In Movie Land

Film Critical Eleven Mengungguli Novelnya

Seringkali aku mengumpat dalam hati saat menonton Critical Eleven, "Argh, kenapa jadi keren begini, sih?"

Saat membaca Critical Eleven yang best seller itu, aku hanya menemukan kejenuhan saat Ika Natassa membedah karakter Anya dan Ale dalam baris-baris kalimat campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Namun, tidak menampik bahwa emosi yang mengalir lewat kata-kata itu semakin menguat hingga akhir kalimat dalam novelnya.

Lalu, aku tahu bahwa novel best seller nasional ini difilmkan oleh Starvision. Aku bertanya-tanya, akan jadi seperti apa, ya, filmnya? Karena novel ini benar-benar berjalan dalam pergolakan batin Ale dan Anya, sepasang suami istri yang keguguran anak. Konflik berjalan runut tanpa melibatkan karakter lain. Novel Critical Eleven benar-benar memberi ruang besar untuk permainan emosi dua karakter itu tanpa jeda dan tanpa lelah. Interaksi dengan karakter lain tidak menjadi begitu penting. Tentu akan sulit jika dipindahkan ke dalam bentuk visual yang bisa jadi menemukan kebuntuan jika hanya menampilkan dua karakter saja.

Critical Eleven antara novel dan filmnya. (photo by indowarta)

Ternyata memang novel dan film berbeda eksekusinya. Dengan masih berada dalam alur cerita yang setia pada novel, kisah Critical Eleven dalam film lebih berkembang. Garis ceritanya ditarik dengan lebih nyata dan dengan gambaran yang lebih nyata, memberikan ruang gerak cerita lebih lias dan membentuk sebab-akibat yang tidak dibuat-buat. Kita akan mengenal berbagai karakter yang muncul dan emosi yang ditata sedemikian rupa. Pertemuan Anya dan Ale dalam sebuah penerbangan menuju Australia menjadi pembuka chemistry keduanya. Hingga mereka menikah, emosi-emosi keduanya diperlihatkan lebih gamblang. Film ini menunjukkan emosi dan interaksi yang terlihat dalam dialog, mimik, setting, serta tindak laku karakter-karakternya. Ada jajaran aktor ternama yang mengisi bangku kosong penerbangan Critical Eleven ini ke layar lebar. Sebut saja Reza Rahadian (Ale), Adinia Wirasti (Anya), Widyawati (ibu Ale), Slamet Rahadjo (ayah Ale), Astrid Tiar, Revalina S. Temat, Hamish Daud, dan beberapa nama lainnya.

Jadi, ceritanya...
Anya dan Ale pindah ke New York menjadi langkah berani alur film ini yang ada di luar novelnya. Rupanya cerita diarahkan pada interaksi Anya dan Ale yang lebih intens, jauh dari rumah dan berusaha bernegosiasi dengan kehidupan New York yang asing. Ale dengan serpihan pekerjaannya dan Anya dengan setia meninggalkan kenyamanannya dan mencoba membangun kenyamanan yang baru di sebuah apartemen kecil di Manhattan.

Critical Eleven Movie review by Jurnaland
Kisah manis Anya dan Ale. (photo by id.bookmyshow)
Kesendirian yang Anya rasakan selama ditinggal Ale kerja di Rig Mexico menjadi lebih nyata. Kemandirian Anya juga menjadi penghubung antara Anya dan New York serta Anya yang selalu ditinggal Ale. Tapi bukan berarti kisah awal perkawinan mereka tidak harmonis. Cerita ditarik dari alur yang sangat sweet dengan menyoroti lokasi-lokasi New York yang juga serba manis.

Perpindahan, pergerakan, dan penerbangan serta pertemuan menjadikan makna judul Critical Eleven menjadi lebih berarti. Critical Eleven, ada sebelas menit paling genting dalam penerbangan. 3 menit saat take off dan 8 menit saat landing. 11 menit waktu ini disebut masa kritis karena 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam 11 menit itu. Begitu juga pertemuan dan perkenalan. Itulah Critical Eleven yang membayangi kisah cinta Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro. Dari pertemuan, hingga menikah, dan membangun berbagai pengharapan. Lalu bagaimana mereka menghadapi saat-saat genting dalam pernikahan mereka?! Tentang cinta, harapan, hubungan dengan keluarga yang lebih besar, serta rantai persahabatan yang tarik-menarik.

Masa-masa manis di New York mulai tergores ketika Anya hamil. Sifat Ale yang posesif serta Anya yang keras kepala menjadi pemicu pergulatan emosi keduanya. Dari New York dan kembali ke Jakarta, penguatan emosi semakin memuncak. Setiap plot diisi dengan berbagai pemicu interaksi serta negosiasi.

Konflik itu membengkak dan meledak. Reza Rahadian dan Adinia Wirasti memainkan emosi mereka dengan sangat nyata, natural, dan menjadi konduktor sempurna pada penonton.

Adegan yang membuat hati ini 'nyess' ada dalam tiga bagian. Pertama, saat Ale memeluk Anya di rumah sakit (tidak perlu diberitahu bagian yang mana lebih spesifik). Kedua, saat Ale membentak Anya di kamar kerja Anya yang menjadi titik balik masalah rumah tangga mereka. Ketiga, saat Ale akhirnya memberanikan diri masuk ke kamar Aidan yang menjadi semacam negosiasi masalah terhadap diri sendiri. Dua pasangan ini seperti besi yang dengan cepat mengantarkan panas. Luapan emosi itu entah kenapa sangat berasa. This movie is very touching, natural, real, and emotional, apalagi bagi pasangan yang sudah menikah.

Aku mengakui bahwa film Critical Eleven mengungguli novelnya. Ika Natassa sebagai penulis mesti berbangga karena karyanya divisualisasikan dengan sangat baik. Monty Tiwa dan tim filmmakers di Indonesia dan New York menerjemahkannya dengan bebas dan porsi yang pas. Bukan menyimpang, melainkan berkembang. Perpaduan jalan cerita, pemain yang tanpa cela, serta scoring yang membuat film ini nyata menjadikan Critical Eleven nyaris menjadi film drama romantis yang sempurna. Aku agak terganggu sedikit dengan kehadiran Donny (Hamish Daud) yang sedikit tergopoh-gopoh mengimbangi acting aktor yang lain. Tapi selebihnya, Critical Eleven adalah satu kesatuan karya film yang layak ditonton pasangan muda. Disclaimer-nya, jangan bawa anak kecil, ya, karena banyak adegan 17+.

Related Articles

2 komentar:

  1. Tambah penasaraaan, semoga bisa nonton segeraa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo nonton Mba Dew. Mumpung belum tutup layar, lho.

      Delete