sana, derita baru saja dimulai. Ketika hari kerja, pagi-pagi aku ke kampus dan siangnya lanjut ke kantor sampai malam. Lalu ketika orang-orang bisa berlibur di akhir pekan, aku justru harus mengerjakan beberapa tugas kuliah. Ritme ini berlanjut dari semester ke semester. Kalau ditanya kenapa tidak resign kerja saja, ya dengan tenang aku menjawab, "Dengan apa aku membiayai kuliah?" Lalu jika ada yang bertanya kenapa tidak cuti dulu kuliahnya, aku akan jawab, "Kalau sudah cuti sekali, percayalah kamu akan susah balik ke kampus lagi." Itu terjadi pada beberapa teman seperjuanganku di kampus.

Jadi hari-hari penuh dengan kerjaan dan tugas kuliah itu kulalui. Suntuk? Sangat. Stres berat? Benar. Apaagi saat mendekati akhir semester. Karena itulah aku butuh liburan. Aku butuh refresh energi, refresh pikiran, dan refresh perasaan. Aku butuh tetap waras dalam menjalani 2 hal sekaligus ini. Lalu, aku mulai mencari-cari kesempatan dan mencuri-curi waktu di sela pekerjaan dan kuliah. Aku pernah memboyong tesis saat mudik lebaran. Aku bahkan traveling ke Kepulauan Derawan, backpacking ke Pahawang, berlibur di Makassar, dan semi-prewedding di Taka Bonerate dengan laptop dan bahan revisi tesis di dalam ransel. Sebaliknya, aku pernah ikut konferensi dari kampus di Bandung dengan membawa tugas kantor. Liburan tetap. Tapi tugas jalan terus. Dosen pernah meneleponku karena aku tidak muncul di kampus untuk bimbingan. Percayakah kamu bahwa saat menjawab telepon itu, aku sedang bersama lumba-lumba yang mengantar perahuku ke Pulau Kakaban, Kepulauan Derawan. Apalagi hari-hari jelang sidang tesis adalah hari-hari jelang aku menikah juga dengan Junisatya. Sungguh tak mudah menjadi emosi yang rasanya nano-nano. Sungguh epik, bukan?

Begitu pula saat aku diajak ke Bali suatu hari. Meski hanya 2 malam di akhir minggu, aku harus mengumpulkan paper kuliah pada hari Selasa sementara ada bacaan yang harus dituntaskan sebelum mengerjakan paper itu sendiri. Akhirnya, aku menjejalkan sebuah buku tebal dan tablet (sebagai pengganti laptop agar tak terlalu berat) ke dalam tas ransel, lalu berangkat terburu-buru ke bandara. Nyaris ketinggalan pesawat karena aku harus izin masuk setengah hari di kantor pada Jumat siang. Fiuh. So, Bali, I'm coming. Kuharap kau mau menerima anak yang kelelahan karena isi otaknya terlalu penuh ini, batinku saat itu.

Aku mendarat di Bali pada malam hari dan langsung menuju penginapan. Kami menyasar wilayah Legian yang akhir pekan rupanya sungguh ramai. Mobil berhenti di pelataran parkir sebuah hotel, Fourteen Roses Legian Hotel. Dari luar, hotel ini tampak biasa saja selain ornamen gapura khas rumah adat Bali, sebuah gapura candi bentar. Hotel ini persis berlokasi di pinggir Jalan Legian yang semarak sekali pada malam hari. Ada banyak restoran, toko souvenir, spa, kafe, dan lain-lain. Aku bertanya dalam hati, apa iya hotel ini cukup nyaman di tengah hingar-bingar Legian?


Serba mawar.

Lobi dengan lukisan 14 bunga mawar.

Aku memasuki lobi dan disambut ramah oleh sepasang patung Dwarapala. Lobinya cukup besar dengan lampu kuning temaram. Ornamen langit-langit terlihat unik. Lampu-lampu dikelilingi oleh kelopak mawar. Ada beberapa ornamen patung dewi terpampang di tembok ruang tamu. Lalu ada pula lukisan yang menggambarkan bulatan-bulatan bunga mawar berjumlah 14 bundaran sesuai nama hotel ini. Ada lukisan kelopak bunga mawar terpampang besar berwarna emas disertai vas bunga dengan bunga mawar artifisial di sebelahnya. Semua serba mawar. Sofa berwarna jingga menambah kesan eksotis di lobi ini. Fourteen Roses memang bernuansa kuning-oranye dan konsepnya menyerupai vila dengan beranda untuk bersantai di setiap kamar. Ada tangga melingkar di tengah lobi yang merupakan akses menuju restoran. Jadi kalau sarapan, kami bisa langsung ke sini.

Tanpa berlama-lama menunggu di lobi, aku pun diantar ke kamar dengan twin bed sedang menunggu di dalamnya (sayangnya lupa kuabadikan karena antusias memeluk kasur lebih besar). Aku menginap bersama mertua dan adik ipar, Cahya yang masih kelas 3 SD. Langsung saja tanpa berbasa-basi, aku berganti pakaian dan senang sekali melihat ada bathtub di kamar mandi. Wah, kebetulan sekali, ini melengkapi rencana relaksasi akhir minggu kami, berendam air hangat.

Saat semua sudah tidur, aku mengeluarkan buku The Geography of Bliss yang tebalnya setara dengan tebal bantal hotel. Ini adalah buku yang kubawa saat itu. Buku karangan Eric Weiner ini berkisah tentang perjalanan penulis mencari negara yang masyarakatnya paling bahagia di dunia. Menohok, ya, membaca novel Bliss ini malam-malam, jauh dari rumah. Siapa yang bisa bahagia jika masih ada tugas berat untuk hari esok? Kebetulan sekali tema paper-ku saat itu adalah isu kosmopolitan yang terdapat di The Geography of Bliss. Paper kosmopolitan dalam novel bertema perjalanan ini dikerjakan saat melakukan perjalanan itu sendiri. Bali. Negeri yang cocok yang menjadi jendela global negara ini, mengaburkan konsep rumah dan meleburkannya dalam kenyamanan yang homey hotel semi vila tempatku menginap. Fourteen Roses Hotel sudah memberikan secercah harapan dalam kelanjutan konsep dalam paper-ku. Si "Aku" dalam novel ini telah melebur dalam kelokalan di setiap negara yang ia datangi. Ia menghapus keliyanan dan bergabung bersama masyarakat negara-bangsa. Ini membuktikan konsep kosmopolitan perlahan-lahan melekat dalam diri si "Aku" saat menemukan sumber kebahagiaan di setiap negara. Malam yang tenang sangat bertolak belakang dengan ramainya jalan Legian di luar sana, bukan? Legian telah memberikan jawaban atas kelelahan otak ini saat memikirkan konsep kosmopolitan yang sungguh-sungguh berat itu. Wah, ada gunanya juga ya kita traveling, mencari apa yang tidak akan ditemukan dalam kesuntukan.

Pagi-pagi sekali, walau masih kurang tidur, aku bangun dan langsung bersiap-siap untuk sarapan. Fourteen Roses membuka hari-hari kami di Bali dengan mood yang serba baik. Sambil menunggu yang lain siap, aku berjalan-jalan di sekeliling hotel. Hotel ini memberikan nuansa Bali yang sangat kental. Rupanya patung Dwarapala tak hanya ada di gerbang depan. Patung itu juga dipajang di sebuah kolam ikan koi sebagai simbol pelindung kehidupan si ikan. Di sekitar kolam renang, ada gazebo-gazebo kecil tempat tamu hotel menikmati suasana outdoor hotel yang nyaman. Ada beberapa daybed juga untuk para bule sunkissing di sela-sela berenang. Meski tempatnya tak selebar beach club lain berbintang 5, Fourteen Roses memberikan suasana adem dan segar, sesegar mawar dalam filosofi penamaan hotel mereka. Sederhana, tapi manis.


Menuju taman.
Kolam ikan koi.
Di depan kamar Fourteen Roses yang asri.
Kolam renang di Fourteen Roses Hotel. (Sumber foto dari sini)
Aku menginap 2 malam di hotel ini dan lingkungannya memang cocok untuk berlibur bersama keluarga. Ada berbagai jenis room yang disedakan, superior room dengan teras dan balkon, twin bed room, serta family room. Rasanya belum puas karena belum mencoba spa tradisional dan refleksi di sini. Dengan menu sarapan yang aneka ragam dan enak-enak, rasanya aku ingin tinggal lebih lama dan mengerjakan paper untuk kuliah Lintas Budaya-ku sampai selesai. The Geography of Bliss yang menemani staycation-ku di Fourteen Roses ini mengantarkanku bukan untuk mencari jenis kebahagiaan, melainkan untuk membuat kebahagiaan itu sendiri. Ya, salah satunya dengan menikmati taman Fourteen Roses, berenang cantik (aku lebih memilih berenang pada malam hari karena cenderung sepi), bersantai, lalu berjalan-jalan di sekitar Legian.

Gerbang depan Fourteen Roses
Dekorasi bergambar kepala Buddha.
Legian dalam pelukan. Itulah temaku dua hari itu. Keuntungan memilih Fourteen Roses sebagai tempat menginap adalah dekat dengan jantung wisata Pulau Bali. Tempat ini hanya beberapa blok ke kawasan Kuta dan Denpasar. Di ujung jalan, aku sempat mengunjungi Monumen Bom Bali I hanya dengan berjalan kaki. Monumen dengan ratusan nama korban pengeboman oleh teroris beberapa tahun lalu telah menjadi bukti sejarah kelam Kota Denpasar. Hingar bingar Legian sempat redup pascatragedi itu. Tragedi itu selintas mengingatkanku pada materi kuliah tentang filosofi kosmopolitan. Konsep yang memberi keleluasaan, menghapus batas yang lokal (the local) dan yang liyan (the stranger), mengaburkan makna rumah (home), dan bergabung dalam konsep world citizen. Mungkin saja konsep world citizen itu sedang terjadi di lokasi ini dan saling menyerap norma satu sama lain lalu menyatukannya dalam satu kesatuan pemahaman. Namun, pergerakan itu terusik dengan tragedi bom saat itu padahal mungkin saja pemahaman tentang hidup Kosmopolitan itu belum bulat. Budaya dan agama yang membatasi nilai dan ideologi itu. Aku rasa Kosmopolitan tidak benar-benar terjadi dalam nadi negara ini selama kedua hal itu masih saling bertikai dan belum bernegosiasi. Hmm, pantas dijadikan wacana.

Tinggal beberapa hari di Fourteen Roses di pinggiran Legian membuatku menyerap banyak hal. Keramaian Legian tak mengusik ketenangan di Fourteen Roses. Beruntung sekali The Geography Bliss ada di genggaman. Tepat sekali dengan suasana harmonis di sini untuk mencari pola kebahagiaan sesuai isi buku. The Geography of Bliss memang menjadi bacaan santai yang yahud. Ada, ya, orang yang rela traveling untuk memperhatikan bagaimana masyarakat lokal suatu negara saling berinteraksi. Lalu bagaimana itu semua membuat masyarakat itu bahagia? Kegelisahan itu bukan tentang materi, fungsi, atau kelas sosial. Kadang sumber kebahagiaan itu berasal dari hal sederhana, sesederhana liburan singkat akhir mingguku di Pulau Bali. Ternyata antara kuliah dan liburan itu bisa berjalan berbarengan.

Monumen Bom Bali I

Fourteen Roses Hotel
Jln. Legian 153 Kuta
Bali 80361
Telp. (0361)752078

0 komentar: