In Abroad Land Journey Land

Menjelajah Kota Tua Basel, Swiss

Suhu Basel pagi itu sudah sedikit menghangat, meski masih 5 derajat. Langit tak lagi kelabu. Karena itu, aku keluar dari YMCA Hostel tempat kami menginap dan berjalan ke SBB Railway Station, hanya beberapa blok dari hostel. Salju sudah mencair sehingga stasiun sedikit lebih ramai dari hari sebelumnya. Hari itu aku akan naik trem ke pusat kota Basel. Anyway, SBB Railway Station itu merupakan salah satu stasiun besar di kawasan Basel. Dari stasiun itu, kita bisa naik kereta antarkota ke Zurich ataupun Geneva. Bahkan, dari SBB Railway Station juga menghubungkan Swiss dengan Prancis dan Jerman. Aku sempat tergoda untuk melewati perbatasan dengan kereta itu menuju Paris, Milan, Hamburg, atau Berlin. Namun, aku terikat karena festival MUBA belum berakhir. Jadi, aku cukup puas naik trem dengan kartu pass yang sudah diberikan oleh orang KBRI.

Kota Tua Basel Swiss
SBB Railway Station.
Kota Tua Basel Swiss
Siap-siap ke Kota Tua naik tram.
Agendaku hari itu adalah berkeliling Kota Tua Basel. Seperti apa, ya, Kota Tua-nya? Karena rata-rata bangunan perkantoran dan pusat belanja serta stasiun di sini merupakan bangunan kuno yang usianya puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, ternyata ada bentuk bangunan bersejarah yang memang menjadi khas negeri ini.

1. Basel Minster (Basler Munster)
Satu bangunan gereja berwarna merah menarik perhatianku. Saat berjalan menyusuri pusat perbelanjaan, aku berbelok ke sebuah gang yang bangunannya tampak berbeda. Pintu-pintu dan jendela tampak lebih kecil. Ternyata ini sudah memasuki kawasan kota tua Basel. Di ujung jalan, terdapat sebuah gereja dengan dua menara kembar yang tinggi. Saat itu, tembok bagian depan gereja dan Gerbang Gallus yang menjadi ciri khas Ghotic dari gereja ini sedang direnovasi. Padahal aku sangat ingin berfoto di depan gerbang utama bangunan kuno ini. Kata temanku dari KBRI, gereja ini memang rutin direnovasi agar tetap bisa berdiri karena sarat nilai sejarah. Basler Munster alias Basel Minster nama gereja itu.

Kota Tua Basel Swiss
Basel Minster dengan menara kembar.
FYI, gereja ini sudah berumur ribuan tahun, lho, dan menjadi pusat sejarah di Kota Basel. Gereja ini mulanya merupakan gereja kaum Khatolik. Kini menjadi gereja reformasi protestan. Konon, Basel Munster dibangun di antara tahun 1091 dan 1500 bernuansa Ghotic dan Romawi. Namun, kawasan ini jauh lebih tua dari itu, yang sudah menjadi permukiman bangsa Celtic dan Romawi beberapa tahun Sebelum Masehi.

Di gereja ini pula, Erasmus si Humanist dari Rotterdam dimakamkan. Erasmus ternyata menghabiskan sisa hidupnya di Basel dan ikut terlibat dalam perubahan rezim di gereja tahun 1500-an. Pada saat itu ia tinggal di gereja Khatolik Roma, tetapi saat meninggal ia dimakamkan di Gereja Protestan ini. Berada di kawasan bukit yang dipenuhi bangunan-bangunan klasik, sudah pasti gereja ini menjadi bangunan tertinggi di Basel dengan menara kembarnya. Tak heran, banyak orang yang masuk ke dalam gereja dan naik ke pfalz alias teras atas untuk menikmati pemandangan Sungai Rhine, view-point yang paling dicintai di kota ini.

2. Munsterplatz


Kota Tua Basel Swiss
Munsterplatz.
Kota Tua Basel
Model rumah tradisional Basel, Swiss.
Depan gereja merupakan area luas yang disebut Munsterplatz atau alun-alun kota (tua). Ini dulu permukiman penduduk, sekarang sebagian besar bangunannya dijadikan museum sejarah. Jika ingin melihat perumahan tradisional Eropa zaman dulu, bangunan-bangunan ini menjadi salah satu contohnya. Konon bangunan ini sudah berdiri sejak masa Sebelum Masehi. Bangsa Romawi dan bangsa Celtic pernah menghuni tempat ini. Oleh sebab itu, kawasan Munsterplatz menjadi warisan masa sebelum sejarah hadir. Tak heran pula, model bangunannya jauh lebih klasik dari bangunan megah Eropa lainnya. Ketika Basel cepat berkembang dan menjadi model kota modern di Swiss, kawasan ini dilestarikan. Tak banyak aktivitas terlihat saat aku ke sana. Mungkin karena suhu masih belum bersahabat untuk melakukan kegiatan luar ruangan. Biasanya konser musik atau berbagai pertunjukan lain sering diadakan di Musnterplatz ini. Sama persis dengan aktivitas Kota Tua Jakarta.

3. Museum of Ethnology (Museum Der Kulturen)
Satu museum yang menarik perhatianku di kawasan Munsterplatz, Museum Der Kulturen. Ini merupakan museum etnologi di Eropa. Ada ribuan artefak dari berbagai belahan dunia tersimpan di dalamnya. Katanya ada artefak dari Indonesia juga, lho. Namun, sayang aku tak bisa masuk karena tutup. Mungkin memang tutup saat winter. Jadi aku harus puas menikmati bangunan bagian luar saja. Bangunan museum ini mengingatkan kita pada bangunan Abad Pertengahan tetapi telah diberikan sentuhan pembaruan di beberapa bagian.

Kota Tua Basel Swiss
Museum der Kulturen.
Kota Tua Basel Swiss
Court Yard Museum der Kulturen.
Aku memasuki kawasan court yard Museum Etnologi. Susunan bangunannya serta dekorasi halaman dalam museum ini memang didekorasi klasik. Ada surai-surai tanaman di bagian tiang serta dinding luar gedung agar nuansanya lebih nyaman. Biasanya bagian court yard ini dijadikan tempat kumpul berbagai kegiatan sosial.


4. Red House (Rathaus)
Aku berjalan ke pusat keramaian. Ada sebuah gedung berwarna merah yang menarik perhatian. Bangunan itu tampak mencolok dibanding bangunan lain yang bersisian dengannya. Gedung itu dinamakan Rathaus Basel atau Red House. Jika di Amerika Serikat ada White House, di Basel ada Red House yang merupakan gedung balaikota. Katanya gedung balaikota ini sudah berdiri sejak 500 tahun yang lalu. Baru saja tahun 2014 lalu diadakan pesta ulang tahun gedung balaikota ini yang ke-500 tahun dan Rathaus dibuka untuk publik (meski setiap hari kita bisa saja berkunjung ke dalam gedung ini tetapi tidak dapat akses ke ruangan kantornya).

Kota Tua Basel Swiss
Menara berbalut emas di Rathaus.

Kota Tua Basel, Swiss
Bagian court yard Rathaus.

Kota Tua Basel Swiss
Court yard Rathaus yang penuh dengan wall painting.
Kota Tua Basel Swiss
Area artistik dari Rathaus.
Kota Tua Basel Swiss
Aku dan ibuku memasuki Rathaus.
Bangunan serba merah itu tampak eyecatching dengan menara yang berwarna emas. Sekilas tak tampak seperti gedung pemerintahan yang kesannya kaku, bisu, serta penuh penjagaan. Untuk sebuah gedung parlemen, tentu ini sangat berbeda sekali. Dari luar lebih terlihat seperti museum dengan guratan-guratan ornamen yang memenuhi tembok gedung. Aku berjalan ke arah gedung itu dan menemukan pilar-pilar tak berpintu. Aku disambut semacam hall kecil di dalamnya dan sebuah tangga yang dijaga oleh beberapa patung. Rupanya halaman dalam ini sungguh artistik dengan lukisan dinding yang katanya punya banyak nilai sejarah.

Rathaus alias Red House ini dijadikan balaikota sejak Basel bergabung dalam konfederasi Swiss tahun 1501. Sejak itu, Rathaus yang berhadapan langsung dengan Marktplatz (pasar tradisional terbuka di alun-alun Kota Basel) dijadikan pusat kantor parlemen dan sekretariat jenderal negara bagian.

5. Marktplatz

Kota Tua Basel Swiss
Marktplatz, pasar tradisional dengan nilai tukar tinggi.
Marktplatz merupakan pasar tradisional di alun-alun Kota Basel, tepat sekali di depan Rathaus. Pasar ini selalu ramai. Uniknya, barang-barang yang dijual di sini adalah hasil ladang. Mereka menjajakan hasil ladang seperti keju, cokelat, camilan, dan buah-buahan dengan harga tinggi dibanding harga di supermarket. Tapi tentunya lebih fresh. Saat memasuki kawasan bertenda itu, banyak sekali cokelat batangan serta keju batangan diletakkan terbuka begitu saja. Yeah, Swiss memang terkenal sebagai negara yang bersih. Dan, karena saat itu masih tergolong winter, tentu cokelat dan keju itu takkan lumer karena suhu udara sudah serupa dengan suhu kulkas. Aku tidak membeli apa-apa di sana karena memang mahal. Lebih baik beli makanan di supermarket saja.

6. Sungai Rhein (Rhine)
Ini adalah sungai yang mengalir dari Pegunungan Alpen, Swiss, Jerman, Belgia, hingga Belanda. Basel adalah salah satu kota yang tumbuh di tepian sungai itu. Sungai ini pula yang membagi dua wilayah di Kota Basel, yaitu Basel Besar dan Basel Kecil. Dulu, orang dari Basel Kecil tidak boleh menyeberang memasuki Basel Besar. Terdapat semacam kasta kelas sosial yang membedakan mereka. Namun, sekarang yang tertinggal adalah perpaduan unik antara Sungai Rhein dengan sederetan bangunan di tepiannya. Alam berpadu budaya, sejarah berpadu warisan dunia.

Rhein River Basel
Nia sedang menikmati Sungai Rhein.
Rhein Swiss
Pinggiran Sungai Rhine.
Rhein River Swiss
Tampak menara kembar dari Basel Minster. Pinggiran Sungai Rhine dengan bangunan klasik.
Rasanya ingin sekali aku pesiar dengan menggunakan Rhine Cruise mengeksplor lebih jauh Sungai Rhein ini. Sungai terpanjang di Eropa Barat ini tentu merupakan saksi eksotisme budaya di Eropa. Ketika berada di dalam trem yang berjalan di atas jembatan, aku dapat melihat keanggunan sungai ini. Bangunan-bangunan yang bersisian di sepanjang sungai juga menjadi elok dan indah dipandang. Bangunan modern bercampur dengan bangunan klasik tampak menjadi satu kesatuan warisan budaya yang bisa dibanggakan oleh warga Basel. Bisa jadi Sungai Rhein ini menjadi saksi sejarah yang berdarah-darah pada masa Perang Dunia. Sungguh, Sungai Rhein menjadi nadi kota ini. Penduduk kota ini tak punya laut sebagai tempat berjemur. Sungai lebar ini menjadi penggantinya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

34 Comments

In Abroad Land Journey Land

Basel Heritage, Kota Nyeni di Swiss

Orang Indonesia lebih kenal dengan Zurich dan Geneva jika mendengar kata Swiss. Padahal ada satu lagi kota besar bersejarah di Swiss (Switzerland) yang tidak boleh dilupakan. Namanya Basel atau Basel-Stadt. Ini adalah kota yang berlokasi di perbatasan Swiss, Jerman, dan Prancis. Bahasanya pun berakulturasi, tetapi penduduk Basel lebih sering menggunakan bahasa Jerman. Kota ini tumbuh dan berkembang di tepian Sungai Rhine, sebuah sungai besar yang membelah Benua Eropa.

Aku berada di kota ini selama 6 hari. Tak banyak tempat yang aku datangi karena memang ke sini dalam rangka mengikuti sebuah festival besar di Basel, MUBA. Sebagai delegasi Indonesia, kami disambut sangat baik oleh pihak KBRI yang berada di Swiss. Mulai penjemputan dari Zurich ke Basel dan pemberian kartu tram yang bebas kami gunakan sepanjang hari selama di Basel. Gratis. Iya, gratis. Kami tinggal naik tram saja untuk mengelilingi kota ini. Jadi, ada kesempatan untuk berwisata di sekitar Basel.

Basel heritage Switzerland
Historiches Museum Basel.
Saat itu masih sisa-sisa winter. Salju mulai disingkirkan dari jalanan. Meski sebagian besar salju telah mencair dan matahari mulai mengintip malu di balik awan musim dingin, tetap saja suhu udara belum jauh-jauh dari angka 0 derajat. Musim dingin yang menyesakkan, apalagi saat aku berada di luar ruangan. Tangan rasanya beku dan napas masih berembun. Namun, itu semua tak membuat keinginan untuk mengunjungi lokasi bersejarah di Basel menjadi surut. Aku punya satu hari penuh untuk berjalan-jalan di pusat kota Basel serta Kota Tua Basel. Bahkan Basel pun sangat menghargai sejarah dan nilai seni. Kota ini dirajut dengan baik dan berseni.

Ya, omong-omong tentang seni, kota ini punya banyak sekali museum seni. Bahkan di event internasional sekelas MUBA juga mengadakan pameran lukisan dan eksibisi dari seniman berbagai negara. Aku memperhatikan satu demi satu stand lukisan di MUBA. Ya, walaupun tidak terlalu mengerti arti mendalam sebuah lukisan, tapi aku senang menyelami nilai seni dari mancanegara ini.

Basel Heritage Switzerland
Pameran Lukisan Basel

Basel Heritage Switzerland
Galeri MUBA, Basel

Basel Heritage Switzerland
Kenalan sama seniman kawakan Swiss.

Aku sempat berkenalan dengan salah satu seniman yang memang lahir di Swiss. Dia menawarkan untuk melukisku. Ah, aku tersanjung. Dia tertarik lantaran baru menemukan perempuan berhijab yang mengagumi lukisannya. Jarang-jarang, kan, lukisan perempuan berhijab dipajang di pameran. Dengan segala perbedaan yang memenuhi kota ini, tentu keragaman itu diterima dengan baik. Aku senang dapat mengobrol sedikit tentang Indonesia padanya.

Dari Galeri MUBA, aku berjalan kaki menikmati kota, berjalan mengarah ke Kota Tua. Ada satu museum bersejarah yang menarik perhatianku. Di sana ramai karena memang pelatarannya sangat lebar. Banyak orang berkumpul di pelataran itu. Namanya History of Museum Basel atau The Historiches Museum Basel (HMB) yang merupakan satu museum besar di Basel. Bangunannya merupakan bangunan tua yang berdiri pada tahun 1800-an. Tua sekali, ya, dan masih tampak megah. Ini adalah satu museum yang penting di negara Swiss yang memuat sejarah Basel. Kalau kamu suatu hari nanti mengunjungi kota ini, kamu harus masuk ke museum sejarah ini.

Basel Heritage Switzerland
Pagi yang menghangat di depan Historiches Museum Basel.

The Historiches Museum Basel ini punya empat bangunan terpisah, lho. Tiga di antaranya memang berada di Kota Basel. Museum ini mencatat sejarah penting yang pernah menoreh hubungan tiga negara dan budaya antara Swiss, Jerman, dan Prancis. Sejarah dan budaya itu diungkap lewat berbagai karya seni khususnya lukisan yang bernilai 1000 tahun. Sayangnya aku hanya sempat mengunjungi satu gedung saja dari rangkaian museum sejarah Basel ini. Jadi, belum bisa cerita banyak tentang berbagai eksibisi yang terdapat di dalam museum.

Gedung HMB berada di persimpangan kota Basel. Arsitektur bangunan Basel yang bersusun membentk blok demi blok terlihat dari pelataran depan gedung ini. Saat itu hari sedang cerah meski suhu masih 5 derajat. Namun, banyak aktivitas yang dilakukan warga Basel di pelataran depan gedung tua bersejarah itu. Ada yang bermain skateboard, ada yang membaca sambil duduk berkelompok, dan ada pula yang hanya berjalan-jalan saja di sekitar gedung merayakan matahari yang kembali setelah 3 bulan sendu dengan suhu minus.

Basel Heritage Switzerland
HMB menghadap langsung ke bangunan klasik di Kota Basel.
Dari gedung HMB ini, aku melanjutkan perjalanan lagi ke blok bangunan yang merupakan kota tua Basel. Seperti apa? Di journal post selanjutnya ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

7 Comments

In Advertorial Land Story Land

Bisa Traveling Gampang Berkat Bang Joni

Aku punya teman baru, nih. Namanya Bang Joni. Bukan selingkuhan, kok. Tapi dia banyak banget membantuku di saat-saat genting, nggak ribet, dan selalu rendah hati. Siapakah Bang Joni itu?

Bang Joni itu teman virtual di Line Messenger yang punya misi buat membantu kita memenuhi beberapa kebutuhan. Di zaman serba digital, kita juga butuh teman virtual yang serba bisa ini. Untuk saat ini Bang Joni baru bisa bantu seputar kebutuhan pecarian tiket pesawat atau kereta melalui Tiket.com, Skyscanner, loket.com, lalu pemesanan Uber, pemesanan angkutan Xtrans, pemesanan makanan lewat info dari Zomato. Transportasi dan akomodasi amanlah kalau minta sama Bang Joni. Teman yang smart banget, bukan. Perjalanan aman, perut kenyang, nggak pake ribet pula. Eh, bisa isi pulsa dan token listrik juga lho. Kita juga bisa nanya info cuaca, info tol, buat reminder (apalagi kalau kita pelupa), bisa main games, dan lain-lain. Untuk ke depannya Bang Joni bakal upgrade pengetahuan lagi seputar kebutuhan-kebutuhan kita. Semuanya on the go dan hanya berupa layanan Line Messenger, bukan aplikasi khusus di smartphone.

Bang Joni Launching party
Ketemu Bang Joni pertama kali di sini, nih.

Ini dia si Bang Joni. (image by bangjoni.com)

Bang Joni, nggak pake ribet
Kenalan dulu sama Bang Joni, biar akrab.

Nah, kebetulan tahun ini, aku banyak dapat undangan bepergian (undangannya sih banyak, tapi belum tahu yang mana yang confirm untuk benar-benar berangkat). Bagaikan seorang sahabat, Bang Joni selalu ada di saat kita membutuhkan. Kebetulan sekali, aku ada jadwal ke Yogyakarta bulan Oktober nanti, sekaligus birthday trip. Karena baru saja kenalan sama Bang Joni beberapa hari lalu, aku langsung minta bantuan. Mungkin aku bisa dibilang teman nggak tahu diri, baru kenalan sudah merepotkan. Tapi sepertinya Bang Joni selalu ikhlas membantu.

Aku udah add Line Bang Joni (ID Line @bangjoni) dan responsnya cepat sekali. Bang Joni paling tahu keluhan-keluhan kita. Tinggal tulis kalimat simple saja, Bang Joni langsung kasih solusi.

Bang Joni temen gue, nggak pake ribet
Bang Joni to the point, nggak ribet.

Aku cuma tinggal ketik, "Cariin tiket pesawat dong, Bang Joni!"
Bang Joni langsung balas dalam 1 detik. Wah, bahkan chat sama pacar aja harus nunggu beberapa menit bahkan beberapa jam.

Tanpa basa-basi, Bang Joni menawarkan destinasi pilihan yang paling banyak dituju. Kayaknya, Bang Joni sudah riset duluan, nih. Dia tahu tempat-tempat hits rupanya. Ada Medan, Surabaya, Bali, dan Lombok. Kalau mau cari destinasi lain, tinggal klik saja cari yang lain. Bang Joni ini menawarkan harga termurah karena dia tahu banget mobilitas tinggi harus diringi dengan hidup hemat biar selamat. Iya, kan, Bang Joni? Padahal sebenarnya Bang Joni tahu nih orang-orang berkantong sekarat macam aku ini.

Bang Joni, pesennya cepet nggak pake ribet
Bisa tinggal ketik destinasi pilihan sesuka hati.

To the point, Bang Joni langsung menghubungkan kita ke link pencarian maskapai dan jadwal keberangkatan lewat Skyscanner. Nanti dengan sendirinya pemesanan tiket otomatis akan ditangani oleh tiket.com. Bang Joni menggiringku melewati fitur-fitur mudah dan cermat biar aku dapat tiket pesawat yang diinginkan. Langsung pesan, langsung isi data dan langsung dapat kiriman kode booking pesawat.

Pesennya cepet nggak pake ribet
Langsung ketik kota tujuan dan tanggal keberangkatan.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line MessengerPesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger

Langsung ada perbandingan harga berbagai maskapai. Aku bahagia karena harga tiketnya murah meriah. Pesennya cepet dan nggak pake ribet.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Pesan flight paling pagi buat ke Jogja.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Tinggal isi data, nggak perlu bikin akun macam-macam.

Nggak perlu pikir panjang lagi. Aku langsung ikuti instruksi mudah berikutnya dari tiket.com. Secara otomatis, tiket.com akan meng-compare data kita. Nanti akan ada notifikasi di email untuk pembuatan akun dan password sehingga pembayaran tiket dapat dilakukan dan tiket bisa langsung dikirim via email. Mudah banget, kan!

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Langsung keluar billing-nya.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Ini pilihan pembayarannya.

Ah, kenapa nggak dari dulu saja, ya, aku kenal Bang Joni. Aku nggak perlu susah-susah buka website pemesanan tiket, membandingkan harga dari satu maskapai ke maskapai lain, dan akhirnya galau sendiri sama jadwal keberangkatan.

Nah, dengan begini, aku tinggal nulis reminder di Bang Joni juga, buat ingetin jadwal keberangkatan. Siapa tahu nanti Bang Joni punya tips-tips lain biar nggak bete nunggu Oktober datang. Sebagai traveler, kehadiran Bang Joni ini sangat membantu. Kita yang biasanya ribet melakukan pemesanan atau pembelian apa pun lewat fitur atau aplikasi online, Bang Joni justru merangkum semuanya jadi satu. Asal jangan tanya masalah percintaan, ya. Nanti Bang Joni galau, lho karena kita mendua.

QR code Official Line Account Bang Joni
Bisa add pake QR Code untuk Official Line Bang Joni. (image by bangjoni)

Bang Joni emang temen gue, solusi efektif segala kebutuhan genting. Pesennya cepet, nggak pake ribet. Kamu mesti coba. Tinggal add ID Line @bangjoni. Nanti langsung nongol. Eh, tapi kamu harus punya aplikasi chat Line, ya, bukan yang lain. Anyway, kamu bisa coba pesen tiket, pesen makanan, minta jemput, atau minta isiin pulsa hape dan listrik sama Bang Joni. Bang Joni emang temen paling kece untuk urusan beginian. Kalau masih ada SMS nyasar 'mama minta pulsa' ke ponselmu, bisa dibales begini, "Minta ke Bang Joni aja, Ma." Lalu, nyengir, deh.


*Oiya, Bang Joni lagi bagi-bagi paket liburan gratis, nih. Jangan sampai ketinggalan, ya, info menariknya. Tulisan ini juga ditulis dalam rangka mengikuti lomba blog tentang pengalamanku cari tiket murah via Bang Joni.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Movie Land

Film Critical Eleven Mengungguli Novelnya

Seringkali aku mengumpat dalam hati saat menonton Critical Eleven, "Argh, kenapa jadi keren begini, sih?"

Saat membaca Critical Eleven yang best seller itu, aku hanya menemukan kejenuhan saat Ika Natassa membedah karakter Anya dan Ale dalam baris-baris kalimat campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun, tidak menampik bahwa emosi yang mengalir lewat kata-kata itu semakin menguat hingga akhir kalimat dalam novelnya.

Lalu, aku tahu bahwa novel best seller nasional ini difilmkan oleh Starvision. Aku bertanya-tanya, akan jadi seperti apa, ya, filmnya? Karena novel ini benar-benar berjalan dalam pergolakan batin Ale dan Anya, sepasang suami istri yang keguguran anak. Konflik berjalan runut tanpa melibatkan karakter lain. Novel Critical Eleven benar-benar memberi ruang besar untuk permainan emosi dua karakter itu tanpa jeda dan tanpa lelah. Interaksi dengan karakter lain tidak menjadi begitu penting. Tentu akan sulit jika dipindahkan ke dalam bentuk visual yang bisa jadi menemukan kebuntuan jika hanya menampilkan dua karakter saja.

Critical Eleven antara novel dan filmnya. (photo by indowarta)

Ternyata memang novel dan film berbeda eksekusinya. Dengan masih berada dalam alur cerita yang setia pada novel, kisah Critical Eleven dalam film lebih berkembang. Garis ceritanya ditarik dengan lebih nyata dan dengan gambaran yang lebih nyata, memberikan ruang gerak cerita lebih lias dan membentuk sebab-akibat yang tidak dibuat-buat. Kita akan mengenal berbagai karakter yang muncul dan emosi yang ditata sedemikian rupa. Pertemuan Anya dan Ale dalam sebuah penerbangan menuju Australia menjadi pembuka chemistry keduanya. Hingga mereka menikah, emosi-emosi keduanya diperlihatkan lebih gamblang. Film ini menunjukkan emosi dan interaksi yang terlihat dalam dialog, mimik, setting, serta tindak laku karakter-karakternya. Ada jajaran aktor ternama yang mengisi bangku kosong penerbangan Critical Eleven ini ke layar lebar. Sebut saja Reza Rahadian (Ale), Adinia Wirasti (Anya), Widyawati (ibu Ale), Slamet Rahadjo (ayah Ale), Astrid Tiar, Revalina S. Temat, Hamish Daud, dan beberapa nama lainnya.

Jadi, ceritanya...
Anya dan Ale pindah ke New York menjadi langkah berani alur film ini yang ada di luar novelnya. Rupanya cerita diarahkan pada interaksi Anya dan Ale yang lebih intens, jauh dari rumah dan berusaha bernegosiasi dengan kehidupan New York yang asing. Ale dengan serpihan pekerjaannya dan Anya dengan setia meninggalkan kenyamanannya dan mencoba membangun kenyamanan yang baru di sebuah apartemen kecil di Manhattan.

Critical Eleven Movie review by Jurnaland
Kisah manis Anya dan Ale. (photo by id.bookmyshow)
Kesendirian yang Anya rasakan selama ditinggal Ale kerja di Rig Mexico menjadi lebih nyata. Kemandirian Anya juga menjadi penghubung antara Anya dan New York serta Anya yang selalu ditinggal Ale. Tapi bukan berarti kisah awal perkawinan mereka tidak harmonis. Cerita ditarik dari alur yang sangat sweet dengan menyoroti lokasi-lokasi New York yang juga serba manis.

Perpindahan, pergerakan, dan penerbangan serta pertemuan menjadikan makna judul Critical Eleven menjadi lebih berarti. Critical Eleven, ada sebelas menit paling genting dalam penerbangan. 3 menit saat take off dan 8 menit saat landing. 11 menit waktu ini disebut masa kritis karena 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam 11 menit itu. Begitu juga pertemuan dan perkenalan. Itulah Critical Eleven yang membayangi kisah cinta Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro. Dari pertemuan, hingga menikah, dan membangun berbagai pengharapan. Lalu bagaimana mereka menghadapi saat-saat genting dalam pernikahan mereka?! Tentang cinta, harapan, hubungan dengan keluarga yang lebih besar, serta rantai persahabatan yang tarik-menarik.

Masa-masa manis di New York mulai tergores ketika Anya hamil. Sifat Ale yang posesif serta Anya yang keras kepala menjadi pemicu pergulatan emosi keduanya. Dari New York dan kembali ke Jakarta, penguatan emosi semakin memuncak. Setiap plot diisi dengan berbagai pemicu interaksi serta negosiasi.

Konflik itu membengkak dan meledak. Reza Rahadian dan Adinia Wirasti memainkan emosi mereka dengan sangat nyata, natural, dan menjadi konduktor sempurna pada penonton.

Adegan yang membuat hati ini 'nyess' ada dalam tiga bagian. Pertama, saat Ale memeluk Anya di rumah sakit (tidak perlu diberitahu bagian yang mana lebih spesifik). Kedua, saat Ale membentak Anya di kamar kerja Anya yang menjadi titik balik masalah rumah tangga mereka. Ketiga, saat Ale akhirnya memberanikan diri masuk ke kamar Aidan yang menjadi semacam negosiasi masalah terhadap diri sendiri. Dua pasangan ini seperti besi yang dengan cepat mengantarkan panas. Luapan emosi itu entah kenapa sangat berasa. This movie is very touching, natural, real, and emotional, apalagi bagi pasangan yang sudah menikah.

Aku mengakui bahwa film Critical Eleven mengungguli novelnya. Ika Natassa sebagai penulis mesti berbangga karena karyanya divisualisasikan dengan sangat baik. Monty Tiwa dan tim filmmakers di Indonesia dan New York menerjemahkannya dengan bebas dan porsi yang pas. Bukan menyimpang, melainkan berkembang. Perpaduan jalan cerita, pemain yang tanpa cela, serta scoring yang membuat film ini nyata menjadikan Critical Eleven nyaris menjadi film drama romantis yang sempurna. Aku agak terganggu sedikit dengan kehadiran Donny (Hamish Daud) yang sedikit tergopoh-gopoh mengimbangi acting aktor yang lain. Tapi selebihnya, Critical Eleven adalah satu kesatuan karya film yang layak ditonton pasangan muda. Disclaimer-nya, jangan bawa anak kecil, ya, karena banyak adegan 17+.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Kuliner Lampung De Rosse, Kafe Seafood Bernuansa Vintage

Di Bandar Lampung, kini ada tempat nongkrong kece dengan makanan yang menggiurkan selera. Kafe seafood bernuansa vintage. Yummy banget ya kedengarannya. Konon, kafe ini baru selesai direnovasi.

Siang hari, aku janjian sama beberapa pentolan blogger dan pemilik akun Instagram @kuliner_lampung yang hits di sana. Mereka mengajakku ketemuan di Cafe De Rosse. Katanya, kepiting di sini enak sekali. Wow, perutku langsung keroncongan. Sudah lama tidak makan kepiting, nih. Meluncurlah aku dari Puncak Mas, langsung ke Jl. Hos Cokroaminoto No. 78, Rawa Laut, Bandar Lampung.

Cafe De Rosse Bandar Lampung

Berada di pusat Kota Bandar Lampung, Cafe de Rosse ini merupakan satu kesatuan coffeeshop dan warung seafood. Kafe ini didekorasi dengan nuansa vintage. Karena aku pencinta desain yang unik, begitu masuk ke area kafe ini, aku langsung tersenyum sumringah. Dekorasinya sekilas mengingatkanku pada Museum Kata Andrea Hirata. Pengambilan warna dekorasi sedikit menyerupai interior museum sastra di Belitung itu.

Kafe dibagi tiga bagian, bagian teras yang terbuka, bagian dalam yang dipenuhi pernak-pernik antik, serta lantai dua yang didekorasi warna-warni unik. Di area terbuka, kita bisa menikmati live music juga. Overall, kafe ini sangat instagramable. Inilah daya tarik dari Cafe De Rosse.

Cafe de rosse Bandar Lampung

Kuliner Lampung Cafe De Rosse

Kuliner Lampung Cafe De Rosse

Sebenarnya, Cafe De Rosse ini merupakan gabungan dari restoran bernama Tuan Crab dan Coffeeshop bernama Chobucci Cafe. Kedua konsep tempat makan itu digabung menjadi satu. Jika ingin menikmati camilan santai, menyesap kopi dan memesan roti bakar bisa jadi hidangan. Apalagi sore-sore. Namun, saat lapar melanda, menu dari Tuan Crab bisa jadi andalan perut. Jadi, suasana perut seperti apa pun, rasanya bisa terobati di Cafe De Rosse ini.

Cafe De Rosse memang meminjam konsep vintage. Ornamen dan perabotannya disesuaikan tema setiap sekat kafe. Dekorasi antara outdoor dan ruang dalam dibuat berbeda tetapi senada. Ornamen-ornamen di dinding seperti pamflet jadul, barang-barang antik, hingga bangku-bangku yang berbeda ukuran disusun sedemikian rupa. Sentuhan warna-warna cerah menambah nuansa restorannya terasa lebih hidup.

Kuliner Lampung Cafe De Rosse

Cafe De Rosse Bandar Lampung

Cafe De Rosse Bandar Lampung

Cafe De Rosse jurnaland

Cafe de rosse Bandar Lampung

Aku menjelajahi setiap sudut kafe ini dengan berfoto, mumpung kafe belum terlalu ramai siang itu. Kafe ini baru akan ramai pengunjung menjelang sore dan malam. Sambil menunggu pesanan makanan, aku menikmati dekorasi yang unik itu. Di Bandar Lampung jarang sekali kafe didesain seniat ini. Ini bagian dari kreativitas dari para pemuda Lampung dalam meluaskan usahanya. Bertambah satu lagi, kan, tempat asyik di Bandar Lampung.

Pesanan datang. Masakan kepiting yang kutunggu akhirnya tiba. Katanya ini adalah menu andalan Cafe De Rosse. Bentuknya seperti kepiting asam manis yang di-mix dengan kerang dara. Rasanya juara. Apalagi ditemani cumi dan udang goreng tepung serta nasi hangat. Jenis-jenis minuman segar pun menggoda. Sepertinya, bulan Ramadhan mendatang, kafe ini bakalan jadi tempat hits untuk buka puasa. Buat kamu yang tinggal di Bandar Lampung, tempat nongkrong asyik seperti ini jangan sampai dilewatkan, ya. Sayang, lho. Apalagi harga makanan dan minuman masih terjangkau, kok.

Tuan Crab Bandar Lampung

Cafe de Rosse Bandar Lampung

Cafe de Rosse Bandar Lampung

cafe de rosse bandar lampungCafe De Rosse Bandar Lampung


Cafe de Rosse dan Tuan Crab
Menyesap masa dulu di Cafe de Rosse. (Photo by Evi Indrawanto)

Cafe De Rosse Kuliner Lampung
Nuansa shabby chic juga meramaikan dekorasi lantai dua Cafe De Rosse. (Photo by Evi Indrawanto)

Kalau aku ke Lampung lagi, aku harus mampir ke cafe de rosse ini mencoba menu-menu menggiurkan lainnya. Bagaimana denganmu?


Cafe de Rosse
Tuan Crab, seafood, chinesefood, Chobuci Cafe
Open 10.00-22.00 WIB

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments