Jatuh Cinta pada Pantai Atuh Nusa Penida nan Gagah

Setelah perjalanan panjang mencari lokasi Pantai Atuh, aku kegirangan saat sampai. Bukan. Mungkin bukan kegirangan istilah lebih tepatnya. Begitu berdiri di puncak tebing dan melihat ombak memecah karang di bawah sana, aku hanya bisa menganga, bersyukur bisa melihat segala keindahan alam yang masih sangat natural itu, serta ingin berteriak kencang hingga suara memantul ke dinding tebing sambut-menyambut. Mungkin ini yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku jatuh cinta pada Atuh yang gagah ini.

Nusa Penida itu megah. Rasa lelah di perjalanan yang berliku terbuang. Aku berdiri di atas tebing tipis yang membagi 2 pantai. Pantai Atuh di sebelah kiri dan Teluk Titibahu di sebelah kanan. Pesonanya sama-sama megah dan natural. Air laut yang berwarna biru memecah garis pantai. Ada satu pura berdiri di Pantai Atuh dan beberapa atap warung yang terlihat sangat kecil dari atas sini. Sementara tak terlihat bangunan apa pun di bagian Teluk Titibahu. Hanya ada karang-karang kecil yang dikikis dan dibentuk oleh hempasan air laut. Mahakarya luar biasa dari Yang Kuasa. Kami berada ratusan meter tingginya dari atas permukaan laut. Dapat melihat dinding-dinding tebing seakan sengaja disusun rapi menghadap lautan.

Pesona Atuh Beach Nusa Penida
Pesona Atuh, jatuh cinta pada pandangan pertama. (photo by Junisatya)
Panorama tebing sekejap memesonaku. Meski cuaca sedang tidak bersahabat, di lautan hujan deras dan tebing ini diterpa badai, pesonanya tetap tidak hilang.

Atuh. "A" artinya "tidak". "Tuh" artinya "kering". Atuh berarti "tidak kering". Ini merujuk pada dua mata air (tawar) yang secara ajaib tak pernah kering, terdapat di bagian pantai Atuh. Lokasinya persis di sebelah Pura Atuh. Umat Hindu di kawasan ini percaya bahwa mata air itu keramat mengingat lokasinya bersebelahan dengan garis pantai. Satu mata airnya khusus digunakan untuk hari besar dan upacara adat saja. Karena itulah pantai ini dinamai Pantai Atuh.

Posisinya yang dikelilingi tebing tinggi tampak terlindungi. Ada pulau-pulau batu di sekitarnya. Salah satunya yang menjadi ikon adalah Pulau Melawang atau Pepadasan yang jadi pulau karang terbesar yang berhadapan langsung dengan Pantai Atuh. Pulau karang ini juga biasa disebut Batu Bolong karena karangnya membentuk kolong. Penduduk sekitar percaya bahwa setiap kapal atau perahu yang ingin berlayar ke laut lepas, harus melewati kolong batu tersebut. Percaya atau tidak, mitos ini masih dijalankan oleh penduduk setempat karena bernilai magis.

Pesona Pantai Atuh Nusa Penida
Pantai Atuh yang tersembunyi di balik tebing karang.

Pesona Atuh Beach Nusa Penida
Kami berjalan di Bukit Labuhampuak. (Photo by Junisatya)
Sebelum aku bisa menyusur tebing untuk turun ke Pantai Atuh, hujan deras disertai angin mengguyur. Mau tidak mau kami harus berteduh dulu. Tebing tempat kami berdiri dinamakan Bukit Labuhampuak. Di ujung tebing atau bukit ini terdapat satu penginapan berupa rumah panggung dari kayu. Aku berjalan ke sana sekalian untuk berteduh. Rupanya di sini banyak kera yang berkeliaran. Asal tidak mengganggu habitat mereka, kera-kera ini juga tidak akan mengganggu. Meski sempat ragu juga karena jumlah kera yang menggelayut di bibir tebing cukup banyak.

Pesona Atuh Beach Nusa Penida
Pemandangan tebing yang memagari Pantai Atuh. (photo by Junisatya)

Pulau Mellawang atau Pepadasan dari Bukit Labuhampuak.

Pesona Pantai Atuh Nusa Penida
Teluk Titibahu,
Aku mencapai cottage yang cuma 1 bangunan itu. Berada di sini, embusan angin semakin hebat. Dari sini, aku bisa melihat pulau karang di depan Pantai Atuh dengan lebih jelas, serta dinding-dinding tebing yang memuat teluk-teluk kecil yang sungguh menawan hati. Di sebelah Teluk Titibahu, masih ada Teluk Parangempu. Lalu jika ditelusuri pinggiran tebing ke arah selatan, ada bukit yang dinamai Raja Lima untuk melihat gugusan pulau karang yang tersebar di sekitar Atuh. Penduduk setempat menamainya Pulau Seribu. Tapi wisatawan memberikan nama Raja Lima. Aku sempat tergelitik dan ingin menyeletuk, setelah Raja Ampat (empat) di Papua, inilah Raja Lima di Nusa Penida.

Di top view Raja Lima, terdapat cottage yang sudah terkenal di kalangan wisatawan asing. Tree House. Untungnya pihak pemilik tidak mengklaim wilayah cottage ini sebagai wilayah komersial, jadi kita bisa tetap menikmati Raja Lima tanpa harus menjadi tamu cottage. Menginap di sini dengan view gugusan tebing ini juga tidak buruk. Aku sempat berencana menginap di Tree House. Namun, Ry, teman kami menolak lantaran ia paranoid dengan rumah pohon, kerepotan harus turun-naik setiap ingin buang air, dan tingkat keamanannya kurang terjamin. Awalnya aku hanya menertawainya saja. Namun ketika mencapai tempat ini dalam keadaan angin kencang, aku bersyukur kami tidak jadi menginap di sana. Melihat rumah pohon dari kejauhan, diterpa badai pula, dan bangunan tampak seadanya, berada di pinggiran tebing, membuat nyaliku surut. Aku menelan ludah. Aku takkan bisa menghabiskan malam tanpa harus waspada dengan badai itu. Baiklah, mungkin lain kali aku punya kesempatan menginap di Tree House dalam cuaca yang jauh lebih baik.

Pesona Raja Lima Nusa Penida
Tree House dan Raja Lima. (photo by Kak Angga)
Hari semakin sore saat kami kembali ke bukit Labuhampuak. Saatnya turun ke Pantai Atuh. Untungnya treknya tidak begitu sulit, hanya lebih terjal. Tangga-tangga batu itu sudah disemen dan lebih rapi. Tapi tetap saja harus berhati-hati karena licin. Angin masih sangat kencang berembus. Aku berkali-kali berhenti dan menunduk, karena terlalu gamang berada di lereng tebing curam seperti itu. Butuh tekad yang kuat untuk terus turun karena tidak ada pegangan lain selain akar-akar semak. Aku terus merayap turun disemangati oleh teman-teman yang tak kalah gamang. Tapi masih ada sedikit antusias di benak kami. Ombak di pantai rasanya sudah memanggil-manggil kami dari bawah.

Pasir lembut menyambut langkahku. Batu Bolong lebih dekat dari pandangan. Memang indah, megah, dan gagah. Sebandinglah dengan usaha kami merayapi tebing tinggi ini. Ombak memecah saat menyentuh Batu Bolong itu, menimbulkan efek dramatis di Pantai Atuh. Angin menambah semarak sore kami di Pantai Atuh.

Bersantai di pantai tersembunyi ini adalah pilihan yang tepat. Tak perlu takut pada badai lagi. Tak juga harus takut pada ombak. Karena ada tebing tinggi melindungi dan ada pulau-pulau karang yang menghadang ombak. Aku hanya mendengar deburnya saja yang menggetarkan. Meski menggelegar, suara angin juga tak padam, rasanya berada di sini sangat tentram. Aku memandangi dinding tebing. Tak percaya dapat sampai ke bawah ini dari atas sana setelah melewati perjalanan yang tak sebentar untuk sampai ke titik ini.

Pesona Pantai Atuh Nusa Penida
Hempasan ombak di sela Batu Bolong.
Pesona Pantai Atuh Nusa Penida
Pantai Atuh dan Batu Bolong. (photo by Junisatya)
Pesona Pantai Atuh Nusa Penida
Ceria di Pantai Atuh yang tersembunyi.
Pantai Atuh Nusa Penida
Tempat bersantai di Pantai Atuh.
Selama sesorean itu, aku dan teman-teman menikmati pantai ini. Setelah hujan merundung, ombak tampak semakin besar saja mnghempas. Pesona Pantai Atuh emang pecah banget. Siapa saja yang ke sini pasti akan langsung jatuh cinta. Atuh, aku akan kembali lagi. Aku ingin kembali ke sini.

Pantai Atuh Nusa Penida
Menuruni lereng tebing demi menuju Pantai Atuh.

Perjuangan Menuju Pantai Atuh, Nusa Penida

Pagi itu aku dan kelompok kecil perjalanan kami sudah tiba di Sanur. Dengan setelan kaus dan celana jeans, lengkap dengan ransel yang tersandang, kami memesan tiket kapal cepat tujuan Nusa Penida di sebuah loket dekat dermaga. Rupanya, kapal cepat itu harus langsung dipesan pergi dan pulang. Kami berencana menginap di Nusa Penida selama 2 malam, jadi tiket pulang dijadwalkan lusa.

Namun, karena bertepatan dengan Hari Raya Galungan, fast boat tidak berlayar pada tanggal 5 April 2017. Dengan berat hati, kami harus pulang esok sorenya. Berat sekali. Bisa apa di Nusa Penida kalau cuma menginap satu malam?! Nah, inilah cerita perjalananku dan teman-teman dalam kisah yang dibawa pulang dari Nusa Penida.

Kenapa kami harus ke Nusa Penida? Karena belum pernah. Bali itu luas, tak hanya tentang Kuta, Legian, Seminyak, Ubud, dan Nusa Dua. Pulau sekitarnya juga tak hanya Menjangan dan Nusa Lembongan. Ada satu pulau di bagian selatan Pulau Bali yang lebih besar dari Nusa Lembongan. Pulau ini dinamakan Golden Egg of Bali. Itulah julukan untuk Nusa Penida. Jika melihat peta, Pulau Bali sendiri berbentuk ayam yang sedang bertelur. Ada tiga pulau yang menyerupai telur si Pulau Bali; Nusa Ceningan, Nusa Lembongan, dan Nusa Penida. Nah, Nusa Penida adalah pulau yang terbesar dari ketiganya. Jika Nusa Ceningan terkenal dengan wisata pantai dan Nusa Lembongan surganya para diver, Nusa Penida seperti telur emas yang punya pesona berbeda.

Maka, kami pun ingin mengunjungi si Golden Egg of Bali ini.

Naik fast boat ke Nusa Penida, Bali
Berlayar ke Nusa Penida.
Karena kapal baru berangkat pukul 9, kami harus menunggu sekitar 1 jam lagi. Kami memutuskan untuk sarapan di warung makan yang tampak ramai persis di seberang loket tiket. Kami mampir dan memesan sup ikan kuning. Iya, sup ikan kuning. Wangi masakannya menggiurkan. Meski Junisatya tak menyukai masakan ikan yang tidak digoreng, ia pasrah menyesap kuah gurih ikan kuning itu. Dalam perjalanan, kita tidak boleh membedakan makanan. Dalam perjalanan, makan itu wajib karena kita butuh tenaga di setiap langkah yang akan ditempuh. Apalagi kami belum tahu sama sekali tentang Nusa Penida. Info tentang Nusa Penida pun masih sangat minim. Jadi, mau tidak mau, kami harus siap mental apa pun yang akan ditemui di sana.

Pantai Sanur, Bali, dermaga fast boat ke Nusa Penida
V siap berlayar ke Nusa Penida dari Sanur. (photo by Ry Azzura)
Setelah perut kenyang, sup ikannya enak sekali (Indra dan Junisatya meragukannya lantaran mereka tidak suka ikan laut yang bagian dalamnya lebih kenyal seperti kikil), kami duduk menunggu kapal di pantai Sanur. Melihat air lautnya yang hitam dan naik kapal harus berjalan dulu melewati garis pantai, kami menimbang-nimbang untuk berganti celana. Jeans bukan teman yang cocok untuk basah-basahan, guys. Ry, V, dan Indra berganti celana pendek. Aku mengganti jeans dengan legging yang lebih ringan dan nyaman. Kami siap tempur menuju Nusa Penida. Yeay.

Pelayaran kami berjalan mulus. Angin tak terlalu ribut, ombak juga tidak sedang rewel. Kami tiba di dermaga Toyapakeh. Welcome to another paradise of Indonesia.

Explore Nusa Penida, Bali
Halo, Nusa Penida.
Explore Nusa Penida, Bali
Sampai di dermaga Nusa Penida, muka masih cerah, ya.
Begitu keluar kapal, kami langsung dikerumuni bli-bli yang ingin menyewakan motor, mobil, dan angkotnya.Tentu saja tak langsung diambil karena kami harus cari harga termurah. Setelah tawar-menawar garis keras, kami memilih menyewa motor saja untuk 2 hari, seharga 120 ribu rupiah, include bensin yang sudah terisi sekitar 1 liter lebih.

Bli pemilik motor menyarankan kami untuk menjelajah kawasan timur Nusa Penida terlebih dulu. Padahal dalam agendaku, yang pertama dituju itu ya Crystal Bay. Tapi yasudah, eksplor wilayah Nusa Penida timur juga lebih baik. Pantai Atuh sudah menanti di ujung timur. Tanpa basa-basi, dengan ransel tersandang, melajulah kami dengan mulus melewati kawasan utara Nusa Penida.

Ada satu pura yang terkenal di pulau ini karena letaknya persis di dalam goa, yaitu Pura Goa Giri Putri. Tadinya kami mau mampir, tetapi karena V sedang dalam period days, dia tidak dapat masuk ke dalam pura. Sekalian saja kami tidak masuk, lagipula pura serupa mirip dengan Gua Gajah di Ubud. Tak apalah, kami kan mengincar nuansa alamnya di Nusa Penida ini.

Karena letih bawa-bawa barang di motor, tengah hari pula, kami memutuskan untuk cari penginapan dulu. Tadi di dermaga sudah ditawari penginapan seharga 150 ribu untuk kamar yang non-AC. Kami memilih cari lokasi yang lebih enak. Beruntung sekali, bli yang punya warung di seberang Pura Goa Giri menunjukkan kami satu penginapan yang view-nya oke. Bukit Sunrise Cottage. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Goa Giri. Cottage ini masih tergolong baru dan hanya menyediakan 2 kamar yang menghadap ke laut. Setelah tawar-menawar, jadilah kami mengambil penginapan itu seharga 300 ribu rupiah dengan fasilitas AC, wifi, dan sarapan. Siapa yang menolak fasilitas sekelas hotel ini?

Penginapan Bukit Sunrise Cottage, Nusa Penida
Cottage view.

Penginapan Bukit Sunrise Cottage, Nusa Penida
Istirahat sejenak di Bukit Sunrise Cottage. (photo by Ry Azzura)
Tak dapat menolak keinginan untuk beristirahat sejenak, kami pun mengademkan diri di kamar. Anyway, kami yang formasi berlima ini mengambil 1 kamar saja cukup karena kamarnya cukup luas untuk kami berlima. Iya, sekamar berlima. Bukannya pelit, tapi karena kamar sebelah sudah ada yang mengisi dan kami terlalu lelah untuk mencari penginapan lain. Antara mau hemat dengan jalan-jalan kere beda tipis, ya. Lagipula besok pagi kami juga sudah check out dari Bukit Sunrise. Jadi, mari kita nikmati kebersamaan dalam satu ruangan tanpa harus sikut-sikutan. Itu manfaat perjalanan, bukan?

Tepat tengah hari, setelah santai sejenak, kami melanjutkan perjalanan sesuai rencana, ke Pantai Atuh. Di Google Maps, tercantum bahwa Pantai Atuh hanya 38 menit dari Bukit Sunrise Cottage ini. Oke, baiklah, tak terlalu jauh. Kupikir begitu awalnya.

Lalu...

Akhirnya aku tahu, mengandalkan digital maps di tengah pulau yang sepi seperti ini adalah salah besar. Namun, bertanya pada penduduk setempat pun tak memberi jawaban benar.

Explore Nusa Penida, Bali
Mari arungi Nusa Penida.
Hebatnya di Nusa Penida sudah ada marka jalan yang menandai tempat-tempat yang memang jadi tujuan wisata. Aku dan Junisatya yang melaju di paling depan dengan senang hati mengikuti marka jalan hingga sampai di persimpangan. Kami bingung karena marka jalan pun mulai bingung juga. Kenapa? Kami tiba di simpang tiga. Atuh Beach tertulis ke arah kiri. Tetapi di bawahnya ditulis juga Atuh Beach dengan simbol panah ke atas (artinya lurus). Ini ceritanya bagaimana sih? Masa iya kedua arah jalan ditunjukkan dengan nama tempat yang sama? Ya, jelas kami bingung, kita semua akan bingung. Arah manakah yang benar?

Aku kembali cek Google Maps. Di sini ditunjukkan bahwa kami seharusnya belok kiri. Sip.

Ternyata masalah tidak sampai di situ. Dari persimpangan tiga, kami bertemu dua kali persimpangan lagi. Sulit sekali bertanya ke penduduk setempat karena yang kami temui justru semak-semak di pinggir jalan dan beberapa celeng (babi hutan)  yang asyik makan. Sekalinya ada warga yang bisa ditanyakan, mereka memberi petunjuk yang salah. Eh, maksudnya mereka tahu dengan pantai Atuh tetapi ya pantai. Sementara kami mencari jalan ke tebing dengan panorama Pantai Atuh. Saat kami menelusuri jalan yang ditunjuki warga, kami sampai pada jalan aspal yang terputus. Sisanya jalan tanah berkerikil dan menurun curam. Ini benar jalannya?

Tak ada yang tahu. Mau bawa motor ke bawah pun berbahaya. Hari semakin mendung. Kalau hujan, akan lebih berbahaya lagi. Lalu ada seorang cewek bule mengendarai motor dari arah bawah. Tanpa pikir panjang, aku bertanya langsung pada bule itu. Dia sendiri tidak menyarankan kami untuk turun karena terlalu berbahaya. Dia juga melihat pantainya biasa saja. Dia sendiri merasa tersesat karena sedari tadi juga mencari jalan menuju Pantai Atuh seperti kami.

Cewek bule itu pergi dan meninggalkan kami dalam kebimbangan. Tak lama, ada sekawanan bule bermotor juga yang lewat. Mereka hanya menyapa riang. Kupikir, mereka pasti akan balik lagi ke atas sesaat kemudian. Kami hanya melihat mereka sambil termangu. Antara ingin menyerah atau terus lanjut.

Aku : Gue nggak yakin ini jalannya.
Ry : Tanya orang aja.
Juni : Nggak ada orang, Cuy. Kita parkir motor di sini aja trus turun. Gimana?
Ry : nggak ada yang jagain motor dong.

Indra sekonyong-konyong menghilang. Dia masuk ke dalam semak. Katanya ada jalan setapak lalu ada padang rumput tempat parkir motor. Intuisinya berkata bahwa jalan menuju tebing Atuh itu lewat semak-semak ini.

Aku tidak yakin.

Tapi kami mengikutinya. Membawa motor masuk belukar dengan risiko kaki disengat ulat bulu dan rumput liar gatal. Oh Tuhan, apa benar ini jalan ke Pantai Atuh yang terkenal itu?

Aku : (saat motor diparkir di tengah semak) Kok gue nggak yakin ini jalannya?
Indra : Kita coba aja.

Mereka lebih dulu jalan. Aku dan Junisatya masih duduk di motor. Ry dan V bimbang. Sepertinya Ry sudah suntuk sekali. V kelaparan. Dia menyarankan untuk kami balik arah, cari rumah warga dan tanya lagi. Lalu cari warung untuk makan. Gerimis sudah mulai turun.

Apa daya, tekad kalah sama perut. Kami harus makan jika tak ingin pingsan.

Kami kembali ke pertigaan tempat marka jalan yang membuat semua orang tersesat itu. Siapa tahu arah yang benar adalah arah Atuh Beach yang satunya lagi ditunjukkan oleh marka jalan. Semoga ya.

Perjalanan kami tak sesemangat sebelumnya. Tidak jarang kami putar balik saat menemukan jalan bercabang, lagi dan lagi. Meski marka jalan sudah menunjukkan arah yang menurut kami benar, jalan itu justru mulai berlubang. Batu kapur dan lumpur menyebabkan motor kami mudah tergelincir. Belum lagi kontur tanah yang kadang turunan curam, kadang tanjakan tajam. Adrenalin naik turun. Sementara kami berkejaran dengan waktu di belantara Nuda Penida. Aku kelelahan dan dehidrasi. Harus cari warung. Warung apa saja asal tak menyajikan menu babi.

Kami berhenti di sebuah warung makan. Ada pilihan nasi goreng dan mie rebus. Makan mi rebus asyik, nih. Karena lapar, Junisatya memesan 1 mangkuk mie rebus dan 1 piring mie goreng. Ry malah melahap dua mangkuk mie rebus. Sisanya, kami memesan mie rebus telur plus nasi putih. Luar biasa kalap, ya, makannya. Sembari makan, sembari melepas lelah, kami mengobrol dengan pemilik warung menanyakan arah yang benar. Syukurlah Atuh Beach yang dituju tak terlalu jauh. Kami saling melempar canda dan menulari tawa.

Hanya berkisar 15 menit dari warung makan tempat kami singgah, aku berseru senang saat melihat spanduk kecil yang menggambarkan keindahan Pantai Atuh dan tebing-tebingnya. Ada dua percabangan, ke kiri ke Pantai Atuh, sementara ke kanan ke Tree House (kawasan resort dengan view pantai Atuh). Aku memilih ke destinasi utama dulu sebelum hujan merundung kami. Jalanan bergelombang dan makin curam. Sesekali motor yang dikendarai Junisatya tergelincir lagi. Ry bahkan menyerah membonceng V. V terpaksa turun dan jalan kaki karena memang tidak memungkinkan untuk lanjut dengan motor. Meski ia sedikit kesal, tapi gairah untuk bertemu permata di Nusa Penida tak dapat terhapus begitu saja. Tinggal beberapa meter lagi. Dan...

Atuh Beach Nusa Penida
Ini dia tebing yang kami cari.
Atuh Beach Nusa Penida
Atuh Beach yang terkenal itu.
Here we are.

Tebing Pantai Atuh sudah di depan mata. Dengan membayar biaya retribusi sebesar lima ribu rupiah, kami menanjaki jalan yang sudah disemen di sepanjang tebing. Wah, begitu berada di jalan setapak itu, kemegahan Pantai Atuh itu terlihat sangat syahdu. Akhirnya kami sampai. Dan, pemandangannya memang tak disangka-sangka. Aslinya lebih indah dari foto-foto tentang Atuh yang beredar di internet. Aku terharu. Perjalanan ke sini luar biasa. Lalu kami disuguhi pemandangan cantik seperti ini. Masya Allah.

Kata penjaga parkir, kami bisa menuruni tebing itu hingga ke pantainya. Tapi, ya sangat curam dan licin. Cuaca sedang tak bersahabat. Begitu menikmati keindahan tebing-tebing megah itu, badai melanda. Aku sendiri gamang berdiri di tengah-tengah tebing. Hujan lebat turun seketika. Apakah kami akan tetap menuruni tebing untuk mencapai pantai? Tunggu di jurnal berikutnya.

Atuh Beach Nusa Penida
Kami sampai saat hujan badai di lautan. Anginnya menerpa kuat sekali. Harus serba hati-hati.

Keterangan foto
Sebagian besar foto yang ditampilkan di jurnal post ini diabadikan oleh Junisatya.

Biaya yang kami keluarkan
Tiket Fast boat Sanur-Toyapakeh : IDR 175.000/orang pp
Sewa motor : IDR 60.000/hari
Penginapan Bukit Sunrise : IDR 300.000/malam
Biaya restribusi Pantai Atuh : IDR 5.000/orang
Parkir motor di Pantai Atuh : IDR 5.000

Disambut Goreng di Rumah Ceria Ubud

Di saat orang menggemakan April Mop di media sosial, aku dan Junisatya sudah kerepotan menyambut April Fun. Kami packing dengan bersemangat. Untuk apa? Membuka April 2017 dengan perjalanan adalah sesuatu yang sudah kami nantikan. Kami langsung melaju ke Bandara Soekarno-Hatta.

V sudah menunggu kami di terminal 2E. Usai check in, kami menuju ruang tunggu boarding dan bertemu dengan Ry di sana. Satu anggota perjalanan kami yang lain, Indra, beda maskapai. Jadi kami janjian ketemu di Bandara Ngurah Rai saja.

Visit Bali, visit Ubud
Saatnya eksplor Bali.
Pesawat take off dalam keadaan hujan. Untungnya penerbangan kami mulus. Hanya sedikit getar-getar yang tak terlalu bikin berdebar saat awan padat bergumul di atas sana. Kami landing di Ngurah Rai tepat saat magrib dan cuaca cerah. Kami memutuskan untuk memesan uber langsung ke Ubud. Dea, satu teman kami telah menunggu di sana. Sebagai newbie Ubudian, dia telah menyiapkan jamuan di tempat tinggalnya yang ia sebut Rumah Ceria Ubud.

Dea sempat menyarankan untuk menunggu taksi online di gerbang bandara karena persaingan taksi online dengan konvensional begitu sengit di sini. Kami mendengar bisik-bisik penunggu bandara, "Itu online! Itu online!" dengan muka kesal. Menunggu taksi online di bandara sama dengan main petak umpet. Seorang sopir taksi yang kami tolak tawarannya berseru dengan marah, "Taksi online nggak boleh masuk sini. Kalau mau, tunggu di luar."

Kami pun ikut kesal. Mencari taksi online di Bali pada malam hari tak semudah seperti di Jakarta. Semua aplikasi kami coba. Gocar, Grabcar, hingga Uber. Ada yang tak bisa mengangkut karena tujuan kami Ubud, terlalu jauh bagi mereka. Ada juga yang menolak karena harus dijemput di bandara. Takut dikeroyok mungkin. Untungnya ada satu sopir yang bersedia menjemput kami dan menyuruh kami menunggu di pintu keberangkatan. Baiklah, apa pun itu, setelah satu jam menunggu tanpa hasil dan main kucing-kucingan dengan sopir-sopir taksi bandara, kami pun menunggu sambil mengobrol santai agar tak terlihat mencurigakan. Lagipula memang pantas dicurigai, sih. Ngapain nunggu jemputan di gerbang keberangkatan? Ya, kan?

Bali trip
Menunggu taksi online di pintu keberangkatan.
Kami baru bisa bernapas lega saat mobil jemputan sudah meninggalkan area bandara. Jalan tol atas laut yang tenang memudarkan kecemasan, tetapi tak menoleransi tingkat kelaparan. Perjalanan ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Dea yang sudah sedari tadi menunggu kami, menyiapkan makanan untuk disantap di Rumah Ceria-nya.

Ya, Rumah Ceria Ubud sudah dekat. Tempatnya sunyi. Ada banyak sawah di kiri-kanan. Rupanya di sinilah Dea tinggal saat ini, selama 1,5 tahun terakhir. Escapade-nya dari Jakarta menjadi sempurna dengan nuansa alam di Ubud. Saat mobil terparkir di halaman depan Rumah Ceria Ubud, kami langsung disambut suara gonggongan. Seekor anjing hitam dan seekor anjing putih turun dari tangga paling ujung gedung kos-kosan ini. Mereka menyerbu kami dengan gonggongan sembari mengayunkan ekor mereka. Aku melihat pertanda dua hal, mereka mengendus orang asing lalu menyerangnya atau mereka malah senang kedatangan tamu?

Area tempat tinggal Dea berada di lantai dua. Bangunan ini berupa kos-kosan. Namun, Dea menyebutnya Rumah Ceria karena dia tinggal bersama beberapa sahabat di lantai dua serta memang menyewakan dua kamar kosong untuk teman atau kerabat yang berkunjung. Lalu para anjing ini berjaga di teras lantai dua. Anjing-anjing ini bernama, yang hitam namanya Goreng (anjing kesayangan Dea), yang putih bernama Bejo (anjing Riri, teman satu kost Dea). Adasatu anjing kecil lagi yang menemani kami. Namanya Angel. Perkenalan pertamaku dengannya adalah saat Angel dengan cueknya pup persis di depan pintu kamarku. Mau marah susah karena Angel langsung menatap dengan muka tak bersalah. Kata Dea itu bagian dari salam selamat datang dari si puppy. Aku hanya ternganga. Dea dengan sigap membersihkan kotoran yang ditinggalkan Angel.

Aku kembali masuk kamar yang sudah dirapikan oleh Dea khusus untuk kami. Rupanya Dea berbakat untuk bisnis hospitality, nih. Dekorasinya juga unik dengan memanfaatkan botol-botol bekas yang dibentuk jadi lampu, bangku, dan vas. Ada wangi aromaterapi juga. Ada tumbuhan air yang dibiarkan tumbuh di dalam botol. Suasananya jadi fresh. Di depan kamar, terdapat hammock untuk bersantai. Serasa seperti rumah. This is Dea's home.

Rumah Ceria Ubud
Hasil kerajinan Dea.
Rumah Ceria Ubud
Dekorasi simple ala Dea.
Saat makan malam di ruang terbuka yang sebenarnya merupakan teras dan dilengkapi meja panjang dan bangku-bangku, kami bercerita santai.

Dea: Nggak nyangka, lho, kalian akhirnya jadi juga datang ke sini.
Aku: Iya. Amaze nggak, sih, lo?
V : Ini dimulai dari obrolan iseng kita pas tahun baru ketemu di Jakarta padahal, ya. Jadi juga kita sampai di Ubud.
Dea: Kalian apa kabar? Ini Indra kenapa nggak bawa istri? (Dea menyikut Indra yang menyantap makan malam dengan lahap) 

Rumah Ceria Ubud
Indra dan para anjing yang menyambutnya. Terlihat akrab, ya.

Rumah Ceria Ubud
Goreng dan Angel sedang main.
Kami pun bertukar cerita. Dea cerita tentang kesehariannya di Ubud, tentang Rumah Ceria, tentang yoga, tentang kafe 9 Angels yang sedang dikelolanya, tentang Goreng yang baru hilang kedua kalinya beberapa waktu lalu, lalu tentang rencananya traveling dengan Goreng dan nge-camp di suatu tempat dan gagal. Aku selalu senang bercerita dengan orang-orang ini. Mereka selalu punya cerita baru, meski kadang konyol, remeh, dan sepele, tapi tetap terasa hangat di telinga. Benar-benar seperti di rumah.

Jika ditanya apakah ini reunian? Mungkin juga. Tapi bukan reuni SMA, teman kuliah, atau rekan kantor. Kami kebetulan dipertemukan saat menggarap proyek penulisan buku Penunggu Puncak Ancala yang diterbitkan oleh Bukune. Karena satu sama lain memang hobi jalan, kami sudah beberapa kali mengadakan trip-trip pendek. Seperti Cibeureum, Gunung Padang, hingga pendakian Papandayan. Sampai akhirnya, siapa sangka, komunikasi kami jadi lebih erat sejak merencanakan kunjungan ke Ubud, tempat Dea melakukan escapade dari keriuhan hidup di Jakarta sebelum ini.

Rumah Ceria Ubud
Setiap pagi, selalu lihat beginian di Rumah Ceria Ubud. Bisa awet muda, nih.

Rumah Ceria Ubud
Jalan-jalan di sekitar Rumah Ceria Ubud.
Beginilah kami. Ubud hanya tempat pertemuan. Besoknya kami akan seharian berjalan-jalan santai di Ubud. Kami ingin menikmati saat-saat bersama yang jarang terjadi ini. Bertemu Dea dan berkumpul dengan teman-teman yang sudah menjadi bagian inspirasi hidupku ini adalah cerita utama. Ubud, Goreng, dan Bejo adalah cerita peneman tawa kami di Rumah Ceria. 

Bermain dengan Gajah di Taman Nasional Way Kambas

Ketika menyebut nama Way Kambas, aku langsung teringat gajah. Lampung terkenal dengan gajahnya. Pusatnya itu, ya, di Way Kambas. Ternyata di dalam agenda kunjunganku ke Lampung Timur bulan Maret lalu, Taman Nasional Way Kambas masuk ke dalam agenda pelesiran para blogger. Akhirnya aku bisa main-main sama gajah. Asyik.

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas Lampung Timur
Bersama Pak Pawang yang setia menemani kami. (photo by eviindrawiyanto.com)
Taman Nasional Way Kambas berlokasi di Kecamatan Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Kalau dilihat di Google Maps, wilayah Way Kambas ini cukup luas dan memang melingkupi hampir keseluruhan wilayah lampung Timur. Di sanalah habitat terbesar gajah sumatera. Tak heran pula, hutan tersebut dijadikan taman nasional dan pusat latihan gajah yang mulai dibuka sejak tahun 1985. Kini, namanya berganti menjadi Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di sanalah gajah-gajah dilatih dan dijinakkan, sekaligus dilindungi dan dikembangbiakkan.

Populasi gajah sumatera kini mulai berkurang akibat banyaknya terjadi perambah di sekitar hutan. Kata seorang penduduk desa budaya Braja Harjosari di Lampung Timur yang menjamu kami sebelum bertolak ke Way Kambas, gajah-gajah liar di hutan mulai resah dan sering masuk desa. Mereka juga jadi hama sawah sehingga meresahkan petani. Banyak yang akhirnya memburu gajah. Sementara orang dari pusat konservasi mengecam penduduk sekitar yang merusak hutan dan akhirnya membuat gajah ketakutan. Serba salah, ya. Oleh sebab itu, Desa Braja Harjosari yang berlokasi sangat dekat dengan Hutan Way Kambas dijadikan penyangga perbatasan demi pemberdayaan gajah-gajah sumatera.

Usai makan siang, kami menjelang gerbang Taman Nasional Way Kambas. Jauh juga ya ternyata dari pusat kota. Kontur jalanannya cukup memabukkan. Dari gerbang utama, aku praktis kehilangan sinyal ponsel. Selamat datang di belantara.

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas, Lampung Timur
Sampai di gerbang Pusat Konservasi Gajah.
Monyet-monyet yang turun ke jalan, minta makanan. (photo by raiyani.net)
Jalan beraspal masih panjang untuk disusuri. Kami melaju masuk lebih jauh ke dalam hutan. Sesekali kami disambut oleh monyet-monyet berekor panjang yang berserak di jalanan. Mereka bagian dari hutan tersebut. Pokoknya kalau kamu masuk ke Way Kambas dan sudah bertemu dengan monyet-monyet ini, artinya kamu sudah setengah jalan menuju Pusat Konservasi Gajah. Oiya, di sini juga ada tempat pembudidayaan badak bercula satu, tapi tak dibuka untuk umum. Kalau mau lihat badak, ya, di Ujung Kulon saja. Di sini kebetulan populasinya ada dan sangat dilindungi. Lembaga pengelolanya dipegang oleh lembaga swasta, International Rhino Foundation. Untuk mengunjungi badak butuh surat izin resmi dalam lembaga peneliti atau semacamnya. Jadi, mari kita fokus ke tujuan semula, mengunjungi gajah.

Tak beberapa lama kemudian, akhirnya aku sampai ke sebuah padang luas yang panas. Ada sungai lebar dengan satu jembatan yang dapat dilalui satu mobil. Di sinilah rumah para gajah. Sesiangan itu gajah sedang membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berdiri saja di padang rumput. Ada yang kakinya dirantai, ada pula yang tidak. Aku melihat berkeliling, gajah mana yang bisa kami dekati. Di sini terlihat padang savana, asrama gajah yang berupa padang rumput juga, serta gedung rumah sakit gajah.

Ada satu anak gajah yang punya belalai pendek sedang dirantai di samping sebuah pohon. Kupikir karena masih kecil, belalainya masih pendek. Rupanya, gajah ini cacat. Belalainya putus saat ketemu perambah di hutan. Kata Pak Sukowiyono, pawang gajah yang kami temui, gajah kecil ini tak sengaja tersesat di hutan dan ketemu perambah hingga belalainya putus. Dia bukan dari pusat konservasi, masih terbilang gajah liar. Oleh sebab itu, gajah kecil itu diselamatkan, dibawa ke pusat konservasi, dan dilatih. Seketika aku kasihan pada anak gajah itu. Bagaimana, ya, masa depannya?

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas
Anak gajah yang belalainya putus. (photo by raiyani.net)
Pusat konservasi gajah way kambas lampung timur
Ssst. Jangan dekat-dekat tanpa pawang.
Berikutnya aku bertemu seekor gajah jantan yang kurus besar. Gajah ini sedang bermain dengan kubangan. Kakinya dirantai karena bagian dari pelatihan untuk penjinakan gajah. Kami bisa mengambil gambarnya dengan jarak tertentu. Hati-hati, kalau dekat gajah, jangan pernah membuat mereka kaget. Jangan pula berisik. Bisa-bisa kita disembur dengan lumpur oleh belalainya. Om Yopie sempat disundul oleh si gajah jantan ini karena si gajah kaget didekati sedemikian banyak orang.

Untuk berfoto bersama gajah, kamu harus meminta jasa sang pawang. Bukan apa-apa. Tak semua gajah di Pusat Konservasi Way Kambas ini sudah jinak dan terlatih. Jadi kita harus tetap waspada. Mendekatkan diri dengan gajah saja butuh waktu, tidak bisa sehari-dua hari. Makanya, pawang sangat dibutuhkan demi keamanan pengunjung dan gajah itu sendiri.

Pak Sukowiyono mengajak kami berkeliling. Katanya ada gajah yang bisa diajak foto. Namanya Rahmi, si gajah betina. Rupanya Rahmi sedang bersantai dengan April, anaknya dan Mela. Rahmi sudah cukup terlatih, sementara April belum. Namun, tingkah polah keduanya lucu sekali.

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas Lampung Timur
Rahmi, April, dan Mela. (Photo by raiyani.net)
Rahmi menyapa kami dengan balalainya. Rupanya dia senang memainkan belalai. Dia bisa disuruh duduk agar pengunjung dapat mendekatinya tanpa canggung. Setiap gerakan diaba-abakan oleh pawang, Rahmi mendapat satu buah pisang yang langsung dimasukkan ke mulutnya. Rahmi seketika menggoyang-goyangkan kepalanya. Kata Pak Pawang, dia sedang joget. Atraksi kecil-kecilan yang dilakukan oleh Rahmi cukup menghibur kami. Andai dia bisa bicara, entah apa yang akan diucapkannya.

Melihat perhatian kami terpusat pada Rahmi, April tak mau kalah. Dia sering menyongsong kami dengan menyorongkan belalainya. April meminta makanan. Sempat beberapa kali diusir oleh Pak Sukowiyono karena April sendiri masih digolongkan berbahaya. Ia suka tiba-tiba ada di belakangku, di sisi kiri induknya, atau malah melerai kerumunan kami. April tak mau pergi meski sudah diusir. Mana ada sih bayi gajah yang masih menyusui itu mau jauh-jauh dari induknya? Akhirnya aku meminta pisang kepada Pak Pawang dan memberikannya kepada April dengan takut-takut.

Aku sempat menyentuh kulit Rahmi dan April yang kasar. Pasir-pasir bekas lumpur yang mengering menyelubungi kulitnya. Gajah-gajah ini akan digiring ke tempat pemandian saat sore menjelang. Pada jam-jam itulah gajah berendam dan membersihkan diri. Ya, bersih ala gajah, ya. Yang penting segar.

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas Lampung Timur
April yang curi perhatian. (photo by www.indahnyaperjalanan.com)

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas Lampung Timur
Bermain dengan April. (Photo by raiyani.net)

Pusat Konservasi Gajah Way Kambas Lampung Timur
Tempat gajah mandi.
Sayangnya kunjungan kami tak sampai sore sehingga tidak dapat melihat gajah-gajah itu mandi di sungai. Kami mengucapkan salam perpisahan dengan Rahmi, April, dan Mela yang sedari tadi tampak cuek. Walaupun singkat, kunjungan ini berkesan, setidaknya untukku. Populasi gajah sumatera semakin langka. Pengembangbiakkannya pun cukup lama. Gajah mengandung selama 22 bulan. Waktu yang sangat lama untuk menaikkan populasi mereka. April sendiri baru berusia satu tahun pada bulan April ini. Selamat ulang tahun, April. Semoga kamu jadi gajah yang baik, jinak, dan terlindungi dengan baik. Sampai bertemu lagi.

Nonton Beauty and The Beast Karena Ada Emma Watson

Menonton live action Beauty and The Beast menjawab sekaligus 2 pertanyaanku. Pertama, penasaran dengan filmnya, sama atau punya twist dari kartunnya tahun 1991. Kedua, penasaran teramat sangat dengan Emma Watson sebagai Belle di sini. Promo mengenai Beauty and The Beast sudah wara-wiri di social media sejak 1 tahun terakhir. Setelah Cinderella versi live action yang heboh dengan pernak-pernik sepatu kaca dan gaun kece Cinderella waktu itu, kini Disney merilis film Beauty and The Beast dengan kemegahan yang sama. Tak dipungkiri, yang bikin live action kisah dongeng Disney yang satu ini jadi makin menarik ya karena kehadiran Emma Watson.

jurnaland.com
Beauty and The Beast. (source: movies.disney)

Kita sama-sama kenal Emma Watson dengan sosok Hermione yang melekat di benak penonton Harry Potter selama kurun waktu 10 tahun. Ini film debut sekaligus momen Emma dikenal di hampir seluruh dunia berkat dongeng dunia sihir dari JK Rowling. Setelah menyelesaikan franchise Harry Potter, Emma Watson mulai keluar dari zona nyamannya dengan bermain di berbagai film dari berbagai genre. Tampaknya film yang Emma mainkan memang film pilihan. Namun, rupanya sosok Hermione selalu membayangi sepanjang karier filmnya. Nah, bagaimana dengan film Disney yang satu ini? Wow, lepas dari dunia sihir, Emma pindah ke dunia Princess.

Beauty and The Beast live action tampaknya disiapkan dengan sangat matang. Film tentang seorang gadis desa di Paris ingin menyelamatkan ayahnya dari penjara kastil yang dihuni oleh monster. Belle menggantikan posisi ayahnya menjadi tawanan si Beast. Kisah heroik pertama seorang gadis dalam cerita panjang yang menumbuhkan chemistry cinta pada si Beast.

Meski jalan cerita sudah bisa ditebak dan memang tak jauh beda dengan versi kartunnya dulu, Beauty and The Beast masih punya beberapa kejutan yang dapat kita nikmati. Ini beberapa alasan kenapa kita harus nonton Beauty and The Beast.

1. Emma Watson berhasil keluar dari bayang-bayang Hermione. Welcome Belle.

2. Sosok Beast tak semenyeramkan versi kartunnya. Bayangannya memang seram dan suaranya menggelegar. Versi live action ini selintas tampak kelam dan seram. Namun, ketika bertemu Belle, Beast jadi tampak cute.

3. Scoring dan musikal di film ini daya tarik paling unggul. Film jadi megah. Emma Watson dan Dan Stevens (The Beast)  ikut terlibat menyumbangkan suara mereka. Kolaborasi antara lagu, musik, kostum, dan koreografi bikin film ini tidak membosankan. Kalau ingin dengar Emma Watson nyanyi, cuma ada di film ini.

4. Versi live-action ini lebih emosional daripada animasinya.

5. Keterikatan Belle dengan buku dan mawar terasa lebih hangat dan nyata. Itu pula yang membawanya percaya pada dunia magical di sekitar Beast.

6. Aksi Gaston dan Le Fou membuat film ini dipenuhi trik dan beberapa humor. Menarik. Tanpa mereka, film ini akan hampa.

7. This movie is so enjoyable, more fun, and wonderful.

8. Kita akan disuguhkan beberapa petikan lirik dan kutipan dari novel Shakespeare dan beberapa pujangga yang dibaca oleh Belle. Beast juga pencinta karya-karya lama, mereka akan saling melempar kekaguman dengan petikan karya-karya tersohor itu.

Akan rugi saat melewatkan film-film Disney khususnya versi live-action, remake, atau apa pun bentuknya. Disney membuat kisah princess masih tampak baru dan terus diperbarui. Tanpa meninggalkan unsur fairy tale dan magical, Disney menyulap film-filmnya dapat dinikmati tak hanya oleh anak-anak, tapi orang dewasa pun tak ketinggalan.

Pesona Beauty and The Beast terasa lebih apik. Ini bukan kisah tentang putri kerajaan dengan pangeran buruk rupa. Ini adalah kisah tentang gadis desa yang memiliki kecintaan pada buku dan bunga mawar, tak takut pada monster, dan percaya pada keajaiban. Beauty and The Beast yang dimainkan Emma Watson dan Dan Stevens membuktikan itu semua. Ini adalah cerita lama, bukan? Tapi tetap tak ketinggalan masa dan massa.