In Journey Land

Makan Siang di Sapu Lidi Sawah, Lembang

Lembang selalu menarik. Jangan heran kalau libur akhir pekan di sana, jalanan sungguh padat. Dengan pengembangan objek wisata yang beragam, Lembang nyaris tak pernah sepi lagi. Kota ini menjadi tujuan alternatif weekend escape menarik rakyat Jakarta, termasuk aku. Nah, kalau ke Lembang, yang jadi PR adalah mencari restoran untuk makan siang. Pada akhir pekan, jalanan Lembang pasti padat. Jika ingin makan siang, kita sudah harus punya radar resto atau warung terdekat sebagai tempat pemberhentian.

Kuliner di Sapu Lidi Sawah Lembang


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Kali ini aku mampir ke Sapu Lidi Sawah yang mengutamakan jenis makanan khas Sunda dengan saung-saung di pinggir sawah. Karena aku datangnya segerombol, alias rame-rame, kami sadar diri untuk reservasi tempat dulu sehari sebelumnya. Sapu Lidi Sawah pada akhir pekan luar biasa ramai. Jadi yang mau makan, harus masuk waiting list dulu.

Nah, apa yang membuat orang-orang rela menunggu bahkan sampai 1 jam untuk bisa makan di Sapu Lidi Sawah? Mari aku jelaskan beberapa di antaranya.

1. Suasana di Sapu Lidi Sawah bikin kangen kampung

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Dari namanya saja sudah Sapu Lidi Sawah. Membayangkan makan lahap di pinggir sawah bikin aku kangen kampung nan jauah di mato. Suasananya tenang karena jauh dari jalan raya. Resort didekorasi senyaman mungkin. Angin semilir menggelitik perut yang keroncongan. Ada jalan-jalan setapak menuju saung yang sudah seperti rumah-rumah kecil di kampung.

2. Ada banyak pilihan saung dengan beberapa pemandangan

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Restoran khas Sunda ini punya saung-saung yang nyaman dan berada di pinggiran sawah, danau kecil, dan pinggir kali. Aku memilih saung di pinggir kali dengan suara percikan air yang bikin makan siang jadi syahdu. Ada pentungan kecil yang digantung di setiap saung. Gunanya untuk memanggil waiters datang, siapa tahu makanannya kurang dan kita mau nambah. Kalau kamu rindu makan di saung-saung seperti ini, Sapu Lidi Sawah mengobati rindu itu. Karena lokasi resto ini cukup luas, antara saung yang satu dengan saung yang lain tidak terlalu rapat. Jadi kita bisa berceloteh riang sambil makan siang tanpa ada yang harus mengeluh, "Sssst, berisik!"

3. Lokasi restoran luas


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang

Nggak terhitung ada berapa saung di Sapu Lidi Sawah. Yang pasti lokasinya luas. Sehabis makan, aku berjalan-jalan mengitari area resto resort ini. Ada halaman rumput yang luas untuk jalan-jalan keluarga, ada danau, dan sungai kecil. Disediakan toilet dan musala yang harus ditempuh dengan naik sampan. Sapu Lidi Sawah juga menyediakan resort penginapan di samping restorannya. Katanya, di area resort, ada danau yang lebih besar lagi dan bisa menyewa perahu untuk sekadar berkeliling menghirup udara alam Lembang yang segar. Rasanya setelah makan, tidak mau ke mana-mana.

4. Menu makanannya enak

Sapu Lidi Sawah menyediakan menu makanan khas Sunda. Aku sempat kalap makan di sini. Sambalnya, sayur, goreng-gorengan, semua mantap. Waktu yang terbuang karena macet-macetan akhir pekan di Lembang dan harus masuk daftar tunggu sebelum bisa duduk di saung ini akhirnya terbayar dengan perut kenyang. Sundanese food is good as always and the price is worth it.

Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang


Makan siang di Sapu Lidi Sawah Lembang


Tapi, serius, harga makanan di sini termasuk standar menurutku. Sapu Lidi Sawah bisa jadi satu kuliner paling dicari keluarga saat ke Lembang. Dan, aku pun begitu.


Read More

Share Tweet Pin It +1

28 Comments

In Journey Land Story Land

Ulang Tahun di Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Kota Yogyakarta baru saja merayakan ulang tahun tanggal 7 Oktober lalu yang ke-261 tahun. Itu artinya, hanya selang sehari dengan ulang tahunku, 8 Oktober. Perayaan malam ulang tahun Jogja kuanggap sebagai perayaan malam menjelang ulang tahunku yang ke-... (tidak perlu disebut). Cukup kirim doa saja untuk keberlanjutan kebahagiaan hidup dan merengkuh dunia. Jadi aku senang bukan kepalang saat diajak ke pusat keramaian. :)

Aku berjalan ke kawasan Tugu bersama Junisatya dan dua teman yang menemani kami. Menjelang magrib, kawasan Tugu hingga arah Malioboro serta-merta ditutup karena akan diadakan Wayang Carnival Night. Ada perwakilan 14 kecamatan di Yogyakarta yang ikut meramaikan pesta rakyat malam itu. Masing-masing mereka meragakan kostum-kostum wayang dengan sedikit atraksi yang mewakili ciri khas karakter wayang yang dibawakan. Sepanjang jalan penuh. Aku sempat terseret-seret arus manusia yang ingin mencari tempat strategis untuk melihat carnival. Kupikir acaranya tepat waktu, tetapi carnival baru efektif berjalan mulai pukul 8 malam. Sedari magrib, kami menunggu tanpa kepastian, sempat kelaparan, dan ingin bubar tetapi dikepung oleh keadaan. Hmmm, posisi yang kurang strategis rupanya.

Wayang Night Carnival 2017
Gadis-gadis cantik dibawa oleh kereta kencana.

Animo masyarakat Yogyakarta sangat besar untuk melihat aksi Wayang Night Carnival, apalagi dihadiri langsung oleh Walikota Yogyakarta dan Gubernur DI Yogyakarta. Ada satu panggung diletakkan di sudut jalan persis di depan monumen Tugu. Aku berdiri di samping kanan panggung untuk melihat arak-arakan dimulai pukul 8 malam. Sungguh, ini carnival super penuh yang pernah kudatangi. Orang Jogja semangat banget mau nonton carnival wayang malam-malam begini.

Bagi masyarakat Jogja, ini adalah pesta mereka. Bagiku, ini sebuah napak tilas memahami kisah-kisah wayang yang sungguh kupaksakan pada zaman kuliah. Melihat karakter-karakter wayang dari kisah Ramayana dan Mahabarata malam itu, aku mencoba memahaminya. Wayang memang menjadi ikon legenda tanah Jawa. Sebenarnya asal cerita wayang yang sekarang kita kenal berasal dari kisah Ramayana dan Mahabharata India. Ketika Hindu masuk ke Indonesia, kisah Ramayana dan Mahabharata itu melebur ke dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Kemudian agama Islam masuk dan para sunan pun membawakan cerita wayang untuk menyebarkan agama ke masyarakat Jawa. Berkembang pulalah tokoh-tokoh wayang dalam cerita epos itu. Oleh karena itu, ada cerita Ramayana dan Mahabharata dalam 2 versi: versi asli (India) dan versi Jawa. Aku pernah belajar tentang ini dalam kuliah Sastra Wayang dulu, mengerjakan sederetan tugas tentang perbandingan kisah kedua epos besar dari India itu dalam bentuk paper. Kisah Ramayana dan Mahabharata ini pun disampaikan dalam bentuk wayang yang diceritakan semalaman. Karakter-karakter wayang ini awalnya dibuat dalam bentuk rumput yang diikat. Pada perkembangan selanjutnya, wayang pun menggunakan kulit binatang atau kulit kayu. Dari sana, wayang terus berkembang, dan karakternya pun semakin masuk ke dalam pola hidup masyarakat Jawa (atau mungkin sebaliknya, cerita wayang merupakan cerminan kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri). Wayang golek, wayang orang, dan lain-lain menjadi sebuah pertunjukan khusus dan menjadi ciri khas tanah Jawa.

Wayang Night Carnival Yogyakarta 2017

Wayang Night Carnival 2017

Tidak heran, pesta ulang tahun Jogja mengangkat tema peragaan kostum wayang dari masyarakat. Wayang telah menjadi bagian dari penduduk ini. Mereka mengenal wayang sepertiku mengenal sejumlah cerita Malin yang melegenda di tanah Minang. Menyaksikan Wayang Night Carnival seperti ini menambah khasanah pewayangan dalam otakku. Epos Ramayana dan Mahabharata, baik versi asli dari India, maupun versi Jawa hanya sebatas bacaan literasi. Aku bukan anak yang dibesarkan dengan cerita-cerita wayang, Rama dan Shinta, Rahwana, Hanoman, dan tokoh-tokoh turunan kedua epos itu yang melebur dengan cerita rakyat Jawa. Tapi, berkat literatur dari masa kuliah, aku untungnya tidak begitu asing dengan beberapa karakter wayang ini.

Kehebohan Wayang Night Carnival ditutup dengan letusan kembang api perayaan ulang tahun Yogyakarta persis sebelum tengah malam.

Aku mengucap, "Happy birthday to me."

Pada saat itu pula aku bergeser dan menjauh dari kerumunan agar dapat melenggang pulang. Wayang Night Carnival memang luar biasa menarik perhatian. Mungkin seperempat dari warga Yogyakarta memenuhi jalanan di sekitar Tugu malam itu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

16 Comments