Semarang Heritage: Simbol Cinta Dewi Kwan Im di Pagoda Avalokitesvara

Kalau belum kenal Semarang, jangan kaget dengan banyaknya peninggalan berupa bangunan-bangunan yang unik. Sejarah kota ini tak lepas dari pusat perdagangan, akulturasi, dan pusat penyebaran agama.

Menyusuri ibukota Jawa Tengah ini membuatku tahu banyak bahwa kota ini pernah menjadi saksi bisu keberadaan banyak agama dan suku bangsa. Semarang menjadi kota besar karena perbedaan itu. Mungkin juga Semarang saat ini bisa maju karena pernah dibangun oleh berbagai dinasti. Semarang telah bernegosiasi dengan segala yang baru dan yang beda jauh sebelum bangsa ini bersatu dan merdeka. Patut kita lihat kembali bukti-bukti perbedaan yang alih-alih menggoyahkan, justru malah menyatukan masyarakatnya.


Ini dia Pagoda Avalokitesvara itu.
Ada satu peninggalan Buddha di Semarang yang masih berdiri megah dengan bangunannya yang ikonik, Vihara Buddhagaya Watugong. Komplek peribadatan umat Buddha ini menjadi daya tarik dengan adanya bangunan Pagoda Avalokitesvara yang tahun 2006 dilabeli sebagai pagoda tertinggi di Indonesia oleh MURI. Menarik untuk dikulik, kan?

Saat berkunjung ke vihara ini, tidak ada aktivitas religi khusus yang terlihat kecuali beberapa umat buddha yang sedang berdoa di depan patung Dewi Kwan Im. Aku bersama beberapa teman pada waktu itu memasuki komplek vihara yang berlokasi di daerah Watugong, Ungaran, Semarang. Nuansa Tiongkok terasa sangat kental di sini, ditambah dengan adanya pohon rindang tua yang disebut etnis Tionghoa sebagai Pohon Bodhi di halaman depan. Pohon Bodhi telah ditanam sejak tahun 1955. Di bawah pohon itu terdapat patung Buddha berwarna emas. Epik ya.

Dari area parkir, Pagoda Avalokitesvara berdiri megah dan menjulang. Dengan menaiki beberapa anak tangga dan melewati Pohon Bodhi, aku menuju pintu depan pagoda. Tak ada sekat ruangan di dalamnya. Beberapa ornamen yang dibutuhkan untuk peribadatan serta patung dewi berukuran 5 meter di lantai pertama Pagoda tersebut. Berada di sini dilarang berisik. Ada beberapa pengunjung yang sedang melakukan ritual menurut kepercayaan mereka. Pagoda ini digunakan untuk ritual mengadu nasib dan mengetahui ramalan baik dalam kepercayaan Buddha. Aku mengambil gambar dari jauh dan berkeliling pagoda, melihat ukiran-ukiran yang memenuhi beberapa pintu di sekeliling pagoda. Umumnya, ukiran di pintu kayu itu menunjukan kehidupan beberapa binatang, persis seperti relief batu yang terdapat di tangga depan Pagoda. Ada relief ayam, ular, dan babi.

Patung Buddha emas di bawah pohon bodhi.

Relief ayam, ular, dan babi.

Pintu masuk Pagoda.


Pagoda ini memiliki 7 tingkatan yang mengerucut ke atas. Kalau nonton film Kera Sakti, tentu familiar dengan bentuk pagoda. Bangunan yang diadopsi dari negeri asalnya, Tiongkok, ini menunjukkan suatu tingkatan pertapaan. Semakin tinggi tingkat pertapaan, semakin suci seorang pertapa itu.

Dewi Kwan Im yang dikenal sebagai dewi kasih sayang dipercaya memiliki beberapa wujud. Beberapa wujudnya terpajang dalam patung di bagian teras sekeliling Pagoda. Karena Pagoda ini didirikan untuk memperlihatkan kebesaran sosok sang Dewi, patung-patung Dewi yang berukuran lebih kecil diletakkan di setiap tingkatan Pagoda, mulai dari tingkatan kedua hingga keenam. Patung Dewi Kwan Im menghadap langsung ke empat arah penjuru mata angin. Umat Buddha percaya bahwa Dewi Kwan Im akan memancarkan cinta dan kasih sayangnya ke segala arah. Pada tingkatan ketujuh dari pagoda ini, diletakkan patung Amithaba yang merupakan guru besar para dewa dalam kepercayaan Buddha. 7 tingkatan pagoda artinya 7 tingkatan mencapai kesucian dalam agama Buddha. Sementara, bagiku, 7 tingkatan pagoda artinya 7 jenjang atap yang menjulang, menjadi suatu peninggalan budaya. Bangunannya yang didominasi warna merah hati dan kuning muda memberikan corak peninggalan pengaruh Tiongkok yang pernah ada di Semarang. Dewi Kwan Im dalam kepercayaan Buddha masuk ke Indonesia dalam pengelanaan panjang kaum Tionghoa, salah satunya di Semarang yang telah menjadi kota penuh sejarah panjang percampuran budaya Cina dan pribumi.

Patung Dewi Kwan Im berukuran besar di dalam Pagoda.
Patung Buddha tidur.
Bangunan Vihara Dhammasala yang mengadopsi unsur bangunan budaya Jawa.
Kita juga dapat melihat bentuk akulturasi budaya itu, kok, di bagian Vihara Dhammasala di komplek itu. Vihara sengaja tidak berbentuk bangunan khas negeri Tiongkok. Ada unsur bangunan Jawa (joglo) yang tampak pada bagian atapnya. Suatu harmonisasi pertukaran budaya yang sudah berdiri sejak tahun 1955.

Jika ingin menyeberang ke arah vihara, kita akan melihat patung Buddha berukuran besar terbaring melintang. Patung Buddha ini digambarkan sedang tidur di sebuah pohon rindang yang tumbuh di sekitar komplek. Tampak tenang, santai, dan damai.

Itulah nuansa yang dapat ditangkap dari kunjungan ke Komplek Vihara Buddhagaya Watugong. Ada banyak cerita lagi tentang Semarang Heritage. Perbedaan tak membuat pecah dan sejarah telah membuktikannya selama berpuluh tahun.



4 komentar:

Memori Perjalanan Tahun 2016

Kalau dilihat kilas balik, tahun 2016 tak terlalu banyak aktivitas produktif. Mungkin aku hanya keranjingan bekerja dengan banyak deadline hingga lupa kalau frekuensi traveling menurun pada tahun itu. Aku hanya melakukan beberapa perjalanan singkat untuk memecah kejenuhan bekerja. Saat merenungi tahun 2016 ini, aku pun semakin paham bahwa traveling itu tak perlu hal-hal fantastis atau tempat-tempat fantatis, tetapi bagaimana kita meluangkan waktu untuk sebuah perjalanan. Itu intinya.

Mumpung masih awal tahun 2017, aku merangkum kembali memori perjalanan 2016. Ini yang terbaik.


Tahun 2016 dibuka dengan perjalanan ke Solo. Ketika semarak tahun baru hingar-bingar di telinga, aku menyusuri Kampung Batik Laweyan yang tenang dan sepi. Aku jatuh cinta dengan keelokan negeri Solo ini, seperti kawan lama yang sudah berpuluh tahun tak berjumpa. Di Kampung Batik Laweyan, aku memasuki beberapa toko, melihat-lihat aneka motif batik dan mempelajari seperti apa batik khas Solo itu. Aku bertemu dengan penduduk asli yang ramah, mengobrol tentang karya anak bangsa, jenis-jenis batik, dan bagaimana batik menjadi industri. Sungguh perjalanan awal tahun yang kenyang hasil budaya.

Batik, karya anak negeri


2. Semarang, dari religi hingga mistis

Masih dalam rangka liburan awal tahun, aku berangkat ke Semarang, Jawa Tengah. Mulanya kupikir, kalau keliling kota, pasti sangat biasa. Tetapi ternyata anggapan itu salah. Semarang menyimpan cerita klasik tentang peradaban. Cerita itu dibuktikan oleh bangunan-bangunan bisu yang jadi saksi kebesaran sebuah masa, entah itu dinasti, agama, kerajaan, hingga penjajahan. Ada beberapa tempat yang kukunjungi yang menyimpan pernik klasik yang membentuk Kota Semarang seperti klenteng, masjid raya, Kota Lama, Pagoda, serta Lawang Sewu. Apakah kamu pernah berpikir bahwa Semarang punya nilai lebih dalam tentang perjuangan berbagai bangsa di balik sekadar bundaran Simpang Lima yang terkenal itu?!

Februari dibuka dengan piknik bebatuan di Jawa Barat. Road trip ke Cianjur dengan kemacetan luar biasa di jalur Puncak, Bogor, tak membuatku urung mengunjungi Situs Megalith Gunung Padang. Sempat hujan waktu itu, sehingga aku dan beberapa teman harus menunggu hujan reda sebelum bisa trekking hingga puncak bukit yang dipenuhi batu itu. Situs Megalith ini konon peninggalan zaman batu besar prasejarah. Bebatuan di sini terdiri dari balok-balok berwarna hitam yang tersebar di bukit bernama Gunung Padang. Puncak bukitnya diasumsikan sebagai tempat pemujaan para manusia purba karena ada beberapa petak batu yang dibuat berundak-undak. Sebagai pencinta pelajaran sejarah zaman sekolah dulu, aku menikmati segala hal baru di sana. Tentu ada banyak hal-hal tersembunyi yang belum terekspos dari situs artefak ini. Gunung Padang berdiri gagah, sementara kami tak ubahnya manusia yang mencari tahu tanpa tentu arah. Artefak menunjukkan sejarah kepercayaan manusia bahkan sebelum abad dikenalnya tulisan.


Gunung Padang


Masih mengikuti edisi piknik bebatuan, aku sempat bermain-main di Stone Garden. Nah, kalau yang ini termasuk situs juga, lebih tepatnya situs danau purba. Masalah benar atau tidaknya, aku kurang tahu pasti. Stone Garden ini nama yang diberikan orang-orang. Bahasa kampungnya atau nama aslinya adalah Taman Batu Pasir Pawon di wilayah Padalarang, Jawa Barat. Pasir Pawon ini termasuk area yang sedang diobservasi. Saat sampai di sana, terdapat hamparan hijau dengan lembah bebatuan layaknya New Zealand. Batu-batu kapur berserakan membentuk gundukan bukit dengan rerumputan tinggi di sela-selanya. Jejak-jejak keberadaan danau purba terlihat di lembah dalam di antara bebukitan. Sungguh pemandangan yang memesona.


Stone Garden

5. Kei, Negeri Maluku Tenggara yang memanjakan

Bulan Mei 2016, aku berkesempatan menginjak negeri Maluku. Dimulai dengan transit di Ambon selama 5 jam, lalu mendarat di Pulau Kei Kecil yang menyimpan berbagai keindahan. Dari keseluruhan perjalananku sepanjang tahun lalu, perjalanan Kei ini jadi best moment 2016. Ini juga kali pertama aku menginjak kaki di negeri timur Indonesia. Dan, memang benar kata orang, Kei itu bahkan di luar ekspektasiku. Mulai dari pantai-pantainya, kelembutan pasirnya, orang-orangnya, hingga pulau-pulau di sekitarnya. Ada Pantai Ngurtafur yang terkenal dengan pasir yang menjulur seperti lidah di Pulau Warbal. Lalu ada pula Ngurbloat yang terkenal dengan pasir putih terlembut di Indonesia. Mengunjungi Kei sama dengan mengunjungi setitik nikmat Tuhan paling berharga di dunia. Aku takkan bisa berpaling dari Kei.

Ngurbloat

Ngurtafur

Pulau Bair


Saat lebaran, seperti biasa aku pulang ke tanah kelahiran. Padang selalu ada untukku. Makanan-makanannya selalu membuat lidah ini rindu. Ada sederetan makanan dan camilan yang tak kutemui selama di Jakarta. Salah satunya pensi, sejenis kerang air tawar (air danau) yang disup. Ini camilan favorit dari kampung ayah, Maninjau. Saking rindunya, tahun sebelumnya tak sempat mengunjungi Maninjau, aku pun bertandang ke kampung ayah ini bersama Junisatya dengan jarak 5 jam perjalanan dari kota Padang. Demi satu bungkus pensi, tak peduli macet hari raya padat merayap. Ya, mungkin ini gila, tapi daripada aku menahan rindu berbulan-bulan saat kembali ke Jakarta, aku lebih baik bertandang ke Maninjau langsung, negeri penuh makanan bergizi hasil danaunya yang termahsyur.

Panorama Danau Maninjau

Lobster bakar air tawar

Pensi dari Maninjau


Melewati pertengahan tahun, aku merencanakan perjalanan ke Lembang bersama teman-teman sekantor. Terlalu mainstream, ya. Tetapi cuaca cerah di Lembang dan beberapa destinasi cantik di sana yang belum pernah kukunjungi, membuat kami bersenang-senang selama 2 hari. Ada Farmahouse, Taman Begonia, Sapulidi Sawah, dan Dusun Bambu. Semesta mendukung sekali. Lembang memang destinasi cantik terdekat dari Jakarta sekaligus paling ramai di antara destinasi sekitar lainnya.


Ini salah satu yang berkesan tahun 2016. Bulan Oktober menjadi bulan perayaan. Keluarga semasa kuliah S1 yang dikenal dengan Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI) mengadakan trip bersama ke Lembang dalam rangka 10 tahun anniversary kami. Ini pertama kalinya kami bisa keluar kota bersama setelah lulus kuliah. Kami merayakannya di Lembang. Dusun Bambu menjadi tempat kami menumpahkan rasa rindu, menjalin kebersamaan kembali setelah bertahun-tahun tertunda. Kehebohan itu, keceriaan itu, masih sama seperti saat kami baru saling mengenal. 10 tahun itu awal kelanggengan persahabatan. Nah, ini menjadi catatan tahun 2016 yang selalu tertanam di benakku.

Kafe Burangrang di Dusun Bambu yang megah

Reuni sekaligus liburan

Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata perjalananku tahun 2016 itu berwarna, ya. Mulai dari city tour, wisata religi, wisata mistis, wisata budaya, wisata pantai, wisata kuliner, wisata sejarah, serta hospitality. Rangkuman ini tak cuma kilas balik, tetapi juga refleksi diri bahwa tahun 2016 itu tak sepenuhnya menjemukan. Daftar perjalanan tahun lalu memang tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, tetapi aku bersyukur bisa menjangkau lokasi yang bahkan tak sempat terpikirkan sebelumnya. Awal tahun 2017 ini saatnya merencanakan kembali ke mana saja kaki ini akan melangkah. Siapa tahu ada banyak kejutan menarik tahun ini.

Kadang kita tak lagi membutuhkan ruang yang besar di rumah karena ada banyak ruang membentang luas di luar sana yang tak kalah nyaman. -- Sulung Siti Hanum, 2016.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Postingan Bersama -- "The Best Traveling Moment 2016" oleh Indonesia Corners.


14 komentar:

Film Hangout, Premis Menarik dalam Pembaruan Film Indonesia

Seperti biasa, akhir tahun penuh dengan film-film Indonesia. Pada Desember 2016, ada beberapa film yang tayang di bioskop. Dari sederetan film Indonesia maupun film luar yang nongol, aku memilih menonton film Hangout karena dalam rangka menemani adik ipar yang sedang liburan di Jakarta. Jika diajak nonton Star Wars, dia tidak akan mengerti karena permasalahan bahasa. Adikku ini masih umur 11 tahun, jadi harus cari film yang cocok untuknya. Dia memilih sendiri film Hangout. Oke, baiklah. Sekalian aku memang penasaran dengan film besutan Raditya Dika ini.

Promo film Hangout produksi Rapi Films terbilang gencar. Bagi yang mengikuti Youtube channel Raditya Dika, tentu tidak asing dengan judul film baru ini. Raditya Dika membagi behind the production film Hangout beberapa episode dalam vlog-nya. Lalu, yang membuat aku tertarik adalah ide ceritanya, sebuah komedi-thriller.

Film Hangout. (sumber foto dari sini)

Undangan Hangout (sumber foto dari sini)
Film Hangout dimulai dengan premis awal sekumpulan public figure mendapat undangan untuk program Hangout di pulau terpencil selama beberapa hari, tapi ternyata mereka meninggal satu per satu. Sebuah premis menarik, bukan? Pertanyaannya, bagaimana menyelipkan komedi di tengah film bunuh-bunuhan itu? Semua itu terjawab dalam film ini.

9 orang public figure dari berbagai bidang seni mendapat undangan Hangout bernilai nominal puluhan juta. Secara serempak, kesembilan artis ini bertemu saat menyeberang ke pulau yang dimaksud. 9 di antaranya adalah Raditya Dika, Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Surya Saputra, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Mathias Mucus, Titi Kamal, dan Bayu Skak. Mereka memerankan nama masing-masing dengan karakter yang sedikit di-touch up. Antara realitas dan fiksi diadu sehingga mampi memberi guyonan menertawakan kehidupan selebriti itu sendiri. Mereka akan menginap di sebuah vila selama 3 hari. Lalu, suasana mendadak mencekam saat makan malam, ketika Mathias Mucus meninggal keracunan. Secara bergantian, yang lain pun meninggal. Sebuah pembunuhan berencana ini didalangi satu orang di antara mereka. Bayu Skak yang pertama kali menyadari tetapi tak sempat mengungkap misteri itu karena ia pun ditikam beberapa menit berikutnya.

Akhirnya penonton sampai pada sebuah tebak-tebakkan, siapa pembunuhnya? Mereka yang tersisa saling menuduh dengan mengungkap berbagai sebab-akibat persaingan di dunia selebriti dan tantangan pekerjaan sebagai public figure. Setiap karakter saling melempar tuduhan terhadap realitas yang dibengkokkan dalam cerita. Misalnya, Gading Marten menuduh Soleh Solihun sebagai Stand Up Comedy yang menggeser popularitas host dan aktor. Lalu Gading Marten juga diteriaki, "Roy Marten lebih terkenal daripada elu!" Raditya Dika juga ditertawai oleh Surya Saputra sebagai aktor yang tidak punya ekspresi dan membosankan, yang selalu mengeluh "Gue bego. Gue jomblo." Sosok Surya Saputra dibuat super higienis dan bertolak belakang dengan Dinda Kanya Dewi yang super jorok. Karakter itu dilekatkan ke masing-masing lalu menjadi bahan lelucon sepanjang film. Sementara itu Prilly Latuconsina dan Titi Kamal saling menyanjung kecantikan satu sama lain hingga mereka berantam sendiri tiada ujung. Hingga Prilly Latuconsina sendiri tidak luput dari celotehan bahwa kehidupan percintaannya tidak lepas dari settingan dan palsu. Bayu Skak yang berprofesi sebagai youtuber pun menjadi bulan-bulanan karakter lain lantaran ia selalu membawa kamera dan nge-vlog, lalu disebut narsis. Sementara itu Mathias Mucus sebagai aktor senior menangkap dan mengamati itu semua sebagai fenomena. Ia sempat menirukan gaya berbicara ABG masa kini dengan logat gue-elo kekinian. Fakta-fakta dunia selebriti itu yang lantas dibengkokkan dari realitasnya sendiri menjadi suatu benang merah untuk mengetahui siapa pembunuh di Hangout.

Adegan di film Hangout. (sumber foto dari sini)

Dari adegan demi adegan, konyol maupun tegang, penonton pun ikut menebak-nebak. Jelas sekali, setiap guyonan tidak memihak pada siapa pun. Alur mampu menghapus jejak pembunuh hingga kita sampai pada twist. Aku sempat geregetan menebak si pelaku sampai 4 kali dan semua salah.

Selipan-selipan banyolan, celotehan, dan humor di setiap kejadian menjadikan film ini tidak melulu seram karena darah. Sekilas kita melihat, tampaknya nyawa tak berarti apa-apa. Tapi namanya juga film thriller yang berlatar komedi. Meski tak terlalu seram, scoring film ini memicu adrenalin dan ketegangan. Sisanya aku tertawa dengan beberapa humor renyah. Beberapa banyolan agak sedikit 'receh' cenderung jorok, dan memang 'nggak Radit banget". Namun, di antara 'humor jorok' itu, Raditya Dika membuatnya hanya untuk menertawakan diri sendiri. Jadi masih sah-sah saja.

Selebihnya, seperti layaknya film komedi, kita akan berfokus pada tawa dan tebak-tebakkan. Risiko membuat plot dengan banyak tokoh adalah kamera semakin bingung mau menonjolkan karakter yang mana. Raditya Dika rupanya lihai membuat alur cerita agar setiap karakter mendapat porsi yang sesuai. Ada karakter yang muncul, lalu disimpan hingga akhir. Ada juga karakter yang memang sudah menarik perhatian, lalu langsung dibuat meninggal di beberapa plot awal. Pemilihan pemain dari senior hingga junior (baru di dunia peran layar lebar) tak membuat mereka tarik-menarik dan tumpang tindih.

Satu kecacatan yang membuatku agak gemas. Premis menarik tidak diiringi dengan twist yang memuaskan. Di bagian akhir, kita akan tahu siapa pembunuh sebenarnya berupa twist itu. Namun, alasan si pembunuh membuat alur panjang pembunuhan dengan sekian banyak jebakan tak membuat si pembunuh ini benar-benar keji. Hanya alasan remehlah semacam sakit hati biasa karena teman-temannya sesama artis tak memberikan simpati terhadap ayah si pembunuh yang mendadak masuk rumah sakit. Dia pun ingin balas dendam. Alasan yang kurang kuat untuk merancang pembunuhan berantai dengan mengundang sekawanan selebriti itu ke sebuah pulau terpencil. Dia pun berani membayar uang muka ke manajer masing-masing sebagai kontrak awal. Andai twist itu dilatari kisah sebab-akibat yang mendasar, tentu film ini akan hebat.

Overall, di balik kecacatan tersebut, semua usaha filmmaker tentu patut dibanggakan. Hasilnya pun sangat baik. Dari data penonton terbaru di website filmindonesia.or.id tercatat bahwa Hangout meraih peringkat ke-4 untuk film Indonesia terlaris tahun 2016 dengan perolehan 2.452.901 penonton (per tanggal blogpost ini diluncurkan). Baru di film Hangout ini aku menemukan film thriller-komedi versi Indonesia. Dan, mungkin akan ada film-film selanjutnya yang akan mengikuti. Sekali lagi, Raditya Dika memang jago membuat premis menarik yang sederhana saja dan punya jalan cerita yang sulit ditebak. Ini menjadi sebuah pembaruan dalam khasanah film Indonesia. 

Gathering ke-9 pemain film Hangout. (sumber dari sini)

6 komentar:

Short Gateaway ke Tanjung Lesung

Jadi ceritanya, bulan Desember 2016 bukan waktu yang tepat untuk liburan jauh-jauh ke luar kota. Tapi bukan berarti hasrat jalan-jalan dipendam begitu saja. Aku merancang semacam short gateaway yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, dapat ditempuh dengan mobil pribadi, dan family friendly. Maksudnya family friendly ini adalah lokasi yang gampang dijangkau dan pas untuk anak-anak. Kebetulan aku kedatangan adik kami dari daerah yang sedang liburan sekolah. Kenapa  enggak menjadikan liburan mereka menjadi seru ketimbang hanya berjalan-jalan di mall.
Berangkatlah kami dengan mobil bersama adik dan sepupu menuju Tanjung Lesung. Ini wisata yang sangat familiar di wilayah Banten. Beberapa tahun lalu, aku dan Junisatya sempat mampir ke sana tetapi tidak stay karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Sawarna. Kali ini, aku ingin kembali ke sana untuk berlibur. Niatnya kami akan stay 1 malam di homestay yang tak jauh dari Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung Beach Club

Gerbang Tanjung Lesung
Untuk menghindari macet, kami berangkat pagi-pagi sekali dari Depok. Waktu tempuh kami habiskan 5 jam perjalanan melewati Pandeglang. Begitu sudah mencium bau laut, aku langsung bersemangat. Rinduku pada pantai terobati. Namun, semangat itu sirna saat melihat pesisir Labuhan (nama daerah sebelum Tanjung Lesung) berwarna cokelat. Aku tak mengada-ada dan sempat memastikan berkali-kali bahwa air laut di sepanjang pantai itu sangat cokelat. Angin sedang kencang dan laut pasang. Air laut di sepanjang lepas pantai, mungkin bermil-mil jauhnya ke tengah laut, tidak menunjukkan tanda-tanda berwarna biru atau hijau.
Dengan sedikit meredam kecewa, kami akhirnya sampai di gerbang area Tanjung Lesung yang kini telah jadi area komersil. Kami diberikan kartu parkir dan diizinkan masuk menyusuri jalanan panjang yang sepi hingga tertumbuk pada loket Tanjung Lesung Beach Club. Kami dimintai tiket Rp40.000 dan parkir mobil Rp5.000. What? Mahal sekali ya. Tiket masuk Ancol masih lebih murah lho dengan segala fasilitas yang ada.

Berhubung sudah jauh-jauh dari Jakarta dan memang sudah diniatkan ke sini, yasudah, kami pun membayar uang masuk yang diminta. Ini dia Pantai Tanjung Lesung yang (katanya) bagus itu di wilayah Banten.

Jika dibandingkan dengan pantai-pantai di Anyer, pantai Tanjung Lesung memang lebih unggul. Pantainya hasil kerukan agar airnya tidak cokelat. Area pantai ditimbun dengan pasir yang lebih terang agar pantainya tidak suram. Tempat untuk bersantai pun disediakan. Anehnya, meski mahal, tempat ini ramai. Banyak yang melakukan kegiatan berenang di pantai, kemping di tenda-tenda berbayar, olahraga pantai, dan water sport. Beruntung kami sampai di sana pukul 10.00. Jadi masih bisa dapat ruang untuk duduk-duduk.

Piknik saudara

Kawasan pantai
Bersama sepupu

Area santai beach club
Kami mengeluarkan bekal makanan dari mobil dan piknik bersama di salah satu pondok. Makanan sederhana tapi nikmat. Sebenarnya kami tidak diperkenankan membawa makanan dari luar karena sudah ada 2 restoran yang tersedia di kawasan ini. Namun, peraturan itu sengaja tidak diindahkan. Kalau makan di restoran, pasti mahal lagi dan rasanya biasa aja.

