Bikin e-Visa Georgia itu Gampang

Suatu hari, ibuku bilang beliau mau ke Georgia. Kupikir itu negara bagian Amerika Serikat. Aku praktis pesimis untuk bikin visa ke Amrik karena persyaratannya lumayan panjang. Lalu, sang ibu bilang, antar Bundo ke kedutaan, ya. Dengan pede, aku buka maps dan mencari kedutaan Amrik. Eh, ternyata salah alamat. Yang dimaksud Georgia itu adalah negara di Eropa Timur sebelahan sama Rusia. Oalah, aku skip.

Oke, mari putar arah. Aku mencari info tentang pengurusan visa ke Georgia. Karena tujuannya bukan untuk jalan-jalan semata, tetapi membawa misi pertukaran kebudayaan, aku langsung tatap muka dengan sekretariat Kedutaan Besar Georgia di Indonesia. Hubungan diplomatik Indonesia dengan Georgia tampak sangat baik. Jadi untuk urusan visa pun lebih gampang.

Pengurusan visa ke Georgia ada dua macam, visa Schengen atau e-visa khusus Georgia. Aku pernah punya visa Schengen saat ke Swiss, tapi masa berlakunya sudah habis. Jadinya memang harus urus visa baru.

Jika ingin mengurus visa Schengen lewat Georgia, itu artinya kamu harus mengurus visa di lembaga khusus karena kedutaan negara-negara Eropa sudah tak mengurus visa lagi. Yang perlu diperhatikan, lihat tujuan kita masuk ke negara itu. Karena ini perjalanan dalam rangka misi kebudayaan untuk ikut festival folklore dunia, kami dipermudah dengan pengurusan e-visa yang sungguh sangat menyingkat waktu. For short term only, ya.

Begini langkah-langkahnya...

1. Buka website e-visa Georgia.

Apply e-Visa Georgia, Eropa Timur

Di website ini terdapat 3 langkah mudah pengurusan e-visa. Kalau masih bingung dan ingin meyakinkan diri sendiri betapa mudahnya mengurus e-visa Georgia, ada video di bagian bawah website. Kalau sudah paham, siapkan file copy paspor dan file pas foto berlatar terang (sebaiknya berlatar putih). Bagi yang menggunakan hijab, jangan khawatir, Georgia sangat welcome dengan perempuan yang mengenakan hijab. (Teringat saat pengurusan visa Swiss dua tahun lalu, kami diminta membuat pas foto tanpa mengenakan hijab. Sedih!) Dua komponen itu yang paling penting. Dokumen pendukung yang lain bisa menyusul, kok.

Siap? Klik "APPLY NOW"!

2. Submit Application

Bikin e-Visa Gerogia itu Gampang

Ini formulir paling gampang diisi dan tidak terlalu panjang. Kalau kamu pernah mengurus visa ke Eropa, tentu kebayang berlembar-lembar formulir yang harus diisi. Khusus untuk kamu yang ingin mengunjungi Georgia, formulirnya nggak panjang, kok. Begini penampakannya.

Isi citizenship dengan negara kebangsaanmu. Nah, untuk type of travel document, kamu sudah tahu, kan, mau isi yang mana? Buat kita yang merupakan rakyat biasa-biasa saja, tanpa punya privilege khusus macam presiden atau intel, isi dengan type "ordinary". Walaupun kamu merasa dirimu istimewa dan luar biasa, khusus untuk ini, kamu harus bersikap low-profile.

Lihat tanggal expired di paspor. Ingat, ya, urus visa ke mana pun minimal tanggal expired paspor masih harus 6 bulan lagi. Kalau paspormu expired dalam 6 bulan, sebaiknya perpanjang dulu. Ini terjadi padaku. Masa berlaku pasporku sebelumnya adalah bulan Desember 2017. Sementara aku berangkat bulan Juni 2017 ke Georgia. Berarti pas banget aku berada di negara Georgia sebelum 6 bulan habis masa berlaku paspor. Namun, sekretariat Kedutaan Besar Gerogia di Indonesia menyarankanku untuk memperpanjang paspor karena e-visa Georgia akan berlaku selama 6 bulan ke depan sejak tanggal e-visa dikeluarkan. Selama masa berlaku e-visa, paspor tidak boleh dalam keadaan 'lampu kuning' alias sudah sekarat masa berlakunya. Jadi, ya, aku harus perpanjang paspor dulu.

Sudah oke, kan, dengan masa berlaku paspormu? Sekarang saatnya tentukan tujuanmu berangkat ke negara Georgia. Karena aku berangkat dalam rangka ikut festival kesenian dunia di Tbilisi, Georgia, aku memilih "Business/Professional". Jika kamu berangkat untuk liburan biasa, langsung klik pilihan "Tourism". Ada beberapa pilihan lain, sih. Pilih saja yang sesuai dengan kepentingan keberangkatan kita ke negara Georgia. Ini penting untuk identifikasi jenis dan status e-visa yang akan dikeluarkan oleh kedutaan.

3. Travel Information

Nah, jika kamu sudah mengisi bagian-bagian di atas, klik "Next". Kamu akan masuk ke laman Travel Information. Tentukan tanggal kedatangan kamu di Georgia, dihitung tanggal kamu menginjakkan kaki di Tbilisi International Airport, ya. Bukan tanggal kamu berangkat dari Indonesia. Nanti sistem akan menghitung durasi masa berlaku visa yang akan dikeluarkan untukmu. Bagian ini lebih gampang dan jangan lupa selalu baca Information Box dengan cermat. Selanjutnya bisa klik "Next" lagi.

e-Visa Georgia Eropa Timur

4. Terms & Condition

Ini yang aku bilang mudah dalam pengurusan e-visa ke Georgia. Kenapa? Kita nggak perlu upload dokumen semacam travel insurance, reservasi tiket pesawat dan hotel, rekening bank, dan surat lain-lain yang mendukung pengurusan visa. Cukup centang saja kotak di laman ini. Baca juga Information Box. Tapi jujur, ya. Untuk dokumen pendukung itu, dibawa saat berangkat untuk jaga-jaga. Siapa tau kamu bermasalah di imigrasi airport. Nanti bisa dikira imigran gelap dan dideportasi. Owh, sungguh mengerikan.

e-Visa Georgia Eropa Timur

5. Personal Information

Ini isian standarlah ya. Nama, nomor paspor, tanggal lahir, dan email. Oiya, di sini juga saatnya kamu upload pas foto dan paspor yang sudah disiapkan sebelum applying e-visa  ini. Pastikan foto sudah diedit sesuai ukuran yang diminta dan tertulis jelas di Information Box. Nanti foto langsung nongol di laman ini untuk memastikan kamu tidak mengunggah foto yang salah.

e-Visa Georgia Eropa Timur

6. Rekapitulasi data

Setelah "Next", kita akan masuk ke laman rekap data. Pastikan semua data yang dimasukkan sudah benar. Setelah semua oke, permintaan pengurusan e-visa akan dikirim ke email untuk konfirmasi.

e-Visa Georgia Eropa Timur

7. Cek Email

Kamu akan masuk ke laman seperti ini pada gambar. Coba buka email dan baca ketentuan selanjutnya di sana. Kamu punya waktu 1 jam untuk approve application di email dan payment dapat diproses. Sudah siap dengan kartu kredit, kan?

e-Visa Georgia Eropa Timur

e-Visa Eropa Timur
8. Payment

Satu-satunya cara pembayaran melalui website ini adalah melalui kartu kredit. Jadi jangan kaget, ya. Pastikan kartu kreditmu sudah di tangan sehingga pembayaran dapat diproses. Bayar pengurusan e-visa Georgia sungguh sangat murah, cuma 20 USD, ditambah tax, jadi 20.5 USD. Pembayaran ini tidak refundable, lho. Jadi pastikan lagi data sudah benar. Kalau e-Visa ditolak, ya, risikonya uang tidak kembali. Sedih, ya. Untung murah, kan?!

e-Visa Georgia Eropa Timur

e-Visa Georgia

9. Payment Confirmation

Setelah semua pembayaran sudah dilakukan, cek email lagi. Di sana ada keterangan kalau pembayaran kita sudah berhasil. e-Visa akan diproses dalam 5 hari kerja sejak pembayaran dilakukan. Tinggal tunggu, deh. Menunggu itu paling deg-degan. Bisa diterima dan bisa juga ditolak, kan?

e-Visa Georgia

10. e-Visa Georgia

Tadaaaa, setelah sabar menunggu 5 hari kerja, akhirnya e-Visa Georgia keluar juga. Dikirim via email. Di sana tertera file attachment dalam bentuk pdf. Tinggal cetak, lalu dibawa saat berangkat, selipkan ke dalam paspor. Pintu gerbang Georgia sudah terbuka untukmu.

Di sana juga tertulis type of visa. Saat itu status visa ku ditulis C3. Itu bukan gate pesawat. Bukan! Itu golongan tujuan kita mengunjungi Georgia. Karena tujuanku ke Georgia dalam perjalanan bisnis dan profesional, jadi visa jenis C3. Untuk perjalanan wisata, sepertinya type of visa ditulis C1. Jadi jangan khawatir kalau jenis visa kita berbeda. Yang penting bisa berangkat ke Georgia.

e-Visa Georgia

FYI, e-Visa ini hanya berlaku untuk negara Georgia, bukan kategori visa Schengen. Jadi kamu tidak bisa melintas seenaknya ke negara Eropa lainnya. Namanya juga e-Visa mudah dan murah meriah. Dan, satu lagi, selama di negara Georgia, jangan berbuat yang aneh-aneh, ya. Karena di Georgia nggak ada KBRI. Kantor KBRI berada di Kyiv, Ukraina yang mengayomi Armenia dan Georgia. Jadi, kalau ada apa-apa pada WNI di Georgia, kita harus terbang dulu ke Kyiv, Ukraina, sementara kita tentu nggak prepare visa Ukraina, bukan? Bersikaplah sebagai stranger yang baik di negeri orang. Apalagi kata orang KBRI yang sempat kuemail sebelum berangkat, hanya ada 4 orang WNI yang terdata dan tersebar di negara Gerogia. Bayangkan, cuma 4 orang. Siapkan diri untuk benar-benar menjadi stranger di sana, ya. Happy traveling!



*Pengurusan e-Visa Georgia ini dalam rangka perjalanan misi pertukaran kebudayaan dalam International Folk Dance and Music Perkhuli Tbilisi 2017.

Taman Bunga Begonia yang Penuh Cinta

Pencinta tumbuhan dan bunga-bungaan, kebahagiannya akan bertambah 99% saat masuk ke kawasan Taman Bunga Begonia. Lokasinya yang adem, sejuk, dan segar, budidaya tumbuhan di kawasan Maribaya, Lembang, Jawa Barat ini menjadi ranum dan rimbun. Hasilnya, taman indah warna-warni serta wangi menjadi pusat perhatian banyak orang. Ada banyak jenis bunga yang ditanam di sini, lalu ditata sedemikian rupa dengan beberapa instalasi. Taman Bunga Begonia memang bikin betah. Bacanya harus lengkap 'begonia', ya. Jangan disingkat. Jangan pula ditambah-tambah jadi begonia(n). :)

Saat berada memasuki Taman Bunga Begonia, aku jadi ingat sebuah taman bunga besar di Singapura yang pernah kukunjungi sebelum ini. Flower Dome di Garden by The Bay. Taman Bunga Begonia memang tak sebesar dan semegah taman bunga di negeri tetangga itu. Tapi percayalah, wangi-wangian bebungaan lebih natural dan menawan hati. Rasanya, ini sangat Indonesia. Tak perlu budidaya di dalam dome dengan pengaturan suhu tertentu atau dengan kualitas tanah yang sengaja didatangkan dari luar. Taman Begonia memang ada karena kesuburan, suhu udara, serta cuaca yang cocok dan aman untuk berbagai jenis tanaman.

Jenis bunga begonia di Lembang
Bunga yang merah itu termasuk jenis begonia lho.

Taman Bunga Begonia
Selalu bersama Junisatya.
Sunny day di Lembang
Sunny day.
Taman Bunga Begonia yang penuh cinta
Datang sendiri pun ke sini, nggak akan kesepian. Taman ini tetap bernuansa penuh cinta, kok. :)
FYI, bagi yang belum tahu kenapa taman ini dinamakan 'Begonia', begonia itu bukan nama satu jenis bunga saja. Begonia ternyata sekumpulan keluarga tanaman hias yang dapat tumbuh di daerah lembab dan tropis. Cocok sekali dengan Lembang yang sejuk dan lembab. Bunga-bunga yang masuk dalam genus Begonia termasuk bunga tangguh yang bisa hidup di dalam ruangan. Ada beberapa tanaman begonia yang dirawat di area ini (yang sebenarnya aku sendiri tidak begitu tahu yang mana saja).

Taman Bunga Begonia didekorasi se-fun mungkin. Ada beberapa bangku-bangku taman yang di beberapa titik. Disediakan pula tempat-tempat yang bisa membuat fotomu instagramable. Ada area untuk nongkrong bersama, ada pula area untuk bikin acara gathering (asal tidak merusak tanaman). Semua dekorasi dan instalasi ini menjadikan Taman Bunga Begonia bernuansa penuh cinta. Semerbak bunga tercium, ditambah pula angin perbukitan yang sepoi-sepoi. Sangat disarankan untuk mengunjungi taman ini pada pagi hari. Warna-warna bunga masih merona saat itu. Pukul 7 pagi sudah dibuka, kok. Jangan heran jika nanti datang ke sini saat beberapa petugas masih menyirami tanaman.

Taman Bunga Begonia Lembang
Koleksi bunga matahari juga ada di sini.
Taman Bunga Begonia Lembang
Kalau ingin tahu banyak tentang bunga-bungaan, bisa masuk ke bangunan ini.
begonia lembang
Lucu, kan, instalasinya.
Setelah membayar tiket masuk seharga Rp10.000,-, kamu akan dipinjamkan topi rotan sebagai pelindung matahari. Siang di sini tentu sangat terik. Selain fungsi topi sebagai pelindung kepala, topi bisa jadi properti fotoshoot yang ciamik di tengah bunga-bunga cinta.

Yang paling penting saat masuk ke area ini, jangan pernah memetik bunga yang menjadi koleksi Taman Bunga Begonia. Ada area khusus pengunjung yang ingin membawa pulang tanaman cantik dari Begonia untuk dibudidayakan di rumah. Bisa banget. Tapi jangan petik yang ada di dalam area taman, ya. Yang boleh dipetik itu sayurannya (jika kebetulan sedang panen). Yes, di Taman Begonia kita nggak cuma bisa melihat bunga-bunga cantik, tapi di bagian belakang terdapat area perkebunan sayur organik. Beberapa bibit bunga juga dibudidayakan di area kebun. Kebunnya memang tidak terlalu besar, tetapi kita bisa memetik sayuran segar. Ibu-ibu pasti senang kalau ke sini apalagi saat panen. Ada labu, strawberi, lobak, tomat, kol, sawi, dan sebagainya. Petik sendiri dan bisa pilih sayuran mana yang mau dibawa pulang. Nanti ditimbang dan bayar sesuai berat sayur yang mau dibungkus. Tenang saja, harganya murah-meriah. Borong pun boleh selama persediaan masih ada.

Taman Begonia Lembang
Junisatya abis metik labu di Kebun Begonia.
Taman Bunga Begonia Lembang
Dirgahayu Indonesia.

Information
Tiket masuk : Rp10.000,-
Jam buka: 07.00-18.00

One Fine Day in Lembah Harau

Beberapa tahun lalu, saat ke Rammang Rammang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, aku pernah nyeletuk ke Junisatya, "Tebingnya mirip Lembah Harau."
"Masa, sih?" Junisatya sempat tak percaya.
"Iya, bedanya Rammang Rammang itu batu karst, Lembah Harau itu batu granit."

Aku bertekad waktu itu, nanti aku akan ajak sendiri Junisatya ke Lembah Harau, Payakumbuh, Sumatera Barat.

Dan, masa itu tiba. Mudik setelah lebaran lalu kuhabiskan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Jarak Payakumbuh hanya sekitar 1-2 jam dari rumah nenek. Setelah mengikuti serangkaian acara keluarga dan sibuk-sibuk di acara perhelatan nikahan sepupu, kami melarikan diri sejenak ke Payakumbuh. Tujuannya apa lagi kalau bukan Lembah Harau.

Lembah Harau
Lembah Harau yang megah.
Orang Belanda menyebut tempat ini Hemel Arau. Lalu penduduk setempat menyebutnya dengan Lebah Arau saja. Entah sejak kapan namanya berubah menjadi Lembah Harau. Bisa jadi merupakan singkatan dari Hemel Arau.
Lembah Harau memang menjadi lokasi yang tepat untuk holiday escape. Dengan membawa beberapa saudara cilik, aku dan Junisatya langsung melaju dari Baso (rumah nenek kami) ke arah Payakumbuh. Lokasinya lebih tepat melewati Kota Payakumbuh dan memasuki Kabupaten 50 Kota. Lembah Harau cenderung sangat mudah ditemukan. Aku sudah beberapa kali ke sana. Namun, ada sensasi berbeda setiap kali melihat bentangan tebing-tebing granit ini yang memagari lembah datar dengan jalan aspal yang berliku di tengahnya. Ketinggian tebing granit ini mencapai 80-300 meter.

Dengan bukit-bukit cadas yang terjal, kawasan di bawahnya menjadi lembah yang terlindung, seperti rumah dengan tebing itu sebagai dindingnya. Berkat tebing menjulang ini, kawasan lembah menjadi sejuk. Tanahnya pun tak kalah subur karena dialiri beberapa air terjun dari puncak tebing. Dan, karena Lembah Harau dipagari tebing hingga 300 meter, Lembah Harau menjadi cagar alam dengan berbagai spesies di dalamnya.

Apa yang unik dari tebing Lembah Harau? Tebing granit ini menjadi lukisan raksasa dengan goresan abstrak warna-warni. Ada yang warnanya kemerahan, ada yang kuning, ada yang hitam, cokelat dengan tumbuhan hijau melengkapinya.

Dulu sekali aku pernah menginap pula di salah satu resort di kawasan Echo Lembah Harau. Resort ini paling dekat dari pintu masuk dan berada persis di kaki tebing. Kenapa disebut Echo? Karena dinding tebing yang cadas itu bergema sahut-menyahut. Antara seru dan seram, ya, mengingat tebing menjulang itu punya daya pantul cukup kuat. Mungkin hal-hal seperti ini yang berkesan dari Lembah Harau. Karena nuansa alamnya yang asri, segar, tenang dan damai, kupikir Junisatya harus melihat keindahan ini.

Lembah Harau
Junisatya menikmati keindahan tebing di Lembah Harau.

Lembah Harau
Girls day out.
Lembah Harau Payakumbuh
Kawasan Resort Aka Barayun Lembah Harau.
Ada sepupu bercerita, puncak-puncak tebing di Lembah Harau sempat kebakaran pada musim kemarau tahun lalu. Sekarang tebing-tebingnya sedikit botak karena dihanguskan api. Lalu, sudah banyak dibangun resort dan lokasi-lokasi wisata dengan membabat persawahan di kaki tebing. 

Namun, pesonanya belum pupus. Aku tetap melihat tebing-tebing megah mengelilingi lembah. Kami menyusuri jalan beraspal lurus di antara sawah di kiri dan kanan. Lembah Harau di depan mata. Memang banyak yang berbeda dari Lembah Harau kini. Kawasan yang dulunya sawah, kini telah diolah menjadi resort bahkan arena pacuan kuda serta pondok-pondok istirahat. Pesona keasrian Lembah Harau sedikit berkurang. Namun, seiring dengan bertambahnya pengunjung setiap tahun ke Lembah Harau, banyak pihak yang mencoba memberikan pembaruan di kawasan wisata alam megah ini. Semoga pembaruan itu tidak merusak alam, ya.


Lembah Harau Payakumbuh

Sepanjang jalan, aku dan Junisatya cukup menikmati berbagai pesona Lembah Harau. Nuansa ketenangannya masih sama. Bekas-bekas kebakaran juga tidak terlihat. Puncak-puncak tebing tetap menghijau. Berada di dalam Lembah Harau ini seperti berada dalam persembunyian. Tebing-tebing itu memagari kami. Jika masuk lebih dalam lagi, tebing-tebing ini punya keindahan sendiri.

Kami berhenti di salah satu air terjun. Air terjun ini dinamakan Sarasah Aka Barayun (Air Terjun Aka Barayun). Aku juga tidak begitu tahu mengapa dinamakan Aka Barayun (akar gantung). Mungkin ada jenis pohon dengan akar-akar yang menjuntai. Di sebelah air terjun terdapat tangga menuju lereng tebing. Tidak terlalu curam dan hanya ada rimbunan pohon di sekitarnya. Tidak ada spesifikasi keberadaan Aka Barayun. Mungkin banyak tarzan di sini.

Sarasah Aka Barayun merupakan air terjun yang paling ramai karena lokasinya di pinggir jalan dan gampang dijangkau. Di depannya, berjajar warung-warung makan. Kami pun duduk di salah satu warung sambil menikmati air terjun. Ada satu ritual makanan yang selalu kucicipi jika ke sini, yaitu kerupuk (opak) kuah sate yang ukurannya sungguh lebar. Setiap warung menyediakan kerupuk, kuah sate, serta bihun di meja hidang. Pengunjung bebas membubuhkan kuah sate ke satu sisi permukaan kerupuk, lalu menaburkan bihun di atasnya. Ini adalah salah satu camilan favorit di sini. Salah satu camilan favoritku juga. Meski Junisatya sempat bingung bagaimana cara makannya. Padahal tinggal digigit saja.

Sarasah Aka Barayun Lembah Harau
Junisatya sedang belajar makan kerupuk kuah sate.
Kuliner Lembah Harau Payakumbuh

Sarasah Aka Barayun Lembah Harau
Sarasah Aka Barayun.
Lembah Harau Payakumbuh
Air terjun di sekitar tumbuhan akar gantung.
Tidak jauh dari Sarasah Aka Barayun, ada sebuah taman wisata yang di dalamnya terdapat taman bermain anak-anak, jalur sungai yang dialiri oleh air terjun dari puncak tebing, serta taman anggrek dan kupu-kupu.  Di taman wisata ini juga banyak pedagang kaki lima yang berjualan seiring dengan ramainya pengunjung hari itu. Masih suasana lebaran, area wisata seperti ini tentu masih ramai. Kapan lagi bisa bermain di taman wisata ini dengan pemandangan tebing-tebing yang menjulang. Serasa berada di miniatur dunia dan kami adalah orang-orangannya.

Karena aku membawa para bocah, mereka lebih senang berada di wisata bermain ini, terutama lokasi yang ada hubungannya dengan air. Langsung saja mereka merengek meminta naik sepeda air. Untung harganya cuma Rp10.000 untuk satu perahu dan dapat dipakai sepuasnya. Saat anak-anak itu bermain air, aku berjalan berkeliling memperhatikan taman di kaki tebing Harau ini.

Lembah Harau Payakumbuh
Lima bocah dalam satu kereta air.

Lembah Harau Payakumbuh
Fun time.

Lembah Harau Payakumbuh
Taman kupu-kupu di Lembah Harau.
Sebenarnya ada banyak lokasi di Lembah Harau yang bisa dieksplor. Apa daya, hari semakin sore saja. Paling seru kalau bermalam di area lembah ini. Ketenangan malam tentu menggoda sekali. Namun, karena jarak Payakumbuh-Bukittinggi tak begitu jauh, tentu kami takkan diizinkan untuk menginap di sini. Apalagi bawa bocah sebanyak ini. Bisa rame satu kampung kalau bocah-bocah ini tidak dipulangkan ke rumah orangtua mereka.

Tampak sekali Junisatya belum puas menikmati kesejukan Lembah Harau. Masih ada beberapa air terjun tersembunyi di lokasi tebing yang lain. Air terjun tentu menjadi objek utama jika main ke Lembah Harau. Keberadaan air terjun ini sungguh penting demi mengairi sawah-sawah warga di lembah. Ada empat air terjun yang terkenal, Sarasah Bunta, Sarasah Murai, Sarasah Aie Angek, dan Sarasah Aie Luluih. Karena air terjun ini jatuh dari tebing terjal yang cukup tinggi, sering terlihat biasan pelangi di puncaknya. Masyarakat setempat percaya bahwa jika pelangi muncul, itu tandanya bidadari sedang turun dari khayangan untuk mandi di kolam air terjun itu. Tentunya itu akan membawa keberuntungan bagi masyarakat sekitar.

Mungkin masih ada kali yang lain untuk kami mengunjungi Lembah Harau, siapa tahu bertemu bidadari.

Saat Galang Dance Community Mengukir Gerak di International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017

Suatu kesempatan emas saat sebuah komunitas tari lokal kembali diundang mengikuti Festival Kesenian Dunia. Itu yang dirasakan oleh pimpinan kelompok tari dari Sumatera Barat, Galang Dance Community yang baru saja kembali ke tanah air.

Galang Dance Community (GDC) sukses menggelar satu paket kecil kesenian Minangkabau di Tbilisi, Georgia, Eropa Timur. Ini kali kedua GDC menjejakkan kisah geraknya di kancah Eropa. Ini kali kedua pula aku mendampingi grup tari yang berdiri sejak 1991 di Padang ini terbang menjemput tepuk tangan meriah di negeri Eropa.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Indang Pariaman untuk dunia.

Begitu undangan dari International Folk Dance and Music Perkhuli Tbilisi Festival 2017 diterima, sedikit negosiasi dengan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, akhirnya GDC dapat berangkat memboyong 7 anggota. Di antaranya Deslenda (pimpinan dan koreografer), Susandra Jaya (penata musik), Feby Tri Rahmanda (penari), Natasha Dinda Boyula (penari), Arif Budiman (penari), Resky Rulianita (penari), dan aku sendiri Sulung Siti Hanum (project manager).

Perkhuli Festival ini jadi agenda tahunan Tbilisi dalam menggelar jenis kesenian pertunjukan dari berbagai negara. Di bawah naungan Europe Association Folklore Festival (EAFF) , International Perkhuli di Tbilisi ini telah berjalan sekian tahun dan mendapat dukungan penuh dari UNESCO. Pertukaran seni, musik, tari, dan kebudayaan menyatu dalam Perkhuli Festival. Grup Folk Dance Shavnabada menjadi penyelenggara tetap Perkhuli Festival. Tahun ini, untuk pertama kalinya Indonesia bergabung dalam festival ini, sehingga jadi suatu kehormatan besar bagi GDC dapat merapat di Tbilisi, Georgia mengenalkan tarian rakyat Minangkabau. Deslenda selaku pimpinan dan koreografer Galang, sudah mempersiapkan satu tarian berdurasi 20 menit bertema folklore. Enam bulan lamanya satu tim Galang yang terpilih untuk ikut festival dunia ini latihan bersama.

Sajian berbeda digarap oleh Deslenda. Dengan anggota yang mini (hanya 4 penari dan 1 pemusik),  Deslenda meminimalisir keborosan energi dan konsep tari. Ketika penampilan di Basel, Swiss tahun 2013, Deslenda pernah berujar bahwa ada yang kurang dari pertunjukan di Basel, 4 tahun lalu. Tapuak galembong belum sempat menggelegar pada di sana. Kini niat itu dituntaskan. Deslenda memadukan tari indang dengan randai sebagai satu paket permainan anak nagari dalam 1 pertunjukan berjudul Indang Lapak Galembong. Mengusung randai dan indang, tak serta merta mudah. Menjadikan konsep inti randai berupa nyanyian, kesenangan, silat, dialog, dan sorak-sorai dalam durasi singkat bukan hal yang mudah. Tari indang yang pernah jadi andalan Deslenda dalam setiap pertunjukan besarnya di tingkat nasional, kini dibawakan kembali. Kita dapat melabelinya indang rasa baru karena dimodifikasi bersamaan dengan pola randai dan tepuk galembong. Kekompakan pemain, energi, dan kesigapan sangat dibutuhkan. Beruntung, Om Susandra Jaya yang sudah biasa mengiringi tari GDC bertahun-tahun, jadi soloist untuk pertunjukan ini. Saluang, bansi, gendang, dan dendang dibawakan secara live untuk membuat hidup pola permainan anak nagari kita.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Monolog langsung dari Deslenda.

Pergelaran festival diadakan tepat tanggal 18 Juni 2017 di Garden Hall, Tbilisi. Dibuka dengan parade setiap negara dengan pakaian adat serta bendera masing-masing, masyarakat Georgia menyambut hangat penampilam antarnegara ini. Lagu Indonesia Raya berkumandang di seantero gedung, menambah haru suasana hati kami. Tak disangka, GDC ambil andil dalam memperkenalkan satu budaya lokal di Georgia. Dengan pakaian adat meriah dan suntiang taram, aku menerima piagam penghargaan mewakili grup GDC Indonesia. Sunting taram sukses memukau. Busana adat Minangkabau dari Kabupaten 50 Kota ini tampak berbeda dari pakaian adat negara lain. Sunting tinggi dengan aksesoris ramai menjadikan kami pusat perhatian. Ini adalah bagian dari pemikat awal penampilan Galang Dance Community. Deslenda sudah menyiapkan kostum ini jauh sebelum keberangkatan. Meski dipakai hanya pada saat parade, suntiang taram membuka jalan kami untuk mengambil hati masyarakat internasional di Georgia.

Ada 3 negara berdampingan memberi pertunjukan memukau. Namun, hanya 1 negara yang memberikan konsep lengkap Folk Dance and Music, sesuai dengan tema festival Perkhuli ini. Dibawakan secara live pula. Ketika India memberikan tarian rakyat semarak mereka dengan hentakan kaki serta tongkat sebagai properti, lalu Iran yang membawakan melodi lewat lagu beriringan musik tradisional mereka, Indonesia menampilkan yang lebih. Ada tari, ada silat, ada gelut, ada nyanyian, ada dentaman alat musik. Kurang lengkap apa coba, Galang membawakan keindahan lokal dan mendapat standing applause dari masyarakat dunia.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Penerimaan penghargaan dari International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Parade negara.
International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Om Susandra Jaya mengomandoi parade musik tradisional Minangkabau. 

Indang Lapak Galembong merupakan bentuk permainan lokal di sudut Sumatera Barat. Menyasar pada sikap dan interaksi masyarakat Minangkabau, Deslenda sengaja menariknya dalam sebuah konsep tari rakyat yang bersifat kontemporer. Kegaduhan, kehebohan, sorak sorai, serta bisik-bisik rumit gelutan hidup tampak membaur dalam gerak dan musik. Ini tradisi kita. Ini potret hidup kita. Gerak-gerak tegas yang dibawakan perempuan dan laki-laki menampik isu adanya sebuah kesenjangan gender.

Gerak ini begitu mencolok jika disandingkan dengan tarian rakyat Georgia yang khas Eropa. Para perempuan bergerak gemulai, memainkan tangan sebagai poros gerakan, lalu laki-laki yang bergerak cepat dan bebas memainkan hentakan kaki. Ada khasanah budaya dan sejarah yang dibawa tiap tarian. Sejarah panjang Georgia yang mengiringi perang dunia, interaksi dan gaya hidup rakyatnya terpotret semu dalam gerak-gerik serta musik mereka. Dentumannya berbeda, pesannya pun berbeda. Begitu juga dengan tarian India yang riang, semarak, serta selalu terdengar meriah itu juga menyimpan pesan sendiri. Sudah khas dari India bahwa setiap perjalanan hidup itu harus dihadapi dengan sorak-sorai. Tak heran jika India disebut negeri penuh tarian dan pesta. Berbeda dengan Iran yang dibawakan oleh anak-anak. Musik rebana lebih kalem, nyanyiannya pun beraroma lebih dalam. Iran dikenal sebagai negara muslim yang punya nilai-nilai seni klasik dari Timur Tengah. Iran memilih nyanyian haru sebagai tema pertunjukan mereka. Aku bangga ketika membawa nama Indonesia. GDC layak berdampingan dengan para seniman dunia ini menampilkan karya yang berkualitas, menyampaikan pesan dan memotret interaksi kita untuk bertemu dengan jenis kesenian folk dance lain di Eropa.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Randai dan tepuk Galembong untuk Perkhuli Festival Tbilisi.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Silat Minangkabau dibawakan oleh Galang Dance Community.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Tari indang dari Pariaman.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Parade musik, iringan talempong, gendang dan bansi sebagai pembuka.

Satu orang Georgia berucap padaku, "I'm speechless. No word can explain after watching your concert. It was really amazing."

Satu orang lain lagi pun berkata, "Kami belum pernah melihat tarian seperti itu di sini. Energinya powerful. Pasti kalian berlatih sangat keras untuk penampilan hari ini. Apa yang kalian bawakan langsung sampai menyentuh hati kami."

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Applause dari penonton internasional.

International Folk Dance and Music Perkhuli Festival Tbilisi 2017
Ada bendera merah putih berkibar di Garden Hall Tbilisi.

9 Angels, A Place Not to be Missed in Ubud

Ada satu tempat di Ubud, Bali yang tidak boleh dilewatkan. Saat berkunjung ke Ubud, aku dan teman-teman seperjalanan diajak berjalan-jalan keliling Ubud dan harus mampir ke sebuah restoran vegetarian. Dea, temanku yang sekarang menjelma menjadi orang Ubud, sangat riang sekali saat bercerita tentang kafe istimewa yang satu ini. Namanya 9 Angels Cafe. Aku jadi ingin tahu seperti apa rupa tempat makan yang satu ini. Dea cuma memberikan beberapa clue: menu vegetarian, konsep dekorasi daur ulang, kantin kejujuran, dan pemiliknya sangat ramah. Hmm... baiklah. Dea berhasil membuatku penasaran.

Ubud rupanya mengajarkan banyak hal terhadap orang-orang yang tinggal di sana. Tentang alam, kelestariannya, kesederhanaannya, dan toleransi yang sangat tinggi. 9 Angels Cafe adalah sebuah wujud kesederhanaan dan toleransi yang tinggi warga Ubud. Begitu memasuki kawasan kafe, kami disambut pernak-pernik dari botol-botol kaca yang disusun sedemikian rupa. Bisa dijadikan meja, bangku, bahwa hiasan dinding.

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Ini tempat favoritku di 9 Angels, nuansa senja sambil baca. (Foto diambil oleh V)

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Api unggunan yuk. (Foto diambil oleh https://www.instagram.com/noviiaoktaviaa/V)
Konsep kafe ini terbuka dan dipenuhi oleh pot-pot tanaman yang didesain menarik. Bangku-bangku kayu, ranting-ranting pohon, bahkan hammock ditata apik. Bilang saja ini kafe yang menyatu dengan alam. Di samping itu, kafe ini juga punya space yang lebih tenang dan privat. Ada ruang terbuka yang lebih semarak, ada pula ruang baca yang lebih syahdu. Sekumpulan buku disusun di rak, bisa dibaca sambil nongkrong cantik di kafe ini. Tapi bukunya impor semua, lho, karena yang datang ke sini pun mayoritas bule.

Suasan kafe ini menyenangkan dan super santai. Kalau malam, lampu warna-warni menyala. Kita bisa bakar api unggun dan mendengarkan acara musik seadanya tapi penuh tawa. Semakin malam memang kafe ini semakin ramai. Pengunjungnya bebas mau duduk di mana, bermain apa pun, atau melakukan kegiatan apa pun. Ada area terbuka untuk bersuka ria. Pemilik kafe rupanya sudah memperhitungkan detail kegiatan santai yang sesuai dengan konsep kafe. Ada banyak kegiatan unik yang diadakan di kafe ini. Tidak muluk. Tapi akrab.

Untuk menu makanan, kita bisa ambil sepuasnya karena dihidangkan secara prasmanan. Ada daftar harga di tiap kelompok makanan. Ada jenis nasi merah dan nasi putih juga. Buah-buahan juga ditumpuk dengan label harga murah. Semua menu ini vegetarian, ya. Tidak ada menu protein hewani di sini. Tapi masakannya enak-enak semua. Untuk minuman, pengunjung juga bebas menyeduh kopi, teh, dan susu. Self service. Tidak perlu pusing soal bayaran. Setiap makanan dan minuman sudah dilabeli harga, jadi catat masing-masing kamu makan dan minum apa saja.

9 Angels, A place not to be missed in Ubud
V sedang menikmati nuansa outdoor 9 Angels.

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Bagian dalam dari 9 Angels.

Vegetrian cafe in Ubud
You don't need a reason to feed people, slogan 9 Angels. (Foto milik Dea)

Vegetarian cafe di Ubud
Makan buah tinggal kupas sendiri. (Foto diambil oleh Ry)
Uniknya tidak ada kasir juga. Aku diberi tahu Dea, kalau mau bayar, tinggal memasukkan uang ke dalam botol kosong yang tersedia di setiap meja. Oiya, setelah makan dan minum, cuci peralatan makan sendiri dan taruh di tempatnya. Ini, sih, sudah banyak kafe dan restoran di luar negeri yang seperti ini, mengajarkan pengunjung untuk mandiri dan bertanggung jawab. Begitulah cara kerja tongkrongan di 9 Angels ini. Anggap rumah sendiri. Jadi tidak perlu sungkan, tidak perlu antre, tidak perlu ribet.

Kamu ingat kantin kejujuran sewaktu sekolah dulu? Atau pernah belanja di kantin kejujuran? Setiap belanjaan yang dibeli, uangnya tinggal ditaruh di dalam kotak uang atau box khusus. Begitu juga dengan makan, tinggal taruh uangnya di tempat yang disediakan. Jadi, yang nggak bayar, nggak ketahuan, dong? Iya. Terserah aja, kalau mau nggak bayar, ya silakan. Tapi dosa ditanggung masing-masing, ya. Nah, itulah yang diaplikasikan di 9 Angels Cafe. Seru, ya.

Kata Dea, butuh waktu lama untuk mengedukasi pengunjung dan membiasakannya self service di sini. Tapi lama-kelamaan bisa juga. Tidak perlu dihitung kerugiannya. Jika orang terbiasa dan sudah merasa nyaman, rasanya 9 Angels tidak butuh apa-apa selain kerendahhatian dan kejujuran pengunjung. Yang penting nyaman. Itu tagline masa kini, bukan?
Dekorasi 9 Angels
Reading battle. (Foto diambil oleh Junisatya)

9 Angels, a place not to missed in Ubud
Hangout with best friends.

Jadi, kalau kamu ke Ubud, sempatkan mampir di 9 Angels. Tempatnya asyik, suasananya akrab, dan bisa makan kenyang-sehat.


9 Angels
Jl. Suweta No. 32, Ubud
Kabupaten Gianyar, Bali
Open : 10.00 AM-10.00 PM
More info : Instagram @9angelsubud