In Hospitality Land

Penginapan Asri dan Nyaman a la Pawon Cokelat Guest House

Hujan mengguyur Kota Yogyakarta sore itu. Aku dan Junisatya sedang berada di Kota Gudeg itu untuk beberapa hari, demi menghadiri hajatan sahabat, menyemarakkan HUT Yogyakarta, dan sekaligus merayakan ulang tahunku. Berada di Jogja memang selalu meninggalkan kesan bagiku.

Kami hanya menyewa motor untuk berkeliling Jogja. Lalu hari itu, hujan mengguyur kota begitu awetnya. Kami sempat berteduh beberapa kali di pinggir jalan, sekembalinya dari Prambanan dan Mangunan, dua destinasi yang lokasinya jauh dari pusat Kota Jogja. Badan sudah kuyup, semangat mengendur, dan super lelah, tak ada yang lebih kudambakan selain mandi air hangat dan kasur. Junisatya akhirnya memacu motornya menembus gerimis ke arah Malioboro.

Kami menginap di Pawon Cokelat Guest House yang berada persis di sebuah gang di Malioboro. Junisatya mengarahkan motor ke Jalan Sosrowijayan, lalu terus menuju gang pertama di sebelah kanan. Aku turun dari motor dan Junisatya mematikan mesin motor. Kami berjalan masuk ke gang itu sembari menuntun motor, masih dalam keadaan hujan rintik. Di depan gang sudah ditulis sebuah aturan bahwa gang ini adalah area bebas mesin kendaraan bermotor. Ini juga berlaku di hampir semua gang di kawasan permukiman Yogyakarta. Jadi, tidak peduli hujan turun begitu awet, jika lewat gang ya kami harus mematikan mesin motor. Rasanya tenaga ini mau habis disedot dinginnya malam. Pawon Cokelat berada di paling ujung gang itu.

Pawon Cokelat Guest House
Ini dia Pawon Cokelat Guest House.

Pawon Cokelat Guest House
Instalasi depan Pawon Cokelat Guest House.

Kedatangan kami disambut oleh seorang staf laki-laki yang berjaga di front desk. Aku menitipkan helm yang basah dan kunci motor. Dengan baik hati dan penuh pengertian, Mas (yang aku lupa menanyakan namanya) membantu memarkirkan motor. Aku dan Junisatya langsung menuju kamar di lantai 2. Kamar kami persis menghadap ke balkon depan Pawon Cokelat. Pintu kaca bening merupakan akses utama menuju kamar.

Aku langsung merebahkan badan di atas kasur. Lega sekali sudah sampai di kamar mungil dengan nuansa industrialis ini. Setelah mandi air hangat, staf yang menyambut kami di pintu depan mengantarkan dua cangkir minuman cokelat hangat untukku dan Junisatya. Wangi cokelatnya menggoda dan sukses menyempurnakan kehangatan malam itu. Pawon Cokelat Guest House memang juara dalam menyajikan secangkir hot chocolate. Cokelatnya kental dan rasanya pas.

Pawon Cokelat Guest House
Ini kamarku.

Pawon Cokelat Guest House
Hot Chocolate khas Pawon Cokelat.

Pawon Cokelat berkonsep guest house yang memiliki hanya 10 kamar. Karena berlokasi dekat dengan Malioboro, Pawon Cokelat nyaris tak pernah sepi. Dengan dekorasi dan instalasi yang berbau industrialis, Pawon Cokelat memberikan ruang ternyaman bagi para tamu yang menginap di sini. Suasananya sungguh homey. Itu yang kurasakan pagi hari saat membuka pintu kamar. Meski berada di dalam gang, guest house ini tidak pengab. Nuansa landscape di depan kamar membuat guest house lebih asri. Pot-pot tanaman memenuhi setiap sudut dan sisi teras bangunan. Bahkan ada vertical garden di sisi tembok lobi yang menjulang hingga menyentuh langit-langit lantai 2. Pagi-pagi sekali, aku mematikan AC kamar dan membiarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar.

Aku leyeh-leyeh di kamar sampai pukul 8. Saking nyaman dan segarnya suasana pagi hari di Pawon Cokelat, aku tidak mau melakukan apa-apa hari itu. Tapi kami harus sarapan. Jadilah aku turun ke kafe dekat dengan lobi dan pantry. Tidak ada cokelat pagi itu. Sembari menunggu sarapanku yang sedang disiapkan di pantry, aku menyeduh teh hangat untuk membangun mood. Melihat dekorasi cafe yang unik, penat hujan-hujanan hari sebelumnya luntur sudah. 

Pawon Cokelat Guest House
Pagi yang segar di Pawon Cokelat.

Menu sarapan di Pawon Cokelat Guest House
Menu sarapan Indonesian mix American.

Pawon Cokelat Guest House
Kafe cozy di Pawon Cokelat.

Ada dua menu sarapan yang disediakan di guest house ini, menu Indonesian dan American. Pilihan menu sarapan sudah diberikan ke para tamu saat check in. Jadi saat sarapan tiba, semua sudah tersedia untuk kita. Aku tentu saja memesan nasi goreng saja biar kenyang, sedangkan Junisatya memilih omellette dengan topping sosis serta grill tomato. Kalau kamu ikut menginap di sini, kamu tidak perlu sungkan meminta air hangat atau air dingin ke pantry. Karena ini guest house, suasananya lebih friendly, kok.

Sisa waktu hari itu kuhabiskan di beranda lantai 2 yang merupakan public space yang dilengkapi wifi yang kencang di guest house ini. Aku sempat menyusuri tangga hingga lantai 3 yang merupakan rooftop. Ada meja dan bangku juga di rooftop ini yang pasti asyik dijadikan lokasi santai menjelang malam. Aku dapat bocoran dari Bu Eki, pemilik Pawon Cokelat, bahwa nanti Desember 2017 akan dibuka Chocolate Cafe di rooftop ini. Nggak salah memang namanya Pawon Cokelat, suguhan cokelat hangat di guest house ini sudah teruji rasanya. Apalagi dulu sebelum guest house ini ada, Pawon Cokelat itu justru merupakan toko cokelat. Oleh karena itulah, pemilik guest house ini ingin memadukan hospitality dengan kafe cokelat sesuai filosofi Pawon Cokelat tentang cokelat yang menjadi sumber kehangatan dan energi.

Pawon Cokelat Guest House
Ruang santai di Pawon Cokelat.
Pawon Cokelat Guest House
Nuansa nyaman terlihat dari sini.

So far, menginap di Pawon Cokelat memberikan tingkat kenyamanan yang super. Kalau kamu mencari tempat menginap yang tenang, asri, nyaman, dan budget rendah tetapi masih di pusat kota, Pawon Cokelat Guest House adalah tempat yang tepat. Staf guest house juga sungguh ramah. Kamu tinggal jalan kaki dari jalan Malioboro dan masuk gang kecil untuk sampai ke guest house ini. Dengan rate berkisar IDR 325.000, kamu sudah bisa tidur dengan nyenyak, tidak jauh dari pusat kota, sarana transportasi gampang, dekat dengan stasiun dan halte transjogja, serta berada di antara pusat jajanan.

Thank you, Pawon Cokelat, for your kind hospitality.


Pawon Cokelat Guest House

Booking information : Eki Rahmawati 087878809008
Website : www.pawoncokelat.com
Email : info@pawoncokelat.com
Instagram : @pawoncokelat

Read More

Share Tweet Pin It +1

7 Comments

In Abroad Land Journey Land

Peradaban Awal di Old Tbilisi Wall, Georgia

Mengunjungi kota bernama Tbilisi jauh dari list impianku. Tapi Tuhan menjawab semua harapanku tentang mengarungi belahan dunia yang punya sejarah hebat. Lalu aku sampai di Kota Tbilisi, Georgia bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini. Aku bertekad untuk melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan di kota ini. Tbilisi salah satu kota hebat yang menarik perhatian. "Tbili" artinya "warm atau hangat" dalam bahasa Rusia-Georgia. Sejarah awalnya itu saat King Vakhtang Gorgasali menemukan sumber mata air panas belerang dekat saat ia merambah hutan mengejar seekor burung. Lalu dinamakanlah kota itu Tbilisi. Vakhtang adalah Raja Iberia, Georgia Timur (Kartli) yang sempat berperang melawan Iran. Sejarah panjang perjuangannya di persekutuan Kekaisaran Bizantium (polemik sejarah Timur Tengah sana) dan melawan Sasanian Iran, menjadikan King Vakhtang sebagai tokoh paling populer dalam sejarah Georgia pada Abad Pertengahan. Karena beliau yang memberi nama pada Kota Tbilisi, ia disebut sebagai Founding Father kota yang disebut juga City of Hot Spring itu. Nggak salah ketika Tbilisi mengabadikan kisah heroik King Vakhtang Gorgasali dalam bentuk Monumen King Vakhtang Gorgasali.

Peradaban awal di Old Tbilisi Wall Georgia
Old Tbilisi Wall Georgia, bentuk peradaban lama di lereng bukit Sololaki.

Monument of King Vakhtang Gorgasali

Saat berjalan-jalan di pusat kota Tbilisi, aku berhenti di salah satu bundaran besar dengan satu bangunan gereja dan patung orang berkuda di tepian Sungai Kura (sungai besar yang membelah Tbilisi). Rupanya itu itulah King Vakhtang yang termahsyur di depan gereja bernama Metekhi Church. Ini adalah lokasi pertama tempat King Vakhtang mendirikan kerajaannya dan menjadikan Tbilisi sebagai ibukotanya. Tidak tanggung-tanggung, nama jalan besar di sepanjang pinggiran sungai besar yang membelah Tbilisi itu dinamakan Vakhtang Gorgasali Street. Sebegitu cinta masyarakat Tbilisi padanya dan sebegitu besar penghargaan mereka terhadap sejarah.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bundaran Tbilisi menuju Old Tbilisi Wall.

King Vakhtang Gorgasali Tbilisi
Di depan monumen King Vakhtang Gorgasali dan Gereja Metekhi.

Saat berada di Jembatan Metekhi, aku memandang sisa-sisa kebesaran sejarah Tbilisi. Ternyata Tbilisi negara yang sangat menghargai warisan budaya. Di balik pesatnya bangunan modern, kota ini menyisakan satu lokasi yang menjembatani negeri modern dengan sisa-sisa kejayaan peradaban masa dulu. Lewat Jembatan Metekhi yang persis berada di bawah Metekhi Church dan Monumen Vakhtang Gorgasali, kita dapat melihat kemegahannya yang lain, Old Tbilisi Wall.

Ya, dinding. Sebuah peradaban yang tumbuh di lereng bukit di depan Sungai Kura. Rumah-rumah tradisional Tbilisi bersusun di lereng bukit ini. Itulah sebabnya dinamakan Tbilisi Wall. Tbilisi Wall menjadi landmark Kota Tbilisi dengan kontur daratan yang berbukit-bukit.

Beberapa gadis Georgia yang menemaniku berjalan hari itu hendak mengajak kami ke puncak bukit untuk melihat pemandangan Kota Tbilisi dari atas. Ada dua alternatif cara mencapai puncak bukit itu. Pertama, dengan menggunakan cable car dengan tarif 7 Lari (mata uang Georgia, 1 Lari = Rp6.500,-). Namun, karena hari itu antrean cable car lumayan panjang padahal bukan hari libur nasional, kami pindah ke alternatif kedua, yaitu jalan kaki. Yes, sepertinya aku memang harus berjuang untuk mencapai bukit itu seperti perjuangan berdarah-darah King Vakhtang. #Lebay

Eh, tapi kan aku sedang puasa dan puasa di sana berdurasi 18 jam, apalagi saat itu memasuki musim panas. Aku juga sedang mengenakan ankle boots 9 cm karena baru pulang presentasi di workshop Folk Dance and Music Perkhuli Tbilisi 2017 bersama gadis-gadis penari cantik Georgia. Mereka pula yang memberikan ide mengajak kami berjalan-jalan di kota sesiangan itu. Membayangkan aku trekking di bawah terik dan mengenakan ankle boots ini... mari kita lihat sampai kapan aku bertahan.


National Botanical Garden of Georgia
Selepas melewati jembatan Metekhi, menyeberangi Sungai Kura, jalan mulai menanjak. Aku melewati beberapa pertokoan, kafe, dan hotel bergaya tradisional Georgia. Perlahan-lahan keramaian memudar ketika kami terus berjalan mendaki. Kami memasuki komplek rumah-rumah tradisional Georgia. Kondisinya masih sangat bagus dan terawat. Rumah-rumahnya banyak terdiri dari rumah panggung, mirip dengan gaya rumah tradisional kita. Bedanya, rumah-rumah mereka dibuat lebih banyak lorong dan atapnya lebih rendah untuk menangkal angin musim dingin masuk. Unik-unik, ya. Ada rumah yang masih dihuni, ada rumah yang disewakan sebagai hostel atau guesthouse, ada yang dijadikan toko wine, kafe, dan semacamnya. Aku terus berjalan.

Old Tbilisi Wall
Tbilisi Wall, peradaban di lereng bukit.

Old Tbilisi Wall
Bentuk-bentuk rumah tradisional.

Berada di Botanical Garden Georgia.

Jalan setapak bercabang dan tidak datar. Sedikit agak ke atas, kami sampai di gerbang National Botanical Garden of Georgia, meninggalkan kawasan permukiman penduduk. National Botanical Garden ini merupakan taman nasional dan menjadi salah satu objek wisata di Tbilisi. Kami dikenai tiket masuk sebesar 2 Lari per orang. Mulanya aku hendak mengantre di ticket box, tetapi Elene, yang resmi menjadi foreign-friend-ku mulai hari itu, sempat menahanku. Katanya beberapa teman kami dari India belum memiliki mata uang lokal. Kami sempat batal masuk. Namun, Elene dan seorang temannya Anuki memberi jalan tengah. Dia memintaku menukarkan uang Lari ke teman-teman India. Mereka akan menggantinya dengan mata uang mereka. Lalu Elene bilang, aku tak perlu membayar tiket lagi untuk 1 tim dari Indonesia. Mungkin semua di-cover sama teman-teman India. Masya Allah, berkah puasa.

Kami berjalan dengan riang memasuki Botanical Garden. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang mesti dilihat di hutan lindung ini karena bentuknya tidak jauh berbeda dengan hutan hujan tropis di negara sendiri. Hanya bedanya, ya, Botanical Garden yang ini lebih tertata rapi. Lokasi yang tepat untuk short escape bagi orang Tbilisi. Rupanya perjuangan jalan kaki ke puncak bukit tidak sampai di sini. Botanical Garden ini adalah jalur alternatif untuk menuju puncak bukit. Tapi lebih dulu, aku melipir ke jalan menurun menuju sebuah air terjun. Aku sempat takjub juga, sih. Di Botanical Garden seperti ini terdapat air terjun meski dalam ukuran mini. Air terjun ini mengairi sebuah sungai kecil di antara Botanical Garden. Nanti tentunya akan bergabung ke Sungai Kura di pusat kota. Sungai Kura sendiri merupakan sungai panjang yang menghubungkan Turki, Georgia, dan Azerbaijan yang muaranya di Laut Kaspia.

Setelah jalan kaki cukup jauh dan panas, akhirnya aku bisa lihat yang adem-adem. Setidaknya aku bisa melepaskan sepatu tebal ini sejenak. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di pinggir sungai. Celup-celup kaki juga cukup.

Old Tbilisi Wall Georgia
Air terjun di Botanical Garden Georgia.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bersama teman-teman cantik dari Georgia.

Air terjunnya terasa dingin tergerus angin musim semi yang mau berakhir. Segar sekali. Rasanya dahaga meronta-ronta ingin disiram pula. Tapi, dari Indonesia, aku sudah berniat untuk melanjutkan puasa meski traveling dan durasinya 6 jam lebih panjang. Begini rasanya. Asyik karena tak harus memikirkan camilan dan perut tak perlu meringis karena belum dapat makanan yang manis-manis.

Setelah istirahat sebentar di tepian air terjun, Elene dan Anuki mengajakku untuk kembali berjalan, kembali melewati tanjakan yang semakin curam saja. Panorama hijau Botanical Garden sungguh cantik. FYI, Botanical Garden ini punya trek yang mudah dijangkau. Tidak seperti jalan ke curug Cibeureum yang masih beralaskan tanah dan bebatuan. Meski tanjakan, jalan setapaknya sudah rapi dan disemen. Tidak ada semak liar atau tanah liat licin yang suram. Semua tanaman ditata, baik tanaman kecil, maupun pohon-pohon. Jalanan ini bersahabat untukku yang super-salah-kostum mengenakan baju formal putih, celana kulit hitam, dan ankle boots. Puasa pula.

Mother of Georgian Statue

Di bagian puncak bukit yang dinamakan Sololaki Hill, ada satu patung besar berwarna silver. Ke sanalah tujuan kami. Sebuah patung perempuan yang cukup besar dan terlihat dari tengah kota. Selain King Vakhtang Gorgasali, ada satu lagi tokoh sejarah penting di Tbilisi, Kartlis Deda alias Mother of Georgian. Teman Georgia kami bercerita pada kami bahwa Mother of Georgian ini semacam pahlawan perempuan yang rela mati demi menyelamatkan rakyatnya. Dia termasuk pejuang heroik perempuan di negara itu. Patung ini sengaja dibuat setinggi 20 meter dan diletakkan di puncak Sololaki Hill agar seluruh rakyat Georgia dapat melihat "ibu" mereka. Patung ini menarik. Mother of Georgian memegang 2 benda di tangannya. Ia mengenakan pakaian tradisional Georgia dengan memegang sebuah mangkok di tangan kiri yang merupakan simbol dari semangkuk wine untuk disuguhkan pada seorang teman yang berniat baik padanya. Lalu, di tangan kanan ia mengenggam sebilah pedang sebagai simbol waspada terhadap musuh. Begitulah simbol pejuang perempuan yang dikenang oleh rakyat Georgia. Rupanya Georgia tak perlu aksi emansipasi yang berlebihan, cukup dengan melihat ke arah patung Mother of Georgian ini, kita tahu bahwa posisi perempuan sama bagusnya dengan laki-laki.
Old Tbilisi Wall di belakang Mother of Georgian
Walaupun panas, jalan jauh, puasa, tetap happy.

Sebelah Mother of Georgian
Di sebelah Mother of Georgian.

FYI, Georgia adalah negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Jadi, wine lumrah dijadikan welcome drink untuk menyambut tamu. Georgia juga punya kebun anggur, peach, burberry, strawberry, cherry, dan buah segar asam-manis menggiurkan.

Narikala Ancient Fortress

Dari patung Mother of Georgian, aku melihat Panorama Kota Tbilisi membentang. Dari pinggiran bukit Sololaki ini, ada tangga kembali ke komplek perumahan tua Tbilisi. Sepanjang tangga menurun itu, aku puas menatap panorama kota. Ada beberapa restoran di pinggiran bukit dengan teras yang mengarah ke panorama. Restoran itu memanggil-manggilku untuk duduk dan beristirahat. Tapi aku ditinggal rombongan. Jadi harus buru-buru. Tangga turunan itu melewati sisi sebuah kastil. Kastil ini juga bagian dari landmark Kota Tbilisi. Namanya Narikala Ancient Fortress yang sudah didirikan sejak abad ke-4. Konon, sejarah mencatat berbagai konflik dan perpindahan tangan kastil ini. Bani Umayyah dan Mongol pernah berada di sini dan merenovasi beberapa bagian. Rupanya ada jejak Islam yang kuat di kastil ini. Bangsa Mongol menyebutnya Narin Qala yang artinya Benteng Kecil. Tidak heran, di kawasan Old Tbilisi, aku melewati dua masjid dan beberapa orang mengenakan hijab.

Lokasi Narikala Fortress memang strategis. Bangunannya berada di lereng bukit yang menghadap ke Sungai Kura dan pusat Kota Tbilisi. Lokasinya memang pas dijadikan benteng pada zaman perang. Kini Narikala menjadi sebuah gereja orthodox. Sayang sekali aku tak sempat masuk ke dalam untuk melihat lukisan tentang Sejarah Georgia. Padahal seru juga kalau bisa melihat sejarah dari lukisan, apalagi masuknya gratis. Apa boleh buat, Elene sudah memanggil-manggilku untuk terus berjalan turun.

Old Tbilisi Wall di lereng bukit
Di depan Narikala Ancient Fortress.

Dari Narikala, jalanan mulai melingkar turun. Aku kembali ke susunan rumah-rumah kayu bergaya Georgia lama. Kami tidak kembali ke gerbang utama Botanical Garden. Ini akses jalan yang lain yang langsung menuju pusat kafe dan restoran. Tak beberapa menit berjalan, kami sudah sampai lagi di pinggir jalan Vakhtang Gorgasali. Elene membeli air mineral dingin untuk beberapa orang yang kehausan karena cuaca sungguh terik hari itu. Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.

Satu hari berkeliling Tbilisi Wall terasa cukup. Banyak sisa-sisa perjuangan yang membangun peradaban masa kini negara ini. What a beautiful day.

Ini pengalaman ter-"AHA"-moment-ku ketika menapaki satu sudut di Tbilisi, Georgia. Jalan tengah hari terik saat puasa memang membutuhkan perjuangan berat, apalagi bukan di rumah. Sebenarnya, begitu turun dari Botanical Garden, aku sudah sangat kelelahan dan dehidrasi hebat. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Masih 6 jam lagi menuju buka puasa pukul 9 malam. Itu artinya puasa baru berjalan 12 jam. Kalau di Indonesia, tentu aku sudah bisa buka puasa. Sementara di Tbilisi saat berada di perpindahan musim semi ke panas, siang menjadi jauh lebih lama. Aku menimbang-nimbang kondisi tubuh. Besok masih ada agenda padat yang menunggu. Akhirnya di depan landmark kota Tbilisi, puasaku kalah. Aku berbuka dengan sebotol air mineral. Agak merasa bersalah memang. Namun, aku harus berpikir realistis juga, kan.

Mengingat momen itu, aku tidak menyesal. Aku bersyukur hidup di negara tropis yang punya waktu siang dan malam yang seimbang. Aku jadi jauh lebih bersyukur pernah merasakan puasa di tempat-tempat seperti ini, jauh dari rumah dan menjadi minoritas. Kenapa? Karena aku merasakan waktu demi waktu itu berharga. Siang sangat panjang diiringi dengan waktu tidur yang singkat karena malam cuma 6 jam. Jadwal Isya baru masuk pukul 11 malam. Lalu pukul 2 dini hari aku harus sahur karena pukul 3 sudah Subuh. Sahur menjadi kegiatan wajibku meski cuma makan serundeng, sambal dendeng, dan nasi putih (sengaja bawa dari Indonesia). Untungnya pemilik hotel tempat kami menginap sungguh baik menyiapkan makan malamku pukul 9 sementara jadwal makan malam di kafe hotel itu pukul 5-6 sore.

Hari-hari awal memang berat, tapi kemudian secara ajaib tubuhku mampu menyesuaikan. Aku tidak akan mau lagi menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Aku berada di Tbilisi sampai akhir Ramadhan. Aku merasakan waktuku cukup untuk melakukan banyak hal dalam satu hari meski puasa. Perjalanan memang jauh lebih melelahkan, tapi aku senang dapat menikmati proses itu jam demi jam (bukan sekadar hari demi hari lagi).

Old Tbilisi Wall Georgia
Meresapi Kota Tbilisi.

Jadi, pengalaman traveling itu akan jauh lebih indah saat kita menikmati prosesnya. Bukan sekadar melihat tempat, tapi juga melihat ke dalam diri sendiri. Ini tergantung bagaimana kita memaknai kemampuan otak menerima dan mengolah informasi, sudut pandang, kondisi tubuh, hingga interaksi dengan yang segala yang asing. Aku pun mencoba bernegosiasi. Dalam menit-menit dehidrasiku tengah hari saat menjalani puasa di Georgia, aku semakin berpikir bahwa traveling itu untuk mencari kebahagiaan. Entah itu saat perjalanan, atau pun saat pulang.

Tbilisi memang kota kecil. Sejak aku berada di sana, aku mulai memperbaiki list perjalananku. Aku mulai merunut lokasi-lokasi hebat lainnya untuk perjalananku berikutnya. Aku juga mencocokkan dengan jadwal penerbangan terbaik. Aku harus memperkirakan budget dengan destinasi. Seperti persiapan perjalanan ke Tbilisi ini, aku dan ibuku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya karena memang dalam rangka mengikuti festival pertunjukan kebudayaan dunia. Melihat pengalaman itu, aku dipermudah dengan fitur pencarian tiket pesawat yang disediakan oleh Skyscanner. Aku tidak mau mencari tiket asal-asalan. Untung saja sebelum perjalanan ke Tbilisi, aku mengecek segala situs dan aplikasi dari Online Travel Agent (OTA), mencocokkan tanggal dan harga. Dari sana aku mengenal Skyscanner yang memberikan harga terbaik di bulan-bulan terbaik. Kamu mesti coba. Kamu bisa menjadwalkan perjalananmu melalui Skyscanner dan Skyscanner akan memilihkan jadwal penerbangan dengan harga paling murah.

Kok, bisa?

Iya, Skyscanner merupakan website dengan fitur keren yang dapat membandingkan harga tiket dari berbagai OTA lain. Kalau kamu bingung mau ke mana dan kapan (kan, suka ada orang yang hidupnya mendadak galau dan ingin terbang entah ke mana), Skyscanner pasti mengerti. Tulis saja kota asal, lalu biarkan kolom 'ke' terisi dengan "Mana saja". Gerakkan cursor ke jadwal berangkat, nanti ada pilihan tanggal tertentu dan kolom grafik sepanjang bulan.
Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Skyscanner punya grafik harga tiket maskapai untuk mempermudah kita menentukan jadwal perjalanan termurah.

Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Fitur Skyscanner yang paling diandalkan, nih.
Nah, kamu tinggal pilih asal untuk tahun depan. Nanti Skyscanner akan mendata semua tiket-tiket murah dan terbaik. Ada info harga juga kalau kita ingin informasi detail tentang tanggal-tanggal yang memuat harga promo. Seru, ya.

Kalau untuk perjalanan luar negeri, ada banyak maskapai dengan waktu transit beda-beda. Nah, untuk jadi smart traveler, jangan lupa cek tempat transit, durasi dan berapa kali transit. Ini penting agar agenda perjalananmu tidak berantakan. Skyscanner sudah memilihkan alternatif penerbangan berikut dengan akomodasinya, ada hotel dan penyewaan mobil juga. Kebetulan, karena puasa, aku memilih penerbangan malam (biar bisa makan terus selama di pesawat) dengan dua kali transit (Kuala Lumpur dan Istanbul) menggunakan Turkish Airlines.

Traveling ke Georgia dengan Skyscanner Indonesia
Traveling ke Georgia bulan puasa.



*Artikel ini ditulis untuk mengikuti Skyscanner Indonesia Blog Competition 2017: "AHA" Moment Saat Travel. #AHASkyscanner, #SkyscannerIndonesia

Read More

Share Tweet Pin It +1

34 Comments

In Journey Land

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita

Petualanganku di Nusa Penida, Bali beberapa waktu lalu memang tidak bisa dilupakan. Pertama, karena aku mengatur sendiri jadwal location visit di setiap spot terbaik di Nusa Penida. Kedua, karena aku datang ke Bali untuk bertemu seorang teman lama yang memilih hidup di Ubud. Jadi, sesampai di Bali, kami mampir dulu ke Ubud dan menghabiskan 2 hari di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke The Golden Egg of Bali. Ini semacam reunian dengan jalan-jalan.

Meski di Nusa Penida cuma satu malam, tapi banyak tindak konyol yang aku alami bersama geng trip kali ini. Dimulai dari pelayaran ke Nusa Penida yang sudah pernah kutulis sebelumnya di blog ini (intip kisahnya di sini). Lalu, bagaimana hebohnya kami mencari penginapan dan nyasar-nyasar untuk sampai ke Pantai Atuh yang view-nya luar biasa, yang seketika bikin aku jatuh cinta. Dan, terakhir pagi-pagi sekali saat kami siap berkendara ke Crystal Bay tapi hujan deras. Harapan yang suram.

Aku mengepak ransel karena harus check out penginapan hari ini dan kembali berlayar ke dermaga Sanur nanti sore. Tapi, sebelumnya, aku berangkat ke Kelingking Beach dan Pasih Uug, lokasi wajib lain yang harus dilihat jika kita ke Nusa Penida. Rencana awal kami mestinya snorkeling dan mengeksplor bawah laut Nusa Penida sambil melihat manta-manta yang berenang cantik di dekat tebing. Namun, rencana itu gagal karena cuaca kurang bersahabat. Aku menunggu hujan reda sambil terus memandangi detak jam. Jika hujan bertahan sampai siang, kami tidak akan bisa ke mana-mana lagi selain harus kembali ke dermaga Toyapakeh.

Bali selalu punya cara memanggil kita
Satu spot dramatik di Pasih Uug alias Broken Beach.
Bali Selalu Punya Cerita Memanggil Kita
Travelmate Nusa Penida (minus Junisatya yang jadi Kang Foto)

Untungnya langit mulai memberi harapan meski nggak cerah-cerah amat. Dengan menyandang ransel masing-masing, aku dan teman-teman melaju ke arah barat Nusa Penida menggunakan motor sewaan. Dengan mengandalkan offline maps di ponsel (sinyal pasang surut seperti air laut), untungnya kali ini marka jalan lebih mudah ditafsir. Kelingking Beach dan Pasih Uug ada di 2 jalur yang berseberangan. Kami sempat berhenti untuk sarapan dan memboyong pisang goreng untuk bekal di jalan. Sembari sarapan, aku mengobrol dengan beberapa anak SD yang kami temui di warung makan. Mereka bilang, trek ke Kelingking Beach lebih mulus. Kalau jalanan ke Pasih Uug malah rusak parah. Jarak kedua tempat itu sama. Mereka berpendapat, lebih baik ke Kelingking Beach saja. Pasih Uug bagus, tapi ya gitu, susah ditempuh. Kecil-kecil begitu, mereka tahu jalan, lho. Please, jangan remehkan anak kecil.

Setelah menakar-nakar jarak dan waktu, kami punya waktu sekitar 4 jam untuk mencapai dua tempat itu jika tak ingin ketinggalan kapal sore hari. Ini gila, sih. Liburan macam apa ini, berpindah-pindah tanpa bisa menikmati alam dan tawa teman seperjalanan. Yak, mari pilih opsi pertama yang disarankan si anak-anak SD itu. Mari ke Kelingking Beach. Kalau memang tak sempat, Pasih Uug terpaksa harus dikorbankan.

 1. Kelingking Beach

Ketika menemukan pertigaan, Kelingking Beach belok kiri, Pasih Uug alias Broken Beach belok kanan, Junisatya berbelok ke kiri dan diikuti oleh 2 motor teman kami yang lain. Jalanan menyempit tetapi view-nya menyenangkan. Kami menempuh sekitar 4 km untuk sampai di kawasan Kelingking Beach. Oiya, harus bayar Rp15.000 untuk biaya retribusi sekaligus parkir.

Di kawasan Kelingking Beach terdapat rumah makan dengan halaman yang luas. Lalu, sisi pinggir tebing yang jadi primadona kawasan ini dipenuhi warung-warung jajanan. Yang orang-orang sebut sebagai 'kelingking' itu adalah tebing yang menjorok ke laut berbentuk kelingking. Aku seketika merinding memandangi ketinggian tebing dan melihat ombak menghempas pantai putih di bawahnya. Jika berjalan di sini, harus serba hati-hati karena tebing hanya dibatasi pagar kayu yang dipasak ke tanah. Tanpa ada kekokohan pelindung lain. Mungkin saat Kelingking Beach belum seramai ini, pasak-pasak kayu itu belum ada. Pinggiran tebing polos begitu saja, hanya berbatas rerumputan liar. Agak seram jika dibayangkan.



Kelingking Beach Nusa Penida
Mari berlayar.

Kelingking Beach Nusa Penida
Salah satu lokasi instagramable di Kelingking Beach.

Sisi Kelingking Beach yang lain juga seru buat spot foto.

Ada beberapa spot foto mainstream yang instagramable di Kelingking Beach, foto cantik di miniatur kapal yang harus bayar Rp5.000 untuk biaya perawatan, foto kece di dahan pohon tak berdaun, dan foto persis dengan view tebing Kelingking jadi pilihan kami. Kalau mau lebih jauh lagi, bisa turun merayapi 'punggung' tebing Kelingking yang tipis itu. Tapi aku nggak berani. Dera anginnya lebih hebat dari berat badan. Kalau mau lebih ekstrem, bisa turun dengan mengikuti anak tangga kecil menuju pantai. Lagi-lagi, terima kasih, waktu kami tidak cukup untuk mengeksplor hingga ke pantainya. Ah, sayang sekali.

Sembari duduk menikmati pemandangan tebing-tebing, kami mengobrol dengan orang warung. Mengingat waktu sisa cuma 2,5 jam, kami menanyakan kemungkinan untuk tetap ke Pasih Uug. Bapak-bapak yang berjaga di pinggiran tebing menimpali bahwa kalau dipaksakan ke Pasih Uug, malah serba nanggung. Dari Kelingking ke Pasih Uug bisa menghabiskan waktu 1 jam. Itu artinya, kami hanya punya waktu 20-30 menit untuk eksplore Pasih Uug dan Angel's Billabong. Lalu, harus siap kembali ke dermaga yang juga memakan waktu 1 jam. Agak mustahil ya.

Oke, mari sandang ransel kembali. Kami membulatkan tekad untuk melaju ke Pasih Uug.

2. Pasih Uug

Ternyata jalanan tak seperti yang dibayangkan. Dengan ransel tersandang di bahuku, aku harus mengimbangi laju motor dengan jalanan yang  becek. Ada saatnya aku harus turun dari motor karena roda slip. Ada pula saatnya kami tergelincir karena posisi ransel tidak seimbang. Andai tidak membawa ransel, pasti perjalanan ini lebih mulus. Hari semakin terik. Tapi Pasih Uug masih jauh. Kami terus melaju semata-mata karena terpicu oleh semangat beberapa bule yang berseliweran dengan motor mereka hanya dengan mengenakan singlet. Mereka juga membawa ransel berat di punggungnya. Mereka saja bisa, kenapa kami tidak? Motivasi kosong tapi membawa hasil.

Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach
Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach.


Pasih Uug Nusa Penida, Bali
Padang rumput di sekitar Pasih Uug.
Bali punya cerita
Pasih Uug, sampai jumpa lagi.

Kami sampai di hamparan Pasih Uug 40 menit kemudian. Setelah mengikat ransel di motor, aku terhenti. Pemandangan yang kulihat saat itu...masya Allah. Pasih Uug adalah hidden gem Nusa Penida yang lain. Banyak orang menyebutnya dengan Broken Beach karena ada lubang di tebing tengah membentuk pintu masuk ombak. Ceruk besar dan tinggi di dalamnya menjadi sasaran hempasan ombak. Tebingnya, suara ombaknya yang membahana, membuat kita semakin kecil. Aku melihat orang-orang berjalan mengitari sisi Pasih Uug. Dataran yang mengitari tebing Pasih Uug ditumbuhi rumput hijau yang membuat orang semakin nyaman untuk berjalan bahkan duduk-duduk di sini. Saking besarnya lokasi Pasih Uug ini, orang-orang itu tampak seperti semut di bibir tebing.

Aku sama sekali tidak menyesal menempuh perjalanan rusak dan jauh ini karena apa yang ada di hadapan sungguh membayar lelah itu. Saat langit tak begitu cerah saja, barisan tebing yang tampak di Pasih Uug sungguh dramatik dan luar biasa. Apalagi pemandangan saat langit biru, ya. Ini adalah lokasi sempurna bagi yang menyukai fotografi. Rasanya aku ingin duduk menikmati suara-suara alam yang riang di sini. Seperti Pantai Atuh, Pasih Uug seperti sahabat karibnya. Sama-sama keren dan melengkapi. Katanya lebih indah lagi kalau melihat Pasih Uug ini dari arah laut dengan perahu. Mungkin lain kali, ya, aku akan eksplore perairan di barat Nusa Penida ini.

3. Angel's Billabong

Angel's Billabong masih berada di kawasan Pasih Uug. Hanya berjalan sekitar 5 menit ke arah kanan, Angel's Billabong tersembunyi di balik karang-karang dan tebing yang lebih landai. Kalau menginjak karang-karang ini sangat disarankan mengenakan sendal anti slip karena karangnya tidak rata dan beberapa sisinya tajam. Tempat ini dipercaya sebagai tempat pemandian para bidadari. Itulah kenapa dinamakan Angel's Billabong.

Aku mendekat ke sebuah ceruk di antara karang-karang itu, ceruk kecil melekuk yang membentuk kolam renang sendiri dengan pemandangan lepas pantai. Tapi sayangnya kami dilarang untuk turun dan berenang-renang cantik di ceruk itu. Saat aku ke sana, baru saja ada kejadian dua orang yang hanyut dibawa arus pasang. Cuaca dan laut memang susah diprediksi. Karena kejadian itu lagi hangat-hangatnya dibicarakan dan police line masih terpasang di sekeliling karang, jadi aku sama sekali tidak turun untuk sekadar celup-celup kaki. Agak kecewa, sih. Namun, aku harus berbesar hati karena kami harus segera melaju lagi ke dermaga.

Nusa Penida Bali
Main di karang ini bisa jadi alternatif spot foto juga.

Nusa Penida Bali
Karang di kawasan Pasih Uuh dan Angel's Billabong

Angel's Billabong Nusa Penida
V di pinggir Angel's Billabong.

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita
Angel's Billabong, tempat mandinya para bidadari.
Kami kembali ke tebing Pasih Uug untuk mengucapkan "Sampai jumpa." Kalau ditaya, apakah aku mau jika diajak ke Nusa Penida lagi? Tanpa harus mikir panjang, aku akan menggangguk pasti.

Ini adalah bagian dari doa. Aku percaya sekali. Pasih Uug yang syahdu takkan menjemukan. Trip bersama sahabat-sahabat terbaik menjadikan momen perjalanan ini serasa berada di rumah, meski agak gokil. Kenapa? Begitu kami melewati jalanan rusak lagi, hujan kembali turun. Namun, kami tak berhenti sedikit pun hingga mendekati dermaga Toyapakeh. Sialnya, tiba-tiba kami disuruh berhenti oleh Ry yang lebih suka mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Rupanya bensinnya abis persis di persimpangan jalan masuk ke dermaga. Daripada repot cari bensin, kami akhirnya mendorong motor Ry yang tertatih-tatih berjalan di jalan berkerikil. Pemilik motor yang sudah menunggu di dermaga sedikit kesal karena motornya kehabisan bensin. "Maaf, ya, Pak," ujar Ry pada pemilik motor itu sembari menyodorkan sisa bekal pisang goreng kami.

Untung saja bensinnya abis saat kami sudah dekat. Repot juga jika mesin motor mendadak mati saat kami masih di belantara yang tidak terdeteksi sinyal GPS. Fiuh, kami akhirnya check in kapal. Rasanya lega mengakhiri perjalanan Nusa Penida ini meski masih banyak banget yang belum dilihat dan dieksplor. Bawah lautnya belum. Ketemu Pari Manta belum. Berendam di mata air Guyangan juga belum. Kami kewalahan mengatur waktu yang sudah kami jadwalkan sendiri. Ya, begitulah. Gokil, kan?!

Tak apalah. Yang penting perjalanannya, baru destinasinya. Itu artinya aku memang akan kembali lagi.

Bali selalu punya cara memanggil kita
View di depan kamar Bukit Sunrise di Nusa Penida.

Aku bilang ke Junisatya, "Kenapa, ya, aku selalu ingin balik ke Bali?"

Junisatya setuju. Ia bilang, "Karena Bali punya cara memanggil kita. Setiap perjalanan selalu punya cerita berbeda. Kamu bisa balik lagi, kok, ke sini."

Ya, Nusa Penida adalah satu dari sekian banyak pesona Bali. Aku menunggu waktu yang pas buat kembali ke Bali mengeksplor banyak tempat, karena Bali memang tak pernah membuatku jemu

Read More

Share Tweet Pin It +1

17 Comments

In Gallery Land

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition

Dari dulu, aku suka datang ke pameran unik, eksibisi kece, atau sekadar menikmati instalasi mencolok di sebuah mall. Menurutku, eksibisi yang cuma musiman atau diadakan hanya untuk periode tertentu--entah untuk merayakan sebuah euforia--menjadi hiburan singkat dari kepenatan sesaat kaum urban. Makanya kalau ada eksibisi tertentu yang lokasinya masih bisa dijangkau, aku akan berburu mencari tahu. Apalagi eksibisi anime Jepang. Saat masih berstatus sebagai warga kampus, aku sering datang ke Gelar Jepang UI. Kalau ditarik lebih jauh lagi ke memori lama (jangan kejauhan juga sampai ke masa penjajahan Jepang, ya), rasanya memang anime Jepang terasa lebih dekat dengan pertumbuhan anak-anak Indonesia generasi 90-an. Bayangkan saja, setiap hari Minggu, serentetan judul kartun Jepang diputar dari pagi hingga tengah hari. Itu baru hari Minggu, belum hari-hari lainnya yang juga memutar film superhero Jepang di sore hari. Pokoknya, aku punya agenda khusus nonton film anak produksi Jepang yang nggak boleh diganggu gugat.

Beberapa tahun lalu sempat diadakan Doraemon 100 Gadget Expo di Ancol, Jakarta untuk bernostalgia dengan boneka robot kucing pintar yang menemani hari Minggu pagi kita bahkan sampai saat ini. Lalu, kini ada sebuah studio produksi film anime besar dari Jepang yang mengadakan festival film mereka di Indonesia. Namanya Ghibli. Tapi bukan sekadar festival film. Ghibli tak cuma ingin pamer film-film produksi mereka sejak tahun 1980-an. Kamu tahu boneka atau ikon Totoro? Mungkin merchandise Totoro sudah banyak berseliweran, tapi kita sendiri nggak banyak yang tahu bahwa Totoro adalah salah satu karakter film animasi produksi Ghibli, My Neighbor Totoro. Nggak tahu, kan? Totoro hits di tahun 1988 dan merchandise-nya mulai populer di awal tahun 90-an sampai sekarang. Nah, biar orang-orang kita nggak kudet tentang dunia Ghibli yang hits di Jepang dan sebagian Eropa serta para pencinta anime di seluruh dunia, Ghibli punya inovasi membuat The World of Ghibli Exhibition yang berisi tentang perjalanan Ghibli, proses pembuatan film mereka dari masa ke masa, sampai pameran instalasi dunia film-film Ghibli yang ikonik. Exhibition ini dapat dinikmati selama sebulan lebih sedikit dari 10 Agustus-17 September 2017. Siapa yang menolak kalau diajak ketemu Totoro di Ghibli World Jakarta.

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition
Menunggu Nekobasu bersama Totoro.
Aku tahu tentang exhibition ini juga telat, kok. Aku dan Junisatya baru menyempatkan diri buat ke exhibition yang diadakan di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place Jakarta menjelang penutupan. Tapi ada untungnya juga tahu telat. Karena kata beberapa teman, pada hari-hari awal exhibition dibuka, semua instalasi belum terpasang dengan sempurna. Setelah cari-cari info tiket yang harganya lumayan, ya, aku dan Junisatya dapat harga khusus mahasiswa (anggap saja kami memang masih mahasiswa).

Exhibition dibagi dua area, ruangan yang dilarang memotret dan ruangan yang diizinkan memotret. Untuk urusan ini, Studio Ghibli di Jepang memang mulanya tidak memperbolehkan pengunjung memotret. Tapi, karena ini jadi eksibisi Ghibli terbesar di Asia, kita bisa datang membawa kamera.

Begitu masuk, setelah melewati bagian pemeriksaan tiket, aku disambut dengan sejarah Studio Ghibli yang berawal dari penerbitan komik. Lalu, poster-poster film animasi produksi Ghibli dipajang di hampir seluruh dinding. Ghibli rupanya sedang bercerita kepada pengunjung tentang proses kreatif tim pembuat film animasi dari tahun ke tahun. Di ruangan berbeda, aku melihat satu per satu detail penggambaran karakter dan bagaimana setiap scene bergerak yang hanya bermula dari sebuah ilustrasi komik. Bagian ini keren sih menurutku. Di zaman sekarang, teknologi audio-visual sudah mempermudah segala hal dalam pembuatan karakter animasi. Jika melihat ke belakang, 20 tahun yang lalu, teknologi masih terbatas tetapi tidak membatasi ruang gerak anime-creator untuk menciptakan sebuah film yang kompleks dengan detail karakter dan detail lokasi yang apik. Kita bisa melihat proses kreatif itu di Ghibli Exhibition.

Aku membaca beberapa sinopsis film animasi yang sempat box office pada masanya. Cerita perang, cerita tentang harta karun, cerita tentang cita-cita dan mimpi, serta cerita tentang keluarga ternyata pernah menghiasi bioskop di Jepang sejak tahun 1980-an. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikan satu pun gambar pajangan yang ada di area ini. Dari area sinopsis film, aku beralih ke ruangan gelap yang merupakan movie theater untuk pemutaran trailer film-film Ghibli. Bukan filmnya ya. Filmnya sendiri tayang secara marathon di CGV kota-kota besar Indonesia hingga Maret 2018.


The World of Ghibli Exhibition Jakarta
The Secret World of Arrietty.
Ghibli World Jakarta
When Marnie was There.
Setelah puas melihat sejarah, proses kreatif, sampai trailer film, akhirnya aku sampai di area bebas memotret. Ada beberapa instalasi yang dicomot dari ikon-ikon menarik di film sukses produksi Ghibli. Laputa Castle mengawali petualangan seru kami di area bebas berfoto. Castle yang melayang-layang ini berasal dari film Castle in The Sky. Lalu ada replika Golden Ship yang tampak megah sekali. Aku suka, sih, desain replikanya dengan ukuran sangat besar. Kemudian nanti diikuti dengan Flappter Flying Machine dan Laputa Robot yang berdiri di depan goa. Yubaba's Bathouse dari film Spirited Away juga mendominasi di bagian depan dengan miniatur kuil Jepang. Karena kami datang saat weekdays, jadi exhibition ini terbilang sepi. Aku mengambil kesempatan untuk berfoto di setiap instalasi.

Ghibli World Jakarta
Toko roti Kiki.

Kiki's Delivery Service.
Ghibli World Jakarta
Bantuin Kiki jaga toko bakery.

Spot-spot foto yang agak ramai itu ada di bagian tengah, yaitu Kiki's Delivery Service Bakery, Totoro, dan Neko Basu (Cat Bus). Mungkin karena kita lebih familiar dengan ikon dua film ini, My Neighbor's Totoro dan Kiki's Delivery Service. Mungkin juga karena dekorasinya lebih lucu dan menarik. Dua instalasi ini juga favoritku. Miniatur rumah keluarga Kusakabe di film Totoro juga menarik karena dibuat seidentik mungkin dengan model rumah di film animasinya. Dekorasi interior dari ruang depan, ruang keluarga, kamar, dan ruang kerja ayah Mei dan Satsuki yang penuh buku dibuat begitu detail. Katanya yang menggarap bangunannya Usher dari Indonesia, tapi untuk dekorasi dan printilannya didatangkan langsung dari Jepang. Mereka punya semacam quality control untuk setiap instalasi yang dipajang di exhibition.

Kediaman rumah keluarga Kusakabe.

Ruang kerja Ayah Mei dan Satsuki yang berantakan.

Lagi mau bikin PR.

Berfoto di dalam rumah bergaya rumah tradisional Jepang ini jadi daya tarik sendiri. Ukurannya jadi real-size dan bangunannya cukup kokoh untuk berfoto di bagian dalam. Sayangnya kami hanya diberi waktu 3 menit untuk berfoto di masing-masing instalasi agar semua yang antre kebagian. Serasa ngantre masuk wahana Dufan. Minusnya, ya, aku nggak bisa eksplore berbagai ekspresi foto jadinya. Nggak kebayang kalau datangnya pas weekend.

Di sayap kanan ballroom, instalasi dari film-film Ghibli yang lain juga nggak kalah menarik. Seperti miniatur hutan Princess Mononoke yang dibuat seperti rimba dan gelap. Lalu ada Hawl's The Castle yang bikin gemes, miniatur pesawat Porco Rosso di pinggir pantai. Aku menikmati setiap detail instalasi yang dipajang. Berkeliling di sini serasa berkeliling di komplek imajinasi yang pernah disajikan studio Ghibli. Aku tidak mengenal semua film animasinya, tetapi cukup familiar dengan ikon-ikon yang populer dari beberapa film.

The World of Ghibli Exhibition Jakarta
Nekobasu dalam My Neighbor Totoro.


Ghibli Jakarta
Replika Bathouse dari film Spirited Away.
Ghibli World Jakarta
Hutan Princess Mononoke.
Sebenarnya ada satu hal yang disayangkan saat berada di sini. Ketiadaan informasi di setiap instalasi. Bagi pengunjung awam (sepertiku) hanya bisa sebatas menikmati nilai seni dari instalasi-instalasi ini. Seandainya ada informasi detail di setiap spot kece ini, tentu akan membantu pengunjung mencerna kisah-kisah yang ingin disampaikan Ghibli dalam exhibition-nya di Indonesia. Anyway, sayang juga ya exhibition-nya sudah berakhir. Kudengar, banyak pengunjung dari kalangan penggemar anime ingin exhibition ini diperpanjang. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan oleh pihak Ghibli Jepang. Dan, katanya juga, usai exhibition, instalasi-instalasi ini dihancurkan. Hanya disisakan miniatur Totoro dan Neko Bus yang akan dipajang di pelataran CGV Pasific Place selama film-film Ghibli diputar sampai tahun depan. Jadi, buat kamu yang ketinggalan event ini, masih bisa ketemu Totoro kok di bioskopnya. Totoro masih akan menemani kita sampai Maret 2018.

Read More

Share Tweet Pin It +1

16 Comments