Usai makan siang, aku membiarkan adik-adik kami berenang di pantai yang ada ayunannya seperti di Lombok. Lalu aku berjalan merambah pantai karang di sudut lain kawasan pantai ini. Dulu ada jembatan ke tengah laut yang bisa jadi area foto-foto, apalagi di seberang sana terlihat bukit segitiga yang merupakan salah satu gunung anak Krakatau. Jembatan itu sudah lapuk oleh air garam dan memang kurang dirawat. Agak mengecewakan mengingat tiket masuk ke kawasan ini sangat tinggi tapi lingkungan di sini tak terawat. Jogging track yang merambah hutan mangrove di dekat jembatan sudah rusak parah. Mungkin akibat air pasang berkali-kali yang membuat susunan bata atau beton jadi porak-poranda. Dalam hati terucap, pantai wisata macam apa ini? Sayang sekali jika area ini dibiarkan rusak di beberapa sudut. Kurangnya penanganan pihak swasta terhadap pantai ini akan membuat Tanjung Lesung meredup perlahan. Di samping banyaknya permintaan untuk mengadakan paket outing, outdoor camp, dan water sports. Tanjung Lesung tak sesistimewa namanya padahal pantai ini diharapkan menjadi primadona wisata keluarga wilayah Banten, lho. Sayang sekali ya.

Jembatan yang sudah lapuk

Pantai karang Tanjung Lesung

Sunbathing saat mendung

Panen kerang
Kami harus berpuas hati bersantai sambil sunbathing di bawah matahari yang tidak terlalu terik hari itu. Yang penting 2 bocah yang kubawa tetap gembira bisa berenang seharian. Aku mengumpulkan beberapa kerang bermotif unik untuk dibawa pulang. Selebihnya, tak ada lagi yang bisa dilakukan di sana karena semakin siang, pantai semakin ramai.

Kami berpindah mencari pantai lain di sekitar Tanjung Lesung. Karena tak ada ide menarik, di laman pencarian pun tak menunjukkan tempat-tempat istimewa, kami mampir ke sebuah restoran Kampung Nelayan. Sedikit berharap bisa duduk santai mencicipi seafood. Namun, yang kami temukan adalah dermaga Kampung Nelayan yang kurang terawat dan air laut yang super cokelat. Langit mendung menambah miris pemandangan. Aku tak berminat duduk di restorannya dengan pemandangan seperti ini.

Dermaga nelayan

Restoran dengan view yang kurang menarik


Kami pun berpindah lagi. Mobil kami melaju ke arah pulang. Tak tertarik untuk bermalam karena cuaca sedang tidak bersemangat. Kami mampir di sebuah kedai kopi pinggir pantai berlantai dua dan memesan mie instan rebus. Angin semakin ribut terasa di pantai itu. Tak ada niatan untuk turun ke garis pantai karena pasir pantai penuh limbah berminyak dan air laut tetap tak berubah warna. Dalam hati, aku berdecak. Mungkin ini limbah Pulau Jawa. Mungkin ini salah kami yang tak menjaga alam. Mungkin pula ini efek dari segala macam limbah kehidupan dan bermuara di laut yang mengarah samudera ini.

Melihat lingkungan Tanjung Lesung dan sekitarnya ini, aku membawa pulang renungan. Ada banyak tempat-tempat yang indah tetapi rusak. Tanjung Lesung dan sekitar bisa jadi bahan introspeksi. Jangan cuma liburannya saja yang diperhatikan. Tapi juga bagaimana kita menjaga persahabatan kita dengan alam. Sungguh alam sudah baik memberikan penawaran lokasi eksotis yang bisa dieksplor. Sayangnya, kita lupa telah menjadikan mereka perlahan meredup. Sedih sekali.

Warung kopi dan mie di pinggir jalan daerah Labuhan

Pantai yang super cokelat, pantai cokelat susu

3 komentar: