Film Dear Nathan, Kisah Bad Boy yang Memesona

Dear Nathan,
Ada kisah yang aku sampaikan
kepadamu terlebih dulu
Sebuah perasaan kaku
yang bermetamorfosa
menjadi kupu-kupu.
...
Atas nama rindu
kutulis sebuah pengakuan
mewakili suara yang tak pernah mampu kuucapkan
Aku mencintaimu

-Quote film Dear Nathan

Saat menonton film Dear Nathan, aku tak punya ekspektasi apa-apa. Namanya juga film remaja dengan artis muda, belum teruji juga, mengandalkan keriuhan novelnya yang ternyata sudah terjual jutaan eksemplar. Aku menonton karena memang ingin nonton film ringan seperti ini.

Jadilah aku duduk manis di depan layar bioskop, menikmati filmnya tanpa harus terbebani apakah film akan bagus atau tidak. Dan, ternyata, it's fun.

Mimpi apa Salma yang merupakan anak baru pindahan dari Bandung harus berurusan dengan Nathan, si anak paling badung di sekolah. Yang lebih bikin Salma nggak bisa tidur lagi adalah saat Nathan mulai menyukainya. Salma yang belum pernah pacaran, cuma anak kaku yang suka baca buku, tak kuasa menolak Nathan. Karena takut? Bukan. Karena memang suka? Salma pun masih malu mengaku. Hingga akhirnya Salma mengenal Nathan lebih dekat. Hubungan mereka membaik dan Nathan ingin berubah demi Salma, demi ibunya juga. Hingga akhirnya mereka harus putus karena suatu kesalahpahaman.

Nathan dan Salma
Nathan dan Salma. (photo by Rapi Films)
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini muncul di tengah film Indonesia lagi produktif. Tapi film ini nggak ketinggalan. Mengangkat tema remaja sudah biasa, tapi film ini membangkitkan formula lama, kisah kasih di sekolah. Sudah lama tidak menonton film yang full set adalah sekolah. Dari novelnya juga sudah terlihat bahwa Dear Nathan memang memiliki dinamika cerita sendiri.

Menjadi Nathan yang diperankan oleh Jefri Nichol, aktor baru yang kebagian peran utama dan poros cerita, tentu menjadi tantangan besar. Dengan novelnya yang laris manis, tokoh Nathan sudah lebih dulu ada di hati pembaca. Ketika Jefri Nichol muncul sebagai wujud nyata Nathan dalam film, awalnya membuatku ragu. Namun, Dear Nathan memang ditujukan untuk cowok ini. Nichol memainkannya dengan cukup apik. Kesan bad boy, arogan, dan broken home tergambar jelas di wajahnya. Ia jatuh cinta pada Salma yang dimainkan cukup lihai oleh Amanda Rawles yang sebenarnya lebih dulu kukenal sebagai beauty vlogger. Beauty and the bad boy. Itulah Dear Nathan.

jurnaland.com
Bad boy ala Jefri Nichol. (Photo by id.bookmyshow)
Tampaknya cerita tentang Bad Boy memang bikin greget. Anak muda zaman sekarang (termasuk aku lho, masih muda) lebih suka tantangan. Cewek sekarang lebih suka cowok tipe bad boy yang lebih bikin hati bergetar manja. Berbeda dengan dulu, cowok populer, kece, berprestasilah yang paling nyangkut di hati. Namun, zaman berubah, selera pun berubah. Dear Nathan menangkap fenomena itu dan memang lahir dari penulis remaja, Erisca Febriani. Tak perlu muluk, hanya butuh tindakan tanpa perlu janji-janji cinta, Salma sudah masuk perangkap cinta Nathan, bahkan aku jamin penontonnya pun akan masuk perangkap cinta Nathan dan Salma.

Dear Nathan mengangkat alur yang kompleks. Dengan banyaknya karakter dan masalah yang ditumpuk-tumpuk dalam novelnya, pihak Screenplay film ini mampu menyaringnya dan menjadikannya lebih sederhana tapi berisi. Tak seperti kebanyakan film remaja, konflik tak hanya hadir dalam 1 kejadian atau menghadirkan pemicu dari 1 arah. Dear Nathan memberikan konflik dari berbagai sisi, bertubi tapi tak lantas menumpuk. Karakter Nathan berloncatan di setiap scene dan Salma mengikuti setiap loncatan itu dengan anggun. Tanpa harus meninggalkan tanya, Dear Nathan menuntaskan konflik demi konflik dengan cara sederhana pula.

Ini adalah film drama remaja yang tak lantas membuat penontonnya ikut jadi drama king atau drama queen. Ini juga bukan film tentang tangis berlarut-larut. Layaknya remaja, yang senang-susah-sedih terpicu dalam satu semangat yang menggambarkan masa muda yang natural dan wajar, meski Bullying, broken home, patah hati, cinta segitiga masih mewarnai dinamika konfliknya. Rasanya ingin mengambil satu cerita yang fokus agar karakternya pun fokus. Namun, ternyata Dear Nathan yang manis di awal, lalu mendadak rumit di bagian tengah, tak kewalahan memberikan pesan-pesan berwarna untuk penonton. Jefri Nichol dan Amanda Rawles membuat warna baru dalam dinamika kisah cinta anak SMA. Masih wajar, sangat manis (teramat manis malah), dan tak banyak kata cinta di antara mereka, tapi sampai ke penonton. Mereka berdua cukup ikonik melewati cerita yang melelahkan dan mereka tetap stunning tanpa harus tenggelam dalam riuhnya konflik yang mewarnai sepanjang film.

jurnaland.com
"Coba liat dulu hati orang di sebelah lo." (photo by id.bookmyshow)
Sosok Salma tampil memukau, mengimbangi Nathan yang berandalan. Pemilihan wardrobe khusus untuk karakter Salma yang berwawasan juga tampak dipikirkan dengan baik. Salma secara konsisten mengenakan pakaian-pakaian santai di luar seragam sekolah. Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa sosok Salma ini mengusung tipe cewek bergaya etnik-modern dan tampak sesekali mengenakan panco. Gayanya di luar sekolah terlihat menarik dengan bohemian style. Pemilihan tas yang dikenakan Salma saat di sekolah dan saat santai juga tak jauh-jauh dari tas bermotif etnik. Hair do juga mendukung Salma gaya yang simple, berpendirian, dinamis, meski karakternya sendiri kaku. Ini yang membuat sosok Salma mudah diingat dan ikonik. Diimbangi oleh Nathan yang selalu berjaket, rambut sedikit gondrong, dan aksesoris berupa kalung simple yang menggantung di lehernya serta gelang kulit berwarna gelap di pergelangan tangan.

OST Dear Nathan, "Mata ke Hati" versi akustik dari Hivi juga cukup membuai. Hivi memang mewakili suara-suara remaja dan Dear Nathan menyuarakannya dalam cerita. Lebih renyah terasa. Kolaborasi yang apik tanpa berlebihan. Aku mengakui film ini layak tonton untuk remaja. Easy to watch. Happy watching!



0 komentar:

Jamuan di Rumah Dinas Bupati Lampung Timur

Saat itu, aku masih asing dengan Lampung Timur. Provinsi Lampung memang luas. Selama ini aku hanya tahu jalur Lintas Sumatera jika perjalanan darat dari Padang ke Jakarta. Itu juga dulu sekali, saat beberapa kali ikut rombongan tur kesenian dan kebudayaan orangtuaku dan study tour dari sekolah.

Aku baru benar-benar mengenal Lampung itu sejak menikah, mertua sedang dinas di Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, dan suami (Junisatya) punya beberapa keluarga di Bandar Lampung. Aku hanya menghabiskan waktu memutari Bandar Lampung dan selebihnya selalu menginap di rumah mertua (lebih tepat dibilang rumah dinas kejaksaan). Aku pernah trip ke Pahawang juga bersama teman-teman travelers dan menginap di Pulau Kelagian. Pengetahuanku tentang Lampung hanya segelintir, salah satunya keripik pisang cokelat yang memang oleh-oleh khas dari sana. Seorang teman asal Lampung pernah membawakannya untukku saat masih kuliah dulu. Nah, siapa sangka, kali ini aku diajak keliling Kabupaten Lampung Timur dan dijamu langsung oleh Bupatinya, Ibu Chusnunia.

jurnaland.com
Rumah Dinas Bupati Lampung Timur. (Photo by Haryadi Yansyah)
Ya, saat Festival Panen Padi diadakan, aku langsung menuju Lampung. Ini juga pengalaman pertama nih naik pesawat dari Jakarta ke Lampung. Biasanya lewat jalur darat dan menyeberang Merak-Bakauheni. Naik pesawat pun sebenarnya tak berasa, hanya 30-50 menit berada di udara. Karena penerbangan pagi dan aku harus berangkat subuh dari rumah, begitu duduk manis di kabin pesawat, aku langsung memutuskan tidur. Eh, baru saja terlelap, pesawat sudah mendarat. Ah, tanggung sekali, penerbangan tersingkat yang pernah kualami.

Bandara Radin Inten II yang berlokasi di Lampung Selatan menyambutku yang masih terkantuk-kantuk. Tak apa, Lampung Timur masih jauh dari sana. Dengan mobil jemputan, aku duduk dengan posisi akan tidur, tapi ternyata Lampung punya cara sendiri dalam hal penyambutan. Jalanan berliku dan berlubang membuatku joget disko di dalam mobil. Tidur yang tertunda, kupikir.

jurnaland.com
Kumpul blogger di rumah dinas.
Rumah dinas Bupati Lampung Timur
Nyeruit bareng. Bupati nggak bisa hadir. (Photo by Yopie)
Usai bersuka ria dengan Festival Panen Padi Lampung Timur 2017 yang meriah, aku dan teman-teman blogger Indonesia Corners dari berbagai daerah diantar ke Rumah Dinas Bupati Lampung Timur. Aku merasa tersanjung dengan jamuan ini. Sebegitu welcome orang Lampung Timur kepada kami.

Sore hari, kami sampai di sebuah kawasan hunian yang sunyi dengan halaman rumah yang cukup luas. Sampailah kami di Rumah Dinas yang dimaksud. Dengan mengambil aksen rumah panggung dengan ornamen khas rumah adat Lampung, rumah dinas ini terasa homey. Ada patung gajah kecil di kiri-kanan teras. Tentu saja, wilayah Lampung Timur kan terkenal dengan Pusat Konservasi Gajah di hutan Waykambas. Pantas saja, patung gajah ada di mana-mana di kawasan ini.

Ibu Chusnunia yang jadi Bupati Lampung Timur yang cantik itu tidak tinggal di rumah ini. Rumah Dinas biasanya ditujukan untuk menjamu tamu kehormatan Ibu Bupati Lampung Timur. Wah, kami seistimewa itu. Para asisten rumah dinas sudah menyambut kami dengan hangat. Kopi hitam khas Lampung disuguhi beserta pot-pot camilan dan buah-buahan yang super banyak. Makan malam pun khusus dimasak oleh mereka dengan menu khas pula. Baik sekali, ya.

Festival Panen Padi Lampung Timur 2017
Bagian lobi utama rumah dinas.
jurnaland.com
Menyerupai motif yang banyak di kain tapis khas Lampung.
Ornamen rumah adat Lampung Timur
Halaman depan rumah dinas disambut oleh patung gajah yang ikonik.
jurnaland.com
Halaman belakang rumah dinas.
jurnaland.com
Spot favorit di rumah dinas.
Ada dua kamar besar tersedia untuk kami. Ada ruang tamu panjang tempat kami menghabiskan malam bersenda gurau. Ada gazebo kecil di halaman belakang yang tenang dan damai. Ada ruang makan lebar yang selalu tahu kebutuhan perut kami. Ada seruit enak dan nikmat sebagai makanan khas Lampung. Wah, kami serasa di vila sendiri.

Jangan ditanya bagaimana suasana pagi hari di sini? Ada jalan sepi di depan rumah yang bisa dijadikan jogging track. Sebenarnya kawasan Rumah Dinas ini merupakan pusat perkantoran pemda setempat. Ada lapangan olahraga juga tak jauh dari sana. Tapi, pagi-pagi di sini tak seperti pagi di Jakarta yang sudah ramai sejak pukul 5 subuh. Aku serasa menginap di rumah nenek yang segar, tentram, dan adem. Kalau Lampung Timur ada acara lagi, aku mau lho datang dan menginap di sini. Bupati Lampung Timur sungguh welcome. Terima kasih, Bu Chusnunia, sudah mau menampung kami menginap semalam di rumah dinas.

Festival Panen Padi 2017
Tim Id Corners yang dijamu oleh Bupati Lampung Timur dan Gubernur Lampung.

6 komentar:

Menikmati Kota Bandar Lampung dari Puncak Mas

Bandar Lampung punya spot nongkrong baru yang asyik. Anak-anak hits se-Lampung dan wisatawan wajib berkunjung ke Puncak Mas, bisa menginap, bisa pula sekadar duduk-duduk menikmati pagi, senja, dan malam hari.

Dari namanya--Puncak Mas--kita bisa langsung tahu bahwa lokasinya tentu di daerah ketinggian. Meski nggak tinggi-tinggi amat--tidak seperti kawasan Puncak di Bogor Jawa barat--kita bisa melihat kota Bandar Lampung dari ketinggian. Tempatnya nyaman, sejuk, dan segar. Pas untuk membunuh jemu di akhir pekan.

jurnaland.com
Puncak Mas jadi hits di Bandar Lampung karena kafe terbuka ini.
jurnaland.com
Puncak Mas Bandar Lampung
Puncak Mas ini dibangun oleh Bapak Thomas Aziz Riska, seorang pengusaha di Lampung. Mulanya sang owner hanya ingin memanfaatkan tanah di lereng bukit kawasan Teluk Betung ini untuk investasi vila pribadi di kawasan Sukadanaham, Tanjung Karang. Namun, dalam perkembangannya, Pak Thomas ingin menciptakan area hiburan dan liburan keluarga yang tenang dan damai. 

Hanya berbekal tiket masuk Rp20.000 (anggap saja bayar parkir dan bisa seharian), kamu bisa nongkrong di kafe terbuka ala Puncak Mas. Seperti apa? Persis di pinggir bukit yang menghadap ke arah kota di kejauhan didirikan pendopo atau gazebo yang jumlahnya belasan. Ada beberapa ayunan dan rumah pohon dengan kapasitas berbeda. Tak lupa, ada semacam altar lebar dengan meja dan bangku di bawah payung-payung bundar ala di pantai. Di paling pinggir terdapat panggung kecil tempat para DJ beraksi. Yes, ada DJ juga yang bikin suasana bukit lebih semarak. Kamu bisa request lagu juga. Memandang panorama Lampung yang berbatasan langsung dengan laut sembari nyanyi riang bersama keluarga, teman, atau pasangan rasanya hidup ini lengkap, ya.

jurnaland.com
Teluk Lampung di kejauhan terlihat dari Puncak Mas.
jurnaland.com
View dari Pohon Cinta Puncak Mas.
jurnaland.com
DJ siap menggoyang Puncak Mas.
Puncak Mas sangat cocok untuk tempat gathering. Taman yang luas serta ada arena khusus anak-anak, Puncak Mas sangat bersahabat. Ada lagi nih, yang unik, yaitu musala terpisah untuk perempuan dan laki-laki di rumah pohon. Musala saja sampai niat dibuatkan rumah pohon. Sensasi salat tentu akan berbeda dari biasanya, setelah wudu kita harus naik tangga kayu dan salat tanpa gangguan di atas pohon.

Sebenarnya Puncak Mas tidak hanya berupa cafe terbuka. Ada resort yang sedang dibangun di lereng bukit lengkap dengan fasilitas kolam renang dan taman. Menginap di resort lereng bukit seperti ini sangat aduhai. Kamu akan puas menikmati sunrise dari arah timur, bermain di alam terbuka Puncak Mas, menghabiskan sore sembari minum kopi atau teh, serta memandang panorama Bandar Lampung yang berkelap-kelip pada malam hari. Jangan lupa, jika malam cerah, menatap bintang pun bisa sepuasnya di rumah pohon.

staycation di Puncak Mas, jurnaland.com
Gazebo luas dan terbuka di Puncak Mas.

staycation di Puncak Mas, jurnaland.com
Bersantai di Puncak Mas.
jurnaland.com
Rumah Pohon yang memicu adrenalin. (photo by raiyani.net)
Puncak Mas akan soft launching dalam waktu dekat. Belum launching saja, area ini sudah ramai pada malam minggu. Jika fasilitas sudah dirapikan dan resort serta tambahan gazebo di lereng bukit sudah jadi, tentu Puncak Mas jadi lebih meriah. Aku beruntung menyempatkan diri menginap di Puncak Mas ini. Pak Thomas dengan baik hati mempersilakan kami, tim blogger Indonesia Corners, untuk bermalam di vila pribadinya di Puncak Mas. Vila dengan 3 kamar lengkap dengan ruang tamu, ruang tengah, serta dapur ini menjadi sungguh nyaman ditempati. Meski di perbukitan, bermalam di sini tidak terlalu dingin. Malam temaram ditemani segelas kopi, it was perfect.

Pagi-pagi sekali, saat buka pintu, pemandangan oranye terhampar di depan mata. Sayup-sayup matahari mengintip dari balik bukit yang jauh di sana. Kabut masih membayang. Teluk Lampung tampak bersinar sementara kota Bandar Lampung masih teridur rupanya. Kamu tidak boleh melewatkan suasana pagi yang priceless ini.

jurnaland.com
Suasana malam syahdu di Puncak Mas.
jurnaland.com
View Kota Bandar Lampung pada malam hari di Puncak Mas. (Photo by raiyani.net)
staycation di Puncak Mas, jurnaland.com
Pagi berkabut di Puncak Mas Lampung. (photo by raiyani.net)
staycation di Puncak Mas, jurnaland.com
Pagi-pagi sekali, Puncak Mas sudah ramai oleh anak-anak yang ingin menghirup udara segar. (photo by raiyani.net)
Seandainya kolam renang di resort ini sudah jadi, tentu berenang pagi hari (pukul 06.00) akan membuat pagi menjadi luar biasa epik. Kolam renang di lereng bukit dengan pemandangan yang menghadap ke timur, kamu tidak akan bisa membayangkan sebelum benar-benar menikmatinya langsung. Melihat matahari terbit ditemani kabut tipis dan udara super segar sambil berenang-renang cantik, apalagi disajikan orange juice dari kafe, hmm, aku rindu pagi sehat dan nikmat seperti itu. Someday, jika ke Lampung, aku akan mampir lagi ke Puncak Mas ini dan stay beberapa malam. Cihuy.




Puncak Mas
Jln. H. Hamim RJP, Sukadana Ham
Tanjung Karang Barat
Lampung 35215
Cafe open 08.00-22.00

18 komentar:

Jalan-Jalan ke Trinity The Nekad Traveler Gala Premiere Bandar Lampung

Ini kali pertama aku diundang gala premiere tidak di Jakarta. Aku dapat undangan gala premiere ini juga tidak mendadak seperti gala premiere film-film Indonesia lain. Karena berlokasi di Lampung, dua minggu sebelumnya, undangan Trinity, The Nekad Traveler Gala Premiere menghampiriku. Kebetulan pula undangan itu berbarengan dengan undangan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Timur untuk hadir di Festival Panen Padi mereka. Oke, jadwalnya cocok. Jadi, aku pun bersiap berangkat ke Lampung.

jurnaland.com
Undangan Gala Premiere TTNT Movie VIP di Bandar Lampung.

jurnaland.com
Hamish Daud di Red Carpet TTNT. (Photo by Yopie)

Tim Produser TTNT Movie. (Photo by Yopie)

Gala Premiere film Trinity The Nekad Traveler (TTNT) agak berbeda ya dari film-film lain. Karena film ini mengangkat tema traveling dari sebuah buku traveling teranyar karya Trinity, gala premiere pun harus traveling. Lucu juga ya, aku datang jauh-jauh dari Jakarta ke Lampung untuk sebuah gala premiere film tentang traveling, padahal nanti juga pihak production house Tujuh Bintang Sinema juga akan mengadakan gala premiere sendiri di Jakarta. Tak apa, ini jadi alasanku untuk mengunjungi Lampung, bukan? FYI, TTNT memang mengadakan gala premiere tour di 4 kota. Lampung, Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Biasanya Jakarta nomor satu ya untuk penayangan perdana dari sebuah film Indonesia. Tapi, TTNT membaliknya. Lampung menjadi target nomor satu.

Ini mengingatkanku pada film Ada Apa dengan Cinta? 2 yang memilih Yogyakarta sebagai lokasi gala premiere film tersebut. Dari Yogyakarta, gala premiere khusus pun diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Tentu ada alasan kenapa Yogyakarta dipilih sebagai tempat penayangan perdana film AADC? 2, yaitu karena AADC 2 banyak mengeksplor Yogyakarta dalam filmnya dan menjadi momentum pertemuan Cinta dan Rangga setelah 14 tahun berlalu. Nah, begitu juga dengan film TTNT yang digarap oleh sutradara Rizal Mantovani ini.

jurnaland.com
Suasana Press Conference Film TTNT di Mahan Agung, rumah dinas Gubernur Lampung.
Dalam proses produksinya, TTNT mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah Lampung. Bapak M. Ridho Ficardo selaku Gubernur Lampung yang kece mengaku sangat senang dengan adanya film TTNT yang menyorot beberapa sisi potensi wisata Lampung yang belum banyak diketahui orang. Tidak tanggung-tanggung, ada 3 spot Lampung yang dijadikan lokasi shooting film TTNT, seperti Taman Nasional Waykambas, Gigi Hiu, dan Anak Gunung Krakatau. TTNT juga menyorot lokasi lain di Makassar, Labuan Bajo, Manila, dan Maldives, tetapi tak seintim Lampung yang menjadi destinasi pertama Trinity dalam petualangan solo traveling-nya serta menjadi tempat kontemplasi Trinity terhadap beberapa perjalanannya.

Menarik, bukan? Secara keseluruhan, film TTNT sudah aku tulis di jurnal sebelumnya (baca di sini). Jadi, di sini mari kita berbicara lebih spesifik tentang Lampung. Saat aku mendapat undangan gala premiere film ini, aku sempat berpikir, kenapa harus nonton di Lampung? Kenapa aku ke Lampung hanya untuk nonton film TTNT? Kenapa Lampung? Seistimewa itukah? Jawaban samar mulanya aku berasumsi mungkin karena Trinity (penulis The Naked Traveler) juga seorang travel-blogger. Jadi tak ada salahnya mengundang travel-blogger yang lain untuk bersama menonton film ini tidak di 'rumah', tapi di kota lain. Nonton sambil jalan-jalan.

Ketika aku hadir di Bedah Film TTNT di Kampus Darmajaya Bandar Lampung, aku menemukan alasan lain. Satu alasan filmmakers TTNT mengambil lokasi di Lampung adalah karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Jakarta. Hanya membutuhkan penerbangan 50 menit dari Jakarta. Lalu, ternyata oh ternyata filmmakers ini langsung jatuh cinta pada provinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini. Kalau kamu menonton film TTNT, kamu akan melihat bagaimana dramatiknya nuansa di Anak Gunung Krakatoa, lalu bagaimana cantiknya ombak yang memecah karang di Gigi Hiu. Kamu juga akan melihat bagaimana Paul berinteraksi sangat dekat dengan gajah di Waykambas. Binatang besar ini lucu sekali, sungguh.



Sebelum menghadiri gala premiere Trinity The Nekad Traveler, aku menyempatkan diri berkenalan dengan beberapa gajah di Pusat Konservasi Waykambas, Lampung Timur. Begitu menonton film ini, aku langsung sangat akrab dengan beberapa scene Trinity dan Paul bersama gajah-gajah itu. Lampung memang memesona di sini, meski penampakannya di film tidak terlalu panjang. Siapa yang sangka, kan, Lampung akan dilirik sebagai lokasi film bertema traveling? Spot yang diambil pun termasuk yang juara di Lampung, tidak kalah keren dibanding Maldives yang juga jadi satu lokasi tujuan di film ini.

Hamish Daud, pemeran Paul, sendiri mengakui keindahan Lampung selama proses shooting. Hamish berbagi kisah shooting-nya saat Bedah Film di Kampus Pascasarjana Darmajaya, Bandar Lampung. Aktor yang memang suka traveling ini merasa beruntung bisa ikut serta dalam proyek film ini. FYI, dia butuh waktu seminggu untuk dapat mendekati dan menaiki punggung Leo, gajah di Waykambas yang nongol di film. Kesulitan selama shooting di Lampung baginya hanya lokasinya yang berjauhan dan memakan waktu di perjalanan untuk pindah lokasi. Tapi itu semua terbayar dengan pemandangan Gigi Hiu dan Anak Krakatau. "Shooting film ini tak seperti bekerja, seperti liburan saja," ungkap Hamish Daud lagi.

jurnaland.com
Bedah Film TTNT di Kampus Darmajaya.
Kalau kamu belum pernah ke Lampung atau belum pernah ke beberapa lokasi yang terpampang nyata di film Trinity The Nekad Traveler, kamu bisa tonton dulu filmnya, rasakan betapa cantiknya provinsi yang sedang memajukan wisatanya itu. Aku setuju dengan tema gala premiere TTNT di Lampung ini, yaitu Film sebagai Ajang Promosi Wisata. Setelah menonton, tentukan bucket list-mu sendiri (seperti yang dilakukan Trinity di dalam filmnya), lalu bernagkatlah ke Lampung. Temui para gajah sumatera, bermainlah ke Karang Gigi Hiu, lalu menyeberang sedikitlah ke spot paling bersejarah umat sedunia, Anak Gunung Krakatau.

Wah, Gala Premiere yang kuhadiri kali ini menyenangkan, ya. Sembari jalan-jalan, nonton Trinity The Nekad Traveler menjadi hiburan penutup edisi Lampung-ku.

Bersama Abimandra (screenplay TTNT Movie) dan Mia Karmila (travel-blogger asal Semarang). Sesi inspiratif ketemu mereka.

6 komentar:

Antara Trin, Paul, dan Bucket List dalam Film Trinity, The Nekad Traveler

Traveling saat ini sudah menjadi gaya hidup. Pengguna social media ikut andil dalam menyemarakkan kegemaran banyak orang dalam berbagai gaya traveling. Tapi, tahukah kamu, dulu traveling itu adalah sesuatu yang langka. Traveling itu sarat dengan perjuangan dan petualangan. Berbeda dengan sekarang yang akses traveling terbuka lebar dengan adanya tiket maskapai murah, informasi tentang suatu tempat juga semakin mudah, banyak teman yang bisa diajak traveling bersama. Open trip dari travel agent menjamur di mana-mana.

Apa kabar dengan petualangan seorang Trinity yang sedari dulu memang solo traveling? Sebelum semua orang berpikir untuk keluar dari zona nyamannya, Trinity sudah berkelana keliling dunia. Mungkin bisa dibilang dia cewek Indonesia yang nekad pergi ke mana-mana sesuai keinginan hatinya, sesuai rencana dalam bucket list-nya, sesuai dengan jadwal cutinya, dan berani sendirian. Omong-omong soal nekad, ya, aku sedang bercerita tentang traveling yang nekad.

jurnaland.com


Aku juga sedang bercerita tentang film Trinity, The Nekad Traveler. Trinity memang nekad. Dari 'Naked', menjadi 'Nekad'. Dari buku, menjadi film. Judul film Trinity, The Nekad Traveler langsung terasa dekat di telinga beberapa bulan terakhir. Sosok Trinity sebagai cewek penjelajah 73 negara begitu melekat begitu trailer film ini wara-wiri di social media.

Trinity sendiri selalu ingin berbagi perjalanannya dalam bentuk tulisan. Dari blog The Naked Traveler, cerita-ceritanya pun dibukukan. Total ada 7 buku laris tentang traveling yang ditulisnya dengan seri judul Trinity, The Naked Traveler. Dan, banyak yang bilang, sosok lokal yang jadi inspirasi untuk traveling ya masih Trinity. Untuk travel-blogger, Trinity sesepuhnya. Untuk sosok travel-writer, Trinity pionirnya.

Tahun ini, buku itu diangkat ke layar lebar. Trinity, The Naked Traveler diubah menjadi Trinity, The Nekad Traveler yang diproduksi oleh Tujuh Bintang Sinema.

jurnaland.com

Tantangan mengangkat cerita Trinity di buku ke dalam film adalah bagaimana membangun pecahan-pecahan cerita menjadi satu alur yang kompleks. Aku yakin menyusun skenario film ini pasti harus melewati negosiasi yang panjang dengan karakter Trinity yang dibangunnya sendiri dalam buku. Hasilnya, not bad. Syaratnya, jauhkan bukunya, jangan pernah bandingkan, dan nikmati saja cerita baru yang terbangun dengan nuansa traveling asyik ala Trinity di dalam film. Dari 73 negara yang dijelajahinya, cuma 3 negara yang akan mewakili film ini.

Jadi, ceritanya, Trinity (Maudy Ayunda) adalah seorang pekerja yang punya jadwal ketat setiap hari di kantor, tapi selalu mencuri waktu menghitung jatah cuti dan menandai tanggal-tanggal merah penting di kalender. Trinity adalah orang paling jago 'ngeles' di antara karyawan-karyawan teladan dan anak baik-baik di rumah. Hobi traveling-nya tak dapat direm. Orangtua (Farhan dan Cut Mini) dan bosnya (Ayu Dewi) pun harus mengalah dengan segala tingkah Trinity.

Traveling butuh perjuangan, tekad, dan nekad. Trinity punya bucket list yang merupakan untaian doanya untuk menjamah dunia. Lalu, semesta seperti mengaminkan doa-doanya itu. Ada berbagai kejadian dan pengalaman seru yang terjadi saat Trinity harus berhadapan dengan orangtuanya yang ingin sekali melihat Trinity menikah dan ketika Trinity harus mendapat omelan menggemaskan dari Bu Bos paling perfeksionis sedunia. Kemudian dia juga harus berdebat panjang dengan sahabat-sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Borsterli). Akhirnya, Trinity juga berhadapan dengan dirinya sendiri dan bucket list panjang yang harus segera dicoret. Satu hal yang tak ada di bucket list-nya itu, yaitu bertemu Paul (Hamish Daud). Dari sanalah cerita menggulung jadi gunungan konflik. Antara Paul dan bucket list. Setelah bucket list-nya pun terpenuhi satu per satu, lantas selanjutnya apa? Ketika ia bertemu dengan sesuatu yang tidak tercantum di bucket list-nya, lantas harus ditambah atau dibiarkan hilang begitu saja? Benar, ya, kata orang yang menarik dari perjalanan itu bukan destinasi, tetapi perjalanan itu sendiri. Sepertinya kamu harus nonton sendiri filmnya.

jurnaland.com

Film Trinity, The Nekad Traveler berhasil menangkap isu-isu traveling yang merebak. Isu tentang Harpiknas (Hari Piknik Nasional) digemakan kembali. Bucket list, hunting tiket promo, hitung jatah cuti dan hal-hal kecil semacam itu diangkat untuk menyebarkan virus-virus traveling yang sedang hits ini kepada khalayak muda.

Sepanjang film, penonton akan dimanja dengan gambar-gambar cantik. Jadi ini, toh, maksud hashtag #travelingkebioskop. Film ini mengambil sisi-sisi surga yang terdapat di beberapa kota dan negara. Rizal Mantovani selaku sutradara menafsirkan keindahan-keindahan Nusantara dalam tangkapan kameranya. Sebut saja Lampung yang mencakup Gigi Hiu, Krakatau, dan Waykambas. Lalu kita juga akan melihat Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur yang punya pesona tersembunyi seperti Rammang Rammang. Kemudian, destinasi yang jadi primadona saat ini di Nusa Tenggara Timur, Labuan Bajo harus ikut mejeng di layar lebar. Kita juga akan jalan-jalan melihat Manila, Filipina yang punya jenis kuliner unik bin aneh dan berujung pada keindahan Maldives yang memang ada di bucket list hampir semua traveler. Kalau nonton di bioskop 4D, sensasi dari tempat-tempat keren itu akan lebih terasa kali ya, serasa ikutan traveling bareng Trinity alias Maudy Ayunda beneran.

Ini bukan film biopik atau dokumenter, ya, guys. Ini film cerita yang mengisi setiap part perjalanan Trinity. Film ini makin greget dan gemes dengan tingkah Ayu Dewi dan Babe Cabita yang juara, sedikit baper dengan sesi Trin dan Paul melepas rindu di Maldives, juga ada sosok Trinity asli menyelip sebagai pemandu di Krakatau dengan karakter gagah dan sangar. Trinity, The Nekad Traveler menjadi satu kesatuan cerita magis tentang virus traveling yang menghipnotis. Cocok sekali untuk kawula muda yang ingin sekali keluar dari zona nyaman.

jurnaland.com

Seperti quote Trinity di film, "Gue pengin orang lain mengalami apa yang gue alami."

Yuk, bersiap traveling ke bioskop mulai tanggal 16 Maret 2017. Jadikan tanggal itu sebagai Hari Piknik Nasional.

9 komentar:

Hari Besar Petani Lampung Timur dalam Festival Panen Padi 2017

Suatu kehormatan bisa diundang ke satu acara rakyat di Kabupaten Lampung Timur, Festival Panen Padi 2017. Begitu dapat undangannya dari Indonesia Corners, aku langsung berburu tiket pesawat Jakarta-Lampung yang hanya menghabiskan waktu 30 menit saja. Dekat sekali kan. Daripada harus repot-repot naik bis dan kapal ferry untuk menyeberang ke Lampung. Hemat waktu, hemat tenaga. Biayanya pun beda tipis.

Kamis pagi, aku mendarat di Bandara Radin Inten II Bandar Lampung. Aku bertemu dengan sekumpulan blogger dari Indonesia Corners yang juga akan menuju ke tempat yang sama. Kami pun dijemput menggunakan dua mobil yang siap menggoyang pantat kami selama 2 jam perjalanan menuju Lampung Timur. FYI, bandara berlokasi di Lampung Selatan, sementara festival diadakan di Lampung Timur. Kami melewati jalanan panjang, berbelok, dan sedikit berlubang. Kami melewati berbagai sawah dan perkebunan yang pemandangannya aduhai. Berbagai terasering berjajar. Kami masuk dan keluar beberapa kampung Jawa dan Bali. Ya, Lampung memang area transmigrasi pada zaman Soeharto. Sebagian besar penduduknya adalah orang Jawa dan Bali. Bahkan nama kecamatannya pun dinamai dengan nama beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti Pekalongan dan Madiun. Sederhana, bukan, mendefinisikan penduduk setempat berasal dari wilayah mana?! Mereka menamai tanah transmigrasi mereka dengan nama kampung halamannya, tinggal berkelompok, dan akhirnya sebagian diresmikan menjadi nama kecamatan. Yang pasti, aku happy. Aku jalan-jalan lagi. Yeay.

Karnaval di Festival Panen Padi 2017 (Photo by raiyani.net)

Salah satu gerobak motor hias yang ikut karnaval. (Photo by raiyani.net)

Pak Tani membawa padi keliling kampung (Photo by raiyani.net)
Pukul 10 pagi, kami tiba di Alun-alun Kecamatan Raman Utara, tempat diadakannya festival. Alun-alun sudah dipenuhi oleh panggung dan tenda tempat para pejabat dan undangan duduk, serta stand-stand UKM yang berjajar mengelilingi alun-alun. Yang bikin festival itu meriah adalah adanya gerobak, motor, serta mobil bak yang dihias dengan berbagai hasil panen, mulai dari jagung, pisang, terong, cabai, pare, pisang, jambu, kacang panjang, dan lain-lain.

Sebegitu besarnya semangat mereka mengikuti festival ini. Ada sekelompok anak kecil yang berdandan ala petani dengan membawa alat-alat untuk bertani. Mereka kompak mengenakan topi anyaman berbentuk kerucut khas petani. "Ini harinya para petani," decakku kagum. 2 Maret 2017.

Sebelum acara dimulai, kami yang memang belum sempat sarapan sejak sampai di Lampung, memilih duduk di sebuah warung pecel. Penjualnya sendiri adalah warga Raman tetapi berasal dari Jawa. Ibu ini menjual pecel ala Lampung dengan tambahan mi berwarna putih serta bumbu pecel yang sedikit lebih gurih dan pedas. Sarapan kenyang dulu, sebelum berpanas-panas ria di Festival Panen Padi.

Festival Panen Padi dibuka oleh Bapak M. Ridho Ficardo, Gubernur Lampung, didampingi oleh Ibu Chusnunia Chalim, Bupati Lampung Timur. Tarian Sugih Pengunten mengawali semaraknya festival para petani ini. Anyway, tari ini ada di setiap acara-acara besar orang Lampung. Dengan pakaian putih, tari Sugih Pengunten menjadi tari pembuka acara sebagai bentuk jamuan selamat datang kepada tamu yang diagungkan. Untuk Festival Panen Padi saat itu, tarian Sugih Pengunten dipersembahkan kepada Gubernur Lampung dan jajarannya.

Festival Panen Padi 2017 merupakan acara yang pertama kali diadakan di Kabupaten Lampung Timur sebagai bentuk apresiasi kepada para petani Lampung. Para petani di Lampung Timur memang seistimewa itu. Lampung Timur menjadi pemasok padi nomor dua terbesar untuk Provinsi Lampung dan peringkat 4 surplus tingkat nasional. Pantas saja, sepanjang jalan sejak memasuki kawasan Lampung Timur, yang kulihat adalah sawah dan perkebunan. Petani di sini memang patut diberi penghargaan. Untuk merayakan hari panen besar mereka, maka Festival Panen Padi ini diadakan besar-besaran. Kecamatan Raman Utara menjadi tuan rumahnya saat itu.

Tari Sugih Pengunten (Photo by raiyani.net).
Jangan dikira Festival Panen Padi itu bentuknya para petani melakukan panen bersama di sawah masing-masing, ya. Bukan. Festival ini dirangkai sedemikian semarak dengan karnaval gerobak berhiaskan berbagai hasil panen. Tak perlu biaya besar untuk menghias kendaraan yang biasa digunakan untuk membawa hasil panen. Secara berkelompok, para petani dan masyarakat menghias kendaraan mereka sekreatif mungkin. Tak jarang mereka memanfaatkan warna oranye jagung, warna merah dari cabai, warna hijau dari sayur-sayuran untuk membuat hiasannya lebih hidup. Ada pula perwakilan siswa SMA dan SMK yang mengenakan kostum petani, orang-orangan sawah, kostum burung, dan lain-lain untuk memeriahkan karnaval. Miniatur-miniatur hama tanaman pun jadi hiasan dan bulan-bulanan para petani yang diarak keliling kecamatan.

Rasanya karnaval itu belum meriah dan heboh jika tidak ada sajian bunyi-bunyian dari penumbuk lesung. Jika akrab dengan dunia sawah, tentu kita sering dengar suara lesung yang khas di sawah saat panen tiba. Dulu, ya, dulu. Aku beruntung pernah mengenal benda itu saat menemani nenek sedang panen di sawah. Suara tumbukan lesung itu sangat akrab di telinga. Ibu-ibu dan bapak-bapak petani bergantian menumbuk padi di dalam lesung. Mendengar suara lesung saja sudah menjadi pesta kecil-kecilan di lahan sawah masing-masing. Ini tentu cara tradisional dan mulai jarang ditemukan saat ini. Nah, kekhasan suara lesung itu pun diangkat kembali dan dijadikan semacam ketukan bernada. Tak heran, kan, jika bunyi lesung itu jadi merdu dan bertalu-talu. Huuh, siang-siang berada di festival ini rasanya hati mengharu-biru.

Setelah puas melihat karnaval dan menebak-nebak kendaraan hias mana yang paling bagus,aku menghampiri stand-stand UKM. Di sini dijual bibit dan pupuk tanaman, berbagai jenis obat dan makanan, hasil kerajinan masyarakat Lampung Timur, serta promosi budaya khas Lampung. Ini semacam pesta besar di Lampung Timur dan masih ada serangkaian festival yang mengisi sepanjang tahun 2017.

Ikutan karnaval di salah satu gerobak hias.
Bersama siswa-siswi SMK yang ikut karnaval.
Tim Blogger ID Corners bersama jajaran Gubernur dan Wagub Lampung serta Bupati dan Wabup Lampung Timur.
Festival Panen Padi bukan lagi soal petani dan hasil panennya, melainkan tentang budaya bertani yang tumbuh dan berkembang menjadi nadi kehidupan rakyat Lampung Timur. Seperti kata Ibu Chusnunia, sektor pariwisata sedang menjadi sorotan. Jadi, adalah suatu tantangan sendiri bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya tarik daerahnya, salah satunya dengan mengadakan festival seperti ini. Benar juga, ya, dengan adanya festival rakyat semacam ini--dari rakyat untuk rakyat--pengunjung jadi dapat menyentuh langsung berbagai sektor kehidupan yang melingkupi daerah tersebut. Salah satunya sektor pertanian yang menjadi mata pencarian utama Lampung Timur sebagai negeri agraria.

Terima kasih kepada Bupati Lampung Timur yang telah menjamu kami dan mencicipi udara nuansa budaya Lampung Timur. Sukses terus acara sepanjang tahun ini di Lampung Timur. Bulan November 2017 ada Festival Waykambas sebagai puncak rangkaian acara tahunan Lampung Timur.Wah, tentu ini tidak boleh dilewatkan. Siapa yang tertarik untuk berkunjung menginjak tanah Lampung Timur?

18 komentar:

Pesona Tersembunyi dari Pulau Pahawang, Lampung

Banyak berjalan, jadi banyak teman. Itulah yang kurasakan saat traveling berkelompok. Partner traveling-ku juga tidak melulu orang yang sama. Jadi traveling menjadi sangat menyenangkan saat kita ketemu orang baru. Nah, siapa sangka, dari sekali dan dua kali traveling bersama beberapa orang, kami merencanakan trip berikutnya ke tempat berbeda. Itulah aku bersama partner trip saat ke Kepulauan Togean. Kami melakukan reuni trip ke destinasi yang tidak terlalu jauh, Pulau Pahawang, Lampung. Pahawang merupakan nama desa di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran. Pulau ini berlokasi di Teluk Punduh, ujung selatan Pulau Sematera.

Sebagian besar kami memang tinggal di Jakarta. Lalu kami mencari waktu akhir minggu yang tepat untuk menjambangi Pahawang. Suatu malam, sepulang aktivitas kantor, kami berkumpul di Terminal Kalideres, Jakarta Barat jelang tengah malam. Kami akan menumpang bis Kalideres-Merak dan bisa naik kapal ferry ke Bakauheni sebelum subuh datang. Bahkan, kami dapat menikmati sunrise yang sungguh indah dari atas kapal.

jurnaland.com
Dermaga Pulau Kelagian.
jurnaland.com
Sunrise di Selat Sunda.

Short trip ke Pahawang ini nuansanya berbeda. Satu sama lain sudah saling akrab dan ada yang membawa teman baru, sehingga perjalanan kami makin ramai. Kami menumpang kapal pukul 3 pagi dan berlabuh saat fajar menjelang di Bakauheni, Lampung, lalu menyewa mobil di pelabuhan yang bisa mengantar kami ke dermaga Ketapang. Saat itu perjalanan menghabiskan waktu kurang-lebih 3 jam karena kondisi jalan masih buruk.

Saat kami tiba di Dermaga Ketapang, sudah ada perahu yang siap menemani selama berkeliling Pahawang. Pertama, perahu ini mengantar kami berlayar ke penginapan di Pulau Kelagian, sekitar setengah jam dari dermaga Ketapang. Siang yang terik, membakar kulitku seketika. Inilah pesona Lampung yang saat ini mulai ramai.

jurnaland.com

jurnaland.com

Pulau Kelagian menjelang. Air laut yang jernih dan pasir putih bersih menyambut kami di dermaganya. Siapa yang mengira perairan Lampung ini menyimpan cerita dan legenda Melayu. Kami sedang menuju ke legenda itu. Dulunya asal nama Pahawang dari seorang kelana dari Cina datang ke pulau ini dan menetap di sana. Namanya Hawang. Lalu, si Hawang ini punya anak perempuan yang kerap dipanggil Pok Hawang. Akhirnya terpakailah nama Pok Hawang yang melebur menjadi Pahawang. Pahawang sendiri dikelilingi oleh beberapa pulau yang mulai dihuni oleh orang dari Kalianda, Lampung dan Banten.

Kelagian yang dimaksud adalah Pulau Kelagian Kecil yang tak berpenghuni. Pulau ini tampaknya memang dikhususkan untuk para pelancong yang hanya menetap beberapa malam. Kami memilih menginap di Pulau Kelagian ini. Ada beberapa pondok penginapan yang tersedia di sela-sela tanaman bakau. Saat aku ke sana, penginapan hanya beberapa dan terdiri dari bangunan kayu menyerupai rumah panggung. Kamar kecil dengan kamar mandi seadanya menanti untuk ditempati. Listrik pun ala kadarnya, hanya menyala saat malam hari. Pasokan listrik dan air bersih memang terbatas karena belum ada perhatian untuk menghidupkan pulau ini sebagai sebuah tourism. Mungkin saat tulisan ini ditayangkan, Pulau Kelagian sudah lebih maju, ya.

Sebenarnya masih ada alternatif lain untuk penginapan, yaitu di Pulau Pahawang Besar. Sebagian besar penduduk Pahawang sudah menyediakan homestay untuk para pelancong. Jika ingin tinggal dan berbau dengan masyarakat setempat, kamu dapat memilih homestay di Pahawang Besar. Nah, ada juga resort yang harganya lebih tinggi dan biasanya dikelola oleh warga negara asing. Ada satu resort di Pahawang Kecil milik orang Prancis. Sementara itu, di Pahawang Besar ada sebuah Vila Kudus yang juga milik orang asing. Pahawang Kecil yang notabene lebih sepi, tentu akan jadi daya tarik tersendiri bagi resort ini untuk menarik pengunjung. Biasanya yang menetap di resort ini ya kaum bule juga.

Usai makan siang, aku bersiap untuk mengarungi perairan Pulau Pahawang dan sekitarnya. Kami hanya sempat snorkeling di dua tempat karena sudah terlalu sore, salah satunya di perairan Pulau Kelagian. Aku sungguh bersemangat karena aku ketemu laut lagi, ketemu terumbu karang lagi, dan ketemu ikan-ikan kecil yang memperkaya kehidupan laut. Meski Pulau Pahawang dan Kelagian ini tak terlalu  jauh ditempuh dari Jakarta, pesona bawah lautnya termasuk juara. Karena berdekatan dengan Samudera Indonesia, tentu perairan di ujung Lampung ini masih terbilang bersih.

jurnaland.com
Resort Mr. Jo, di Pahawang Kecil.
jurnaland.com
Pulau Pahawang Kecil.
jurnaland.com
Snorkeling time di perairan Kelagian.
jurnaland.com

jurnaland.com

jurnaland.com
Hardcoral di Pahawang.

jurnaland.com
Rumah nemo.
jurnaland.com
Tanjung Putus.

Setelah bermain dengan karang dan ikan di perairan Kelagian, kami berpindah ke Tanjung Putus untuk snorkeling. Karang di sini juga masih tergolong hardcoral. Penampakan ikan nemo juga banyak. Tumbuhan laut warna-warni di sekitar karang menjadikan bawah laut ini berwarna. Tanjung Putus dinamakan demikian karena dulu pulau ini tersambung dengan Pulau Sumatera. Namun, karena pergerakan lempeng bumi serta kondisi laut yang berubah-ubah, pulau ini terpisah dan jadilah Tanjung Putus.

Kami mengapung selama beberapa menit dan bersuka ria di dalam air. Di perairan Pulau Pahawang ada beberapa titik snorkeling yang bisa dinikmati. Katanya, ada penangkaran terumbu karang juga karena banyak terumbu yang rusak akibat pemanasan global. Ada penangkaran ikan nemo juga karena ikan nemo sendiri jadi favorit para pelancong dan sedang menuju kepunahan akibat pengrusakan laut. Sedih ya kalau dipikir-pikir. Pahawang semakin ramai, tapi kondisi alamnya pun tidak bertambah baik. Mudah-mudahan, dengan bertambahnya pengunjung di Pulau Kelagian dan Pahawang, justru semakin menambah kepekaan kita terhadap keasrian pulau dan perairannya, ya.

Sore hari menjelang matahari terbenam, perahu merapat di Pulau Pahawang Kecil. Setelah melintasi Pulau Pahawang Besar yang merupakan sebuah perkampungan, kami bertemu pasir timbul yang menghubungkan satu bukit kecil ke Pulau Pahawang. Untungnya air laut belum pasang sehingga kami bisa berjalan-jalan di atas pasir timbul yang masih rapi dan bersih ini. Ya, bersih. Air lautnya pun tak kalah jernih. Gradasi dari kebeningan tosca hingga biru tertambat hingga cakrawala. Pasir ini jadi penghubung antara Pahawang Besar yang dihuni oleh 6 dusun dan Pahawang Kecil yang merupakan pulau yang dipenuhi tanaman bakau.

Pasir timbul itu sungguh panjang dan saat pasang akan rata dengan air. Bentuknya pun setiap hari berbeda. Yang timbul memanjang, ada pula yang terbelah di bagian tengah. Bagaimana pun bentuk pasir timbul ini, kami menikmatinya, bersama mereka yang rela berjalan denganku, dari berbagai latar belakang, berbagai usia, berbagai profesi. Kami menyatu dengan perairan ujung selatan Sumatera ini.

jurnaland.com

jurnaland.com

Sayangnya, kami tak sempat melihat sunset karena langit tertutup awan mendung. Pasir Timbul mulai terkikis oleh air laut pasang. Dengan berat hati, kami berlayar lagi ke Pulau Kelagian, berharap listrik sudah menyala dan kami bisa bersih-bersih diri. Makan malam pasti sudah disiapkan oleh penjaga homestay.

Hari kedua di Pulau Kelagian, aku bangun pagi-pagi sekali. Kami dijamu oleh fajar yang perlahan meninggi di dermaga. Bias oranye menularkan kehangatan. Kami menikmati fajar di Pulau Kelagian dengan syahdu hingga sarapan dihidangkan.

Sebelum pulang, kami mampir ke sisi lain dari Pulau Pahawang Besar. Di sana terdapat bangunan berupa pendopo yang kental dengan unsur Jawa. Bangunan itu milik orang asing dan disewakan sebagai penginapan. Harganya tentu sepadan dengan nuansa resort yang mengambil satu sisi pantai Pahawang Besar. Namun, saat itu resort ini sepi bahkan cenderung tak terurus. Nuansa bangunannya jadi terkesan suram. Apakah saat itu sedang kosong, renovasi, atau entahlah. Yang jelas, vila ini cukup terkenal bagi yang ingin ke Pahawang.

jurnaland.com
Pagi di Kelagian. Gugusan bukit di belakang tampak kece ya.
jurnaland.com
Memotret fajar.
jurnaland.com
Villa Kudus.
jurnaland.com

jurnaland.com

jurnaland.com
Dermaga khusus Vila Kudus.
Kami bermain-main di pesisir Pahawang Besar yang sepi pagi itu. Pasirnya bersih dan dirimbuni berbagai jenis pohon. Pantai jadi terlihat rindang. Berada di pantai resort ini bagaikan berada di pulau tersembunyi karena suasanya yang hening. Kami tersuruk oleh dedaunan. Keteduhanlah yang membuatku tak ingin pulang.

Lewat tengah hari, kami kembali ke Pulau Kelagian untuk berkemas. Short trip ini selesai. Usai makan siang, kami diantar oleh pemilik perahu sewaan ke dermaga Ketapang. Masih banyak lokasi snorkeling dan beberapa pulau yang belum dieksplor. Tentu ada kata "lain kali" untuk mengunjungi Pahawang. Kami harus kembali menuju Bakauheni dan sampai tepat saat matahari tenggelam. Jadi perjalanan dibuka oleh matahari terbit hari sebelumnya dan berakhir dengan matahari tenggelam hari berikutnya. Dua momen di atas kapal ferry Selat Sunda.

jurnaland.com
Geng trip Pahawang.
jurnaland.com



0 komentar: