Film Belok Kanan Barcelona, Serasa Traveling Lintas 4 Benua


Akhirnya Belok Kanan Barcelona sampai juga di bioskop. Aku beruntung dapat menontonnya pada hari premier bersama teman-teman penerbit Gagas Media, bertemu dengan penulis novelnya dan bertemu dengan seluruh cast di film ini. Dari judulnya saja, kita sudah tahu kalau film ini bercerita tentang perjalanan. Namun, perjalanan yang seperti apa? Aku berani jamin bahwa sepanjang film, Belok Kanan Barcelona akan mendongengkan kita tentang ajaibnya pesan cinta yang bisa membawa orang menemukan jati dirinya lewat perjalanan. Perjalanannya bukan perjalanan biasa. Dari film ini, kita akan jauh lebih akrab dengan bandara, stasiun kereta, hingga terminal bus. Kita juga akan akrab dengan peta dunia karena siap-siap, Belok Kanan Barcelona akan membawa kita terbang lintas benua.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: instagram.com/belokkananbarcelona


Apa jadinya saat 4 sahabat SMA terlibat cinta segi empat? Kalau kisah drama cinta remaja sudah biasa menghiasi layar lebar kita, mari berbelok sejenak ke Barcelona. Film yang disutradarai Guntur Soeharjanto ini dikemas dalam kisah percintaan 4 orang yang terpaut jauh antarbenua. Namun, jangan membayangkan kisahnya akan rumit sekali, ya. Belok Kanan Barcelona berkisah tentang sahabat SMA yang juga tetanggan, yaitu Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Yusuf alias Ucup (Deva Mahendra). Karena sering bersama, mereka pun saling jatuh cinta tetapi dipendam satu sama lain.

Francis sempat mengungkapkan perasaannya kepada Retno dan langsung ditolak karena alasan perbedaan keyakinan. Ya, akhirnya mereka menjalani kisah SMA mereka hanya cukup dengan status sahabat. Merasa tak cukup dengan perbedaan keyakinan, takdir pun memisahkan mereka dengan tinggal berbeda negara setelahnya. Diferensiasi yang diambil dalam film ini begitu kental tetapi terasa lebih ringan dengan dibalut banyak komedi. Alur cerita pun dibuat berbeda dengan adanya tarik ulur maju-mundur. Meskipun banyak sekali flashback, kamu tidak akan kebingungan mana yang masa kini, mana yang masa lalu karena garisnya sangat jelas, malah sangat kunikmati.

Plot berpindah saat mereka lulus SMA. Keempat sahabat ini dipisahkan oleh benua. Francis yang merupakan seorang pianis yang sudah sering tur berbagai negara saat itu menetap di Los Angeles, Amerika Serikat. Retno dengan kemampuan seorang baker dan koki, bekerja di sebuah kafe di Copenhagen, Denmark. Farah memilih mengejar mimpinya jadi arsitek sampai ke Hoi An, Vietnam, sementara Yusuf bekerja di Cape Town, Afrika Selatan. Rentang jarak tak membuat persahabatan mereka pudar, malah menjadi suatu kekuatan yang dapat ditonjolkan dari film Belok Kanan Barcelona dan sekaligus biang konflik yang bikin cerita cinta yang terpendam bertahun-tahun jadi kian rumit. Apa jadinya jika Francis, 'a man who are loved by everygirls' bilang bahwa ia akan menikah di Barcelona? Sebenarnya biasa aja sih, toh Francis memang sudah punya karier dan hidup sendiri di Los Angeles. Tetapi ini mengundang reaksi yang berbeda bagi sahabat-sahabatnya. Secara kebetulan pula, ketiga sahabat SMA Francis tidak bisa datang karena memang jauh. Lalu, entah bagaimana, takdir malah menuntun mereka untuk sama-sama bergerak dari titik masing-masing menuju Barcelona.
Film Belok Kanan Barcelona (3). Source: kincir.com

Jadi alurnya begini: Francis bilang mau nikah; lalu Retno curhat ke Farah kalau ia akan datang ke Barcelona; Farah yang sedikit patah hati curhat ke Yusuf karena juga ingin menyusul ke Barcelona; Yusuf yang awalnya damai-damai saja di Afrika mendadak panik dan ingin mengejar Farah ke Barcelona untuk menyatakan cintanya sebelum terlambat. Sementara Francis, mulai diteror oleh calon istrinya sendiri yang tidak ingin Retno hadir di pernikahan mereka nanti.

Film Belok Kanan Barcelona merupakan adaptasi dari novel Traveler’sTale terbitan Gagas Media karya Adhitya Mulya, Alaya, Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Suatu hal yang berani ketika filmmaker memproduksi film ini dengan lokasi luar negeri yang berpindah-pindah. Adhitya Mulya yang mendapat kehormatan langsung  untuk menulis skenarionya memberikan nyawa traveling yang ada di Traveler’s Tale terasa lebih nyata di dalam film. Ya, Belok Kanan Barcelona menjadi film mahal Starvision yang mengangkat kota-kota dari 4 benua sekaligus dalam 1 film. Ada sederetan kota-kota cantik yang diharapkan mengundang daya tarik, seperti Abidjan, Morocco, Gurun Sahara, dan Cape Town di Afrika. Empat lokasi itu paling mencuri perhatian di tengah kemegahan Praha, Budapest, Vienna, Copenhagen, dan Barcelona sendiri yang juga menjadi cerita perjalanan dalam film ini. Perjalanan Yusuf mengejar cintanya yang lintas benua sungguh menjadi sebuah tragedi perjalanan bagi dirinya. Perjuangan cintanya dibuktikan dengan kisah perjalanannya yang tidak mudah. Urusan bisnisnya di Abidjan berantakan karena perang, sempat dievakuasi setelah mengalami kecelakaan pesawat, ia pun lantas tersesat sampai Ghana dan Maroko, serta mesti terkena badai pasir di Gurun Sahara. Begitu sampai di Spanyol, ia ditangkap di imigrasi karena disangka teroris lantaran namanya Yusuf. Yusuf yang diperankan oleh Deva Mahendra menjadi scene stealer dalam film ini karena seringkali mengundang tawa. Jika tidak ada karakter Yusuf, mungkin film ini akan menjadi cerita cinta biasa.

Karakternya juga berimbang dengan Farah yang dikirim dari kantornya di Hoi An ke Budapest dan Praha untuk riset arsitektur Eropa bersama rekan kantornya. Perjalanannya awalnya mulus saja, diimbuhi sedikit dengan kejahilan rekan kantor yang dengan terang-terangan mengejar cinta Farah, meski ditolak berkali-kali. Saat kepatahhatian Farah tak dapat dibendung lagi, ia selalu curhat dan kontak-kontakan dengan Yusuf hanya biar hatinya lega, padahal setiap kali teleponan, ujung-ujungnya Farah sewot dan Yusuf malah yang patah hati. Hubungan mereka berdua lucu tetapi manis. Apalagi ada lantunan lagu "Bicara" dan "Time Will Tell" yang jadi OST Belok Kanan Barcelona dari The Overtune. Nggak kalah manis. Anggika Borsterli memberikan chemistry terbaiknya dengan karakter Yusuf ini.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: beritagar.id

Cerita di film ini dibangun dengan sistem flashback yang dapat dinikmati dengan utuh, bukan potongan-potongan kecil, tetapi bisa jadi satu kesatuan. Delivery karakternya juga dapat dengan segala emosinya. Perkenalan dan persahabatan antara Francis, Retno, Farah, dan Yusuf dibangun dengan sangat baik. Drama cinta mereka juga begitu, berkonflik tapi dikemas jenaka dengan hadirnya beberapa segmen para komika. Sebenarnya Farah dan Yusuf sendiri sudah mengisi kejenakaan itu dengan aksi konyol mereka yang nggak hilang-hilang dari SMA hingga dewasa. Sementara itu, Francis dan Retno mengambil bagian sisi romantis-melankolis tanpa harus berdrama panjang. Karena itulah film ini akan jadi sangat manis bagi penonton remaja. Jika Maroko itu eksotik, Barcelona memberikan visual kotanya yang penuh dengan cerita romantika.

Belok Kanan Barcelona menjadi film yang sangat ringan dengan plot sederhana, tapi punya keseruan saat setiap karakter berjuang mencapai impiannya. Nuansa perjalanannya dalam film ini sungguh kuat. Bukan eksotika suatu negara yang diincar, tetapi bagaimana karakter berpindah-pindah dan menjadikan perjalanan mereka punya tujuan, entah itu cinta, persahabatan, atau malah sekadar pelarian. OST film ini sepertinya sengaja mengambil lagu-lagu hits pada masanya untuk memperkuat suasana cinta dalam perjalanan yang dibangun cerita. Ada lagu "Untuk Dikenang" versi Endah N Rhesa serta "Sahabat Sejati" dari Sheila on 7 yang bikin kita nostalgia, persis saat cerita flashback ke masa-masa SMA keempat sahabat ini. Next, lagu-lagu OST Belok Kanan Barcelona akan jadi tambahan playlist-ku di Spotify. Lumayan, buat lagu pengantar saat traveling.

Sebuah film yang mengangkat lebih dari 3 negara dengan bersih, apalagi ini lintas 4 benua, memang patut diapresiasi. Jika ada yang berkomentar tentang jalan ceritanya yang terlalu sederhana, tujuan Belok Kanan Barcelona sendiri memang untuk kisah cinta antarbenua yang tidak rumit karena perjalanan sudah membuatnya rumit. Seperti cerita-cerita traveling pada umumnya, karakter harusnya mengalami perubahan diri, ujian dalam perjalanan, hingga membuat diri masing-masing tau apa yang sebenarnya mereka cari. Dan, sudah dibuktikan dengan sangat baik oleh setiap karakternya, bahwa perjalanan akan jadi biasa jika tidak melalui hal-hal luar biasa. Tidak perlu ekspektasi lebih karena ekspektasi itu pupus dengan gambar indah tiap negara yang disinggahi tiap karakter berbeda dengan cara mereka sendiri. Setelah belok kanan ke Barcelona, mungkin aku akan balik kanan ke Gurun Sahara. Serasa traveling lintas benua sekaligus, ya.


Quote terfavorit:
Farah: Gue kayaknya naksir sama Francis.
Yusuf: Masih kayaknya, kan? Masih yang tipe-tipe yang 'pengen martabak, nih, tapi nggak jadi ah'. Gitu, kan?

Komentar

  1. Eh ternyata filmnya menarik banget, ya. Jujur, pas lihat cover-nya aku agak underestimate karena sebelumnya udah banyak film Indonesia yang setting di luar negeri tapi, ya udah gitu aja. Setting tempatnya kurang kuat, "Kenapa harus di sana?" Ternyata setting film ini nggak cuma Barcelona ya, terus ada alasan-alasan kenapa tokoh-tokoh itu hidup di masing-masing kota.

    Farah itu gue banget! Hoi An, Praha, Budapest, itu kota-kota yang pengen gue kunjungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Kak. Aku juga awalnya underestimate. Pasti cuma ngejual latar luar negeri aja. Tapi bener kan, menarik film satu ini. Pas tau yang nulis skenarionya Adhitya Mulya, ya mestinya bisa dipercaya sih. :D

      Hapus
  2. Nonton film berasa ikutan jalan-jalan seru juga ya. Lumayan bisa ditiru itinerary nya hehehe. Undangannya unik banget ituu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi. LUmayan bisa terbuai dengan pesona Afrika dan Eropa. Undangannya paspor dan visa, jadi bisa langsung terbang Kang. :D

      Hapus
  3. Sekarang banyak film yang gernenya traveling. Setidaknya kita dapat melihat bagaimana sudut lain di belahan dunia ini. Dan kita bisa berandai-andai siapa tahu bisa menjejakkan kaki di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Kak. Genre traveling banyak, tapi gak banyak yang ceritanya utuh gitu. Belok Kanan Barcelona sedikit beda dari film traveling yang lain.

      Hapus
  4. Wah penasaran nih Filmnya, rencana wiken kemaren mau nonton dr thrilernya aku suka, atleast aku suka film2 yang bertemakan eropa nggk tau kenapa, mungkin karena orang fashion kali ya, jadi fashion yang dipakaipun sm si artis pun selalu menginspirasi heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton aja kak. Menyenangkan kok filmnya. Kamu bakal suka style yang dipake sama Retno dan Farah. Simple dan eyecatching. :))

      Hapus
  5. Quotenya yang terakhir sangat menyebalkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts