9 Angels, A Place Not to be Missed in Ubud

Ada satu tempat di Ubud, Bali yang tidak boleh dilewatkan. Saat berkunjung ke Ubud, aku dan teman-teman seperjalanan diajak berjalan-jalan keliling Ubud dan harus mampir ke sebuah restoran vegetarian. Dea, temanku yang sekarang menjelma menjadi orang Ubud, sangat riang sekali saat bercerita tentang kafe istimewa yang satu ini. Namanya 9 Angels Cafe. Aku jadi ingin tahu seperti apa rupa tempat makan yang satu ini. Dea cuma memberikan beberapa clue: menu vegetarian, konsep dekorasi daur ulang, kantin kejujuran, dan pemiliknya sangat ramah. Hmm... baiklah. Dea berhasil membuatku penasaran.

Ubud rupanya mengajarkan banyak hal terhadap orang-orang yang tinggal di sana. Tentang alam, kelestariannya, kesederhanaannya, dan toleransi yang sangat tinggi. 9 Angels Cafe adalah sebuah wujud kesederhanaan dan toleransi yang tinggi warga Ubud. Begitu memasuki kawasan kafe, kami disambut pernak-pernik dari botol-botol kaca yang disusun sedemikian rupa. Bisa dijadikan meja, bangku, bahwa hiasan dinding.

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Ini tempat favoritku di 9 Angels, nuansa senja sambil baca. (Foto diambil oleh V)

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Api unggunan yuk. (Foto diambil oleh https://www.instagram.com/noviiaoktaviaa/V)
Konsep kafe ini terbuka dan dipenuhi oleh pot-pot tanaman yang didesain menarik. Bangku-bangku kayu, ranting-ranting pohon, bahkan hammock ditata apik. Bilang saja ini kafe yang menyatu dengan alam. Di samping itu, kafe ini juga punya space yang lebih tenang dan privat. Ada ruang terbuka yang lebih semarak, ada pula ruang baca yang lebih syahdu. Sekumpulan buku disusun di rak, bisa dibaca sambil nongkrong cantik di kafe ini. Tapi bukunya impor semua, lho, karena yang datang ke sini pun mayoritas bule.

Suasan kafe ini menyenangkan dan super santai. Kalau malam, lampu warna-warni menyala. Kita bisa bakar api unggun dan mendengarkan acara musik seadanya tapi penuh tawa. Semakin malam memang kafe ini semakin ramai. Pengunjungnya bebas mau duduk di mana, bermain apa pun, atau melakukan kegiatan apa pun. Ada area terbuka untuk bersuka ria. Pemilik kafe rupanya sudah memperhitungkan detail kegiatan santai yang sesuai dengan konsep kafe. Ada banyak kegiatan unik yang diadakan di kafe ini. Tidak muluk. Tapi akrab.

Untuk menu makanan, kita bisa ambil sepuasnya karena dihidangkan secara prasmanan. Ada daftar harga di tiap kelompok makanan. Ada jenis nasi merah dan nasi putih juga. Buah-buahan juga ditumpuk dengan label harga murah. Semua menu ini vegetarian, ya. Tidak ada menu protein hewani di sini. Tapi masakannya enak-enak semua. Untuk minuman, pengunjung juga bebas menyeduh kopi, teh, dan susu. Self service. Tidak perlu pusing soal bayaran. Setiap makanan dan minuman sudah dilabeli harga, jadi catat masing-masing kamu makan dan minum apa saja.

9 Angels, A place not to be missed in Ubud
V sedang menikmati nuansa outdoor 9 Angels.

9 Angels, a place not to be missed in Ubud
Bagian dalam dari 9 Angels.

Vegetrian cafe in Ubud
You don't need a reason to feed people, slogan 9 Angels. (Foto milik Dea)

Vegetarian cafe di Ubud
Makan buah tinggal kupas sendiri. (Foto diambil oleh Ry)
Uniknya tidak ada kasir juga. Aku diberi tahu Dea, kalau mau bayar, tinggal memasukkan uang ke dalam botol kosong yang tersedia di setiap meja. Oiya, setelah makan dan minum, cuci peralatan makan sendiri dan taruh di tempatnya. Ini, sih, sudah banyak kafe dan restoran di luar negeri yang seperti ini, mengajarkan pengunjung untuk mandiri dan bertanggung jawab. Begitulah cara kerja tongkrongan di 9 Angels ini. Anggap rumah sendiri. Jadi tidak perlu sungkan, tidak perlu antre, tidak perlu ribet.

Kamu ingat kantin kejujuran sewaktu sekolah dulu? Atau pernah belanja di kantin kejujuran? Setiap belanjaan yang dibeli, uangnya tinggal ditaruh di dalam kotak uang atau box khusus. Begitu juga dengan makan, tinggal taruh uangnya di tempat yang disediakan. Jadi, yang nggak bayar, nggak ketahuan, dong? Iya. Terserah aja, kalau mau nggak bayar, ya silakan. Tapi dosa ditanggung masing-masing, ya. Nah, itulah yang diaplikasikan di 9 Angels Cafe. Seru, ya.

Kata Dea, butuh waktu lama untuk mengedukasi pengunjung dan membiasakannya self service di sini. Tapi lama-kelamaan bisa juga. Tidak perlu dihitung kerugiannya. Jika orang terbiasa dan sudah merasa nyaman, rasanya 9 Angels tidak butuh apa-apa selain kerendahhatian dan kejujuran pengunjung. Yang penting nyaman. Itu tagline masa kini, bukan?
Dekorasi 9 Angels
Reading battle. (Foto diambil oleh Junisatya)

9 Angels, a place not to missed in Ubud
Hangout with best friends.

Jadi, kalau kamu ke Ubud, sempatkan mampir di 9 Angels. Tempatnya asyik, suasananya akrab, dan bisa makan kenyang-sehat.


9 Angels
Jl. Suweta No. 32, Ubud
Kabupaten Gianyar, Bali
Open : 10.00 AM-10.00 PM
More info : Instagram @9angelsubud

Angin Semilir di Crystal Bay Nusa Penida

Ada satu pantai di Nusa Penida yang lebih dulu dikenal dan ramai. Namanya Crystal Bay. Pantai ini berada di sisi barat Nusa Penida, bertolak belakang dengan Pantai Atuh. Setelah sesorean main di Pantai Atuh esok paginya aku bersiap menyusuri timur pulau telur emas Bali ini.

Hujan sempat mengguyur pagi itu. Matahari tertutup awan kelabu. Tapi itu tak mematahkan asaku untuk melanjutkan perjalanan. Usai sarapan di penginapan kami, Bukit Sunrise, aku dan teman-teman seperjalanan berkendara menyusuri pesisir utara pulau ini kembali ke arah dermaga Toya Pakeh. Katanya dari Toya Pakeh, Crystal Bay tidak terlalu jauh. Beruntungnya, jalan di Nusa Penida ini tidak membuat banyak cabang. Sangat mudah untuk menemukan arah di tengah belantara.

Crystal Bay di Nusa Penida
Crystal Bay yang sedang pasang.
Tak seperti jalur ke Pantai Atuh, jalan menuju Crystal Bay lebih banyak petunjuk arah. Lokasinya juga melewati banyak warung dan banyak penginapan. Cottage-cottage yang hits di Nusa Penida terdapat di sekitaran Crystal Bay. Namun, jangan senang dulu. Jalanannya masih tetap berliku dan sedikit berlubang.

Aku sampai sempat menyeletuk, "Kenapa, ya, jalur menuju pantai itu pasti berlubang?" Lalu pertanyaan itu kujawab sendiri, "Karena kandungan garam di udara sangat tinggi sehingga mengikis molekul pada benda padat, seperti aspal dan batu." Jadi, harap terima keadaan jalan apa adanya.

Mendekati Crystal Bay, jalanan mulai menurun terjal. Pohon-pohon semakin jarang. Laut sudah tampak dari kejauhan. Dengan petunjuk arah yang sangat membantu, aku sampai juga di deretan warung sekitar Crystal Bay.

Crystal Bay merupakan pantai di ufuk barat Nusa Penida. Pantai ini menjadi salah satu dermaga kecil dan terdapat banyak perahu motor dan speedboat yang dapat disewakan pengunjung. Jika ingin snorkeling, kita bisa menyewa perahu dari pantai ini. Tak jauh berbeda dengan Pantai Atuh, pantai ini juga dikepung tebing-tebing karang. Ada pulau karang yang berlubang juga tak jauh dari bibir pantai.

Karena Crystal Bay sudah sangat ramai, pasirnya tak lagi putih sebersih Pantai Atuh. Namun, warna air lautnya masih menawan. Begitu juga dengan karang-karangnya. Sayangnya aku tak sempat berlama-lama berada di sana. Niat hati hendak snorkeling, tapi apa daya, ombak sedang besar. Mungkin lain kali.

Tempat snorkeling di Nusa Penida
Bermain ombak di Crystal Bay.
Crystal Bay Nusa Penida
Junisatya sedang asyik di pantai.

Aku menyusuri pasir yang lembut. Air laut sedang pasang. Melihat pemandangan batu karang di lepas pantai, membuat hati ini tenang. Meski tak semegah Pantai Atuh, Crystal Bay punya pesonanya sendiri. Crystal Bay ini berupa ceruk kecil yang dipagari karang-karang. Air laut cenderung tenang di sini. Kalau mau berjalan-jalan melihat karang-karang yang menawan, kita bisa berlayar lebih ke tengah. Berkunjung ke Broken Beach lewat jalur laut juga bisa. Nanti aku cerita tentang Broken Beach di jurnal post selanjutnya, ya. Untuk saat ini, mari kita nikmati angin semilir di Crystal Bay.

Oiya, waktu yang tepat untuk ke pantai ini adalah sore hari karena bisa melihat sunset yang bagus dari sini. Kalau mau snorkeling, ya, berarti datang lebih pagi agar ombak tak terlalu tinggi. Bermain di pantai ini menyenangkan, kok, apalagi kalau kita menginap di cottage tak jauh dari Crystal Bay. Biar bisa menikmati ceruk pinggir laut yang damai itu sepuasnya.

Menjelajah Kota Tua Basel, Swiss

Suhu Basel pagi itu sudah sedikit menghangat, meski masih 5 derajat. Langit tak lagi kelabu. Karena itu, aku keluar dari YMCA Hostel tempat kami menginap dan berjalan ke SBB Railway Station, hanya beberapa blok dari hostel. Salju sudah mencair sehingga stasiun sedikit lebih ai dari hari sebelumnya. Hari itu aku akan naik trem ke pusat kota Basel. Anyway, SBB Railway Station itu merupakan salah satu stasiun besar di kawasan Basel. Dari stasiun itu, kita bisa naik kereta antarkota ke Zurich ataupun Geneva. Bahkan, dari SBB Railway Station juga menghubungkan Swiss dengan Prancis dan Jerman. Aku sempat tergoda untuk melewati perbatasan dengan kereta itu menuju Paris, Milan, Hamburg, atau Berlin. Namun, aku terikat karena festival MUBA belum berakhir. Jadi, aku cukup puas naik trem dengan kartu pass yang sudah diberikan oleh orang KBRI.

Kota Tua Basel Swiss
SBB Railway Station.
Kota Tua Basel Swiss
Siap-siap ke Kota Tua naik tram.
Agendaku hari itu adalah berkeliling Kota Tua Basel. Seperti apa, ya, Kota Tua-nya? Karena rata-rata bangunan perkantoran dan pusat belanja serta stasiun di sini merupakan bangunan kuno yang usianya puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, ternyata ada bentuk bangunan bersejarah yang memang menjadi khas negeri ini.

1. Basel Minster (Basler Munster)
Satu bangunan gereja berwarna merah menarik perhatianku. Saat berjalan menyusuri pusat perbelanjaan, aku berbelok ke sebuah gang yang bangunannya tampak berbeda. Pintu-pintu dan jendela tampak lebih kecil. Ternyata ini sudah memasuki kawasan kota tua Basel. Di ujung jalan, terdapat sebuah gereja dengan dua menara kembar yang tinggi. Saat itu, tembok bagian depan gereja dan Gerbang Gallus yang menjadi ciri khas Ghotic dari gereja ini sedang direnovasi. Padahal aku sangat ingin berfoto di depan gerbang utama bangunan kuno ini. Kata temanku dari KBRI, gereja ini memang rutin direnovasi agar tetap bisa berdiri karena sarat nilai sejarah. Basler Munster alias Basel Minster nama gereja itu.

Kota Tua Basel Swiss
Basel Minster dengan menara kembar.
FYI, gereja ini sudah berumur ribuan tahun, lho, dan menjadi pusat sejarah di Kota Basel. Gereja ini mulanya merupakan gereja kaum Khatolik. Kini menjadi gereja reformasi protestan. Konon, Basel Munster dibangun di antara tahun 1091 dan 1500 bernuansa Ghotic dan Romawi. Namun, kawasan ini jauh lebih tua dari itu, yang sudah menjadi permukiman bangsa Celtic dan Romawi beberapa tahun Sebelum Masehi.

Di gereja ini pula, Erasmus si Humanist dari Rotterdam dimakamkan. Erasmus ternyata menghabiskan sisa hidupnya di Basel dan ikut terlibat dalam perubahan rezim di gereja tahun 1500-an. Pada saat itu ia tinggal di gereja Khatolik Roma, tetapi saat meninggal ia dimakamkan di Gereja Protestan ini. Berada di kawasan bukit yang dipenuhi bangunan-bangunan klasik, sudah pasti gereja ini menjadi bangunan tertinggi di Basel dengan menara kembarnya. Tak heran, banyak orang yang masuk ke dalam gereja dan naik ke pfalz alias teras atas untuk menikmati pemandangan Sungai Rhine, view-point yang paling dicintai di kota ini.

2. Munsterplatz

Kota Tua Basel Swiss
Munsterplatz.
Kota Tua Basel
Model rumah tradisional Basel, Swiss.
Depan gereja merupakan area luas yang disebut Munsterplatz atau alun-alun kota (tua). Ini dulu permukiman penduduk, sekarang sebagian besar bangunannya dijadikan museum sejarah. Jika ingin melihat perumahan tradisional Eropa zaman dulu, bangunan-bangunan ini menjadi salah satu contohnya. Konon bangunan ini sudah berdiri sejak masa Sebelum Masehi. Bangsa Romawi dan bangsa Celtic pernah menghuni tempat ini. Oleh sebab itu, kawasan Munsterplatz menjadi warisan masa sebelum sejarah hadir. Tak heran pula, model bangunannya jauh lebih klasik dari bangunan megah Eropa lainnya. Ketika Basel cepat berkembang dan menjadi model kota modern di Swiss, kawasan ini dilestarikan. Tak banyak aktivitas terlihat saat aku ke sana. Mungkin karena suhu masih belum bersahabat untuk melakukan kegiatan luar ruangan. Biasanya konser musik atau berbagai pertunjukan lain sering diadakan di Musnterplatz ini. Sama persis dengan aktivitas Kota Tua Jakarta.

3. Museum of Ethnology (Museum Der Kulturen)
Satu museum yang menarik perhatianku di kawasan Munsterplatz, Museum Der Kulturen. Ini merupakan museum etnologi di Eropa. Ada ribuan artefak dari berbagai belahan dunia tersimpan di dalamnya. Katanya ada artefak dari Indonesia juga, lho. Namun, sayang aku tak bisa masuk karena tutup. Mungkin memang tutup saat winter. Jadi aku harus puas menikmati bangunan bagian luar saja. Bangunan museum ini mengingatkan kita pada bangunan Abad Pertengahan tetapi telah diberikan sentuhan pembaruan di beberapa bagian.

Kota Tua Basel Swiss
Museum der Kulturen.
Kota Tua Basel Swiss
Court Yard Museum der Kulturen.
Aku memasuki kawasan court yard Museum Etnologi. Susunan bangunannya serta dekorasi halaman dalam museum ini memang didekorasi klasik. Ada surai-surai tanaman di bagian tiang serta dinding luar gedung agar nuansanya lebih nyaman. Biasanya bagian court yard ini dijadikan tempat kumpul berbagai kegiatan sosial.


4. Red House (Rathaus)
Aku berjalan ke pusat keramaian. Ada sebuah gedung berwarna merah yang menarik perhatian. Bangunan itu tampak mencolok dibanding bangunan lain yang bersisian dengannya. Gedung itu dinamakan Rathaus Basel atau Red House. Jika di Amerika Serikat ada White House, di Basel ada Red House yang merupakan gedung balaikota. Katanya gedung balaikota ini sudah berdiri sejak 500 tahun yang lalu. Baru saja tahun 2014 lalu diadakan pesta ulang tahun gedung balaikota ini yang ke-500 tahun dan Rathaus dibuka untuk publik (meski setiap hari kita bisa saja berkunjung ke dalam gedung ini tetapi tidak dapat akses ke ruangan kantornya).

Kota Tua Basel Swiss
Menara berbalut emas di Rathaus.

Kota Tua Basel, Swiss
Bagian court yard Rathaus.

Kota Tua Basel Swiss
Court yard Rathaus yang penuh dengan wall painting.
Kota Tua Basel Swiss
Area artistik dari Rathaus.
Kota Tua Basel Swiss
Aku dan ibuku memasuki Rathaus.
Bangunan serba merah itu tampak eyecatching dengan menara yang berwarna emas. Sekilas tak tampak seperti gedung pemerintahan yang kesannya kaku, bisu, serta penuh penjagaan. Untuk sebuah gedung parlemen, tentu ini sangat berbeda sekali. Dari luar lebih terlihat seperti museum dengan guratan-guratan ornamen yang memenuhi tembok gedung. Aku berjalan ke arah gedung itu dan menemukan pilar-pilar tak berpintu. Aku disambut semacam hall kecil di dalamnya dan sebuah tangga yang dijaga oleh beberapa patung. Rupanya halaman dalam ini sungguh artistik dengan lukisan dinding yang katanya punya banyak nilai sejarah.

Rathaus alias Red House ini dijadikan balaikota sejak Basel bergabung dalam konfederasi Swiss tahun 1501. Sejak itu, Rathaus yang berhadapan langsung dengan Marktplatz (pasar tradisional terbuka di alun-alun Kota Basel) dijadikan pusat kantor parlemen dan sekretariat jenderal negara bagian.

5. Marktplatz

Kota Tua Basel Swiss
Marktplatz, pasar tradisional dengan nilai tukar tinggi.
Marktplatz merupakan pasar tradisional di alun-alun Kota Basel, tepat sekali di depan Rathaus. Pasar ini selalu ramai. Uniknya, barang-barang yang dijual di sini adalah hasil ladang. Mereka menjajakan hasil ladang seperti keju, cokelat, camilan, dan buah-buahan dengan harga tinggi dibanding harga di supermarket. Tapi tentunya lebih fresh. Saat memasuki kawasan bertenda itu, banyak sekali cokelat batangan serta keju batangan diletakkan terbuka begitu saja. Yeah, Swiss memang terkenal sebagai negara yang bersih. Dan, karena saat itu masih tergolong winter, tentu cokelat dan keju itu takkan lumer karena suhu udara sudah serupa dengan suhu kulkas. Aku tidak membeli apa-apa di sana karena memang mahal. Lebih baik beli makanan di supermarket saja.

6. Sungai Rhein (Rhine)
Ini adalah sungai yang mengalir dari Pegunungan Alpen, Swiss, Jerman, Belgia, hingga Belanda. Basel adalah salah satu kota yang tumbuh di tepian sungai itu. Sungai ini pula yang membagi dua wilayah di Kota Basel, yaitu Basel Besar dan Basel Kecil. Dulu, orang dari Basel Kecil tidak boleh menyeberang memasuki Basel Besar. Terdapat semacam kasta kelas sosial yang membedakan mereka. Namun, sekarang yang tertinggal adalah perpaduan unik antara Sungai Rhein dengan sederetan bangunan di tepiannya. Alam berpadu budaya, sejarah berpadu warisan dunia.

Rhein River Basel
Nia sedang menikmati Sungai Rhein.
Rhein Swiss
Pinggiran Sungai Rhine.
Rhein River Swiss
Tampak menara kembar dari Basel Minster. Pinggiran Sungai Rhine dengan bangunan klasik.
Rasanya ingin sekali aku pesiar dengan menggunakan Rhine Cruise mengeksplor lebih jauh Sungai Rhein ini. Sungai terpanjang di Eropa Barat ini tentu merupakan saksi eksotisme budaya di Eropa. Ketika berada di dalam trem yang berjalan di atas jembatan, aku dapat melihat keanggunan sungai ini. Bangunan-bangunan yang bersisian di sepanjang sungai juga menjadi elok dan indah dipandang. Bangunan modern bercampur dengan bangunan klasik tampak menjadi satu kesatuan warisan budaya yang bisa dibanggakan oleh warga Basel. Bisa jadi Sungai Rhein ini menjadi saksi sejarah yang berdarah-darah pada masa Perang Dunia. Sungguh, Sungai Rhein menjadi nadi kota ini. Penduduk kota ini tak punya laut sebagai tempat berjemur. Sungai lebar ini menjadi penggantinya.

Basel Heritage, Kota Nyeni di Swiss

Orang Indonesia lebih kenal dengan Zurich dan Geneva jika mendengar kata Swiss. Padahal ada satu lagi kota besar bersejarah di Swiss (Switzerland) yang tidak boleh dilupakan. Namanya Basel atau Basel-Stadt. Ini adalah kota yang berlokasi di perbatasan Swiss, Jerman, dan Prancis. Bahasanya pun berakulturasi, tetapi penduduk Basel lebih sering menggunakan bahasa Jerman. Kota ini tumbuh dan berkembang di tepian Sungai Rhine, sebuah sungai besar yang membelah Benua Eropa.

Aku berada di kota ini selama 6 hari. Tak banyak tempat yang aku datangi karena memang ke sini dalam rangka mengikuti sebuah festival besar di Basel, MUBA. Sebagai delegasi Indonesia, kami disambut sangat baik oleh pihak KBRI yang berada di Swiss. Mulai penjemputan dari Zurich ke Basel dan pemberian kartu tram yang bebas kami gunakan sepanjang hari selama di Basel. Gratis. Iya, gratis. Kami tinggal naik tram saja untuk mengelilingi kota ini. Jadi, ada kesempatan untuk berwisata di sekitar Basel.

Basel heritage Switzerland
Historiches Museum Basel.
Saat itu masih sisa-sisa winter. Salju mulai disingkirkan dari jalanan. Meski sebagian besar salju telah mencair dan matahari mulai mengintip malu di balik awan musim dingin, tetap saja suhu udara belum jauh-jauh dari angka 0 derajat. Musim dingin yang menyesakkan, apalagi saat aku berada di luar ruangan. Tangan rasanya beku dan napas masih berembun. Namun, itu semua tak membuat keinginan untuk mengunjungi lokasi bersejarah di Basel menjadi surut. Aku punya satu hari penuh untuk berjalan-jalan di pusat kota Basel serta Kota Tua Basel. Bahkan Basel pun sangat menghargai sejarah dan nilai seni. Kota ini dirajut dengan baik dan berseni.

Ya, omong-omong tentang seni, kota ini punya banyak sekali museum seni. Bahkan di event internasional sekelas MUBA juga mengadakan pameran lukisan dan eksibisi dari seniman berbagai negara. Aku memperhatikan satu demi satu stand lukisan di MUBA. Ya, walaupun tidak terlalu mengerti arti mendalam sebuah lukisan, tapi aku senang menyelami nilai seni dari mancanegara ini.

Basel Heritage Switzerland
Pameran Lukisan Basel

Basel Heritage Switzerland
Galeri MUBA, Basel

Basel Heritage Switzerland
Kenalan sama seniman kawakan Swiss.

Aku sempat berkenalan dengan salah satu seniman yang memang lahir di Swiss. Dia menawarkan untuk melukisku. Ah, aku tersanjung. Dia tertarik lantaran baru menemukan perempuan berhijab yang mengagumi lukisannya. Jarang-jarang, kan, lukisan perempuan berhijab dipajang di pameran. Dengan segala perbedaan yang memenuhi kota ini, tentu keragaman itu diterima dengan baik. Aku senang dapat mengobrol sedikit tentang Indonesia padanya.

Dari Galeri MUBA, aku berjalan kaki menikmati kota, berjalan mengarah ke Kota Tua. Ada satu museum bersejarah yang menarik perhatianku. Di sana ramai karena memang pelatarannya sangat lebar. Banyak orang berkumpul di pelataran itu. Namanya History of Museum Basel atau The Historiches Museum Basel (HMB) yang merupakan satu museum besar di Basel. Bangunannya merupakan bangunan tua yang berdiri pada tahun 1800-an. Tua sekali, ya, dan masih tampak megah. Ini adalah satu museum yang penting di negara Swiss yang memuat sejarah Basel. Kalau kamu suatu hari nanti mengunjungi kota ini, kamu harus masuk ke museum sejarah ini.

Basel Heritage Switzerland
Pagi yang menghangat di depan Historiches Museum Basel.

The Historiches Museum Basel ini punya empat bangunan terpisah, lho. Tiga di antaranya memang berada di Kota Basel. Museum ini mencatat sejarah penting yang pernah menoreh hubungan tiga negara dan budaya antara Swiss, Jerman, dan Prancis. Sejarah dan budaya itu diungkap lewat berbagai karya seni khususnya lukisan yang bernilai 1000 tahun. Sayangnya aku hanya sempat mengunjungi satu gedung saja dari rangkaian museum sejarah Basel ini. Jadi, belum bisa cerita banyak tentang berbagai eksibisi yang terdapat di dalam museum.

Gedung HMB berada di persimpangan kota Basel. Arsitektur bangunan Basel yang bersusun membentk blok demi blok terlihat dari pelataran depan gedung ini. Saat itu hari sedang cerah meski suhu masih 5 derajat. Namun, banyak aktivitas yang dilakukan warga Basel di pelataran depan gedung tua bersejarah itu. Ada yang bermain skateboard, ada yang membaca sambil duduk berkelompok, dan ada pula yang hanya berjalan-jalan saja di sekitar gedung merayakan matahari yang kembali setelah 3 bulan sendu dengan suhu minus.

Basel Heritage Switzerland
HMB menghadap langsung ke bangunan klasik di Kota Basel.
Dari gedung HMB ini, aku melanjutkan perjalanan lagi ke blok bangunan yang merupakan kota tua Basel. Seperti apa? Di journal post selanjutnya ya.

Bisa Traveling Gampang Berkat Bang Joni

Aku punya teman baru, nih. Namanya Bang Joni. Bukan selingkuhan, kok. Tapi dia banyak banget membantuku di saat-saat genting, nggak ribet, dan selalu rendah hati. Siapakah Bang Joni itu?

Bang Joni itu teman virtual di Line Messenger yang punya misi buat membantu kita memenuhi beberapa kebutuhan. Di zaman serba digital, kita juga butuh teman virtual yang serba bisa ini. Untuk saat ini Bang Joni baru bisa bantu seputar kebutuhan pecarian tiket pesawat atau kereta melalui Tiket.com, Skyscanner, loket.com, lalu pemesanan Uber, pemesanan angkutan Xtrans, pemesanan makanan lewat info dari Zomato. Transportasi dan akomodasi amanlah kalau minta sama Bang Joni. Teman yang smart banget, bukan. Perjalanan aman, perut kenyang, nggak pake ribet pula. Eh, bisa isi pulsa dan token listrik juga lho. Kita juga bisa nanya info cuaca, info tol, buat reminder (apalagi kalau kita pelupa), bisa main games, dan lain-lain. Untuk ke depannya Bang Joni bakal upgrade pengetahuan lagi seputar kebutuhan-kebutuhan kita. Semuanya on the go dan hanya berupa layanan Line Messenger, bukan aplikasi khusus di smartphone.

Bang Joni Launching party
Ketemu Bang Joni pertama kali di sini, nih.

Ini dia si Bang Joni. (image by bangjoni.com)

Bang Joni, nggak pake ribet
Kenalan dulu sama Bang Joni, biar akrab.

Nah, kebetulan tahun ini, aku banyak dapat undangan bepergian (undangannya sih banyak, tapi belum tahu yang mana yang confirm untuk benar-benar berangkat). Bagaikan seorang sahabat, Bang Joni selalu ada di saat kita membutuhkan. Kebetulan sekali, aku ada jadwal ke Yogyakarta bulan Oktober nanti, sekaligus birthday trip. Karena baru saja kenalan sama Bang Joni beberapa hari lalu, aku langsung minta bantuan. Mungkin aku bisa dibilang teman nggak tahu diri, baru kenalan sudah merepotkan. Tapi sepertinya Bang Joni selalu ikhlas membantu.

Aku udah add Line Bang Joni (ID Line @bangjoni) dan responsnya cepat sekali. Bang Joni paling tahu keluhan-keluhan kita. Tinggal tulis kalimat simple saja, Bang Joni langsung kasih solusi.

Bang Joni temen gue, nggak pake ribet
Bang Joni to the point, nggak ribet.

Aku cuma tinggal ketik, "Cariin tiket pesawat dong, Bang Joni!"
Bang Joni langsung balas dalam 1 detik. Wah, bahkan chat sama pacar aja harus nunggu beberapa menit bahkan beberapa jam.

Tanpa basa-basi, Bang Joni menawarkan destinasi pilihan yang paling banyak dituju. Kayaknya, Bang Joni sudah riset duluan, nih. Dia tahu tempat-tempat hits rupanya. Ada Medan, Surabaya, Bali, dan Lombok. Kalau mau cari destinasi lain, tinggal klik saja cari yang lain. Bang Joni ini menawarkan harga termurah karena dia tahu banget mobilitas tinggi harus diringi dengan hidup hemat biar selamat. Iya, kan, Bang Joni? Padahal sebenarnya Bang Joni tahu nih orang-orang berkantong sekarat macam aku ini.

Bang Joni, pesennya cepet nggak pake ribet
Bisa tinggal ketik destinasi pilihan sesuka hati.

To the point, Bang Joni langsung menghubungkan kita ke link pencarian maskapai dan jadwal keberangkatan lewat Skyscanner. Nanti dengan sendirinya pemesanan tiket otomatis akan ditangani oleh tiket.com. Bang Joni menggiringku melewati fitur-fitur mudah dan cermat biar aku dapat tiket pesawat yang diinginkan. Langsung pesan, langsung isi data dan langsung dapat kiriman kode booking pesawat.

Pesennya cepet nggak pake ribet
Langsung ketik kota tujuan dan tanggal keberangkatan.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line MessengerPesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger

Langsung ada perbandingan harga berbagai maskapai. Aku bahagia karena harga tiketnya murah meriah. Pesennya cepet dan nggak pake ribet.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Pesan flight paling pagi buat ke Jogja.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Tinggal isi data, nggak perlu bikin akun macam-macam.

Nggak perlu pikir panjang lagi. Aku langsung ikuti instruksi mudah berikutnya dari tiket.com. Secara otomatis, tiket.com akan meng-compare data kita. Nanti akan ada notifikasi di email untuk pembuatan akun dan password sehingga pembayaran tiket dapat dilakukan dan tiket bisa langsung dikirim via email. Mudah banget, kan!

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Langsung keluar billing-nya.

Pesan tiket pesawat pake Bang Joni Line Messenger
Ini pilihan pembayarannya.

Ah, kenapa nggak dari dulu saja, ya, aku kenal Bang Joni. Aku nggak perlu susah-susah buka website pemesanan tiket, membandingkan harga dari satu maskapai ke maskapai lain, dan akhirnya galau sendiri sama jadwal keberangkatan.

Nah, dengan begini, aku tinggal nulis reminder di Bang Joni juga, buat ingetin jadwal keberangkatan. Siapa tahu nanti Bang Joni punya tips-tips lain biar nggak bete nunggu Oktober datang. Sebagai traveler, kehadiran Bang Joni ini sangat membantu. Kita yang biasanya ribet melakukan pemesanan atau pembelian apa pun lewat fitur atau aplikasi online, Bang Joni justru merangkum semuanya jadi satu. Asal jangan tanya masalah percintaan, ya. Nanti Bang Joni galau, lho karena kita mendua.

QR code Official Line Account Bang Joni
Bisa add pake QR Code untuk Official Line Bang Joni. (image by bangjoni)

Bang Joni emang temen gue, solusi efektif segala kebutuhan genting. Pesennya cepet, nggak pake ribet. Kamu mesti coba. Tinggal add ID Line @bangjoni. Nanti langsung nongol. Eh, tapi kamu harus punya aplikasi chat Line, ya, bukan yang lain. Anyway, kamu bisa coba pesen tiket, pesen makanan, minta jemput, atau minta isiin pulsa hape dan listrik sama Bang Joni. Bang Joni emang temen paling kece untuk urusan beginian. Kalau masih ada SMS nyasar 'mama minta pulsa' ke ponselmu, bisa dibales begini, "Minta ke Bang Joni aja, Ma." Lalu, nyengir, deh.


*Oiya, Bang Joni lagi bagi-bagi paket liburan gratis, nih. Jangan sampai ketinggalan, ya, info menariknya. Tulisan ini juga ditulis dalam rangka mengikuti lomba blog tentang pengalamanku cari tiket murah via Bang Joni.