In Journey Land

Perjuangan Menuju Pantai Atuh, Nusa Penida

Pagi itu aku dan kelompok kecil perjalanan kami sudah tiba di Sanur. Dengan setelan kaus dan celana jeans, lengkap dengan ransel yang tersandang, kami memesan tiket kapal cepat tujuan Nusa Penida di sebuah loket dekat dermaga. Rupanya, kapal cepat itu harus langsung dipesan pergi dan pulang. Kami berencana menginap di Nusa Penida selama 2 malam, jadi tiket pulang dijadwalkan lusa.

Namun, karena bertepatan dengan Hari Raya Galungan, fast boat tidak berlayar pada tanggal 5 April 2017. Dengan berat hati, kami harus pulang esok sorenya. Berat sekali. Bisa apa di Nusa Penida kalau cuma menginap satu malam?! Nah, inilah cerita perjalananku dan teman-teman dalam kisah yang dibawa pulang dari Nusa Penida.

Kenapa kami harus ke Nusa Penida? Karena belum pernah. Bali itu luas, tak hanya tentang Kuta, Legian, Seminyak, Ubud, dan Nusa Dua. Pulau sekitarnya juga tak hanya Menjangan dan Nusa Lembongan. Ada satu pulau di bagian selatan Pulau Bali yang lebih besar dari Nusa Lembongan. Pulau ini dinamakan Golden Egg of Bali. Itulah julukan untuk Nusa Penida. Jika melihat peta, Pulau Bali sendiri berbentuk ayam yang sedang bertelur. Ada tiga pulau yang menyerupai telur si Pulau Bali; Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, dan Nusa Penida. Nah, Nusa Penida adalah pulau yang terbesar dari ketiganya. Jika Nusa Ceningan terkenal dengan wisata pantai dan Nusa Lembongan surganya para diver, Nusa Penida seperti telur emas yang punya pesona berbeda.

Maka, kami pun ingin mengunjungi si Golden Egg of Bali ini.

Naik fast boat ke Nusa Penida, Bali
Berlayar ke Nusa Penida.
Karena kapal baru berangkat pukul 9, kami harus menunggu sekitar 1 jam lagi. Kami memutuskan untuk sarapan di warung makan yang tampak ramai persis di seberang loket tiket. Kami mampir dan memesan sup ikan kuning. Iya, sup ikan kuning. Wangi masakannya menggiurkan. Meski Junisatya tak menyukai masakan ikan yang tidak digoreng, ia pasrah menyesap kuah gurih ikan kuning itu. Dalam perjalanan, kita tidak boleh membedakan makanan. Dalam perjalanan, makan itu wajib karena kita butuh tenaga di setiap langkah yang akan ditempuh. Apalagi kami belum tahu sama sekali tentang Nusa Penida. Info tentang Nusa Penida pun masih sangat minim. Jadi, mau tidak mau, kami harus siap mental apa pun yang akan ditemui di sana.

Pantai Sanur, Bali, dermaga fast boat ke Nusa Penida
V siap berlayar ke Nusa Penida dari Sanur. (photo by Ry Azzura)
Setelah perut kenyang, sup ikannya enak sekali (Indra dan Junisatya meragukannya lantaran mereka tidak suka ikan laut yang bagian dalamnya lebih kenyal seperti kikil), kami duduk menunggu kapal di pantai Sanur. Melihat air lautnya yang hitam dan naik kapal harus berjalan dulu melewati garis pantai, kami menimbang-nimbang untuk berganti celana. Jeans bukan teman yang cocok untuk basah-basahan, guys. Ry, V, dan Indra berganti celana pendek. Aku mengganti jeans dengan legging yang lebih ringan dan nyaman. Kami siap tempur menuju Nusa Penida. Yeay.

Pelayaran kami berjalan mulus. Angin tak terlalu ribut, ombak juga tidak sedang rewel. Kami tiba di dermaga Toyapakeh. Welcome to another paradise of Indonesia.

Explore Nusa Penida, Bali
Halo, Nusa Penida.
Explore Nusa Penida, Bali
Sampai di dermaga Nusa Penida, muka masih cerah, ya.
Begitu keluar kapal, kami langsung dikerumuni bli-bli yang ingin menyewakan motor, mobil, dan angkotnya.Tentu saja tak langsung diambil karena kami harus cari harga termurah. Setelah tawar-menawar garis keras, kami memilih menyewa motor saja untuk 2 hari, seharga 120 ribu rupiah, include bensin yang sudah terisi sekitar 1 liter lebih.

Bli pemilik motor menyarankan kami untuk menjelajah kawasan timur Nusa Penida terlebih dulu. Padahal dalam agendaku, yang pertama dituju itu ya Crystal Bay. Tapi yasudah, eksplor wilayah Nusa Penida timur juga lebih baik. Pantai Atuh sudah menanti di ujung timur. Tanpa basa-basi, dengan ransel tersandang, melajulah kami dengan mulus melewati kawasan utara Nusa Penida.

Ada satu pura yang terkenal di pulau ini karena letaknya persis di dalam goa, yaitu Pura Goa Giri Putri. Tadinya kami mau mampir, tetapi karena V sedang dalam period days, dia tidak dapat masuk ke dalam pura. Sekalian saja kami tidak masuk, lagipula pura serupa mirip dengan Gua Gajah di Ubud. Tak apalah, kami kan mengincar nuansa alamnya di Nusa Penida ini.

Karena letih bawa-bawa barang di motor, tengah hari pula, kami memutuskan untuk cari penginapan dulu. Tadi di dermaga sudah ditawari penginapan seharga 150 ribu untuk kamar yang non-AC. Kami memilih cari lokasi yang lebih enak. Beruntung sekali, bli yang punya warung di seberang Pura Goa Giri menunjukkan kami satu penginapan yang view-nya oke. Bukit Sunrise Cottage. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Goa Giri. Cottage ini masih tergolong baru dan hanya menyediakan 2 kamar yang menghadap ke laut. Setelah tawar-menawar, jadilah kami mengambil penginapan itu seharga 300 ribu rupiah dengan fasilitas AC, wifi, dan sarapan. Siapa yang menolak fasilitas sekelas hotel ini?

Penginapan Bukit Sunrise Cottage, Nusa Penida
Cottage view.

Penginapan Bukit Sunrise Cottage, Nusa Penida
Istirahat sejenak di Bukit Sunrise Cottage. (photo by Ry Azzura)
Tak dapat menolak keinginan untuk beristirahat sejenak, kami pun mengademkan diri di kamar. Anyway, kami yang formasi berlima ini mengambil 1 kamar saja cukup karena kamarnya cukup luas untuk kami berlima. Iya, sekamar berlima. Bukannya pelit, tapi karena kamar sebelah sudah ada yang mengisi dan kami terlalu lelah untuk mencari penginapan lain. Antara mau hemat dengan jalan-jalan kere beda tipis, ya. Lagipula besok pagi kami juga sudah check out dari Bukit Sunrise. Jadi, mari kita nikmati kebersamaan dalam satu ruangan tanpa harus sikut-sikutan. Itu manfaat perjalanan, bukan?

Tepat tengah hari, setelah santai sejenak, kami melanjutkan perjalanan sesuai rencana, ke Pantai Atuh. Di Google Maps, tercantum bahwa Pantai Atuh hanya 38 menit dari Bukit Sunrise Cottage ini. Oke, baiklah, tak terlalu jauh. Kupikir begitu awalnya.

Lalu...

Akhirnya aku tahu, mengandalkan digital maps di tengah pulau yang sepi seperti ini adalah salah besar. Namun, bertanya pada penduduk setempat pun tak memberi jawaban benar.

Explore Nusa Penida, Bali
Mari arungi Nusa Penida.
Hebatnya di Nusa Penida sudah ada marka jalan yang menandai tempat-tempat yang memang jadi tujuan wisata. Aku dan Junisatya yang melaju di paling depan dengan senang hati mengikuti marka jalan hingga sampai di persimpangan. Kami bingung karena marka jalan pun mulai bingung juga. Kenapa? Kami tiba di simpang tiga. Atuh Beach tertulis ke arah kiri. Tetapi di bawahnya ditulis juga Atuh Beach dengan simbol panah ke atas (artinya lurus). Ini ceritanya bagaimana sih? Masa iya kedua arah jalan ditunjukkan dengan nama tempat yang sama? Ya, jelas kami bingung, kita semua akan bingung. Arah manakah yang benar?

Aku kembali cek Google Maps. Di sini ditunjukkan bahwa kami seharusnya belok kiri. Sip.

Ternyata masalah tidak sampai di situ. Dari persimpangan tiga, kami bertemu dua kali persimpangan lagi. Sulit sekali bertanya ke penduduk setempat karena yang kami temui justru semak-semak di pinggir jalan dan beberapa celeng (babi hutan)  yang asyik makan. Sekalinya ada warga yang bisa ditanyakan, mereka memberi petunjuk yang salah. Eh, maksudnya mereka tahu dengan pantai Atuh tetapi ya pantai. Sementara kami mencari jalan ke tebing dengan panorama Pantai Atuh. Saat kami menelusuri jalan yang ditunjuki warga, kami sampai pada jalan aspal yang terputus. Sisanya jalan tanah berkerikil dan menurun curam. Ini benar jalannya?

Tak ada yang tahu. Mau bawa motor ke bawah pun berbahaya. Hari semakin mendung. Kalau hujan, akan lebih berbahaya lagi. Lalu ada seorang cewek bule mengendarai motor dari arah bawah. Tanpa pikir panjang, aku bertanya langsung pada bule itu. Dia sendiri tidak menyarankan kami untuk turun karena terlalu berbahaya. Dia juga melihat pantainya biasa saja. Dia sendiri merasa tersesat karena sedari tadi juga mencari jalan menuju Pantai Atuh seperti kami.

Cewek bule itu pergi dan meninggalkan kami dalam kebimbangan. Tak lama, ada sekawanan bule bermotor juga yang lewat. Mereka hanya menyapa riang. Kupikir, mereka pasti akan balik lagi ke atas sesaat kemudian. Kami hanya melihat mereka sambil termangu. Antara ingin menyerah atau terus lanjut.

Aku : Gue nggak yakin ini jalannya.
Ry : Tanya orang aja.
Juni : Nggak ada orang, Cuy. Kita parkir motor di sini aja trus turun. Gimana?
Ry : nggak ada yang jagain motor dong.

Indra sekonyong-konyong menghilang. Dia masuk ke dalam semak. Katanya ada jalan setapak lalu ada padang rumput tempat parkir motor. Intuisinya berkata bahwa jalan menuju tebing Atuh itu lewat semak-semak ini.

Aku tidak yakin.

Tapi kami mengikutinya. Membawa motor masuk belukar dengan risiko kaki disengat ulat bulu dan rumput liar gatal. Oh Tuhan, apa benar ini jalan ke Pantai Atuh yang terkenal itu?

Aku : (saat motor diparkir di tengah semak) Kok gue nggak yakin ini jalannya?
Indra : Kita coba aja.

Mereka lebih dulu jalan. Aku dan Junisatya masih duduk di motor. Ry dan V bimbang. Sepertinya Ry sudah suntuk sekali. V kelaparan. Dia menyarankan untuk kami balik arah, cari rumah warga dan tanya lagi. Lalu cari warung untuk makan. Gerimis sudah mulai turun.

Apa daya, tekad kalah sama perut. Kami harus makan jika tak ingin pingsan.

Kami kembali ke pertigaan tempat marka jalan yang membuat semua orang tersesat itu. Siapa tahu arah yang benar adalah arah Atuh Beach yang satunya lagi ditunjukkan oleh marka jalan. Semoga ya.

Perjalanan kami tak sesemangat sebelumnya. Tidak jarang kami putar balik saat menemukan jalan bercabang, lagi dan lagi. Meski marka jalan sudah menunjukkan arah yang menurut kami benar, jalan itu justru mulai berlubang. Batu kapur dan lumpur menyebabkan motor kami mudah tergelincir. Belum lagi kontur tanah yang kadang turunan curam, kadang tanjakan tajam. Adrenalin naik turun. Sementara kami berkejaran dengan waktu di belantara Nuda Penida. Aku kelelahan dan dehidrasi. Harus cari warung. Warung apa saja asal tak menyajikan menu babi.

Kami berhenti di sebuah warung makan. Ada pilihan nasi goreng dan mie rebus. Makan mi rebus asyik, nih. Karena lapar, Junisatya memesan 1 mangkuk mie rebus dan 1 piring mie goreng. Ry malah melahap dua mangkuk mie rebus. Sisanya, kami memesan mie rebus telur plus nasi putih. Luar biasa kalap, ya, makannya. Sembari makan, sembari melepas lelah, kami mengobrol dengan pemilik warung menanyakan arah yang benar. Syukurlah Atuh Beach yang dituju tak terlalu jauh. Kami saling melempar canda dan menulari tawa.

Hanya berkisar 15 menit dari warung makan tempat kami singgah, aku berseru senang saat melihat spanduk kecil yang menggambarkan keindahan Pantai Atuh dan tebing-tebingnya. Ada dua percabangan, ke kiri ke Pantai Atuh, sementara ke kanan ke Tree House (kawasan resort dengan view pantai Atuh). Aku memilih ke destinasi utama dulu sebelum hujan merundung kami. Jalanan bergelombang dan makin curam. Sesekali motor yang dikendarai Junisatya tergelincir lagi. Ry bahkan menyerah membonceng V. V terpaksa turun dan jalan kaki karena memang tidak memungkinkan untuk lanjut dengan motor. Meski ia sedikit kesal, tapi gairah untuk bertemu permata di Nusa Penida tak dapat terhapus begitu saja. Tinggal beberapa meter lagi. Dan...

Atuh Beach Nusa Penida
Ini dia tebing yang kami cari.
Atuh Beach Nusa Penida
Atuh Beach yang terkenal itu.
Here we are.

Tebing Pantai Atuh sudah di depan mata. Dengan membayar biaya retribusi sebesar lima ribu rupiah, kami menanjaki jalan yang sudah disemen di sepanjang tebing. Wah, begitu berada di jalan setapak itu, kemegahan Pantai Atuh itu terlihat sangat syahdu. Akhirnya kami sampai. Dan, pemandangannya memang tak disangka-sangka. Aslinya lebih indah dari foto-foto tentang Atuh yang beredar di internet. Aku terharu. Perjalanan ke sini luar biasa. Lalu kami disuguhi pemandangan cantik seperti ini. Masya Allah.

Kata penjaga parkir, kami bisa menuruni tebing itu hingga ke pantainya. Tapi, ya sangat curam dan licin. Cuaca sedang tak bersahabat. Begitu menikmati keindahan tebing-tebing megah itu, badai melanda. Aku sendiri gamang berdiri di tengah-tengah tebing. Hujan lebat turun seketika. Apakah kami akan tetap menuruni tebing untuk mencapai pantai? Tunggu di jurnal berikutnya.

Atuh Beach Nusa Penida
Kami sampai saat hujan badai di lautan. Anginnya menerpa kuat sekali. Harus serba hati-hati.

Keterangan foto
Sebagian besar foto yang ditampilkan di jurnal post ini diabadikan oleh Junisatya.

Biaya yang kami keluarkan
Tiket Fast boat Sanur-Toyapakeh : IDR 175.000/orang pp
Sewa motor : IDR 60.000/hari
Penginapan Bukit Sunrise : IDR 300.000/malam
Biaya restribusi Pantai Atuh : IDR 5.000/orang
Parkir motor di Pantai Atuh : IDR 5.000

Related Articles

5 komentar:

  1. Membaca cerita Hanum tentang Nusa Penida, semakin bertekad untuk datang pula ke sana. Soalnya belum pernah. Mudah-mudahan liburan Lebaran besok gak terlalu ramai ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nusa Penida belum terlalu ramai ko Mba. Bisa banget ke sana dan ga harus mengeluarkan biaya besar. Paling enak sewa motor sih karena jalanannya cenderung sempit dan jelek banget. Aku aja pengen banget balik ke sana.

      Delete
  2. rencana tanggal 25 november ini aku mau ke bali dan mau mampir ke nusa penida pantai atuhnya,kalau PP kira2 bisa tidak ya mba? setelah sampai penyebrangan butuh waktu berapa lama untuk bisa sampai ke pantai atuh,,trimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kok yang ke Nusa Penida one day trip. Tapi buru-buru banget sih sebenarnya. Dari dermaga Toya Pakeh ke Pantai Atuh (nggak pake nyasar) bisalah 2 jam kurang. Selamat berlibur Mba Eva. :)

      Delete
  3. Halo kak, akhirnya bisa turun ke bawah gk kak meskipun hujan? hehe

    ReplyDelete