Menyasar Ramainya Legian di Fourteen Roses Bali

Pulau Bali selalu punya cerita. Di sela-sela kerjaan kantor dan kuliah S2 saat itu, aku diajak liburan ke Bali oleh Junisatya bersama keluarganya. Cuma liburan singkat akhir minggu. Tiket pun sudah dipesan. Tinggal memikirkan bagaimana cara izin dari kantor dan bagaimana bisa mengerjakan tugas kuliah saat di Bali. What? Please-lah, Hanum, masih ingat dengan kuliah saat liburan?

Ya begitulah derita mahasiswa S2. Ada beberapa fakta kegilaan yang telah kulalui saat kuliah S2 yang molor hingga 3 tahun. Mungkin ini terjadi pada sebagian orang di luar sana yang menghadapi kuliah S2 sambil kerja. Konsekuensinya apa? Kita harus pintar bagi waktu. Dan, buat aku, bagi waktu itu adalah hal paling susah selain menaklukkan kuliah. Aku menjalani kuliah S2 di Program Studi Ilmu Susastra UI dan hanya ada kelas reguler. Ini saat-saat dilematis antara memilih kuliah atau kerja. Salah satu harus dikorbankan. Tapi akhirnya aku bisa bernegosiasi dengan pihak kantor dan mendapat privilege menjalani kuliah. Dari sana, derita baru saja dimulai. Ketika hari kerja, pagi-pagi aku ke kampus dan siangnya lanjut ke kantor sampai malam. Lalu ketika orang-orang bisa berlibur di akhir pekan, aku justru harus mengerjakan beberapa tugas kuliah. Ritme ini berlanjut dari semester ke semester. Kalau ditanya kenapa tidak resign kerja saja, ya dengan tenang aku menjawab, "Dengan apa aku membiayai kuliah?" Lalu jika ada yang bertanya kenapa tidak cuti dulu kuliahnya, aku akan jawab, "Kalau sudah cuti sekali, percayalah kamu akan susah balik ke kampus lagi." Itu terjadi pada beberapa teman seperjuanganku di kampus.

Jadi hari-hari penuh dengan kerjaan dan tugas kuliah itu kulalui. Suntuk? Sangat. Stres berat? Benar. Apaagi saat mendekati akhir semester. Karena itulah aku butuh liburan. Aku butuh refresh energi, refresh pikiran, dan refresh perasaan. Aku butuh tetap waras dalam menjalani 2 hal sekaligus ini. Lalu, aku mulai mencari-cari kesempatan dan mencuri-curi waktu di sela pekerjaan dan kuliah. Aku pernah memboyong tesis saat mudik lebaran. Aku bahkan traveling ke Kepulauan Derawan, backpacking ke Pahawang, berlibur di Makassar, dan semi-prewedding di Taka Bonerate dengan laptop dan bahan revisi tesis di dalam ransel. Sebaliknya, aku pernah ikut konferensi dari kampus di Bandung dengan membawa tugas kantor. Liburan tetap. Tapi tugas jalan terus. Dosen pernah meneleponku karena aku tidak muncul di kampus untuk bimbingan. Percayakah kamu bahwa saat menjawab telepon itu, aku sedang bersama lumba-lumba yang mengantar perahuku ke Pulau Kakaban, Kepulauan Derawan. Apalagi hari-hari jelang sidang tesis adalah hari-hari jelang aku menikah juga dengan Junisatya. Sungguh tak mudah menjadi emosi yang rasanya nano-nano. Sungguh epik, bukan?

Begitu pula saat aku diajak ke Bali suatu hari. Meski hanya 2 malam di akhir minggu, aku harus mengumpulkan paper kuliah pada hari Selasa sementara ada bacaan yang harus dituntaskan sebelum mengerjakan paper itu sendiri. Akhirnya, aku menjejalkan sebuah buku tebal dan tablet (sebagai pengganti laptop agar tak terlalu berat) ke dalam tas ransel, lalu berangkat terburu-buru ke bandara. Nyaris ketinggalan pesawat karena aku harus izin masuk setengah hari di kantor pada Jumat siang. Fiuh. So, Bali, I'm coming. Kuharap kau mau menerima anak yang kelelahan karena isi otaknya terlalu penuh ini, batinku saat itu.

Aku mendarat di Bali pada malam hari dan langsung menuju penginapan. Kami menyasar wilayah Legian yang akhir pekan rupanya sungguh ramai. Mobil berhenti di pelataran parkir sebuah hotel, Fourteen Roses Legian Hotel. Dari luar, hotel ini tampak biasa saja selain ornamen gapura khas rumah adat Bali, sebuah gapura candi bentar. Hotel ini persis berlokasi di pinggir Jalan Legian yang semarak sekali pada malam hari. Ada banyak restoran, toko souvenir, spa, kafe, dan lain-lain. Aku bertanya dalam hati, apa iya hotel ini cukup nyaman di tengah hingar-bingar Legian?


Serba mawar.

Lobi dengan lukisan 14 bunga mawar.

Aku memasuki lobi dan disambut ramah oleh sepasang patung Dwarapala. Lobinya cukup besar dengan lampu kuning temaram. Ornamen langit-langit terlihat unik. Lampu-lampu dikelilingi oleh kelopak mawar. Ada beberapa ornamen patung dewi terpampang di tembok ruang tamu. Lalu ada pula lukisan yang menggambarkan bulatan-bulatan bunga mawar berjumlah 14 bundaran sesuai nama hotel ini. Ada lukisan kelopak bunga mawar terpampang besar berwarna emas disertai vas bunga dengan bunga mawar artifisial di sebelahnya. Semua serba mawar. Sofa berwarna jingga menambah kesan eksotis di lobi ini. Fourteen Roses memang bernuansa kuning-oranye dan konsepnya menyerupai vila dengan beranda untuk bersantai di setiap kamar. Ada tangga melingkar di tengah lobi yang merupakan akses menuju restoran. Jadi kalau sarapan, kami bisa langsung ke sini.

Tanpa berlama-lama menunggu di lobi, aku pun diantar ke kamar dengan twin bed sedang menunggu di dalamnya (sayangnya lupa kuabadikan karena antusias memeluk kasur lebih besar). Aku menginap bersama mertua dan adik ipar, Cahya yang masih kelas 3 SD. Langsung saja tanpa berbasa-basi, aku berganti pakaian dan senang sekali melihat ada bathtub di kamar mandi. Wah, kebetulan sekali, ini melengkapi rencana relaksasi akhir minggu kami, berendam air hangat.

Saat semua sudah tidur, aku mengeluarkan buku The Geography of Bliss yang tebalnya setara dengan tebal bantal hotel. Ini adalah buku yang kubawa saat itu. Buku karangan Eric Weiner ini berkisah tentang perjalanan penulis mencari negara yang masyarakatnya paling bahagia di dunia. Menohok, ya, membaca novel Bliss ini malam-malam, jauh dari rumah. Siapa yang bisa bahagia jika masih ada tugas berat untuk hari esok? Kebetulan sekali tema paper-ku saat itu adalah isu kosmopolitan yang terdapat di The Geography of Bliss. Paper kosmopolitan dalam novel bertema perjalanan ini dikerjakan saat melakukan perjalanan itu sendiri. Bali. Negeri yang cocok yang menjadi jendela global negara ini, mengaburkan konsep rumah dan meleburkannya dalam kenyamanan yang homey hotel semi vila tempatku menginap. Fourteen Roses Hotel sudah memberikan secercah harapan dalam kelanjutan konsep dalam paper-ku. Si "Aku" dalam novel ini telah melebur dalam kelokalan di setiap negara yang ia datangi. Ia menghapus keliyanan dan bergabung bersama masyarakat negara-bangsa. Ini membuktikan konsep kosmopolitan perlahan-lahan melekat dalam diri si "Aku" saat menemukan sumber kebahagiaan di setiap negara. Malam yang tenang sangat bertolak belakang dengan ramainya jalan Legian di luar sana, bukan? Legian telah memberikan jawaban atas kelelahan otak ini saat memikirkan konsep kosmopolitan yang sungguh-sungguh berat itu. Wah, ada gunanya juga ya kita traveling, mencari apa yang tidak akan ditemukan dalam kesuntukan.

Pagi-pagi sekali, walau masih kurang tidur, aku bangun dan langsung bersiap-siap untuk sarapan. Fourteen Roses membuka hari-hari kami di Bali dengan mood yang serba baik. Sambil menunggu yang lain siap, aku berjalan-jalan di sekeliling hotel. Hotel ini memberikan nuansa Bali yang sangat kental. Rupanya patung Dwarapala tak hanya ada di gerbang depan. Patung itu juga dipajang di sebuah kolam ikan koi sebagai simbol pelindung kehidupan si ikan. Di sekitar kolam renang, ada gazebo-gazebo kecil tempat tamu hotel menikmati suasana outdoor hotel yang nyaman. Ada beberapa daybed juga untuk para bule sunkissing di sela-sela berenang. Meski tempatnya tak selebar beach club lain berbintang 5, Fourteen Roses memberikan suasana adem dan segar, sesegar mawar dalam filosofi penamaan hotel mereka. Sederhana, tapi manis.


Menuju taman.
Kolam ikan koi.
Di depan kamar Fourteen Roses yang asri.
Kolam renang di Fourteen Roses Hotel. (Sumber foto dari sini)
Aku menginap 2 malam di hotel ini dan lingkungannya memang cocok untuk berlibur bersama keluarga. Ada berbagai jenis room yang disedakan, superior room dengan teras dan balkon, twin bed room, serta family room. Rasanya belum puas karena belum mencoba spa tradisional dan refleksi di sini. Dengan menu sarapan yang aneka ragam dan enak-enak, rasanya aku ingin tinggal lebih lama dan mengerjakan paper untuk kuliah Lintas Budaya-ku sampai selesai. The Geography of Bliss yang menemani staycation-ku di Fourteen Roses ini mengantarkanku bukan untuk mencari jenis kebahagiaan, melainkan untuk membuat kebahagiaan itu sendiri. Ya, salah satunya dengan menikmati taman Fourteen Roses, berenang cantik (aku lebih memilih berenang pada malam hari karena cenderung sepi), bersantai, lalu berjalan-jalan di sekitar Legian.

Gerbang depan Fourteen Roses
Dekorasi bergambar kepala Buddha.
Legian dalam pelukan. Itulah temaku dua hari itu. Keuntungan memilih Fourteen Roses sebagai tempat menginap adalah dekat dengan jantung wisata Pulau Bali. Tempat ini hanya beberapa blok ke kawasan Kuta dan Denpasar. Di ujung jalan, aku sempat mengunjungi Monumen Bom Bali I hanya dengan berjalan kaki. Monumen dengan ratusan nama korban pengeboman oleh teroris beberapa tahun lalu telah menjadi bukti sejarah kelam Kota Denpasar. Hingar bingar Legian sempat redup pascatragedi itu. Tragedi itu selintas mengingatkanku pada materi kuliah tentang filosofi kosmopolitan. Konsep yang memberi keleluasaan, menghapus batas yang lokal (the local) dan yang liyan (the stranger), mengaburkan makna rumah (home), dan bergabung dalam konsep world citizen. Mungkin saja konsep world citizen itu sedang terjadi di lokasi ini dan saling menyerap norma satu sama lain lalu menyatukannya dalam satu kesatuan pemahaman. Namun, pergerakan itu terusik dengan tragedi bom saat itu padahal mungkin saja pemahaman tentang hidup Kosmopolitan itu belum bulat. Budaya dan agama yang membatasi nilai dan ideologi itu. Aku rasa Kosmopolitan tidak benar-benar terjadi dalam nadi negara ini selama kedua hal itu masih saling bertikai dan belum bernegosiasi. Hmm, pantas dijadikan wacana.

Tinggal beberapa hari di Fourteen Roses di pinggiran Legian membuatku menyerap banyak hal. Keramaian Legian tak mengusik ketenangan di Fourteen Roses. Beruntung sekali The Geography Bliss ada di genggaman. Tepat sekali dengan suasana harmonis di sini untuk mencari pola kebahagiaan sesuai isi buku. The Geography of Bliss memang menjadi bacaan santai yang yahud. Ada, ya, orang yang rela traveling untuk memperhatikan bagaimana masyarakat lokal suatu negara saling berinteraksi. Lalu bagaimana itu semua membuat masyarakat itu bahagia? Kegelisahan itu bukan tentang materi, fungsi, atau kelas sosial. Kadang sumber kebahagiaan itu berasal dari hal sederhana, sesederhana liburan singkat akhir mingguku di Pulau Bali. Ternyata antara kuliah dan liburan itu bisa berjalan berbarengan.

Monumen Bom Bali I

Fourteen Roses Hotel
Jln. Legian 153 Kuta
Bali 80361
Telp. (0361)752078

0 komentar:

Semarang Heritage: Klenteng Sam Poo Kong sebagai Tempat Ibadah, Sejarah, dan Ziarah

Ini bukan sedang di negeri Cina, tapi di Semarang, tempat peninggalan seorang Laksamana dari Tiongkok yang pernah mampir. Ini cerita tentang Laksamana Cheng Ho atau Zheng He atau juga Sam Po Tay Djien yang berlayar di Laut Jawa dan akhirnya berlabuh di Pulau Tirang (nama Semarang pada waktu itu). Laksamana Cheng Ho ini cukup terkenal menoreh catatan-catatan sejarah pelayaran dunia, berdampingan dengan nama-nama besar dari Eropa seperti Columbus dan Marcopolo. Nama Cheng Ho cukup terkenal di daratan Melayu karena dia adalah seorang pelaut dari Cina yang beragama Islam. Haji Mahmud Shams adalah nama Islamnya. Sebelum ini, aku pernah menulis tentang masjid peninggalan Cheng Ho di Surabaya (bisa dibaca di sini).

Cheng Ho memang sedang mengarungi dunia untuk suatu misi damai dan menyebarkan agama. Sekitar abad ke-15, Cheng Ho sampai ke Indonesia. Semarang menjadi tempatnya berlabuh di luar rencana, lantaran ada awak kapalnya yang sakit dan butuh perawatan. Sosoknya sangat didewakan oleh para awaknya. Saat Cheng Ho melanjutkan perjalanan, banyak di antara awak kapalnya yang memilih tinggal dan menikah dengan masyarakat setempat. Dari sana, cerita berpindah. Kemahsyuran Cheng Ho terdengar hingga pelosok negeri. Bahkan sampai ia meninggal, Cheng Ho dianggap dewa oleh masyarakat keturunan Tiong Hoa, khususnya penganut Kong Hu Cu.

Klenteng Sam Poo Kong menjadi saksi bahwa Cheng Ho memang pernah ke sini. Sebelum jadi klenteng, tempat ini hanya berupa gua batu tempat laksamana dari Tiongkok ini beristirahat bersama para awak kapalnya. Tak jauh dari mulut gua, terdapat altar tempat Cheng Ho melakukan salat dan awaknya bersembahyang. Harmoni perbedaan agama yang pernah terjalin di klenteng ini pada masa lampau.

Sepeninggal Cheng Ho, Gua Batu ini sempat ambruk. Melihat napak tilas Cheng Ho yang membawa perdamaian di beberapa wilayah, khususnya Pulau Jawa, gua batu dibangun kembali menjadi Gedong Batu atau Kedong Batu sebagai tanda jejak pertama laksamana dari Tiongkok ini. Sejak itu pula patung Cheng Ho dibangun di dekat lokasi yang pernah jadi altar untuk melakukan ibadah. Masyarakat keturunan Tionghoa yang sangat menghormati sosok Cheng Ho ini akhirnya menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat sembahyang serta pemujaan, khususnya bagi yang memeluk agama Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao. Sejak itulah tempat itu didaulat menjadi Klenteng Sam Poo Kong. Kini, fungsi klenteng tak cuma sebagai tempat beribadah, tetapi juga sebagai kuil tempat wisata sejarah di Semarang. Bahkan kuil ini adalah kuil peninggalan Cina tertua di Semarang.

Menapak tilas jejak Cheng He di Semarang.

Area depan Sam Poo Kong

Kawasan luas Klenteng Sam Poo Kong

Arena pertunjukan yang menjadi pusat keramaian.
Itulah sedikit kisah tentang Sam Poo Kong yang kudengar saat mengunjungi bangunan percampuran budaya Cina dan Jawa ini. Saat memasuki area Sam Poo Kong, parkiran yang penuh menyambutku. Rupanya banyak sekali yang ingin melihat peninggalan kebesaran Cheng Ho di klenteng ini. Setelah membayar tiket masuk yang murah meriah (hanya Rp3.000), aku berjalan ke gerbang klenteng dan sampailah di lapangan lebar dengan patung Laksamana Cheng Ho yang menjulang (seperti patung Jenderal Sudirman di Jakarta) di tengah-tengahnya. Sejumlah patung berukuran lebih kecil juga tampak menghiasi bagian lapangan dan pinggir bangunan. Berada di tengah-tengah lapangan ini, aku dapat melihat kemegahan bangunan tradisional Cina, seperti gerbang gapura dengan pintu besi raksasa (menyerupai benteng), bangunan klenteng sebagai tempat sembahyang, serta sebuah panggung lebar yang kesemuanya bernuansa merah keemasan. Kebetulan saat itu, di area panggung terbuka persis di sisi kiri lapangan, sedang ada pertunjukan barongsai. Serasa berada di kuil-kuil negeri Cina.

Aku memperhatikan satu demi satu desain bangunan sekitar klenteng ini. Atap yang berjenjang-jenjang telah menjadi ciri khas arsitektur bangunan Cina selama berabad-abad. Di bagian ujung gentengnya yang melengkung ke atas terdapat barisan patung beberapa binatang berukuran mini. Sekilas tak terlihat, tapi cukup memberikan aksen desain gedung-gedung Cina. Bangunan-bangunan bernuansa merah ini dipenuhi oleh ornamen naga, khususnya sangat terlihat di bangunan klenteng utama.

Klenteng Utama Sam Poo Kong

Patung binatang di ujung genteng.

Ornamen Naga.

Klenteng Dewa Bumi denngan 8 patung Dewa Penjuru Angin.
Di depan Klenteng Kyai Jangkar

FYI, klenteng ini sendiri sudah berumur 4 abad sejak gua batu dibangun kembali tahun 1724 oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Ada beberapa bangunan yang dipagar, khusus untuk umat Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao bersembayang. Kata seorang teman, dulu beberapa bangunan itu tidak dipagar yang merupakan pusat pemujaan, sehingga semua pengunjung dari berbagai agama bisa masuk. Namun karena pengunjung semakin banyak, untuk menjaga kekhusyukkan orang yang sedang beribadah, masuk ke area klenteng dikenai biaya. Padahal pusat sejarahnya itu justru bermula di area yang dipagar ini karena di belakang bangunan klenteng yang lebih besar, terdapat relief kisah perjalanan Cheng Ho saat berlabuh di kota ini. Relief di dinding merupakan gedung batu yang dimaksud yang dulunya adalah gua tempat Cheng Ho dan awak kapalnya pernah tinggal.

Gua batu yang bersejarah itu diperindah dan dinamakan Gua Pemujaan Sam Poo Kong. Sam Poo sendiri ditujukan pada Laksamana Cheng Ho yang dijadikan dewa oleh penganut agama Kong Hu Cu. Altar pemujaan terletak di bawah tanah bangunan Klenteng Utama yang dipenuhi oleh ornamen naga. Ini adalah bangunan paling besar di area Kuil Sam Poo Kong. Di sebelahnya berdiri Klenteng Dewa Bumi yang di depannya berjajar 8 patung dewa penjuru angin yang dipercaya oleh kaum Kong Hu Cu. Di sampingnya lagi terdapat Klenteng Kyai Juru Mudi yang berukuran lebih kecil. Aslinya Kyai Juru Mudi ini adalah makam Kyai Juru Mudi alias Wang Jinghong si pengemudi (juru mudi) kapal Cheng Ho yang juga beragama muslim. Makamnya diletakkan di atas anjungan dan terpisah dari titik pemujaan agar peziarah muslim juga dapat melihat makam ini.

Bangunan paling ujung dari komplek klenteng ini adalah Klenteng Kyai Jangkar, tempat pemujaan untuk Jangkar Suci, nabi dalam Kong Hu Cu serta arwah Ho Ping. Di dalamnya terdapat jangkar peninggalan kapal Laksamana Cheng He.

Agar dapat masuk ke sudut-sudut bersejarah di Sam Poo Kong, aku harus membeli tiket Rp20.000. Tanpa mengganggu orang-orang yang sedang bersembayang, aku melintasi bangunan-bangunan klenteng dan memperhatikan bangunan serta ornamennya dari luar. Tak lupa aku melongok ke mulut bekas gua batu yang saat itu tertutup, hanya boleh dimasuki oleh orang yang akan bersembayang. Aku pun hanya dapat menikmati relief di dinding sepanjang gua batu yang berada di belakang Klenteng Utama. Dari sanalah cerita sejarah Cheng He dimulai di negeri ini.

Sejarah Laksamana Cheng Ho berlayar ke Samudera Barat.

Jalan menuju Gua Pemujaan Sam Poo Kong, yang dulunya adalah Gua Batu.


Berada di kawasan Klenteng Sam Poo Kong, menambah banyak wawasanku tentang perdagangan dan penyebaran agama melalui jalur laut. Klenteng Sam Poo Kong menjadi menarik karena sosok Cheng Ho sendiri adalah seorang saudagar dan pelaut muslim dari negeri Cina. Bagi kaum Kong Hu Cu, sosoknya sangat dipuja dan dijadikan dewa. Umat Kong Hu Cu percaya bahwa arwah orang yang sudah meninggal akan membawa keselamatan. Pengaruh kebudayaan Cina begitu kuat karena Cheng Ho dianggap sebagai pahlawan di tanah Tiongkok itu. Bangunan-bangunan arsitektur Cina memenuhi setiap sudut dan bangunan di Sam Poo Kong. Sam Poo Kong didirikan sebagai lokasi pemujaan dan peribadatan penganut ajaran Tridharma. Sementara itu, lokasi ini tidak tertutup untuk umat beragama yang lain. Bagi umat Islam, sosok Cheng Ho merupakan pembawa kabar gembira. Beberapa makam awak kapal Cheng Ho terdapat di area klenteng ini. Oleh karena itu, ketika Sam Poo Kong menjadi tempat ibadah umat Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha, umat Islam menjadikannya tempat ziarah makam Kyai yang pernah menjelajah bersama Laksamana Cheng Ho, lalu juga menjadi area bersejarah untuk semua orang.

2 komentar:

Jalan-Jalan ke Passer Baroe Saat Imlek

Sabtu pagi yang mendung, aku berangkat dari rumah menuju halte busway Bundaran Senayan. Ini meeting point kegiatan Site Visit Busway ke Passer Baroe. Event ini diadakan oleh NGO ITDP, bekerja sama dengan Transjakarta dan Komunitas Jakarta Walking Tour.


Karena bekerja sama dengan PT Transjakarta, kami akan ditraktir jalan-jalan di seputaran Jakarta naik Transjakarta dan Bus City Tour bertingkat. Hore.

