In Journey Land Story Land

Ulang Tahun di Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Kota Yogyakarta baru saja merayakan ulang tahun tanggal 7 Oktober lalu yang ke-261 tahun. Itu artinya, hanya selang sehari dengan ulang tahunku, 8 Oktober. Perayaan malam ulang tahun Jogja kuanggap sebagai perayaan malam menjelang ulang tahunku yang ke-... (tidak perlu disebut). Cukup kirim doa saja untuk keberlanjutan kebahagiaan hidup dan merengkuh dunia. Jadi aku senang bukan kepalang saat diajak ke pusat keramaian. :)

Aku berjalan ke kawasan Tugu bersama Junisatya dan dua teman yang menemani kami. Menjelang magrib, kawasan Tugu hingga arah Malioboro serta-merta ditutup karena akan diadakan Wayang Carnival Night. Ada perwakilan 14 kecamatan di Yogyakarta yang ikut meramaikan pesta rakyat malam itu. Masing-masing mereka meragakan kostum-kostum wayang dengan sedikit atraksi yang mewakili ciri khas karakter wayang yang dibawakan. Sepanjang jalan penuh. Aku sempat terseret-seret arus manusia yang ingin mencari tempat strategis untuk melihat carnival. Kupikir acaranya tepat waktu, tetapi carnival baru efektif berjalan mulai pukul 8 malam. Sedari magrib, kami menunggu tanpa kepastian, sempat kelaparan, dan ingin bubar tetapi dikepung oleh keadaan. Hmmm, posisi yang kurang strategis rupanya.

Wayang Night Carnival 2017
Gadis-gadis cantik dibawa oleh kereta kencana.

Animo masyarakat Yogyakarta sangat besar untuk melihat aksi Wayang Night Carnival, apalagi dihadiri langsung oleh Walikota Yogyakarta dan Gubernur DI Yogyakarta. Ada satu panggung diletakkan di sudut jalan persis di depan monumen Tugu. Aku berdiri di samping kanan panggung untuk melihat arak-arakan dimulai pukul 8 malam. Sungguh, ini carnival super penuh yang pernah kudatangi. Orang Jogja semangat banget mau nonton carnival wayang malam-malam begini.

Bagi masyarakat Jogja, ini adalah pesta mereka. Bagiku, ini sebuah napak tilas memahami kisah-kisah wayang yang sungguh kupaksakan pada zaman kuliah. Melihat karakter-karakter wayang dari kisah Ramayana dan Mahabarata malam itu, aku mencoba memahaminya. Wayang memang menjadi ikon legenda tanah Jawa. Sebenarnya asal cerita wayang yang sekarang kita kenal berasal dari kisah Ramayana dan Mahabharata India. Ketika Hindu masuk ke Indonesia, kisah Ramayana dan Mahabharata itu melebur ke dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Kemudian agama Islam masuk dan para sunan pun membawakan cerita wayang untuk menyebarkan agama ke masyarakat Jawa. Berkembang pulalah tokoh-tokoh wayang dalam cerita epos itu. Oleh karena itu, ada cerita Ramayana dan Mahabharata dalam 2 versi: versi asli (India) dan versi Jawa. Aku pernah belajar tentang ini dalam kuliah Sastra Wayang dulu, mengerjakan sederetan tugas tentang perbandingan kisah kedua epos besar dari India itu dalam bentuk paper. Kisah Ramayana dan Mahabharata ini pun disampaikan dalam bentuk wayang yang diceritakan semalaman. Karakter-karakter wayang ini awalnya dibuat dalam bentuk rumput yang diikat. Pada perkembangan selanjutnya, wayang pun menggunakan kulit binatang atau kulit kayu. Dari sana, wayang terus berkembang, dan karakternya pun semakin masuk ke dalam pola hidup masyarakat Jawa (atau mungkin sebaliknya, cerita wayang merupakan cerminan kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri). Wayang golek, wayang orang, dan lain-lain menjadi sebuah pertunjukan khusus dan menjadi ciri khas tanah Jawa.

Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Wayang Night Carnival 2017

Tidak heran, pesta ulang tahun Jogja mengangkat tema peragaan kostum wayang dari masyarakat. Wayang telah menjadi bagian dari penduduk ini. Mereka mengenal wayang sepertiku mengenal sejumlah cerita Malin yang melegenda di tanah Minang. Menyaksikan Wayang Night Carnival seperti ini menambah khasanah pewayangan dalam otakku. Epos Ramayana dan Mahabharata, baik versi asli dari India, maupun versi Jawa hanya sebatas bacaan literasi. Aku bukan anak yang dibesarkan dengan cerita-cerita wayang, Rama dan Shinta, Rahwana, Hanoman, dan tokoh-tokoh turunan kedua epos itu yang melebur dengan cerita rakyat Jawa. Tapi, berkat literatur dari masa kuliah, aku untungnya tidak begitu asing dengan beberapa karakter wayang ini.

Kehebohan Wayang Night Carnival ditutup dengan letusan kembang api perayaan ulang tahun Yogyakarta persis sebelum tengah malam.

Aku mengucap, "Happy birthday to me."

Pada saat itu pula aku bergeser dan menjauh dari kerumunan agar dapat melenggang pulang. Wayang Night Carnival memang luar biasa menarik perhatian. Mungkin seperempat dari warga Yogyakarta memenuhi jalanan di sekitar Tugu malam itu.

Related Articles

8 komentar:

  1. Keren hlo padahal..
    Sayang tahun 2017 ini g bisa dateng ke karnavalnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku baru ini dating ke carnival di Jogja. Seru dan rame banget ya eventnya.

      Delete
    2. Iya..
      Jelas karena festival ini adalah momen peringatan HUT Kota Jogja..

      Saia sempet nontonnya tahun kemaren.. Pas wayang night carnival yang pertama...

      Delete
  2. Mengenai wayang, gunungan....mungkin berkesan biasa saja bagi sebagian orang. Tapi dulu, waktu SMP, saya pernah mendapat tugas untuk mendeskripsikan tiap2 bagian dari wayang beserta filosofinya. Sungguh kaya budaya salah satu warisan budaya kita ini.

    Kalau sekarang, mungkin.....bagia sebagian orang wayang2 itu dilihat sebagai kebudayaan yg indah. Padahal kalau mau menilik nilai filosofinya lebih dalam, lebih keren lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah menarik nih. Aku dulu cuma sempat mengulas kisah wayang sebatas memenuhi tugas kuliah aja. Saking banyak nama karakter dan 2 versi cerita, jadi bingung sendiri membedakan yang mana Ramayana, yang mana Mahabharata. :))

      Delete
  3. Happy birthday Cyiin, hihi..seru banget siiih karnavalnya, eykeh blom pernaah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Mba. Kebetulan banget ulang tahunku sama HUT Jogja deketan. Jadi perayaannya barengan. Tahun depan ke sana lagi ah biar serasa dirayakan warga Jogja. hahahaha

      Delete
  4. oh my god aku nggak tau ada acara ini ceu. Coba kalo tau dan jadwal lagi kosong, pasti Raisa cuus kesana wkwkwkw.

    ReplyDelete