Antara Trin, Paul, dan Bucket List dalam Film Trinity, The Nekad Traveler

Traveling saat ini sudah menjadi gaya hidup. Pengguna social media ikut andil dalam menyemarakkan kegemaran banyak orang dalam berbagai gaya traveling. Tapi, tahukah kamu, dulu traveling itu adalah sesuatu yang langka. Traveling itu sarat dengan perjuangan dan petualangan. Berbeda dengan sekarang yang akses traveling terbuka lebar dengan adanya tiket maskapai murah, informasi tentang suatu tempat juga semakin mudah, banyak teman yang bisa diajak traveling bersama. Open trip dari travel agent menjamur di mana-mana.

Apa kabar dengan petualangan seorang Trinity yang sedari dulu memang solo traveling? Sebelum semua orang berpikir untuk keluar dari zona nyamannya, Trinity sudah berkelana keliling dunia. Mungkin bisa dibilang dia cewek Indonesia yang nekad pergi ke mana-mana sesuai keinginan hatinya, sesuai rencana dalam bucket list-nya, sesuai dengan jadwal cutinya, dan berani sendirian. Omong-omong soal nekad, ya, aku sedang bercerita tentang traveling yang nekad.

jurnaland.com


Aku juga sedang bercerita tentang film Trinity, The Nekad Traveler. Trinity memang nekad. Dari 'Naked', menjadi 'Nekad'. Dari buku, menjadi film. Judul film Trinity, The Nekad Traveler langsung terasa dekat di telinga beberapa bulan terakhir. Sosok Trinity sebagai cewek penjelajah 73 negara begitu melekat begitu trailer film ini wara-wiri di social media.

Trinity sendiri selalu ingin berbagi perjalanannya dalam bentuk tulisan. Dari blog The Naked Traveler, cerita-ceritanya pun dibukukan. Total ada 7 buku laris tentang traveling yang ditulisnya dengan seri judul Trinity, The Naked Traveler. Dan, banyak yang bilang, sosok lokal yang jadi inspirasi untuk traveling ya masih Trinity. Untuk travel-blogger, Trinity sesepuhnya. Untuk sosok travel-writer, Trinity pionirnya.

Tahun ini, buku itu diangkat ke layar lebar. Trinity, The Naked Traveler diubah menjadi Trinity, The Nekad Traveler yang diproduksi oleh Tujuh Bintang Sinema.

jurnaland.com

Tantangan mengangkat cerita Trinity di buku ke dalam film adalah bagaimana membangun pecahan-pecahan cerita menjadi satu alur yang kompleks. Aku yakin menyusun skenario film ini pasti harus melewati negosiasi yang panjang dengan karakter Trinity yang dibangunnya sendiri dalam buku. Hasilnya, not bad. Syaratnya, jauhkan bukunya, jangan pernah bandingkan, dan nikmati saja cerita baru yang terbangun dengan nuansa traveling asyik ala Trinity di dalam film. Dari 73 negara yang dijelajahinya, cuma 3 negara yang akan mewakili film ini.

Jadi, ceritanya, Trinity (Maudy Ayunda) adalah seorang pekerja yang punya jadwal ketat setiap hari di kantor, tapi selalu mencuri waktu menghitung jatah cuti dan menandai tanggal-tanggal merah penting di kalender. Trinity adalah orang paling jago 'ngeles' di antara karyawan-karyawan teladan dan anak baik-baik di rumah. Hobi traveling-nya tak dapat direm. Orangtua (Farhan dan Cut Mini) dan bosnya (Ayu Dewi) pun harus mengalah dengan segala tingkah Trinity.

Traveling butuh perjuangan, tekad, dan nekad. Trinity punya bucket list yang merupakan untaian doanya untuk menjamah dunia. Lalu, semesta seperti mengaminkan doa-doanya itu. Ada berbagai kejadian dan pengalaman seru yang terjadi saat Trinity harus berhadapan dengan orangtuanya yang ingin sekali melihat Trinity menikah dan ketika Trinity harus mendapat omelan menggemaskan dari Bu Bos paling perfeksionis sedunia. Kemudian dia juga harus berdebat panjang dengan sahabat-sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Borsterli). Akhirnya, Trinity juga berhadapan dengan dirinya sendiri dan bucket list panjang yang harus segera dicoret. Satu hal yang tak ada di bucket list-nya itu, yaitu bertemu Paul (Hamish Daud). Dari sanalah cerita menggulung jadi gunungan konflik. Antara Paul dan bucket list. Setelah bucket list-nya pun terpenuhi satu per satu, lantas selanjutnya apa? Ketika ia bertemu dengan sesuatu yang tidak tercantum di bucket list-nya, lantas harus ditambah atau dibiarkan hilang begitu saja? Benar, ya, kata orang yang menarik dari perjalanan itu bukan destinasi, tetapi perjalanan itu sendiri. Sepertinya kamu harus nonton sendiri filmnya.

jurnaland.com

Film Trinity, The Nekad Traveler berhasil menangkap isu-isu traveling yang merebak. Isu tentang Harpiknas (Hari Piknik Nasional) digemakan kembali. Bucket list, hunting tiket promo, hitung jatah cuti dan hal-hal kecil semacam itu diangkat untuk menyebarkan virus-virus traveling yang sedang hits ini kepada khalayak muda.

Sepanjang film, penonton akan dimanja dengan gambar-gambar cantik. Jadi ini, toh, maksud hashtag #travelingkebioskop. Film ini mengambil sisi-sisi surga yang terdapat di beberapa kota dan negara. Rizal Mantovani selaku sutradara menafsirkan keindahan-keindahan Nusantara dalam tangkapan kameranya. Sebut saja Lampung yang mencakup Gigi Hiu, Krakatau, dan Waykambas. Lalu kita juga akan melihat Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur yang punya pesona tersembunyi seperti Rammang Rammang. Kemudian, destinasi yang jadi primadona saat ini di Nusa Tenggara Timur, Labuan Bajo harus ikut mejeng di layar lebar. Kita juga akan jalan-jalan melihat Manila, Filipina yang punya jenis kuliner unik bin aneh dan berujung pada keindahan Maldives yang memang ada di bucket list hampir semua traveler. Kalau nonton di bioskop 4D, sensasi dari tempat-tempat keren itu akan lebih terasa kali ya, serasa ikutan traveling bareng Trinity alias Maudy Ayunda beneran.

Ini bukan film biopik atau dokumenter, ya, guys. Ini film cerita yang mengisi setiap part perjalanan Trinity. Film ini makin greget dan gemes dengan tingkah Ayu Dewi dan Babe Cabita yang juara, sedikit baper dengan sesi Trin dan Paul melepas rindu di Maldives, juga ada sosok Trinity asli menyelip sebagai pemandu di Krakatau dengan karakter gagah dan sangar. Trinity, The Nekad Traveler menjadi satu kesatuan cerita magis tentang virus traveling yang menghipnotis. Cocok sekali untuk kawula muda yang ingin sekali keluar dari zona nyaman.

jurnaland.com

Seperti quote Trinity di film, "Gue pengin orang lain mengalami apa yang gue alami."

Yuk, bersiap traveling ke bioskop mulai tanggal 16 Maret 2017. Jadikan tanggal itu sebagai Hari Piknik Nasional.

9 comments:

  1. Ah aku senang bisa nonton pas di Gala Premiere minggu kemarin.. Tapi sayang nya Maudy Ayunda tidak ada.. Smoga pariwisata yg ada di Film tersebut semakin maju. Terutama untuk Prov.Lampung itu sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Maudy datang emang Fajrin mau ngapain sih? *curious :D

      Kalo aku sih gakpapalah, yang penting udah dapet foto sama dedek emesh Rachel Amanda muahaha.

      omnduut.com

      Delete
    2. Seru ya gala premiere TTNT di Lampung. Meskipun Maudy ga dapat, tapi kan kita ketemu dan seru-seruan. Eaaaaa :D

      Delete
  2. Wow Hanum, jempol banget deh menuliskan cerita yang sudah ditontonnya. Keren ini Hanum :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Evi juga jempol artikelnya. 'menggigit' :)

      Delete
  3. Sukaaa artikelnya hanum, inspiring banget deh Trinity, semoga kita juga bisa menjelajah dunia kayak dia aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Bikin bucket list Mba. Siapa tau dari bucket list itu ketemu Paul, terus ada yang Mr. X yang bayarin tiket buat keliling dunia. *mimpi *kepentok *bangun *nganga :D

      Delete