In Journey Land

Semarang Heritage: Klenteng Sam Poo Kong sebagai Tempat Ibadah, Sejarah, dan Ziarah

Ini bukan sedang di negeri Cina, tapi di Semarang, tempat peninggalan seorang Laksamana dari Tiongkok yang pernah mampir. Ini cerita tentang Laksamana Cheng Ho atau Zheng He atau juga Sam Po Tay Djien yang berlayar di Laut Jawa dan akhirnya berlabuh di Pulau Tirang (nama Semarang pada waktu itu). Laksamana Cheng Ho ini cukup terkenal menoreh catatan-catatan sejarah pelayaran dunia, berdampingan dengan nama-nama besar dari Eropa seperti Columbus dan Marcopolo. Nama Cheng Ho cukup terkenal di daratan Melayu karena dia adalah seorang pelaut dari Cina yang beragama Islam. Haji Mahmud Shams adalah nama Islamnya. Sebelum ini, aku pernah menulis tentang masjid peninggalan Cheng Ho di Surabaya (bisa dibaca di sini).

Cheng Ho memang sedang mengarungi dunia untuk suatu misi damai dan menyebarkan agama. Sekitar abad ke-15, Cheng Ho sampai ke Indonesia. Semarang menjadi tempatnya berlabuh di luar rencana, lantaran ada awak kapalnya yang sakit dan butuh perawatan. Sosoknya sangat didewakan oleh para awaknya. Saat Cheng Ho melanjutkan perjalanan, banyak di antara awak kapalnya yang memilih tinggal dan menikah dengan masyarakat setempat. Dari sana, cerita berpindah. Kemahsyuran Cheng Ho terdengar hingga pelosok negeri. Bahkan sampai ia meninggal, Cheng Ho dianggap dewa oleh masyarakat keturunan Tiong Hoa, khususnya penganut Kong Hu Cu.

Klenteng Sam Poo Kong menjadi saksi bahwa Cheng Ho memang pernah ke sini. Sebelum jadi klenteng, tempat ini hanya berupa gua batu tempat laksamana dari Tiongkok ini beristirahat bersama para awak kapalnya. Tak jauh dari mulut gua, terdapat altar tempat Cheng Ho melakukan salat dan awaknya bersembahyang. Harmoni perbedaan agama yang pernah terjalin di klenteng ini pada masa lampau.

Sepeninggal Cheng Ho, Gua Batu ini sempat ambruk. Melihat napak tilas Cheng Ho yang membawa perdamaian di beberapa wilayah, khususnya Pulau Jawa, gua batu dibangun kembali menjadi Gedong Batu atau Kedong Batu sebagai tanda jejak pertama laksamana dari Tiongkok ini. Sejak itu pula patung Cheng Ho dibangun di dekat lokasi yang pernah jadi altar untuk melakukan ibadah. Masyarakat keturunan Tionghoa yang sangat menghormati sosok Cheng Ho ini akhirnya menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat sembahyang serta pemujaan, khususnya bagi yang memeluk agama Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao. Sejak itulah tempat itu didaulat menjadi Klenteng Sam Poo Kong. Kini, fungsi klenteng tak cuma sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai kuil tempat wisata sejarah di Semarang. Bahkan kuil ini adalah kuil peninggalan Cina tertua di Semarang.

Menapak tilas jejak Cheng He di Semarang.

Area depan Sam Poo Kong

Kawasan luas Klenteng Sam Poo Kong

Arena pertunjukan yang menjadi pusat keramaian.
Itulah sedikit kisah tentang Sam Poo Kong yang kudengar saat mengunjungi bangunan percampuran budaya Cina dan Jawa ini. Saat memasuki area Sam Poo Kong, parkiran yang penuh menyambutku. Rupanya banyak sekali yang ingin melihat peninggalan kebesaran Cheng Ho di klenteng ini. Setelah membayar tiket masuk yang murah meriah (hanya Rp3.000), aku berjalan ke gerbang klenteng dan sampailah di lapangan lebar dengan patung Laksamana Cheng Ho yang menjulang (seperti patung Jenderal Sudirman di Jakarta) di tengah-tengahnya. Sejumlah patung berukuran lebih kecil juga tampak menghiasi bagian lapangan dan pinggir bangunan. Berada di tengah-tengah lapangan ini, aku dapat melihat kemegahan bangunan tradisional Cina, seperti gerbang gapura dengan pintu besi raksasa (menyerupai benteng), bangunan klenteng sebagai tempat sembahyang, serta sebuah panggung lebar yang kesemuanya bernuansa merah keemasan. Kebetulan saat itu, di area panggung terbuka persis di sisi kiri lapangan, sedang ada pertunjukan barongsai. Serasa berada di kuil-kuil negeri Cina.

Aku memperhatikan satu demi satu desain bangunan sekitar klenteng ini. Atap yang berjenjang-jenjang telah menjadi ciri khas arsitektur bangunan Cina selama berabad-abad. Di bagian ujung gentengnya yang melengkung ke atas terdapat barisan patung beberapa binatang berukuran mini. Sekilas tak terlihat, tapi cukup memberikan aksen desain gedung-gedung Cina. Bangunan-bangunan bernuansa merah ini dipenuhi oleh ornamen naga, khususnya sangat terlihat di bangunan klenteng utama.

Klenteng Utama Sam Poo Kong

Patung binatang di ujung genteng.

Ornamen Naga.

Klenteng Dewa Bumi denngan 8 patung Dewa Penjuru Angin.
Di depan Klenteng Kyai Jangkar

FYI, klenteng ini sendiri sudah berumur 4 abad sejak gua batu dibangun kembali tahun 1724 oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Ada beberapa bangunan yang dipagar, khusus untuk umat Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao bersembayang. Kata seorang teman, dulu beberapa bangunan itu tidak dipagar yang merupakan pusat pemujaan, sehingga semua pengunjung dari berbagai agama bisa masuk. Namun karena pengunjung semakin banyak, untuk menjaga kekhusyukkan orang yang sedang beribadah, masuk ke area klenteng dikenai biaya. Padahal pusat sejarahnya itu justru bermula di area yang dipagar ini karena di belakang bangunan klenteng yang lebih besar, terdapat relief kisah perjalanan Cheng Ho saat berlabuh di kota ini. Relief di dinding merupakan gedung batu yang dimaksud yang dulunya adalah gua tempat Cheng Ho dan awak kapalnya pernah tinggal.

Gua batu yang bersejarah itu diperindah dan dinamakan Gua Pemujaan Sam Poo Kong. Sam Poo sendiri ditujukan pada Laksamana Cheng Ho yang dijadikan dewa oleh penganut agama Kong Hu Cu. Altar pemujaan terletak di bawah tanah bangunan Klenteng Utama yang dipenuhi oleh ornamen naga. Ini adalah bangunan paling besar di area Kuil Sam Poo Kong. Di sebelahnya berdiri Klenteng Dewa Bumi yang di depannya berjajar 8 patung dewa penjuru angin yang dipercaya oleh kaum Kong Hu Cu. Di sampingnya lagi terdapat Klenteng Kyai Juru Mudi yang berukuran lebih kecil. Aslinya Kyai Juru Mudi ini adalah makam Kyai Juru Mudi alias Wang Jinghong si pengemudi (juru mudi) kapal Cheng Ho yang juga beragama muslim. Makamnya diletakkan di atas anjungan dan terpisah dari titik pemujaan agar peziarah muslim juga dapat melihat makam ini.

Bangunan paling ujung dari komplek klenteng ini adalah Klenteng Kyai Jangkar, tempat pemujaan untuk Jangkar Suci, nabi dalam Kong Hu Cu serta arwah Ho Ping. Di dalamnya terdapat jangkar peninggalan kapal Laksamana Cheng He.

Agar dapat masuk ke sudut-sudut bersejarah di Sam Poo Kong, aku harus membeli tiket Rp20.000. Tanpa mengganggu orang-orang yang sedang bersembayang, aku melintasi bangunan-bangunan klenteng dan memperhatikan bangunan serta ornamennya dari luar. Tak lupa aku melongok ke mulut bekas gua batu yang saat itu tertutup, hanya boleh dimasuki oleh orang yang akan bersembayang. Aku pun hanya dapat menikmati relief di dinding sepanjang gua batu yang berada di belakang Klenteng Utama. Dari sanalah cerita sejarah Cheng He dimulai di negeri ini.

Sejarah Laksamana Cheng Ho berlayar ke Samudera Barat.

Jalan menuju Gua Pemujaan Sam Poo Kong, yang dulunya adalah Gua Batu.


Berada di kawasan Klenteng Sam Poo Kong, menambah banyak wawasanku tentang perdagangan dan penyebaran agama melalui jalur laut. Klenteng Sam Poo Kong menjadi menarik karena sosok Cheng Ho sendiri adalah seorang saudagar dan pelaut muslim dari negeri Cina. Bagi kaum Kong Hu Cu, sosoknya sangat dipuja dan dijadikan dewa. Umat Kong Hu Cu percaya bahwa arwah orang yang sudah meninggal akan membawa keselamatan. Pengaruh kebudayaan Cina begitu kuat karena Cheng Ho dianggap sebagai pahlawan di tanah Tiongkok itu. Bangunan-bangunan arsitektur Cina memenuhi setiap sudut dan bangunan di Sam Poo Kong. Sam Poo Kong didirikan sebagai lokasi pemujaan dan peribadatan penganut ajaran Tridharma. Sementara itu, lokasi ini tidak tertutup untuk umat beragama yang lain. Bagi umat Islam, sosok Cheng Ho merupakan pembawa kabar gembira. Beberapa makam awak kapal Cheng Ho terdapat di area klenteng ini. Oleh karena itu, ketika Sam Poo Kong menjadi tempat ibadah umat Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha, umat Islam menjadikannya tempat ziarah makam Kyai yang pernah menjelajah bersama Laksamana Cheng Ho, lalu juga menjadi area bersejarah untuk semua orang.

Related Articles

2 komentar:

  1. ini pas imlek kemarin kah? kok tumben rame banget mbak.
    ah sam poo kong memang gak ngebosenin. meski berkali-kali kesini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak pas imlek banget sih. Tapi emang lagi musim liburan, jadinya rame. Seru ya Kuil Sam Poo Kong. Luas juga tempatnya.

      Delete