Tepat pukul 08.30, Transjakarta yang disediakan khusus untuk kami para peserta walking tour hari itu tiba. Bus Transjakarta yang mengangkut kami ini termasuk edisi vintage series. Apa bedanya dengan Transjakarta yang lain?

Bus Vintage Series ini memuat bangku yang semuanya berbaris menghadap ke depan seperti bus-bus pada umumnya. Interiornya dimeriahkan oleh pamflet iklan zaman dulu serta kliping koran dan majalah edisi bertahun-tahun yang lalu. Terasa epik meskipun AC tetap berhembus tajam, membuat hari yang mendung semakin dingin. Satu lagi yang mencolok perbedaan yaitu klakson bus ini berbunyi telolet. Seru sekali setiap sopir membunyikan klakson, kami semua bersorak kegirangan. Om telolet om.




Sepanjang perjalanan, kami diceritakan banyak hal tentang Transjakarta dan perencanaannya terhadap Jakarta. FYI, koridor Transjakarta adalah koridor bus terpanjang di dunia, yaitu mencapai 208 km dengan 232 halte dan 12 koridor per tahun 2016. Keren, ya. Jangan ragu lagi untuk menggunakan fasilitas transportasi umum di Jakarta karena semua sedang dibenahi satu per satu.

Saat asyik bercerita tentang kemacetan Jakarta, bus kami berhenti sebentar di depan Museum Nasional. Semua peserta diperkenankan untuk memotret bus Transjakarta yang konon hanya tersedia 2 unit vintage series dan hanya ada di koridor 1 ini. Anyway, jepret-jepret sepanjang jalan ini berhadiah lho. Jadi tak heran kalau aku antusias sekali jepret sana-sini.

Bus kemudian berhenti lagi di halte Juanda, persis di seberang Masjid Istiqlal. Dari sinilah kami mulai berjalan. Ya, berjalan. Salah satu tujuan walking tour ini memang mengajak kita menghargai keberadaan trotoar. Mulailah hidup sehat dengan berjalan kaki dan nikmati pemandangan kota, mengetahui sejarahnya, dan mengagumi cerita dari sebuah bangunan.




Kami melintasi halaman samping Masjid Istiqlal dan menyeberang ke arah Kathedral. Aku belum menyadari sebelumnya bahwa di antara Masjid dan Kathedral, ada 2 waktu yang membuktikan fakta bahwa perbedaan itu tak pernah memecah belah kita. Setiap pukul 12 siang dan 6 sore, lonceng gereja berdentang serta diikuti oleh azan zuhur dan magrib. Antara lonceng dan suara azan telah bersahut-sahutan selama bertahun-tahun. Orang yang berada di dalam masjid, dapat mendengar suara lonceng gereja. Begitu juga dengan orang yang berada di dalam gereja, dapat mendengar suara azan. Suatu harmoni yang tak pernah kita sadari seutuhnya.

Saat guide bercerita, hujan pun turun. Kami berteduh di halaman depan sekolah Santa Ursula. Gedung Santa Ursula adalah gedung peninggalan Belanda dan menjadi cagar budaya di Jakarta. Tak heran, jika sekolah ini memiliki jendela yang tinggi-tinggi dengan pilar kokoh sebagai tiang-tiangnya. Di sebelah Santa Ursula terdapat Gedung Filateli Jakarta yang dulu adalah Kantor Pos Indonesia. Gedung ini pun masih asri dan bersejarah sekali. Sayangnya aku tak bisa masuk melihat koleksi perangko dari tahun ke tahun karena hari Sabtu dan bertepatan dengan Imlek.

Kami menyusuri trotoar dan berbelok memutar. Sampailah kami di Gedung Kesenian Jakarta. Kalau ke sini, aku sudah berkali-kali masuk. Bahkan sejak kecil, aku telah akrab dengan tempat ini, berhubung orangtuaku pernah mengadakan pertunjukan dan ikut beberapa event kesenian di sini. Terakhir ke sini adalah saat aku menghadiri teater Bunga Penutup Abad, ulasannya dapat dilihat di sini.





Dari Gedung Kesenian Jakarta, kami tinggal menyeberang ke Passer Baroe dan mampir ke Kantor Berita Antara. Ya, kalau diingat-ingat pelajaran Sejarah, Radio Antara sangat berjasa menyebarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Takjub juga kantor berita Antara masih ada sampai sekarang. Bangunannya berwarna putih dan menjadi salah satu peninggalan Belanda. Kantor Antara terletak di pinggir sungai Ciliwung, di sebelah pilar gerbang Passer Baroe. Karena lagi-lagi tidak bisa masuk ke kantornya, aku langsung saja berjalan memasuki area ruko Passer Baroe.

Passer Baroe ini didirikan tahun 1820 dan menjadi ramai saat itu. Passer Baroe ini merupakan satu dari 3 pasar tertua di Jakarta. Yang lebih tua adalah Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Nah, Passer Baroe ini jadi kawasan orang India pada zaman Batavia. Ada berbagai toko yang umurnya sudah sangat tua tapi masih berdiri sampai hari ini. Pedagang Tioghoa, India, Arab, dan pribumi pernah bersatu di sini zaman dulu. Patut jadi inspirasi kita hari ini ya biar isu perbedaan SARA tidak memecah-belah bangsa ini.



Sekilas, Passer Baroe tampak seperti pasar-pasar biasa. Tapi, jika ditelusuri, konsep ruko alias rumah-toko itu sudah ada berabad yang lalu, ya. Konsep rumah di Tiongkok yang didominasi oleh pedagang masuk ke Batavia. Bagian bawah bangunan adalah tokonya, sementara pemilik toko tinggal di lantai atas. Lantai akan bertambah terus ke atas saat pemilik toko berkembang dan beranak-pinak. Begitulah konsep tempat tinggal bagi orang Tiongkok, dan kita mengadopsinya. Peninggalan-peninggalan itu masih terlihat hingga hari ini di Passer Baroe. Masih ada pula toko-toko kuno yang tetap eksis seperti toko sepatu Sin Lie Seng yang punya garansi sepatu kulit seumur hidup dan Lee Ie Seng, toserba sejak tahun 1873.


Hampir sampai di ujung pasar, kami berbelok kanan ke arah sebuah vihara yang juga sudah sangat tua, Sin Tek Bio. Kebetulan banyak orang sedang bersembayang dalam rangka imlek. Bau dupa merebak di sepanjang gang sempit area vihara. Aku hanya dapat mengambil gambar dari luar vihara karena takut mengganggu umat Buddha bersembayang. Ada puluhan lilin menyala dan nuansa merah memenuhi keseluruhan vihara. Dulu, Sin Tek Bio tidak berada di gang sempit seperti sekarang. Bangunan di depan Vihara ini belum ada sehingga vihara ini tampak terbuka. Saat ini keadaanya berbeda. Vihara terletak di ujung gang sempit tanpa ada penunjuk papan arah keberadaan tempat peribadatan umat Buddha ini.

Di bagian belakang vihara dapat kita lihat arsitektur kuno peninggalan etnis Tionghoa. Rumah-rumah sempit dengan pintu yang sangat rendah. Gang tempat kami melintas itu disebut Gang Kelinci karena dulu terdapat banyak kelinci lewat di sini. Wah, jadi ingat lagu anak-anak yang menyebut-nyebut gang kelinci.



Walking tour berakhir saat kami menyusuri Gang Kelinci dan tertumbuk pada sebuah gereja peninggalan Portugis. Gereja ini merupakan gereja tua Protestan di Indonesia bagian barat. Nuansa Eropa sangat kental terlihat dari menara dan beberapa relief binatang pada kaca jendela di atas pintu gereja.

Begitulah rute jalan-jalanku di Passer Baroe, melihat-lihat bangunan peninggalan Belanda, Portugis, dan Tiongkok. Kami beristirahat sembari makan siang di restoran Bakmi Kelinci yang memang berada di Gang Kelinci. Setelah itu, sebuah bus city tour bertingkat siap mengangkut kami dari halte Passer Baroe kembali ke Bundaran Senayan.


FYI, ada hal yang baru aku tahu bahwa bus City Tour disebut Mpok City karena semua pengemudi bus bertingkat ini perempuan alias mpok-mpok dalam bahasa Betawi. Kenapa harus mpok-mpok? Karena perempuan dipercaya dapat mengemudi dengan sabar. Bus City Tour melaju sangat pelan untuk memperkenalkan para penumpang (yang disebut wisatawan) tentang pusat Kota Jakarta. Free. Jadi tidak kejar setoran sehingga tidak ada alasan untuk kebut-kebutan.

Acara jalan-jalan ini diakhiri dengan bagi-bagi hadiah dari ITDP di atas bus city tour. Tak disangka-sangka, aku menang lomba fotografi di Instagram yang bertema Bus Transjakarta. Yuhuuu, usai walking tour, aku bawa pulang voucher belanja Carrefour senilai Rp500.000. Lumayan untuk stok bulanan. Terima kasih tim penyelenggara.


0 komentar:

Menginap di Hotel Grand Zuri BSD City

Beberapa waktu lalu, aku dapat voucher menginap di Hotel Grand Zuri Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang. Tinggal mencari waktu yang tepat, nih, buat menginap. Kebetulan sekali, tak lama berselang, aku dapat undangan pernikahan dari seorang teman di wilayah Jakarta Barat. Berhubung aku dan Junisatya tinggal di Depok dan jadwal undangannya pagi, aku pun memutuskan menggunakan voucher Hotel Grand Zuri BSD pada hari itu. Setidaknya tidak terlalu jauh kan jarak BSD-Jakarta Barat.



Hotel Grand Zuri memang sudah ada cabang di mana-mana. Namun, ini kali pertama aku menyempatkan diri menikmati hospitality di hotel bintang 4 ini pada libur weekend yang singkat. Tidak susah menemukan Hotel Grand Zuri BSD. Tak jauh dari pusat perbelanjaan BSD, kok, termasuk AEON Mall. Bahkan hotel ini hanya berjarak sejengkal ke Ocean Park, waterboom besar di kawasan BSD. Sayangnya, bukan saat yang tepat buatku untuk mampir ke Ocean Park. Mungkin kali yang lain.

Bangunan Eropa klasik berwarna putih tampak berdiri megah saat aku memasuki halaman depan hotel. Kami langsung menuju basement untuk parkir dan langsung check in. Kesan mewah pada interior lobinya menyambut kami. Ceiling-nya yang tinggi dengan jendela-jendela lebar memberi kesan lega dan besar pada bagian lobi. Beberapa sofa empuk tampak ditata sangat rapi agar tidak membuat lobi ini terlalu penuh.

Kami menginap di Superior Room di lantai 6 hotel ini. Kami berjalan memasuki koridor panjang dengan tembok berwarna putih dan aksen kayu yang memberi kesan hidup di koridor itu. Beberapa lukisan abstrak dipajang di dinding sekitar lift. Dekorasi simple ini menambah kesan ramah yang dapat diberikan hotel ini kepada costumer-nya.

Di dalam kamarnya pun dipajang lukisan abstrak memanjang. Meskipun twin bed, kamar di Grand Zuri BSD tidak terasa sempit. Masih ada cukup space untuk sebuah sofa 1 seater dan meja bulat kecil di sisi jendela. Adanya elemen kayu berwarna cokelat tua di satu sisi dinding, lantai parkit, serta ornamen kayu berwarna krem pada perabotan membuat kamar ini terasa lebih nyaman dan hangat. Partisi kayu ini tak mengurangi kesan mewah sedikit pun, malah justru sebaliknya.






Fasilitas kamar hotel ini cukup lengkap. Teh dan kopi tersedia. Lalu peralatan mandi juga tertata rapi di wastafel kamar mandi. Dua buah handuk terlipat di bagian rak kamar mandi. Ada hair dryer juga di sini. Yeay, I am so happy.




Usai istirahat sebentar di kamar sambil snacking dan nonton TV, saatnya untuk nge-gym. Yes, di Grand Zuri BSD memang disediakan area gym berdampingan dengan kolam renang. Spot olahraga ini tersedia di lantai 3, di bagian sayap belakang hotel. Saat aku turun ke sana, angin malam menyapa. Area terbuka pinggir kolam renang memang cocok untuk bersantai. Pagi pun tentunya jauh lebih segar lagi. Tak sabar ingin mencicipi fasilitas gym, renang, dan sauna di sini.





Tips waktu paling oke berenang di hotel ini adalah pagi hari. Pagi-pagi banget sebelum sarapan, lebih baik langsung nyebur saja karena kolam renang masih sepi. Seperti yang kulakukan bersama Junisatya esok paginya. Kolam renangnya memang tak terlalu besar, tapi suasananya menyenangkan dan tenang. Kedalamannya cuma maksimal 1,5 meter jadi masih tergolong ramah buat anak-anak. Sehabis berenang, kita bisa langsung sauna selama 10 menit. Ruang saunanya cukup besar, jadi tidak perlu khawatir tidak dapat space untuk duduk manis menunggu keringat keluar.





Usai olahraga pagi yang menyenangkan, aku dan Junisatya pun turun ke lobi untuk sarapan. Restoran hotel ini sejajar dengan lobi depan. Dengan menu beragam, mulai dari traditional food hingga western food tersedia sebagai menu sarapan. Karena kami terlambat sarapan, beberapa menu sudah berganti. Wah, laris manis rupanya menu sarapan di hotel ini. Semuanya enak. Perutku yang mampu menampung cukup banyak makanan menjajal aneka jenis makanan yang tersedia itu dengan lahap. Sarapan kenyang, hati pun senang.





Terima kasih Grand Zuri atas hospitality-nya. Siapa tahu lain kali aku bisa menginap di hotel grup Zuri Hospitality Management lainnya.

See ya.



Grand Zuri Hotel BSD Tangerang
Jln. Pahlawan Seribu Kavling Ocean Walk
Blok CBD Lot. 6 BSD City, Serpong
Tangerang Selatan 15322

Telepon 021-29402955
Email reservation.bsd@grandzuri.com

2 komentar: