In Journey Land

Makan Siang di Sapu Lidi Sawah, Lembang

Lembang selalu menarik. Jangan heran kalau libur akhir pekan di sana, jalanan sungguh padat. Dengan pengembangan objek wisata yang beragam, Lembang nyaris tak pernah sepi lagi. Kota ini menjadi tujuan alternatif weekend escape menarik rakyat Jakarta, termasuk aku. Nah, kalau ke Lembang, yang jadi PR adalah mencari restoran untuk makan siang. Pada akhir pekan, jalanan Lembang pasti padat. Jika ingin makan siang, kita sudah harus punya radar resto atau warung terdekat sebagai tempat pemberhentian.

Kuliner di Sapu Lidi Sawah Lembang


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Kali ini aku mampir ke Sapu Lidi Sawah yang mengutamakan jenis makanan khas Sunda dengan saung-saung di pinggir sawah. Karena aku datangnya segerombol, alias rame-rame, kami sadar diri untuk reservasi tempat dulu sehari sebelumnya. Sapu Lidi Sawah pada akhir pekan luar biasa ramai. Jadi yang mau makan, harus masuk waiting list dulu.

Nah, apa yang membuat orang-orang rela menunggu bahkan sampai 1 jam untuk bisa makan di Sapu Lidi Sawah? Mari aku jelaskan beberapa di antaranya.

1. Suasana di Sapu Lidi Sawah bikin kangen kampung

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Dari namanya saja sudah Sapu Lidi Sawah. Membayangkan makan lahap di pinggir sawah bikin aku kangen kampung nan jauah di mato. Suasananya tenang karena jauh dari jalan raya. Resort didekorasi senyaman mungkin. Angin semilir menggelitik perut yang keroncongan. Ada jalan-jalan setapak menuju saung yang sudah seperti rumah-rumah kecil di kampung.

2. Ada banyak pilihan saung dengan beberapa pemandangan

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Restoran khas Sunda ini punya saung-saung yang nyaman dan berada di pinggiran sawah, danau kecil, dan pinggir kali. Aku memilih saung di pinggir kali dengan suara percikan air yang bikin makan siang jadi syahdu. Ada pentungan kecil yang digantung di setiap saung. Gunanya untuk memanggil waiters datang, siapa tahu makanannya kurang dan kita mau nambah. Kalau kamu rindu makan di saung-saung seperti ini, Sapu Lidi Sawah mengobati rindu itu. Karena lokasi resto ini cukup luas, antara saung yang satu dengan saung yang lain tidak terlalu rapat. Jadi kita bisa berceloteh riang sambil makan siang tanpa ada yang harus mengeluh, "Sssst, berisik!"

3. Lokasi restoran luas


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Nggak terhitung ada berapa saung di Sapu Lidi Sawah. Yang pasti lokasinya luas. Sehabis makan, aku berjalan-jalan mengitari area resto resort ini. Ada halaman rumput yang luas untuk jalan-jalan keluarga, ada danau, dan sungai kecil. Disediakan toilet dan musala yang harus ditempuh dengan naik sampan. Sapu Lidi Sawah juga menyediakan resort penginapan di samping restorannya. Katanya, di area resort, ada danau yang lebih besar lagi dan bisa menyewa perahu untuk sekadar berkeliling menghirup udara alam Lembang yang segar. Rasanya setelah makan, tidak mau ke mana-mana.

4. Menu makanannya enak

Sapu Lidi Sawah menyediakan menu makanan khas Sunda. Aku sempat kalap makan di sini. Sambalnya, sayur, goreng-gorengan, semua mantap. Waktu yang terbuang karena macet-macetan akhir pekan di Lembang dan harus masuk daftar tunggu sebelum bisa duduk di saung ini akhirnya terbayar dengan perut kenyang. Sundanese food is good as always and the price is worth it.

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang


Tapi, serius, harga makanan di sini termasuk standar menurutku. Sapu Lidi Sawah bisa jadi satu kuliner paling dicari keluarga saat ke Lembang. Dan, aku pun begitu.


Read More

Share Tweet Pin It +1

15 Comments

In Journey Land Story Land

Ulang Tahun di Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Kota Yogyakarta baru saja merayakan ulang tahun tanggal 7 Oktober lalu yang ke-261 tahun. Itu artinya, hanya selang sehari dengan ulang tahunku, 8 Oktober. Perayaan malam ulang tahun Jogja kuanggap sebagai perayaan malam menjelang ulang tahunku yang ke-... (tidak perlu disebut). Cukup kirim doa saja untuk keberlanjutan kebahagiaan hidup dan merengkuh dunia. Jadi aku senang bukan kepalang saat diajak ke pusat keramaian. :)

Aku berjalan ke kawasan Tugu bersama Junisatya dan dua teman yang menemani kami. Menjelang magrib, kawasan Tugu hingga arah Malioboro serta-merta ditutup karena akan diadakan Wayang Carnival Night. Ada perwakilan 14 kecamatan di Yogyakarta yang ikut meramaikan pesta rakyat malam itu. Masing-masing mereka meragakan kostum-kostum wayang dengan sedikit atraksi yang mewakili ciri khas karakter wayang yang dibawakan. Sepanjang jalan penuh. Aku sempat terseret-seret arus manusia yang ingin mencari tempat strategis untuk melihat carnival. Kupikir acaranya tepat waktu, tetapi carnival baru efektif berjalan mulai pukul 8 malam. Sedari magrib, kami menunggu tanpa kepastian, sempat kelaparan, dan ingin bubar tetapi dikepung oleh keadaan. Hmmm, posisi yang kurang strategis rupanya.

Wayang Night Carnival 2017
Gadis-gadis cantik dibawa oleh kereta kencana.

Animo masyarakat Yogyakarta sangat besar untuk melihat aksi Wayang Night Carnival, apalagi dihadiri langsung oleh Walikota Yogyakarta dan Gubernur DI Yogyakarta. Ada satu panggung diletakkan di sudut jalan persis di depan monumen Tugu. Aku berdiri di samping kanan panggung untuk melihat arak-arakan dimulai pukul 8 malam. Sungguh, ini carnival super penuh yang pernah kudatangi. Orang Jogja semangat banget mau nonton carnival wayang malam-malam begini.

Bagi masyarakat Jogja, ini adalah pesta mereka. Bagiku, ini sebuah napak tilas memahami kisah-kisah wayang yang sungguh kupaksakan pada zaman kuliah. Melihat karakter-karakter wayang dari kisah Ramayana dan Mahabarata malam itu, aku mencoba memahaminya. Wayang memang menjadi ikon legenda tanah Jawa. Sebenarnya asal cerita wayang yang sekarang kita kenal berasal dari kisah Ramayana dan Mahabharata India. Ketika Hindu masuk ke Indonesia, kisah Ramayana dan Mahabharata itu melebur ke dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Kemudian agama Islam masuk dan para sunan pun membawakan cerita wayang untuk menyebarkan agama ke masyarakat Jawa. Berkembang pulalah tokoh-tokoh wayang dalam cerita epos itu. Oleh karena itu, ada cerita Ramayana dan Mahabharata dalam 2 versi: versi asli (India) dan versi Jawa. Aku pernah belajar tentang ini dalam kuliah Sastra Wayang dulu, mengerjakan sederetan tugas tentang perbandingan kisah kedua epos besar dari India itu dalam bentuk paper. Kisah Ramayana dan Mahabharata ini pun disampaikan dalam bentuk wayang yang diceritakan semalaman. Karakter-karakter wayang ini awalnya dibuat dalam bentuk rumput yang diikat. Pada perkembangan selanjutnya, wayang pun menggunakan kulit binatang atau kulit kayu. Dari sana, wayang terus berkembang, dan karakternya pun semakin masuk ke dalam pola hidup masyarakat Jawa (atau mungkin sebaliknya, cerita wayang merupakan cerminan kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri). Wayang golek, wayang orang, dan lain-lain menjadi sebuah pertunjukan khusus dan menjadi ciri khas tanah Jawa.

Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Wayang Night Carnival 2017

Tidak heran, pesta ulang tahun Jogja mengangkat tema peragaan kostum wayang dari masyarakat. Wayang telah menjadi bagian dari penduduk ini. Mereka mengenal wayang sepertiku mengenal sejumlah cerita Malin yang melegenda di tanah Minang. Menyaksikan Wayang Night Carnival seperti ini menambah khasanah pewayangan dalam otakku. Epos Ramayana dan Mahabharata, baik versi asli dari India, maupun versi Jawa hanya sebatas bacaan literasi. Aku bukan anak yang dibesarkan dengan cerita-cerita wayang, Rama dan Shinta, Rahwana, Hanoman, dan tokoh-tokoh turunan kedua epos itu yang melebur dengan cerita rakyat Jawa. Tapi, berkat literatur dari masa kuliah, aku untungnya tidak begitu asing dengan beberapa karakter wayang ini.

Kehebohan Wayang Night Carnival ditutup dengan letusan kembang api perayaan ulang tahun Yogyakarta persis sebelum tengah malam.

Aku mengucap, "Happy birthday to me."

Pada saat itu pula aku bergeser dan menjauh dari kerumunan agar dapat melenggang pulang. Wayang Night Carnival memang luar biasa menarik perhatian. Mungkin seperempat dari warga Yogyakarta memenuhi jalanan di sekitar Tugu malam itu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

16 Comments

In Advertorial Land Story Land

Cara Cerdas Merencanakan Pendidikan Anak

Dulu almarhum ayah pernah bilang, "Kamu harus sekolah, sekolah, dan sekolah."

Sun Life Edufair 2017

Kalau diingat, dulu kesal sekali disuruh sekolah terus, harus jadi anak yang pintar, harus rajin mengerjakan PR. Tapi ternyata di balik itu semua, aku jadi seperti sekarang ya karena doktrin dari ayah yang selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Ketika aku diterima di Universitas Indonesia menjalani jenjang S1, aku bersyukur selalu diomelin ayah kalau ada nilai merah di rapor atau cuma sekadar tidak jago dalam pelajaran Matematika. Aku juga bersyukur ayah begitu ketat mencarikan sekolah terbaik dengan guru-guru terbaik pada masa itu. Waktu itu, sih, ayah melihat gelar nama rata-rata guru di sekolahku. Ayah tidak mau anaknya diajar oleh guru yang belum lulus kuliah S1. Entah kenapa... Mungkin karena guru adalah cikal-bakal perkembangan pendidikan anak. Ya, itu trik zaman dulu yang dilakukan ayahku ketika informasi tentang sekolah dan lembaga pendidikan lain belum sebanyak sekarang. Belum online pula. Aku yakin, setiap orangtua pasti punya trik sendiri dalam merencanakan pendidikan untuk anaknya.

Meski aku belum jadi orangtua, aku telah berkunjung ke banyak tempat dan melihat anak-anak di berbagai daerah yang aktif dan kreatif. Namun, tingkat kreativitas itu berbanding terbalik dengan sarana pendidikan yang ada di daerah itu. Seperti saat aku di Pulau Latondu, Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, aku tidak melihat keberadaan SMA di sana. Rata-rata, mereka sekolah cuma sampai SMP. Sisanya, mereka langsung melaut untuk mencari nafkah. Mungkin bagi mereka itu hal yang lumrah, tetapi bagiku, kurangnya pendidikan di sana tentu menjadi masalah. Mereka memang cukup belajar dari budaya dan alam. Tidak memikirkan bahwa ada kehidupan lain di masa depan yang menunggu anak-anak ini untuk mengembangkan ruang tempat tinggal mereka sendiri agar lebih maju. Keterbatasan informasi, edukasi, dan finansial menjadikan perkembangan pendidikan Pulau Latondu jadi jalan di tempat. Apalagi lokasinya sungguh jauh dari daratan Sulawesi. Sebagian dari mereka berpikir atas apa yang ada dan bertindak atas apa yang terlintas.

Sun Life Edufair 2017
Anak-anak di Pulau Latondu, Taka Bonerate.

Anak sekolah di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu.

Lalu, di lain kesempatan, aku berkenalan dengan anak-anak di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu. Pulau Sebira adalah pulau terdepan di Kepulauan Seribu. Jadi lokasinya di paling utara DKI Jakarta. Aku harus menempuh 4 jam di jalan dengan speedboat. Kalau pakai perahu motor nelayan bisa 9 jam baru sampai di Pulau Sebira. Meski masuk kawasan DKI Jakarta, pendidikan di pulau ini masih terbatas. Bangunan sekolah cuma ada 1 dan menampung jenjang SD dan SMP. Kalau ingin melanjutkan ke SMA, mereka harus menyeberang ke pulau sebelah, Pulau Kelapa Dua atau Pulau Pramuka, dan kuliah di Kota Jakarta. Untungnya Pulau Sebira sudah dapat perhatian khusus dari pemda dan beberapa perusahaan yang memberikan banyak sekali fasilitas penunjang pendidikan. Jadi, meski lokasinya di pulau, mereka tidak ketinggalan informasi tentang dunia luar.

Keterbatasan jangkauan pendidikan dan edukasi yang didapat para orangtua dalam mengutamakan pendidikan anak juga mempengaruhi perkembangan generasi di daerah setempat. Aku baru menyadari itu sejak banyak berjalan dan banyak melihat. Memang tak sia-sia orangtuaku menyekolahkanku. Pasti repot melakukan perencanaan pendidikanku selama ini. Fenomena-fenomena tentang pendidikan yang kulihat sekarang sungguh mengusikku. Generasi muda terus bertambah tapi tidak tumbuh dengan lingkungan yang teredukasi dengan baik. Edukasi bukan dimulai dari anak, melainkan dari orangtua dan calon orangtua. Itu inti yang ingin disampaikan oleh Kak Seto saat talkshow parenting di Sunlife Edufair 2017 yang aku datangi.

Aku menghabiskan akhir minggu lalu untuk datang ke acara edufair yang diadakan oleh Sun Life Financial di Mall Kota Kasablanka. Aku pikir ini acara tentang parenting dan pameran sekolah saja. Namun, aku salah. Sun Life Edufair 2017 dikemas lebih fun, lebih menarik, lebih edukatif, dan terbuka untuk siapa pun. Nggak cuma untuk orangtua atau anak sekolah.

Sun Life Edufair 2017
Sun Life Edufair 2017 hari pertama.
Sun Life Edufair 2017
Talkshow Parenting bersama Kak Seto.
Sun Life Edufair 2017 di Kota Kasablanka
Suasana Sun Life Edufair 2017 di Kota Kasablanka.

Penjelasan Kak Seto tentang pola kecerdasan dan kreativitas anak inilah yang membuatku betah duduk di atrium mall Kokas pada hari itu. Pikiranku ikut berkelana ke mana-mana seiring dengan contoh positif yang diberikan Kak Seto tentang cara-cara didikan anak. Ia ingin menanamkan bahwa anak tidak boleh dimarahi. Hak mereka adalah bermain. Aku jadi senyum-senyum sendiri sambil berpikir, "Kok, aku banyak mainnya malah sampai hari ini?" Kehidupan super fun anak akan mempengaruhi caranya berpikir, bertindak, dan bergaul. Intinya, Kak Seto berpesan bahwa didiklah anak dengan cinta agar ia bahagia. Jika si anak bahagia, kita akan melahirkan generasi yang bahagia juga kelak. Wow sekali ya penjelasan dari Kak Seto. Negara ini memang butuh banyak Kak Seto biar kita tahu dan sadar bahwa pendidikan itu perlu.

Omong-omong soal pendidikan dan beberapa fenomena yang kulihat di beberapa daerah, aku melihat semua keterbatasan pendidikan kita adalah sistem manajemennya. Khususnya dana. Kalau membahas tentang dana, tentu akan sedikit sensitif, apalagi dana pendidikan. Sun Life Edufair 2017 menggandeng 20 sekolah dasar formal dan 5 sekolah informal di Jakarta untuk berpartisipasi dalam School Exhibition serta Brighter Education. Stand-stand sekolah juga didekorasi playful, lengkap dengan payground untuk anak-anak SD. Setiap sekolah diberi kesempatan untuk presentasi di depan pengunjung edufair tentang keunggulan sekolah masing-masing. Bahkan, ada unjuk bakat juga di acara Brighter Talent dari masing-masing perwakilan sekolah. Melihat keunggulan setiap sekolah yang punya cara sendiri dalam mendidik anak, tentu akan sangat berbanding lurus dengan biaya pendidikannya. Agak ngeri, ya, kalau melihat biaya sekolah anak masa kini, setiap tahun terus naik.

Booth-booth sekolah yang super kreatif dan super fun.
Sun Life Edufair 2017
Ada pola bermain sambil belajar yang diterapkan beberapa sekolah.

Namun, rezeki anak selalu ada kalau memang sudah diniatkan. Di event yang berlangsung selama 3 hari ini, para orangtua dan calon orangtua bisa konsultasi juga tentang perencanakan pendidikan anak melalui Sun Life Indonesia. Sun Life membuka fasilitas untuk siapa pun yang ingin membuat perencanaan pendidikan anaknya dengan lebih tertata. Ini ide yang menarik, sih, menurutku. Semua hal tentang pendidikan anak itu memang harus dikomunikasikan. Sun Life sudah memulai itu dengan memberikan beberapa fitur perencanaan pendidikan yang dinamakan Bright Education. Bright Education dari Sun Life Indonesia baru diluncurkan di Sun Life Edufair 2017, lho. Jadi masih fresh from the oven banget, nih. Ini efektif banget buat mengatur perencanaan pendidikan anak. Apa saja yang disediakan oleh Sun Life Indonesia dalam berperan memajukan pendidikan kita?
  • Fitur Sekolah, berisi informasi lengkap tentang sekolah yang hadir dalam School Exhibition di Sun Life Edufair 2017 lalu.
  • Fitur Komparasi, menjadi fitur untuk memberikan perbandingan sekolah untuk mempermudah para orangtua memilih sekolah yang tepat untuk anaknya.
  • Fitur Kalkulator, untuk memproyeksikan biaya pendidikan dan membantu orangtua menyusun perencanaan pendidikan sejak dini.
  • Fitur Artikel, berisi artikel-artikel menarik tentang dunia pendidikan dan anak.
Sun Life Edufair 2017
Sembari ibu-bapaknya nyari informasi tentang Sun Life Indonesia, anak-anaknya asyik main lego.
Betapa beruntungnya kota-kota besar seperti Jakarta yang menyediakan fasilitas perencanaan pendidikan anak sejak dini ini, seperti yang dilakukan Sun Life Indonesia. Beruntung pula anak-anak zaman sekarang yang punya banyak alternatif dalam mengembangkan diri. Tinggal orangtua cerdas saja yang menyalurkannya. Aku harus catat dengan baik, nih, untuk bekal masa depan.

Aku merasa saat ini tak sia-sia telah menempuh pendidikan hingga jenjang S2. Aku punya misi sendiri. Tujuanku bukan untuk jadi akademisi. Bukan. Bukan pula untuk mengejar posisi tinggi di perusahaana BUMN atau pemerintahan. Bukan untuk adu keren atau adu gelar dengan orang lain. Menurutku  kuliah secara tidak langsung menanamkan pola pikir dan cara pandang yang lebih luas, apa pun jurusannya. Aku sekaligus percaya bahwa jika ingin mengubah bangsa ini jadi lebih baik, dimulai dari diri sendiri. Jika aku suatu hari nanti akhirnya jadi ibu, aku sudah siap sepenuhnya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Hospitality Land

Penginapan Asri dan Nyaman a la Pawon Cokelat Guest House

Hujan mengguyur Kota Yogyakarta sore itu. Aku dan Junisatya sedang berada di Kota Gudeg itu untuk beberapa hari, demi menghadiri hajatan sahabat, menyemarakkan HUT Yogyakarta, dan sekaligus merayakan ulang tahunku. Berada di Jogja memang selalu meninggalkan kesan bagiku.

Kami hanya menyewa motor untuk berkeliling Jogja. Lalu hari itu, hujan mengguyur kota begitu awetnya. Kami sempat berteduh beberapa kali di pinggir jalan, sekembalinya dari Prambanan dan Mangunan, dua destinasi yang lokasinya jauh dari pusat Kota Jogja. Badan sudah kuyup, semangat mengendur, dan super lelah, tak ada yang lebih kudambakan selain mandi air hangat dan kasur. Junisatya akhirnya memacu motornya menembus gerimis ke arah Malioboro.

Kami menginap di Pawon Cokelat Guest House yang berada persis di sebuah gang di Malioboro. Junisatya mengarahkan motor ke Jalan Sosrowijayan, lalu terus menuju gang pertama di sebelah kanan. Aku turun dari motor dan Junisatya mematikan mesin motor. Kami berjalan masuk ke gang itu sembari menuntun motor, masih dalam keadaan hujan rintik. Di depan gang sudah ditulis sebuah aturan bahwa gang ini adalah area bebas mesin kendaraan bermotor. Ini juga berlaku di hampir semua gang di kawasan permukiman Yogyakarta. Jadi, tidak peduli hujan turun begitu awet, jika lewat gang ya kami harus mematikan mesin motor. Rasanya tenaga ini mau habis disedot dinginnya malam. Pawon Cokelat berada di paling ujung gang itu.

Pawon Cokelat Guest House
Ini dia Pawon Cokelat Guest House.

Pawon Cokelat Guest House
Instalasi depan Pawon Cokelat Guest House.

Kedatangan kami disambut oleh seorang staf laki-laki yang berjaga di front desk. Aku menitipkan helm yang basah dan kunci motor. Dengan baik hati dan penuh pengertian, Mas (yang aku lupa menanyakan namanya) membantu memarkirkan motor. Aku dan Junisatya langsung menuju kamar di lantai 2. Kamar kami persis menghadap ke balkon depan Pawon Cokelat. Pintu kaca bening merupakan akses utama menuju kamar.

Aku langsung merebahkan badan di atas kasur. Lega sekali sudah sampai di kamar mungil dengan nuansa industrialis ini. Setelah mandi air hangat, staf yang menyambut kami di pintu depan mengantarkan dua cangkir minuman cokelat hangat untukku dan Junisatya. Wangi cokelatnya menggoda dan sukses menyempurnakan kehangatan malam itu. Pawon Cokelat Guest House memang juara dalam menyajikan secangkir hot chocolate. Cokelatnya kental dan rasanya pas.

Pawon Cokelat Guest House
Ini kamarku.

Pawon Cokelat Guest House
Hot Chocolate khas Pawon Cokelat.

Pawon Cokelat berkonsep guest house yang memiliki hanya 10 kamar. Karena berlokasi dekat dengan Malioboro, Pawon Cokelat nyaris tak pernah sepi. Dengan dekorasi dan instalasi yang berbau industrialis, Pawon Cokelat memberikan ruang ternyaman bagi para tamu yang menginap di sini. Suasananya sungguh homey. Itu yang kurasakan pagi hari saat membuka pintu kamar. Meski berada di dalam gang, guest house ini tidak pengab. Nuansa landscape di depan kamar membuat guest house lebih asri. Pot-pot tanaman memenuhi setiap sudut dan sisi teras bangunan. Bahkan ada vertical garden di sisi tembok lobi yang menjulang hingga menyentuh langit-langit lantai 2. Pagi-pagi sekali, aku mematikan AC kamar dan membiarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar.

Aku leyeh-leyeh di kamar sampai pukul 8. Saking nyaman dan segarnya suasana pagi hari di Pawon Cokelat, aku tidak mau melakukan apa-apa hari itu. Tapi kami harus sarapan. Jadilah aku turun ke kafe dekat dengan lobi dan pantry. Tidak ada cokelat pagi itu. Sembari menunggu sarapanku yang sedang disiapkan di pantry, aku menyeduh teh hangat untuk membangun mood. Melihat dekorasi cafe yang unik, penat hujan-hujanan hari sebelumnya luntur sudah. 

Pawon Cokelat Guest House
Pagi yang segar di Pawon Cokelat.

Menu sarapan di Pawon Cokelat Guest House
Menu sarapan Indonesian mix American.

Pawon Cokelat Guest House
Kafe cozy di Pawon Cokelat.

Ada dua menu sarapan yang disediakan di guest house ini, menu Indonesian dan American. Pilihan menu sarapan sudah diberikan ke para tamu saat check in. Jadi saat sarapan tiba, semua sudah tersedia untuk kita. Aku tentu saja memesan nasi goreng saja biar kenyang, sedangkan Junisatya memilih omellette dengan topping sosis serta grill tomato. Kalau kamu ikut menginap di sini, kamu tidak perlu sungkan meminta air hangat atau air dingin ke pantry. Karena ini guest house, suasananya lebih friendly, kok.

Sisa waktu hari itu kuhabiskan di beranda lantai 2 yang merupakan public space yang dilengkapi wifi yang kencang di guest house ini. Aku sempat menyusuri tangga hingga lantai 3 yang merupakan rooftop. Ada meja dan bangku juga di rooftop ini yang pasti asyik dijadikan lokasi santai menjelang malam. Aku dapat bocoran dari Bu Eki, pemilik Pawon Cokelat, bahwa nanti Desember 2017 akan dibuka Chocolate Cafe di rooftop ini. Nggak salah memang namanya Pawon Cokelat, suguhan cokelat hangat di guest house ini sudah teruji rasanya. Apalagi dulu sebelum guest house ini ada, Pawon Cokelat itu justru merupakan toko cokelat. Oleh karena itulah, pemilik guest house ini ingin memadukan hospitality dengan kafe cokelat sesuai filosofi Pawon Cokelat tentang cokelat yang menjadi sumber kehangatan dan energi.

Pawon Cokelat Guest House
Ruang santai di Pawon Cokelat.
Pawon Cokelat Guest House
Nuansa nyaman terlihat dari sini.

So far, menginap di Pawon Cokelat memberikan tingkat kenyamanan yang super. Kalau kamu mencari tempat menginap yang tenang, asri, nyaman, dan budget rendah tetapi masih di pusat kota, Pawon Cokelat Guest House adalah tempat yang tepat. Staf guest house juga sungguh ramah. Kamu tinggal jalan kaki dari jalan Malioboro dan masuk gang kecil untuk sampai ke guest house ini. Dengan rate berkisar IDR 325.000, kamu sudah bisa tidur dengan nyenyak, tidak jauh dari pusat kota, sarana transportasi gampang, dekat dengan stasiun dan halte transjogja, serta berada di antara pusat jajanan.

Thank you, Pawon Cokelat, for your kind hospitality.


Pawon Cokelat Guest House

Booking information : Eki Rahmawati 087878809008
Website : www.pawoncokelat.com
Email : info@pawoncokelat.com
Instagram : @pawoncokelat

Read More

Share Tweet Pin It +1

20 Comments

In Abroad Land Journey Land

Peradaban Awal di Old Tbilisi Wall, Georgia

Mengunjungi kota bernama Tbilisi jauh dari list impianku. Tapi Tuhan menjawab semua harapanku tentang mengarungi belahan dunia yang punya sejarah hebat. Lalu aku sampai di Kota Tbilisi, Georgia bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini. Aku bertekad untuk melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan di kota ini. Tbilisi salah satu kota hebat yang menarik perhatian. "Tbili" artinya "warm atau hangat" dalam bahasa Rusia-Georgia. Sejarah awalnya itu saat King Vakhtang Gorgasali menemukan sumber mata air panas belerang dekat saat ia merambah hutan mengejar seekor burung. Lalu dinamakanlah kota itu Tbilisi. Vakhtang adalah Raja Iberia, Georgia Timur (Kartli) yang sempat berperang melawan Iran. Sejarah panjang perjuangannya di persekutuan Kekaisaran Bizantium (polemik sejarah Timur Tengah sana) dan melawan Sasanian Iran, menjadikan King Vakhtang sebagai tokoh paling populer dalam sejarah Georgia pada Abad Pertengahan. Karena beliau yang memberi nama pada Kota Tbilisi, ia disebut sebagai Founding Father kota yang disebut juga City of Hot Spring itu. Nggak salah ketika Tbilisi mengabadikan kisah heroik King Vakhtang Gorgasali dalam bentuk Monumen King Vakhtang Gorgasali.

Peradaban awal di Old Tbilisi Wall Georgia
Old Tbilisi Wall Georgia, bentuk peradaban lama di lereng bukit Sololaki.

Monument of King Vakhtang Gorgasali

Saat berjalan-jalan di pusat kota Tbilisi, aku berhenti di salah satu bundaran besar dengan satu bangunan gereja dan patung orang berkuda di tepian Sungai Kura (sungai besar yang membelah Tbilisi). Rupanya itu itulah King Vakhtang yang termahsyur di depan gereja bernama Metekhi Church. Ini adalah lokasi pertama tempat King Vakhtang mendirikan kerajaannya dan menjadikan Tbilisi sebagai ibukotanya. Tidak tanggung-tanggung, nama jalan besar di sepanjang pinggiran sungai besar yang membelah Tbilisi itu dinamakan Vakhtang Gorgasali Street. Sebegitu cinta masyarakat Tbilisi padanya dan sebegitu besar penghargaan mereka terhadap sejarah.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bundaran Tbilisi menuju Old Tbilisi Wall.

King Vakhtang Gorgasali Tbilisi
Di depan monumen King Vakhtang Gorgasali dan Gereja Metekhi.

Saat berada di Jembatan Metekhi, aku memandang sisa-sisa kebesaran sejarah Tbilisi. Ternyata Tbilisi negara yang sangat menghargai warisan budaya. Di balik pesatnya bangunan modern, kota ini menyisakan satu lokasi yang menjembatani negeri modern dengan sisa-sisa kejayaan peradaban masa dulu. Lewat Jembatan Metekhi yang persis berada di bawah Metekhi Church dan Monumen Vakhtang Gorgasali, kita dapat melihat kemegahannya yang lain, Old Tbilisi Wall.

Ya, dinding. Sebuah peradaban yang tumbuh di lereng bukit di depan Sungai Kura. Rumah-rumah tradisional Tbilisi bersusun di lereng bukit ini. Itulah sebabnya dinamakan Tbilisi Wall. Tbilisi Wall menjadi landmark Kota Tbilisi dengan kontur daratan yang berbukit-bukit.

Beberapa gadis Georgia yang menemaniku berjalan hari itu hendak mengajak kami ke puncak bukit untuk melihat pemandangan Kota Tbilisi dari atas. Ada dua alternatif cara mencapai puncak bukit itu. Pertama, dengan menggunakan cable car dengan tarif 7 Lari (mata uang Georgia, 1 Lari = Rp6.500,-). Namun, karena hari itu antrean cable car lumayan panjang padahal bukan hari libur nasional, kami pindah ke alternatif kedua, yaitu jalan kaki. Yes, sepertinya aku memang harus berjuang untuk mencapai bukit itu seperti perjuangan berdarah-darah King Vakhtang. #Lebay

Eh, tapi kan aku sedang puasa dan puasa di sana berdurasi 18 jam, apalagi saat itu memasuki musim panas. Aku juga sedang mengenakan ankle boots 9 cm karena baru pulang presentasi di workshop Folk Dance and Music Perkhuli Tbilisi 2017 bersama gadis-gadis penari cantik Georgia. Mereka pula yang memberikan ide mengajak kami berjalan-jalan di kota sesiangan itu. Membayangkan aku trekking di bawah terik dan mengenakan ankle boots ini... mari kita lihat sampai kapan aku bertahan.


National Botanical Garden of Georgia
Selepas melewati jembatan Metekhi, menyeberangi Sungai Kura, jalan mulai menanjak. Aku melewati beberapa pertokoan, kafe, dan hotel bergaya tradisional Georgia. Perlahan-lahan keramaian memudar ketika kami terus berjalan mendaki. Kami memasuki komplek rumah-rumah tradisional Georgia. Kondisinya masih sangat bagus dan terawat. Rumah-rumahnya banyak terdiri dari rumah panggung, mirip dengan gaya rumah tradisional kita. Bedanya, rumah-rumah mereka dibuat lebih banyak lorong dan atapnya lebih rendah untuk menangkal angin musim dingin masuk. Unik-unik, ya. Ada rumah yang masih dihuni, ada rumah yang disewakan sebagai hostel atau guesthouse, ada yang dijadikan toko wine, kafe, dan semacamnya. Aku terus berjalan.

Old Tbilisi Wall
Tbilisi Wall, peradaban di lereng bukit.

Old Tbilisi Wall
Bentuk-bentuk rumah tradisional.

Berada di Botanical Garden Georgia.

Jalan setapak bercabang dan tidak datar. Sedikit agak ke atas, kami sampai di gerbang National Botanical Garden of Georgia, meninggalkan kawasan permukiman penduduk. National Botanical Garden ini merupakan taman nasional dan menjadi salah satu objek wisata di Tbilisi. Kami dikenai tiket masuk sebesar 2 Lari per orang. Mulanya aku hendak mengantre di ticket box, tetapi Elene, yang resmi menjadi foreign-friend-ku mulai hari itu, sempat menahanku. Katanya beberapa teman kami dari India belum memiliki mata uang lokal. Kami sempat batal masuk. Namun, Elene dan seorang temannya Anuki memberi jalan tengah. Dia memintaku menukarkan uang Lari ke teman-teman India. Mereka akan menggantinya dengan mata uang mereka. Lalu Elene bilang, aku tak perlu membayar tiket lagi untuk 1 tim dari Indonesia. Mungkin semua di-cover sama teman-teman India. Masya Allah, berkah puasa.

Kami berjalan dengan riang memasuki Botanical Garden. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang mesti dilihat di hutan lindung ini karena bentuknya tidak jauh berbeda dengan hutan hujan tropis di negara sendiri. Hanya bedanya, ya, Botanical Garden yang ini lebih tertata rapi. Lokasi yang tepat untuk short escape bagi orang Tbilisi. Rupanya perjuangan jalan kaki ke puncak bukit tidak sampai di sini. Botanical Garden ini adalah jalur alternatif untuk menuju puncak bukit. Tapi lebih dulu, aku melipir ke jalan menurun menuju sebuah air terjun. Aku sempat takjub juga, sih. Di Botanical Garden seperti ini terdapat air terjun meski dalam ukuran mini. Air terjun ini mengairi sebuah sungai kecil di antara Botanical Garden. Nanti tentunya akan bergabung ke Sungai Kura di pusat kota. Sungai Kura sendiri merupakan sungai panjang yang menghubungkan Turki, Georgia, dan Azerbaijan yang muaranya di Laut Kaspia.

Setelah jalan kaki cukup jauh dan panas, akhirnya aku bisa lihat yang adem-adem. Setidaknya aku bisa melepaskan sepatu tebal ini sejenak. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di pinggir sungai. Celup-celup kaki juga cukup.

Old Tbilisi Wall Georgia
Air terjun di Botanical Garden Georgia.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bersama teman-teman cantik dari Georgia.

Air terjunnya terasa dingin tergerus angin musim semi yang mau berakhir. Segar sekali. Rasanya dahaga meronta-ronta ingin disiram pula. Tapi, dari Indonesia, aku sudah berniat untuk melanjutkan puasa meski traveling dan durasinya 6 jam lebih panjang. Begini rasanya. Asyik karena tak harus memikirkan camilan dan perut tak perlu meringis karena belum dapat makanan yang manis-manis.

Setelah istirahat sebentar di tepian air terjun, Elene dan Anuki mengajakku untuk kembali berjalan, kembali melewati tanjakan yang semakin curam saja. Panorama hijau Botanical Garden sungguh cantik. FYI, Botanical Garden ini punya trek yang mudah dijangkau. Tidak seperti jalan ke curug Cibeureum yang masih beralaskan tanah dan bebatuan. Meski tanjakan, jalan setapaknya sudah rapi dan disemen. Tidak ada semak liar atau tanah liat licin yang suram. Semua tanaman ditata, baik tanaman kecil, maupun pohon-pohon. Jalanan ini bersahabat untukku yang super-salah-kostum mengenakan baju formal putih, celana kulit hitam, dan ankle boots. Puasa pula.

Mother of Georgian Statue

Di bagian puncak bukit yang dinamakan Sololaki Hill, ada satu patung besar berwarna silver. Ke sanalah tujuan kami. Sebuah patung perempuan yang cukup besar dan terlihat dari tengah kota. Selain King Vakhtang Gorgasali, ada satu lagi tokoh sejarah penting di Tbilisi, Kartlis Deda alias Mother of Georgian. Teman Georgia kami bercerita pada kami bahwa Mother of Georgian ini semacam pahlawan perempuan yang rela mati demi menyelamatkan rakyatnya. Dia termasuk pejuang heroik perempuan di negara itu. Patung ini sengaja dibuat setinggi 20 meter dan diletakkan di puncak Sololaki Hill agar seluruh rakyat Georgia dapat melihat "ibu" mereka. Patung ini menarik. Mother of Georgian memegang 2 benda di tangannya. Ia mengenakan pakaian tradisional Georgia dengan memegang sebuah mangkok di tangan kiri yang merupakan simbol dari semangkuk wine untuk disuguhkan pada seorang teman yang berniat baik padanya. Lalu, di tangan kanan ia mengenggam sebilah pedang sebagai simbol waspada terhadap musuh. Begitulah simbol pejuang perempuan yang dikenang oleh rakyat Georgia. Rupanya Georgia tak perlu aksi emansipasi yang berlebihan, cukup dengan melihat ke arah patung Mother of Georgian ini, kita tahu bahwa posisi perempuan sama bagusnya dengan laki-laki.
Old Tbilisi Wall di belakang Mother of Georgian
Walaupun panas, jalan jauh, puasa, tetap happy.

Sebelah Mother of Georgian
Di sebelah Mother of Georgian.

FYI, Georgia adalah negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Jadi, wine lumrah dijadikan welcome drink untuk menyambut tamu. Georgia juga punya kebun anggur, peach, burberry, strawberry, cherry, dan buah segar asam-manis menggiurkan.

Narikala Ancient Fortress

Dari patung Mother of Georgian, aku melihat Panorama Kota Tbilisi membentang. Dari pinggiran bukit Sololaki ini, ada tangga kembali ke komplek perumahan tua Tbilisi. Sepanjang tangga menurun itu, aku puas menatap panorama kota. Ada beberapa restoran di pinggiran bukit dengan teras yang mengarah ke panorama. Restoran itu memanggil-manggilku untuk duduk dan beristirahat. Tapi aku ditinggal rombongan. Jadi harus buru-buru. Tangga turunan itu melewati sisi sebuah kastil. Kastil ini juga bagian dari landmark Kota Tbilisi. Namanya Narikala Ancient Fortress yang sudah didirikan sejak abad ke-4. Konon, sejarah mencatat berbagai konflik dan perpindahan tangan kastil ini. Bani Umayyah dan Mongol pernah berada di sini dan merenovasi beberapa bagian. Rupanya ada jejak Islam yang kuat di kastil ini. Bangsa Mongol menyebutnya Narin Qala yang artinya Benteng Kecil. Tidak heran, di kawasan Old Tbilisi, aku melewati dua masjid dan beberapa orang mengenakan hijab.

Lokasi Narikala Fortress memang strategis. Bangunannya berada di lereng bukit yang menghadap ke Sungai Kura dan pusat Kota Tbilisi. Lokasinya memang pas dijadikan benteng pada zaman perang. Kini Narikala menjadi sebuah gereja orthodox. Sayang sekali aku tak sempat masuk ke dalam untuk melihat lukisan tentang Sejarah Georgia. Padahal seru juga kalau bisa melihat sejarah dari lukisan, apalagi masuknya gratis. Apa boleh buat, Elene sudah memanggil-manggilku untuk terus berjalan turun.

Old Tbilisi Wall di lereng bukit
Di depan Narikala Ancient Fortress.

Dari Narikala, jalanan mulai melingkar turun. Aku kembali ke susunan rumah-rumah kayu bergaya Georgia lama. Kami tidak kembali ke gerbang utama Botanical Garden. Ini akses jalan yang lain yang langsung menuju pusat kafe dan restoran. Tak beberapa menit berjalan, kami sudah sampai lagi di pinggir jalan Vakhtang Gorgasali. Elene membeli air mineral dingin untuk beberapa orang yang kehausan karena cuaca sungguh terik hari itu. Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.

Satu hari berkeliling Tbilisi Wall terasa cukup. Banyak sisa-sisa perjuangan yang membangun peradaban masa kini negara ini. What a beautiful day.

Ini pengalaman ter-"AHA"-moment-ku ketika menapaki satu sudut di Tbilisi, Georgia. Jalan tengah hari terik saat puasa memang membutuhkan perjuangan berat, apalagi bukan di rumah. Sebenarnya, begitu turun dari Botanical Garden, aku sudah sangat kelelahan dan dehidrasi hebat. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Masih 6 jam lagi menuju buka puasa pukul 9 malam. Itu artinya puasa baru berjalan 12 jam. Kalau di Indonesia, tentu aku sudah bisa buka puasa. Sementara di Tbilisi saat berada di perpindahan musim semi ke panas, siang menjadi jauh lebih lama. Aku menimbang-nimbang kondisi tubuh. Besok masih ada agenda padat yang menunggu. Akhirnya di depan landmark kota Tbilisi, puasaku kalah. Aku berbuka dengan sebotol air mineral. Agak merasa bersalah memang. Namun, aku harus berpikir realistis juga, kan.

Mengingat momen itu, aku tidak menyesal. Aku bersyukur hidup di negara tropis yang punya waktu siang dan malam yang seimbang. Aku jadi jauh lebih bersyukur pernah merasakan puasa di tempat-tempat seperti ini, jauh dari rumah dan menjadi minoritas. Kenapa? Karena aku merasakan waktu demi waktu itu berharga. Siang sangat panjang diiringi dengan waktu tidur yang singkat karena malam cuma 6 jam. Jadwal Isya baru masuk pukul 11 malam. Lalu pukul 2 dini hari aku harus sahur karena pukul 3 sudah Subuh. Sahur menjadi kegiatan wajibku meski cuma makan serundeng, sambal dendeng, dan nasi putih (sengaja bawa dari Indonesia). Untungnya pemilik hotel tempat kami menginap sungguh baik menyiapkan makan malamku pukul 9 sementara jadwal makan malam di kafe hotel itu pukul 5-6 sore.

Hari-hari awal memang berat, tapi kemudian secara ajaib tubuhku mampu menyesuaikan. Aku tidak akan mau lagi menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Aku berada di Tbilisi sampai akhir Ramadhan. Aku merasakan waktuku cukup untuk melakukan banyak hal dalam satu hari meski puasa. Perjalanan memang jauh lebih melelahkan, tapi aku senang dapat menikmati proses itu jam demi jam (bukan sekadar hari demi hari lagi).

Old Tbilisi Wall Georgia
Meresapi Kota Tbilisi.

Jadi, pengalaman traveling itu akan jauh lebih indah saat kita menikmati prosesnya. Bukan sekadar melihat tempat, tapi juga melihat ke dalam diri sendiri. Ini tergantung bagaimana kita memaknai kemampuan otak menerima dan mengolah informasi, sudut pandang, kondisi tubuh, hingga interaksi dengan yang segala yang asing. Aku pun mencoba bernegosiasi. Dalam menit-menit dehidrasiku tengah hari saat menjalani puasa di Georgia, aku semakin berpikir bahwa traveling itu untuk mencari kebahagiaan. Entah itu saat perjalanan, atau pun saat pulang.

Tbilisi memang kota kecil. Sejak aku berada di sana, aku mulai memperbaiki list perjalananku. Aku mulai merunut lokasi-lokasi hebat lainnya untuk perjalananku berikutnya. Aku juga mencocokkan dengan jadwal penerbangan terbaik. Aku harus memperkirakan budget dengan destinasi. Seperti persiapan perjalanan ke Tbilisi ini, aku dan ibuku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya karena memang dalam rangka mengikuti festival pertunjukan kebudayaan dunia. Melihat pengalaman itu, aku dipermudah dengan fitur pencarian tiket pesawat yang disediakan oleh Skyscanner. Aku tidak mau mencari tiket asal-asalan. Untung saja sebelum perjalanan ke Tbilisi, aku mengecek segala situs dan aplikasi dari Online Travel Agent (OTA), mencocokkan tanggal dan harga. Dari sana aku mengenal Skyscanner yang memberikan harga terbaik di bulan-bulan terbaik. Kamu mesti coba. Kamu bisa menjadwalkan perjalananmu melalui Skyscanner dan Skyscanner akan memilihkan jadwal penerbangan dengan harga paling murah.

Kok, bisa?

Iya, Skyscanner merupakan website dengan fitur keren yang dapat membandingkan harga tiket dari berbagai OTA lain. Kalau kamu bingung mau ke mana dan kapan (kan, suka ada orang yang hidupnya mendadak galau dan ingin terbang entah ke mana), Skyscanner pasti mengerti. Tulis saja kota asal, lalu biarkan kolom 'ke' terisi dengan "Mana saja". Gerakkan cursor ke jadwal berangkat, nanti ada pilihan tanggal tertentu dan kolom grafik sepanjang bulan.
Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Skyscanner punya grafik harga tiket maskapai untuk mempermudah kita menentukan jadwal perjalanan termurah.

Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Fitur Skyscanner yang paling diandalkan, nih.
Nah, kamu tinggal pilih asal untuk tahun depan. Nanti Skyscanner akan mendata semua tiket-tiket murah dan terbaik. Ada info harga juga kalau kita ingin informasi detail tentang tanggal-tanggal yang memuat harga promo. Seru, ya.

Kalau untuk perjalanan luar negeri, ada banyak maskapai dengan waktu transit beda-beda. Nah, untuk jadi smart traveler, jangan lupa cek tempat transit, durasi dan berapa kali transit. Ini penting agar agenda perjalananmu tidak berantakan. Skyscanner sudah memilihkan alternatif penerbangan berikut dengan akomodasinya, ada hotel dan penyewaan mobil juga. Kebetulan, karena puasa, aku memilih penerbangan malam (biar bisa makan terus selama di pesawat) dengan dua kali transit (Kuala Lumpur dan Istanbul) menggunakan Turkish Airlines.

Traveling ke Georgia dengan Skyscanner Indonesia
Traveling ke Georgia bulan puasa.



*Artikel ini ditulis untuk mengikuti Skyscanner Indonesia Blog Competition 2017: "AHA" Moment Saat Travel. #AHASkyscanner, #SkyscannerIndonesia

Read More

Share Tweet Pin It +1

36 Comments

In Journey Land

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita

Petualanganku di Nusa Penida, Bali beberapa waktu lalu memang tidak bisa dilupakan. Pertama, karena aku mengatur sendiri jadwal location visit di setiap spot terbaik di Nusa Penida. Kedua, karena aku datang ke Bali untuk bertemu seorang teman lama yang memilih hidup di Ubud. Jadi, sesampai di Bali, kami mampir dulu ke Ubud dan menghabiskan 2 hari di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke The Golden Egg of Bali. Ini semacam reunian dengan jalan-jalan.

Meski di Nusa Penida cuma satu malam, tapi banyak tindak konyol yang aku alami bersama geng trip kali ini. Dimulai dari pelayaran ke Nusa Penida yang sudah pernah kutulis sebelumnya di blog ini (intip kisahnya di sini). Lalu, bagaimana hebohnya kami mencari penginapan dan nyasar-nyasar untuk sampai ke Pantai Atuh yang view-nya luar biasa, yang seketika bikin aku jatuh cinta. Dan, terakhir pagi-pagi sekali saat kami siap berkendara ke Crystal Bay tapi hujan deras. Harapan yang suram.

Aku mengepak ransel karena harus check out penginapan hari ini dan kembali berlayar ke dermaga Sanur nanti sore. Tapi, sebelumnya, aku berangkat ke Kelingking Beach dan Pasih Uug, lokasi wajib lain yang harus dilihat jika kita ke Nusa Penida. Rencana awal kami mestinya snorkeling dan mengeksplor bawah laut Nusa Penida sambil melihat manta-manta yang berenang cantik di dekat tebing. Namun, rencana itu gagal karena cuaca kurang bersahabat. Aku menunggu hujan reda sambil terus memandangi detak jam. Jika hujan bertahan sampai siang, kami tidak akan bisa ke mana-mana lagi selain harus kembali ke dermaga Toyapakeh.

Bali selalu punya cara memanggil kita
Satu spot dramatik di Pasih Uug alias Broken Beach.
Bali Selalu Punya Cerita Memanggil Kita
Travelmate Nusa Penida (minus Junisatya yang jadi Kang Foto)

Untungnya langit mulai memberi harapan meski nggak cerah-cerah amat. Dengan menyandang ransel masing-masing, aku dan teman-teman melaju ke arah barat Nusa Penida menggunakan motor sewaan. Dengan mengandalkan offline maps di ponsel (sinyal pasang surut seperti air laut), untungnya kali ini marka jalan lebih mudah ditafsir. Kelingking Beach dan Pasih Uug ada di 2 jalur yang berseberangan. Kami sempat berhenti untuk sarapan dan memboyong pisang goreng untuk bekal di jalan. Sembari sarapan, aku mengobrol dengan beberapa anak SD yang kami temui di warung makan. Mereka bilang, trek ke Kelingking Beach lebih mulus. Kalau jalanan ke Pasih Uug malah rusak parah. Jarak kedua tempat itu sama. Mereka berpendapat, lebih baik ke Kelingking Beach saja. Pasih Uug bagus, tapi ya gitu, susah ditempuh. Kecil-kecil begitu, mereka tahu jalan, lho. Please, jangan remehkan anak kecil.

Setelah menakar-nakar jarak dan waktu, kami punya waktu sekitar 4 jam untuk mencapai dua tempat itu jika tak ingin ketinggalan kapal sore hari. Ini gila, sih. Liburan macam apa ini, berpindah-pindah tanpa bisa menikmati alam dan tawa teman seperjalanan. Yak, mari pilih opsi pertama yang disarankan si anak-anak SD itu. Mari ke Kelingking Beach. Kalau memang tak sempat, Pasih Uug terpaksa harus dikorbankan.

 1. Kelingking Beach

Ketika menemukan pertigaan, Kelingking Beach belok kiri, Pasih Uug alias Broken Beach belok kanan, Junisatya berbelok ke kiri dan diikuti oleh 2 motor teman kami yang lain. Jalanan menyempit tetapi view-nya menyenangkan. Kami menempuh sekitar 4 km untuk sampai di kawasan Kelingking Beach. Oiya, harus bayar Rp15.000 untuk biaya retribusi sekaligus parkir.

Di kawasan Kelingking Beach terdapat rumah makan dengan halaman yang luas. Lalu, sisi pinggir tebing yang jadi primadona kawasan ini dipenuhi warung-warung jajanan. Yang orang-orang sebut sebagai 'kelingking' itu adalah tebing yang menjorok ke laut berbentuk kelingking. Aku seketika merinding memandangi ketinggian tebing dan melihat ombak menghempas pantai putih di bawahnya. Jika berjalan di sini, harus serba hati-hati karena tebing hanya dibatasi pagar kayu yang dipasak ke tanah. Tanpa ada kekokohan pelindung lain. Mungkin saat Kelingking Beach belum seramai ini, pasak-pasak kayu itu belum ada. Pinggiran tebing polos begitu saja, hanya berbatas rerumputan liar. Agak seram jika dibayangkan.



Kelingking Beach Nusa Penida
Mari berlayar.

Kelingking Beach Nusa Penida
Salah satu lokasi instagramable di Kelingking Beach.

Sisi Kelingking Beach yang lain juga seru buat spot foto.

Ada beberapa spot foto mainstream yang instagramable di Kelingking Beach, foto cantik di miniatur kapal yang harus bayar Rp5.000 untuk biaya perawatan, foto kece di dahan pohon tak berdaun, dan foto persis dengan view tebing Kelingking jadi pilihan kami. Kalau mau lebih jauh lagi, bisa turun merayapi 'punggung' tebing Kelingking yang tipis itu. Tapi aku nggak berani. Dera anginnya lebih hebat dari berat badan. Kalau mau lebih ekstrem, bisa turun dengan mengikuti anak tangga kecil menuju pantai. Lagi-lagi, terima kasih, waktu kami tidak cukup untuk mengeksplor hingga ke pantainya. Ah, sayang sekali.

Sembari duduk menikmati pemandangan tebing-tebing, kami mengobrol dengan orang warung. Mengingat waktu sisa cuma 2,5 jam, kami menanyakan kemungkinan untuk tetap ke Pasih Uug. Bapak-bapak yang berjaga di pinggiran tebing menimpali bahwa kalau dipaksakan ke Pasih Uug, malah serba nanggung. Dari Kelingking ke Pasih Uug bisa menghabiskan waktu 1 jam. Itu artinya, kami hanya punya waktu 20-30 menit untuk eksplore Pasih Uug dan Angel's Billabong. Lalu, harus siap kembali ke dermaga yang juga memakan waktu 1 jam. Agak mustahil ya.

Oke, mari sandang ransel kembali. Kami membulatkan tekad untuk melaju ke Pasih Uug.

2. Pasih Uug

Ternyata jalanan tak seperti yang dibayangkan. Dengan ransel tersandang di bahuku, aku harus mengimbangi laju motor dengan jalanan yang  becek. Ada saatnya aku harus turun dari motor karena roda slip. Ada pula saatnya kami tergelincir karena posisi ransel tidak seimbang. Andai tidak membawa ransel, pasti perjalanan ini lebih mulus. Hari semakin terik. Tapi Pasih Uug masih jauh. Kami terus melaju semata-mata karena terpicu oleh semangat beberapa bule yang berseliweran dengan motor mereka hanya dengan mengenakan singlet. Mereka juga membawa ransel berat di punggungnya. Mereka saja bisa, kenapa kami tidak? Motivasi kosong tapi membawa hasil.

Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach
Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach.


Pasih Uug Nusa Penida, Bali
Padang rumput di sekitar Pasih Uug.
Bali punya cerita
Pasih Uug, sampai jumpa lagi.

Kami sampai di hamparan Pasih Uug 40 menit kemudian. Setelah mengikat ransel di motor, aku terhenti. Pemandangan yang kulihat saat itu...masya Allah. Pasih Uug adalah hidden gem Nusa Penida yang lain. Banyak orang menyebutnya dengan Broken Beach karena ada lubang di tebing tengah membentuk pintu masuk ombak. Ceruk besar dan tinggi di dalamnya menjadi sasaran hempasan ombak. Tebingnya, suara ombaknya yang membahana, membuat kita semakin kecil. Aku melihat orang-orang berjalan mengitari sisi Pasih Uug. Dataran yang mengitari tebing Pasih Uug ditumbuhi rumput hijau yang membuat orang semakin nyaman untuk berjalan bahkan duduk-duduk di sini. Saking besarnya lokasi Pasih Uug ini, orang-orang itu tampak seperti semut di bibir tebing.

Aku sama sekali tidak menyesal menempuh perjalanan rusak dan jauh ini karena apa yang ada di hadapan sungguh membayar lelah itu. Saat langit tak begitu cerah saja, barisan tebing yang tampak di Pasih Uug sungguh dramatik dan luar biasa. Apalagi pemandangan saat langit biru, ya. Ini adalah lokasi sempurna bagi yang menyukai fotografi. Rasanya aku ingin duduk menikmati suara-suara alam yang riang di sini. Seperti Pantai Atuh, Pasih Uug seperti sahabat karibnya. Sama-sama keren dan melengkapi. Katanya lebih indah lagi kalau melihat Pasih Uug ini dari arah laut dengan perahu. Mungkin lain kali, ya, aku akan eksplore perairan di barat Nusa Penida ini.

3. Angel's Billabong

Angel's Billabong masih berada di kawasan Pasih Uug. Hanya berjalan sekitar 5 menit ke arah kanan, Angel's Billabong tersembunyi di balik karang-karang dan tebing yang lebih landai. Kalau menginjak karang-karang ini sangat disarankan mengenakan sendal anti slip karena karangnya tidak rata dan beberapa sisinya tajam. Tempat ini dipercaya sebagai tempat pemandian para bidadari. Itulah kenapa dinamakan Angel's Billabong.

Aku mendekat ke sebuah ceruk di antara karang-karang itu, ceruk kecil melekuk yang membentuk kolam renang sendiri dengan pemandangan lepas pantai. Tapi sayangnya kami dilarang untuk turun dan berenang-renang cantik di ceruk itu. Saat aku ke sana, baru saja ada kejadian dua orang yang hanyut dibawa arus pasang. Cuaca dan laut memang susah diprediksi. Karena kejadian itu lagi hangat-hangatnya dibicarakan dan police line masih terpasang di sekeliling karang, jadi aku sama sekali tidak turun untuk sekadar celup-celup kaki. Agak kecewa, sih. Namun, aku harus berbesar hati karena kami harus segera melaju lagi ke dermaga.

Nusa Penida Bali
Main di karang ini bisa jadi alternatif spot foto juga.

Nusa Penida Bali
Karang di kawasan Pasih Uuh dan Angel's Billabong

Angel's Billabong Nusa Penida
V di pinggir Angel's Billabong.

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita
Angel's Billabong, tempat mandinya para bidadari.
Kami kembali ke tebing Pasih Uug untuk mengucapkan "Sampai jumpa." Kalau ditaya, apakah aku mau jika diajak ke Nusa Penida lagi? Tanpa harus mikir panjang, aku akan menggangguk pasti.

Ini adalah bagian dari doa. Aku percaya sekali. Pasih Uug yang syahdu takkan menjemukan. Trip bersama sahabat-sahabat terbaik menjadikan momen perjalanan ini serasa berada di rumah, meski agak gokil. Kenapa? Begitu kami melewati jalanan rusak lagi, hujan kembali turun. Namun, kami tak berhenti sedikit pun hingga mendekati dermaga Toyapakeh. Sialnya, tiba-tiba kami disuruh berhenti oleh Ry yang lebih suka mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Rupanya bensinnya abis persis di persimpangan jalan masuk ke dermaga. Daripada repot cari bensin, kami akhirnya mendorong motor Ry yang tertatih-tatih berjalan di jalan berkerikil. Pemilik motor yang sudah menunggu di dermaga sedikit kesal karena motornya kehabisan bensin. "Maaf, ya, Pak," ujar Ry pada pemilik motor itu sembari menyodorkan sisa bekal pisang goreng kami.

Untung saja bensinnya abis saat kami sudah dekat. Repot juga jika mesin motor mendadak mati saat kami masih di belantara yang tidak terdeteksi sinyal GPS. Fiuh, kami akhirnya check in kapal. Rasanya lega mengakhiri perjalanan Nusa Penida ini meski masih banyak banget yang belum dilihat dan dieksplor. Bawah lautnya belum. Ketemu Pari Manta belum. Berendam di mata air Guyangan juga belum. Kami kewalahan mengatur waktu yang sudah kami jadwalkan sendiri. Ya, begitulah. Gokil, kan?!

Tak apalah. Yang penting perjalanannya, baru destinasinya. Itu artinya aku memang akan kembali lagi.

Bali selalu punya cara memanggil kita
View di depan kamar Bukit Sunrise di Nusa Penida.

Aku bilang ke Junisatya, "Kenapa, ya, aku selalu ingin balik ke Bali?"

Junisatya setuju. Ia bilang, "Karena Bali punya cara memanggil kita. Setiap perjalanan selalu punya cerita berbeda. Kamu bisa balik lagi, kok, ke sini."

Ya, Nusa Penida adalah satu dari sekian banyak pesona Bali. Aku menunggu waktu yang pas buat kembali ke Bali mengeksplor banyak tempat, karena Bali memang tak pernah membuatku jemu

Read More

Share Tweet Pin It +1

22 Comments